About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2026

Iran Menembak Mati Tentara Amerika, Mengapa Kita Ikut Membayar Harganya?

 

Iran Menembak Mati Tentara Amerika, Mengapa Kita Ikut Membayar Harganya?

Oleh: Cholid

Pemerhati Geopolitik dan Strategi

Laporan resmi Kantor Berita ANTARA mengkonfirmasi terjadinya eskalasi militer besar di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melancarkan gelombang ke-20 Operasi Nasr-2, berupa serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone kamikaze) yang menghantam sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Sasaran serangan meliputi hanggar dan landasan pacu Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania, serta pusat logistik dan komando Amerika di Camp Buehring dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Serangan tersebut dilaporkan merusak sejumlah aset militer sekaligus menimbulkan korban jiwa dan luka di pihak personel Amerika Serikat.

Namun, melihat peristiwa ini hanya sebagai konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia merupakan cara pandang yang terlalu sempit. Dalam dunia yang saling terhubung, sebuah serangan militer tidak lagi berhenti di lokasi ledakan. Dampaknya dapat menjalar ke pasar energi, jalur perdagangan, industri penerbangan, hingga akhirnya mempengaruhi perekonomian negara-negara yang sama sekali tidak terlibat dalam perang, termasuk Indonesia.

Tamparan Politik bagi Washington

Bagi Amerika Serikat, jatuhnya korban di kalangan tentaranya bukan hanya persoalan militer, tetapi juga persoalan politik.

Serangan ini menjadi ujian terhadap kredibilitas strategi deterrence yang selama ini menjadi fondasi kehadiran militer Amerika di Timur Tengah. Pertanyaan pun muncul mengenai efektivitas sistem pertahanan udara yang selama ini menjadi andalan dalam melindungi pangkalan-pangkalan militernya.

Di sisi lain, Washington menghadapi dilema yang tidak mudah. Respons militer yang terlalu keras berisiko memperluas konflik kawasan, sementara respons yang terlalu terbatas dapat dipersepsikan sebagai melemahnya kredibilitas Amerika di mata lawan maupun sekutunya. 

Negara-Negara Teluk Mungkin Mulai Menghitung Ulang

Serangan terhadap pangkalan Amerika juga menjadi sinyal strategis bagi negara-negara Teluk yang selama puluhan tahun menjadikan kehadiran militer Amerika sebagai salah satu pilar keamanan kawasan.

Meskipun masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, eskalasi semacam ini berpotensi mendorong negara-negara Teluk mengevaluasi kembali strategi pertahanan mereka. Dalam jangka menengah, bukan tidak mungkin mereka memperluas kerjasama keamanan dengan lebih banyak mitra sebagai bentuk diversifikasi, sehingga mengurangi ketergantungan kepada satu kekuatan saja 

"Ketika drone Iran terbukti bisa menembus pangkalan AS di Kuwait dan Yordania, peta permainan langsung berubah. Dalam politik dunia, reputasi itu segala-galanya; kelihatan mampu melindungi teman sama pentingnya dengan punya senjata canggih. Begitu rasa aman itu hilang, negara-negara Arab tidak mungkin tinggal diam dan bergerak mencari sekutu baru agar nasib dan keselamatan negaranya tidak lagi bergantung hanya pada komando di Washington." 

Mengapa Kita di Indonesia Ikut Merasakan Dampaknya?

Perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur. Ia juga mengguncang jaringan ekonomi global.

Setiap eskalasi di kawasan Teluk meningkatkan ketidakpastian terhadap pasokan energi dunia. Kawasan ini merupakan salah satu jalur strategis perdagangan minyak global. Ketika risiko meningkat, pasar akan merespons dengan kenaikan premi risiko yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga energi dan biaya transportasi internasional.

Industri penerbangan juga menghadapi tantangan serupa. Meningkatnya risiko keamanan dapat mempengaruhi operasional maskapai, biaya asuransi, maupun perencanaan rute penerbangan. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, biaya operasional berpotensi meningkat dan pada akhirnya dapat tercermin pada tarif penerbangan.

Dampaknya tidak berhenti di sektor transportasi seperti naiknya harga tiket pesawat karena harus mengambil rute alternatif yang lebih jauh. Ketidakpastian geopolitik juga dapat meningkatkan biaya logistik internasional. Apabila kondisi ini berlangsung berkepanjangan, harga berbagai barang impor—mulai dari produk elektronik hingga komponen industri—berpotensi ikut mengalami kenaikan karena biaya distribusi yang lebih tinggi.

Bagi Indonesia yang sangat terhubung dengan perdagangan global, perubahan tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi biaya hidup masyarakat, meskipun konflik terjadi ribuan kilometer dari wilayah kita.

Perang Modern Tidak Lagi Mengenal Batas Wilayah

Serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi menghasilkan dampak yang bersifat lokal. Gelombang kejutnya dapat menjalar melalui jaringan energi, perdagangan, logistik, dan keuangan global.

Karena itu, ledakan rudal di Timur Tengah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai berita luar negeri. Ia adalah pengingat bahwa dalam dunia yang saling terhubung, konflik geopolitik dapat menghadirkan konsekuensi ekonomi yang dirasakan hingga ke meja makan masyarakat di negara lain.

Rakyat Iran dan tentara Amerika mungkin yang menjadi sasarannya. Namun, apabila eskalasi terus berlanjut, kita semuanya akan turut serta membayar harganya!


Share:

Senin, 06 Juli 2026

Swarm Strategy: Mengapa Amerika Sulit Menaklukkan Iran di Selat Hormuz ?*



Swarm Strategy:
Mengapa Amerika Sulit Menaklukkan Iran di Selat Hormuz ?*
Oleh: Idham Cholid
Pengamat Geopolitik dan Strategi

Executive Summary


Bagaimana mungkin Iran, sebuah negara yang anggaran militernya jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat, mampu bertahan menghadapi kekuatan militer terbesar di dunia?


Jawabannya bukan terletak pada jumlah kapal perang, pesawat tempur, ataupun kapal induk yang dimiliki Iran. Sejak awal, Teheran menyadari bahwa mereka tidak mungkin memenangkan perlombaan senjata melawan Washington.

Alih-alih membangun kekuatan yang sama, Iran memilih mengubah aturan permainan. Mereka memanfaatkan geografi Selat Hormuz, mengembangkan Swarm Strategy, membangun jaringan rudal dan drone, serta menerapkan perang asimetris yang bertujuan bukan menghancurkan armada Amerika, melainkan meningkatkan biaya politik, ekonomi, dan militer dari setiap operasi yang dilakukan.

Strategi inilah yang pada akhirnya membuat kekuatan militer Amerika yang sangat besar, dalam kasus ini terbukti tidak bisa digunakan secara efektif.

Pembukaan

Berhadapan dengan kekuatan militer terbesar di dunia tidak selalu berarti harus membangun kekuatan yang sama. Sejak awal, Iran memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengandalkan perlombaan persenjataan konvensional, Iran mengembangkan sebuah sistem pertahanan asimetris yang disesuaikan dengan kondisi geografis, kemampuan industrinya, dan tujuan strategisnya sendiri.

Iran mengetahui bahwa mereka tidak memiliki sumber daya untuk bersaing dalam perlombaan membangun kekuatan global melalui kapal induk, kapal perusak, kapal selam nuklir, pesawat tempur generasi terbaru, satelit, hingga jaringan pangkalan militer yang tersebar di berbagai kawasan dunia, seperti yang dimiliki Amerika Serikat.

Alih-alih mengejar keseimbangan kekuatan, Iran memilih menciptakan keseimbangan risiko. Mereka tidak harus menjadi lebih kuat. Mereka hanya harus membuat penggunaan kekuatan Amerika secara efektif menjadi jauh lebih sulit.

Pendekatan pertahanan Iran bukanlah kumpulan senjata yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ia merupakan sistem yang terdiri atas lima lapisan strategi yang saling melengkapi. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi keseluruhannya diarahkan pada satu tujuan: membatasi efektivitas penggunaan kekuatan lawan sekaligus meningkatkan posisi tawar Iran.


Lapisan Pertama: Swarm Strategy

Inilah strategi yang paling sering dibicarakan. Swarm Strategy merupakan penggunaan puluhan hingga ratusan kapal cepat berukuran kecil yang bergerak hampir bersamaan dari berbagai arah.

sebuah kapal induk yang nilainya belasan miliar dolar memasuki perairan sempit. Dari kejauhan radar mulai menangkap puluhan titik kecil yang bergerak cepat dari berbagai arah. Sebagian mungkin kapal nelayan. Sebagian bisa jadi kapal sipil. Sebagian lain mungkin membawa rudal atau bahan peledak. Komandan armada hanya memiliki hitungan menit untuk memutuskan: mana yang harus dihancurkan lebih dulu, mana yang cukup diawasi, dan mana yang sebenarnya hanya umpan. Dalam situasi seperti inilah Swarm Strategy bekerja.

Tujuannya bukan menghancurkan kapal induk dalam satu serangan dramatis, tetapi memenuhi sistem pertahanan dengan begitu banyak ancaman sehingga setiap keputusan menjadi semakin sulit.

Bagi masyarakat awam, kapal-kapal kecil ini mungkin terlihat tidak sebanding dengan kapal induk Amerika. Namun justru di situlah letak idenya.

Semakin banyak sasaran yang muncul secara bersamaan, semakin berat pula beban sistem pertahanan Amerika untuk mengidentifikasi mana kapal sipil, mana umpan, mana kapal bersenjata, dan mana ancaman utama.

Tujuannya bukan menenggelamkan kapal induk.Tujuannya adalah membuat armada Amerika kehilangan tempo, membagi perhatian, dan menghabiskan waktu untuk menghadapi ancaman yang datang dari berbagai arah.

Dalam peperangan modern, gangguan terhadap proses pengambilan keputusan sering kali sama berharganya dengan penghancuran sasaran.


Lapisan Kedua: Selat Hormuz Sebagai Senjata

Swarm Strategy tidak akan seefektif itu di tengah Samudra Pasifik. Keunggulan Iran justru lahir dari geografi. Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang dilalui sebagian besar ekspor energi dari kawasan Teluk.

Di ruang yang terbatas seperti ini, kapal perang besar kehilangan sebagian keleluasaan manuvernya. Jalur pelayaran menjadi lebih mudah diprediksi, sementara garis pantai memberikan keuntungan bagi sistem pertahanan Iran.

Dengan kata lain, Iran tidak hanya menggunakan senjata. Mereka menggunakan wilayahnya sendiri sebagai bagian dari sistem pertahanan.


Lapisan Ketiga: Jaringan Ancaman Berlapis

Kapal cepat hanyalah lapisan pertama. Di belakangnya terdapat rudal antikapal, drone pengintai, drone serang, ranjau laut, radar pantai, hingga sistem intelijen yang bekerja secara terpadu. Semua elemen tersebut saling melengkapi.

Jika lawan hanya memperhatikan kapal cepat, ancaman lain dapat datang dari pantai atau udara. Inilah yang membuat Iran tidak bergantung pada satu jenis senjata. Mereka membangun sebuah jaringan.


Lapisan Keempat: Cost Imposition Strategy

Inilah inti dari seluruh strategi Iran. Iran tidak berharap menghancurkan armada Amerika. Yang ingin mereka capai adalah membuat setiap operasi menjadi: lebih mahal, lebih lama, lebih berisiko, lebih sulit diprediksi.

Ketika biaya terus meningkat, keputusan untuk menggunakan kekuatan militer menjadi semakin kompleks.

Dalam banyak kasus, perang tidak dimenangkan oleh pihak yang memiliki senjata paling banyak, tetapi oleh pihak yang berhasil mengubah perhitungan biaya dan manfaat lawannya.


Lapisan Kelima: Dari Laut ke Meja Perundingan

Semua strategi tadi sebenarnya mengarah pada tujuan yang sama: Diplomasi. Iran memahami bahwa perang bukan tujuan akhir. Perang hanyalah alat untuk meningkatkan posisi tawar politik.

Jika setiap eskalasi membawa risiko ekonomi global, mengganggu jalur energi, dan memaksa Amerika mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar, maka ruang diplomasi menjadi semakin bernilai.

Di sinilah keberhasilan strategi Iran dapat diukur. Bukan dari jumlah kapal yang tenggelam, tetapi dari kemampuannya membuat lawan mempertimbangkan kembali setiap langkah yang akan diambil.


Implikasi Strategis

Selama Iran tetap mempertahankan pendekatan perang asimetris, kecil kemungkinan negara tersebut akan mengubah doktrinnya menjadi perlombaan membangun armada laut konvensional. Sebaliknya, investasi kemungkinan tetap diarahkan pada pengembangan drone, rudal presisi, kemampuan peperangan elektronik, dan sistem pertahanan berlapis yang relatif murah tetapi mampu meningkatkan biaya operasi lawan.

Di sisi lain, Amerika Serikat hampir pasti akan terus berupaya mempertahankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan keunggulan teknologi, melainkan bagaimana menjaga efektivitas kekuatan tersebut ketika menghadapi lawan yang menggunakan banyak ancaman kecil secara bersamaan.

Dengan demikian, persaingan di Selat Hormuz kemungkinan tidak berkembang menjadi perang laut konvensional, melainkan kompetisi jangka panjang antara kemampuan proyeksi kekuatan Amerika dan strategi penangkalan asimetris Iran.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Iran mampu mengalahkan Amerika Serikat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah negara yang lebih kecil dapat membatasi kebebasan bertindak negara yang jauh lebih kuat. Selat Hormuz menunjukkan bahwa dalam peperangan modern, jawaban atas pertanyaan itu semakin sering ditentukan bukan oleh besarnya armada, melainkan oleh kemampuan mengubah geografi, teknologi, dan strategi menjadi daya tawar politik.


Penutup

Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bahwa peperangan modern tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki kapal terbesar atau anggaran pertahanan terbesar.
I
ran menunjukkan bahwa negara dengan sumber daya yang jauh lebih kecil masih dapat menciptakan keseimbangan strategis apabila mampu memadukan geografi, teknologi, organisasi, dan cara berpikir yang tepat.

Swarm Strategy hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem tersebut.

Rahasia sebenarnya terletak pada kemampuan mengubah setiap keunggulan lawan menjadi persoalan baru yang harus terus dihadapi. Ketika lawan dipaksa mengeluarkan biaya lebih besar, mengambil risiko lebih tinggi, dan berpikir lebih lama sebelum bertindak, maka keseimbangan strategis mulai bergeser. Dalam konteks itulah, kekuatan tidak lagi hanya diukur dari besarnya armada, tetapi juga dari membentuk perhitungan strategis lawan.


Referensi:

Hassan Olleik,
Channel Youtube: الصندوق جوا (Inside the Box)
Video: https://www.youtube.com/watch?v=fsEzxNZUFbE


Catatan Penulis

* Artikel ini disusun berdasarkan pemaparan narasumber dan dikembangkan melalui analisis penulis dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI). Seluruh interpretasi, kesimpulan, serta tanggung jawab atas isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


Share:

Rabu, 24 Juni 2026

Semakin Banyak Front, Semakin Jauh dari Kemenangan


Semakin Banyak Front, Semakin Jauh dari Kemenangan

Oleh: Cholid

"Perang yang terus meluas sering kali bukan pertanda bahwa kemenangan semakin dekat. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi bukti bahwa tujuan awal belum berhasil dicapai."

Sejak perang Gaza meletus, Israel menunjukkan kemampuan militer yang sulit ditandingi di kawasan. Ribuan serangan udara dilancarkan, operasi darat dilakukan secara berkelanjutan, dan perang meluas dari Gaza ke Lebanon, Suriah, Yaman, hingga akhirnya melibatkan konfrontasi langsung dengan Iran.

Sekilas, ekspansi ini tampak sebagai demonstrasi kekuatan.

Namun, dalam ilmu strategi, perluasan medan perang justru dapat dibaca secara berbeda. Semakin banyak front yang harus dibuka, semakin besar kemungkinan bahwa tujuan politik yang hendak dicapai belum berhasil diwujudkan.

Di sinilah letak paradoks perang modern.

Clausewitz pernah menegaskan bahwa perang bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan politik. Artinya, keberhasilan perang tidak diukur dari berapa banyak bom dijatuhkan, berapa banyak wilayah diduduki, atau berapa banyak komandan musuh yang dieliminasi. Ukurannya adalah apakah operasi militer tersebut berhasil menghasilkan tatanan politik yang diinginkan.

Pertanyaan itulah yang layak diajukan hari ini.

Setelah berbulan-bulan perang, apakah Israel berhasil menghilangkan Hamas dari lanskap politik Palestina? 

Tidak.

Apakah Hizbullah berhasil dikeluarkan dari perhitungan strategis Israel di perbatasan utara? 

Tidak.

Apakah Iran kehilangan pengaruhnya di kawasan?

Juga tidak.

Apakah normalisasi hubungan Israel dengan dunia Arab semakin menguat?

Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak negara Arab memilih lebih berhati-hati, sementara isu Palestina kembali menjadi pusat perhatian diplomasi internasional.

Artinya, perang terus berjalan, tetapi tujuan politiknya belum benar-benar tercapai.

Inilah yang dalam kajian strategi dikenal sebagai strategic overstretch—ketika sebuah negara harus memperluas operasi militernya ke semakin banyak medan karena sasaran awal belum menghasilkan efek yang diharapkan. Setiap front baru memang memberi ruang untuk menunjukkan kemampuan militer, tetapi pada saat yang sama juga membuka titik-titik tekanan baru: biaya perang meningkat, sumber daya tersebar, tekanan diplomatik bertambah, dan lawan memperoleh lebih banyak ruang untuk beradaptasi.

Ironisnya, setiap front baru juga menciptakan lawan baru.

Serangan ke Lebanon mengaktifkan dinamika Hizbullah. Operasi terhadap Houthi membuat Laut Merah menjadi arena konflik baru. Konfrontasi dengan Iran mengubah konflik yang semula bersifat lokal menjadi persoalan keamanan regional. Alih-alih menyempit, perang justru melebar ke berbagai arah.

Dalam perspektif strategi, kondisi semacam ini bukan selalu menunjukkan dominasi, melainkan dapat mencerminkan frustrasi strategis—situasi ketika instrumen militer terus digunakan karena tujuan politik belum juga tercapai.

Tentu saja, tidak berarti Israel telah kalah. Demikian pula, tidak berarti lawan-lawannya telah menang. Tetapi semakin panjang daftar front yang dibuka, semakin jelas bahwa tidak ada satu pun aktor yang mampu memaksakan kehendaknya secara mutlak kepada kawasan.

Timur Tengah hari ini tidak sedang bergerak menuju hegemoni tunggal. Sebaliknya, kawasan ini memasuki fase keseimbangan baru yang jauh lebih rumit, di mana setiap tindakan militer justru memunculkan reaksi baru, setiap kemenangan taktis melahirkan tantangan strategis berikutnya, dan setiap eskalasi membuka ruang konflik yang lebih luas.

Di sinilah pelajaran terbesar yang sering luput dari perhatian.

Kekuatan militer memang mampu memenangkan pertempuran. Namun sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa perang tidak dimenangkan di medan tempur semata. Perang dimenangkan ketika tujuan politik berhasil dicapai.

Selama perang terus meluas, lawan terus bermunculan, dan tatanan politik yang diinginkan belum juga terwujud, maka yang sedang kita saksikan bukanlah kemenangan yang semakin dekat.

Yang kita saksikan justru sebuah paradoks: semakin luas medan perang, semakin jauh kemenangan strategis itu berada.

 

Share:

Kamis, 18 Juni 2026

Dari Lebanon ke Gaza: Tantangan Diplomasi Perdamaian Indonesia (Bagian 1)

Oleh: Idham Cholid

Pemerhati Isu Palestina dan Timur Tengah

Ringkasan Eksekutif

Perkembangan terbaru di Timur Tengah memperlihatkan sebuah paradoks besar dalam politik internasional: dunia semakin memiliki kemampuan untuk menghentikan eskalasi, tetapi semakin sulit menemukan formula untuk menyelesaikan akar konflik. Lebanon menjadi contoh paling jelas mengenai keterbatasan pendekatan keamanan internasional. Selama hampir lima dekade, misi UNIFIL Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menjadi instrumen penting untuk mencegah konflik Lebanon-Israel berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas. Namun keberadaan pasukan perdamaian tidak pernah mampu menggantikan kebutuhan akan penyelesaian politik yang menyentuh persoalan mendasar.

Pengalaman Lebanon memberikan pelajaran penting ketika dunia memasuki perdebatan mengenai masa depan Gaza. Persoalan Gaza bukan hanya mengenai rekonstruksi wilayah yang hancur, tetapi mengenai masa depan politik Palestina, arsitektur keamanan Timur Tengah, dan perubahan keseimbangan kekuatan antara Amerika Serikat, Israel, Iran, serta negara-negara Teluk. Dalam konteks tersebut, Indonesia sebagai negara dengan tradisi diplomasi perdamaian dan posisi strategis di dunia Islam memiliki kepentingan untuk membaca dinamika Timur Tengah secara lebih mendalam, bukan hanya melalui solidaritas moral, tetapi melalui perspektif geopolitik yang matang.


Pendahuluan: Lebanon sebagai Cermin Keterbatasan Perdamaian Internasional

Ketika diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mulai membuka ruang bagi kemungkinan penurunan eskalasi konflik regional, Lebanon kembali muncul sebagai pengingat bahwa Timur Tengah belum memasuki era perdamaian. Setiap peluang diplomasi di kawasan ini selalu membawa pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar penghentian tembakan: siapa yang akan menentukan konfigurasi keamanan baru, aktor mana yang memiliki legitimasi untuk mengatur masa depan wilayah konflik, dan apakah penyelesaian politik mampu mengejar kompleksitas persoalan yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Lebanon Selatan menjadi salah satu contoh paling penting mengenai bagaimana konflik modern bekerja. Di wilayah tersebut, persoalan keamanan Israel bertemu dengan eksistensi Hizbullah sebagai aktor politik dan militer Lebanon, kepentingan strategis Iran di kawasan, serta kalkulasi Amerika Serikat dalam mempertahankan keseimbangan kekuatan Timur Tengah. Karena itu, setiap perkembangan di Lebanon tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari kompetisi regional yang lebih besar.

Dalam konteks inilah keberadaan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menjadi sangat penting untuk dipahami. UNIFIL bukan sekadar pasukan penjaga perdamaian biasa. Ia adalah simbol dari upaya komunitas internasional untuk mengelola sebuah konflik yang terlalu kompleks untuk diselesaikan hanya melalui kekuatan militer, tetapi terlalu dalam untuk diselesaikan hanya melalui diplomasi formal.

Namun hampir lima dekade pengalaman UNIFIL juga menghadirkan sebuah pertanyaan mendasar: apakah dunia sedang membangun perdamaian, atau hanya mengelola konflik agar tidak meledak?

Pertanyaan tersebut semakin relevan karena sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa penghentian perang tidak selalu berarti terciptanya perdamaian. Gencatan senjata dapat menghentikan peluru, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan keamanan, identitas politik, klaim wilayah, maupun ketidakpercayaan antar aktor.

UNIFIL: Antara Keberhasilan Menahan Perang dan Kegagalan Menyelesaikan Konflik

Sejak dibentuk melalui Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1978, UNIFIL memiliki mandat utama untuk membantu menjaga stabilitas di Lebanon Selatan. Setelah perang Israel-Hizbullah tahun 2006, mandatnya diperkuat melalui Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB dengan tujuan menciptakan kondisi keamanan yang lebih stabil di sepanjang wilayah perbatasan Lebanon-Israel.

Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, keterlibatan dalam UNIFIL merupakan bentuk nyata kontribusi terhadap perdamaian internasional. Pasukan Garuda Indonesia yang telah lama menjadi bagian dari misi tersebut membawa pesan bahwa politik luar negeri Indonesia tidak hanya berbicara mengenai kepentingan nasional, tetapi juga mengenai tanggung jawab global sebagaimana tercermin dalam amanat konstitusi.

Namun pengalaman UNIFIL juga menunjukkan batas kemampuan pendekatan keamanan internasional. Kehadiran pasukan asing dapat menciptakan ruang bagi diplomasi, mengurangi kemungkinan benturan langsung, dan membangun mekanisme komunikasi antar pihak yang bermusuhan. Akan tetapi, pasukan internasional tidak memiliki mandat untuk menyelesaikan pertanyaan politik yang menjadi akar konflik.

Di Lebanon Selatan, persoalan utama bukan hanya mengenai garis perbatasan atau pengawasan militer. Persoalannya adalah bagaimana mendefinisikan keamanan Israel, bagaimana posisi Hizbullah dalam negara Lebanon, bagaimana hubungan Iran dengan jaringan sekutunya di kawasan, serta bagaimana Amerika Serikat mempertahankan pengaruhnya dalam arsitektur keamanan Timur Tengah.

Dengan kata lain, UNIFIL menghadapi dilema klasik dalam hubungan internasional: keamanan dapat dipaksakan untuk sementara, tetapi legitimasi politik harus dibangun melalui kesepakatan.

(Bersambung ke Bagian II: Lebanon Selatan, Negara Teluk, dan Gaza: Perebutan Arsitektur Baru Timur Tengah)


Share:

Selasa, 31 Maret 2026

Memahami Jalannya Perang Negara Zionis-Amerika terhadap Iran

 Oleh: Dr. Muhsin Saleh

Sabtu, 28 Maret 2026


Jalannya agresi negara Zionis-Amerika terhadap Iran dan konsekuensinya - dan ringkasan keseluruhan hasilnya, berdasarkan data yang tersedia, cenderung bahwa perang akan berlangsung dalam jangka panjang daripada berakhir dengan cepat. Namun, tujuan sebenarnya Amerika dalam perang dan temperamen politik Presiden Trump memainkan peran penting dalam menentukan durasi panjang pendeknya. Demikian pula, kohesi rezim Iran, ketahanannya, dan kemampuannya untuk melanjutkan perang secara efisien, efektif, dan kekuatan pengaruhnya sangat penting dalam menentukan arah perang.


Faktor-faktor yang mendorong perang berkepanjangan:


1- Kemampuan negara Zionis dan Amerika untuk mencapai tujuan strategis perang mereka, terutama menyerang program nuklir Iran, menerapkan standar mereka, dan melemahkan pengaruh regional Iran serta perannya dalam mendukung poros perlawanan. Sebaliknya, Iran akan menolak untuk mengakhiri perang kecuali musuh-musuhnya dicegah, sistem politiknya dipertahankan, dan mereka menerima jaminan tidak akan diserang di masa depan. Ini berarti perang akan berkepanjangan karena kesenjangan yang signifikan antara kedua belah pihak.


2- Tercapainya efek jera adalah kriteria mendasar bagi pihak-pihak yang bertikai, dan setiap kemunduran atau kegagalan dalam hal ini akan ditafsirkan sebagai kelemahan dan kekalahan. Ini bisa berarti perang akan berlanjut untuk mempertahankan citra, kecuali jika solusi yang bermartabat atau menyelamatkan muka ditemukan untuk semua pihak yang terlibat.


3. Situasi dalam negeri di negara Zionis, Amerika Serikat, dan Iran, serta eksploitasi perang untuk memperkuat "legitimasi" dan menghindari krisis internal, dapat berkontribusi pada perpanjangan perang, kecuali jika tekanan rakyat untuk mengakhirinya meningkat karena biayanya melebihi potensi keuntungannya.


4. Kemungkinan perang meluas secara regional dan global, secara langsung atau tidak langsung, melalui keterlibatan pihak-pihak yang dirugikan atau diuntungkan dari perang, termasuk negara-negara Teluk, Tiongkok, Rusia, dan negara-negara Eropa. Hal ini dapat bertujuan untuk menundukkan Iran, melemahkan Amerika Serikat dan negara Zionis, atau membuka kembali Selat Hormuz untuk memastikan aliran minyak, gas, dan barang, diantar hal lainnya. Hal ini dapat menyebabkan situasi menjadi tidak terkendali, menjadikan perang berkepanjangan sebagai realita.


5. Iran melibatkan perang ini dengan jalur Lebanon dan memasukkan Hizbullah dalam setiap kesepakatan di masa depan, termasuk untuk tidak melucuti senjatanya, pemulangan pengungsi, dan penghentian pelanggaran negara Zionis terhadap wilayah darat dan udara Lebanon. Bertolak belakang dengan desakan negara Zionis-Amerika untuk melucuti senjata Hizbullah dan menetapkan jaminan dan standar keamanan negara Zionis sebagai dasar untuk setiap solusi di masa depan dengan Lebanon. Hal ini dapat memperpanjang perang sebelum mencapai formula yang dapat diterima oleh semua pihak.


Faktor-faktor pendorong pemendekan perang:


1. Meningkatnya biaya sdm, ekonomi, dan militer akibat perang, khususnya bagi Amerika dan negara Zionis.


2. Penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut dan dampaknya yang signifikan terhadap ekonomi global, terutama pasokan minyak dan gas; serta kegagalan Amerika dan sekutunya untuk mengendalikan selat tersebut.


3. Tersingkapnya sistem pertahanan Iron Dome negara Zionis dan menurunnya efektivitas rudal pencegat yang dimiliki negara Zionis dan sistem pertahanan Amerika di kawasan tersebut, yang memberi Iran pengaruh lebih besar untuk menekan Amerika dan negara Zionis agar menurunkan tuntutan mereka.


4. Tekanan internasional untuk mengakhiri perang, khususnya dari Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, dan negara-negara BRICS.


5. Keseimbangan pencegahan, dengan kedua belah pihak mencapai kesimpulan bahwa tidak ada yang dapat mencapai kemenangan yang menentukan atau memaksakan persyaratan mereka.


6. Desakan Iran pada program nuklirnya dan kemajuannya yang dipercepat menuju pencapaian "ambang batas nuklir," yang memberlakukan aturan keterlibatan baru.


7. Penarikan mundur kebijakan Amerika terkait tujuan sebenarnya dari perang, penarikan diri dari ide penjatuhan rezim, dan pendekatan yang lebih pragmatis terhadap program nuklir dan rudal Iran; dan pecah kongsi dengan negara Zionis mengenai kelanjutan perang, atau kelanjutannya sebagai alat sebagai alat untuk mencapai tujuan negara Zionis.


8. Ketahanan dan daya tahan rezim Iran, kemampuannya yang berkelanjutan untuk melakukan serangan terarah terhadap Amerika dan negara Zionis, dan keterbukaan Iran terhadap kesepahaman regional, khususnya dengan negara-negara Teluk, untuk memastikan keamanan dan stabilitas kawasan serta melindungi sumber daya dan kepentingan strategisnya.


9. Keinginan negara-negara di kawasan tersebut, terutama negara-negara Teluk, untuk mengakhiri perang dan mencapai kesepahaman dengan Iran dalam kerangka kerja Arab-Islam regional, dan tuntutan mereka agar Amerika menghentikan perang dan berhenti menggunakan wilayah darat dan udara mereka dalam konflik tersebut.



Jalur-jalur Potensial:


Menggulingkan rezim di Iran tampaknya tidak realistis atau bukan prospek yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. Terlepas dari propaganda Amerika dan negara Zionis serta klise yang berulang tentang pencapaian kemenangan besar, penilaian realistis menunjukkan kemampuan Iran dalam menata ulang dan mempertahankan kohesi rezimnya. dan menjaga efektivitas militernya.


Lebih lanjut, rezim tersebut masih menikmati dukungan rakyat yang luas, yang berasal dari latar belakang ideologis yang melekat pada sifatnya, serta dari nasionalisme Persia, yang diprovokasi oleh agresi eksternal dan melampaui konflik internal kecil dalam menghadapi konflik yang lebih besar dengan musuh Amerika-negara Zionis—pengalaman sejarah menguatkan hal itu. 


Selain itu, luas wilayah Iran yang sangat besar (1,648 juta kilometer persegi, lebih dari 4.530 kali luas Jalur Gaza), ditambah dengan kesulitan dalam memberlakukan blokade, jelas menunjukkan tantangan besar dalam upaya menundukkan rezim Iran.


Karena baik pihak negara Zionis maupun Amerika menolak untuk keluar sebagai pihak yang kalah atau dengan kegagalan yang jelas, terutama mengingat ideologinya dan pemerintahannya yang nasionalis dan ideologi religius yang ekstrimis, perang dapat terus berlarut-larut kecuali ditemukan jalan keluar yang tepat.


Faktor-faktor yang disebutkan di atas akan berperan dalam memperpanjang atau mempersingkat perang; namun, hasil keseluruhan masih lebih mengarah pada kelanjutan perang atrisi, atau pergeseran ke perang dingin regional, dengan ketegangan yang tetap tinggi dan "ambang ledakan" masih menganga.


Ada faktor-faktor yang dapat mempercepat berakhirnya perang, tetapi secara bersamaan dapat menghasilkan hasil yang berlawanan atau semakin memperumit situasi, seperti penggunaan senjata yang lebih merusak oleh Amerika dan negara Zionis, seperti senjata nuklir taktis, atau deklarasi Iran untuk bergabung dengan "klub nuklir."


Sifat Trump yang mudah berubah-ubah, kepribadiannya yang narsis, keinginannya untuk membuat kesepakatan, dan suasana seputar pemilihan paruh waktu AS akan berperan dalam menentukan tujuan Amerika: apakah mencoba meraih poin dengan membatasi pengaruh Iran, khususnya pada isu nuklir dan rudal serta pengaruh regional, atau terus berupaya menyelesaikan konflik. Namun, data yang tersedia menunjukkan kecenderungan yang lebih besar terhadap tujuan "realistis" yang dapat dicapai melalui negosiasi, setelah secara praktis mengakui ketidakmampuan untuk menggulingkan rezim tersebut. Jika Iran berhasil menunjukkan kinerja militer yang kuat dalam beberapa pekan mendatang, ini akan semakin mendorong Amerika menuju realisme dan pragmatisme yang lebih besar dalam berurusan dengan Iran (Kholid).


—-

Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “قراءة في المسارات المحتملة للحرب الإسرائيلية الأمريكية على إيران” terbit 28 Maret 2026, diakses 30 Maret 2026 20:00 WIB https://palinfo.com/news/opinion_articles/%d9%82%d8%b1%d8%a7%d8%a1%d8%a9-%d9%81%d9%8a-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%b3%d8%a7%d8%b1%d8%a7%d8%aa-%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%ad%d8%aa%d9%85%d9%84%d8%a9-%d9%84%d9%84%d8%ad%d8%b1%d8%a8-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d8%b3//


Share:

Rabu, 25 Maret 2026

Mengapa Sebelah Tangan Trump Ulurkan Perdamaian Di saat Tangan Lainnya Siapkan Pukulan?

Oleh: Mohammed Daud

Diterbitkan pada 25/3/2026


Sejak pecah perang Amerika-negara Zionis di Iran, kini telah memasuki fase paling kompleks. Presiden AS Donald Trump mengadopsi strategi dua arah, menggabungkan "tawaran untuk mengakhiri perang" yang menggiurkan dan menambah kekuatan militer di dekat Iran, menimbulkan ancaman invasi darat.


Sementara Washington membocorkan detail "rencana 15 poin" untuk mengakhiri perang, Pentagon terus mengirimkan lebih banyak pasukan ke wilayah tersebut, di tengah keheranan negara Zionis dan skeptisisme mendalam Iran tentang niat Amerika.



Rencana 15 Poin


Pemerintahan Trump, melalui perantara Pakistan, menyampaikan kepada Iran sebuah rencana komprehensif 15 poin. Rencana ini, yang digambarkan sebagai "dasar untuk negosiasi," melampaui sekadar gencatan senjata untuk mengatasi isu-isu yang kontroversial. Rencana ini menyerukan pembongkaran total program nuklir Iran, penghentian program rudal balistiknya, penghentian dukungan bagi proksi regional seperti Hizbullah, dan pembukaan kembali jalur perairan, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.


Channel 12 negara Zionis mengutip tiga sumber yang mengatakan bahwa Washington sedang berupaya menerapkan "gencatan senjata satu bulan" untuk membahas prinsip-prinsip ini. Trump, sendiri, mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Selasa bahwa "Amerika Serikat sedang bernegosiasi dengan orang-orang yang tepat," mengklaim bahwa pihak Iran "sangat ingin mencapai kesepakatan."


Optimisme dari Trump ini bertepatan dengan pernyataannya tentang apa yang disebutnya sebagai "hadiah besar" dari Iran terkait aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz, yang dianggapnya sebagai bukti keseriusan kepemimpinan di Teheran.



Penambahan Pengerahan Militer


Namun, uluran tangan perdamaian ini diiringi dengan "kepalan yang siap meninju," seperti yang digambarkan oleh salah satu penasihat Trump kepada Axios. Sementara Gedung Putih berbicara tentang negosiasi, Associated Press dan The Washington Post melaporkan bahwa perintah telah dikeluarkan untuk mengerahkan setidaknya 1.000 pasukan tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah.


Bahaya dari langkah ini terletak pada karakteristik divisi ini: ini adalah "pasukan respons darurat" yang terlatih untuk terjun payung dan mengamankan bandara dan infrastruktur penting di wilayah musuh hanya dalam waktu 18 jam.


Pengerahan ini, yang juga mencakup sekitar 50.000 Marinir dan pelaut yang sudah berada di atas kapal perang di dekat Timur Tengah, dinilai oleh Soufan Center sebagai manuver yang dirancang untuk memberi Trump "fleksibilitas maksimal."


Berbagai analisis bahkan memprediksi lebih jauh lagi, dengan Washington Post menunjukkan bahwa opsi invasi darat, khususnya di pulau strategis Kharg, tetap ada dalam pertimbangan Trump, meskipun ia belum membuat keputusan akhir.


Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperkuat pandangan ini, dengan menyatakan, "Kita sedang bernegosiasi dengan menggunakan bom," menekankan kelanjutan tekanan militer secara paralel dengan upaya diplomatik.



Teheran Khawatir Akan “Tipuan Ketiga”


Di sisi lain, tawaran Amerika tampaknya tidak membangkitkan antusiasme di Teheran, melainkan menimbulkan “kecurigaan yang mendalam.” Situs web Axios mengutip sumber yang berpengetahuan luas yang mengatakan bahwa para pejabat Iran dengan jelas mengatakan kepada mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki: “Kami telah ditipu dua kali oleh Trump, dan kami tidak ingin ditipu lagi.”


Melihat kembali peristiwa masa lalu menjelaskan kekhawatiran ini. Juni lalu, negara Zionis melancarkan serangan dengan dukungan Amerika hanya beberapa hari sebelum pembicaraan tentang program nuklir, dan perang AS-negara Zionis saat ini melawan Iran dimulai hanya dua hari setelah kesepakatan awal tercapai di Jenewa.


Media pemerintah Iran melancarkan serangan balik terhadap narasi Trump. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya negosiasi langsung, dan menyebutnya sebagai "berita palsu."


Kantor berita Tasnim mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa pernyataan Trump berangkat dari "kondisi stok amunisi penyerang dan pertahanannya yang buruk," dan bahwa ia berusaha mengulur waktu untuk melaksanakan rencana militernya atau menurunkan harga energi global, yang telah meroket karena penutupan Selat Hormuz. Markas Besar Konstruksi Khatam al-Anbiya secara eksplisit menyatakan bahwa Amerika sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.


Teheran memandang penambahan pasukan sebagai bukti itikad buruk, dan sumber keamanannya menegaskan bahwa "pesan-pesan Amerika adalah skema yang menipu" yang tidak akan menghalangi mereka dari pertahanan dan respons yang kuat.



Mediator dan Langkah Islamabad: 


Pada tahap akhir kebuntuan ini, peran mediator menjadi menonjol. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menulis di situs web X tentang kesiapan negaranya untuk memfasilitasi "perundingan penting," sementara mediator dari Mesir dan Turki mendesak diadakannya pertemuan di Islamabad dalam waktu 48 jam.


Wall Street Journal mencatat bahwa Washington menawarkan untuk menyertakan tokoh-tokoh berpangkat tinggi seperti utusan Steve Wittkopf, Jared Kushner, dan bahkan Wakil Presiden J.D. Vance, untuk menunjukkan keseriusan pembicaraan tersebut. Pilihan Vance khususnya sangat signifikan, karena sumber-sumber mengatakan kepada Axios bahwa Wittkopf merekomendasikannya karena Iran tidak menganggapnya sebagai bagian dari faksi garis keras melawan Iran.


Meskipun demikian, kesenjangan tetap sangat besar. Tuntutan Iran bagi penutupan pangkalan AS di kawasan tersebut, pembayaran kompensasi yang substansial, dan penolakan untuk bernegosiasi selama "Operasi Epic Wrath" berlanjut, berhadapan dengan tuntutan AS bagi pembongkaran total program nuklir dan program rudal Iran—tuntutan yang ditolak Iran secara mutlak.



Posisi Negara Zionis:


Di pihak lain, negara Zionis mengamati situasi dengan campuran kehati-hatian dan permusuhan. Associated Press mengutip sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut yang mengatakan bahwa para pejabat negara Zionis yang telah mendesak Trump untuk melanjutkan perang "kejutan" dengan tawaran gencatan senjata tersebut.


Di tengah situasi ini, militer negara Zionis melanjutkan serangan udaranya di ibu kota Iran, Teheran, pada Rabu pagi, menargetkan infrastruktur dan daerah pemukiman.


Perwakilan negara Zionis di PBB mengkonfirmasi bahwa negaranya "tidak berpartisipasi dalam negosiasi apa pun" dan terus menargetkan situs-situs militer. Sementara itu, Channel 14 negara Zionis mengklaim bahwa Abbas Aragchi dan Ghalibaf telah diberikan "kekebalan sementara" dari penargetan, tetapi ini tidak menghalangi Tel Aviv untuk bersikeras melanjutkan pemboman sampai mereka memastikan "hancurnya kemampuan nuklir dan balistik Iran."


Dalam pesan yang jelas, Yediot Ahronot mengutip pejabat senior yang mengatakan bahwa mereka tidak mengira akan ada kesepakatan cepat, menggambarkan kepemimpinan Iran sebagai "pembohong yang kreatif."



Masa Depan Negosiasi Kekerasan


Kita tampaknya memasuki fase "gigit jari" strategis. Trump ingin menjajaki apakah Iran akan memberikan konsesi yang sebelumnya tidak siap untuk mereka berikan di bawah tekanan serangan udara, sementara Iran mengandalkan pengaruhnya di pasar energi dan menekan harga bahan bakar global untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik.


Menurut laporan media, perang rencananya akan berlanjut selama dua hingga tiga pekan lagi, bahkan jika negosiasi dimulai. Skenario selanjutnya bergantung pada kemampuan "tiga mediator" untuk membujuk kedua belah pihak untuk bertemu di Islamabad, tetapi potensi invasi darat AS dapat membuka jalan baru bagi perang ini.


Sumber: Al Jazeera + Kantor Berita + Pers Amerika + Pers negara Zionis.


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “القنابل والخطط.. لماذا يمد ترمب يدا للسلام ويبطش بالأخرى؟” terbit 25/3/2026 diakses 25/3/2026 17:22 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/3/25/%d8%a7%d9%84%d9%82%d9%86%d8%a7%d8%a8%d9%84-%d9%88%d8%a7%d9%84%d8%aa%d9%81%d8%a7%d9%88%d8%b6-%d9%84%d9%85%d8%a7%d8%b0%d8%a7-%d9%8a%d9%85%d8%af-%d8%aa%d8%b1%d9%85%d8%a8-%d9%8a%d8%af



Share:

Selasa, 24 Maret 2026

Iran Lampaui Garis Merah, dan Perluas Medan Perang

Orang Iran gemar menciptakan terminologi mereka sendiri; Ini termasuk istilah seperti kesabaran strategis dan pemulihan strategis, dan sekarang mereka menggembar-gemborkan istilah "kegilaan strategis."


Oleh: Mohammed Al-Mukhtar Al-Khalil

Diterbitkan pada 21/3/2026 - Terakhir diperbarui: 22/3/2026 08:28 (Waktu Mekah)


Kegilaan Strategis


Tidak ada yang menyangka—setelah serangan Amerika/Israel terhadap Teheran—bahwa Iran akan memperluas cakupan serangannya hingga mencakup semua negara Teluk sekaligus. Tidak ada pula yang menyangka serangan tersebut akan meluas melampaui pangkalan militer Amerika di Teluk terdekat, apalagi membalas negara Zionis, penyerang depan yang menantang di depannya..


Namun Iran melakukan semua hal dengan tidak terduga. Serangan itu menghantam infrastruktur ekonomi dan sipil di Teluk, mengganggu navigasi, dan melumpuhkan Selat Hormuz. Secara bersamaan, serangannya meluas melampaui negeri Syam, menghantam Mediterania Timur, termasuk Turki dan Siprus, dan kemudian beralih ke Azerbaijan di dekatnya. Mengancam untuk menargetkan pangkalan musuh-musuhnya di Kaukasus, semuanya dalam tempo serempak dan dengan kecepatan roket.


Setelah negara Zionis menyerang fasilitas gas Iran di Fars, Iran membalas dengan menargetkan beberapa fasilitas energi gas dan minyak di Timur Tengah, diantaranya sebuah unit di ladang Ras Laffan di Qatar.


Serangan ini—di wilayah Teluk secara umum dan di Qatar secara khusus—mengungkapkan pola "kegilaan" Iran yang tidak lagi mengakui hukum internasional, karena mereka melancarkan perang yang melanggar hukum internasional. Tetapi—dan inilah inti masalahnya—serangan ini menantang semua logika moralitas dan kebijaksanaan strategis.


Telah menjadi jelas bahwa negara Zionis dan Amerika—sejak hari pertama—ingin menyeret negara-negara Teluk langsung ke dalam perang, sebuah langkah yang secara kategoris ditolak oleh negara-negara tersebut. Namun, perilaku Iran dalam penargetan infrastruktur sipil dan ekonomi di negara-negara Teluk yang terus-menerus, meskipun bervariasi, mendorong ke arah yang tidak diinginkan ini, yang secara strategis merugikan baik pihak Arab maupun Iran.


Orang Iran gemar menciptakan istilah mereka sendiri, seperti "kesabaran strategis" dan "pemulihan strategis," di antara yang lainnya. Namun dengan tindakan pembalasan mereka hari ini, mereka mengumumkan istilah baru: "kegilaan strategis." Salah satu pejabat mereka, yang mengungkapkan kemarahannya kepada Amerika dan negara Zionis, berkata: "Mereka telah mengetes Iran yang rasional; sekarang mereka harus mengetes Iran yang gila." Apakah kita benar-benar telah memasuki fase kegilaan Iran?



Perluasan Respons Secara Geografis dan Terarah


Serangan Iran benar-benar menghancurkan asumsi "perang regional terbatas," sebuah penilaian yang didasarkan pada evaluasi kepentingan dan kemampuan Iran. Perang ini telah secara dramatis memperluas cakupan geografisnya, memunculkan pertanyaan apakah perang akan meningkat menjadi konflik global skala penuh atau tetap terbatas pada arena regional yang terkendali dan fungsional. Skenario terakhir ini bertujuan untuk meningkatkan biaya ekonomi perang dan membongkar atau membekukan aliansi kontra-keamanan yang diatur oleh Amerika Serikat di kawasan tersebut. Oleh karena itu, tidak mungkin Iran mencari kemenangan yang menentukan melalui perluasan ini, melainkan bertujuan untuk mencapai kedua tujuan tersebut secara berurutan.


Pertanyaan mendesak muncul di benak semua orang: Apakah Iran telah mematahkan prakiraan dan melanggar semua garis merah secara bersamaan, atau ini berlebihan?


Jawabannya sebagian bisa "ya." Iran telah secara tegas menghancurkan ekspektasi dengan memperluas jangkauan geografisnya. Respons Iran telah melampaui segitiga tradisional serangannya di Teluk, Irak, dan Palestina, dengan menyerang—dan kemudian menyangkalnya, penyangkalan yang dapat dimengerti—bandara di Nakhchivan, di negara tetangga Azerbaijan. Drone Iran, atau drone sekutunya, juga menyerang pangkalan Inggris di Siprus. Lebih jauh lagi, Turki mengumumkan bahwa pertahanan NATO telah mencegat rudal Iran di atas Laut Mediterania.


"Ya" ini juga mencerminkan pergeseran dari target militer murni atau semi-militer ke target ekonomi dan vital murni. Iran memang telah beralih dari fokus menyerang pangkalan militer—baik secara jujur ​​maupun tidak—ke target fasilitas yang menggeser aksi militer ke bidang ekonomi, sehingga meningkatkan biaya perang bagi semua pihak, bahkan jika ini melanggar prinsip-prinsip etika dan hubungan bertetangga yang baik, terutama dengan teman seperti Qatar. Di sini, melanggar garis merah tampak signifikan dan mengejutkan, khususnya bagi negara-negara Teluk Arab.


Berbeda dengan jawaban "ya", jawaban lain tampaknya termasuk dalam kategori "tidak". Langkah-langkah ini tidak mewakili pengabaian total terhadap garis merah, melainkan pendefinisian ulang dan klarifikasi. Tindakan beberapa sekutu atau proksi—dengan kata lain—tidak merupakan tindakan langsung Iran, seperti halnya dengan Irak, khususnya. Iran menyangkal—meskipun tidak mengutuk—tindakan-tindakan ini dan tidak ingin tindakan tersebut dikaitkan dengan pihak manapun. Hal ini menjadikan pesan-pesan tersebut melampaui ambang batas tetapi tidak sepenuhnya melanggar garis merah. Iran benar-benar berupaya—atau setidaknya ini adalah kesimpulan logis—untuk menghindari intervensi internasional yang berlebihan atau keruntuhan pasar secara total.


Pendekatan ini tampak dalam serangan 18 Maret di ladang gas Pars di Iran selatan, oleh pihak negara Zionis, menurut pernyataan Donald Trump.


Iran membalas dengan menyerang fasilitas gas Qatar di Ras Laffan, sebuah serangan yang tidak didasarkan pada tuduhan keterlibatan Qatar. Serangan itu juga mengenai fasilitas energi di kawasan tersebut, khususnya di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, tanpa adanya tuduhan keterlibatan Qatar dalam serangan terhadap fasilitas Iran.


Pernyataan Trump menarik garis pencegahan baru; ia mengatakan bahwa menargetkan fasilitas Qatar adalah kesalahan Iran, dan jika hal itu terulang, ia akan menghancurkan fasilitas gas Iran.


Di sini kita memahami bahwa garis merah tidak dilanggar, melainkan didefinisikan ulang dan ditegakkan kembali sesuai dengan metodologi kegilaan Iran-Amerika, yang tidak terkendali oleh logika atau hukum sejak pecahnya perang ini.



Penjelasan Praktis


Mengapa dan bagaimana kita dapat memahami kegilaan Iran ini secara praktis, dan bagaimana kita dapat menawarkan interpretasi yang tidak bertolak belakang?


Di sini, muncul empat penjelasan praktis:


Pertama: Logika penyebaran penderitaan ke seluruh kawasan: Kegilaan Iran mendikte bahwa setiap orang harus mengalami penderitaan, bahkan jika mereka tidak menciptakannya. Ini melemahkan posisi moral Republik Islam, yang tampaknya mengadopsi ratapan penyair Arab:


"Penghiburanku adalah persatuan, sementara kematian berada di belakangnya. Jika aku mati kehausan, semoga tidak ada hujan yang turun."


Bait syair ini, yang menerjemahkan keegoisan individu, sangat jauh dari logika strategi rasional yang berupaya meminimalkan musuh dan mengurangi arena konfrontasi dalam perang yang merupakan agresi menurut logika hukum dan moral. Slogan "Jika aku mati kehausan, semoga tidak ada hujan turun" adalah slogan seorang penyair yang egois, bukan slogan negara rasional yang merumuskan tanggapannya sesuai dengan kepentingan lawannya dan berdasarkan aturan moral dan hukumnya.


Iran beroperasi berdasarkan logika bahwa menargetkan rezimnya dan mengancam keberadaannya memungkinkan mereka untuk memperluas lingkaran penderitaan hingga mencakup semua pihak yang berada dalam jangkauannya, mencari rem-rem politik untuk menimbulkan penderitaan pada Amerika dan sekutunya.


Kedua: Logika "membubarkan aliansi Teluk/Amerika": Logika ini secara praktis menjelaskan upaya Iran sejak hari pertama untuk membubarkan aliansi keamanan Teluk/Amerika. Logika ini didasarkan pada premis bahwa jika negara-negara Teluk tidak membubarkan aliansi ini secara damai, maka biarlah hal itu dilakukan dengan cara yang menyakitkan, memaksa mereka untuk mempertimbangkan kembali pilihan antara stabilitas ekonomi yang mereka cari dan perjuangkan, dan aliansi militer dan keamanan dengan Washington, yang telah menghasilkan hasil yang terbukti kontraproduktif. Semua instrumen ekonomi telah menjadi rentan terhadap serangan dan penghancuran oleh musuh-musuh Amerika.


Interpretasi ini mengarah pada apa yang digambarkan sebagai labirin Teluk, di mana strategi yang seharusnya saling bertentangan dan mengarah pada hasil yang mustahil dan sulit untuk didamaikan.


Ketiga: ambiguitas dan pengaburan: Strategi Iran di sini tampaknya didasarkan pada penyangkalan, penolakan, dan ketidakjelasan. Iran membantah menyerang Azerbaijan, yang secara resmi dituduhkan terhadapnya, serta menyerang pangkalan Inggris di Siprus, dan juga membantah serangan di Arab Saudi dan Oman. Dalam semua ini, ada referensi implisit kepada proksinya. Namun, dalam hal tindakan itu sendiri, tidak ada bedanya apakah eksekusi dilakukan langsung oleh Iran atau melalui proksi; hasil strategisnya sama, dan perbedaan pelakunya adalah perbedaan tingkat, bukan jenisnya.


Keempat: Membuka front baru dalam konflik dan konfrontasi: Penargetan Mediterania dengan rudal Iran, menurut klaim Turki, menunjukkan kepada semua orang bahwa koridor udara tidak lagi aman dan bahwa Iran dapat menargetkannya di seluruh Timur Tengah. Penargetan tidak akan terbatas pada navigasi maritim atau instalasi ekonomi; wilayah udara juga merupakan target potensial. Ke mana perang ini dalam jangka waktunya akan mengarah?


Iran menginginkan—dan telah berhasil—perang ini menjadi perang yang mahal, berdampak pada ekonomi, navigasi maritim, dan infrastruktur, menyebabkan penderitaan bagi semua orang, termasuk seluruh dunia. Hal ini akan memerlukan tindakan internasional untuk menghentikannya. Jadi, berapa jangka waktu perang ini?


Jangka waktu menengah, beberapa minggu hingga beberapa bulan, tampaknya mungkin, mengingat kesediaan pemerintahan politik untuk bertindak, sebagaimana dibuktikan oleh pernyataan Trump sebelumnya tentang beberapa minggu, serta beberapa pernyataan negara Zionis, yang semuanya mengarah pada minggu pertama bulan April. Kegilaan yang meningkat dan saling tuding ini menghasilkan tekanan internasional yang sangat besar untuk bergerak ke arah ini, terutama karena situasi memburuk hingga menyebabkan kelumpuhan energi, navigasi maritim, dan udara.


Jangka waktu yang tidak terbatas: Ini berlangsung selama beberapa bulan dan dikonfirmasi jika pencegahan terkikis hingga titik di mana serangan skala besar menjadi timbal balik dan sering terjadi, gagal mencapai tujuan yang diinginkan yaitu menundukkan dan melemahkan musuh untuk keuntungan media yang diinginkan dalam perang semacam itu. Jangka waktu ini semakin diperkuat oleh terganggunya navigasi dan ketidakmampuan untuk membangun koridor aman guna mengurangi dampak krisis ekonomi dan terhambatnya rantai pasokan.


Hal ini terjadi di tengah meningkatnya perang bayangan yang dilancarkan di dunia maya dan sabotase oleh sel-sel lapangan dan cara-cara lainnya. Secara geografis, ke mana arah perang ini?


Beberapa zona perang dapat dibayangkan, yang akan meluas sesuai kebutuhan dan kemampuan Iran, dengan menggunakan rudal, drone, dan sel-sel aktif. Dengan demikian, kita dapat membayangkan empat zona perang tersebut:


Zona perang saat ini akan tetap berada di wilayah segitiga Irak, Teluk Persia, dan negeri Syam. Iran memiliki pengetahuan yang cukup tentang zona ini, termasuk bank-bank target dan kemampuan untuk memobilisasi sekutu, memastikan tindakan militernya akan menimbulkan kerugian bagi musuh dan menyebarkan penderitaan.


Zona Mediterania Timur: khususnya Siprus, tempat pangkalan-pangkalan berada, dan koridor udara di sana akan menjadi target gangguan atau pengacauan.


Zona Kaukasus: Zona ini kemungkinan akan aktif ketika Iran berupaya mengganggu keseimbangan kekuatan yang ada. Zona ini akan mencakup wilayah Kaukasus, jalur pipa, perbatasan, dan wilayah udara. Serangan terhadap Bandara Nakhchivan di Azerbaijan menjadi indikasi yang jelas tentang zona ini dan potensi aktivasinya.


Sabuk Turki-NATO: Ini adalah sabuk yang efektivitasnya terutama bersifat politis dan mencakup Turki, termasuk pangkalan-pangkalan di Atlantik. Intensitas sabuk ini menjadi jelas setiap kali pelanggaran wilayah udara atau pencegatan udara di atas Mediterania meningkat.


Prinsip dasarnya adalah bahwa setiap kali Iran gagal menimbulkan kerugian yang cukup besar pada lawannya untuk mengubah perilakunya di sabuk pertama, Iran akan meningkatkan biaya perang di medan perang yang lebih jauh, seperti yang diuraikan di atas, sambil selalu mempertahankan margin penyangkalan yang masuk akal untuk menghindari perang yang lebih luas yang melibatkan mereka yang terkena dampak di daerah yang ditargetkan untuk perluasan.



Indikator dan Ciri-Ciri


Serangkaian langkah mengkonfirmasi perluasan temporal dan geografis ini, baik sepenuhnya maupun sebagian, tergantung pada sabuk-sabuk yang disebutkan di atas:


Menargetkan Turki, Kaukasus, atau keduanya, dengan serangan dan senjata yang tidak dapat disangkal oleh Iran, sehingga Iran tidak memiliki ruang untuk menyangkal. Ini akan memicu respons langsung dari NATO dan Turki, yang secara tegas memperluas cakupan geografis perang.


Penargetan berulang terhadap infrastruktur ekonomi, terutama energi dan bandara, ditambah dengan penutupan selat, menyebabkan gangguan dan penghentian kehidupan yang berkepanjangan bagi mereka yang terkena dampak. Hal ini meningkat dari sekadar pesan menjadi gangguan yang meluas yang mencakup pengiriman, biaya asuransi, dan pengeluaran lainnya.


Secara keseluruhan, Iran tampaknya telah sepenuhnya meninggalkan garis merahnya sebelumnya setelah serangan AS-negara Zionis yang belum pernah terjadi sebelumnya, seolah-olah menyatakan: respons harus memiliki besaran dan dampak yang sama, dan tidak akan terikat oleh aturan atau garis merah apa pun yang ditetapkan sebelum serangan ini.


Namun jelas bahwa Iran ingin meningkatkan biaya perang bagi musuh dan sekutu mereka dengan mengelola ekspansi yang menimbulkan penderitaan dan berdampak tanpa harus terburu-buru menuju keancuran sendirian. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perilaku mereka diarahkan pada perang yang tidak akan berlangsung lebih dari beberapa pekan atau bulan, secara geografis berfokus pada zona konflik pertama dan meluas ke zona lain sampai batas tertentu, sambil mempertahankan ruang penyangkalan dan pembenaran yang tidak dapat dipahami dalam perang yang telah melanggar semua hukum internasional dan semua etika perang yang seharusnya.


Sumber: Pusat Studi Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “إيران وكسر الخطوط الحمراء وتوسيع مسرح الحرب” terbit 22/3/2026 diakses 24/3/2026  https://www.aljazeera.net/politics/2026/3/21/%d8%a5%d9%8a%d8%b1%d8%a7%d9%86-%d9%88%d9%83%d8%b3%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%ae%d8%b7%d9%88%d8%b7-%d8%a7%d9%84%d8%ad%d9%85%d8%b1%d8%a7%d8%a1-%d9%88%d8%aa%d9%88%d8%b3%d9%8a%d8%b9-%d9%85%d8%b3%d8%b1%d8%ad





Share: