About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Masjid Al Aqsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid Al Aqsa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2026

Negara Zionis Manfaatkan Agresi Terhadap Iran untuk Menutup Masjid Al-Aqsa



Sudah lima hari berturut-turut, Otoritas penjajah Zionis menutup Masjid Al-Aqsa. Negara Zionis menggunakan dalih keamanan untuk memberlakukan kontrol lebih lanjut dan mengelola situs-situs suci Islam secara sepihak, khususnya selama bulan Ramadhan. Langkah ini dianggap sebagai eskalasi berbahaya sebagai upaya untuk membentuk kembali realitas yang ada di masjid Al-Aqsa.

Penjajah Zionis telah menutup Masjid Al-Aqsa sejak Sabtu pagi, memaksa jamaah untuk pergi dan mencegah pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih. Penutupan Masjid Al-Aqsa ini juga bersamaan dengan penutupan Masjid Ibrahimi dan Tepi Barat, beberapa jam setelah serangan skala besar yang dilancarkan oleh negara Zionis dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Pemerintah Provinsi Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan penjajah melarang jamaah memasuki masjid, dengan alasan keadaan darurat, di tengah pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar masjid dan di gerbang Kota Tua, serta mencegah warga memasuki halaman masjid.

Otoritas pendudukan mencegah warga Palestina untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih selama Ramadhan. Mereka telah memperkuat kehadiran militer mereka di sekitar masjid dan gerbang Kota Tua, mengerahkan sejumlah besar Polisi Perbatasan dan pasukan khusus, mengubah lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer tertutup. Mereka telah mencegah para jamaah mencapai gerbang masjid dan menyerang sejumlah orang-orang yang sedang berada di masjid.


Proyek Likuidasi Komprehensif

Kelompok-kelompok keagamaan meyakini ini sebagai kelanjutan dan perluasan perang mencerminkan pendekatan negara Zionis yang melancarkan perang pemusnahan komprehensif yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak Arab dan Islam di Palestina dan memaksakan hegemoni absolut. Langkah ini  dipimpin oleh kelompok Zionisme Religius dengan wacana mesianik, didukung oleh visi Zionis Kristen, yang berupaya menyelesaikan konflik atas Al-Quds dengan cara memaksakan realitas keagamaan dan kedaulatan baru.

Mereka menggarisbawahi bahwa penargetan Masjid Al-Aqsa sejak awal perang, meningkatnya frekuensi serangan selama Ramadhan, perluasan pembagian temporal, dan upaya untuk memaksakan kendali atas administrasinya dan mengubah status quo historisnya, semuanya merupakan indikator bahwa Al-Aqsa dipandang sebagai titik fokus dan simbol sentral dari "pertempuran yang menentukan."


Kejahatan Agama dan Kemanusiaan

Sementara itu, Majlis Ulama Palestina menganggap penutupan Masjid Al-Aqsa dan pencegahan jamaah untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih selama Ramadhan sebagai "kejahatan agama dan kemanusiaan yang serius," yang menunjukkan itikad kuat untuk memaksakan realitas Yahudi baru dengan dalih keadaan darurat dan keamanan.

Dalam sebuah pernyataan, Majlis tersebut menyerukan kepada dunia Muslim, para ulamanya, dan lembaga-lembaga pemerintah dan ormas untuk memikul tanggung jawab keagamaan mereka terhadap Masjid Al-Aqsa; bekerja mendukungnya di semua bidang; dan menjaga agar perjuangannya tetap hidup dalam hati nurani Umat, sehingga tidak diabaikan dan dipojokkan oleh penjajah.

Majlis Ulama memuji warga Al-Quds dan kaum perempuan dan laki-laki yang terus berjaga-jaga di Masjid Al-Aqsa, menyerukan kepada warga Palestina di wilayah jajahan sejak 1948 dan Tepi Barat untuk menuju ke Al-Aqsa sana dan menggagalkan penutupannya. 

Majlis itu menyerukan kepada para pemimpin dan pemerintah Islam, khususnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pelanggaran dan melindungi tempat-tempat suci di Al-Quds. pergeseran yang akan sulit untuk dibalikkan di kemudian hari, terutama mengingat perhatian regional dan internasional terhadap perang yang sedang berlangsung.


Perebutan Kedaulatan Bertahap

Abdullah Maruf, seorang peneliti pakar urusan Al-Quds menjelaskan bahwa perluasan pembagian waktu, pembatasan kepada jamaah selama momentum keagamaan, dan penutupan total yang terus berlanjut adalah taktik tekanan yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali "status quo historis" melalui langkah-langkah bertahap yang terakumulasi dari waktu ke waktu hingga menjadi realitas permanen.

Sebaliknya, otoritas penjajah mengakui tindakan ini dengan dalih "situasi keamanan yang genting," tetapi sumber-sumber Al-Quds menegaskan bahwa skala pengerahan militer, pelarangan masuk secara penuh bagi para jamaah, dan serangan terhadap kaum muslimin yang berada di dalam masjid merupakan skala eskalasi yang tidak biasa. (Kho)

Sumber: 

Situs Pusat Informasi Palestina “إغلاق الأقصى.. هكذا تستغل إسرائيل العدوان على إيران لتغيير الوضع القائم” terbit 3 Maret 2026  https://palinfo.com/news/2026/03/03/994774/ 

Situs kantor berita Quds Press “الاحتلال يواصل إغلاق المسجد الأقصى لليوم الخامس على التوالي” terbit tgl 4 Maret 2026, diakses 5 Maret 2026 16:47 https://qudspress.net/253389/ 


Share:

Jumat, 27 Februari 2026

Negara Zionis Tebar Pasukan dan Pos-pos Pemeriksaan untuk Batasi Shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa


27 Februari 2026 - Terakhir diperbarui: 11:58 (Waktu Mekah)

Tentara negara Zionis mengerahkan sejumlah besar pasukan, termasuk perwira, di pos-pos pemeriksaan Tepi Barat yang menuju Al-Quds pada hari Jumat, sebagai bagian dari tindakan pengetatan untuk menghalangi akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa pada Jumat kedua bulan Ramadhan.


Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa ribuan warga Palestina berbondong-bondong ke Masjid Al-Aqsa di Al-Quds, melewati pos pemeriksaan Qalandiya di utara Al-Quds dan pos pemeriksaan Kubah Rachel di Betlehem di selatan, untuk melaksanakan salat Jumat kedua bulan Ramadhan.


Tahun ini, pasukan penjajah memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya jamaah dari Tepi Barat, hanya mengizinkan 10.000 orang dengan izin khusus untuk masuk. Mereka menetapkan bahwa laki-laki harus berusia 55 tahun atau lebih, dan perempuan 50 tahun atau lebih.


Pasukan penjajah juga melakukan pemeriksaan detail terhadap para jamaah saat mereka melewati pos pemeriksaan militer dan mengerahkan bala bantuan keamanan yang besar di sekitar Al-Quds.


Selama Ramadhan dan pada hari Jumat, Masjid Al-Aqsa memiliki kapasitas ratusan ribu jamaah jika seluruh halaman, area shalat tertutup, dan areal berpohon digunakan.


Pada tahun-tahun sebelumnya, puluhan ribu warga Palestina dari Tepi Barat melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan.


Setiap Ramadhan, negara Zionis memberlakukan langkah-langkah keamanan yang ekstensif di dalam dan sekitar Al-Quds Timur yang dijajah, dan mengumumkan pembatasan ketat terhadap warga Palestina yang memasuki Masjid Al-Aqsa.


Pembatasan ini semakin intensif sejak negara Zionis, dengan dukungan AS, melancarkan perang genosida selama dua tahun di Jalur Gaza pada 8 Oktober 2013, yang mengakibatkan syahid lebih dari 72.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan.


Warga Palestina memperingatkan semakin intensifnya tindakan negara Zionis yang bermaksud meyahudisasi Al-Quds Timur jajahan, termasuk Masjid Al-Aqsa, dan menghapus identitas Palestina, Arab, dan Islamnya.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “حواجز وانتشار عسكري.. إسرائيل تقيد صلاة الجمعة بالمسجد الأقصى

“ terbit 27 Februari 2026 diakses 27/2/2026 16:41 https://www.aljazeera.net/news/2026/2/27/%D8%AD%D9%88%D8%A7%D8%AC%D8%B2-%D9%88%D8%A5%D9%86%D8%AA%D8%B4%D8%A7%D8%B1-%D8%B9%D8%B3%D9%83%D8%B1%D9%8A-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D8%AF-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9


Share:

Selasa, 24 Februari 2026

Ben-Gvir Rencana Perketat Pengepungan atas Al-Aqsa Selama Ramadhan

Warga Palestina bersiap untuk shalat Maghrib di Masjid Al-Aqsa meskipun terdapat pembatasan dari negara Zionis (Foto: Al-Jazeera)



Al-Quds jajahan – Dengan datangnya bulan suci Ramadhan, Otoritas Penjajah  negara Zionis telah meningkatkan langkah-langkah keamanan dan hukuman mereka atas kota Al-Quds jajahan. Sebuah kebijakan yang dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang bermaksud memperkuat cengkraman atas Masjid Al-Aqsa dan membatasi pergerakan jamaah di dalamnya, dengan dalih "pencegahan dan ketegasan."

Rencana Ben-Gvir untuk mewujudkan "pencegahan" mencakup pengetatan pembatasan keamanan, perluasan kebijakan pengusiran, peningkatan kehadiran polisi, pencegahan pengiriman makanan buka puasa dan pengaturan kegiatan keagamaan, selain memperpanjang jam masuknya pemukim ke Al-Aqsa, dalam upaya untuk memaksakan realitas keamanan dan keagamaan baru di dalam kompleks Al-Aqsa.


Dalam sebuah langkah yang bertepatan dengan Jumat pertama Ramadhan, Ben-Gvir menyerbu area Gerbang Mughrabi yang menuju ke halaman Al-Aqsa, didampingi oleh Inspektur Jenderal Kepolisian negara Zionis, Danny Levy, Komandan Distrik Yerusalem, Avishai Field, dan para pejabat keamanan. Ia juga melakukan apa yang digambarkannya sebagai "penilaian situasi keamanan" di dalam ruang komando polisi di Kota Tua Al-Quds.



Realitas Baru


Selama pertemuannya dengan puluhan petugas polisi, Ben-Gvir mengatakan, "Kalian memiliki dukungan penuh dari kami. Melalui kontrol dan ketegasan, kita mencapai efek jera, dan inilah cara kita akan capai selama Ramadan." Ia menambahkan, "Ketika ada efek jera, tidak ada yang berani, dan begitulah seharusnya dan akan terus berlanjut."


Ben-Gvir bersumpah akan menggunakan "tangan besi" terhadap mereka yang ia sebut sebagai "pembuat onar" di Masjid Al-Aqsa, menekankan bahwa strategi penjajah  pada fase mendatang akan bergantung pada pengetatan langkah-langkah keamanan untuk memastikan bahwa situasi tidak lepas kendali. Ia menjelaskan bahwa efek jera yang kuat adalah cara untuk mencapai ketenangan yang diinginkan di masa depan.


Berbagai laporan negara Zionis, termasuk yang diterbitkan oleh surat kabar Maariv, menunjukkan bahwa pernyataan Ben-Gvir mencerminkan keinginan sayap kanan ekstrem untuk membentuk kembali status quo di tempat-tempat suci Islam, terutama Masjid Al-Aqsa, dan memaksakan realitas keamanan baru di daerah tersebut.


Sebaliknya, Pemerintah Provinsi Al-Quds, dalam sebuah pernyataan yang diperoleh Al Jazeera Net, menganggap bahwa pernyataan Ben-Gvir muncul sehubungan dengan peningkatan tindakan militer dan pembatasan yang dikenakan kepada para jamaah di Al-Quds jajahan, terutama karena bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan, dan pembatasan masuk ke Al-Aqsa yang menyertainya.


Pemerintah Provinsi Al-Quds melaporkan bahwa otoritas penjajah  negara Zionis terus menerapkan rencana logistik mereka untuk mengendalikan masuknya jamaah ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadan, menerbitkan lebih dari 250 surat perintah pengasingan terhadap warga Palestina sejak awal tahun ini. Pemerintah Provinsi mengutuk tindakan ini, menegaskan bahwa tindakan tersebut jelas bertujuan untuk mengurangi jumlah jamaah dan merampas hak alami warga Palestina untuk beribadah dan mengakses tempat-tempat suci mereka.


Ditambahkan bahwa kebijakan ini juga merupakan serangan langsung terhadap kerja Wakaf Islam di Al-Quds dan menargetkan wewenangnya untuk mengelola urusan masjid, sebagai bagian dari upaya penjajah  untuk memaksakan realitas baru yang mempengaruhi status quo di kota suci tersebut.



Pembatasan dan Provokasi


Tindakan, pembatasan, dan kebijakan ini telah meningkat secara signifikan sejak pengangkatan Komandan Polisi Distrik Al-Quds yang baru, Avshalom Peled, seorang rekan dekat Ben-Gvir, yang telah mulai menerapkan agenda sayap kanan ekstrem yang bertujuan untuk mengubah status quo di tempat-tempat suci Islam, khususnya Masjid Al-Aqsa.


Sejak awal perang di Gaza, polisi negara Zionis telah mengintensifkan tindakan provokatif mereka terhadap warga Palestina di Al-Quds, dengan melakukan penggerebekan dan menutup paksa acara-acara budaya, mengeluarkan perintah pengusiran terhadap ratusan warga Al-Quds dari Masjid Al-Aqsa, di samping mempercepat penghancuran rumah dan melakukan kampanye keamanan ekstensif yang mencakup penangkapan, pos pemeriksaan, dan pelecehan harian terhadap warga Al-Quds.


Sementara itu, polisi negara Zionis mengizinkan para aktivis dari kelompok yang disebut "Kelompok Bukit Bait Suci" untuk melakukan ritual keagamaan di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, termasuk doa, nyanyian, dan sujud. Langkah ini merusak status quo yang ditetapkan pada tahun 1967, yang menetapkan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat ibadah hanya untuk umat Muslim dan tempat melancong bagi non-Muslim—status quo yang sebelumnya ditetapkan oleh negara Zionis sendiri untuk mencegah konflik meningkat menjadi perang agama.


Otoritas penjajah  mendahului Ramadhan dengan serangkaian tindakan pembatasan, terutama mengubah area di sekitar Masjid Al-Aqsa dan lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer dengan mengerahkan ribuan polisi dan penjaga perbatasan. Mereka juga mendirikan penghalang besi di gerbang Kota Tua dan memberlakukan batasan usia dan izin sebelumnya bagi para jamaah dari Tepi Barat, mencegah ribuan keluarga mencapai Al-Quds.


Selain itu, otoritas penjajah  melancarkan kampanye pengusiran besar-besaran yang menargetkan para aktivis, warga Al-Quds, imam, dan dai, dengan tujuan mengurangi jumlah jamaah yang hadir di masjid selama Ramadhan.


Tindakan yang diterapkan oleh polisi penjajah  selama Ramadan menunjukkan tren yang jelas menuju pembentukan kembali lanskap keagamaan dan politik di Al-Quds, dengan memberlakukan pembatasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga Palestina, memperluas serangan pemukim terhadap Al-Aqsa, dan merusak status quo yang telah berlangsung selama beberapa dekade.


Terlepas dari langkah-langkah ketat ini, masyarakat Palestina menunjukkan perlawanan dan ketahanan. Sejumlah besar warga Al-Quds dan kota-kota Palestina di negara Zionis (Palestina tahun 1948) berbondong-bondong ke Masjid Al-Aqsa, bersamaan dengan inisiatif komunitas untuk memperkuat kehadiran Palestina di sana, untuk melawan kebijakan penjajah  yang bertujuan mengurangi kehadiran Palestina dan mengubah status quo.



Dominasi dan Kontrol


Dalam pembacaan analitis pernyataan Ben-Gvir dan dugaan rencananya untuk mencapai "pencegahan," pengacara Khaled Zabarqa, seorang spesialis dalam masalah Al-Quds dan Al-Aqsa, menjelaskan bahwa pernyataan Ben-Gvir merupakan upaya untuk mengeksploitasi peristiwa keagamaan, khususnya bulan Ramadan, untuk menghasut komunitas Arab Palestina dan tempat-tempat suci Islam.


Zabarqa menambahkan kepada Al Jazeera Net bahwa langkah ini bukan sekadar tindakan individu dari menteri tersebut, melainkan mencerminkan kecenderungan gerakan sayap kanan ekstrem di negara Zionis, yang berupaya memaksakan hegemoni Zionis ekstrem pada wacana publik dan mengendalikan hubungan antara Palestina dan pemerintah negara Zionis.


Menurut Zibarqa, Ben-Gvir juga bertujuan untuk menunjukkan kekuasaannya kepada warga Palestina di negara Zionis, dengan keyakinan bahwa hal ini dapat memaksa sebagian orang untuk tunduk pada kebijakan rasis dan provokatifnya. Zibarqa menambahkan bahwa kebijakan yang dimaksudkan untuk memberikan "pencegahan" melalui tekanan dan represi telah gagal mencapai tujuannya dan malah memperkuat pembangkangan dan perlawanan Palestina.


Zibarqa mengatakan kepada Al Jazeera bahwa langkah ini bukan hanya tindakan individu oleh menteri tersebut, tetapi lebih mencerminkan tren gerakan sayap kanan ekstrem di negara Zionis, yang berupaya untuk memaksakan hegemoni Zionis ekstrem pada wacana publik dan mengendalikan hubungan antara warga Palestina dan pemerintah negara Zionis.


Zibarqa lebih lanjut menyatakan bahwa Ben-Gvir bertujuan untuk menunjukkan kekuasaannya kepada warga Palestina di negara Zionis, dengan keyakinan bahwa hal ini dapat memaksa sebagian orang untuk tunduk pada kebijakan rasis dan provokatifnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan yang dimaksudkan untuk memberikan "pencegahan" melalui tekanan dan represi telah gagal mencapai tujuannya dan malah memperkuat pembangkangan dan perlawanan rakyat Palestina.


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net terbit 23/2/2026 “رمضان تحت القبضة الأمنية.. خطة بن غفير لتشديد الحصار على الأقصى”  Mohammed Watad, diakses 24 Februari 2026 16:13 https://www.aljazeera.net/politics/2026/2/23/%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%AA%D8%AD%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%A8%D8%B6%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%85%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D8%AE%D8%B7%D8%A9-%D8%A8%D9%86-%D8%BA%D9%81%D9%8A%D8%B1


Share:

Rabu, 04 Februari 2026

Pasukan Penjajah Negara Zionis Menangkap Satpam Masjid Al-Aqsa

Foto Quds Press
Kota Al-Quds - Quds Press - 4 Februari 2026 11:29 AM


Polisi Penjajah negara Zionis tadi malam menangkap salah satu satpam Masjid Al-Aqsa di Al-Quds yang dijajah.


Pemerintah kota Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan Penjajah menangkap Abdul Rahman al-Sharif, seorang warga Palestina yang bekerja sebagai satpam Masjid Al-Aqsa, setelah menggerebek rumahnya di kota Al-Quds yang dijajah.


Polisi Penjajah dan pasukan intelijen tadi malam menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa, mencegah pergerakan di dalam halamannya, menahan satpam masjid, dan menyerbu serta menggeledah Aula Sholat Marwani.


Perlu dicatat bahwa Departemen Wakaf Islam di kota Al-Quds, yang berafiliasi kepada Kementerian Wakaf Yordania, bertanggung jawab untuk mengelola urusan masjid, termasuk menunjuk satpam dan membayar gaji mereka.


Sekitar 250 satpam menjaga Masjid Al-Aqsa dalam tiga shift: pagi, siang, dan malam. Keamanan di Masjid Al-Aqsa dan fasilitasnya dijaga sepanjang waktu, tujuh hari sepekan di sepanjang tahun.


—-

Diterjemahkan dari situs Quds Press “الاحتلال يعتقل أحد حراس المسجد الأقصى” terbit 4 Februari 2026 diakses 4Februari 2026 18:04 WIB https://qudspress.com/247349/



Share:

Sabtu, 13 Desember 2025

Bahaya yang Mengintai Masjid Al-Aqsa di Hari Raya Hanukkah?

 Jumat, 12 Desember 2025, 09:19 Pusat Informasi Palestina


Kelompok-kelompok pemukim bersiap untuk melakukan serangan besar-besaran ke kompleks Masjid Al-Aqsa pekan depan, bertepatan dengan hari raya Yahudi Hanukkah, meskipun hari pertamanya jatuh pada tanggal 15 Desember.


Pemerintah Provinsi Al-Quds menyatakan dalam siaran pers yang diterima oleh Pusat Informasi Palestina bahwa Masjid Al-Aqsa akan menyaksikan terjadinya agresi yang meningkat Ahad depan pada kesempatan yang disebut Festival Cahaya, Hanukkah, yang menutup musim serangan Yahudi ke Al-Aqsa tahun ini, di tengah peringatan akan berbagai eskalasi dan pelanggaran terhadap situs-situs suci milik umat Islam.


Perayaan hari raya ini berlangsung selama delapan hari, di mana orang Yahudi menyalakan lilin, berdasarkan narasi yang mengklaim kemenangan Hasmonean atas Yunani dan perubahan kekuasaan di Al-Quds pada abad ke-2 SM.


Narasi ini didasarkan pada legenda yang mengatakan bahwa sebuah wadah kecil berisi minyak menyalakan menorah selama delapan hari.


Setiap tahun, kelompok-kelompok ekstremis Al-Ma’bad berusaha menghubungkan hari raya ini dengan kompleks Masjid Al-Aqsa melalui serangan terorganisir dan upaya untuk membawa menorah ke dalam kompleks tersebut. Para penyusup juga secara konsisten menyalakan lilin di dalam masjid pada setiap kesempatan.


Di antara pelanggaran yang tercatat tahun lalu adalah pelaksanaan ritual Taurat dan pemakaian tefillin (sepasang kotak kulit hitam kecil berisi gulungan perkamen bertuliskan ayat-ayat Taurat yang dikenakan pria Yahudi saat doa pagi hari kerja sebagai simbol perjanjian dan pengingat akan perintah Tuhan - pent.) di dalam masjid, selain menyalakan lilin. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir termasuk di antara mereka yang menyerbu kompleks tersebut.


Menurut statistik dari Departemen Wakaf Islam di Al-Quds, 2.556 pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsa selama liburan Hanukkah tahun lalu, dibandingkan dengan 1.332 pada tahun 2023 dan 1.800 pada tahun sebelumnya.


Sebagai persiapan untuk tahun ini, sebuah menorah besar didirikan pada tanggal 7 Desember di Lapangan Al-Buraq yang berdekatan dengan Tembok Barat masjid, untuk dinyalakan setiap hari saat matahari terbenam. Menorah lainnya juga ditempatkan di dekat gerbang masjid, khususnya Gerbang Mughrabi dan Gerbang Al-Asbath.



Memperkuat Eksistensi Yahudi di Al-Aqsa


Peneliti bidang Al-Quds, Fakhri Abu Diab, menyatakan keprihatinan mendalam atas apa yang ia gambarkan sebagai pelanggaran serius yang diperkirakan akan terjadi terhadap Masjid Al-Aqsa dalam beberapa hari mendatang, menjelang hari raya Yahudi yang disebut "Hanukkah", yang dimulai pada tanggal 25 Desember dan berlangsung selama delapan hari.


Dalam pernyataan pers, Abu Diab menjelaskan bahwa periode liburan kemungkinan akan menyaksikan peningkatan serangan oleh sejumlah besar pemukim ekstremis dan anggota kelompok Bukit Bait Suci, yang secara terbuka didukung oleh pemerintah negara Zionis sayap kanan, dalam upaya untuk memperkuat kehadiran Yahudi di dalam masjid dan memaksakan realitas Yahudi yang baru.


Ia menjelaskan bahwa para penyusup akan melakukan ritual Talmud di depan umum dan melakukan tarian provokatif di halaman masjid, dengan beberapa di antaranya kemungkinan mencoba menyalakan lilin Hanukkah di dalam kompleks Al-Aqsa, yang mencerminkan keyakinan mereka bahwa itu adalah "kuil Yahudi" dan bukan masjid Islam.



Fase Paling Berbahaya bagi Al-Aqsa


Abu Diab menjelaskan bahwa para menteri dan anggota Knesset penganut Zionis ekstremis akan secara langsung berpartisipasi dalam memimpin serangan-serangan ini, dalam upaya yang jelas untuk memaksakan apa yang disebut "kedaulatan Yahudi" atas Al-Aqsa, dan mungkin membuka jalan bagi langkah-langkah terkait pembagian wilayahnya, terutama di area timur yang menempel dengan area shalat Bab al-Rahma.


Ia menjelaskan bahwa pasukan penjajah akan memperketat pembatasan masuknya jamaah Palestina dan Muslim, serta melarang mereka yang berjaga di masjid dan mencegah pengunjung dari Tepi Barat dan Al-Dakhil yang dijajah, dengan tujuan mengosongkan masjid dan mempermudah pelaksanaan ritual Talmud tanpa hambatan.


Abu Diab menggambarkan hari-hari mendatang sebagai “salah satu fase paling berbahaya yang pernah dihadapi Masjid Al-Aqsa,” dengan memanfaatkan keadaan geopolitik saat ini yang mendorong penjajah dan kelompok-kelompok Al-Haikal untuk semakin meningkatkan aksi mereka.


Sebagai penutup, peneliti Al-Quds tersebut menyerukan kepada warga Palestina di Al-Quds, Tepi Barat, dan di dalam Garis Hijau untuk berjuang pergi menuju ke Al-Aqsa dan berdiam berjaga-jaga senantiasa selama liburan Idul Fitri, dan untuk meluncurkan kampanye kesadaran yang luas di kalangan msyarakat Palestina, Arab, dan Islam demi menolong Al-Quds dan tempat-tempat sucinya.





Mengapa Ambisius mengaitkan hari-hari raya ini dengan Al-Aqsa?


Dari perspektif politik dan agama, aktivis politik dan Islam Kamal Khatib berpendapat bahwa ambisi kelompok ekstremis untuk menghubungkan Hanukkah dengan Al-Aqsa mencerminkan proyek ideologis yang tidak terkait dengan agama, tetapi lebih merupakan perebutan atas tanah dan tempat. Ia menunjukkan bahwa ini mirip dengan hari raya Sejed kaum Yahudi Ethiopia, di mana kelompok-kelompok ini diserukan untuk menyerbu masjid.


Al-Khatib menjelaskan bahwa para pemukim menerapkan kebijakan selangkah demi selangkah, menguji reaksi setelah setiap serangan baru ke Masjid Al-Aqsa. Ia menjelaskan bahwa respons yang kurang antusias dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong mereka untuk memajukan proyek-proyek mereka, mulai dari menyalakan lilin hingga menuntut masuknya buku-buku dan ritual keagamaan, menurut Al Jazeera Net.


Ia menggambarkan fase saat ini sebagai fase ketidakaktifan bangsa Arab dan Islam dalam menghadapi peningkatan kebijakan negara Zionis terhadap Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds, yang membuka jalan bagi pelanggaran lebih lanjut selama Hanukkah, dan mungkin selama Ramadan, Paskah, dan hari-hari raya selanjutnya..


Sebagai penutup, Al-Khatib menekankan bahwa pertanyaan "Apa yang harus dilakukan?" telah menjadi menyakitkan mengingat tidak adanya peran bangsa Arab dan Islam serta suara-suara yang terbungkam. Ia menegaskan bahwa harapan yang tersisa terletak pada keteguhan hati warga Al-Quds dan Palestina di dalam perbatasan tahun 1948, yang merupakan katup pengaman bagi Al-Aqsa melalui kehadiran dan hubungan mereka yang terus-menerus dengannya, "sampai tiba saatnya Umat ini merebut kembali perannya dan mematahkan belenggu pada Masjid Al-Aqsa yang diberkahi."


Sumber Pusat Informasi Palestina terbit 12/12/2025 “ماذا ينتظر الأقصى في عيد الحانوكاه اليهودي؟” diakses 13 Desember 2025 16:56 https://palinfo.com/news/2025/12/12/985143/


Share: