About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Israel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2026

Babak Baru Perang AS-Negara Zionis Bukan Semata Membidik Program Nuklir tapi Eksistensi Iran

Diterjemahkan dan disusun kembali dari riset Al Jazeera oleh Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id 

—-

AS dan Negara Zionis meluncurkan babak baru perang melawan Iran, membunuh pimpinan tertinggi Ali Khamenei, dan titik-titik penting komando negara dan memprovokasi rakyat Iran agar mau menggulingkan rezim yang berkuasa. 

—-


Belum genap sembilan bulan sejak negara Zionis yang didukung AS menyerang Iran pada Juni tahun lalu, 28 Februari 2026 negara Zionis kembali melancarkan serangannya yang dilaporkan telah membunuh pimpinan tertinggi politik dan militer Ali Khamenei dan pimpinan Garda Revolusi Iran. 


Dalam hitungan jam pasukan AS yang berada di kawasan itu turut bergabung dalam serangan Zionis itu dan melebarkan jangkauan serangannya ke seluruh Iran.


Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal jarak menengah dan mengerahkan drone membidik titik-titik serangannya ke negara Zionis, Yordania, dan situs militer AS di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk. Oman diserang pada hari berikutnya. 


Tidak berhenti di sana, Iran meluaskan serangannya ke nadi perekonomian kawasan dimana sejak malam hari pertama, kapal-kapal komersial dilaporkan menerima peringatan dari Iran untuk tidak melintasi Selat Hormuz.


Iran, memang siap perang jika terpaksa, meskipun telah menyatakan bersiap dalam perundingan putaran ke-4 tingkat ahli dengan AS di Vienna di bawah badan nuklir IAEA. Oman -yang menjadi mediator perundingan- optimis dengan putaran ke-3 dan menggambarkannya sebagai positif dan tercapai kemajuan penting. 


Presiden AS Donald Trump memang telah memberi sinyal untuk menggunakan kekerasan. Pada 24 Februari, di hadapan Kongres menjelaskan bahwa Iran masih melanjutkan elemen program nuklirnya pasca diserang AS tahun lalu dan untuk pertama kalinya, menggambarkan rudal Iran sebagai ancaman. Iran menolak tuntutan Trump yang ingin menuntut rudal balistiknya menjadi materi tambahan negosiasi.


Sehingga Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dengan jalur perundingan meskipun ada embel-embel akan menghindari penggunaan kekerasan. Di hari yang sama pernyataan sikap Trump itu, yaitu tepatnya 27 Februari,  IAEA melaporkan ketidakpastian tentang lokasi lebih dari 9.000 kilogram uranium yang diperkaya di berbagai tingkatan, diantaranya lebih dari 400 kilogram yang sudah dikayakan di atas 60 persen. Dan di saat yang sama AS melakukan mobilisasi pasukannya secara intensif di sekitar Iran.



Keselarasan Retorika Negara Zionis dengan AS


Dalam pidato saat mengumumkan serangan terhadap Iran, Trump memang sebatas memberikan perhatian pada isu nuklir. Sambil mengingat selama lima dekade antara AS-Iran, dia mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak bisa hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini dan mendorong rakyat Iran untuk “memberontak” melawan penguasa mereka. Maksud pencopotan rezim yang sejalan dengan keinginan negara Zionis. 


Target pembunuhan para petinggi Iran mengukuhkan bahwa ini bukan semata masalah nuklir tapi lebih kepada eksistensi, kendali dan masa depan Republik Iran itu sendiri. Karenanya kemungkinan jangka pendek perang ini bertujuan melemahkan Rezim Iran dan menciptakan chaos agar terbuka jalan bagi pemberontakan dan membuat Iran berlutut dalam negosiasi selanjutnya.



Perang Jangka Pendek- Panjang 


Perang jangka pendek akan berfokus untuk melemahkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, infrastruktur drone, pelabuhan, aset angkatan laut, sistem komando dan kendali, serta fasilitas nuklir yang masih tersisa, sambil terus membidik pejabat tinggi yang masih hidup.


Dalam jangka panjang dimana perang bisa berlangsung beberapa pekan atau lebih akan menyerang infrastruktur ekonomi, pusat pemerintahan, dan mungkin lembaga budaya dan media, dengan tujuan menghancurkan pilar struktural rezim dan membuatnya mudah runtuh di tengah kerusuhan yang meluas. Ini amat sesuai dengan pilihan yang diinginkan negara Zionis..


Di sisi lain, Iran  menyadari ketidakseimbangan kekuatannya dengan musuh dan akan bertumpu dengan menaikan biaya perang. Teheran terus melakukan serangan rudal dan drone untuk melumpuhkan ekonomi negara Zionis dan negara-negara Teluk, khususnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi ekonomi global yang parah. Lebih jauh, Iran dapat mendorong aktor-aktor sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman untuk membuka front tambahan, termasuk jalur-jalur strategis maritim.


Cepat atau lambat, Iran diperkirakan akan keluar dari perang ini kehabisan tenaga. Tapi kejatuhannya tidak bisa dilakukan hanya melalui pemboman udara. Karena institusi negara Iran menyebar secara rata, dengan otoritas di berbagai badan pemerintahan dan pasukan keamanan, termasuk tentara reguler, Garda Revolusi, dinas keamanan internal, dan Basij. Sejak 2008, ketidakpuasan sosial telah meningkat, namun rezim mampu mempertahankan basis yang signifikan di berbagai wilayah dan komunitas. 


Karenanya, kerusakan parah lebih mungkin menghasilkan perselisihan dalam negeri daripada kehancuran rezim secara langsung. Tanpa invasi darat dan kontrol eksternal yang berkelanjutan, penggulingan rezim tetap tidak mungkin terjadi.


Program  nuklir dan rudal Iran juga tidak bisa dijamin dapat dihancurkan total. Stok uranium yang sudah dikayakan sudah menyebar dan tidak sepenuhnya tercatat, dan infrastruktur rudal Iran membentang di seluruh wilayah negara yang luas. Fondasi teknologi dari kedua program tersebut dikembangkan di dalam negeri dan tidak dapat dihapus hanya dengan serangan udara.


Namun demikian, konsekuensi perang akan sangat besar. Pengaruh regional Iran mungkin akan menyusut seiring rezim akan semakin menutup diri. Jika Iran mampu bertahan dengan solidaritas, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: menyesuaikan diri dengan Washington yang melibatkan penyesuaian struktural dan regional, atau ketahanan dan rekonstruksi sambil mempertahankan kemerdekaan strategis, yang berpotensi mencakup upaya penangkal program nuklir. Dalam kedua kasus tersebut, target utama perang ini bukan hanya program nuklir Iran, tetapi Republik Iran itu sendiri.


Sumber:

Riset Al Jazeera 2 Maret 2026 “Targeting the Regime: The Second Round of the US–Israeli War on Iran” diakses 3 Maret 2026 08:56 WIB  https://studies.aljazeera.net/en/policy-briefs/targeting-regime-second-round-us%E2%80%93israeli-war-iran


Share:

Senin, 09 Februari 2026

Channel-13 TV Negara Zionis: Dinas Penjara Mulai Persiapan Eksekusi Tahanan Palestina

2/9/2026  - Terakhir diperbarui: 04:10 (Waktu Mekah)


Channel-13 TV negara Zionis mengungkapkan pada hari Ahad bahwa Dinas Penjara telah memulai persiapan khusus dalam beberapa hari terakhir untuk menerapkan undang-undang hukuman mati terhadap tahanan Palestina yang dituduh oleh negara Zionis melakukan atau merencanakan serangan. Undang-undang tersebut telah melewati pembacaan pertama di parlemen negara Zionis (Knesset).


Menurut channel tersebut, rencana itu mencakup pendirian fasilitas khusus untuk melakukan eksekusi, pengembangan prosedur yang diperlukan, pelatihan personel, dan mengambil pengalaman dari negara-negara yang menerapkan hukuman serupa.


Rencana tersebut, yang sedang diselesaikan di dalam Dinas Penjara, melibatkan pendirian fasilitas terpisah yang disebut dalam sistem sebagai "Koridor Hijau negara Zionis."


Menurut laporan tersebut, eksekusi akan dilakukan dengan cara digantung, dengan tiga penjaga penjara menekan tombol pemicu secara bersamaan. Telah diputuskan juga bahwa tim akan dibentuk sepenuhnya secara sukarela, dan bahwa para penjaga akan menjalani pelatihan khusus.


Channel tersebut mengutip sumber-sumber negara Zionis yang mengatakan bahwa hukuman mati akan dilaksanakan terhadap para tahanan dalam waktu 90 hari setelah putusan akhir.


Sumber-sumber tersebut menjelaskan bahwa hukum tersebut pertama-tama akan diterapkan kepada anggota elit Ham4s yang berpartisipasi dalam serangan 7 Oktober 2013, dan kemudian akan diperluas ke tahanan yang dihukum karena serangan serius di Tepi Barat.


Sebagai bagian dari persiapan ini, channel tersebut mengungkapkan bahwa delegasi dari Dinas Penjara negara Zionis diharapkan segera melakukan perjalanan ke sebuah negara di Asia Timur untuk mempelajari aspek hukum dan peraturan dalam penerapan hukuman tersebut.


Beberapa hari sebelumnya, 12 pakar PBB mendesak negara Zionis untuk menarik rancangan undang-undang yang memberlakukan hukuman mati untuk "tindakan teroris," dengan menegaskan bahwa hukum militer negara Zionis di wilayah jajahan melanggar hukum internasional.


Mereka menyatakan bahwa rancangan undang-undang tersebut memberlakukan hukuman mati di Tepi Barat bagi perbuatan yang mengakibatkan kematian, bahkan secara tanpa disengaja, dan mencatat bahwa hal itu "merupakan pelanggaran hak untuk hidup dan mendiskriminasi warga Palestina."


Rancangan undang-undang tersebut menetapkan bahwa "setiap orang yang secara sengaja atau tidak sengaja menyebabkan kematian warga negara negara Zionis karena alasan yang berkaitan dengan rasisme atau permusuhan terhadap kelompok tertentu, dengan tujuan untuk merugikan negara Zionis dan orang-orang Yahudi di tanah mereka, akan dikenakan hukuman mati."


Berdasarkan ketentuan ini, negara Zionis dapat menerapkan hukuman mati kepada setiap warga Palestina yang membunuh warga negara Zionis, tetapi dalam keadaan apapun, hukuman mati tidak dapat diterapkan kepada warga negara Zionis yang membunuh warga Palestina.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net, “القناة 13 الإسرائيلية: مصلحة السجون بدأت الاستعدادات لإعدام أسرى فلسطينيين” terbit 9 Februari 2026 diakses 9 Februari 2026 09:00 https://www.aljazeera.net/news/2026/2/9/%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%86%D8%A7%D8%A9-13-%D9%85%D8%B5%D9%84%D8%AD%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D8%AC%D9%88%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84%D9%8A%D8%A9-%D8%A8%D8%AF%D8%A3%D8%AA



Share:

Jumat, 30 Januari 2026

Bagaimana Netanyahu Mengelola Kekuasaan di Negara Zionis?

Abdullah Marouf

Penulis Palestina, Direktur Pusat Studi Al-Quds di Universitas Istanbul


Diterbitkan pada 29/1/2026 Terakhir diperbarui: 02:30 (Waktu Mekah)


Julukan "Raja negara Zionis Tanpa Mahkota," yang diberikan kepada Benjamin Netanyahu oleh sebagian orang, bukanlah tanpa alasan. Sebaliknya, julukan itu muncul dari fakta bahwa orang ini adalah politisi negara Zionis yang paling memahami sifat masyarakatnya dan kelas politik penguasanya.


Ia telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk memanipulasi semua lawannya dan memaksakan dirinya di panggung dalam negeri dan internasional, meskipun tidak memprioritaskan kepentingan negara atau rakyatnya sebanyak ia bertindak demi kepentingan pribadinya sendiri, dan untuk memastikan ia tidak dipenjara jika persidangannya terus berjalan tanpa kekebalan yang diberikan kepada Perdana Menteri berdasarkan undang-undang  negara Zionis.


Ini mungkin salah satu alasan yang mendorong Presiden AS Donald Trump untuk secara terbuka meminta Presiden negara Zionis Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Netanyahu, mungkin dengan demikian membebaskannya dari simpul yang telah menjadikannya —dan masih terus— bersikeras untuk tetap berada di pucuk pemerintahan negara Zionis dengan segala cara.


Saya katakan "mungkin" karena Trump sendiri dikelilingi oleh banyak masalah yang berasal dari skandal Epstein, yang juga ia coba tutupi dengan segala cara.


Terlepas dari motif Netanyahu untuk tetap berkuasa di negara Zionis, ia telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi semua rintangan yang ditempatkan di jalannya, yang mana salah satunya saja sudah cukup untuk menjatuhkan para pemimpin sebelumnya, seperti yang terjadi pada Olmert, Peres, dan lainnya.


Dengan negara Zionis memasuki tahun pemilu, harapan partai-partai oposisi negara Zionis untuk menggulingkan Netanyahu tampaknya memudar, meskipun ada beberapa isu yang sangat sensitif di negara Zionis, yang mana salah satunya dapat membongkar dan menjatuhkan pemerintah, terutama undang-undang anggaran dan undang-undang wajib militer.


Undang-undang wajib militer merupakan salah satu hambatan paling serius yang mengancam kejatuhan Netanyahu; karena kemarahan yang meluas atas tuntutan partai-partai keagamaan di Knesset dan pemerintah untuk memperluas basis pengecualian bagi kaum Haredi dari wajib militer, dan guncangan yang ditimbulkannya mengancam akan memperlebar jurang antara partai-partai Haredi tradisional dan partai-partai Zionis religius yang bersikeras pada wajib militer.


Partai-partai ultra-Ortodoks, yang selalu meneriakkan bahwa "mati di tangan orang Arab lebih baik daripada bertugas dalam militer orang kafir," tampaknya telah dijinakkan oleh Netanyahu melalui kesepakatan keuangan yang ditawarkannya dalam undang-undang anggaran. Undang-undang ini, seandainya tidak disahkan, juga bisa menjatuhkan pemerintah. Partai-partai ultra-Ortodoks utama—terutama Shas—mengumumkan persetujuan mereka terhadap undang-undang anggaran setelah Netanyahu menawarkan mereka apa yang setara dengan suap dari anggaran negara bagi sekolah-sekolah agama dan lembaga-lembaga swasta mereka. Sebagai imbalannya, partai-partai ini melunakkan pendirian mereka terhadap undang-undang wajib militer.


Adapun partai yang paling menentang wajib militer, Agudat Yisrael, yang merupakan bagian dari daftar United Torah Judaism, tidak lagi menjadi ancaman bagi undang-undang tersebut setelah pengunduran diri salah satu anggotanya, Yisrael Eichler, dari Knesset. Jumlah mereka yang masih bersikeras menolak undang-undang tersebut kini telah berkurang, sementara jumlah pendukung dari semua partai negara Zionis di Knesset telah meningkat. Untuk pertama kalinya, Netanyahu mengamankan 61 suara yang menegaskan dukungannya terhadap undang-undang wajib militer, sehingga memastikan pengesahannya meskipun ditentang oleh partai-partai ultra-Ortodoks.


Dengan demikian, Netanyahu sedang dalam perjalanan untuk mengatasi rintangan paling berbahaya yang mengancam pemerintahannya dan dirinya sendiri, setelah ia belajar bagaimana menghadapi pemerasan kaum Haredim dan ambisi Zionisme religius, dan akhirnya berhasil menciptakan perpecahan yang luas di dalam oposisi negara Zionis, salah satu simbol terpentingnya, Benny Gantz, pemimpin daftar "Biru dan Putih", menjatuhkan bom baru di oposisi ketika ia mengumumkan bahwa ia tidak mengesampingkan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam pemerintahan bersama Benjamin Netanyahu, karena ia "tidak siap untuk menyerahkan negara Zionis kepada kaum ekstremis atau bergantung pada partai-partai Arab."


Beginilah cara Netanyahu memanipulasi baik lawan maupun pendukungnya. Ia dengan terampil menavigasi kontradiksi di dalam berbagai partai politik negara Zionis, membuat mereka sibuk dengan konflik internal dan memastikan kekuasaannya tetap berlanjut.


Oleh karena itu, peluang kejatuhan Netanyahu saat ini tipis, mengingat fragmentasi yang meluas di kelas politik negara Zionis di berbagai faksi. Sulit membayangkan pemilihan umum dini di negara Zionis sekarang, kecuali dalam satu skenario yang tidak sepenuhnya dikesampingkan: jika Netanyahu sendiri memutuskan untuk menyerukannya, jika ia merasa berada dalam posisi untuk memenangkan pemilihan umum dini dan tetap memimpin pemerintahan berikutnya.


Opsi ini tidak dapat dikesampingkan mengingat situasi saat ini, meskipun logika menunjukkan sebaliknya. Netanyahu, yang secara langsung bertanggung jawab atas kegagalan negara Zionis pada 7 Oktober 2013, berhasil menutup kasus ini bekerja sama dengan para menteri dari gerakan Zionis Religius. Ia berhasil mencegah penyelidikan yang sebenarnya karena kemauan politiknya untuk menutup kasus tersebut selaras dengan keinginan Smotrich dan Ben-Gvir dalam gerakan Zionis Religius untuk menggulingkan lembaga peradilan dan negara yang menjamin pengawasan dan akuntabilitas. Hal ini terjadi meskipun terdapat perbedaan motif di antara mereka untuk melakukan penggulingan tersebut.


Netanyahu tidak menginginkan apa pun selain menyelamatkan dirinya dari jerat politik yang dipasang lawan-lawannya, yang akan menyebabkan ia dipenjara atas tuduhan korupsi. Smotrich dan Ben-Gvir, di sisi lain, ingin membangun negara bayangan baru yang akan selamanya mengubah realitas di negara Zionis demi ide dan visi gerakan Zionis Religius.


Mungkin kepercayaan diri Netanyahu yang begitu besar inilah alasan utama mengapa ia baru-baru ini memberikan pukulan telak kepada mitra koalisinya dengan mengumumkan persetujuannya untuk berpartisipasi dalam apa yang disebut "Dewan Perdamaian" yang dibentuk oleh Presiden AS Trump untuk memasuki fase kedua perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza.


Dengan demikian, Netanyahu menempatkan sekutunya dalam dilema. Mereka tidak lagi dapat mengancam untuk menjatuhkan pemerintah, mengingat negara Zionis telah memasuki tahap persiapan pemilihan umum berikutnya dalam sembilan bulan, dan mereka juga tidak dapat membujuknya untuk menentang kehendak Trump dan menentangnya pada saat yang sensitif ini.


Dengan melakukan hal itu, Netanyahu “membunuh dua burung dengan satu batu”: ia membungkam lawan politiknya di pihak oposisi dengan mengambil hati Trump melalui langkah ini, dan ia memojokkan sekutunya, membuat mereka tidak memiliki kekuatan nyata untuk menentangnya kecuali secara verbal.


Semua tindakan Benjamin Netanyahu ini tidak berarti dia adalah politisi terbaik di kawasan ini atau di negara Zionis. Bahkan, dia adalah politisi negara Zionis yang paling mirip bunglon, dan paling mahir dalam mengeksploitasi kontradiksi dalam masyarakat negara Zionis dan elit politiknya.


Dia adalah ahli dalam memainkan semua pihak untuk keuntungannya sendiri. Pengakuan kami atas fakta ini bukanlah dukungan terhadapnya atau permainan akrobat politiknya, melainkan upaya untuk memahami sifatnya dan sejauh mana bahaya yang ditimbulkannya bagi dunia saat ini. Ini juga merupakan seruan kepada para politisi di kawasan kita untuk tidak mempercayainya—bahkan sehelai rambut pun—atau terhadap janji-janjinya. Sosok seperti itu tidak memiliki kredibilitas sedikit pun atau bahkan integritas politik yang akan menjamin rasa hormat atau kepercayaan pada kata-katanya, betapapun fasih kata-kata terdengar.


Netanyahu bukanlah tipe orang yang peduli dengan citra, martabat, atau integritasnya. Dia adalah lambang politisi yang licik dan oportunis yang tidak akan berhenti sampai mencapai kepentingannya sendiri.


Setelah semua kejadian ini, beberapa hari yang lalu kita melihatnya berdiri di depan Knesset negara Zionis, berpidato seperti biasa, menerima hinaan, teriakan, dan kutukan dari sana-sini tanpa berkedip atau berubah wajah, bahkan tidak peduli untuk menanggapi lawan-lawannya, meskipun hanya dengan senyum sinis.


Ia tahu bahwa semua kebisingan yang ia dengar di sana-sini hanyalah suara-suara yang berlalu, dan bahwa Netanyahu pada akhirnya akan tetap kokoh dalam kekuasaannya.


Para politisi dunia Arab dan Muslim saat ini harus melihat wajah asli Netanyahu setelah puluhan tahun manipulasi ulungnya terhadap kawasan dan dunia. Janji-janjinya hanyalah kata-kata kosong, bahkan di matanya sendiri. Sama seperti ia memanipulasi lawan politik dan sekutunya di negaranya sendiri, ia tidak melihat alasan mengapa ia tidak dapat memanipulasi seluruh dunia untuk keuntungan pribadinya. Politisi seperti itu bahkan tidak layak untuk diajak berurusan. Tindakan yang paling tepat adalah mengarahkan semua upaya politik untuk menempatkannya di tempat yang seharusnya: Mahkamah Pidana Internasional.


Opini yang diungkapkan dalam artikel ini tidak selalu mencerminkan sikap editorial Jaringan Al Jazeera.


—--

Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net كيف يدير نتنياهو لعبة السلطة في إسرائيل؟” terbit 29 Januari 2026 diakses 29 Januari 2026 16:30  https://www.aljazeera.net/opinions/2026/1/29/%D9%83%D9%8A%D9%81-%D9%8A%D8%AF%D9%8A%D8%B1-%D9%86%D8%AA%D9%86%D9%8A%D8%A7%D9%87%D9%88-%D9%84%D8%B9%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%84%D8%B7%D8%A9-%D9%81%D9%8A



Share:

Rabu, 14 Januari 2026

Negara mana saja yang membuat kesepakatan terbesar dengan negara Zionis pada tahun 2025?

Negara Zionis menandatangani beberapa kesepakatan gas, teknologi, dan militer senilai miliaran dolar yang memecahkan rekor dengan mitra dagangnya tahun lalu.

—-


Negara Zionis menandatangani sejumlah kesepakatan gas, teknologi, dan militer senilai miliaran dolar yang memecahkan rekor pada tahun 2025.


Salah satu kesepakatan paling menonjol terjadi pada bulan Desember ketika Perdana Menteri Netanyahu menyetujui kesepakatan energi terbesar dalam sejarah negara Zionis. Kontrak tersebut akan memasok Mesir dengan gas senilai hingga $35 miliar hingga tahun 2040 dari ladang Leviathan, yang semakin memperdalam ketergantungan energi negara Afrika Utara tersebut pada negara Zionis di tengah krisis energi yang sedang berlangsung.


Mesir, yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara Zionis pada tahun 1979, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut merupakan pengaturan "murni komersial" dan tidak ada "dimensi politik", terutama di tengah meningkatnya kemarahan publik atas genosida yang dilakukan negara Zionis di Gaza.


Negara Zionis juga telah menandatangani beberapa kesepakatan bernilai miliaran dolar yang memecahkan rekor di sektor teknologi dan militer pada tahun 2025, sebagian besar diuntungkan dari penjualan peralatan militer dan pengawasan yang telah "teruji di medan perang" di Palestina dan di seluruh kawasan tersebut.


Raksasa teknologi AS, Google (Alphabet), sedang menyelesaikan akuisisi perusahaan keamanan siber Wiz senilai $32 miliar, sementara Nvidia telah berkomitmen $1,5 miliar untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) terbesar di negara Zionis, yang terletak sekitar 30 km (19 mil) dari Haifa.


Di Eropa, kesepakatan Arrow 3 negara Zionis senilai $6,5 miliar dengan Jerman menampilkan sistem pertahanan canggih untuk mencegat rudal balistik jarak jauh, menjadikannya ekspor militer terbesar dalam sejarah negara Zionis.


Dalam laporan ini, Al Jazeera mengupas beberapa kesepakatan terbesar yang diumumkan secara publik yang ditandatangani dengan negara Zionis pada tahun 2025.

Beberapa kesepakatan publik terbesar yang ditandatangani dengan negara Zionis pada tahun 2025 meliputi:

  • Kesepakatan senilai $35 miliar dengan perusahaan energi Mesir: Perjanjian jangka panjang untuk ekspor 130 miliar meter kubik gas alam yang terkait dengan ladang Leviathan akan berlangsung dari tahun 2026 hingga 2040. Ini adalah kesepakatan publik terbesar yang ditandatangani negara Zionis pada tahun 2025.

  • Kesepakatan senilai $32 miliar dengan Alphabet: Perusahaan induk Google, Alphabet, mengakuisisi perusahaan keamanan siber negara Zionis, Wiz, yang menandai salah satu kesepakatan teknologi terbesar dalam sejarah negara Zionis. Akuisisi ini saat ini sedang menunggu keputusan antimonopoli akhir dari Komisi Eropa, yang dijadwalkan paling lambat 10 Februari 2026.

  • Kesepakatan senilai $25 miliar dengan Palo Alto Networks: Palo Alto Networks mengumumkan akuisisi CyberArk, sebuah perusahaan keamanan siber negara Zionis. Kesepakatan ini kemungkinan akan diselesaikan pada paruh kedua tahun 2026, menunggu persetujuan para pemegang saham dan pemegang regulasi.

  • Kesepakatan senilai $3,1 miliar dengan Jerman: Pada bulan Desember, Jerman menyetujui perluasan substansial senilai $3,1 miliar untuk kontrak pertahanan rudal Arrow 3 yang sudah ada, sehingga total kesepakatan menjadi $6,5 miliar dan menjadikannya perjanjian ekspor militer terbesar negara Zionis

  • Kesepakatan senilai $3 miliar dengan Xero: Pada akhir tahun 2025, Xero, sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Selandia Baru yang mengkhususkan diri dalam perangkat lunak akuntansi berbasis cloud, mengakuisisi perusahaan fintech negara Zionis, Melio, menjadikannya akuisisi keluar (outbond acquisition)  terbesar di Selandia Baru.

  • Kesepakatan $2,6 miliar dengan Munich Re: Pada bulan Maret, Munich Re, sebuah perusahaan asuransi multinasional Jerman, mengakuisisi Next Insurance yang didirikan di negara Zionis.

  • Kesepakatan $1,5 miliar dengan Nvidia: Pada Desember 2025, Nvidia mengkonfirmasi investasi sebesar $1,5 miliar untuk membangun pusat data AI besar-besaran di zona industri Mevo Carmel di selatan Haifa. Fasilitas ini dirancang untuk menampung prosesor AI Blackwell generasi berikutnya dari Nvidia dan akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan terbesar Nvidia di luar Amerika Serikat.


Mitra Dagang Utama Negara Zionis


Data perdagangan dalam jangka waktu yang lebih panjang memberikan konteks penting mengapa negara-negara ini berulang kali muncul dalam kesepakatan terbesar negara Zionis. Antara tahun 2019 dan 2023, hubungan perdagangan negara tersebut sangat terkonsentrasi di antara sekelompok kecil mitra, dengan 10 mitra teratas menyumbang lebih dari setengah total perdagangan.


Antara tahun 2019 dan 2023, mitra dagang utama negara Zionis adalah:

  • Amerika Serikat – 18,9 persen dari total perdagangan senilai $140,9 miliar

  • China – 11,6 persen senilai $86,5 miliar

  • Jerman – 5,5 persen senilai $40,9 miliar

  • Turki – 4,8 persen senilai $35,7 miliar

  • Swiss dan Belanda – masing-masing 3,1 persen senilai $23,1 miliar



Apa saja impor dan ekspor utama negara Zionis?


Perdagangan globalnya pada tahun 2024 terdiri dari impor senilai $91,5 miliar dan ekspor senilai $61,7 miliar.


Beberapa impor utama negara Zionis meliputi:

  • Mesin listrik, elektronik, dan peralatan mekanik, senilai sekitar $19 miliar

  • Kendaraan, termasuk mobil, truk, bus, dan pesawat terbang, senilai sekitar $10 miliar

  • Produk kimia, termasuk farmasi, senilai $8 miliar

  • Produk mineral, termasuk minyak bumi, batu bara, dan semen, senilai $7 miliar

  • Permata dan perhiasan, termasuk berlian, senilai $4 miliar

Beberapa ekspor utama negara Zionis meliputi:

  • Mesin listrik, elektronik, dan peralatan mekanik senilai sekitar $18 miliar

  • Produk kimia, termasuk farmasi, senilai $10 miliar

  • Permata dan perhiasan, termasuk berlian yang dipoles, senilai $9 miliar

  • Peralatan optik, teknis, dan medis senilai $7 miliar

  • Produk mineral senilai $5 miliar

Sektor elektronik negara Zionis merupakan mesin penggerak utama ekonomi ekspornya, dipimpin oleh pemain-pemain besar seperti Intel, yang mengoperasikan fasilitas fabrikasi chip skala besar, serta perusahaan-perusahaan seperti Elbit Systems dan Orbotech, yang dikenal karena keahlian mereka dalam elektronik militer dan manufaktur canggih.


Negara Zionis adalah pengekspor farmasi terkemuka, didorong oleh perusahaan-perusahaan seperti Teva Pharmaceuticals, salah satu produsen obat generik terbesar di dunia.


Negara Zionis juga merupakan pemimpin global dalam perdagangan berlian, mengimpor berlian mentah senilai miliaran dolar, yang kemudian dipotong, dipoles, dan diproses di dalam negeri sebelum diekspor.


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Com Explainer: “Which countries made the biggest deals with negara Zionis in 2025?” terbit 13 Januari 2026, diakses 14 Januari 2026 16:52 https://www.aljazeera.com/news/2026/1/13/which-countries-made-the-biggest-deals-with-israel-in-2025



Share:

Rabu, 19 Februari 2025

Perang di Gaza dan Dampaknya Terhadap Israel

Oleh: Syafiq Syakir, penerjemah: Idham Cholid


Pendahuluan


Peristiwa pada 7 Oktober 2023 mengantarkan ketakutan Israel tentang keamanannya dan masa depan eksistensinya di kawasan ke puncaknya. Ketakutan-ketakutan ini, dengan berbagai perkembangan yang terjadi di dalam dan di sekelilingnya selama beberapa tahun terakhir, telah berubah menjadi “ancaman-ancaman eksistensial” yang telah membingkai wacana dan orientasinya serta mempengaruhi kebijakan dan hubungan luar negerinya. 


Di antara kekhawatiran yang paling menonjol yang terungkap dan diperkuat oleh Operasi “Tofan Al Aqsa” adalah kemampuan infrastruktur militer, industri, intelijen, dan operasional yang kini dimiliki oleh perlawanan Palestina, terutama dengan perkembangan hubungannya dengan Iran, yang merupakan aspek lain dari ancaman strategis ini. 


Pada tingkat internal, Israel tengah menyaksikan perpecahan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang diperburuk oleh perang di Gaza, yang telah menjadi lebih dalam dan lebih luas, baik di tingkat politik maupun agama. Sedangkan di bidang militer, tentara penjajah menderita kerugian besar, gagal mencapai sasaran yang dicanangkannya, dan kekuatan pencegah yang telah dibangunnya selama puluhan tahun runtuh. 


Secara eksternal, narasi Israel menjadi diragukan hingga tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari citra sebagai korban mulai berubah menjadi agresor, terutama setelah kasus yang dibawa oleh Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida. Dengan semakin meningkatnya perbedaan antara para pemimpin Israel dan semakin banyak politisi Barat, termasuk di Amerika Serikat, dukungan Barat yang tanpa syarat terhadap Israel dipertanyakan.



Perlawanan Palestina dan ekspansi Iran


Kebijakan Israel, terutama di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, didasarkan pada isolasi Gaza dari Tepi Barat dan memperkuat pemisahan di antara keduanya, sambil berfokus pada Tepi Barat untuk menaklukkannya, mencaplok tanahnya, dan membatalkan solusi dua negara. Kebijakan ini tampaknya lebih sejalan dengan aliran Zionis dan agama sayap kanan, tren yang mendominasi pemerintahan terakhir Netanyahu, yang digambarkan sebagai pemerintahan paling ekstremis dalam sejarah Israel. 


Sejak tahun 2007, Gaza yang terus dikepung telah menyaksikan serangkaian konfrontasi yang berakhir dengan intervensi mediator dan kemudian dengan ketenangan yang berakhir dengan gencatan senjata, sementara Tepi Barat menyaksikan peningkatan penindasan oleh dinas keamanan Israel untuk melenyapkan kelompok perlawanan baru, seperti Batalyon Jenin, ‘Arin-al-usud’ atau Lions’ Den, Batalyon Balata, dan lainnya. Kebijakan ini bertujuan untuk mempertahankan stagnasi situasi di kawasan dan mengganggu segala upaya untuk mencapai perdamaian, dan juga berusaha menjaga situasi Palestina tetap seperti sekarang, terpecah dan lemah.


Setelah mengumumkan apa yang disebut sebagai Kesepakatan Abad Ini, Israel berupaya memperluas jangkauan geografisnya di tanah bersejarah Palestina dengan mengintensifkan pemukiman dan menindas warga Palestina, dan memperluas jangkauan geopolitiknya di kawasan itu dengan menetapkan batas-batas wilayahnya dengan negara-negara tetangga Arabnya, seperti yang terjadi dengan Lebanon terkait batas-batas atau demarkasi laut dan upayanya untuk menetapkan batas-batas wilayah darat juga. Secara paralel, ia berupaya memperluas cakupan normalisasi dengan negara-negara Arab dan memisahkan jalur ini dari proses perdamaian dan masalah Palestina serta hak-haknya.


Pada tataran keamanan regionalnya, Israel menganggap Iran sebagai ancaman utama, karena program nuklirnya yang maju, di samping dukungan militernya terhadap perlawanan Palestina di Gaza. Selain itu, pengaruh Iran telah meluas di kawasan tersebut, mencapai perbatasan utaranya. Pengaruh yang semakin besar ini dilihat oleh Israel sebagai bahaya yang melampaui keamanannya sendiri, dan mengancam keamanan negara-negara tetangga Arabnya, yang memiliki hubungan dengannya untuk menghadapinya melalui “kepentingan bersama.” 


Negara ini telah mengumpulkan wacana keamanan dan politiknya untuk mempromosikan proses normalisasi dalam konteks "Perjanjian Abraham" untuk melayani perspektif ini dan membangunnya dengan mengabaikan Palestina dan segala pengaturan yang terkait dengan masa depan perjuangan Palestina. Namun, Operasi “Tofan Al Aqsa” datang dari luar konteks ini dan bertentangan dengannya, untuk mengembalikan perjuangan Palestina ke posisi sentralnya dan menghidupkan kembali semua berkas yang terkait dengannya, seperti negara, kota Al Quds, pemukiman Yahudi, dan masalah pengungsi.


Oleh karena itu, operasi 7 Oktober, betapapun mengejutkan Israel, dalam beberapa hal merupakan hasil alami dari kebijakan penjajah, terutama mengingat pemerintahan Netanyahu saat ini dan meluasnya sayap kanan dalam masyarakat Israel. Jelas bahwa operasi ini telah menyebabkan kerusakan serius pada strategi pencegahan Israel dan pada kepercayaan warga Israel terhadap lembaga keamanan, militer, dan politik mereka. Kita dapat memahami betapa besarnya kekerasan yang dilakukan Israel dan kegigihannya untuk menimbulkan kerugian dan kehancuran yang sangat besar terhadap warga Palestina dalam perang di Gaza itu adalah sebagai upaya untuk memulihkan kekuatan ini dalam menghadapi “ancaman Palestina” yang semakin meningkat.


Kerusakan yang ditimbulkan oleh kekuatan pencegah Israel di tingkat regional tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh perlawanan Palestina. Kekhawatiran keamanan Israel tentang kemungkinan terulangnya apa yang terjadi dengan perlawanan di Gaza dari perbatasan Lebanon tidak terlintas dalam pikiran. Dari kekosongan, mengingat meningkatnya kemampuan militer yang dimiliki oleh Hizbullah yang didukung Iran. Oleh karena itu, ia berupaya untuk menerapkan Resolusi PBB 1701 secara lebih ketat di Lebanon selatan. Upaya ini dilakukan dalam konteks upaya untuk memulihkan kekuatan pencegahan dalam skala yang lebih luas, sehingga perangnya di Gaza selaras dengan strategi regionalnya dalam menghadapi pengaruh Iran.



Perpecahan Sosial dan Beban Ekonomi yang Tinggi


Masyarakat Israel tengah menyaksikan perpecahan tajam identitas Israel dan definisi tentang dirinya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pernyataan yang dikeluarkan oleh para pemimpin Israel mengenai memburuknya bahaya internal telah meningkat, mencapai titik peringatan akan bahaya “perang saudara” karena kurangnya keharmonisan antara komponen-komponen masyarakat ini di satu sisi, dan meningkatnya pengaruh kelompok kanan keagamaan dan gerakan Zionis ekstremis di bidang politik di sisi lain. Selain itu, terdapat perselisihan yang berkembang mengenai dualitas Yahudi dan sekularisme serta dampaknya terhadap gaya hidup dan hubungan antara komponen-komponen masyarakat.

 

Perpecahan ini tercermin pada penyusunan komposisi kekuatan politik, dan krisis pemerintah Israel mencapai puncaknya pada tahun 2019. Israel menyaksikan lima putaran pemilihan umum dalam waktu singkat, setelah tidak ada satu pun partai atau blok yang bersaing gagal selama empat putaran pertama untuk memperoleh 61 kursi di Knesset yang akan memungkinkan mereka membentuk pemerintahan, bahkan dengan mayoritas tipis. Setelah pemilu April 2019, September 2019, Maret 2020, dan Maret 2021, pemilu terakhir diadakan pada November 2022 yang membawa kenaikan Netanyahu dan pemerintahan sayap kanannya. Pemerintahan ini telah menyebabkan salah satu konfrontasi dalam negeri terbesar dalam sejarah Israel sebelum Tofan Al-Aqsa, yang fokusnya adalah masalah amandemen peradilan yang dirancang untuk "melayani kelompok ekstrem kanan" dan melindungi Netanyahu dari tuntutan atas tuduhan korupsi. Hal ini masih berlangsung hingga kini, dan hal ini tercermin dalam sikap masyarakat Israel terhadap perang di Gaza, serta tujuan dan prioritasnya.


Perang ini juga membayangi perekonomian Israel, yang menderita kesulitan dan tekanan keuangan yang semakin meningkat karena pengeluaran langsung dan tidak langsung yang membebani kas negara dikarenakan aliran pengungsi Israel dari daerah-daerah yang terdampak perang. Wilayah utara di perbatasan Lebanon dan wilayah selatan di perbatasan Gaza dievakuasi ke daerah lain yang lebih aman. Sejumlah kegiatan pertanian dihentikan karena beberapa lahan berada di wilayah ketegangan. Banyak proyek komersial dan infrastruktur terganggu karena penarikan pekerja Palestina, selain pemanggilan puluhan ribu tentara cadangan untuk bergabung ke medan perang dan mengeluarkan mereka dari siklus produksi.


Ironisnya, sumbangan kelompok sayap kanan terhadap ekonomi Israel lebih sedikit dibandingkan kelompok lain. Sedangkan wacana yang mereka miliki didasarkan pada hasutan untuk melanjutkan perang dan meningkatkan biayanya. Aliran ini tidak memberikan perhatian dalam sikap yang diambilnya jika dampak negatif pada ekonomi Israel, bahkan kepada situasi dan hubungannya dengan dunia luar, sehingga menjadikan tempat yang tidak menarik untuk investasi, dan jadi kurang mendorong migrasi Yahudi ke sana. Patut dicatat pula bahwa penganut Haredi (Yahudi ultra-ortodoks) menolak wajib militer dan bersikeras tidak ikut dinas militer meskipun tentara membutuhkan mereka, sebagaimana dikatakan oleh pemimpin oposisi Yair Lapid. Kepala Rabbi Israel, Yitzhak Yosef, mengancam akan menyuruh "semua" dari mereka meninggalkan Israel jika mereka dipaksa mendaftar. Jumlah mereka pada tahun 2023 mencapai sekitar 66 ribu calon prajurit militer.


Hal terpenting yang ditunjukkan oleh perpecahan ini dan biaya politik serta ekonomi yang ditimbulkannya adalah bahwa Israel akan tetap jauh dari stabilitas politik dan pemerintahan pada  periode mendatang. Karena perang di Gaza, apapun hasilnya, dan meskipun digambarkan sebagai perang eksistensial, tidak mampu menyatukan masyarakat Israel, tetapi malah menambah pembenaran baru bagi perpecahan Israel. Semua jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas orang Israel bercita-cita untuk menyingkirkan pemerintahan sayap kanan dan lebih memilih pemerintahan yang lebih moderat. Perlu dicatat bahwa ada ketakutan Barat yang berkembang bahwa masyarakat Israel tengah bergeser ke arah ekstremisme sayap kanan, yang memperdalam perpecahan antara komponen-komponennya dan memperburuk ketidakmampuan Israel dalam meraih keamanannya sendiri untuk melanjutkan jalur normalisasi.


Hubungan Israel dengan Barat dan citranya di mata opini publik Perang di Gaza dan genosida serta kelaparan warga Palestina di tangan pemerintah sayap kanan ekstrim telah menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan hubungan antara Barat dan Israel. Pandangan yang berlaku di Barat, bahwa Israel adalah satu-satunya demokrasi di kawasan tersebut dan negara yang mewakili perpanjangan peradaban Barat dan nilai-nilainya, mulai menjadi sasaran kritik dan peninjauan. Meskipun narasi Israel mendominasi secara luar biasa di koridor kekuasaan, pemikiran, dan pengaruh di Barat, Gaza telah mendapatkan simpati Barat di kalangan generasi muda. Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa menyaksikan demonstrasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mendukung Palestina dan narasi mereka serta menentang perang. Lingkaran protes juga meluas hingga mencakup politisi dan anggota parlemen Barat, dan komunitas seni pun tidak kebal terhadap tren ini. Gugatan hukum yang diajukan Afrika Selatan di hadapan Mahkamah Internasional terhadap Israel atas tuduhan genosida menambah momentum bagi keterlibatan para profesional hukum, aktivis hak asasi manusia, dan banyak profesional media serta influencer media sosial.


Secara politis, jajak pendapat Amerika mencerminkan adanya peningkatan simpati terhadap Gaza, terutama secara politis, di kalangan pemuda. Apa yang membuat pemerintahan Presiden Biden khawatir tentang kemungkinan kalah dalam pemilu November 2024, karena dukungannya yang  tanpa syaratnya terhadap Israel, meskipun kejahatan dan praktik hukum rimba yang dilakukan Israel. Narasi tradisional yang memperlakukan Israel sebagai korban tidak lagi dominan. Narasi Palestina telah mulai menyingkirkannya, mengalahkannya, dan mendorong sejumlah kekuatan Barat untuk meninjau kembali dukungan mereka yang tidak terbatas terhadap Israel.


Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan yang bersifat politis, moral dan strategis di Israel maupun di Barat tentang apakah penjajah Israel telah menjadi beban bagi Barat, terutama setelah perang di Gaza menyingkap kebrutalan yang tak tertandingi dan penginjakan semua nilai dan standar hukum dan kemanusiaan. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan Israel untuk menjaga keamanannya sendiri dan berperang di masa mendatang tanpa bergantung pada Barat. Seolah-olah negara yang digunakan untuk melindungi kepentingan Barat dan mendominasi negara-negara tetangganya, telah menjadi sangat membutuhkan perlindungan permanen, terutama pada saat Washington sedang berusaha mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah dan mengurangi keterlibatan langsungnya dalam perang dan krisis di Timur Tengah. Perlu dicatat bahwa pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump mengandalkan Israel, dan khususnya Netanyahu, untuk menjadi agen utamanya di kawasan tersebut. Dalam konteks itulah muncul Kesepakatan Abad Ini, tetapi Operasi Tofan Al-Aqsa mengungkap rapuhnya kekuatan Israel dan menegaskan bahwa negara Israel tidak dapat terus menjalankan fungsinya tanpa kehadiran dan dukungan langsung dari Washington.



Kesimpulan


Ketakutan "eksistensial" Israel bukan dimulai dengan Operasi Tofan Al-Aqsa, tapi sudah sejak bertahun-tahun sebelumnya dimana yang menjadi salah satu penyebabnya adalah meluasnya pengaruh kaum religius sayap kanan dan Zionis, dengan dua aspeknya, konservatif dan ekstremis, di dalam masyarakat Israel hingga mencapai puncak politiknya dengan pemerintahan Netanyahu saat ini. Hal ini juga menjadi katalisator yang mengobarkan ambisi Israel untuk memperkuat entitas negara dan memperluas cakupannya, baik secara geografis maupun demografis. Hal ini tampak jelas dari meluasnya pemukiman di Tepi Barat dan kota Al Quds, percepatan Yahudisasi Masjid Al-Aqsa dengan membaginya secara spasial dan temporal, serta terhentinya perundingan dengan Palestina untuk mengakhiri proses perdamaian dan solusi dua membuang solusi dua negara dari peredaran.


Sama saja apakah Israel mencapai tujuannya dari perang di Gaza atau gagal, tampaknya negara itu sedang menuju ke arah yang lebih ekstrim, bahkan dengan standar sekutunya Barat sekalipun. Ekstremisme menyusup ke masyarakat Israel dalam semua kategorinya, didorong oleh gerakan keagamaan di satu sisi dan masalah keamanan di sisi lain. Jika normalisasi mendapatkan kembali momentum setelah perang, ia akan menggantikan proses perdamaian. Kesepakatan ini mampu memperkuat Kesepakatan Abad Ini dan secara efektif membendung ambisi ekspansionis Israel. Sementara itu, normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab akan memberikan Israel apa yang dapat ditawarkan oleh proses perdamaian tanpa harus memberikan imbalan apapun kepada Palestina.


Bagaimanapun juga, Operasi Tofan Al-Aqsa akan menimbulkan dampak strategis yang luas terhadap negara Israel, persatuan masyarakatnya, dan proyek Zionis serta masa depannya di Timur Tengah. Pertanyaan tentang “keberadaan” dan penegakannya kembali di atas prinsip-prinsip yang baru akan terus menghantui politisi, militer, dan warga Israel. Kekhawatiran mereka terhadap keamanan terkait berkembangnya kemampuan perlawanan di dalam negeri dan perluasan pengaruh “musuh strategis” mereka di luar negeri tidak akan hilang. Keretakan dalam hubungan Israel dengan Barat membutuhkan waktu untuk disembuhkan. Mengenai kemunduran narasi Israel dan pergeseran opini publik global yang mendukung narasi Palestina, tampaknya ini adalah dinamika yang tidak dapat dibalikkan, setidaknya dalam waktu dekat.(KHO)


Share: