Oleh: Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id
Konfrontasi militer telah meningkatkan ketegangan di Timur dengan serangan terlebih dahulu yang dilakukan negara Zionis terhadap Iran. Serangan ini memang sudah diantisipasi kalangan politik dan militer negara Zionis yang telah memprediksi serangan akan dimulai oleh negara Zionis baru diikuti oleh Amerika Serikat.
Operasi militer ini bukan sepihak, tapi merupakan gabungan negara Zionis-Amerika yang memang telah dipersiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Ini didahului oleh gerakan demonstrasi rakyat di Teheran dan kota-kota lainnya pada awal tahun ini.
Serangan militer ini dilakukan secara terpisah dengan negosiasi yang diadakan di Jenewa yang menjadi isyarat bahwa keputusan militer telah dibuat sebelumnya.
Latar Belakang Ketegangan & Konfrontasi
Pasca serangan Juni lalu, memang babak baru konfrontasi ini tidak dapat lagi dihindari. Dari sudut pandang negara Zionis, mereka menganggap “belum melaksanakan misi secara benar.”
Dengan dimulainya serangan, negara Zionis mengumumkan Siaga Satu dimana sirine menggema di seluruh negara itu dari Utara hingga Selatannya. Sirine serangan udara itu mulai berbunyi menyusul serangan yang menarget Tehran dan serangan ke Libanon Selatan.
Kemendag mendesak warga agar tetap di tempat-tempat yang mereka anggap aman dan bunker perlindungan. Rumah-rumah sakit negara Zionis dalam posisi siaga satu dan dinas terkait pemerintah terus memantau situasi keamanan untuk mengantisipasi serangan balasan Iran.
Serangan yang telah diidam-idamkan negara Zionis sejak lama ini telah secara resmi diumumkan oleh Menteri Pertahanan Yisrael Katz, meskipun terdapat upaya internasional yang mengajak penyelesaian diplomatik antara Teheran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Walid Al-Omari bahwa bala bantuan udara AS yang signifikan telah tiba ke negara Zionis dalam beberapa hari terakhir. Diantaranya puluhan jet tempur canggih, khususnya F-22, serta pesawat pengisi bahan bakar. Juga kapal induk AS USS Ford, yang diyakini telah berlabuh di lepas pantai Haifa Jumat malam.
Meskipun serangan ini melibatkan kerjasama di titik tertinggi antara negara Zionis dan Amerika, namun menurut Al-Omari mereka sedang menunggu kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin depan.
Penundaan kunjungan Rubio yang sebelumnya dijadwalkan Rabu lalu yang berbarengan dengan pulangnya PM India dari negara Zionis dua hari sebelumya, sebagai indikasi apa yang nampak sebagai "upaya penyesatan informasi," bahwa negara Zionis tidak akan melancarkan serangan sebelum kedatangan Rubio.
Namun, hari ini kita menyaksikan serangan negara Zionis telah dimulai, dengan Yisrael Katz mengumumkan bahwa serangan ini merupakan "yang permulaan dari serangan pendahuluan." (Cho/Al Jazeera).
0 komentar:
Posting Komentar