About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Amerika Serikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika Serikat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2026

Iran Menembak Mati Tentara Amerika, Mengapa Kita Ikut Membayar Harganya?

 

Iran Menembak Mati Tentara Amerika, Mengapa Kita Ikut Membayar Harganya?

Oleh: Cholid

Pemerhati Geopolitik dan Strategi

Laporan resmi Kantor Berita ANTARA mengkonfirmasi terjadinya eskalasi militer besar di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melancarkan gelombang ke-20 Operasi Nasr-2, berupa serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone kamikaze) yang menghantam sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Sasaran serangan meliputi hanggar dan landasan pacu Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania, serta pusat logistik dan komando Amerika di Camp Buehring dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Serangan tersebut dilaporkan merusak sejumlah aset militer sekaligus menimbulkan korban jiwa dan luka di pihak personel Amerika Serikat.

Namun, melihat peristiwa ini hanya sebagai konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia merupakan cara pandang yang terlalu sempit. Dalam dunia yang saling terhubung, sebuah serangan militer tidak lagi berhenti di lokasi ledakan. Dampaknya dapat menjalar ke pasar energi, jalur perdagangan, industri penerbangan, hingga akhirnya mempengaruhi perekonomian negara-negara yang sama sekali tidak terlibat dalam perang, termasuk Indonesia.

Tamparan Politik bagi Washington

Bagi Amerika Serikat, jatuhnya korban di kalangan tentaranya bukan hanya persoalan militer, tetapi juga persoalan politik.

Serangan ini menjadi ujian terhadap kredibilitas strategi deterrence yang selama ini menjadi fondasi kehadiran militer Amerika di Timur Tengah. Pertanyaan pun muncul mengenai efektivitas sistem pertahanan udara yang selama ini menjadi andalan dalam melindungi pangkalan-pangkalan militernya.

Di sisi lain, Washington menghadapi dilema yang tidak mudah. Respons militer yang terlalu keras berisiko memperluas konflik kawasan, sementara respons yang terlalu terbatas dapat dipersepsikan sebagai melemahnya kredibilitas Amerika di mata lawan maupun sekutunya. 

Negara-Negara Teluk Mungkin Mulai Menghitung Ulang

Serangan terhadap pangkalan Amerika juga menjadi sinyal strategis bagi negara-negara Teluk yang selama puluhan tahun menjadikan kehadiran militer Amerika sebagai salah satu pilar keamanan kawasan.

Meskipun masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, eskalasi semacam ini berpotensi mendorong negara-negara Teluk mengevaluasi kembali strategi pertahanan mereka. Dalam jangka menengah, bukan tidak mungkin mereka memperluas kerjasama keamanan dengan lebih banyak mitra sebagai bentuk diversifikasi, sehingga mengurangi ketergantungan kepada satu kekuatan saja 

"Ketika drone Iran terbukti bisa menembus pangkalan AS di Kuwait dan Yordania, peta permainan langsung berubah. Dalam politik dunia, reputasi itu segala-galanya; kelihatan mampu melindungi teman sama pentingnya dengan punya senjata canggih. Begitu rasa aman itu hilang, negara-negara Arab tidak mungkin tinggal diam dan bergerak mencari sekutu baru agar nasib dan keselamatan negaranya tidak lagi bergantung hanya pada komando di Washington." 

Mengapa Kita di Indonesia Ikut Merasakan Dampaknya?

Perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur. Ia juga mengguncang jaringan ekonomi global.

Setiap eskalasi di kawasan Teluk meningkatkan ketidakpastian terhadap pasokan energi dunia. Kawasan ini merupakan salah satu jalur strategis perdagangan minyak global. Ketika risiko meningkat, pasar akan merespons dengan kenaikan premi risiko yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga energi dan biaya transportasi internasional.

Industri penerbangan juga menghadapi tantangan serupa. Meningkatnya risiko keamanan dapat mempengaruhi operasional maskapai, biaya asuransi, maupun perencanaan rute penerbangan. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, biaya operasional berpotensi meningkat dan pada akhirnya dapat tercermin pada tarif penerbangan.

Dampaknya tidak berhenti di sektor transportasi seperti naiknya harga tiket pesawat karena harus mengambil rute alternatif yang lebih jauh. Ketidakpastian geopolitik juga dapat meningkatkan biaya logistik internasional. Apabila kondisi ini berlangsung berkepanjangan, harga berbagai barang impor—mulai dari produk elektronik hingga komponen industri—berpotensi ikut mengalami kenaikan karena biaya distribusi yang lebih tinggi.

Bagi Indonesia yang sangat terhubung dengan perdagangan global, perubahan tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi biaya hidup masyarakat, meskipun konflik terjadi ribuan kilometer dari wilayah kita.

Perang Modern Tidak Lagi Mengenal Batas Wilayah

Serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi menghasilkan dampak yang bersifat lokal. Gelombang kejutnya dapat menjalar melalui jaringan energi, perdagangan, logistik, dan keuangan global.

Karena itu, ledakan rudal di Timur Tengah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai berita luar negeri. Ia adalah pengingat bahwa dalam dunia yang saling terhubung, konflik geopolitik dapat menghadirkan konsekuensi ekonomi yang dirasakan hingga ke meja makan masyarakat di negara lain.

Rakyat Iran dan tentara Amerika mungkin yang menjadi sasarannya. Namun, apabila eskalasi terus berlanjut, kita semuanya akan turut serta membayar harganya!


Share:

Senin, 06 Juli 2026

Swarm Strategy: Mengapa Amerika Sulit Menaklukkan Iran di Selat Hormuz ?*



Swarm Strategy:
Mengapa Amerika Sulit Menaklukkan Iran di Selat Hormuz ?*
Oleh: Idham Cholid
Pengamat Geopolitik dan Strategi

Executive Summary


Bagaimana mungkin Iran, sebuah negara yang anggaran militernya jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat, mampu bertahan menghadapi kekuatan militer terbesar di dunia?


Jawabannya bukan terletak pada jumlah kapal perang, pesawat tempur, ataupun kapal induk yang dimiliki Iran. Sejak awal, Teheran menyadari bahwa mereka tidak mungkin memenangkan perlombaan senjata melawan Washington.

Alih-alih membangun kekuatan yang sama, Iran memilih mengubah aturan permainan. Mereka memanfaatkan geografi Selat Hormuz, mengembangkan Swarm Strategy, membangun jaringan rudal dan drone, serta menerapkan perang asimetris yang bertujuan bukan menghancurkan armada Amerika, melainkan meningkatkan biaya politik, ekonomi, dan militer dari setiap operasi yang dilakukan.

Strategi inilah yang pada akhirnya membuat kekuatan militer Amerika yang sangat besar, dalam kasus ini terbukti tidak bisa digunakan secara efektif.

Pembukaan

Berhadapan dengan kekuatan militer terbesar di dunia tidak selalu berarti harus membangun kekuatan yang sama. Sejak awal, Iran memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengandalkan perlombaan persenjataan konvensional, Iran mengembangkan sebuah sistem pertahanan asimetris yang disesuaikan dengan kondisi geografis, kemampuan industrinya, dan tujuan strategisnya sendiri.

Iran mengetahui bahwa mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing dalam perlombaan membangun kekuatan global melalui kapal induk, kapal perusak, kapal selam nuklir, pesawat tempur generasi terbaru, satelit, hingga jaringan pangkalan militer yang tersebar di berbagai kawasan dunia, seperti yang dimiliki Amerika Serikat.

Alih-alih mengejar keseimbangan kekuatan, Iran memilih menciptakan keseimbangan risiko. Mereka tidak harus menjadi lebih kuat. Mereka hanya harus membuat penggunaan kekuatan Amerika secara efektif menjadi jauh lebih sulit.

Pendekatan pertahanan Iran bukanlah kumpulan senjata yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ia merupakan sistem yang terdiri atas lima lapisan strategi yang saling melengkapi. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi keseluruhannya diarahkan pada satu tujuan: membatasi efektivitas penggunaan kekuatan lawan sekaligus meningkatkan posisi tawar Iran.


Lapisan Pertama: Swarm Strategy

Inilah strategi yang paling sering dibicarakan. Swarm Strategy merupakan penggunaan puluhan hingga ratusan kapal cepat berukuran kecil yang bergerak hampir bersamaan dari berbagai arah.

sebuah kapal induk yang nilainya belasan miliar dolar memasuki perairan sempit. Dari kejauhan radar mulai menangkap puluhan titik kecil yang bergerak cepat dari berbagai arah. Sebagian mungkin kapal nelayan. Sebagian bisa jadi kapal sipil. Sebagian lain mungkin membawa rudal atau bahan peledak. Komandan armada hanya memiliki hitungan menit untuk memutuskan: mana yang harus dihancurkan lebih dulu, mana yang cukup diawasi, dan mana yang sebenarnya hanya umpan. Dalam situasi seperti inilah Swarm Strategy bekerja.

Tujuannya bukan menghancurkan kapal induk dalam satu serangan dramatis, tetapi memenuhi sistem pertahanan dengan begitu banyak ancaman sehingga setiap keputusan menjadi semakin sulit.

Bagi masyarakat awam, kapal-kapal kecil ini mungkin terlihat tidak sebanding dengan kapal induk Amerika. Namun justru di situlah letak idenya.

Semakin banyak sasaran yang muncul secara bersamaan, semakin berat pula beban sistem pertahanan Amerika untuk mengidentifikasi mana kapal sipil, mana umpan, mana kapal bersenjata, dan mana ancaman utama.

Tujuannya bukan menenggelamkan kapal induk.Tujuannya adalah membuat armada Amerika kehilangan tempo, membagi perhatian, dan menghabiskan waktu untuk menghadapi ancaman yang datang dari berbagai arah.

Dalam peperangan modern, gangguan terhadap proses pengambilan keputusan sering kali sama berharganya dengan penghancuran sasaran.


Lapisan Kedua: Selat Hormuz Sebagai Senjata

Swarm Strategy tidak akan seefektif itu di tengah Samudra Pasifik. Keunggulan Iran justru lahir dari geografi. Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang dilalui sebagian besar ekspor energi dari kawasan Teluk.

Di ruang yang terbatas seperti ini, kapal perang besar kehilangan sebagian keleluasaan manuvernya. Jalur pelayaran menjadi lebih mudah diprediksi, sementara garis pantai memberikan keuntungan bagi sistem pertahanan Iran.

Dengan kata lain, Iran tidak hanya menggunakan senjata. Mereka menggunakan wilayahnya sendiri sebagai bagian dari sistem pertahanan.


Lapisan Ketiga: Jaringan Ancaman Berlapis

Kapal cepat hanyalah lapisan pertama. Di belakangnya terdapat rudal antikapal, drone pengintai, drone serang, ranjau laut, radar pantai, hingga sistem intelijen yang bekerja secara terpadu. Semua elemen tersebut saling melengkapi.

Jika lawan hanya memperhatikan kapal cepat, ancaman lain dapat datang dari pantai atau udara. Inilah yang membuat Iran tidak bergantung pada satu jenis senjata. Mereka membangun sebuah jaringan.


Lapisan Keempat: Cost Imposition Strategy

Inilah inti dari seluruh strategi Iran. Iran tidak berharap menghancurkan armada Amerika. Yang ingin mereka capai adalah membuat setiap operasi menjadi: lebih mahal, lebih lama, lebih berisiko, lebih sulit diprediksi.

Ketika biaya terus meningkat, keputusan untuk menggunakan kekuatan militer menjadi semakin kompleks.

Dalam banyak kasus, perang tidak dimenangkan oleh pihak yang memiliki senjata paling banyak, tetapi oleh pihak yang berhasil mengubah perhitungan biaya dan manfaat lawannya.


Lapisan Kelima: Dari Laut ke Meja Perundingan

Semua strategi tadi sebenarnya mengarah pada tujuan yang sama: Diplomasi. Iran memahami bahwa perang bukan tujuan akhir. Perang hanyalah alat untuk meningkatkan posisi tawar politik.

Jika setiap eskalasi membawa risiko ekonomi global, mengganggu jalur energi, dan memaksa Amerika mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar, maka ruang diplomasi menjadi semakin bernilai.

Di sinilah keberhasilan strategi Iran dapat diukur. Bukan dari jumlah kapal yang tenggelam, tetapi dari kemampuannya membuat lawan mempertimbangkan kembali setiap langkah yang akan diambil.


Implikasi Strategis

Selama Iran tetap mempertahankan pendekatan perang asimetris, kecil kemungkinan negara tersebut akan mengubah doktrinnya menjadi perlombaan membangun armada laut konvensional. Sebaliknya, investasi kemungkinan tetap diarahkan pada pengembangan drone, rudal presisi, kemampuan peperangan elektronik, dan sistem pertahanan berlapis yang relatif murah tetapi mampu meningkatkan biaya operasi lawan.

Di sisi lain, Amerika Serikat hampir pasti akan terus berupaya mempertahankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan keunggulan teknologi, melainkan bagaimana menjaga efektivitas kekuatan tersebut ketika menghadapi lawan yang menggunakan banyak ancaman kecil secara bersamaan.

Dengan demikian, persaingan di Selat Hormuz kemungkinan tidak berkembang menjadi perang laut konvensional, melainkan kompetisi jangka panjang antara kemampuan proyeksi kekuatan Amerika dan strategi penangkalan asimetris Iran.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Iran mampu mengalahkan Amerika Serikat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah negara yang lebih kecil dapat membatasi kebebasan bertindak negara yang jauh lebih kuat. Selat Hormuz menunjukkan bahwa dalam peperangan modern, jawaban atas pertanyaan itu semakin sering ditentukan bukan oleh besarnya armada, melainkan oleh kemampuan mengubah geografi, teknologi, dan strategi menjadi daya tawar politik.


Penutup

Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bahwa peperangan modern tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki kapal terbesar atau anggaran pertahanan terbesar.
I
ran menunjukkan bahwa negara dengan sumber daya yang jauh lebih kecil masih dapat menciptakan keseimbangan strategis apabila mampu memadukan geografi, teknologi, organisasi, dan cara berpikir yang tepat.

Swarm Strategy hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem tersebut.

Rahasia sebenarnya terletak pada kemampuan mengubah setiap keunggulan lawan menjadi persoalan baru yang harus terus dihadapi. Ketika lawan dipaksa mengeluarkan biaya lebih besar, mengambil risiko lebih tinggi, dan berpikir lebih lama sebelum bertindak, maka keseimbangan strategis mulai bergeser. Dalam konteks itulah, kekuatan tidak lagi hanya diukur dari besarnya armada, tetapi juga dari membentuk perhitungan strategis lawan.


Referensi:

Hassan Olleik,
Channel Youtube: الصندوق جوا (Inside the Box)
Video: https://www.youtube.com/watch?v=fsEzxNZUFbE


Catatan Penulis

* Artikel ini disusun berdasarkan pemaparan narasumber dan dikembangkan melalui analisis penulis dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI). Seluruh interpretasi, kesimpulan, serta tanggung jawab atas isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


Share:

Kamis, 18 Juni 2026

Dari Lebanon ke Gaza: Tantangan Diplomasi Perdamaian Indonesia (Bagian 1)

Oleh: Idham Cholid

Pemerhati Isu Palestina dan Timur Tengah

Ringkasan Eksekutif

Perkembangan terbaru di Timur Tengah memperlihatkan sebuah paradoks besar dalam politik internasional: dunia semakin memiliki kemampuan untuk menghentikan eskalasi, tetapi semakin sulit menemukan formula untuk menyelesaikan akar konflik. Lebanon menjadi contoh paling jelas mengenai keterbatasan pendekatan keamanan internasional. Selama hampir lima dekade, misi UNIFIL Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menjadi instrumen penting untuk mencegah konflik Lebanon-Israel berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas. Namun keberadaan pasukan perdamaian tidak pernah mampu menggantikan kebutuhan akan penyelesaian politik yang menyentuh persoalan mendasar.

Pengalaman Lebanon memberikan pelajaran penting ketika dunia memasuki perdebatan mengenai masa depan Gaza. Persoalan Gaza bukan hanya mengenai rekonstruksi wilayah yang hancur, tetapi mengenai masa depan politik Palestina, arsitektur keamanan Timur Tengah, dan perubahan keseimbangan kekuatan antara Amerika Serikat, Israel, Iran, serta negara-negara Teluk. Dalam konteks tersebut, Indonesia sebagai negara dengan tradisi diplomasi perdamaian dan posisi strategis di dunia Islam memiliki kepentingan untuk membaca dinamika Timur Tengah secara lebih mendalam, bukan hanya melalui solidaritas moral, tetapi melalui perspektif geopolitik yang matang.


Pendahuluan: Lebanon sebagai Cermin Keterbatasan Perdamaian Internasional

Ketika diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mulai membuka ruang bagi kemungkinan penurunan eskalasi konflik regional, Lebanon kembali muncul sebagai pengingat bahwa Timur Tengah belum memasuki era perdamaian. Setiap peluang diplomasi di kawasan ini selalu membawa pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar penghentian tembakan: siapa yang akan menentukan konfigurasi keamanan baru, aktor mana yang memiliki legitimasi untuk mengatur masa depan wilayah konflik, dan apakah penyelesaian politik mampu mengejar kompleksitas persoalan yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Lebanon Selatan menjadi salah satu contoh paling penting mengenai bagaimana konflik modern bekerja. Di wilayah tersebut, persoalan keamanan Israel bertemu dengan eksistensi Hizbullah sebagai aktor politik dan militer Lebanon, kepentingan strategis Iran di kawasan, serta kalkulasi Amerika Serikat dalam mempertahankan keseimbangan kekuatan Timur Tengah. Karena itu, setiap perkembangan di Lebanon tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari kompetisi regional yang lebih besar.

Dalam konteks inilah keberadaan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menjadi sangat penting untuk dipahami. UNIFIL bukan sekadar pasukan penjaga perdamaian biasa. Ia adalah simbol dari upaya komunitas internasional untuk mengelola sebuah konflik yang terlalu kompleks untuk diselesaikan hanya melalui kekuatan militer, tetapi terlalu dalam untuk diselesaikan hanya melalui diplomasi formal.

Namun hampir lima dekade pengalaman UNIFIL juga menghadirkan sebuah pertanyaan mendasar: apakah dunia sedang membangun perdamaian, atau hanya mengelola konflik agar tidak meledak?

Pertanyaan tersebut semakin relevan karena sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa penghentian perang tidak selalu berarti terciptanya perdamaian. Gencatan senjata dapat menghentikan peluru, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan keamanan, identitas politik, klaim wilayah, maupun ketidakpercayaan antar aktor.

UNIFIL: Antara Keberhasilan Menahan Perang dan Kegagalan Menyelesaikan Konflik

Sejak dibentuk melalui Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1978, UNIFIL memiliki mandat utama untuk membantu menjaga stabilitas di Lebanon Selatan. Setelah perang Israel-Hizbullah tahun 2006, mandatnya diperkuat melalui Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB dengan tujuan menciptakan kondisi keamanan yang lebih stabil di sepanjang wilayah perbatasan Lebanon-Israel.

Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, keterlibatan dalam UNIFIL merupakan bentuk nyata kontribusi terhadap perdamaian internasional. Pasukan Garuda Indonesia yang telah lama menjadi bagian dari misi tersebut membawa pesan bahwa politik luar negeri Indonesia tidak hanya berbicara mengenai kepentingan nasional, tetapi juga mengenai tanggung jawab global sebagaimana tercermin dalam amanat konstitusi.

Namun pengalaman UNIFIL juga menunjukkan batas kemampuan pendekatan keamanan internasional. Kehadiran pasukan asing dapat menciptakan ruang bagi diplomasi, mengurangi kemungkinan benturan langsung, dan membangun mekanisme komunikasi antar pihak yang bermusuhan. Akan tetapi, pasukan internasional tidak memiliki mandat untuk menyelesaikan pertanyaan politik yang menjadi akar konflik.

Di Lebanon Selatan, persoalan utama bukan hanya mengenai garis perbatasan atau pengawasan militer. Persoalannya adalah bagaimana mendefinisikan keamanan Israel, bagaimana posisi Hizbullah dalam negara Lebanon, bagaimana hubungan Iran dengan jaringan sekutunya di kawasan, serta bagaimana Amerika Serikat mempertahankan pengaruhnya dalam arsitektur keamanan Timur Tengah.

Dengan kata lain, UNIFIL menghadapi dilema klasik dalam hubungan internasional: keamanan dapat dipaksakan untuk sementara, tetapi legitimasi politik harus dibangun melalui kesepakatan.

(Bersambung ke Bagian II: Lebanon Selatan, Negara Teluk, dan Gaza: Perebutan Arsitektur Baru Timur Tengah)


Share:

Selasa, 10 Maret 2026

Kerugian AS Pasca 10 Hari Serang Iran

Amerika Serikat bersama negara Zionis, pasca 10 memulai menyerang dan dibalas serang Iran, kini tengah berada di tengah kecamuk “perang angka” dan suara tembakan dan pesawat di langit Timur Tengah.

Meskipun kedua belah pihak masing-masing melebih-lebihkan kerugian musuh dan menyembunyikan kerusakan di pihak sendiri, namun kerugian SDM dan material yang diderita AS dalam Operasi Epic Fury ini mulai terlihat.

Operasi yang dilancarkan sejak Sabtu pagi, 28 Februari, yang mengakibatkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer, dan menyerang pertahanan udara dan lokasi peluncuran rudal Iran.

Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke berbagai wilayah di negara Zionis, selain beberapa sasaran di negara-negara Teluk yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Teheran melalui media resminya mengklaim telah membuat ratusan korban tewas dan luka-luka di barisan militer AS, dan melakukan serangan kepada kapal perang dan kapal induk AS.

Mengutip situs Al Jazeera Net berikut adalah data kerugian yang diderita Amerika sejak memulai serangan gabungan skala besar melawan Iran.


Pertama: Korban Tewas

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dan Komando Pusat (CENTCOM) telah mengkonfirmasi kematian delapan personel militer AS hingga 9 Maret.

Prajurit ini tewas dalam serangan terhadap Pelabuhan Shuaiba di Kuwait sbb:

  • Mayor Jeffrey O'Brien (45 tahun).

  • Kapten Cody Khork (35 tahun).

  • Sersan Noah  Tietjens (42 tahun).

  • Sersan Nicole Amore (39 tahun).

  • Sersan Declan Coady (20 tahun).

  • Perwira Robert Marzan (54 tahun).

  • Satu orang tewas dalam serangan terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi:

  • Sersan Benjamin N. Pennington, 26 tahun, tewas pada 8 Maret akibat luka yang diderita dalam serangan pesawat tak berawak awal bulan ini.

  • Seorang prajurit Garda Nasional (yang identitasnya belum diungkapkan) tewas pada 6 Maret di Kuwait setelah mengalami kondisi darurat medis yang sedang diselidiki.


Kedua: Korban Luka-luka

Meskipun awalnya enggan, angka korban luka-luka di kalangan pasukan AS mulai muncul, ditegaskan oleh laporan media— mengutip dari pejabat militer— yang membenarkan meningkatnya angka korban luka. CNN mengutip seorang pejabat AS yang mengkonfirmasi bahwa sembilan tentara terluka parah oleh serangan Iran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam sebuah wawancara dengan program "60 Minutes," mengkonfirmasi bahwa "akan ada lebih banyak lagi korban berjatuhan," mengomentari laporan tentang tentara Amerika yang tewas.

Hegseth mengatakan, "Presiden benar ketika dia mengatakan ini akan memakan korban.. Hal semacam ini tidak terjadi tanpa menelan korban, dan akan ada lebih banyak korban jiwa. Tidak ada yang tahu—seperti generasi kita—bagaimana rasanya melihat orang Amerika pulang dalam peti mati... Tetapi ini sama sekali tidak melemahkan kita; ini memperkuat tekad dan determinasi kita untuk mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan pertempuran ini."


Ketiga: Kerugian Pesawat Tempur dan Drone

Kerugian peralatan udara adalah yang paling signifikan dalam operasi militer ini. Pejabat AS mengakui kepada CBS News bahwa 11 drone MQ-9 Reaper telah hilang sejak awal perang, dengan total biaya melebihi $330 juta.

Para analis mengaitkan tingginya angka kerugian ini dengan fakta bahwa drone-drone ini tidak dirancang untuk melawan sistem pertahanan udara Iran.

Dalam insiden terpisah, tiga jet tempur F-15E Strike Eagle jatuh dari langit Kuwait pada tanggal 1 Maret karena apa yang digambarkan sebagai "tembakan salah sasaran" dari pertahanan udara Kuwait selama pertempuran udara yang kompleks. Namun, keenam pilot tersebut selamat dan dalam kondisi stabil, menurut laporan media AS.


Keempat: Narasi Teheran

Di sisi lain, Iran melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda tentang kerugian di pihak Amerika. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa pasukan AS menderita lebih dari 650 korban tewas dan luka-luka selama dua hari pertama dari apa yang disebut Iran sebagai Operasi "Janji Sejati 4".

Naeini mengklaim bahwa serangan rudal dan drone menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain, mengakibatkan kematian dan cedera 160 pelaut dalam satu serangan, selain menyebabkan kerusakan signifikan Kapal Pendukung Tempur MST (Maritime Strike Tomahawk Support Vessel)

Garda Revolusi juga mengklaim telah meluncurkan empat rudal jelajah ke kapal induk USS Abraham Lincoln di lepas pantai Chabahar, memaksa kapal tersebut untuk "melarikan diri" ke Samudra Hindia.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS dengan cepat membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa rudal-rudal tersebut tidak mendekati kapal-kapal AS dan bahwa kapal induk tersebut masih melanjutkan operasinya di kawasan,

Angka-angka yang diumumkan sejauh ini hanyalah sebagian dari gambaran yang lebih besar tentang perang yang masih berkecamuk. Dengan semakin luas operasi militer dan perubahan kepemimpinan di Iran pasca dinobatkannya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru, Timur Tengah tampaknya memasuki fase yang lebih tidak pasti, yang dapat menyaksikan lebih lanjut semakin bertambahnya kerugian dan juga operasi militer dalam beberapa pekan mendatang. (Sumber: Al Jazeera + Pers AS)

Diterjemahkan oleh Kholid dari situs Al Jazeera Net “بعد 10 أيام من الحرب.. هذا ما نعرفه عن خسائر الجيش الأمريكي" diterbitkan pada 3/9/2026 - Terakhir diperbarui: 3/10/2026 00:08 (Waktu Mekah), diakses 10 Maret 2026 05:30 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/3/9/%D8%A8%D8%B9%D8%AF-10-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B1%D8%A8-%D9%87%D8%B0%D8%A7-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B9%D8%B1%D9%81%D9%87-%D8%B9%D9%86-%D8%AE%D8%B3%D8%A7%D8%A6%D8%B1?UTM_Source=pnsOS&UTM_Medium=push&UTM_Campaign=standard


Share:

Selasa, 03 Maret 2026

Babak Baru Perang AS-Negara Zionis Bukan Semata Membidik Program Nuklir tapi Eksistensi Iran

Diterjemahkan dan disusun kembali dari riset Al Jazeera oleh Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id 

—-

AS dan Negara Zionis meluncurkan babak baru perang melawan Iran, membunuh pimpinan tertinggi Ali Khamenei, dan titik-titik penting komando negara dan memprovokasi rakyat Iran agar mau menggulingkan rezim yang berkuasa. 

—-


Belum genap sembilan bulan sejak negara Zionis yang didukung AS menyerang Iran pada Juni tahun lalu, 28 Februari 2026 negara Zionis kembali melancarkan serangannya yang dilaporkan telah membunuh pimpinan tertinggi politik dan militer Ali Khamenei dan pimpinan Garda Revolusi Iran. 


Dalam hitungan jam pasukan AS yang berada di kawasan itu turut bergabung dalam serangan Zionis itu dan melebarkan jangkauan serangannya ke seluruh Iran.


Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal jarak menengah dan mengerahkan drone membidik titik-titik serangannya ke negara Zionis, Yordania, dan situs militer AS di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk. Oman diserang pada hari berikutnya. 


Tidak berhenti di sana, Iran meluaskan serangannya ke nadi perekonomian kawasan dimana sejak malam hari pertama, kapal-kapal komersial dilaporkan menerima peringatan dari Iran untuk tidak melintasi Selat Hormuz.


Iran, memang siap perang jika terpaksa, meskipun telah menyatakan bersiap dalam perundingan putaran ke-4 tingkat ahli dengan AS di Vienna di bawah badan nuklir IAEA. Oman -yang menjadi mediator perundingan- optimis dengan putaran ke-3 dan menggambarkannya sebagai positif dan tercapai kemajuan penting. 


Presiden AS Donald Trump memang telah memberi sinyal untuk menggunakan kekerasan. Pada 24 Februari, di hadapan Kongres menjelaskan bahwa Iran masih melanjutkan elemen program nuklirnya pasca diserang AS tahun lalu dan untuk pertama kalinya, menggambarkan rudal Iran sebagai ancaman. Iran menolak tuntutan Trump yang ingin menuntut rudal balistiknya menjadi materi tambahan negosiasi.


Sehingga Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dengan jalur perundingan meskipun ada embel-embel akan menghindari penggunaan kekerasan. Di hari yang sama pernyataan sikap Trump itu, yaitu tepatnya 27 Februari,  IAEA melaporkan ketidakpastian tentang lokasi lebih dari 9.000 kilogram uranium yang diperkaya di berbagai tingkatan, diantaranya lebih dari 400 kilogram yang sudah dikayakan di atas 60 persen. Dan di saat yang sama AS melakukan mobilisasi pasukannya secara intensif di sekitar Iran.



Keselarasan Retorika Negara Zionis dengan AS


Dalam pidato saat mengumumkan serangan terhadap Iran, Trump memang sebatas memberikan perhatian pada isu nuklir. Sambil mengingat selama lima dekade antara AS-Iran, dia mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak bisa hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini dan mendorong rakyat Iran untuk “memberontak” melawan penguasa mereka. Maksud pencopotan rezim yang sejalan dengan keinginan negara Zionis. 


Target pembunuhan para petinggi Iran mengukuhkan bahwa ini bukan semata masalah nuklir tapi lebih kepada eksistensi, kendali dan masa depan Republik Iran itu sendiri. Karenanya kemungkinan jangka pendek perang ini bertujuan melemahkan Rezim Iran dan menciptakan chaos agar terbuka jalan bagi pemberontakan dan membuat Iran berlutut dalam negosiasi selanjutnya.



Perang Jangka Pendek- Panjang 


Perang jangka pendek akan berfokus untuk melemahkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, infrastruktur drone, pelabuhan, aset angkatan laut, sistem komando dan kendali, serta fasilitas nuklir yang masih tersisa, sambil terus membidik pejabat tinggi yang masih hidup.


Dalam jangka panjang dimana perang bisa berlangsung beberapa pekan atau lebih akan menyerang infrastruktur ekonomi, pusat pemerintahan, dan mungkin lembaga budaya dan media, dengan tujuan menghancurkan pilar struktural rezim dan membuatnya mudah runtuh di tengah kerusuhan yang meluas. Ini amat sesuai dengan pilihan yang diinginkan negara Zionis..


Di sisi lain, Iran  menyadari ketidakseimbangan kekuatannya dengan musuh dan akan bertumpu dengan menaikan biaya perang. Teheran terus melakukan serangan rudal dan drone untuk melumpuhkan ekonomi negara Zionis dan negara-negara Teluk, khususnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi ekonomi global yang parah. Lebih jauh, Iran dapat mendorong aktor-aktor sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman untuk membuka front tambahan, termasuk jalur-jalur strategis maritim.


Cepat atau lambat, Iran diperkirakan akan keluar dari perang ini kehabisan tenaga. Tapi kejatuhannya tidak bisa dilakukan hanya melalui pemboman udara. Karena institusi negara Iran menyebar secara rata, dengan otoritas di berbagai badan pemerintahan dan pasukan keamanan, termasuk tentara reguler, Garda Revolusi, dinas keamanan internal, dan Basij. Sejak 2008, ketidakpuasan sosial telah meningkat, namun rezim mampu mempertahankan basis yang signifikan di berbagai wilayah dan komunitas. 


Karenanya, kerusakan parah lebih mungkin menghasilkan perselisihan dalam negeri daripada kehancuran rezim secara langsung. Tanpa invasi darat dan kontrol eksternal yang berkelanjutan, penggulingan rezim tetap tidak mungkin terjadi.


Program  nuklir dan rudal Iran juga tidak bisa dijamin dapat dihancurkan total. Stok uranium yang sudah dikayakan sudah menyebar dan tidak sepenuhnya tercatat, dan infrastruktur rudal Iran membentang di seluruh wilayah negara yang luas. Fondasi teknologi dari kedua program tersebut dikembangkan di dalam negeri dan tidak dapat dihapus hanya dengan serangan udara.


Namun demikian, konsekuensi perang akan sangat besar. Pengaruh regional Iran mungkin akan menyusut seiring rezim akan semakin menutup diri. Jika Iran mampu bertahan dengan solidaritas, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: menyesuaikan diri dengan Washington yang melibatkan penyesuaian struktural dan regional, atau ketahanan dan rekonstruksi sambil mempertahankan kemerdekaan strategis, yang berpotensi mencakup upaya penangkal program nuklir. Dalam kedua kasus tersebut, target utama perang ini bukan hanya program nuklir Iran, tetapi Republik Iran itu sendiri.


Sumber:

Riset Al Jazeera 2 Maret 2026 “Targeting the Regime: The Second Round of the US–Israeli War on Iran” diakses 3 Maret 2026 08:56 WIB  https://studies.aljazeera.net/en/policy-briefs/targeting-regime-second-round-us%E2%80%93israeli-war-iran


Share:

Senin, 19 Januari 2026

Trump Undang Hampir 60 Negara ke 'Dewan Perdamaian', Mensyaratkan $1 Miliar bagi Perpanjangan Keanggotaan

 18 Januari 2026 - Terakhir diperbarui: 21:57 (Waktu Mekah)

Sebuah draf piagam yang diterbitkan oleh media Barat mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengundang hampir 60 negara untuk bergabung dengan "Dewan Perdamaian" untuk Gaza, dengan menetapkan pembayaran tunai sebesar $1 miliar bagi perpanjangan keanggotaan untuk masa lebih dari tiga tahun.

Menurut dokumen tersebut, keanggotaan suatu negara dalam dewan tersebut tidak akan melebihi tiga tahun sejak tanggal piagam tersebut berlaku, dengan kemungkinan perpanjangan berdasarkan keputusan presiden AS.

Namun, batas waktu ini tidak berlaku untuk negara-negara yang menyumbang lebih dari $1 miliar selama tahun pertama berlakunya pakta tersebut.

Dalam konteks ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan mengumumkan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Ahad bahwa Perdana Menteri Shehbaz Sharif telah menerima undangan resmi dari Presiden Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa Islamabad "akan melanjutkan keterlibatannya dalam upaya internasional yang bertujuan untuk mencapai perdamaian dan keamanan di Gaza, yang mengarah pada solusi abadi untuk masalah Palestina sesuai dengan resolusi PBB."

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, menanggapi undangan Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, mengatakan bahwa negaranya "akan melakukan segala daya upaya untuk mengatasi penderitaan di Jalur Gaza."

Carney menekankan bahwa detail Dewan Perdamaian, termasuk pengaturan keuangan dan mekanisme operasionalnya, masih dalam pertimbangan.


Kekhawatiran tentang Melemahkan PBB

Dalam konteks ini, beberapa pemerintah menyatakan kehati-hatian pada hari Minggu mengenai undangan Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, di tengah peringatan bahwa hal itu dapat melemahkan kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Seorang diplomat mengatakan inisiatif tersebut menyerupai Perserikatan Bangsa-Bangsa ala Trump yang mengabaikan dasar-dasar Piagam PBB.

Tiga diplomat Barat lainnya memperingatkan bahwa dewan tersebut, jika diluncurkan dalam bentuknya saat ini, dapat merusak tatanan internasional yang ada.

Undangan dikirimkan kepada para pemimpin Prancis, Jerman, Italia, Hongaria, Australia, dan Kanada, serta Komisi Eropa dan negara-negara Timur Tengah utama.

Hongaria adalah satu-satunya negara yang secara eksplisit menerima inisiatif tersebut. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán, sekutu dekat Trump, menulis di platform X, "Kami tentu saja menerima undangan terhormat ini."

Namun, pemerintah lain menahan diri untuk tidak membuat pernyataan publik, sementara para pejabat secara pribadi menyatakan kekhawatiran bahwa inisiatif tersebut dapat berdampak negatif pada peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Presiden Seumur Hidup

Draf piagam tersebut menetapkan bahwa Presiden Trump akan menjabat sebagai presiden pertama dewan tersebut dan akan memegang keputusan final dalam memberikan undangan untuk bergabung dan menyetujui berbagai keputusannya, meskipun dokumen tersebut menunjukkan bahwa resolusi ini diadopsi melalui pemungutan suara mayoritas, dengan setiap negara anggota memiliki satu suara.

Draf tersebut juga memberikan wewenang kepada presiden AS untuk menyetujui stempel resmi dewan tersebut.

Draf piagam tersebut selanjutnya menunjukkan bahwa Trump akan memimpin Dewan Perdamaian seumur hidup, dan bahwa dewan tersebut akan memulai pekerjaannya dengan perang di Gaza sebelum memperluas cakupannya untuk mencakup konflik lain.

“Saya pikir ini akan dimulai dengan Gaza, dan kemudian meluas ke konflik lain yang muncul,” kata Trump dalam sebuah wawancara pers.

Dokumen tersebut menggambarkan dewan tersebut sebagai “organisasi internasional yang bertujuan untuk mempromosikan stabilitas, memulihkan pemerintahan yang baik dan sah, dan memastikan perdamaian abadi di daerah-daerah yang terkena dampak atau terancam oleh konflik,” dan akan menjadi entitas formal setelah tiga negara meratifikasi piagam tersebut.

Gedung Putih mengumumkan pembentukan “Dewan Perdamaian” pada Jumat malam, bertepatan dengan persetujuan komposisi “Komite Nasional Palestina untuk Administrasi Gaza,” sebagai bagian dari fase kedua rencana komprehensif yang diajukan oleh presiden AS untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.

Kemudian, pemerintahan AS mengumumkan komposisi dewan dan penunjukan perwakilan senior di Gaza, bertepatan dengan dimulainya pekerjaan komite teknokrat Palestina yang dipimpin oleh Ali Shaath untuk mengelola urusan Jalur Gaza.

Sumber: Al Jazeera + kantor-kantor berita.

—----

Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “ترامب يدعو نحو 60 دولة إلى "مجلس السلام" ويشترط مليار دولار لتمديد العضوية”  terbit 18 Januari 2026 diakses 19 Januari 2026 08:54 WIB https://www.aljazeera.net/news/2026/1/18/%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D9%85%D8%A8-%D9%8A%D8%AF%D8%B9%D9%88-%D8%AF%D9%88%D9%84%D8%A7-%D9%84%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%B6%D9%85%D8%A7%D9%85-%D9%84%D9%85%D8%AC%D9%84%D8%B3-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%84%D8%A7%D9%85


Share:

Rabu, 17 Desember 2025

Trump Akui Menurunnya Pengaruh Negara Zionis di Amerika dan Serukan Perang Melawan "Terorisme Islam Radikal"

17 Desember 2025 - Terakhir diperbarui: 09:22 (Waktu Mekah)

Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmennya yang teguh untuk mendukung warga Yahudi Amerika, menekankan bahwa dirinya telah berkontribusi secara signifikan kepada negara Zionis. Ia juga menyerukan perang internasional melawan apa yang disebutnya "terorisme Islam radikal."


Trump menyatakan bahwa pengaruh politik pro-negara Zionis di Washington, yang merupakan yang terkuat di antara kelompok-kelompok lobi lebih dari satu dekade lalu, kini tidak lagi demikian.


Trump memperingatkan tentang apa yang ia gambarkan sebagai meningkatnya anti-Semitisme di arena politik Amerika, khususnya di Kongres.


Pada awal September, Trump menegaskan—saat membahas dampak perang Gaza terhadap negara Zionis—bahwa Tel Aviv telah "kehilangan" pengaruhnya dan kemampuan sebelumnya untuk memberikan tekanan pada kalangan politik di Washington karena pertempuran yang terus berlanjut di Jalur Gaza yang terkepung.


Dalam sebuah wawancara dengan situs web Amerika "Daily Caller" pada saat itu, Trump mengatakan bahwa perang di Gaza merugikan negara Zionis, dan bahwa meskipun negara Zionis "mungkin memenangkan perang, mereka tidak mendapatkan pengaruh di dunia hubungan publik, dan itu merugikan mereka."


Ia menyatakan bahwa "negara Zionis memiliki lobi paling kuat yang pernah saya lihat 15 tahun yang lalu, dan mereka memiliki kendali penuh atas Kongres, dan sekarang mereka telah kehilangan itu," seperti yang ia katakan.


Ia juga mengatakan bahwa "tidak ada seorang pun yang berbuat lebih banyak untuk negara Zionis daripada dirinya," termasuk serangan yang menargetkan situs nuklir Iran selama perang 12 hari antara Teheran dan Tel Aviv.



Perang Internasional Melawan Ekstremisme


Dalam hal lain, Trump pada hari Selasa menyerukan perang internasional melawan apa yang ia sebut sebagai "terorisme Islam radikal," beberapa hari setelah 15 orang tewas dalam penembakan di festival Hanukkah di Sydney.


"Semua negara harus bersatu melawan kekuatan jahat yang diwakili oleh terorisme Islam radikal, dan kita sedang melakukannya," kata Trump pada perayaan Hanukkah di Gedung Putih.


Kami mengirimkan pesan cinta dan doa kepada warga Australia, khususnya mereka yang terdampak oleh serangan teroris anti-Semit yang mengerikan di Sydney.


Sumber: Al Jazeera dan Agen-agen Berita


Diterjemahkan dari Al Jazeera Net, “ترامب يقرّ بتراجع نفوذ إسرائيل بأميركا ويدعو لحرب ضد "التطرف الإسلامي"” terbit 17/12/2025 diakses 17/12/2025 16:07 https://www.aljazeera.net/news/2025/12/17/%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D9%85%D8%A8-%D9%8A%D8%AA%D8%AD%D8%AF%D8%AB-%D8%B9%D9%86-%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%AC%D8%B9-%D9%84%D9%84%D9%86%D9%81%D9%88%D8%B0



Share:

Kamis, 13 Maret 2025

Thomas Friedman: Keruntuhan Besar Amerika Sedang Terjadi

Aljazeera - Terakhir diperbarui: 12/3/2025 12:39 AM (Waktu Mekkah)


Dalam artikel pekanan-nya di The New York Times, penulis Amerika terkemuka Thomas Friedman memperingatkan bahwa masa jabatan kedua Presiden Donald Trump tidak akan berjalan mulus selama empat tahun ke depan.


Tulisan opini yang berjudul: "Keruntuhan Besar Sedang Terjadi," secara kritis mengkaji Amerika Serikat, menekankan akan tabiatnya yang kacau dan keegoisannya.


Friedman berpendapat bahwa kebijakan Trump kurang koheren dan didorong oleh keluhan pribadi, keinginan membalas dendam, dan mentalitas loyalitas yang menjilat di antara anggota pemerintahannya.


Dalam artikelnya, yang penuh dengan kritik pedas terhadap Trump, Friedman berpendapat bahwa hanya Trump, dan tidak ada orang lain, yang bertanggung jawab atas kesalahan pemerintahannya di berbagai bidang, mulai dari menangani Ukraina, tarif, microchip, dan bidang lainnya.


Alasan di balik semua kegagalan ini, menurut Friedman, adalah karena Trump tidak memiliki visi yang koheren mengenai keadaan dunia saat ini dan bagaimana Amerika dapat menyesuaikan diri sebaik-baiknya untuk mencapai kemakmuran yang diinginkan di abad ini.


Penulis menambahkan bahwa Trump kembali ke Gedung Putih dengan membawa kekhawatiran dan keluhan yang sama mengenai isu-isu ini, dan ia memperkuat pemerintahannya dengan sejumlah besar ideolog pinggiran yang memenuhi satu standar dasar: kesetiaan yang tak tergoyahkan kepadanya dan keinginannya mengenai Konstitusi, nilai-nilai tradisional kebijakan luar negeri Amerika, atau hukum-hukum dasar ekonomi.


Hasilnya, menurut artikel tersebut, adalah apa yang dunia saksikan saat ini: campuran aneh dari tarif yang diberlakukan, kemudian dicabut, kemudian diberlakukan kembali, bantuan untuk Ukraina dihentikan dan kemudian dilanjutkan, dan departemen-departemen pemerintah serta program-program dalam dan luar negeri dipotong, kemudian dibatalkan, kemudian dipotong kembali melalui protokol-protokol yang saling bertentangan, semua itu dilakukan oleh para menteri dan pegawai pemerintah yang dipersatukan oleh rasa takut terhadap cuitan yang diposting di sana-sini oleh sekutunya yang miliarder, Elon Musk, atau presiden sendiri di media sosial tentang mereka jika mereka menyimpang dari garis kebijakan yang ditetapkannya bagi mereka.


Friedman melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu di dunia yang memerintah suatu negara, atau menjadi sekutu Amerika, memimpin perusahaan, atau menjadi mitra dagang jangka panjang jika presiden AS mengancam Ukraina, mengancam Rusia dan kemudian menarik ancamannya, mengancam tarif besar-besaran terhadap Meksiko dan Kanada dan kemudian menundanya, dan menggandakan tarif terhadap China dan mengancam Eropa dan Kanada dengan lebih banyak lagi.


Menurut artikel tersebut, kebohongan terbesar Trump adalah klaimnya bahwa ia mewarisi ekonomi yang rusak, yang mendorongnya melakukan semua hal ini. Ini omong kosong belaka, menurut penulis, yang mengklaim bahwa ekonomi berjalan sangat baik menjelang akhir masa jabatan mantan Presiden Joe Biden, terlepas dari kesalahan yang terjadi di masa-masa awalnya.


Sementara Friedman yakin Trump benar dalam mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dengan China, ia yakin presiden AS dapat melakukannya dengan meningkatkan tarif yang ditargetkan pada Beijing, dengan berkoordinasi dengan sekutu AS yang seharusnya melakukan hal yang sama. Ia yakin ini adalah cara untuk membuat China bertindak.


Artikel tersebut menunjukkan bahwa mantan Presiden AS John F. Kennedy telah merangkum peran negaranya terhadap dunia dalam dua paragraf dalam pidato pelantikannya pada tanggal 20 Januari 1961.


Dalam pidatonya, Kennedy berkata, "Biarlah setiap bangsa tahu, entah mereka menginginkan kita baik atau buruk, bahwa kita akan membayar berapapun harganya, menanggung beban apa pun, menghadapi kesulitan apa pun, mendukung teman mana pun, dan menentang musuh mana pun untuk menjamin terwujudnya kebebasan dan keberhasilannya."


Namun Friedman mengatakan bahwa Trump dan wakil presidennya, J.D. Vance, telah membalikkan seruan Kennedy, dengan mengatakan: "Biarlah setiap negara, baik yang menginginkan kita baik atau buruk, tahu bahwa hari ini Amerika tidak akan membayar harga, tidak akan menanggung beban, tidak akan menanggung kesulitan, dia akan meninggalkan persahabatan apapun, dan akan merayu musuh manapun demi untuk memastikan kelangsungan politik Pemerintahan Trump, bahkan jika itu berarti menyerahkan kebebasan di mana pun jika itu menguntungkan atau sesuai bagi kita."


Penulis menyimpulkan dengan mengatakan bahwa jika Trump ingin membuat perubahan mendasar ke arah yang berlawanan, ia berhutang pada negara untuk memiliki rencana yang koheren, berdasarkan ekonomi yang sehat dan tim yang mewakili yang orang-orang terbaik dan tercerdas, bukan kaum ekstrimis sayap kanan yang paling menjilat.(KHO)

------


Sumber:

https://www.aljazeera.net/politics/2025/3/12/%d8%aa%d9%88%d9%85%d8%a7%d8%b3-%d9%81%d8%b1%d9%8a%d8%af%d9%85%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d8%a7%d9%86%d9%87%d9%8a%d8%a7%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%b9%d8%b8%d9%8a%d9%85


Share: