About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaza. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2026

Semakin Banyak Front, Semakin Jauh dari Kemenangan


Semakin Banyak Front, Semakin Jauh dari Kemenangan

Oleh: Cholid

"Perang yang terus meluas sering kali bukan pertanda bahwa kemenangan semakin dekat. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi bukti bahwa tujuan awal belum berhasil dicapai."

Sejak perang Gaza meletus, Israel menunjukkan kemampuan militer yang sulit ditandingi di kawasan. Ribuan serangan udara dilancarkan, operasi darat dilakukan secara berkelanjutan, dan perang meluas dari Gaza ke Lebanon, Suriah, Yaman, hingga akhirnya melibatkan konfrontasi langsung dengan Iran.

Sekilas, ekspansi ini tampak sebagai demonstrasi kekuatan.

Namun, dalam ilmu strategi, perluasan medan perang justru dapat dibaca secara berbeda. Semakin banyak front yang harus dibuka, semakin besar kemungkinan bahwa tujuan politik yang hendak dicapai belum berhasil diwujudkan.

Di sinilah letak paradoks perang modern.

Clausewitz pernah menegaskan bahwa perang bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan politik. Artinya, keberhasilan perang tidak diukur dari berapa banyak bom dijatuhkan, berapa banyak wilayah diduduki, atau berapa banyak komandan musuh yang dieliminasi. Ukurannya adalah apakah operasi militer tersebut berhasil menghasilkan tatanan politik yang diinginkan.

Pertanyaan itulah yang layak diajukan hari ini.

Setelah berbulan-bulan perang, apakah Israel berhasil menghilangkan Hamas dari lanskap politik Palestina? 

Tidak.

Apakah Hizbullah berhasil dikeluarkan dari perhitungan strategis Israel di perbatasan utara? 

Tidak.

Apakah Iran kehilangan pengaruhnya di kawasan?

Juga tidak.

Apakah normalisasi hubungan Israel dengan dunia Arab semakin menguat?

Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak negara Arab memilih lebih berhati-hati, sementara isu Palestina kembali menjadi pusat perhatian diplomasi internasional.

Artinya, perang terus berjalan, tetapi tujuan politiknya belum benar-benar tercapai.

Inilah yang dalam kajian strategi dikenal sebagai strategic overstretch—ketika sebuah negara harus memperluas operasi militernya ke semakin banyak medan karena sasaran awal belum menghasilkan efek yang diharapkan. Setiap front baru memang memberi ruang untuk menunjukkan kemampuan militer, tetapi pada saat yang sama juga membuka titik-titik tekanan baru: biaya perang meningkat, sumber daya tersebar, tekanan diplomatik bertambah, dan lawan memperoleh lebih banyak ruang untuk beradaptasi.

Ironisnya, setiap front baru juga menciptakan lawan baru.

Serangan ke Lebanon mengaktifkan dinamika Hizbullah. Operasi terhadap Houthi membuat Laut Merah menjadi arena konflik baru. Konfrontasi dengan Iran mengubah konflik yang semula bersifat lokal menjadi persoalan keamanan regional. Alih-alih menyempit, perang justru melebar ke berbagai arah.

Dalam perspektif strategi, kondisi semacam ini bukan selalu menunjukkan dominasi, melainkan dapat mencerminkan frustrasi strategis—situasi ketika instrumen militer terus digunakan karena tujuan politik belum juga tercapai.

Tentu saja, tidak berarti Israel telah kalah. Demikian pula, tidak berarti lawan-lawannya telah menang. Tetapi semakin panjang daftar front yang dibuka, semakin jelas bahwa tidak ada satu pun aktor yang mampu memaksakan kehendaknya secara mutlak kepada kawasan.

Timur Tengah hari ini tidak sedang bergerak menuju hegemoni tunggal. Sebaliknya, kawasan ini memasuki fase keseimbangan baru yang jauh lebih rumit, di mana setiap tindakan militer justru memunculkan reaksi baru, setiap kemenangan taktis melahirkan tantangan strategis berikutnya, dan setiap eskalasi membuka ruang konflik yang lebih luas.

Di sinilah pelajaran terbesar yang sering luput dari perhatian.

Kekuatan militer memang mampu memenangkan pertempuran. Namun sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa perang tidak dimenangkan di medan tempur semata. Perang dimenangkan ketika tujuan politik berhasil dicapai.

Selama perang terus meluas, lawan terus bermunculan, dan tatanan politik yang diinginkan belum juga terwujud, maka yang sedang kita saksikan bukanlah kemenangan yang semakin dekat.

Yang kita saksikan justru sebuah paradoks: semakin luas medan perang, semakin jauh kemenangan strategis itu berada.

 

Share:

Kamis, 18 Juni 2026

Dari Gaza Menuju Tata Dunia Baru: Pelajaran Timur Tengah bagi Diplomasi Indonesia dan Dunia Islam (Bagian 3)


Kunjungi versi ebook

Oleh: Idham Cholid

Pemerhati Isu Palestina dan Timur Tengah

Timur Tengah dan Perubahan Tatanan Global

Krisis yang berlangsung dari Lebanon hingga Gaza sesungguhnya memperlihatkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar konflik antar aktor regional. Ia menunjukkan bahwa Timur Tengah sedang berada dalam fase transisi geopolitik, ketika struktur kekuasaan lama mengalami tekanan dan berbagai kekuatan baru berusaha menentukan arah masa depan kawasan.

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat menjadi aktor eksternal paling dominan dalam membentuk arsitektur keamanan Timur Tengah. Kehadiran militer Amerika, jaringan aliansi dengan Israel dan negara-negara Teluk, serta pengaruh diplomatik Washington menjadi salah satu fondasi utama keseimbangan kawasan.

Namun perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pola tersebut mulai mengalami perubahan. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya aktor yang mampu menentukan seluruh dinamika Timur Tengah. Munculnya Tiongkok sebagai mitra ekonomi strategis, meningkatnya diplomasi mandiri negara-negara Teluk, serta berkembangnya hubungan multipolar menunjukkan bahwa kawasan ini sedang bergerak menuju konfigurasi yang lebih kompleks.

Bagi negara-negara Timur Tengah, perubahan tersebut membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan. Mereka memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan politik luar negeri yang fleksibel, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi risiko persaingan kekuatan besar yang semakin meningkat.

Dalam konteks ini, konflik Lebanon dan Gaza menjadi lebih dari sekadar konflik lokal. Keduanya menjadi indikator mengenai bagaimana dunia baru sedang terbentuk dan bagaimana aktor-aktor regional berusaha menentukan posisi mereka dalam perubahan tersebut.

Dari Stabilitas Semu Menuju Perdamaian yang Berkelanjutan

Salah satu pelajaran terbesar dari Timur Tengah adalah bahwa stabilitas dan perdamaian bukanlah konsep yang sama.

Stabilitas dapat tercipta melalui keseimbangan kekuatan, kontrol keamanan, atau pencegahan militer. Namun perdamaian membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: legitimasi politik, keadilan, dan penyelesaian terhadap persoalan yang menjadi sumber konflik.

Pengalaman Lebanon menunjukkan bahwa sebuah wilayah dapat memiliki mekanisme keamanan internasional selama puluhan tahun, tetapi tetap menyimpan persoalan mendasar yang sewaktu-waktu dapat kembali meledak. Kehadiran UNIFIL berhasil menciptakan ruang antara perang dan perdamaian, tetapi tidak mampu menjawab pertanyaan politik mengenai masa depan Lebanon Selatan.

Gaza menghadirkan persoalan yang lebih kompleks. Setelah kehancuran besar, dunia kembali menghadapi pertanyaan yang sama: apakah komunitas internasional akan kembali menggunakan pendekatan lama, yaitu membangun kembali setelah perang, atau berani membangun mekanisme politik yang mencegah perang berulang?

Rekonstruksi tanpa penyelesaian politik berisiko menjadikan Gaza hanya sebagai siklus berulang antara kehancuran dan pembangunan kembali. Masyarakat internasional tidak dapat terus memperlakukan penderitaan manusia sebagai konsekuensi yang harus dikelola setelah konflik terjadi.

Indonesia dan Diplomasi Perdamaian Abad ke-21

Dalam perubahan geopolitik tersebut, Indonesia memiliki posisi yang unik. Indonesia bukan kekuatan militer utama di Timur Tengah dan tidak memiliki kepentingan langsung dalam perebutan pengaruh kawasan. Namun justru karena posisi tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai aktor yang dipercaya oleh berbagai pihak.

Tradisi politik luar negeri Indonesia yang menekankan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan memberikan modal diplomasi yang penting. Pengalaman panjang Pasukan Garuda dalam berbagai misi perdamaian PBB, termasuk UNIFIL di Lebanon, memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki rekam jejak nyata dalam diplomasi keamanan internasional.

Namun tantangan masa depan membutuhkan pendekatan yang lebih maju. Diplomasi Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pernyataan politik atau posisi moral. Indonesia perlu membangun kapasitas sebagai middle power yang mampu menghasilkan gagasan, mempertemukan kepentingan, dan menawarkan perspektif alternatif dalam penyelesaian konflik.

Dalam isu Palestina, Indonesia memiliki legitimasi moral yang kuat. Tetapi legitimasi moral harus diperkuat dengan pemahaman strategis mengenai bagaimana Timur Tengah bekerja: bagaimana Iran menghitung kepentingannya, bagaimana Israel memahami keamanannya, bagaimana negara Teluk menentukan arah kebijakan, dan bagaimana Amerika Serikat mempertahankan pengaruhnya.

Diplomasi yang efektif bukan berarti meninggalkan prinsip, tetapi memahami realitas agar prinsip tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengaruh nyata.

Peran Organisasi Islam Indonesia: Dari Solidaritas Menuju Kapasitas Strategis

Bagi organisasi masyarakat Islam Indonesia, perkembangan Timur Tengah juga menghadirkan tantangan baru.

Solidaritas terhadap Palestina merupakan bagian dari kepedulian kemanusiaan dan nilai keagamaan yang telah lama hidup di masyarakat Indonesia. Namun dalam konteks geopolitik modern, solidaritas membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar respons emosional terhadap setiap perkembangan konflik.

Organisasi Islam Indonesia memiliki kekuatan yang besar melalui jaringan pendidikan, lembaga kemanusiaan, pusat kajian, dan hubungan sosial yang luas. Kekuatan tersebut dapat diarahkan untuk membangun pemahaman publik yang lebih matang mengenai Timur Tengah, termasuk memahami bahwa konflik kawasan tersebut melibatkan sejarah panjang, kepentingan negara, dan persaingan kekuatan internasional.

Dunia Islam membutuhkan bukan hanya suara yang kuat, tetapi juga pengetahuan yang kuat.

Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pusat kajian Islam dan geopolitik Timur Tengah yang mampu mempertemukan dimensi moral dengan analisis strategis. Dengan demikian, dukungan terhadap Palestina tidak berhenti pada simpati, tetapi berkembang menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian.

Penutup: Ketika Dunia Tidak Cukup Hanya Menghentikan Perang

Dari Lebanon hingga Gaza, sejarah Timur Tengah mengajarkan bahwa perang tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari akumulasi persoalan yang tidak diselesaikan: ketidakamanan, ketidakadilan politik, perebutan pengaruh, dan kegagalan komunitas internasional menemukan formula perdamaian yang memiliki legitimasi.

UNIFIL telah menunjukkan nilai penting kehadiran internasional dalam menjaga agar konflik tidak berkembang menjadi kehancuran yang lebih besar. Namun pengalaman Lebanon juga menunjukkan batas pendekatan yang hanya berfokus pada pengelolaan keamanan.

Dunia tidak dapat terus-menerus datang setelah tragedi terjadi untuk membangun kembali apa yang telah dihancurkan. Perdamaian yang sejati membutuhkan keberanian untuk melihat akar masalah, bahkan ketika akar tersebut berkaitan dengan kepentingan politik yang sulit diselesaikan.

Gaza hari ini bukan hanya persoalan satu wilayah. Ia menjadi ujian terhadap kredibilitas sistem internasional: apakah dunia mampu melihat penderitaan manusia sebagai persoalan politik yang harus diselesaikan, bukan sekadar krisis kemanusiaan yang harus dikelola.

Bagi Indonesia, pelajaran dari Lebanon dan Gaza sangat jelas. Peran sebuah bangsa dalam menjaga perdamaian tidak hanya diukur dari seberapa keras ia menyuarakan keprihatinan, tetapi dari seberapa besar kemampuannya menghadirkan solusi.

Pada akhirnya, perdamaian Timur Tengah tidak akan lahir hanya karena senjata berhenti berbicara. Ia akan lahir ketika manusia yang selama puluhan tahun hidup dalam ketakutan memperoleh sesuatu yang lebih mendasar: hak untuk hidup aman, memiliki masa depan, dan percaya bahwa sejarah mereka tidak akan selamanya ditulis oleh perang.


Share:

Senin, 09 Maret 2026

BPS Palestina: Perang Tingkatkan Jumlah Janda, Pengangguran Kaum Perempuan, dan Ancam Sektor Kesehatan Gaza

Ahad, 8 Maret 2026 - Pusat Informasi Palestina

Badan Pusat Statistik (BPS) Palestina mengumumkan persentase kaum perempuan sekitar 49% dari total populasi di Palestina pada akhir tahun 2025, dengan jumlah keseluruhan  kaum perempuan 2,74 juta.


Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Ahad, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Badan tersebut menjelaskan bahwa jumlah perempuan sekitar 1,69 juta di Tepi Barat dan 1,06 juta di Jalur Gaza, menekankan bahwa kehadiran demografis ini mencerminkan peran penting perempuan dalam masyarakat Palestina.


Data tersebut mengungkapkan bahwa 22.057 perempuan di Jalur Gaza telah kehilangan suami mereka dan menjadi janda sejak pecahnya perang, yang menyebabkan peningkatan persentase rumah tangga yang dikepalai perempuan dari 12% sebelum perang menjadi sekitar 18% selama periode agresi.


Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja Gaza tetap berada di angka 17% pada tahun 2025, sementara partisipasi laki-laki menurun dari 63% menjadi 31%. Tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 92%, dibandingkan dengan 81% di kalangan laki-laki.


Di Tepi Barat, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sekitar 19%, dibandingkan dengan 72% untuk laki-laki, sementara tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 27%, dibandingkan dengan 28% di kalangan laki-laki.


Laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan tingkat pengangguran di kalangan anak muda berusia 19 hingga 29 tahun dengan ijazah diploma atau lebih tinggi, mencapai 79%, dengan 86% untuk perempuan dan 70% untuk laki-laki, yang mencerminkan semakin lebarnya kesenjangan ekonomi antara kedua jenis kelamin.


Di sektor kesehatan, data menunjukkan bahwa sekitar 94% fasilitas kesehatan di Jalur Gaza rusak atau hancur, sementara hampir 37.000 wanita hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi akut antara Oktober 2025 dan Oktober 2026.


Indikator kesehatan juga mencatat peningkatan tajam dalam angka kematian ibu, mencapai 145 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2024, dibandingkan dengan 17,4 kematian pada tahun 2022, menjadi indikator yang mengkhawatirkan betapa buruknya layanan kesehatan.


Data juga menunjukkan bahwa kanker payudara mencapai angkat sekitar 30% dari semua kasus kanker di kalangan wanita di Gaza, dengan angka 29 kasus per 100.000 wanita, di tengah penangguhan layanan deteksi dini dan pengobatan selama lebih dari dua tahun.

Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, “الإحصاء الفلسطيني: الحرب ترفع عدد الأرامل وتفاقم بطالة النساء وانهيار صحي يهدد أمهات غزة” terbit 8 Maret 2026 diakses 9 Maret 2026 10:59 WIB https://palinfo.com/news/2026/03/08/1102651/


Share:

Jumat, 27 Februari 2026

Syuhada dan Korban Luka-luka Berguguran akibat Serangan Udara Zionis yang Membidik Kamp Pengungsi Al-Bureij dan Kantor Polisi di Khan Younis

Foto Pusat Informasi Palestina

Jumat, 27 Februari 2026, 07:39 - Pusat Informasi Palestina

Serangan udara negara Zionis pada Jumat pagi mengakibatkan gugurnya empat warga Palestina, termasuk petugas polisi, dan melukai beberapa lainnya. Serangan tersebut membidik dua kantor polisi Palestina di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, dan kamp pengungsi al-Bureij di Jalur Gaza tengah, sebagai kelanjutan pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025.


Tiga warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka dalam serangan pesawat tak berawak negara Zionis yang menargetkan kantor polisi Palestina di persimpangan al-Maslakh di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan.


https://x.com/PalinfoAr/status/2027249441854370189?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2027249441854370189%7Ctwgr%5Ee901e84d479e7d8cef58488fb45fef8cca55d059%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F27%2F994275%2F

Para syuhada diidentifikasi sebagai Khaled al-Zayan, Hassan Hamed, dan Ali Basem Abu Shamala. Korban luka dan jenazah dipindahkan ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis untuk perawatan dan prosedur medis yang diperlukan.


Serangan serupa menargetkan kantor polisi Palestina di kamp pengungsi al-Bureij, menewaskan satu petugas dan melukai satu lainnya secara serius.


https://x.com/Sa7atPl/status/2027255033448837229?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2027255033448837229%7Ctwgr%5Ee901e84d479e7d8cef58488fb45fef8cca55d059%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F27%2F994275%2F

Kementerian Dalam Negeri mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur negara Zionis membom pos pemeriksaan polisi di Jalan Salah al-Din di pintu masuk kamp al-Bureij di Jalur Gaza tengah, mengakibatkan syahid  satu petugas dan melukai satu lainnya secara serius.


Pada hari Kamis, tiga warga Palestina syahid dan lainnya terluka, satu di antaranya meninggal karena luka-lukanya, sementara dua lainnya syahid dalam serangan udara negara Zionis yang menargetkan sekelompok warga sipil di dekat Taman al-Mahatta di kelurahan al-Tuffah, timur laut Kota Gaza.


Menurut laporan harian yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza pada hari Kamis, pelanggaran negara Zionis sejak gencatan senjata pada 11 Oktober telah mengakibatkan 618 warga Palestina syahid dan 1.663 menderita luka-luka.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “شهداء وجرحى في قصف إسرائيلي استهدف نقطتي شرطة بخانيونس والبريج” terbit 27/2/2026 diakses 27/2/2026 17:08  https://palinfo.com/news/2026/02/27/994275/


Share:

Minggu, 22 Februari 2026

Ramadan di Gaza: Shalat di Tengah Reruntuhan, Ceramah Khatib Menantang Kehancuran

Foto Pusat Informasi Palestina

“93 % Masjid di Gaza telah menjadi target pengeboman” Anwar Abu Shawish, Dirjen Wakaf Kemenag Gaza.

Sabtu, 21 Februari 2026, 09.41 - Pusat Informasi Palestina


Dalam pemandangan di mana kumandang takbir bercampur dengan deru pesawat tempur, dan di mana doa-doa berpadu dengan aroma reruntuhan, warga Jalur Gaza menyambut malam Ramadan dengan melaksanakan salat Isya dan Tarawih di atas reruntuhan masjid mereka yang hancur, dan ruang shalat darurat yang dibangun dari nilon dan kayu.


Ini bukanlah pemandangan biasa, melainkan sebuah pesan bahwa ibadah shalat akan terus berlanjut, tidak peduli seberapa hebat perang atau seberapa luas kehancurannya.


Di seluruh Jalur Gaza, di mana ratusan masjid dibom selama perang baru-baru ini, warga mendirikan tenda-tenda sederhana dan mengubahnya menjadi tempat ibadah, sementara yang lain memilih untuk shalat di bagian-bagian yang tersisa dari masjid-masjid yang sebagian rusak. Saat pesawat pengintai terbang di atas kepala, para jemaah berbaris dengan khidmat, mengangkat tangan mereka dalam doa untuk meringankan kesusahan, mengakhiri penderitaan, dan memperbaiki kondisi kehidupan.


https://x.com/AJA_Palestine/status/2023927657725833315?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2023927657725833315%7Ctwgr%5Ed74c59292e74a10f72162d273354796ec73089cb%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F21%2F993601%2F



Data Masjid Hancur  dan Suara yang hadir kembali dari Reruntuhan


Data dari Kantor Media Pemerintah di Gaza menunjukkan bahwa ratusan masjid hancur total atau sebagian selama perang. Anwar Abu Shawish, Direktur Jenderal Kementerian Wakaf Agama di Gaza, membenarkan bahwa sekitar 93% masjid di Jalur Gaza telah menjadi target.


Dalam pernyataan kepada koresponden kami, ia menjelaskan bahwa dari 1.244 masjid, sekitar 1.160 menjadi target, mengalami kehancuran total atau parsial. Dari jumlah tersebut, 909 masjid rata dengan tanah, sementara 251 lainnya mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan.


Abu Shawish menambahkan bahwa penargetan tidak hanya sebatas pada bangunan tetapi juga meluas kepada imam, da’i, dan ulama. Lebih dari 330 pegawai kementerian, dai , dan imam yang telah syahid, termasuk 233 dai, khotib, dan guru Al-Quran, sementara 27 pegawai masih dipenjara.


Pengeboman juga menargetkan masjid dan musholla-musholla, termasuk musholla Sekolah Al-Tabi'in, serta masjid-masjid bersejarah terkemuka, terutama Masjid Agung Al-’Umari di Kota Gaza.


Meskipun demikian, Abu Shawish menegaskan bahwa Kemenag, bekerja sama dengan lembaga keagamaan dan individu dermawan, telah mendirikan lebih dari 500 tempat shalat sementara di seluruh Jalur Gaza, khususnya di dalam kamp-kamp pengungsian, untuk memastikan kelanjutan berkumandangnya azan, pelaksanaan shalat, dan halaqah-halaqah Tahfizh Al-Quran.


Ia menekankan bahwa “masjid adalah sebuah misi sebelum menjadi bangunan,” dan bahwa shalat akan terus berlanjut tidak peduli seberapa luas kerusakannya.



Masjid Al-’Umari: Berfungsi lagi Meskipun Hancur


Di Kota Gaza, Khaled Miqdad, 37 tahun, biasa menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan shalat Tarawih di Masjid Al-’Umari yang bersejarah.


Meskipun mengalami kerusakan parah, ia kembali pada malam pertama Ramadhan, dan berkata, “Kami kehilangan berkah ini selama dua tahun terakhir, dan hari ini kami kembali untuk melaksanakan shalat di masjid meskipun kerusakannya sangat besar.”


https://x.com/AnasAlSharif0/status/2023890424361025808?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2023890424361025808%7Ctwgr%5Ed74c59292e74a10f72162d273354796ec73089cb%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F21%2F993601%2F


Ia menambahkan bahwa penghancuran masjid, menurut pendapatnya, dimaksudkan untuk merampas hak orang untuk menjalankan amal ibadah mereka, “tetapi kami bertekad untuk menentangnya. Kami akan melaksanakan ibadah kami bahkan di tengah reruntuhan, dan kami tidak akan menjauh dari agama kami, yang merupakan sumber kekuatan dan ketahanan kami.”



Shalat di tengah Reruntuhan dan Semangat yang Kembali


Di pusat kota, Imam Raghed Labib memimpin shalat di Masjid Abu Khadra, atau lokasi yang masih tersisa darinya, setelah warga mendirikan tempat shalat darurat dari nilon dan kayu sebagai pengganti masjid yang hancur total.


Ia mengatakan bahwa Ramadhan tahun ini “benar-benar berbeda,” karena melaksanakan shalat Tarawih berjamaah telah membangkitkan semangat dan memberi orang kesempatan untuk bertemu dengan tetangga dan teman setelah berbulan-bulan terpisah.


Ia menegaskan bahwa masjid tersebut dibom lebih dari sekali sebelum hancur total, tetapi warga membangun kembali tempat shalat dengan bahan-bahan sederhana, memastikan bahwa lima salat harian, terutama Subuh dan Tarawih, dapat terus dilakukan.


Ia mengungkapkan kesedihannya atas kehilangan banyak jamaah yang gugur sebagai syuhada selama perang, tetapi ia menekankan bahwa “generasi mewarisi generasi berikutnya,” dan bahwa tekad tidak mungkin dipatahkan.



Kebahagiaan yang tak lengkap: di tengah tenda dan kenangan


Di kelurahan Al-Amal di Khan Younis, para jamaah melaksanakan salat Tarawih di dalam reruntuhan Masjid Al-Rahmah, yang sebagian besar telah hancur. Mushola darurat itu dipenuhi oleh para jamaah setelah dua tahun tanpa tempat salat, sebuah pemandangan yang menghidupkan kembali semangat Ramadhan yang hilang.


https://x.com/AlwtanTv/status/2024997498994270601?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2024997498994270601%7Ctwgr%5Ed74c59292e74a10f72162d273354796ec73089cb%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F21%2F993601%2F


Hajj Muhammad Dabour, 65 tahun, mengatakan bahwa ia telah melaksanakan salat Tarawih di masjid yang sama selama beberapa dekade, di mana ia menemukan kenyamanan dan suasana keimanan yang khusus. Namun, dua tahun terakhir telah meninggalkannya tanpa perasaan itu. Ia menambahkan, “Alhamdulillah kami telah kembali shalat meskipun ada kehancuran dan kehilangan banyak jamaah dan imam,” mengungkapkan harapannya agar masjid segera dibangun kembali, dan menegaskan bahwa imannya tetap teguh meskipun menghadapi segala kesulitan.


Tahun ini, Ramadhan hadir bagi sekitar 1,9 juta pengungsi dari total populasi 2,3 juta jiwa di Jalur Gaza. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda-tenda yang kekurangan kebutuhan dasar, di tengah kelangkaan makanan, tempat tinggal, dan bantuan, serta pelanggaran berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata. 


Meskipun relatif tenang dibandingkan saat fase puncak perang, ketiadaan dekorasi Ramadhan, hidangan buka puasa bersama, dan pasar yang ramai membuat kegembiraan terasa tidak lengkap bagi keluarga yang masih menderita pahitnya kehilangan.


—-

Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “رمضان في غزة.. صلاةٌ تُقام على الأنقاض ورسالةُ إيمانٍ تتحدى الدمار”  terbit 21 Februari 2026 diakses 22 Februari 2026 13:26 Https://palinfo.com/news/2026/02/21/993601/


Share:

Selasa, 10 Februari 2026

Negara Zionis Gunakan Senjata yang Menguapkan Ribuan Mayat di Gaza

9 Februari 2026 Terakhir diperbarui: 10 Februari 2026, 00:43 (Waktu Mekah)


Dalam investigasi yang mengejutkan, Acara "Kisah Berlanjut" mengungkapkan kesaksian lapangan dan laporan resmi yang mendokumentasikan penguapan mayat ribuan syuhada di Jalur Gaza. Ini adalah akibat dari penggunaan senjata terlarang secara internasional oleh militer penjajah negara Zionis dengan efek termal dan vakum yang menghancurkan.


Menurut investigasi "Yang Menguap”, yang ditayangkan di Al Jazeera pada Senin malam, laporan dari Pertahanan Sipil di Gaza, bersama dengan kesaksian dari paramedis dan keluarga, mendokumentasikan menguapnya lebih dari 2.842 mayat syuhada. Tidak ada jejak mereka yang ditemukan kecuali percikan darah dan sedikit sisa-sisa tubuh manusia di lokasi yang menjadi target.


Data menunjukkan bahwa serangan-serangan ini dilakukan menggunakan bahan peledak termo-vakum dan bahan peledak yang dikuatkan difusinya, menghasilkan panas yang dapat mencapai 3.500 derajat celcius, dan tekanan yang sangat besar yang menyebabkan penguapan cairan dalam tubuh dan transformasi jaringan menjadi abu.


Laporan investigasi tersebut mencakup kesaksian yang mengerikan, di antaranya kesaksian Rafiq Badran, yang menggambarkan bagaimana jasad keempat anaknya lenyap selama pemboman hebat yang menghancurkan puluhan rumah. Ia menegaskan bahwa ia hanya menemukan "pasir hitam" dan sisa-sisa tubuh yang berserakan.


Yasmin, ibu dari Saad, yang syahid menceritakan bagaimana ia mencari jasad putranya di rumah sakit, kamar mayat, dan masjid setelah pemboman Sekolah Al-Tabi'in di kelurahan Al-Daraj, sebelah timur Kota Gaza, sebelum kemudian memastikan bahwa putranya telah menghilang tanpa jejak.


Dinas Pertahanan Sipil di Gaza, melalui juru bicaranya, Mayor Mahmoud Basal, menegaskan bahwa tim mereka menemukan kasus berulang di mana sejumlah orang dilaporkan berada di dalam rumah-rumah yang menjadi target, sementara jumlah jasad yang ditemukan lebih sedikit daripada jumlah yang tercatat. Hal ini menyebabkan kesimpulan bahwa beberapa jasad telah "lenyap sepenuhnya," sebuah fenomena yang ia gambarkan sebagai hal yang tak terbayangkan dalam operasi lapangan sebelum perang ini.



Penguapan Mayat


Secara teknis, investigasi tersebut menyajikan pendapat para ahli, termasuk Yosri Abu Shadi, mantan kepala inspektur Badan Energi Atom Internasional, yang menjelaskan bahwa senjata yang menggabungkan panas ekstrem dan tekanan tinggi mampu menghancurkan sel-sel manusia dan menyebabkan pemusnahan total.


Menurut Abu Shadi, fenomena "penguapan mayat" bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peperangan modern. Ia menunjukkan bahwa adegan serupa tercatat selama invasi Amerika ke Irak, khususnya dalam pertempuran Fallujah pada tahun 2004 dan 2005, ketika senjata termobarik berdaya ledak tinggi digunakan, yang mengakibatkan hangusnya atau hilangnya mayat korban di lokasi pemboman.


Pakar tersebut menegaskan bahwa apa yang terjadi di Irak kemudian menjadi subjek investigasi internasional, menekankan bahwa pengulangan pola yang sama di Gaza memperkuat hipotesis bahwa penjajah menggunakan senjata yang dilarang secara internasional, yang dapat digunakan secara hukum untuk menuntut mereka yang bertanggung jawab atas tindakan ini sebagai kejahatan perang sepenuhnya.


Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Dr. Munir Al-Barsh, juga menunjukkan bahwa tubuh manusia terdiri dari sekitar 80% air, yang menjadikan paparan panas tinggi, tekanan, dan oksidasi sebagai penyebab langsung penguapan secara total.



Senjata yang Dilarang Secara Internasional


Investigasi tersebut melacak jenis amunisi tertentu yang diduga digunakan, termasuk bom buatan Amerika seperti MK-84, yang dikenal sebagai "Hammer," dan bom penghancur bunker BLU-109, serta bom berpemandu presisi seperti GBU-39 dan rudal Hellfire. Amunisi ini mampu menciptakan ledakan suhu tinggi di dalam ruang tertutup, dengan kerusakan yang relatif terbatas pada struktur yang terlihat, tetapi mengakibatkan hilangnya nyawa secara luas.


Investigasi tersebut juga mengandalkan studi ilmiah yang dipublikasikan—termasuk satu di situs web ScienceDirect—yang mengkonfirmasi bahwa bahan peledak termobarik lebih kuat hingga lima kali daripada bom konvensional dan beroperasi dalam tiga fase mematikan: gelombang panas super, diikuti oleh gelombang tekanan yang intens, dan kemudian bola api yang menyebar di dalam ruang tertutup, membakar semua yang dicapainya.


Dari sudut pandang hukum, investigasi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan jenis senjata ini di daerah padat penduduk menimbulkan pertanyaan serius tentang pelanggaran hukum humaniter internasional, khususnya prinsip pembedaan dan proporsionalitas.


Meskipun negara Zionis secara resmi membantah menggunakan senjata terlarang, organisasi internasional—termasuk Amnesty International—telah mendokumentasikan penggunaan beberapa amunisi tersebut di Gaza dalam laporan-laporan sebelumnya.


Dengan hilangnya jenazah secara berulang-ulang, penyelidikan mempertanyakan, "Jika senjata yang dilarang secara internasional tidak digunakan, apa yang menjelaskan pola hilangnya jenazah yang berulang ini? Dan mengapa mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan yang merampas hak orang untuk dimakamkan dengan layak belum dimintai pertanggungjawaban?"


Awal tahun ini, Brigadir Jenderal Raed al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, menyatakan bahwa 10.000 jenazah warga Palestina masih berada di bawah reruntuhan, menekankan bahwa blokade negara Zionis yang terus berlanjut yang mencegah masuknya alat berat dan peralatan menghambat penarikan keluar jenazah tersebut.


Dalam statistik terbarunya, Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan pada hari Senin bahwa jumlah warga Palestina yang syahid dalam perang genosida negara Zionis telah meningkat menjadi 72.032, selain 171.661 yang terluka, sejak 8 Oktober 2023.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “تحقيق "للقصة بقية": إسرائيل استخدمت أسلحة أدت لتبخر آلاف الجثامين بغزة” terbit 9 Februari 2026 diakses 10 Februari 2026 10:59 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/9/%D8%AA%D8%AD%D9%82%D9%8A%D9%82-%D9%84%D9%84%D9%82%D8%B5%D8%A9-%D8%A8%D9%82%D9%8A%D8%A9-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AE%D8%AF%D9%85%D8%AA



Share:

Sabtu, 07 Februari 2026

Terowongan: Dilema Strategis Negara Zionis yang Sulit Diselesaikan Secara Militer dalam Jangka Pendek

Foto Pusat Informasi Palestina

Kamis, 5 Februari 2026, 15:33 - Pusat Informasi Palestina

Para pejabat militer negara Zionis mengakui bahwa pasukan mereka sejauh ini hanya berhasil menangani sekitar setengah dari jaringan terowongan perlawanan yang membentang di bawah Jalur Gaza. Mereka memperkirakan operasi ini akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, mengingat apa yang digambarkan oleh militer sebagai kompleksitas "masalah bawah tanah" dan kesulitan untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat.


Para pejabat militer negara Zionis menyatakan bahwa sejak dimulainya perang di Gaza hampir dua setengah tahun yang lalu, pasukan mereka telah memompa lebih dari 250.000 meter kubik campuran tanah dan air ke dalam jaringan terowongan perlawanan, yang membentang lebih dari 150 kilometer, dalam upaya untuk menghancurkan infrastruktur bawah tanahnya.


Situs web Channel 12 berbahasa Ibrani mengutip seorang pejabat militer pada hari Kamis yang mengatakan bahwa tentara sejauh ini baru menangani sekitar setengah dari jaringan terowongan, sebelum melanjutkan untuk menerapkan fase kedua dari perjanjian gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025.


https://x.com/TRTArabi/status/1816941562330275963?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1816941562330275963%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F

Ia berkata, “Kami sedang melancarkan pertempuran tanpa henti melawan infrastruktur bawah tanah Ham4s,” dan kami memperkirakan bahwa membersihkan semua terowongan dapat memakan waktu tambahan dua tahun.



Jaringan Kompleks untuk Berbagai Tujuan


Sejak pecahnya perang, masalah terowongan telah menjadi salah satu tantangan paling kompleks yang dihadapi tentara negara Zionis. Menurut laporan berbahasa Ibrani, negara Zionis percaya bahwa Ham4s telah menggunakan jaringan ini untuk berbagai tujuan, termasuk menyembunyikan para pemimpinnya, yang memungkinkan mereka untuk menghindari upaya pembunuhan dari udara dalam jangka waktu yang lama, serta menyembunyikan mereka dari pasukan darat dan menahan tahanan negara Zionis di dalam terowongan.


Menurut laporan yang sama, tentara negara Zionis terpaksa menghadapi apa yang digambarkan sebagai tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mendorongnya untuk mengembangkan kemampuan khusus untuk mendeteksi dan menghancurkan terowongan, yang membentang ratusan kilometer di Jalur Gaza, dengan mengandalkan sistem intelijen canggih dan teknologi pemantauan.


https://x.com/YZaatreh/status/1943633628325441684?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1943633628325441684%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Pejabat militer tersebut menjelaskan bahwa tentara telah melakukan kegiatan pengawasan intensif selama sekitar satu tahun sebagai bagian dari perang melawan apa yang disebutnya sebagai "infrastruktur bawah tanah," dan mengklaim telah mencapai "kesuksesan signifikan" di bidang ini.


Ia menambahkan, "Kami mengisi terowongan dengan campuran tanah dan air, mendorongnya dalam jumlah besar. Kami telah memompa lebih dari 250.000 meter kubik ke dalam lebih dari 150 kilometer terowongan," dan mencatat bahwa metode ini "menyebabkan kerusakan yang cukup besar, meskipun tidak menyebabkan kehancuran total."


Dengan dimulainya fase kedua perjanjian gencatan senjata, tentara negara Zionis mengklaim bahwa Ham4s bertindak sangat hati-hati terkait kegiatan rehabilitasi terowongan dan saat ini tidak menggali terowongan baru, menyadari apa yang digambarkannya sebagai "situasi yang rapuh" dan khawatir akan penundaan dalam menerapkan ketentuan perjanjian tersebut.


https://x.com/Meemmag/status/2016363101323722927?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2016363101323722927%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Sebaliknya, otoritas penjajah mengklaim bahwa Ham4s melakukan perbaikan terbatas pada infrastruktur bawah tanahnya di beberapa daerah, berupaya menyelamatkan apa yang tersisa dari fasilitas dan peralatannya. Dalam beberapa pekan terakhir, tentara penjajah telah mulai melakukan operasi "penggalian eksplorasi" di lokasi yang diduga mengandung terowongan yang belum ditemukan, dengan tujuan memperluas cakupan operasi pendeteksian dan penghancurannya.



Senjata Strategis


Pejabat militer tersebut memperkirakan bahwa penghapusan apa yang disebutnya sebagai "ancaman strategis" yang ditimbulkan oleh terowongan akan memakan waktu setidaknya dua tahun lagi, dengan mengatakan, "Kita memiliki waktu yang cukup lama untuk menangani infrastruktur yang kompleks ini."


Ia menambahkan, "Kita berbicara tentang ratusan kilometer terowongan, dan keyakinan bahwa masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat adalah keliru."


https://x.com/AJArabic/status/1746653418767229420?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1746653418767229420%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Sementara itu, sumber militer mengindikasikan bahwa tentara negara Zionis sengaja menghindari penanganan terowongan tertentu dalam beberapa kasus, setelah mengklasifikasikannya sebagai tidak signifikan dan tidak menimbulkan ancaman nyata, menurut penilaian mereka.


Baru-baru ini, media negara Zionis melaporkan bahwa perdebatan profesional telah meningkat di dalam tentara negara Zionis mengenai apakah terowongan yang ditemukan oleh tentara tersebut benar-benar telah dihancurkan. Sumber-sumber profesional di dalam Korps Zeni mengklaim bahwa tidak semua metode yang digunakan oleh tentara untuk menghancurkan terowongan tersebut benar-benar membuatnya tidak dapat digunakan dan mencegah penggalian ulang.


Yedioth Ahronoth melaporkan pada 15 Januari 2026, bahwa tentara negara Zionis menggunakan bahan peledak yang berbeda untuk terowongan yang berbeda, dan di beberapa tempat hanya menutupnya, sementara di tempat lain mereka menghancurkan persimpangan utama di bagian percabangan terowongan.


https://x.com/osSWSso/status/1878951615660748941?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1878951615660748941%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Mengenai Ham4s, surat kabar tersebut mengatakan bahwa mereka telah menginvestasikan sumber daya yang cukup besar untuk belajar dan mengambil pelajaran guna mengatasi kerusakan yang ditimbulkan pada terowongan, membangun kembali, dan menghapus jejak jauh di bawah tanah. Beberapa bulan terakhir telah menunjukkan bahwa dimanapun tentara negara Zionis mempertahankan kehadiran konstan di lapangan, akan sulit bagi Ham4s untuk memulihkan jaringan teroris bawah tanahnya.


Sejak operasi di mana Ham4s menangkap tentara negara Zionis Gilad Shalit pada tahun 2006, tentara penjajah telah berjuang untuk menghancurkan jaringan terowongan di bawah Jalur Gaza. Mereka telah mengerahkan semua kemampuan intelijennya untuk menghancurkan "senjata strategis" ini yang pertama kali digunakan Ham4s pada tahun 2001 ketika mereka meledakkan alat peledak di pos militer negara Zionis Termed di Rafah, Gaza selatan, menewaskan lima tentara dan melukai puluhan lainnya. Alat peledak tersebut dibuat melalui terowongan yang panjangnya tidak lebih dari 150 meter, yang digunakan untuk menanam bahan peledak di bawah pos tersebut.


Terowongan perlawanan telah mempertahankan peran penting dan esensialnya dalam semua pertempuran, dan bahkan telah mengembangkan kemampuan militernya. Setelah Pertempuran Saif Al-Quds pada tahun 2021, pemimpin Ham4s Yahya Sinwar mengatakan bahwa Ham4s dan faksi-faksi Palestina di Gaza telah menyiapkan terowongan yang membentang lebih dari 500 kilometer di bawah wilayah Jalur Gaza, yang luasnya hanya 360 kilometer persegi.


https://x.com/AlarabyTV/status/1747619997717795197?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1747619997717795197%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Sementara itu, kepala biro politik Ham4s, Ismail Haniyeh, menegaskan bahwa Gaza telah "membangun terowongan perlawanan dua kali lebih banyak daripada Vietnam," merujuk pada sekitar 270 kilometer terowongan yang digunakan oleh komunis Vietnam dalam perang mereka melawan Amerika Serikat antara tahun 1955 dan 1975.


Sebuah laporan yang diterbitkan pada awal November oleh majalah Amerika Foreign Policy mengkonfirmasi bahwa "jaringan terowongan yang dibangun oleh faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza memiliki kesamaan strategis dan taktis dengan terowongan di Vietnam." Laporan tersebut menunjukkan bahwa "ketakutan terbesar tentara negara Zionis terletak pada terowongan tempur tersembunyi, di mana unsur kejutan akan memainkan peran penting dalam menggeser keseimbangan kekuatan yang menguntungkan faksi-faksi Palestina di Gaza."


Menurut sebuah studi oleh peneliti Rami Abu Zubaida, yang diterbitkan oleh Institut Studi Mesir pada tahun 2020, terowongan-terowongan ini dibagi menjadi terowongan strategis, defensif, tempur, taktis, pasokan, komunikasi, dan komando dan kendali.


https://x.com/mohaemmd93/status/1793589950681580005?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1793589950681580005%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Kegagalan Pagar Bawah Tanah 


Mengingat kompleksitas ekstrem jaringan terowongan yang meliputi Jalur Gaza, negara Zionis mengembangkan pagar besi pintar setinggi enam meter di sepanjang perbatasan sepanjang 65 kilometer dengan Gaza pada tahun 2017. Dilengkapi dengan radar, kamera, sistem pengawasan maritim, dan senjata kendali jarak jauh canggih, pagar tersebut mencakup penghalang bawah tanah sedalam beberapa meter, yang dilengkapi dengan sensor presisi untuk mendeteksi potensi penggalian terowongan.


Tentara negara Zionis menggunakan sekitar 126.000 ton baja dalam pembangunannya. Setelah selesai pada tahun 2021, negara Zionis menggambarkannya sebagai "satu-satunya di dunia, proyek teknologi inovatif kelas satu yang Ham4s dari salah satu kemampuan yang telah mereka coba kembangkan."


Menurut analis dan pakar militer negara Zionis, pagar besi tersebut, yang menelan biaya sekitar $1,1 miliar bagi negara Zionis, telah sepenuhnya gagal memberikan perlindungan bagi warga negara Zionis di sepanjang perbatasan. Menurut pengakuan militer negara Zionis, Ham4s mampu dengan mudah menembus tembok di 29 titik pada pagi hari Sabtu, 7 Oktober 2023.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, “الأنفاق.. عقدة إسرائيلية استراتيجية يصعب حسمها عسكرياً في المدى القريب” terbit 5 Februari 2026 diakses 7 Februari 2026 14:57  https://palinfo.com/news/2026/02/05/991682/



Share: