About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Kamis, 29 Januari 2026

Perselisihan Mesir-negara Zionis Tentang Jumlah Orang yang Masuk dan Keluar Gaza Melalui Gerbang Perbatasan Rafah

29 Januari 2026 - Terakhir diperbarui: 09:17 (Waktu Mekah)

Lembaga Penyiaran negara Zionis mengungkap adanya perbedaan pendapat antara Tel Aviv dan Kairo mengenai jumlah orang yang masuk dan keluar Gaza melalui gerbang perbatasan Rafah, yang diperkirakan akan dibuka pada hari Ahad. Sementara itu, Gubernur Sinai Utara Khaled Maghawer mengumumkan kesiapan Mesir untuk mengizinkan bantuan masuk dan menerima korban luka dari Jalur Gaza melalui perbatasan tersebut.


Lembaga penyiaran tersebut menjelaskan pada hari Rabu bahwa negara Zionis menginginkan jumlah orang yang keluar melebihi jumlah orang yang masuk, menambahkan bahwa Mesir bersikeras pada rasio yang sama dan khawatir hal ini dapat mendorong emigrasi dari Gaza.


Dalam konteks yang sama, Gubernur Sinai Utara menyatakan dalam siaran televisi Mesir pada Rabu malam bahwa pemerintah provinsi, yang memiliki yurisdiksi atas sisi Mesir dari perbatasan, siap menghadapi semua kemungkinan skenario.


Ia menegaskan bahwa ruang manajemen krisis sedang mengembangkan skenario potensial sebagai persiapan untuk membuka perbatasan, termasuk masuknya bantuan ketika perkembangan memungkinkan.


"Ada momentum yang signifikan, dan semuanya berjalan sesuai harapan," katanya, menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Sinai Utara "telah siap bukan hanya sekarang, tetapi sejak beberapa waktu lalu, untuk membuka perbatasan dan berkoordinasi dengan ruang manajemen krisis di Kairo, yang mencakup semua sektor dan lembaga negara dan telah menyiapkan semua skenario."


Pejabat Mesir itu menambahkan, "Kami 100% siap menerima bantuan dan korban luka dari Jalur Gaza."



Seruan untuk Membuka Gerbang Perbatasan


Pada hari Rabu, Radio Angkatan Darat negara Zionis melaporkan bahwa penyeberangan akan dibuka pada hari Kamis, sementara The Jerusalem Post melaporkan bahwa penyeberangan akan dibuka pada hari Kamis atau Ahad. Situs berita The Walla! dan Channel 12 menyarankan bahwa penyeberangan akan dibuka pada hari Ahad



Sembilan negara Eropa, bersama dengan Kanada dan Jepang, menyerukan kepada pemerintah negara Zionis pada hari Rabu untuk membuka semua penyeberangan ke Jalur Gaza dan memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza sesuai dengan hukum internasional, serta untuk menghentikan semua operasi penghancuran di Tepi Barat.


Hal ini disampaikan dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh para menteri luar negeri Belgia, Denmark, Prancis, Islandia, Irlandia, Norwegia, Portugal, Spanyol, Inggris Raya, Jepang, dan Kanada, dan dipublikasikan di situs web pemerintah Inggris.


Menurut pernyataan tersebut, negara-negara yang disebutkan di atas mengutuk keras penghancuran gedung-gedung UNRWA di Al-Quds Timur oleh otoritas negara Zionis pada 20 Januari.


Sejak Mei 2024, negara Zionis telah menjajah sisi Palestina dari perbatasan tersebut, sebagai bagian dari perang genosida yang dilancarkannya di Gaza, dengan dukungan AS, pada Oktober 2023, yang berlangsung selama dua tahun. Serangan negara Zionis ini telah menyebabkan lebih dari 71.000 orang Palestina syahid dan lebih dari 171.000 luka-luka, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.


Negara Zionis telah memblokade Jalur Gaza selama lebih dari 18 tahun. Sekitar 2,4 juta warga Palestina tinggal di sana, termasuk 1,5 juta pengungsi akibat perang genosida, dan semuanya menderita kondisi yang sangat buruk.


Sumber: Kantor-kantor Berita


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “خلاف مصري إسرائيلي حول عدد الداخلين والخارجين عبر معبر رفح” 29 Januari 2026 diakses 29 Januari 2026 16:04 https://www.aljazeera.net/news/2026/1/29/%D8%AE%D9%84%D8%A7%D9%81-%D9%85%D8%B5%D8%B1%D9%8A-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84%D9%8A-%D8%AD%D9%88%D9%84-%D8%B9%D8%AF%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D8%A7%D8%AE%D9%84%D9%8A%D9%86


Share:

Analisis Kritis: Mengapa Solidaritas Internasional kepada Palestina Belum Berubah Menjadi Kekuatan Politik yang Efektif?

 Sabtu, 24 Januari 2026, 22:46 - Pusat Informasi Palestina

Dr. Azmi Bishara, Dirut Pusat Penelitian dan Studi Kebijakan Arab, menyampaikan analisis kritis komprehensif tentang krisis yang dihadapi proyek nasional Palestina. Ia berpendapat bahwa ketiadaan solidaritas saat ini merupakan hambatan utama untuk mengubah solidaritas global yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada Palestina menjadi kekuatan politik yang efektif, dan bahwa apa yang dihadapi Palestina bukan lagi sekadar penjajahan, tapi rezim apartheid seutuhnya.


Ia menekankan bahwa prospek pembebasan apapun, baik dalam bentuk negara merdeka atau sistem demokrasi berdasarkan kewarganegaraan, tetap mustahil tanpa membangun kembali proyek pembebasan nasional yang komprehensif yang dipimpin oleh kekuatan sosial dan politik yang terorganisir, bebas dari ikatan-ikatan Oslo dan administrasi rakyat dibawah penjajahan.


Hal ini disampaikan pada penghujung  hari pertama Forum Palestina tahunan keempat, di mana Bishara menyampaikan kuliah umum berjudul “Proyek Nasional Palestina dalam Konteks Internasional/Arab Saat Ini,” yang didedikasikan untuk tinjauan kritis komprehensif tentang perjalanan proyek nasional Palestina, mengingat transformasi mendalam yang telah disaksikan oleh perjuangan Palestina, terutama setelah perang genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, dan dampak dari operasi Tufan Al-Aqsa.



Proyek Nasional di Tengah Transformasi Besar


Bishara memulai kuliahnya dengan mengingatkan bahwa Pusat Penelitian Arab, selama lebih dari satu dekade, telah membahas pertanyaan tentang proyek nasional Palestina dalam berbagai konteks akademis. Ia merujuk pada konferensi tahun 2013 dan 2015 yang didedikasikan untuk membahas masa depan proyek ini.


Ia mencatat bahwa “sulit untuk membayangkan situasi yang lebih menantang daripada situasi kita saat ini untuk membahas topik ini dan mengatakan sesuatu yang mungkin menawarkan secercah harapan di cakrawala yang tampaknya tertutup.”


Ia menganggap penyelenggaraan forum setelah perang genosida sebagai kesempatan untuk “kembali dengan hati-hati” pada pertanyaan tentang proyek nasional di tengah transformasi besar yang dialami oleh rakyat Palestina dan kekuatan politik mereka, dan mengingat “aneksasi Tepi Barat yang merayap dan upaya likuidasi politik.”


Dalam kerangka teoritisnya, Bishara membahas apa yang ia gambarkan sebagai "penggabungan yang lazim antara proyek nasional dan program politik," memperingatkan agar tidak mereduksi proyek nasional hanya pada dimensi programatiknya saja. Ia menekankan bahwa "program adalah komponen kunci dari setiap sistem politik yang layak disebut proyek nasional, tetapi definisi tersebut tetap tidak lengkap jika terbatas pada program itu sendiri dan tidak mencakup struktur organisasi dan kekuatan sosial yang mendukungnya."


Ia menekankan bahwa "tujuan politik dapat muncul dalam sebuah artikel atau pidato, tetapi keberadaannya saja tidak menjadikannya proyek nasional," menjelaskan bahwa proyek nasional "mencakup tujuan dan kekuatan yang memperjuangkannya, dan memenuhi syarat untuk mengklaim mewakili legitimasi nasional."


Ia kemudian beralih menganalisis kekhususan situasi Palestina, menjelaskan bahwa konteks regional dan internasional dalam pengalaman Palestina “memperoleh kepentingan yang melebihi kepentingannya dalam kasus gerakan pembebasan nasional lainnya,” karena keterkaitan isu Palestina dengan kolonialisme Eropa, masalah Yahudi di Eropa, masalah Arab, dan munculnya negara-negara Arab merdeka, di samping “hubungan khusus antara Amerika Serikat dan negara Zionis, Perang Dingin, dan kemudian meningkatnya pengaruh Amerika di kawasan tersebut.”


Ia menekankan bahwa konteks ini bukanlah faktor eksternal sekunder, melainkan penentu penting dari perjalanan proyek nasional Palestina, program politiknya, dan pondasi sosialnya.



Perjuangan Bersenjata dan Program Politik


Dalam pembahasannya tentang sejarah politik Palestina, Bishara mencurahkan sebagian besar ceramahnya untuk meneliti posisi perjuangan bersenjata dalam proyek nasional Palestina. Ia menjelaskan bahwa pembentukan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menegaskan "entitas Palestina yang bersatu" setelah Nakba 1948, dalam konteks konflik Arab-negara Zionis di mana Palestina adalah "satu-satunya tanah Arab yang dijajah."


Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa kekalahan tahun 1967 dan penjajahan wilayah Palestina yang tersisa "menimbulkan kekuatan politik baru pada proyek nasional yang kemudian mendominasi PLO, yaitu faksi-faksi perjuangan bersenjata," yang pada saat itu menganggap "perjuangan bersenjata sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai program tersebut."


Namun, Bishara menekankan bahwa pernyataan ini, pada kenyataannya, tidak menghasilkan strategi nyata untuk pembebasan Palestina, dan mencatat bahwa perjuangan bersenjata "tidak pernah dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan pencapaian program politik," melainkan dirayakan sebagai pembawa identitas dan semangat pembebasan.


Ia menunjuk pada kesulitan melakukan penilaian historis kritis terhadap periode ini karena "aura sakral yang mengelilingi subjek dan percampurannya dengan identitas kolektif," membedakan antara ingatan sebagai "hafalan selektif dan pelupaan " dan sejarah sebagai bidang interpretasi dan pemahaman berdasarkan masa kini.


Bishara melanjutkan analisisnya dengan meneliti transformasi besar yang dipaksakan oleh pendekatan "tanah air sebagai ganti perdamaian" setelah perang 1973 dan Perjanjian Camp David, yang menyebabkan keluarnya Mesir dari medan konflik dan penutupan front Arab terhadap perjuangan bersenjata Palestina.


Ia menjelaskan bahwa pergeseran pusat gravitasi konfrontasi dari aksi bersenjata di luar Palestina ke perjuangan rakyat di dalamnya mencapai puncaknya pada Intifada Pertama. Hal ini disertai dengan pergeseran mendasar dalam program politik PLO, yang mengarah pada deklarasi Negara Palestina pada tahun 1988, diikuti oleh Perjanjian Oslo dan "transformasi lengkap proyek nasional" yang dihasilkannya.



Disintegrasi Proyek Nasional


Dalam konteks ini, Bishara menjelaskan bahwa pembentukan Otoritas Palestina, diikuti oleh pembagian antara dua otoritas di Tepi Barat dan Jalur Gaza, menyebabkan "disintegrasi proyek nasional Palestina," yang secara praktis mengubah PLO menjadi "sebuah departemen di dalam Otoritas," yang terikat oleh Perjanjian Oslo dan kewajiban keamanannya.


Ia menganggap pembagian ini sebagai salah satu alasan paling menonjol bagi marginalisasi perjuangan Palestina di tingkat internasional, membuka pintu bagi negara Zionis untuk melanjutkan aktivitas pemukiman dan melancarkan perang berulang kali di Jalur Gaza.


Pada bagian terpenting dari ceramahnya, ia berfokus panjang lebar pada Operasi "Tufan Al-Aqsa" dan dampaknya, dengan berpendapat bahwa "respons negara Zionis terhadap operasi tersebut mengubah peristiwa itu menjadi gempa bumi yang mengantarkan fase baru" di Palestina, kawasan, dan sistem internasional.


Ia menjelaskan bahwa negara Zionis, dengan dukungan Amerika dan keterlibatan internasional, melancarkan “perang genosida komprehensif” di Jalur Gaza, yang bertujuan untuk “mengusir warga Palestina dan memaksakan transformasi sosial, ekonomi, dan politik yang radikal,” atau mengubah Gaza menjadi “kantong penjajahan yang kehilangan identitas nasionalnya.”



Jalur Perhatian dalam Perjuangan Palestina


Bishara memperingatkan bahwa perhatian internasional dalam perjuangan Palestina setelah perang ini terpecah menjadi dua jalur: pertama, jalur bertahan resmi, yang berupaya mengelola krisis atas dasar kemanusiaan atau administratif, tanpa pengaruh nyata untuk menghentikan perang atau mengakhiri penjajahan. Kedua, jalur gerakan solidaritas global, yang ia gambarkan sebagai “yang terluas dan terdalam sejak tahun 1948.”


Namun, ia menekankan bahwa gerakan-gerakan ini, betapapun pentingnya, “tidak dapat menggantikan proyek nasional Palestina yang jelas,” karena ketiadaan proyek tersebut merupakan “hambatan utama untuk mengubah solidaritas global menjadi kekuatan politik yang berkelanjutan.”


Dalam konteks ini, Bishara menekankan bahwa apa yang sedang dibangun saat ini di Palestina adalah “sistem apartheid jenis khusus,” dan mencatat bahwa pemerintah negara Zionis saat ini “dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima penarikan diri dari wilayah yang dijajah pada tahun 1967,” dan bahwa mereka puas, paling banter, dengan “otoritas Palestina yang berfungsi dalam kerangka kedaulatan negara Zionis.”


Ia berpendapat bahwa pembicaraan internasional yang berulang tentang solusi dua negara telah menjadi “sekadar retorika,” mengingat tidak adanya kemauan untuk mengambil langkah-langkah praktis yang mengarah pada pembentukan negara Palestina.


Bishara menyimpulkan bahwa pembebasan nasional Palestina saat ini berarti pembebasan dari rezim apartheid, dan bahwa pembebasan ini dapat mengarah pada negara Palestina yang merdeka atau sistem demokrasi berdasarkan kewarganegaraan di Palestina historis. Namun, ia menegaskan bahwa “saat ini tidak ada program atau strategi politik yang mengarah pada salah satu model tersebut tanpa proyek nasional yang prinsip intinya adalah perjuangan melawan rezim apartheid.”


Ia menekankan bahwa proyek nasional “tidak terbatas pada tujuan politik, tetapi juga mencakup kekuatan sosial dan politik terorganisir yang memperjuangkannya,” dengan mempertimbangkan tantangan saat ini adalah pembentukan kekuatan-kekuatan ini dan pembangunan lembaga politik yang komprehensif.


Sebagai penutup kuliahnya, Bishara menyerukan pembedaan penting antara mengelola urusan masyarakat di bawah penjajahan, sebagai hal darurat kehidupan, dan kepemimpinan politik pembebasan, yang harus tetap bebas dari kewajiban keamanan atau politik apapun terhadap penjajah. Ia menegaskan bahwa ketiadaan proyek pembebasan nasional yang komprehensif “mengubah perdebatan antara nasional dan sipil menjadi perebutan kekuasaan sebelum pembebasan,” sebuah dinamika yang “telah membawa kita pada situasi kita saat ini sejak Perjanjian Oslo.”


Forum Palestina tahunan keempat, yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Studi Kebijakan Arab bekerja sama dengan Institut Studi Palestina, dimulai pada hari Sabtu di Doha, berlangsung dari tanggal 24-26 Januari 2026.


Forum Palestina dianggap sebagai salah satu platform akademik terkemuka di dunia yang mengkhususkan diri dalam masalah Palestina, yang berbeda dari sisi  keilmuan yang ketat dari makalah penelitiannya, keragaman pendekatan teoretis dan analitisnya, dan partisipasi sekelompok peneliti terkemuka dari seluruh dunia Arab dan sekitarnya.


Makalah yang dipresentasikan pada forum tahun ini mencakup berbagai isu sentral yang berkaitan dengan Palestina, mulai dari sejarah dan transformasi struktural dalam proyek nasional Palestina, hingga posisi Palestina dalam sistem Arab dan internasional, termasuk analisis kolonialisme pemukim dan apartheid, batasan hukum internasional, transformasi solidaritas global, dan peran media, pengetahuan, dan universitas di era genosida.


—-----

Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, قراءة نقدية.. لماذا لم يتحول التضامن الدولي مع فلسطين إلى قوة سياسية فاعلة؟ terbit 24 Januari 2026 diakses 28 Januari 2026 16:34 

https://palinfo.com/news/2026/01/24/990186/


Share: