About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Tofan Al-Aqsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tofan Al-Aqsa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2025

Buklet Ham45 tentang Tufan Al-Aqsa: Apa Isi Pembahasannya? Apa yang Tak Dibahas?

Oleh: Ahmed Mawlana - Diterbitkan Al Jazeera pada 26/12/2025 - Terakhir Diperbarui: 06:38 (Waktu Mekah)


Menjelang akhir tahun 2025, dan perdebatan seputar dampak Tufan Al-Aqsa semakin intensif—dengan konflik yang bergeser dari konfrontasi militer terbuka ke pertempuran narasi— Gerakan Perlawanan Islam (Ham45) telah menerbitkan sebuah buklet berjudul "Narasi Kami: Tufan Al-Aqsa… Dua Tahun Keteguhan dan Keinginan untuk Merdeka." buklet ini bertujuan untuk memandu diskusi seputar Tufan dalam menghadapi narasi negara Zionis dan Barat, serta perspektif kritis Arab dan Palestina.


Buklet ini menggunakan gaya laporan langsung yang menyoroti elemen-elemen spesifik dan menetapkan interpretasi tertentu tentang peristiwa tersebut, menentang sudut pandang yang berlawanan. Di sinilah letak signifikansinya: sebagai dokumen yang sarat muatan politik dan terbuka untuk dianalisa dan dikritisi. Hal yang membuka kesempatan untuk pemeriksaan sudut pandangnya, logikanya dari dalam, dan kajian kritis terhadap apa yang disajikan dan apa yang diabaikannya.



Motif di Balik Tufan


Buklet ini membangun interpretasinya tentang peristiwa 7 Oktober berdasarkan narasi panjang yang dimulai dengan Revolusi Palestina tahun 1920, berlanjut melalui penjajahan tahun 1948, dan menyajikan Tufan sebagai hasil kumulatif dari proses sejarah panjang mandat Inggris, penjajahan, pengusiran, dan kebijakan eksklusif yang menargetkan eksistensi Palestina.


Buklet ini kemudian menempatkan Tufan dalam konteks konflik terbuka yang mencapai puncaknya dengan munculnya pemerintahan sayap kanan ekstrim negara Zionis dan percepatan proyek pemukiman dan Yahudisasi di kota Al-Quds dan Tepi Barat. Jumlah pemukim di Tepi Barat meningkat lebih dari dua kali lipat dari 280.000 pada tahun 1993, setelah penandatanganan Perjanjian Oslo, menjadi 950.000 pada tahun 2023.


buklet ini juga berfokus pada kegagalan proses penyelesaian politik, dan menganggap negara Zionis bertanggung jawab atas pengosongan substansi Perjanjian Oslo. Laporan tersebut mengutip pernyataan Netanyahu yang menolak pembentukan negara Palestina dan transformasi Otoritas Palestina menjadi entitas non-berdaulat yang tidak mampu melindungi hak-hak nasional, yang merupakan sebuah keretakan yang mengakhiri setiap prospek penyelesaian dan memperkuat logika konfrontasi.


Buklet ini menguraikan transformasi di negara Zionis sejak akhir tahun 2022, dengan munculnya aliansi Likud-Zionis Religius dan penyerahan posisi-posisi sensitif kepada tokoh-tokoh ekstremis, seperti Kementerian Keamanan Nasional kepada Itamar Ben-Gvir dan Kementerian Keuangan dan Administrasi Sipil di Tepi Barat kepada Smotrich. Buku ini menghubungkan hal tersebut dengan upaya untuk memaksakan realitas baru di lapangan di Tepi Barat dan Al-Quds sebagai pendahuluan untuk melikuidasi perjuangan Palestina.


Buklet ini kemudian beralih ke Jalur Gaza, menyajikan lingkungan sebelum tanggal 7 Oktober sebagai situasi yang sangat tidak stabil akibat pengepungan yang berkepanjangan, kebijakan hukuman kolektif, dan penindakan menyeluruh terhadap kehidupan sehari-hari. Buklet ini juga membahas data keamanan mengenai rencana Shin Bet untuk menargetkan kepemimpinan Ham45 sepekan sebelum operasi, memperkuat anggapan bahwa operasi tersebut merupakan serangan pendahuluan terhadap serangan negara Zionis yang akan segera terjadi.


Lebih lanjut, buklet ini memberikan perhatian khusus pada isu 5.000 tahanan Palestina yang ditahan sebelum operasi, menyajikannya sebagai faktor sentral dalam keputusan untuk menghadapi penjajah, mengingat kebuntuan politik dalam mengamankan pembebasan mereka dan meningkatnya kebijakan represif di dalam penjara. Penyajian motif serangan tersebut dilengkapi dengan membahas ketidakmampuan lembaga-lembaga internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan, untuk memaksakan kewajiban apapun kepada negara Zionis, yang bertindak sebagai negara di atas hukum dengan dukungan Amerika dan Barat.


Bab pertama diakhiri dengan membingkai peristiwa Tufan Al-Aqsa dalam lintasan sejarah berkelanjutan revolusi dan Intifadhan Palestina yang dimulai pada tahun 1920. Bab ini menyajikannya sebagai gelombang baru dalam serangkaian panjang perlawanan yang bertujuan untuk menegaskan kembali perjuangan Palestina di garis depan konflik dan menggagalkan upaya untuk mengintegrasikan negara Zionis ke dalam kawasan.



Hari Lompatan


Bab kedua menyajikan Tufan sebagai tindakan yang disengaja dan direncanakan, menolak anggapan bahwa itu adalah pertaruhan yang gegabah. Bab ini menghubungkannya dengan keputusan sadar yang dibuat oleh kepemimpinan perlawanan. Oleh karena itu, Tufan sebagai momen untuk merebut kembali peran Palestina, melampaui tradisi dimana Palestina berstatus sebagai korban abadi, mereka membuktikan diri sebagai agen proaktif yang mampu mengambil inisiatif. buklet ini kemudian menggunakan kosakata alkaramah atau martabat, pengorbanan, dan pembelaan Al-Quds untuk menghubungkan Tufan dengan nilai-nilai yang lebih tinggi yang melampaui perhitungan taktis.


Mengenai dukungan rakyat, hal ini didasarkan pada hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina pada akhir tahun 2023, yang menunjukkan dukungan luas untuk opsi Tufan, mencapai 72%. Dukungan ini disajikan sebagai mandat rakyat untuk perlawanan, sebagai bukti penerimaan masyarakat yang berkelanjutan terhadap opsi konfrontasi meskipun biayanya tinggi, dan sebagai bukti terkikisnya legitimasi Otoritas Palestina, yang hanya menerima 11% persetujuan dari responden survei.


Deskripsi "Hari Lompatan Bersejarah" digunakan untuk menjelaskan keberhasilan dalam menembus benteng-benteng negara Zionis yang mengelilingi Jalur Gaza, menguasai benteng-benteng tersebut untuk sementara waktu, dan menangkap puluhan tentara; ini disajikan sebagai pencapaian kualitatif yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berdirinya negara Zionis pada tahun 1948. Ditekankan bahwa operasi tersebut merupakan kejutan strategis yang menghantam jantung lembaga keamanan negara Zionis, menghancurkan citra tentara yang tak terkalahkan.


Sebaliknya, bab kedua memfokuskan narasinya pada peristiwa 7 Oktober sebagai momen untuk mengubah persamaan, tanpa membahas eskalasi cepat negara Zionis menjadi perang skala besar yang destruktif dan akibatnya menimbulkan kerugian manusia dan politik bagi Gaza. Bab ini juga gagal membahas bagaimana respons negara Zionis dinilai sebelum serangan, dan juga tidak membahas pergeseran sentimen publik seiring berjalannya perang dan meningkatnya kerugian.



Investigasi Serangan 7 Oktober


Bab ketiga didedikasikan untuk membantah narasi negara Zionis seputar peristiwa 7 Oktober, dengan menyajikan Ham45 sebagai pihak yang memiliki kepentingan dalam mengungkap kebenaran. Ia memulai dengan tuduhan langsung terhadap negara Zionis yang menjalankan kampanye disinformasi media yang luas yang bertujuan untuk mendelegitimasi Tufan dan mengubahnya menjadi narasi berdasarkan tuduhan pembunuhan warga sipil dan anak-anak serta melakukan pelanggaran seksual, untuk membenarkan peluncuran perang skala penuh di Jalur Gaza.


Dalam konteks ini, buklet ini menegaskan bahwa serangan itu terutama menargetkan situs dan pasukan militer negara Zionis di pinggiran Gaza, dan bahwa korban sipil negara Zionis selanjutnya tidak dapat dipisahkan dari sifat keterlibatan dan kebijakan tentara negara Zionis itu sendiri. buklet ini mencatat bahwa pada hari-hari setelah serangan itu, negara Zionis menolak tawaran dari gerakan perlawanan untuk membebaskan tahanan non-kombatan, sebelum kemudian menerima tawaran tersebut selama gencatan senjata singkat selama seminggu pada November 2023.


Bab ini menyajikan posisi fundamental yang menyangkal bahwa menargetkan warga sipil adalah bagian dari doktrin perlawanan. Bab ini menghubungkan praktik-praktik historis negara Zionis dengan kebijakan pembunuhan massal dan pembersihan etnis, dengan alasan bahwa perilaku ini sangat mengakar dalam proyek Zionis sejak awal berdirinya


Buklet ini mengandalkan investigasi jurnalistik negara Zionis untuk mengkonfirmasi bahwa tentara penjajah  membom daerah-daerah yang berisi warga sipil negara Zionis bersama dengan pejuang perlawanan, sebagai bagian dari doktrin "Hannibal," yang bertujuan untuk mencegah tentara ditangkap. Bab ini juga menunjukkan bahwa sejumlah korban negara Zionis adalah tentara cadangan atau tentara yang sedang tidak bertugas dan mengenakan pakaian sipil pada saat serangan, sehingga mengaburkan batas antara warga sipil dan kombatan.


Dalam bantahannya yang terperinci, bab ini menegaskan bahwa perlawanan tidak menargetkan rumah sakit, sekolah, atau tempat ibadah, juga tidak membunuh jurnalis atau paramedis selama operasi tersebut, dan menantang negara Zionis untuk memberikan bukti tandingan. Bab ini diakhiri dengan seruan eksplisit untuk penyelidikan internasional independen atas peristiwa 7 Oktober, bersamaan dengan penyelidikan internasional atas kejahatan yang dilakukan terhadap warga Palestina di Gaza.



Jalannya Perang di Gaza


Bab Empat menyajikan narasi tentang jalannya perang yang dilancarkan negara Zionis di Jalur Gaza, yang digambarkan sebagai perang genosida. Bab ini menempatkan kekerasan tersebut dalam konteks upaya negara Zionis untuk memulihkan citra pencegahannya yang lenyap bersama Operasi Tufan Al-Aqsa.


Perang tersebut mengungkapkan mentalitas eliminasionisme yang mengatur perilaku kepemimpinan politik dan militer negara Zionis. Hal ini termanifestasi dalam retorika resmi yang merendahkan martabat Palestina dan melegitimasi pembunuhan massal. Jumlah korban syahid mencapai 67.100, termasuk 20.000 anak-anak dan 12.500 perempuan, di samping 9.500 orang hilang dan sekitar 196.500 orang terluka.


Bab ini juga membahas masalah tahanan dan jenazah sebagai salah satu aspek paling brutal dari perang tersebut. Hal ini menunjukkan ribuan tahanan dari Gaza dan bukti penyiksaan serta kelaparan yang ditemukan pada tubuh mereka yang dibebaskan, serta bukti terkait pembunuhan di luar hukum dan mutilasi mayat.


Kegagalan negara Zionis terlihat menonjol dalam meraih tujuan terpentingnya, yaitu menghancurkan masyarakat Gaza, terlihat jelas dalam pemandangan ratusan ribu pengungsi yang kembali ke wilayah utara Jalur Gaza yang hancur, mencerminkan keterikatan pada tanah yang menggagalkan kebijakan pengusiran paksa. Laporan ini juga menekankan kegagalan upaya penjajah untuk menemukan alternatif lokal atau badan-badan klien, sebagai akibat dari kesadaran suku-suku dan keluarga-keluarga, serta upaya mereka untuk mempertahankan persatuan tatanan sosial.


Bab ini memberikan ruang yang cukup besar untuk membahas gugur syahidnya para pimpinan, menggambarkannya sebagai ekspresi gaya kepemimpinan yang sangat terkait dengan masyarakatnya dan yang membayar harga yang sama dengan rakyat. Bab ini juga membahas kinerja perlawanan di lapangan, menggambarkannya sebagai upaya membangun perang atrisi jangka panjang dalam perang urban. Strategi ini, meskipun militer negara Zionis memiliki keunggulan militer dan dukungan Barat, menggagalkan kemampuannya untuk mencapai kemenangan yang menentukan, yang pada akhirnya memaksa mereka untuk menghentikan perang dan memasuki kesepakatan politik.


Bab ini tidak mengabaikan dampak perang terhadap masyarakat negara Zionis di dalam negeri, termasuk migrasi balik, penurunan investasi, dan kelumpuhan sektor ekonomi vital. Bab ini juga membahas kerugian yang diderita oleh entitas negara Zionis, baik secara ekonomi—diperkirakan sekitar $100 miliar menurut Bank negara Zionis—maupun manusia—dengan mencatat adanya upaya untuk menyembunyikan kerugian ini.


Bab ini menempatkan peran Amerika sebagai inti permasalahan, menyoroti kemitraan langsungnya dalam perang melalui penyediaan lebih dari 90.000 ton senjata kepada negara Zionis, serta perlindungan politik melalui penggunaan hak vetonya sebanyak enam kali di Dewan Keamanan, sehingga memungkinkan penjajah untuk melanjutkan pembantaian massalnya.


Sebaliknya, Bab Empat tidak cukup membahas pertanyaan tentang bagaimana negara Zionis mengambil keputusan untuk meningkatkan kekerasan hingga tingkat ini. Bab ini juga memperlakukan konsep "memulihkan pencegahan" sebagai tujuan perang negara Zionis yang putus asa tanpa memeriksa pencapaian aktualnya selama konflik berlangsung. Lebih lanjut, buklet ini gagal menganalisis persamaan "pencapaian versus biaya".



Upaya Ham45 untuk Menghentikan Perang


Bab Lima menyajikan uraian tentang upaya Ham45 untuk mengakhiri perang, menempatkannya dalam konteks negosiasi yang berkepanjangan yang dimulai pada hari pertama agresi. Bab ini dimulai dengan menegaskan bahwa Ham45, berkoordinasi dengan faksi-faksi perlawanan lainnya dan mengandalkan saluran mediasi regional dan internasional, sejak awal berupaya menghentikan pembunuhan dan penghancuran. Hal ini kontras dengan keinginan Netanyahu untuk melanjutkan perang sebagai cara untuk melindungi kelangsungan politiknya, menghindari pertanggungjawaban atas kekacauan 7 Oktober, dan membekukan kasus korupsi terhadapnya.


Bab ini menyoroti pelanggaran perjanjian gencatan senjata pada Januari 2025 sebagai bukti nyata kurangnya niat negara Zionis untuk mengakhiri perang, menempatkannya dalam pola berulang pengingkaran terhadap kesepahaman sementara.


Bab ini berfokus pada rencana Presiden AS Trump pada akhir September 2025, menganggapnya sebagai momen penting karena konteks kemunculannya setelah penargetan delegasi negosiasi Ham45 di Doha.


Bab ini menjelaskan posisi Ham45 terhadap rencana tersebut, mencatat persetujuannya terhadap gencatan senjata, pencegahan pengungsian, penarikan bertahap, masuknya bantuan, dan pembebasan tahanan. Kesepakatan ini bergantung pada penolakan Ham45 terhadap pendekatan apa pun yang memaksakan kontrol politik atau berupaya mencapai melalui negosiasi apa yang gagal dicapai penjajah dengan kekerasan. Bab ini juga menyajikan penerimaan Ham45 untuk memerintah Gaza melalui badan Palestina berbasis konsensus sebagai konsesi yang diperhitungkan untuk mencapai stabilitas.


Bab ini diakhiri dengan menyajikan perjanjian gencatan senjata akhir sebagai hasil langsung dari keteguhan rakyat, lapangan, dan politik Palestina, sehingga memperkuat narasi kegagalan negara Zionis untuk memaksakan penyerahan diri atau membentuk kembali Gaza secara politik dan militer.


Namun, buklet ini tersebut tidak mengklarifikasi batasan sebenarnya dari ruang gerak Ham45 mengingat ketidakseimbangan kekuatan, juga tidak membahas motivasi di balik pergeseran posisi AS untuk mengakhiri perang atau sejauh mana pergeseran ini mungkin berlanjut. Penyajian perjanjian akhir cenderung menggambarkannya sebagai kemenangan murni, tanpa membahas tantangan yang akan dihadapi dalam implementasinya, baik mengenai rekonstruksi, administrasi Gaza, atau masa depan konflik. Akibatnya, bab ini muncul sebagai pernyataan berbasis fakta, yang gagal menjawab sejumlah pertanyaan sulit yang diajukan oleh fase pasca-perang.



Pencapaian Utama Banjir


Bab Enam berputar di sekitar ide sentral: bahwa dua tahun perang melepaskan serangkaian transformasi yang luas dalam kesadaran, politik, hukum, dan ruang publik. Oleh karena itu, buklet ini bergerak di antara tiga tingkatan yang saling terkait: tingkat masyarakat Palestina dan kapasitasnya untuk bertahan dan tangguh; tingkat erosi legitimasi dan citra negara Zionis di kawasan dan dunia; serta tingkat lingkungan internasional dan pergeseran dalam wacana, posisi, dan tindakannya.


Di tingkat Palestina, keteguhan hati disajikan sebagai pencapaian utama, setelah menggagalkan upaya penaklukan dan mematahkan kehendak rakyat Palestina, serta memperkuat status mereka sebagai kekuatan yang tak terbantahkan. buklet ini kemudian beralih ke pemulihan sentralitas perjuangan Palestina secara global, setelah upaya normalisasi mengisolasi Palestina dari akarnya dan menghapusnya dari agenda internasional.


buklet ini memperluas cakupan kerugian negara Zionis dalam dua arah: isolasi moral dan politik secara regional dan internasional, dan disintegrasi internal di dalam negara Zionis. Isolasi ini terlihat jelas dalam narasi "biaya moral" yang kini menyertai setiap hubungan dengan negara Zionis, dalam meningkatnya protes di ibu kota Barat, dan dalam transformasi pembelaan negara Zionis menjadi beban politik.


Pada tingkat internal negara Zionis                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      , ia berbicara tentang keretakan mitos-mitos pendirian: mitos superioritas keamanan, mitos pencegahan, peringatan dini dan pemindahan pertempuran ke wilayah musuh, dan kerusakan citra "negara demokrasi Barat," serta ilusi "tempat berlindung yang aman" dengan menunjuk pada kecemasan, migrasi balik, dan semakin lebarnya jurang pemisah antara berbagai arus masyarakat.            


Buklet ini memberikan ruang yang cukup besar untuk perjuangan meningkatkan kesadaran publik, menunjukkan pergeseran dalam wacana politik global itu sendiri: penggabungan konsep-konsep seperti genosida, kolonialisme, dan kejahatan perang ke dalam retorika lembaga-lembaga internasional dan parlemen Barat; penurunan kemampuan negara Zionis untuk mempromosikan narasi tradisionalnya; dan kebangkitan Palestina sebagai standar moral global.


Lintasan ini mencapai tingkat hukum institusional dengan membahas kasus Mahkamah Internasional terhadap Afrika Selatan mengenai genosida, dan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional terhadap Netanyahu dan Gallant, sebagai indikator terkikisnya kekebalan politik yang telah lama dinikmati Israel, bahkan ketika Israel terus menolak untuk mematuhinya.


buklet ini juga mengintegrasikan pencapaian di lapangan dengan pencapaian kemanusiaan, seperti kesepakatan pertukaran tahanan dan pembebasan ribuan tahanan. Kemudian, buku ini membahas kegagalan, atau setidaknya pembekuan, proses normalisasi, kebangkitan kesadaran nasional, meningkatnya mobilisasi rakyat di dunia Arab dan Islam, dan upaya untuk memecah pengepungan.


Argumen ini berpuncak pada gagasan pergeseran opini publik global, dengan mengutip protes dan jajak pendapat yang meluas di Barat, khususnya Amerika Serikat, untuk menegaskan bahwa Tufan telah membawa Palestina menjadi pusat pertanyaan etika dan politik di dunia kontemporer.


Sebaliknya, bab ini mungkin dikritik karena gagal mempertimbangkan perubahan cepat dalam sentimen publik, kemampuan pemerintah Barat untuk menyerap protes tanpa menerjemahkannya menjadi tindakan yang menentukan, dan bentrokan konstan antara hukum internasional dan dinamika kekuasaan, serta kemampuan kekuatan besar untuk menghalangi proses hukum atau menetralkan dampaknya.



Hamas Tidak Dapat Diisolasi


Bab Tujuh berputar di sekitar satu gagasan, yang diulangi dalam beberapa cara: bahwa upaya untuk mengisolasi Ham45 adalah sia-sia karena Ham45 merupakan bagian integral dari tatanan sosial dan politik masyarakat Palestina. Bab ini menambahkan bahwa upaya untuk memberantas Ham45 tidak melemahkannya; sebaliknya, upaya tersebut telah meningkatkan dukungan rakyatnya, seperti yang ditunjukkan oleh kemenangannya dalam pemilihan legislatif tahun 2006.


Bab ini juga berfokus pada keteguhan pilihan perlawanan rakyat, sebagaimana dibuktikan oleh jajak pendapat yang dilakukan selama dua tahun perang. Jajak pendapat yang dilakukan pada Mei 2025, khususnya, menunjukkan bahwa 77% warga Palestina menolak pelucutan senjata Ham45 sebagai imbalan gencatan senjata, sementara 57% menyatakan puas dengan kinerja Ham45, dibandingkan dengan 23% dengan kinerja Otoritas Palestina.


Angka-angka ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa perang tidak menyebabkan masyarakat meninggalkan perlawanan, menekankan bahwa masalahnya terletak pada penjajahan, bukan pada perlawanan, sambil mengakui hak rakyat untuk melawan penjajahan dan pilihan siapa yang mewakili mereka.


Meskipun bab ini menunjukkan ketidakmungkinan untuk memberantas Ham45, bab ini tidak membahas kemungkinan untuk menyesuaikan kembali perannya, maupun dampak dari penargetan sejumlah besar pemimpin dan anggotanya dalam waktu singkat terhadap kemampuannya untuk terus memperkuat kehadirannya di masyarakat.



Prioritas untuk Fase Ini


Ini adalah bab terakhir, yang membahas pengaturan pasca-perang. Di sini, buklet ini berfokus pada apa yang perlu dilakukan dan menerjemahkan pencapaian di lapangan ke dalam proses politik yang melestarikan hasil perang. Oleh karena itu, ia menyajikan prioritas tahap ini sebagai garis besar utama untuk visi nasional yang komprehensif.


Bab ini dimulai dengan memprioritaskan penarikan penuh dari Gaza, mengakhiri pengepungan, dan memulai rekonstruksi sebagai prasyarat untuk setiap diskusi tentang masa depan yang stabil. Kemudian membahas masalah pemerintahan Gaza, menekankan bahwa itu adalah murni urusan Palestina, menolak pengawasan eksternal atau pengaturan yang dipaksakan. Bab ini menegaskan kembali prinsip-prinsip kemitraan dan inklusivitas, mengaitkan setiap kendali luar dengan bentuk-bentuk penjajahan terselubung.


Bab ini kemudian memperluas perspektifnya dari Gaza ke Al-Quds dan Tepi Barat, menegaskan bahwa pelanggaran yang terjadi di sana tidak kurang serius daripada yang terjadi di Jalur Gaza, sehingga membutuhkan upaya terpadu dan penguatan ketahanan rakyat.


Dalam konteks yang sama, bab ini mengusulkan restrukturisasi lanskap politik Palestina dengan membangun kembali Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di atas fondasi kemitraan, merevitalisasi lembaga-lembaganya, dan mempersiapkan pemilihan umum baik di Palestina maupun di diaspora. Bab ini mengaitkan persatuan nasional dengan pilihan perlawanan, menganggapnya penting untuk menggagalkan upaya untuk melenyapkan perjuangan Palestina.


Bab ini tidak mengabaikan dimensi eksternal, menyerukan pendalaman hubungan Arab dan Islam, mengaktifkan dimensi kemanusiaan global, dan menjaga komunikasi dengan gerakan-gerakan populer dan kekuatan internasional yang mendukung Gaza selama perang. Bab ini memberikan penekanan khusus pada pertempuran narasi, melalui penguatan narasi Palestina dan pembentukan lembaga-lembaga yang melestarikan memori kolektif dan mencegah pemalsuan narasi tersebut. Bab ini juga menekankan pentingnya jalur hukum internasional, dengan menuntut penjajah dan para pemimpinnya di hadapan pengadilan internasional, pengadilan pidana, dan pengadilan nasional.


Bab ini diakhiri dengan mengakui peran mediator regional di Qatar, Mesir, dan Turki, dan menyerukan penguatan hubungan dengan kekuatan internasional utama yang mendukung hak-hak Palestina, seperti Rusia dan Tiongkok, sebagai penyeimbang parsial atas bias Barat terhadap negara Zionis.


Sebaliknya, bab ini mengadopsi prioritas yang luas seperti penarikan penuh dari Gaza, rekonstruksi komprehensif, dan pemerintahan nasional yang independen, tanpa membahas dilema praktis yang akan dihadapi oleh setiap upaya untuk menerjemahkan prioritas-prioritas ini menjadi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti. Mengenai restrukturisasi internal, proposal ini memprioritaskan pembangunan kembali PLO dan penyelenggaraan pemilihan umum, tetapi gagal mengatasi hambatan politik dan kelembagaan yang mengakar kuat yang telah menghambat proses ini selama beberapa dekade.



Keunggulan dan Tantangan


Buklet ini menyajikan narasi komprehensif tentang Tufan Al-Aqsa sebagai momen penting dalam sejarah Palestina kontemporer, yang mendefinisikan kembali konflik dan menghancurkan banyak asumsi politik dan keamanan yang telah mengatur kawasan tersebut selama beberapa dekade. Patut dipuji bahwa buku ini tidak membatasi peristiwa tersebut hanya pada dimensi militernya, tetapi memperluas cakupannya untuk mencakup kesadaran global, pergeseran opini publik, narasi moral, proses hukum, dan dampaknya di dalam masyarakat negara Zionis sendiri. Dari perspektif ini, buklet ini berhasil memenuhi fungsi utamanya yaitu mereproduksi narasi Palestina yang mendukung Tufan.


Dari segi struktur keseluruhannya, buklet ini dicirikan oleh perkembangan yang logis, dimulai dengan analisis akar sejarah dan politik yang menyebabkan terjadinya Tufan, kemudian berlanjut ke deskripsi peristiwa itu sendiri, jalannya perang dan konsekuensinya, upaya politik, pencapaian, dan akhirnya, diskusi tentang posisi Ham45 dan prioritas fase selanjutnya.


Sebaliknya, kelemahan paling signifikan dari buklet ini terletak pada keterlibatannya yang terbatas dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan oleh berbagai sektor sosial, khususnya di Gaza. Ia menegaskan keteguhan hati rakyat dan perlawanan, tetapi tidak dibahas harga dari keteguhan hati ini, juga tidak membuka diskusi tentang dilema pasca-perang seperti rekonstruksi bersyarat, pengelolaan Gaza di bawah tekanan internasional, dan perpecahan kronis Palestina.


Mengenai dimensi internasional, buklet ini berfokus pada pergeseran etika dan hukum global. Meskipun benar bahwa Tufan Aqsa telah menyebabkan pergeseran besar dalam opini publik dan bahwa proses hukum internasional telah menyaksikan terobosan yang belum pernah terjadi sebelumnya, perkembangan ini bukanlah suatu tren peningkatan yang pasti. Kekuatan dominan memiliki ketahanan dan kapasitas untuk menyerap guncangan, dan momentum global ini dapat melemah seiring dengan perubahan konteks politik dan media.


Adapun menguraikan prioritas untuk fase selanjutnya, buklet ini menyajikan visi etika dan nasional permulaan, tetapi lebih merupakan deklarasi prinsip daripada peta jalan. Tujuannya jelas, tetapi alat dan mekanisme untuk implementasinya tidak ada atau ditunda.


Namun demikian, pengamatan ini tidak boleh dimaknai sebagai bentuk meremehkan nilai buklet ini. Ini adalah dokumen yang bertujuan untuk memperkuat makna peristiwa tersebut dalam kesadaran Palestina dan global, menutup pintu bagi upaya untuk mengisolasi, mendistorsi, atau mereduksinya. Hal ini mungkin menjadi titik awal bagi diskusi yang lebih mendalam di masa depan untuk menentukan jalur pasca-peristiwa dengan membahas pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul dari konflik tersebut.


Sumber: Al Jazeera + berbagai situs web


Diterjemahkan (IC) dari Al Jazeera Net, “كتيب حماس الجديد عن الطوفان.. ماذا تناول؟ وماذا تجاهل؟” Ahmad Maulana, terbit 26/12/2025 diakses 26/12/2025 16:49 https://www.aljazeera.net/politics/2025/12/26/%D9%83%D8%AA%D9%8A%D8%A8-%D8%AD%D9%85%D8%A7%D8%B3-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D8%AF%D9%8A%D8%AF-%D8%B9%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B7%D9%88%D9%81%D8%A7%D9%86-%D9%85%D8%A7%D8%B0%D8%A7


Share:

Rabu, 19 Februari 2025

Perang di Gaza dan Dampaknya Terhadap Israel

Oleh: Syafiq Syakir, penerjemah: Idham Cholid


Pendahuluan


Peristiwa pada 7 Oktober 2023 mengantarkan ketakutan Israel tentang keamanannya dan masa depan eksistensinya di kawasan ke puncaknya. Ketakutan-ketakutan ini, dengan berbagai perkembangan yang terjadi di dalam dan di sekelilingnya selama beberapa tahun terakhir, telah berubah menjadi “ancaman-ancaman eksistensial” yang telah membingkai wacana dan orientasinya serta mempengaruhi kebijakan dan hubungan luar negerinya. 


Di antara kekhawatiran yang paling menonjol yang terungkap dan diperkuat oleh Operasi “Tofan Al Aqsa” adalah kemampuan infrastruktur militer, industri, intelijen, dan operasional yang kini dimiliki oleh perlawanan Palestina, terutama dengan perkembangan hubungannya dengan Iran, yang merupakan aspek lain dari ancaman strategis ini. 


Pada tingkat internal, Israel tengah menyaksikan perpecahan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang diperburuk oleh perang di Gaza, yang telah menjadi lebih dalam dan lebih luas, baik di tingkat politik maupun agama. Sedangkan di bidang militer, tentara penjajah menderita kerugian besar, gagal mencapai sasaran yang dicanangkannya, dan kekuatan pencegah yang telah dibangunnya selama puluhan tahun runtuh. 


Secara eksternal, narasi Israel menjadi diragukan hingga tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari citra sebagai korban mulai berubah menjadi agresor, terutama setelah kasus yang dibawa oleh Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida. Dengan semakin meningkatnya perbedaan antara para pemimpin Israel dan semakin banyak politisi Barat, termasuk di Amerika Serikat, dukungan Barat yang tanpa syarat terhadap Israel dipertanyakan.



Perlawanan Palestina dan ekspansi Iran


Kebijakan Israel, terutama di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, didasarkan pada isolasi Gaza dari Tepi Barat dan memperkuat pemisahan di antara keduanya, sambil berfokus pada Tepi Barat untuk menaklukkannya, mencaplok tanahnya, dan membatalkan solusi dua negara. Kebijakan ini tampaknya lebih sejalan dengan aliran Zionis dan agama sayap kanan, tren yang mendominasi pemerintahan terakhir Netanyahu, yang digambarkan sebagai pemerintahan paling ekstremis dalam sejarah Israel. 


Sejak tahun 2007, Gaza yang terus dikepung telah menyaksikan serangkaian konfrontasi yang berakhir dengan intervensi mediator dan kemudian dengan ketenangan yang berakhir dengan gencatan senjata, sementara Tepi Barat menyaksikan peningkatan penindasan oleh dinas keamanan Israel untuk melenyapkan kelompok perlawanan baru, seperti Batalyon Jenin, ‘Arin-al-usud’ atau Lions’ Den, Batalyon Balata, dan lainnya. Kebijakan ini bertujuan untuk mempertahankan stagnasi situasi di kawasan dan mengganggu segala upaya untuk mencapai perdamaian, dan juga berusaha menjaga situasi Palestina tetap seperti sekarang, terpecah dan lemah.


Setelah mengumumkan apa yang disebut sebagai Kesepakatan Abad Ini, Israel berupaya memperluas jangkauan geografisnya di tanah bersejarah Palestina dengan mengintensifkan pemukiman dan menindas warga Palestina, dan memperluas jangkauan geopolitiknya di kawasan itu dengan menetapkan batas-batas wilayahnya dengan negara-negara tetangga Arabnya, seperti yang terjadi dengan Lebanon terkait batas-batas atau demarkasi laut dan upayanya untuk menetapkan batas-batas wilayah darat juga. Secara paralel, ia berupaya memperluas cakupan normalisasi dengan negara-negara Arab dan memisahkan jalur ini dari proses perdamaian dan masalah Palestina serta hak-haknya.


Pada tataran keamanan regionalnya, Israel menganggap Iran sebagai ancaman utama, karena program nuklirnya yang maju, di samping dukungan militernya terhadap perlawanan Palestina di Gaza. Selain itu, pengaruh Iran telah meluas di kawasan tersebut, mencapai perbatasan utaranya. Pengaruh yang semakin besar ini dilihat oleh Israel sebagai bahaya yang melampaui keamanannya sendiri, dan mengancam keamanan negara-negara tetangga Arabnya, yang memiliki hubungan dengannya untuk menghadapinya melalui “kepentingan bersama.” 


Negara ini telah mengumpulkan wacana keamanan dan politiknya untuk mempromosikan proses normalisasi dalam konteks "Perjanjian Abraham" untuk melayani perspektif ini dan membangunnya dengan mengabaikan Palestina dan segala pengaturan yang terkait dengan masa depan perjuangan Palestina. Namun, Operasi “Tofan Al Aqsa” datang dari luar konteks ini dan bertentangan dengannya, untuk mengembalikan perjuangan Palestina ke posisi sentralnya dan menghidupkan kembali semua berkas yang terkait dengannya, seperti negara, kota Al Quds, pemukiman Yahudi, dan masalah pengungsi.


Oleh karena itu, operasi 7 Oktober, betapapun mengejutkan Israel, dalam beberapa hal merupakan hasil alami dari kebijakan penjajah, terutama mengingat pemerintahan Netanyahu saat ini dan meluasnya sayap kanan dalam masyarakat Israel. Jelas bahwa operasi ini telah menyebabkan kerusakan serius pada strategi pencegahan Israel dan pada kepercayaan warga Israel terhadap lembaga keamanan, militer, dan politik mereka. Kita dapat memahami betapa besarnya kekerasan yang dilakukan Israel dan kegigihannya untuk menimbulkan kerugian dan kehancuran yang sangat besar terhadap warga Palestina dalam perang di Gaza itu adalah sebagai upaya untuk memulihkan kekuatan ini dalam menghadapi “ancaman Palestina” yang semakin meningkat.


Kerusakan yang ditimbulkan oleh kekuatan pencegah Israel di tingkat regional tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh perlawanan Palestina. Kekhawatiran keamanan Israel tentang kemungkinan terulangnya apa yang terjadi dengan perlawanan di Gaza dari perbatasan Lebanon tidak terlintas dalam pikiran. Dari kekosongan, mengingat meningkatnya kemampuan militer yang dimiliki oleh Hizbullah yang didukung Iran. Oleh karena itu, ia berupaya untuk menerapkan Resolusi PBB 1701 secara lebih ketat di Lebanon selatan. Upaya ini dilakukan dalam konteks upaya untuk memulihkan kekuatan pencegahan dalam skala yang lebih luas, sehingga perangnya di Gaza selaras dengan strategi regionalnya dalam menghadapi pengaruh Iran.



Perpecahan Sosial dan Beban Ekonomi yang Tinggi


Masyarakat Israel tengah menyaksikan perpecahan tajam identitas Israel dan definisi tentang dirinya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pernyataan yang dikeluarkan oleh para pemimpin Israel mengenai memburuknya bahaya internal telah meningkat, mencapai titik peringatan akan bahaya “perang saudara” karena kurangnya keharmonisan antara komponen-komponen masyarakat ini di satu sisi, dan meningkatnya pengaruh kelompok kanan keagamaan dan gerakan Zionis ekstremis di bidang politik di sisi lain. Selain itu, terdapat perselisihan yang berkembang mengenai dualitas Yahudi dan sekularisme serta dampaknya terhadap gaya hidup dan hubungan antara komponen-komponen masyarakat.

 

Perpecahan ini tercermin pada penyusunan komposisi kekuatan politik, dan krisis pemerintah Israel mencapai puncaknya pada tahun 2019. Israel menyaksikan lima putaran pemilihan umum dalam waktu singkat, setelah tidak ada satu pun partai atau blok yang bersaing gagal selama empat putaran pertama untuk memperoleh 61 kursi di Knesset yang akan memungkinkan mereka membentuk pemerintahan, bahkan dengan mayoritas tipis. Setelah pemilu April 2019, September 2019, Maret 2020, dan Maret 2021, pemilu terakhir diadakan pada November 2022 yang membawa kenaikan Netanyahu dan pemerintahan sayap kanannya. Pemerintahan ini telah menyebabkan salah satu konfrontasi dalam negeri terbesar dalam sejarah Israel sebelum Tofan Al-Aqsa, yang fokusnya adalah masalah amandemen peradilan yang dirancang untuk "melayani kelompok ekstrem kanan" dan melindungi Netanyahu dari tuntutan atas tuduhan korupsi. Hal ini masih berlangsung hingga kini, dan hal ini tercermin dalam sikap masyarakat Israel terhadap perang di Gaza, serta tujuan dan prioritasnya.


Perang ini juga membayangi perekonomian Israel, yang menderita kesulitan dan tekanan keuangan yang semakin meningkat karena pengeluaran langsung dan tidak langsung yang membebani kas negara dikarenakan aliran pengungsi Israel dari daerah-daerah yang terdampak perang. Wilayah utara di perbatasan Lebanon dan wilayah selatan di perbatasan Gaza dievakuasi ke daerah lain yang lebih aman. Sejumlah kegiatan pertanian dihentikan karena beberapa lahan berada di wilayah ketegangan. Banyak proyek komersial dan infrastruktur terganggu karena penarikan pekerja Palestina, selain pemanggilan puluhan ribu tentara cadangan untuk bergabung ke medan perang dan mengeluarkan mereka dari siklus produksi.


Ironisnya, sumbangan kelompok sayap kanan terhadap ekonomi Israel lebih sedikit dibandingkan kelompok lain. Sedangkan wacana yang mereka miliki didasarkan pada hasutan untuk melanjutkan perang dan meningkatkan biayanya. Aliran ini tidak memberikan perhatian dalam sikap yang diambilnya jika dampak negatif pada ekonomi Israel, bahkan kepada situasi dan hubungannya dengan dunia luar, sehingga menjadikan tempat yang tidak menarik untuk investasi, dan jadi kurang mendorong migrasi Yahudi ke sana. Patut dicatat pula bahwa penganut Haredi (Yahudi ultra-ortodoks) menolak wajib militer dan bersikeras tidak ikut dinas militer meskipun tentara membutuhkan mereka, sebagaimana dikatakan oleh pemimpin oposisi Yair Lapid. Kepala Rabbi Israel, Yitzhak Yosef, mengancam akan menyuruh "semua" dari mereka meninggalkan Israel jika mereka dipaksa mendaftar. Jumlah mereka pada tahun 2023 mencapai sekitar 66 ribu calon prajurit militer.


Hal terpenting yang ditunjukkan oleh perpecahan ini dan biaya politik serta ekonomi yang ditimbulkannya adalah bahwa Israel akan tetap jauh dari stabilitas politik dan pemerintahan pada  periode mendatang. Karena perang di Gaza, apapun hasilnya, dan meskipun digambarkan sebagai perang eksistensial, tidak mampu menyatukan masyarakat Israel, tetapi malah menambah pembenaran baru bagi perpecahan Israel. Semua jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas orang Israel bercita-cita untuk menyingkirkan pemerintahan sayap kanan dan lebih memilih pemerintahan yang lebih moderat. Perlu dicatat bahwa ada ketakutan Barat yang berkembang bahwa masyarakat Israel tengah bergeser ke arah ekstremisme sayap kanan, yang memperdalam perpecahan antara komponen-komponennya dan memperburuk ketidakmampuan Israel dalam meraih keamanannya sendiri untuk melanjutkan jalur normalisasi.


Hubungan Israel dengan Barat dan citranya di mata opini publik Perang di Gaza dan genosida serta kelaparan warga Palestina di tangan pemerintah sayap kanan ekstrim telah menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan hubungan antara Barat dan Israel. Pandangan yang berlaku di Barat, bahwa Israel adalah satu-satunya demokrasi di kawasan tersebut dan negara yang mewakili perpanjangan peradaban Barat dan nilai-nilainya, mulai menjadi sasaran kritik dan peninjauan. Meskipun narasi Israel mendominasi secara luar biasa di koridor kekuasaan, pemikiran, dan pengaruh di Barat, Gaza telah mendapatkan simpati Barat di kalangan generasi muda. Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa menyaksikan demonstrasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mendukung Palestina dan narasi mereka serta menentang perang. Lingkaran protes juga meluas hingga mencakup politisi dan anggota parlemen Barat, dan komunitas seni pun tidak kebal terhadap tren ini. Gugatan hukum yang diajukan Afrika Selatan di hadapan Mahkamah Internasional terhadap Israel atas tuduhan genosida menambah momentum bagi keterlibatan para profesional hukum, aktivis hak asasi manusia, dan banyak profesional media serta influencer media sosial.


Secara politis, jajak pendapat Amerika mencerminkan adanya peningkatan simpati terhadap Gaza, terutama secara politis, di kalangan pemuda. Apa yang membuat pemerintahan Presiden Biden khawatir tentang kemungkinan kalah dalam pemilu November 2024, karena dukungannya yang  tanpa syaratnya terhadap Israel, meskipun kejahatan dan praktik hukum rimba yang dilakukan Israel. Narasi tradisional yang memperlakukan Israel sebagai korban tidak lagi dominan. Narasi Palestina telah mulai menyingkirkannya, mengalahkannya, dan mendorong sejumlah kekuatan Barat untuk meninjau kembali dukungan mereka yang tidak terbatas terhadap Israel.


Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan yang bersifat politis, moral dan strategis di Israel maupun di Barat tentang apakah penjajah Israel telah menjadi beban bagi Barat, terutama setelah perang di Gaza menyingkap kebrutalan yang tak tertandingi dan penginjakan semua nilai dan standar hukum dan kemanusiaan. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan Israel untuk menjaga keamanannya sendiri dan berperang di masa mendatang tanpa bergantung pada Barat. Seolah-olah negara yang digunakan untuk melindungi kepentingan Barat dan mendominasi negara-negara tetangganya, telah menjadi sangat membutuhkan perlindungan permanen, terutama pada saat Washington sedang berusaha mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah dan mengurangi keterlibatan langsungnya dalam perang dan krisis di Timur Tengah. Perlu dicatat bahwa pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump mengandalkan Israel, dan khususnya Netanyahu, untuk menjadi agen utamanya di kawasan tersebut. Dalam konteks itulah muncul Kesepakatan Abad Ini, tetapi Operasi Tofan Al-Aqsa mengungkap rapuhnya kekuatan Israel dan menegaskan bahwa negara Israel tidak dapat terus menjalankan fungsinya tanpa kehadiran dan dukungan langsung dari Washington.



Kesimpulan


Ketakutan "eksistensial" Israel bukan dimulai dengan Operasi Tofan Al-Aqsa, tapi sudah sejak bertahun-tahun sebelumnya dimana yang menjadi salah satu penyebabnya adalah meluasnya pengaruh kaum religius sayap kanan dan Zionis, dengan dua aspeknya, konservatif dan ekstremis, di dalam masyarakat Israel hingga mencapai puncak politiknya dengan pemerintahan Netanyahu saat ini. Hal ini juga menjadi katalisator yang mengobarkan ambisi Israel untuk memperkuat entitas negara dan memperluas cakupannya, baik secara geografis maupun demografis. Hal ini tampak jelas dari meluasnya pemukiman di Tepi Barat dan kota Al Quds, percepatan Yahudisasi Masjid Al-Aqsa dengan membaginya secara spasial dan temporal, serta terhentinya perundingan dengan Palestina untuk mengakhiri proses perdamaian dan solusi dua membuang solusi dua negara dari peredaran.


Sama saja apakah Israel mencapai tujuannya dari perang di Gaza atau gagal, tampaknya negara itu sedang menuju ke arah yang lebih ekstrim, bahkan dengan standar sekutunya Barat sekalipun. Ekstremisme menyusup ke masyarakat Israel dalam semua kategorinya, didorong oleh gerakan keagamaan di satu sisi dan masalah keamanan di sisi lain. Jika normalisasi mendapatkan kembali momentum setelah perang, ia akan menggantikan proses perdamaian. Kesepakatan ini mampu memperkuat Kesepakatan Abad Ini dan secara efektif membendung ambisi ekspansionis Israel. Sementara itu, normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab akan memberikan Israel apa yang dapat ditawarkan oleh proses perdamaian tanpa harus memberikan imbalan apapun kepada Palestina.


Bagaimanapun juga, Operasi Tofan Al-Aqsa akan menimbulkan dampak strategis yang luas terhadap negara Israel, persatuan masyarakatnya, dan proyek Zionis serta masa depannya di Timur Tengah. Pertanyaan tentang “keberadaan” dan penegakannya kembali di atas prinsip-prinsip yang baru akan terus menghantui politisi, militer, dan warga Israel. Kekhawatiran mereka terhadap keamanan terkait berkembangnya kemampuan perlawanan di dalam negeri dan perluasan pengaruh “musuh strategis” mereka di luar negeri tidak akan hilang. Keretakan dalam hubungan Israel dengan Barat membutuhkan waktu untuk disembuhkan. Mengenai kemunduran narasi Israel dan pergeseran opini publik global yang mendukung narasi Palestina, tampaknya ini adalah dinamika yang tidak dapat dibalikkan, setidaknya dalam waktu dekat.(KHO)


Share:

Minggu, 16 Februari 2025

Strategi AS dan Perang Gaza

Strategi AS dan Perang Gaza

Oleh: Alhawas Taqia


Pendahuluan


Perang Israel di Gaza telah menyebabkan guncangan baru dalam sistem internasional, dan mengungkapkan Ketidakmampuan Amerika Serikat untuk memaksakan apa yang diinginkannya dan mencegah apa yang tidak diinginkannya pada tingkat Politik internasional. 


Perang ini mengalihkan perhatian pimpinan Amerika dari perang Rusia di Ukraina, yang pada gilirannya mengalihkan perhatiannya dari tujuan strategis utamanya menahan kebangkitan Cina. Sementara itu, kekacauan ini mendorong beberapa kekuatan internasional atau Kekuatan besar atau kekuatan yang sedang naik daun untuk bersaing dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk merebut orbitnya berkenaan dengan kepemimpinannya dalam sistem internasional dan desakan atas partisipasinya atau menggantikan posisinya.


Kelemahan Amerika terlihat dalam tiga lingkaran yang membentuk strategi utama Amerika.  Ini adalah lingkaran kawasan Timur Tengah, yang menjadi penting dari cadangan energinya dan jalur laut dan daratnya. Lingkaran Eropa, yang menjadi penting dari kedekatannya kekuatan besar yaitu Rusia, yang merupakan ancaman bagi kepemimpinan Amerika. Dan lingkaran Asia Tenggara, yang menjadi penting dari kebangkitan regionalnya dan kehadiran Tiongkok, negara adikuasa yang menantang Amerika Serikat untuk meraih kepemimpinan global.


Kegagalan Permanen Israel


Perang Israel terhadap  Gaza terletak di jantung Timur Tengah. Strategi AS sebelum “Tofan Al-Aqsa” adalah bergerak menuju mitigasi (upaya mengurangi dampak buruk) berbagai permasalahan di kawasan ini dan berfokus pada Samudra Hindia dan Pasifik, untuk membendung meningkatnya kekuatan Cina. Karenanya, dia merumuskan rencana yang menetapkan Israel sebagai wakil untuk menangani keamanan Timur Tengah dalam menghadapi Iran melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab melalui "Perjanjian Abraham". Dalam konteks ini, normalisasi dipasarkan sebagai sebuah kerangka kerja untuk menangkal ancaman Iran dan sebagai mekanisme untuk mendorong Israel memberikan kepada Palestina hak-hak mereka.


Rencana ini telah berjalan jauh sebelum Tofan al Aqsa, dimana Israel telah melancarkan perang menyeluruh dan kebuasan yang melibatkan segala jenis kebrutalan termasuk Genosida yang mana Mahkamah Internasional didirikan untuk menyelidikinya. Di tingkat politik, pemerintahan Netanyahu mengumumkan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina, dan resolusi Knesset menerbitkan undang-undang mengenai masalah ini yang disetujui oleh semua anggotanya. Benjamin Netanyahu membanggakan "prestasi" ini dan bahwa ia telah berhasil selama hampir dua puluh tahun pemerintahannya dalam menggagalkan pembentukan negara Palestina, dan ia berjanji untuk melanjutkan kebijakan ini hingga akhir pemerintahannya. Dengan demikian, hilanglah justifikasi bagi normalisasi, dan negara-negara Arab terjerumus ke dalam rasa malu, dan negara-negara yang menginginkan pembenaran atas normalisasi, sehingga negara-negara yang menginginkan normalisasi tidak lagi memiliki pembenaran untuk menerimanya di masa mendatang.


Sebaliknya, Amerika Serikat berusaha mengarahkan ulang kebijakan Israel dan kembali menerapkan strategi aslinya. Maka didesaklah Tel Aviv untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza guna meringankan dampak bencana kemanusiaan, yang merusak reputasi Israel dan membayangi Washington sebagai mitra dalam perang. Namun pemerintahan Netanyahu menolaknya dan menggunakan senjata kelaparan untuk menekan perlawanan, sambil terus menolak solusi dua negara dengan anggapan itu mengancam keamanan Israel. Di antara seruan Washington dan penolakan Tel Aviv, pemerintah AS tampaknya tidak berdaya untuk memaksakan kehendaknya kepada sekutu dekatnya, Israel.


Penolakan Israel ini menempatkan Washington dalam dilema strategis dan merusak rencananya untuk mendorong proses normalisasi agar melibatkan negara Arab lainnya, agar memperkuat posisi regional Tel Aviv. Entah tetap terlibat aktif dalam urusan kawasan untuk melindungi sekutunya dan mencegah negara-negara yang menentang kebijakannya, seperti Iran, dari melakukan ekspansi pengaruhnya, sehingga melemahkan kemampuannya untuk membendung Tiongkok. Atau memilih untuk beralih ke Asia Tenggara, yang akan meningkatkan kerusuhan di Timur Tengah dan mempengaruhi pasar energi dan lalu lintas pelayaran. Akibatnya, getaran mungkin terjadi di beberapa negara yang rapuh, mendorong beberapa di antaranya runtuh. Dalam kedua kasus tersebut, Amerika Serikat akan kehilangan kredibilitasnya dan kemampuannya untuk terus memimpin sistem internasional sendirian.


Sedangkan bagi negara-negara Arab yang sedang melakukan normalisasi, kepercayaan mereka terhadap kemampuan Israel untuk melindungi mereka dari bahaya eksternal dan internal akan menurun. Israel, yang selalu menggambarkan dirinya sebagai kekuatan luar biasa di Timur Tengah, telah terbukti tidak mampu mencapai kemenangan yang menentukan melawan faksi-faksi bersenjata yang bertempur dalam jumlah kecil dan dengan senjata sederhana, dan bahwa Israel membutuhkan Amerika Serikat untuk melindunginya dan menyediakan untuknya senjata, amunisi, dan informasi. Negara-negara ini mungkin akan mempertimbangkan kembali penilaian mereka terhadap batasan kekuatan Israel dan sejauh mana kemampuannya untuk menjamin perlindungan kepada mereka sebagai pengganti  Amerika Serikat. Sehingga dengan demikian upaya Washington untuk membangun sistem keamanan Timur Tengah yang dipimpin oleh Israel mengalami kegagalan dan berguguranlah negara-negara Arab dari posisi ketergantungan.


Tekanan di front Eropa


Di tingkat Eropa, perang Israel di Gaza berkontribusi dalam mencegah Amerika Serikat mengalahkan Rusia dalam invasinya ke Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengakui bahwa perang Gaza mengalihkan opini publik dunia pada umumnya dan opini publik Barat pada khususnya dari situasi di Ukraina. Momentum emosional yang dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan bagi pertahanan negaranya menurun, dan tingkat minat publik di negara-negara Barat yang berupaya membantunya pun menurun. Sebelumnya, Ukraina menggunakan momentum itu untuk menekan pemerintah Eropa yang enggan membantunya, seperti Hongaria.


Di sisi lain, momentum ini menjadi kendala bagi pemerintah yang bersimpati terhadap ٌRusia, yang sebelumnya merasa malu untuk memberikan dukungan mereka terhadap Putin, yang tampil dengan citra agresor terhadap negara merdeka, dimana isolasi terhadap Rusia mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, setelah perhatian beralih ke perang Israel di Gaza dan dukungan tak terbatas dari Barat yang diterimanya, citra Putin yang menentang perang Gaza, berubah menjadi pembela rakyat tertindas yang dijajah berkepanjangan di bawah dukungan penuh Barat. Perang Gaza juga meningkatkan tekanan pada sumber daya militer dan keuangan Barat, yang sebelumnya tidak mampu memberikan dukungan yang diperlukan kepada pasukan Ukraina. Pada bulan Oktober 2023, misalnya, General Dynamics mengumumkan telah menjadi produsen  20.000 peluru artileri setiap bulannya, dimana sebelumnya hanya memproduksi 14.000 setiap bulan.  Perusahaan raksasa Amerika ini bermaksud meningkatkan produksinya hingga 100.000 peluru per bulan. Tidak diragukan lagi bahwa perang Gaza akan mendorongnya untuk meningkatkan produksinya dengan lebih cepat.


Penurunan signifikan dukungan Barat untuk Ukraina menyebabkan kegagalan “serangan balik”nya terhadap pasukan Rusia, dan membuka jalan bagi Rusia untuk memulihkan keseimbangannya dalam industri militer, memobilisasi pasukan tempur tambahan, dan meluncurkan serangan baru pada akhir tahun 2023, mempenetrasi tiga kota strategis: Bakhmut, Avdiivka, dan Kupyansk.


Hambatan bagi koridor ekonomi antara India, Timur Tengah dan Eropa 


Adapun lingkaran Asia Selatan, di mana Cina berada di pusatnya; Perang Gaza telah memberikan pukulan yang sangat dahsyat terhadap proyek koridor ekonomi India-Timur Tengah-Eropa, yang dikenal sebagai “Koridor.” Amerika Serikat, yang mensponsori proyek ini, berupaya mencapai dua tujuan melalui proyek ini: Pertama: menggagalkan proyek Sabuk dan Jalan Tiongkok, yang digunakan Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya ke berbagai arah, dan menghubungkan sejumlah besar negara di dunia dengan ekonominya atas dasar “saling menguntungkan”. Kedua: Mengintegrasikan Israel ke dalam perekonomian kawasan dan mendorong normalisasi agar mencakup lebih banyak negara.


Proyek Koridor diharapkan dimulai di India dan melewati Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Israel, lalu ke pelabuhan Yunani, sebelum berakhir di negara-negara Eropa lainnya. Negara-negara ini akan dihubungkan oleh infrastruktur yang terdiri dari jaringan kereta api, serat optik, dan jaringan pipa hidrogen bersih. Anggaran sebesar $20 miliar telah dialokasikan untuk membangun koridor ini, yang diharapkan dapat memangkas waktu tempuh dari India ke Eropa sekitar 40% dan biayanya sekitar 30%. Tampaknya UEA memberikan kontribusi finansial yang luar biasa bagi keberhasilan proyek ini, karena Presiden Biden mengucapkan terima kasih kepada presidennya, Mohammed bin Zayed, ketika ia menyapanya, dengan mengatakan: “Proyek ini tidak akan terwujud tanpa usaha Anda.”


Jelas dari peta proyek ini bahwa Israel adalah mata rantai utama; Di satu sisi, dia akan terhubung dengan perekonomian negara-negara Teluk, yang telah menantikannya sejak proyek Shimon Peres Timur Tengah Baru. Dengan demikian hal ini akan menjadinya sebagai entitas alami bagi kelangsungan hidupnya di kawasan Arab, dan bahkan menjadi salah satu kawasan terkaya di dalamnya. Di sisi lain, Israel adalah penghubung antara dua lokomotif ekonomi besar: Asia Tenggara dan Eropa. Dengan demikian, ia memberi keuntungan bagi ekonomi-ekonomi Arab yang kaya, ekonomi-ekonomi Asia yang sedang berkembang, dan ekonomi-ekonomi Eropa yang maju. Selain keuntungan-keuntungan ini, Israel akan menjadi bagian dari strategi Amerika untuk menggagalkan strategi Sabuk dan Jalan Tiongkok, yang diandalkan Beijing untuk melepaskan diri dari cengkeraman Amerika Serikat dan menciptakan jaringan negara-negara yang tunduk pada pengaruhnya yang semakin besar.


Perang Gaza mungkin akan menggagalkan semua rencana ini, karena Israel berada di ambang menjadi negara nakal. Negara ini menghadapi tuntutan hukum di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida, serta sejumlah kasus lain atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Mahkamah Kriminal Internasional. Kepemimpinan Israel telah menyatakan penolakannya terhadap solusi dua negara yang disepakati secara internasional, dan telah berjanji untuk menduduki kembali Gaza dan memperluas aktivitas permukiman di Tepi Barat. Jika berhasil melaksanakan apa yang dikatakannya, kemungkinan besar negara dia akan berubah menjadi negara apartheid, mirip dengan Afrika Selatan di bawah kekuasaan minoritas kulit putih.


Kalau keadaannya seperti ini, proyek koridor ekonomi itu akan kolaps, karena negara-negara lain tidak akan berminat bermitra dengan Israel dan menjalin hubungan dengannya lewat proyek ini, dan keterasingannya akan makin bertambah kalau Mahkamah Internasional memutuskan Israel melakukan genosida, dan dengan begitu Amerika akan gagal dua kali. Yang pertama: mendedikasikan Israel sebagai link utama dan kekuatan hegemonik di Timur Tengah, dia akan tetap menjadi entitas yang tersingkirkan. Yang kedua: membentuk alternatif yang menyaingi atau menggagalkan proyek strategis Tiongkok: Sabuk dan Jalan.


Pertalian Negara-negara Ambisius


Perang Gaza tidak hanya melemahkan posisi Amerika Serikat di tiga lingkaran strategis, tetapi mungkin juga telah mendorong kekuatan utama yang menentangnya di lingkaran tersebut untuk bersatu lebih erat. Pada bulan Maret 2024, Tiongkok, Rusia, dan Iran melakukan latihan angkatan laut di Teluk Oman dengan slogan “Sabuk Keamanan Maritim”. Ketiganya mengumumkan bahwa manuver yang berlangsung di kawasan strategis di tengah-tengah apa yang dikenal sebagai segitiga “Selat Emas”: Hormuz, Bab al-Mandab, dan Malaka, bertujuan untuk menciptakan 16 tim keamanan masa depan dari ketiga negara tersebut. Iran sebelumnya telah mengintensifkan dukungan militernya kepada Rusia dengan mensuplai drone dalam perang terhadap Ukraina. Kedua negara tersebut menjalin kerjasama militer yang mencakup persenjataan, pelatihan, dan manufaktur bersama.


Hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Rusia terus bertambah baik, tercermin dalam suara bulat di Dewan Keamanan pada bulan Maret 2024 untuk menolak rancangan resolusi Amerika yang menyerukan gencatan senjata sementara di Gaza, dikarenakan rancangan tersebut tidak secara eksplisit menyerukan gencatan senjata permanen. Itu merupakan kedok diplomatik bagi kelanjutan perang Israel di Jalur Gaza. 


Di sisi lain, perang di Gaza telah menyoroti kutub yang memberontak terhadap AS, dipimpin oleh Afrika Selatan, yang menggugat Israel di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida. Presiden Brazil Lula da Silva melancarkan serangan keras terhadap Israel, dan Nikaragua mulai menggugat Jerman di hadapan Mahkamah Internasional atas dukungannya terhadap kejahatan Israel. Kekuatan-kekuatan ini bersatu untuk menentang hegemoni Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan bersaing untuk mewakili apa yang disebut “Global Selatan.” Dan menemukan di Gaza, kasus yang tepat untuk mengutuk Barat dan menghasutnya dan melawannya kebijakannya, dan membongkar standar gandanya.


Kesimpulan


Amerika Serikat akan keluar dari perang Gaza menderita kegagalan  di lebih dari satu tingkatan. Tujuan-tujuannya secara bertahap mengalami kegagalan di Timur Tengah.  Perang Ukraina telah mengalihkan perhatiannya dari upaya membendung China, lalu perang Gaza pecah dan mengalihkan perhatiannya dari perang Ukraina. Tidak jelas bagaimana ia dapat mengendalikan dua gempa  “kecil” ini untuk kembali ke pertempuran utama dengan Tiongkok. Kemungkinan besar, ia akan tetap sibuk dengan dua lingkaran strategis: Eropa dan Timur Tengah, untuk waktu yang lama. Sementara itu, Tiongkok akan terus bangkit, menjalin jaringan pengaruhnya, dan bersaing dengan Amerika Serikat untuk memimpin sistem internasional. Tiongkok juga akan diikuti oleh semakin banyak negara yang menentang hegemoni Barat dan menjadi bagian dari “Global Selatan”.(KHO)
Share: