About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Kamis, 05 Maret 2026

Negara Zionis Manfaatkan Agresi Terhadap Iran untuk Menutup Masjid Al-Aqsa



Sudah lima hari berturut-turut, Otoritas penjajah Zionis menutup Masjid Al-Aqsa. Negara Zionis menggunakan dalih keamanan untuk memberlakukan kontrol lebih lanjut dan mengelola situs-situs suci Islam secara sepihak, khususnya selama bulan Ramadhan. Langkah ini dianggap sebagai eskalasi berbahaya sebagai upaya untuk membentuk kembali realitas yang ada di masjid Al-Aqsa.

Penjajah Zionis telah menutup Masjid Al-Aqsa sejak Sabtu pagi, memaksa jamaah untuk pergi dan mencegah pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih. Penutupan Masjid Al-Aqsa ini juga bersamaan dengan penutupan Masjid Ibrahimi dan Tepi Barat, beberapa jam setelah serangan skala besar yang dilancarkan oleh negara Zionis dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Pemerintah Provinsi Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan penjajah melarang jamaah memasuki masjid, dengan alasan keadaan darurat, di tengah pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar masjid dan di gerbang Kota Tua, serta mencegah warga memasuki halaman masjid.

Otoritas pendudukan mencegah warga Palestina untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih selama Ramadhan. Mereka telah memperkuat kehadiran militer mereka di sekitar masjid dan gerbang Kota Tua, mengerahkan sejumlah besar Polisi Perbatasan dan pasukan khusus, mengubah lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer tertutup. Mereka telah mencegah para jamaah mencapai gerbang masjid dan menyerang sejumlah orang-orang yang sedang berada di masjid.


Proyek Likuidasi Komprehensif

Kelompok-kelompok keagamaan meyakini ini sebagai kelanjutan dan perluasan perang mencerminkan pendekatan negara Zionis yang melancarkan perang pemusnahan komprehensif yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak Arab dan Islam di Palestina dan memaksakan hegemoni absolut. Langkah ini  dipimpin oleh kelompok Zionisme Religius dengan wacana mesianik, didukung oleh visi Zionis Kristen, yang berupaya menyelesaikan konflik atas Al-Quds dengan cara memaksakan realitas keagamaan dan kedaulatan baru.

Mereka menggarisbawahi bahwa penargetan Masjid Al-Aqsa sejak awal perang, meningkatnya frekuensi serangan selama Ramadhan, perluasan pembagian temporal, dan upaya untuk memaksakan kendali atas administrasinya dan mengubah status quo historisnya, semuanya merupakan indikator bahwa Al-Aqsa dipandang sebagai titik fokus dan simbol sentral dari "pertempuran yang menentukan."


Kejahatan Agama dan Kemanusiaan

Sementara itu, Majlis Ulama Palestina menganggap penutupan Masjid Al-Aqsa dan pencegahan jamaah untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih selama Ramadhan sebagai "kejahatan agama dan kemanusiaan yang serius," yang menunjukkan itikad kuat untuk memaksakan realitas Yahudi baru dengan dalih keadaan darurat dan keamanan.

Dalam sebuah pernyataan, Majlis tersebut menyerukan kepada dunia Muslim, para ulamanya, dan lembaga-lembaga pemerintah dan ormas untuk memikul tanggung jawab keagamaan mereka terhadap Masjid Al-Aqsa; bekerja mendukungnya di semua bidang; dan menjaga agar perjuangannya tetap hidup dalam hati nurani Umat, sehingga tidak diabaikan dan dipojokkan oleh penjajah.

Majlis Ulama memuji warga Al-Quds dan kaum perempuan dan laki-laki yang terus berjaga-jaga di Masjid Al-Aqsa, menyerukan kepada warga Palestina di wilayah jajahan sejak 1948 dan Tepi Barat untuk menuju ke Al-Aqsa sana dan menggagalkan penutupannya. 

Majlis itu menyerukan kepada para pemimpin dan pemerintah Islam, khususnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pelanggaran dan melindungi tempat-tempat suci di Al-Quds. pergeseran yang akan sulit untuk dibalikkan di kemudian hari, terutama mengingat perhatian regional dan internasional terhadap perang yang sedang berlangsung.


Perebutan Kedaulatan Bertahap

Abdullah Maruf, seorang peneliti pakar urusan Al-Quds menjelaskan bahwa perluasan pembagian waktu, pembatasan kepada jamaah selama momentum keagamaan, dan penutupan total yang terus berlanjut adalah taktik tekanan yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali "status quo historis" melalui langkah-langkah bertahap yang terakumulasi dari waktu ke waktu hingga menjadi realitas permanen.

Sebaliknya, otoritas penjajah mengakui tindakan ini dengan dalih "situasi keamanan yang genting," tetapi sumber-sumber Al-Quds menegaskan bahwa skala pengerahan militer, pelarangan masuk secara penuh bagi para jamaah, dan serangan terhadap kaum muslimin yang berada di dalam masjid merupakan skala eskalasi yang tidak biasa. (Kho)

Sumber: 

Situs Pusat Informasi Palestina “إغلاق الأقصى.. هكذا تستغل إسرائيل العدوان على إيران لتغيير الوضع القائم” terbit 3 Maret 2026  https://palinfo.com/news/2026/03/03/994774/ 

Situs kantor berita Quds Press “الاحتلال يواصل إغلاق المسجد الأقصى لليوم الخامس على التوالي” terbit tgl 4 Maret 2026, diakses 5 Maret 2026 16:47 https://qudspress.net/253389/ 


Share:

Selasa, 03 Maret 2026

Babak Baru Perang AS-Negara Zionis Bukan Semata Membidik Program Nuklir tapi Eksistensi Iran

Diterjemahkan dan disusun kembali dari riset Al Jazeera oleh Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id 

—-

AS dan Negara Zionis meluncurkan babak baru perang melawan Iran, membunuh pimpinan tertinggi Ali Khamenei, dan titik-titik penting komando negara dan memprovokasi rakyat Iran agar mau menggulingkan rezim yang berkuasa. 

—-


Belum genap sembilan bulan sejak negara Zionis yang didukung AS menyerang Iran pada Juni tahun lalu, 28 Februari 2026 negara Zionis kembali melancarkan serangannya yang dilaporkan telah membunuh pimpinan tertinggi politik dan militer Ali Khamenei dan pimpinan Garda Revolusi Iran. 


Dalam hitungan jam pasukan AS yang berada di kawasan itu turut bergabung dalam serangan Zionis itu dan melebarkan jangkauan serangannya ke seluruh Iran.


Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal jarak menengah dan mengerahkan drone membidik titik-titik serangannya ke negara Zionis, Yordania, dan situs militer AS di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk. Oman diserang pada hari berikutnya. 


Tidak berhenti di sana, Iran meluaskan serangannya ke nadi perekonomian kawasan dimana sejak malam hari pertama, kapal-kapal komersial dilaporkan menerima peringatan dari Iran untuk tidak melintasi Selat Hormuz.


Iran, memang siap perang jika terpaksa, meskipun telah menyatakan bersiap dalam perundingan putaran ke-4 tingkat ahli dengan AS di Vienna di bawah badan nuklir IAEA. Oman -yang menjadi mediator perundingan- optimis dengan putaran ke-3 dan menggambarkannya sebagai positif dan tercapai kemajuan penting. 


Presiden AS Donald Trump memang telah memberi sinyal untuk menggunakan kekerasan. Pada 24 Februari, di hadapan Kongres menjelaskan bahwa Iran masih melanjutkan elemen program nuklirnya pasca diserang AS tahun lalu dan untuk pertama kalinya, menggambarkan rudal Iran sebagai ancaman. Iran menolak tuntutan Trump yang ingin menuntut rudal balistiknya menjadi materi tambahan negosiasi.


Sehingga Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dengan jalur perundingan meskipun ada embel-embel akan menghindari penggunaan kekerasan. Di hari yang sama pernyataan sikap Trump itu, yaitu tepatnya 27 Februari,  IAEA melaporkan ketidakpastian tentang lokasi lebih dari 9.000 kilogram uranium yang diperkaya di berbagai tingkatan, diantaranya lebih dari 400 kilogram yang sudah dikayakan di atas 60 persen. Dan di saat yang sama AS melakukan mobilisasi pasukannya secara intensif di sekitar Iran.



Keselarasan Retorika Negara Zionis dengan AS


Dalam pidato saat mengumumkan serangan terhadap Iran, Trump memang sebatas memberikan perhatian pada isu nuklir. Sambil mengingat selama lima dekade antara AS-Iran, dia mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak bisa hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini dan mendorong rakyat Iran untuk “memberontak” melawan penguasa mereka. Maksud pencopotan rezim yang sejalan dengan keinginan negara Zionis. 


Target pembunuhan para petinggi Iran mengukuhkan bahwa ini bukan semata masalah nuklir tapi lebih kepada eksistensi, kendali dan masa depan Republik Iran itu sendiri. Karenanya kemungkinan jangka pendek perang ini bertujuan melemahkan Rezim Iran dan menciptakan chaos agar terbuka jalan bagi pemberontakan dan membuat Iran berlutut dalam negosiasi selanjutnya.



Perang Jangka Pendek- Panjang 


Perang jangka pendek akan berfokus untuk melemahkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, infrastruktur drone, pelabuhan, aset angkatan laut, sistem komando dan kendali, serta fasilitas nuklir yang masih tersisa, sambil terus membidik pejabat tinggi yang masih hidup.


Dalam jangka panjang dimana perang bisa berlangsung beberapa pekan atau lebih akan menyerang infrastruktur ekonomi, pusat pemerintahan, dan mungkin lembaga budaya dan media, dengan tujuan menghancurkan pilar struktural rezim dan membuatnya mudah runtuh di tengah kerusuhan yang meluas. Ini amat sesuai dengan pilihan yang diinginkan negara Zionis..


Di sisi lain, Iran  menyadari ketidakseimbangan kekuatannya dengan musuh dan akan bertumpu dengan menaikan biaya perang. Teheran terus melakukan serangan rudal dan drone untuk melumpuhkan ekonomi negara Zionis dan negara-negara Teluk, khususnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi ekonomi global yang parah. Lebih jauh, Iran dapat mendorong aktor-aktor sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman untuk membuka front tambahan, termasuk jalur-jalur strategis maritim.


Cepat atau lambat, Iran diperkirakan akan keluar dari perang ini kehabisan tenaga. Tapi kejatuhannya tidak bisa dilakukan hanya melalui pemboman udara. Karena institusi negara Iran menyebar secara rata, dengan otoritas di berbagai badan pemerintahan dan pasukan keamanan, termasuk tentara reguler, Garda Revolusi, dinas keamanan internal, dan Basij. Sejak 2008, ketidakpuasan sosial telah meningkat, namun rezim mampu mempertahankan basis yang signifikan di berbagai wilayah dan komunitas. 


Karenanya, kerusakan parah lebih mungkin menghasilkan perselisihan dalam negeri daripada kehancuran rezim secara langsung. Tanpa invasi darat dan kontrol eksternal yang berkelanjutan, penggulingan rezim tetap tidak mungkin terjadi.


Program  nuklir dan rudal Iran juga tidak bisa dijamin dapat dihancurkan total. Stok uranium yang sudah dikayakan sudah menyebar dan tidak sepenuhnya tercatat, dan infrastruktur rudal Iran membentang di seluruh wilayah negara yang luas. Fondasi teknologi dari kedua program tersebut dikembangkan di dalam negeri dan tidak dapat dihapus hanya dengan serangan udara.


Namun demikian, konsekuensi perang akan sangat besar. Pengaruh regional Iran mungkin akan menyusut seiring rezim akan semakin menutup diri. Jika Iran mampu bertahan dengan solidaritas, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: menyesuaikan diri dengan Washington yang melibatkan penyesuaian struktural dan regional, atau ketahanan dan rekonstruksi sambil mempertahankan kemerdekaan strategis, yang berpotensi mencakup upaya penangkal program nuklir. Dalam kedua kasus tersebut, target utama perang ini bukan hanya program nuklir Iran, tetapi Republik Iran itu sendiri.


Sumber:

Riset Al Jazeera 2 Maret 2026 “Targeting the Regime: The Second Round of the US–Israeli War on Iran” diakses 3 Maret 2026 08:56 WIB  https://studies.aljazeera.net/en/policy-briefs/targeting-regime-second-round-us%E2%80%93israeli-war-iran


Share:

Sabtu, 28 Februari 2026

Timur Tengah Tegang, Negara Zionis Tipu Start Perangi Iran

Oleh: Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id

Konfrontasi militer telah meningkatkan ketegangan di Timur dengan serangan terlebih dahulu yang dilakukan negara Zionis terhadap Iran. Serangan ini memang sudah diantisipasi kalangan politik dan militer negara Zionis yang telah memprediksi serangan akan dimulai oleh negara Zionis baru diikuti oleh Amerika Serikat.


Operasi militer ini bukan sepihak, tapi merupakan gabungan negara Zionis-Amerika yang memang telah dipersiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Ini didahului oleh gerakan demonstrasi rakyat di Teheran dan kota-kota lainnya pada awal tahun ini.


Serangan militer ini dilakukan secara terpisah dengan negosiasi yang diadakan di Jenewa yang menjadi isyarat bahwa keputusan militer telah dibuat sebelumnya.



Latar Belakang Ketegangan  & Konfrontasi


Pasca serangan Juni lalu, memang babak baru konfrontasi ini  tidak dapat lagi dihindari. Dari sudut pandang negara Zionis, mereka menganggap “belum melaksanakan misi secara benar.”


Dengan dimulainya serangan, negara Zionis mengumumkan Siaga Satu dimana sirine menggema di seluruh negara itu dari Utara hingga Selatannya. Sirine serangan udara itu mulai berbunyi menyusul serangan yang menarget Tehran dan serangan ke Libanon Selatan. 


Kemendag mendesak warga agar tetap di tempat-tempat yang mereka anggap aman dan bunker perlindungan. Rumah-rumah sakit negara Zionis dalam posisi siaga satu dan dinas terkait pemerintah terus memantau situasi keamanan untuk mengantisipasi serangan balasan Iran.


Serangan yang telah diidam-idamkan negara Zionis sejak lama ini telah secara resmi diumumkan oleh Menteri Pertahanan Yisrael Katz, meskipun terdapat upaya internasional yang mengajak penyelesaian diplomatik antara Teheran dan Amerika Serikat. 


Menurut laporan Walid Al-Omari bahwa bala bantuan udara AS yang signifikan telah tiba ke negara Zionis dalam beberapa hari terakhir. Diantaranya puluhan jet tempur canggih, khususnya F-22, serta pesawat pengisi bahan bakar. Juga kapal induk AS USS Ford, yang diyakini telah berlabuh di lepas pantai Haifa Jumat malam.


Meskipun serangan ini melibatkan kerjasama di titik tertinggi antara negara Zionis dan Amerika, namun menurut Al-Omari mereka sedang menunggu kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin depan.


Penundaan kunjungan Rubio yang sebelumnya dijadwalkan Rabu lalu yang berbarengan dengan pulangnya PM India dari negara Zionis dua hari sebelumya,  sebagai indikasi apa yang nampak sebagai "upaya penyesatan informasi," bahwa negara Zionis tidak akan melancarkan serangan sebelum kedatangan Rubio. 


Namun, hari ini kita menyaksikan serangan negara Zionis telah dimulai, dengan Yisrael Katz mengumumkan bahwa serangan ini merupakan "yang permulaan dari serangan pendahuluan."  (Cho/Al Jazeera).


Share:

Jumat, 27 Februari 2026

Syuhada dan Korban Luka-luka Berguguran akibat Serangan Udara Zionis yang Membidik Kamp Pengungsi Al-Bureij dan Kantor Polisi di Khan Younis

Foto Pusat Informasi Palestina

Jumat, 27 Februari 2026, 07:39 - Pusat Informasi Palestina

Serangan udara negara Zionis pada Jumat pagi mengakibatkan gugurnya empat warga Palestina, termasuk petugas polisi, dan melukai beberapa lainnya. Serangan tersebut membidik dua kantor polisi Palestina di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, dan kamp pengungsi al-Bureij di Jalur Gaza tengah, sebagai kelanjutan pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025.


Tiga warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka dalam serangan pesawat tak berawak negara Zionis yang menargetkan kantor polisi Palestina di persimpangan al-Maslakh di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan.


https://x.com/PalinfoAr/status/2027249441854370189?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2027249441854370189%7Ctwgr%5Ee901e84d479e7d8cef58488fb45fef8cca55d059%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F27%2F994275%2F

Para syuhada diidentifikasi sebagai Khaled al-Zayan, Hassan Hamed, dan Ali Basem Abu Shamala. Korban luka dan jenazah dipindahkan ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis untuk perawatan dan prosedur medis yang diperlukan.


Serangan serupa menargetkan kantor polisi Palestina di kamp pengungsi al-Bureij, menewaskan satu petugas dan melukai satu lainnya secara serius.


https://x.com/Sa7atPl/status/2027255033448837229?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2027255033448837229%7Ctwgr%5Ee901e84d479e7d8cef58488fb45fef8cca55d059%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F27%2F994275%2F

Kementerian Dalam Negeri mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur negara Zionis membom pos pemeriksaan polisi di Jalan Salah al-Din di pintu masuk kamp al-Bureij di Jalur Gaza tengah, mengakibatkan syahid  satu petugas dan melukai satu lainnya secara serius.


Pada hari Kamis, tiga warga Palestina syahid dan lainnya terluka, satu di antaranya meninggal karena luka-lukanya, sementara dua lainnya syahid dalam serangan udara negara Zionis yang menargetkan sekelompok warga sipil di dekat Taman al-Mahatta di kelurahan al-Tuffah, timur laut Kota Gaza.


Menurut laporan harian yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza pada hari Kamis, pelanggaran negara Zionis sejak gencatan senjata pada 11 Oktober telah mengakibatkan 618 warga Palestina syahid dan 1.663 menderita luka-luka.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “شهداء وجرحى في قصف إسرائيلي استهدف نقطتي شرطة بخانيونس والبريج” terbit 27/2/2026 diakses 27/2/2026 17:08  https://palinfo.com/news/2026/02/27/994275/


Share:

Negara Zionis Tebar Pasukan dan Pos-pos Pemeriksaan untuk Batasi Shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa


27 Februari 2026 - Terakhir diperbarui: 11:58 (Waktu Mekah)

Tentara negara Zionis mengerahkan sejumlah besar pasukan, termasuk perwira, di pos-pos pemeriksaan Tepi Barat yang menuju Al-Quds pada hari Jumat, sebagai bagian dari tindakan pengetatan untuk menghalangi akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa pada Jumat kedua bulan Ramadhan.


Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa ribuan warga Palestina berbondong-bondong ke Masjid Al-Aqsa di Al-Quds, melewati pos pemeriksaan Qalandiya di utara Al-Quds dan pos pemeriksaan Kubah Rachel di Betlehem di selatan, untuk melaksanakan salat Jumat kedua bulan Ramadhan.


Tahun ini, pasukan penjajah memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya jamaah dari Tepi Barat, hanya mengizinkan 10.000 orang dengan izin khusus untuk masuk. Mereka menetapkan bahwa laki-laki harus berusia 55 tahun atau lebih, dan perempuan 50 tahun atau lebih.


Pasukan penjajah juga melakukan pemeriksaan detail terhadap para jamaah saat mereka melewati pos pemeriksaan militer dan mengerahkan bala bantuan keamanan yang besar di sekitar Al-Quds.


Selama Ramadhan dan pada hari Jumat, Masjid Al-Aqsa memiliki kapasitas ratusan ribu jamaah jika seluruh halaman, area shalat tertutup, dan areal berpohon digunakan.


Pada tahun-tahun sebelumnya, puluhan ribu warga Palestina dari Tepi Barat melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan.


Setiap Ramadhan, negara Zionis memberlakukan langkah-langkah keamanan yang ekstensif di dalam dan sekitar Al-Quds Timur yang dijajah, dan mengumumkan pembatasan ketat terhadap warga Palestina yang memasuki Masjid Al-Aqsa.


Pembatasan ini semakin intensif sejak negara Zionis, dengan dukungan AS, melancarkan perang genosida selama dua tahun di Jalur Gaza pada 8 Oktober 2013, yang mengakibatkan syahid lebih dari 72.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan.


Warga Palestina memperingatkan semakin intensifnya tindakan negara Zionis yang bermaksud meyahudisasi Al-Quds Timur jajahan, termasuk Masjid Al-Aqsa, dan menghapus identitas Palestina, Arab, dan Islamnya.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “حواجز وانتشار عسكري.. إسرائيل تقيد صلاة الجمعة بالمسجد الأقصى

“ terbit 27 Februari 2026 diakses 27/2/2026 16:41 https://www.aljazeera.net/news/2026/2/27/%D8%AD%D9%88%D8%A7%D8%AC%D8%B2-%D9%88%D8%A5%D9%86%D8%AA%D8%B4%D8%A7%D8%B1-%D8%B9%D8%B3%D9%83%D8%B1%D9%8A-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D8%AF-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9


Share: