About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Sabtu, 13 Juni 2026

Kesalahan Ben-Gurion yang Membawa Israel Menuju Krisis Eksistensial: Dari Benteng Al-Shaqif hingga Pertanyaan Masa Depan Zionisme

Kesalahan Ben-Gurion yang Membawa Israel Menuju Krisis Eksistensial: Dari Benteng Al-Shaqif hingga Pertanyaan Masa Depan Zionisme

Oleh: Kholid, pemerhati Isu Palestina dan Timur Tengah


Pembukaan

Ketika militer Israel kembali menguasai Benteng Al-Shaqif di Lebanon Selatan pada Mei 2026, dunia kembali menyaksikan sebuah lokasi yang selama berabad-abad menjadi saksi pergulatan kekuasaan di kawasan Timur Tengah. Benteng yang dikenal sebagai Beaufort pada masa penjajahan Tentara Salib tersebut bukan hanya memiliki nilai geografis dan militer, tetapi juga menyimpan simbol sejarah tentang hubungan antara kekuatan yang datang untuk menguasai wilayah dan masyarakat lokal yang mempertahankan keberadaannya.

Namun, bagi Mazen Najjar dalam artikelnya *"خطأ بن غوريون الذي رسم نهاية إسرائيل"* (Kesalahan Ben-Gurion yang Menggambar Penghabisan Israel), peristiwa Benteng Al-Shaqif bukan sekadar operasi militer. Ia melihatnya sebagai pengulangan sebuah pola sejarah yang lebih panjang: sebuah proyek politik yang sejak awal sangat bergantung pada kekuatan militer, tetapi menghadapi persoalan mendasar yang tidak pernah terselesaikan secara politik.

Di sinilah sosok David Ben-Gurion, Perdana Menteri pertama Israel dan salah satu arsitek utama berdirinya negara Israel, menjadi pusat argumentasi Najjar. Menurutnya, kesalahan strategis Ben-Gurion bukan terletak pada keberhasilan mendirikan negara Israel, melainkan pada fondasi politik yang dibangun: sebuah negara yang mampu memenangkan peperangan, tetapi tidak mampu menyelesaikan persoalan keberadaan bangsa Palestina sebagai realitas politik dan sosial yang tidak dapat dihapuskan.


Benteng Al-Shaqif: Antara Kemenangan Taktis dan Kegagalan Strategis

Perebutan kembali Benteng Al-Shaqif oleh militer Israel memperlihatkan perbedaan penting antara kemenangan militer dan kemenangan strategis.

Dalam logika perang, menguasai sebuah benteng, bukit, atau wilayah strategis dapat memberikan keuntungan taktis. Namun sejarah menunjukkan bahwa penguasaan medan tidak selalu menghasilkan perubahan politik yang permanen.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: “Apakah sebuah negara dapat mencapai keamanan abadi hanya dengan menguasai lebih banyak wilayah?”

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan jika melihat pengalaman Israel di Lebanon Selatan.

Pada tahun 1982, ketika Israel melakukan invasi ke Lebanon, Benteng Al-Shaqif menjadi salah satu titik pertempuran paling berat. Benteng tersebut dipertahankan oleh pasukan Palestina-Lebanon dan menjadi simbol perlawanan terhadap pasukan Israel.

Pertempuran tersebut menunjukkan bahwa superioritas teknologi dan militer tidak selalu mampu menghapus motivasi politik sebuah kelompok yang merasa sedang mempertahankan keberadaannya.

Dari perspektif Najjar, Benteng Al-Shaqif memberikan sebuah pelajaran: “Militer dapat merebut sebuah lokasi, tetapi tidak selalu mampu mengakhiri konflik yang melahirkan perlawanan tersebut.”


Dari Benteng Al-Shaqif Menuju Kesalahan Ben-Gurion

Untuk memahami mengapa Benteng Al-Shaqif dianggap penting dalam argumentasi Najjar, pembaca perlu kembali kepada sejarah awal berdirinya Israel.

David Ben-Gurion memimpin proses pendirian negara Israel pada 1948. Dalam perspektif sejarah Israel, ia dikenal sebagai tokoh yang berhasil membangun institusi negara, menyatukan kekuatan politik Zionis, dan membentuk angkatan bersenjata yang mampu mempertahankan negara baru tersebut.

Namun Najjar melihat sisi lain dari warisan Ben-Gurion. Menurutnya, keberhasilan mendirikan negara tidak otomatis berarti menyelesaikan persoalan politik yang melatarbelakanginya. Persoalan yang tetap muncul adalah: keberadaan bangsa Palestina;  persoalan pengungsi Palestina; klaim nasional Palestina; konflik wilayah; pertanyaan tentang legitimasi dan identitas politik.

Dalam kerangka argumentasi Najjar, kesalahan Ben-Gurion adalah menganggap bahwa kemenangan militer dapat menggantikan kebutuhan akan penyelesaian politik.

Sebuah negara dapat lahir melalui perang, tetapi keberlangsungan jangka panjangnya membutuhkan legitimasi, stabilitas, dan kemampuan menyelesaikan konflik dasar.


Warisan Ben-Gurion: Negara yang Sangat Bergantung pada Kekuatan Militer

Salah satu tema utama tulisan Najjar adalah hubungan antara pendirian Israel dan doktrin keamanan yang berkembang setelahnya.

Menurutnya, sejak awal Israel membangun konsep keamanan berdasarkan beberapa prinsip: superioritas militer;  kemampuan menyerang lebih dahulu;  perang singkat;  keunggulan teknologi; kemampuan mempertahankan diri melalui kekuatan bersenjata.

Model tersebut efektif dalam beberapa konflik awal Israel. Namun tantangannya muncul ketika Israel menghadapi jenis konflik yang berbeda: perang gerilya;  konflik berkepanjangan; aktor non-negara;  perlawanan berbasis identitas.

Dalam konflik semacam ini, kemenangan militer tidak selalu menghasilkan kemenangan politik. Benteng Al-Shaqif menjadi simbol dari dilema tersebut. Israel dapat kembali menguasai benteng, tetapi pertanyaan strategis tetap muncul: “Apakah penguasaan benteng menyelesaikan konflik, atau hanya memperpanjang siklus konflik?”


 Lebanon Selatan: Cermin Batas Kekuatan Militer

Pengalaman Lebanon Selatan menjadi bagian penting dalam argumentasi Najjar. Setelah invasi 1982, Israel mempertahankan keberadaan militernya di Lebanon Selatan selama hampir dua dekade.

Namun selama periode tersebut: muncul perlawanan bersenjata; biaya militer meningkat; tekanan politik dalam negeri bertambah.

Pada tahun 2000, Israel akhirnya menarik pasukannya dari Lebanon Selatan.

Dalam pembacaan Najjar, penarikan tersebut menunjukkan bahwa penjajahan militer tidak selalu menghasilkan stabilitas permanen. Sebaliknya, penjajahan dapat menciptakan kondisi yang memperkuat perlawanan.


Dari Konflik Lokal Menuju Krisis Eksistensial

Bagi Najjar, persoalan Israel saat ini bukan hanya persoalan keamanan perbatasan. Ia melihat konflik tersebut sebagai persoalan yang lebih mendalam: “Bagaimana sebuah negara mempertahankan keberlangsungannya jika konflik yang menjadi dasar kelahirannya tidak pernah terselesaikan?” 

Dalam kerangka pemikirannya, konflik Israel-Palestina bukan hanya perang antara dua militer, tetapi pertemuan dua proyek nasional: Pertama, proyek Zionisme yang bertujuan membangun negara Yahudi. Kedua, proyek nasional Palestina yang mempertahankan keberadaan, identitas, dan hak politik masyarakat Palestina.

Karena itu, menurut Najjar, persoalan terbesar bukan sekadar kemampuan Israel memenangkan perang tertentu, tetapi kemampuan mengubah kemenangan militer menjadi solusi politik yang berkelanjutan.


Perbandingan dengan Proyek Pemukiman Masa Lalu

Salah satu bagian paling kontroversial dalam argumentasi Najjar adalah perbandingan antara Zionisme modern dengan proyek-proyek pemukiman sebelumnya, termasuk kerajaan Tentara Salib di Timur Tengah.

Menurut kerangka analisisnya, terdapat pola sejarah yang berulang yaitu: datangnya kekuatan eksternal -> Pembentukan kekuasaan politik -> Ketergantungan pada militer -> Perlawanan masyarakat lokal -> Krisis keberlanjutan.

Menurut Najjar, sejarah berbagai proyek pemukiman menunjukkan bahwa dominasi militer memiliki batas ketika berhadapan dengan masyarakat yang mempertahankan identitas dan keberadaannya.


Krisis Internal Israel

Selain faktor eksternal, Najjar menyoroti tekanan dari dalam Israel sendiri.

# Pertama: kelelahan militer

Menurutnya, struktur militer Israel lebih cocok menghadapi perang singkat dibanding konflik berkepanjangan. Perang panjang menyebabkan:tekanan terhadap pasukan cadangan;  beban ekonomi; kelelahan sosial.

# Kedua: perpecahan politik

Najjar melihat meningkatnya pengaruh kelompok nasionalis-religius sebagai faktor yang memperdalam perdebatan internal mengenai arah masa depan Israel.

# Ketiga: perubahan geopolitik global

Israel selama puluhan tahun memiliki hubungan strategis yang kuat dengan kekuatan Barat. Namun perubahan dunia internasional membuat lingkungan strategis tersebut tidak lagi sama seperti sebelumnya.


Penutup: Benteng Al-Shaqif dan Pertanyaan Masa Depan

Benteng Al-Shaqif bukan sekadar lokasi militer di Lebanon Selatan. Dalam pembacaan Mazen Najjar, benteng tersebut menjadi simbol perjalanan panjang sebuah proyek politik: dari pendirian Israel oleh Ben-Gurion, melalui berbagai peperangan, hingga pertanyaan tentang keberlanjutan masa depannya.

Kesalahan Ben-Gurion, menurut argumentasi Najjar, adalah membangun sebuah negara yang memiliki kemampuan memenangkan perang, tetapi belum mampu menyelesaikan konflik yang menjadi dasar kelahirannya.

Karena itu, kembalinya Israel ke Benteng Al-Shaqif menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar kemenangan militer: “Apakah kekuatan militer benar-benar mampu menghasilkan keamanan permanen, atau justru hanya memperpanjang konflik ketika akar persoalan politik tetap tidak terselesaikan?”

Dalam perspektif Najjar, sejarah Benteng Al-Shaqif bukan hanya cerita tentang sebuah benteng yang diperebutkan, tetapi tentang batas kekuatan senjata ketika berhadapan dengan persoalan identitas, sejarah, dan legitimasi politik.

------

Sumber:

Mazen Najjar, *خطأ بن غوريون الذي رسم نهاية إسرائيل* (Kesalahan Ben-Gurion yang Menggambar Penghabisan Israel), Rubrik Opini Al Jazeera Net, 13 Juni 2026.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar