About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Maret 2026

Kerugian AS Pasca 10 Hari Serang Iran

Amerika Serikat bersama negara Zionis, pasca 10 memulai menyerang dan dibalas serang Iran, kini tengah berada di tengah kecamuk “perang angka” dan suara tembakan dan pesawat di langit Timur Tengah.

Meskipun kedua belah pihak masing-masing melebih-lebihkan kerugian musuh dan menyembunyikan kerusakan di pihak sendiri, namun kerugian SDM dan material yang diderita AS dalam Operasi Epic Fury ini mulai terlihat.

Operasi yang dilancarkan sejak Sabtu pagi, 28 Februari, yang mengakibatkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer, dan menyerang pertahanan udara dan lokasi peluncuran rudal Iran.

Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke berbagai wilayah di negara Zionis, selain beberapa sasaran di negara-negara Teluk yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Teheran melalui media resminya mengklaim telah membuat ratusan korban tewas dan luka-luka di barisan militer AS, dan melakukan serangan kepada kapal perang dan kapal induk AS.

Mengutip situs Al Jazeera Net berikut adalah data kerugian yang diderita Amerika sejak memulai serangan gabungan skala besar melawan Iran.


Pertama: Korban Tewas

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dan Komando Pusat (CENTCOM) telah mengkonfirmasi kematian delapan personel militer AS hingga 9 Maret.

Prajurit ini tewas dalam serangan terhadap Pelabuhan Shuaiba di Kuwait sbb:

  • Mayor Jeffrey O'Brien (45 tahun).

  • Kapten Cody Khork (35 tahun).

  • Sersan Noah  Tietjens (42 tahun).

  • Sersan Nicole Amore (39 tahun).

  • Sersan Declan Coady (20 tahun).

  • Perwira Robert Marzan (54 tahun).

  • Satu orang tewas dalam serangan terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi:

  • Sersan Benjamin N. Pennington, 26 tahun, tewas pada 8 Maret akibat luka yang diderita dalam serangan pesawat tak berawak awal bulan ini.

  • Seorang prajurit Garda Nasional (yang identitasnya belum diungkapkan) tewas pada 6 Maret di Kuwait setelah mengalami kondisi darurat medis yang sedang diselidiki.


Kedua: Korban Luka-luka

Meskipun awalnya enggan, angka korban luka-luka di kalangan pasukan AS mulai muncul, ditegaskan oleh laporan media— mengutip dari pejabat militer— yang membenarkan meningkatnya angka korban luka. CNN mengutip seorang pejabat AS yang mengkonfirmasi bahwa sembilan tentara terluka parah oleh serangan Iran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam sebuah wawancara dengan program "60 Minutes," mengkonfirmasi bahwa "akan ada lebih banyak lagi korban berjatuhan," mengomentari laporan tentang tentara Amerika yang tewas.

Hegseth mengatakan, "Presiden benar ketika dia mengatakan ini akan memakan korban.. Hal semacam ini tidak terjadi tanpa menelan korban, dan akan ada lebih banyak korban jiwa. Tidak ada yang tahu—seperti generasi kita—bagaimana rasanya melihat orang Amerika pulang dalam peti mati... Tetapi ini sama sekali tidak melemahkan kita; ini memperkuat tekad dan determinasi kita untuk mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan pertempuran ini."


Ketiga: Kerugian Pesawat Tempur dan Drone

Kerugian peralatan udara adalah yang paling signifikan dalam operasi militer ini. Pejabat AS mengakui kepada CBS News bahwa 11 drone MQ-9 Reaper telah hilang sejak awal perang, dengan total biaya melebihi $330 juta.

Para analis mengaitkan tingginya angka kerugian ini dengan fakta bahwa drone-drone ini tidak dirancang untuk melawan sistem pertahanan udara Iran.

Dalam insiden terpisah, tiga jet tempur F-15E Strike Eagle jatuh dari langit Kuwait pada tanggal 1 Maret karena apa yang digambarkan sebagai "tembakan salah sasaran" dari pertahanan udara Kuwait selama pertempuran udara yang kompleks. Namun, keenam pilot tersebut selamat dan dalam kondisi stabil, menurut laporan media AS.


Keempat: Narasi Teheran

Di sisi lain, Iran melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda tentang kerugian di pihak Amerika. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa pasukan AS menderita lebih dari 650 korban tewas dan luka-luka selama dua hari pertama dari apa yang disebut Iran sebagai Operasi "Janji Sejati 4".

Naeini mengklaim bahwa serangan rudal dan drone menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain, mengakibatkan kematian dan cedera 160 pelaut dalam satu serangan, selain menyebabkan kerusakan signifikan Kapal Pendukung Tempur MST (Maritime Strike Tomahawk Support Vessel)

Garda Revolusi juga mengklaim telah meluncurkan empat rudal jelajah ke kapal induk USS Abraham Lincoln di lepas pantai Chabahar, memaksa kapal tersebut untuk "melarikan diri" ke Samudra Hindia.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS dengan cepat membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa rudal-rudal tersebut tidak mendekati kapal-kapal AS dan bahwa kapal induk tersebut masih melanjutkan operasinya di kawasan,

Angka-angka yang diumumkan sejauh ini hanyalah sebagian dari gambaran yang lebih besar tentang perang yang masih berkecamuk. Dengan semakin luas operasi militer dan perubahan kepemimpinan di Iran pasca dinobatkannya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru, Timur Tengah tampaknya memasuki fase yang lebih tidak pasti, yang dapat menyaksikan lebih lanjut semakin bertambahnya kerugian dan juga operasi militer dalam beberapa pekan mendatang. (Sumber: Al Jazeera + Pers AS)

Diterjemahkan oleh Kholid dari situs Al Jazeera Net “بعد 10 أيام من الحرب.. هذا ما نعرفه عن خسائر الجيش الأمريكي" diterbitkan pada 3/9/2026 - Terakhir diperbarui: 3/10/2026 00:08 (Waktu Mekah), diakses 10 Maret 2026 05:30 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/3/9/%D8%A8%D8%B9%D8%AF-10-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B1%D8%A8-%D9%87%D8%B0%D8%A7-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B9%D8%B1%D9%81%D9%87-%D8%B9%D9%86-%D8%AE%D8%B3%D8%A7%D8%A6%D8%B1?UTM_Source=pnsOS&UTM_Medium=push&UTM_Campaign=standard


Share:

Selasa, 03 Maret 2026

Babak Baru Perang AS-Negara Zionis Bukan Semata Membidik Program Nuklir tapi Eksistensi Iran

Diterjemahkan dan disusun kembali dari riset Al Jazeera oleh Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id 

—-

AS dan Negara Zionis meluncurkan babak baru perang melawan Iran, membunuh pimpinan tertinggi Ali Khamenei, dan titik-titik penting komando negara dan memprovokasi rakyat Iran agar mau menggulingkan rezim yang berkuasa. 

—-


Belum genap sembilan bulan sejak negara Zionis yang didukung AS menyerang Iran pada Juni tahun lalu, 28 Februari 2026 negara Zionis kembali melancarkan serangannya yang dilaporkan telah membunuh pimpinan tertinggi politik dan militer Ali Khamenei dan pimpinan Garda Revolusi Iran. 


Dalam hitungan jam pasukan AS yang berada di kawasan itu turut bergabung dalam serangan Zionis itu dan melebarkan jangkauan serangannya ke seluruh Iran.


Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal jarak menengah dan mengerahkan drone membidik titik-titik serangannya ke negara Zionis, Yordania, dan situs militer AS di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk. Oman diserang pada hari berikutnya. 


Tidak berhenti di sana, Iran meluaskan serangannya ke nadi perekonomian kawasan dimana sejak malam hari pertama, kapal-kapal komersial dilaporkan menerima peringatan dari Iran untuk tidak melintasi Selat Hormuz.


Iran, memang siap perang jika terpaksa, meskipun telah menyatakan bersiap dalam perundingan putaran ke-4 tingkat ahli dengan AS di Vienna di bawah badan nuklir IAEA. Oman -yang menjadi mediator perundingan- optimis dengan putaran ke-3 dan menggambarkannya sebagai positif dan tercapai kemajuan penting. 


Presiden AS Donald Trump memang telah memberi sinyal untuk menggunakan kekerasan. Pada 24 Februari, di hadapan Kongres menjelaskan bahwa Iran masih melanjutkan elemen program nuklirnya pasca diserang AS tahun lalu dan untuk pertama kalinya, menggambarkan rudal Iran sebagai ancaman. Iran menolak tuntutan Trump yang ingin menuntut rudal balistiknya menjadi materi tambahan negosiasi.


Sehingga Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dengan jalur perundingan meskipun ada embel-embel akan menghindari penggunaan kekerasan. Di hari yang sama pernyataan sikap Trump itu, yaitu tepatnya 27 Februari,  IAEA melaporkan ketidakpastian tentang lokasi lebih dari 9.000 kilogram uranium yang diperkaya di berbagai tingkatan, diantaranya lebih dari 400 kilogram yang sudah dikayakan di atas 60 persen. Dan di saat yang sama AS melakukan mobilisasi pasukannya secara intensif di sekitar Iran.



Keselarasan Retorika Negara Zionis dengan AS


Dalam pidato saat mengumumkan serangan terhadap Iran, Trump memang sebatas memberikan perhatian pada isu nuklir. Sambil mengingat selama lima dekade antara AS-Iran, dia mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak bisa hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini dan mendorong rakyat Iran untuk “memberontak” melawan penguasa mereka. Maksud pencopotan rezim yang sejalan dengan keinginan negara Zionis. 


Target pembunuhan para petinggi Iran mengukuhkan bahwa ini bukan semata masalah nuklir tapi lebih kepada eksistensi, kendali dan masa depan Republik Iran itu sendiri. Karenanya kemungkinan jangka pendek perang ini bertujuan melemahkan Rezim Iran dan menciptakan chaos agar terbuka jalan bagi pemberontakan dan membuat Iran berlutut dalam negosiasi selanjutnya.



Perang Jangka Pendek- Panjang 


Perang jangka pendek akan berfokus untuk melemahkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, infrastruktur drone, pelabuhan, aset angkatan laut, sistem komando dan kendali, serta fasilitas nuklir yang masih tersisa, sambil terus membidik pejabat tinggi yang masih hidup.


Dalam jangka panjang dimana perang bisa berlangsung beberapa pekan atau lebih akan menyerang infrastruktur ekonomi, pusat pemerintahan, dan mungkin lembaga budaya dan media, dengan tujuan menghancurkan pilar struktural rezim dan membuatnya mudah runtuh di tengah kerusuhan yang meluas. Ini amat sesuai dengan pilihan yang diinginkan negara Zionis..


Di sisi lain, Iran  menyadari ketidakseimbangan kekuatannya dengan musuh dan akan bertumpu dengan menaikan biaya perang. Teheran terus melakukan serangan rudal dan drone untuk melumpuhkan ekonomi negara Zionis dan negara-negara Teluk, khususnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi ekonomi global yang parah. Lebih jauh, Iran dapat mendorong aktor-aktor sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman untuk membuka front tambahan, termasuk jalur-jalur strategis maritim.


Cepat atau lambat, Iran diperkirakan akan keluar dari perang ini kehabisan tenaga. Tapi kejatuhannya tidak bisa dilakukan hanya melalui pemboman udara. Karena institusi negara Iran menyebar secara rata, dengan otoritas di berbagai badan pemerintahan dan pasukan keamanan, termasuk tentara reguler, Garda Revolusi, dinas keamanan internal, dan Basij. Sejak 2008, ketidakpuasan sosial telah meningkat, namun rezim mampu mempertahankan basis yang signifikan di berbagai wilayah dan komunitas. 


Karenanya, kerusakan parah lebih mungkin menghasilkan perselisihan dalam negeri daripada kehancuran rezim secara langsung. Tanpa invasi darat dan kontrol eksternal yang berkelanjutan, penggulingan rezim tetap tidak mungkin terjadi.


Program  nuklir dan rudal Iran juga tidak bisa dijamin dapat dihancurkan total. Stok uranium yang sudah dikayakan sudah menyebar dan tidak sepenuhnya tercatat, dan infrastruktur rudal Iran membentang di seluruh wilayah negara yang luas. Fondasi teknologi dari kedua program tersebut dikembangkan di dalam negeri dan tidak dapat dihapus hanya dengan serangan udara.


Namun demikian, konsekuensi perang akan sangat besar. Pengaruh regional Iran mungkin akan menyusut seiring rezim akan semakin menutup diri. Jika Iran mampu bertahan dengan solidaritas, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: menyesuaikan diri dengan Washington yang melibatkan penyesuaian struktural dan regional, atau ketahanan dan rekonstruksi sambil mempertahankan kemerdekaan strategis, yang berpotensi mencakup upaya penangkal program nuklir. Dalam kedua kasus tersebut, target utama perang ini bukan hanya program nuklir Iran, tetapi Republik Iran itu sendiri.


Sumber:

Riset Al Jazeera 2 Maret 2026 “Targeting the Regime: The Second Round of the US–Israeli War on Iran” diakses 3 Maret 2026 08:56 WIB  https://studies.aljazeera.net/en/policy-briefs/targeting-regime-second-round-us%E2%80%93israeli-war-iran


Share:

Sabtu, 28 Februari 2026

Timur Tengah Tegang, Negara Zionis Tipu Start Perangi Iran

Oleh: Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id

Konfrontasi militer telah meningkatkan ketegangan di Timur dengan serangan terlebih dahulu yang dilakukan negara Zionis terhadap Iran. Serangan ini memang sudah diantisipasi kalangan politik dan militer negara Zionis yang telah memprediksi serangan akan dimulai oleh negara Zionis baru diikuti oleh Amerika Serikat.


Operasi militer ini bukan sepihak, tapi merupakan gabungan negara Zionis-Amerika yang memang telah dipersiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Ini didahului oleh gerakan demonstrasi rakyat di Teheran dan kota-kota lainnya pada awal tahun ini.


Serangan militer ini dilakukan secara terpisah dengan negosiasi yang diadakan di Jenewa yang menjadi isyarat bahwa keputusan militer telah dibuat sebelumnya.



Latar Belakang Ketegangan  & Konfrontasi


Pasca serangan Juni lalu, memang babak baru konfrontasi ini  tidak dapat lagi dihindari. Dari sudut pandang negara Zionis, mereka menganggap “belum melaksanakan misi secara benar.”


Dengan dimulainya serangan, negara Zionis mengumumkan Siaga Satu dimana sirine menggema di seluruh negara itu dari Utara hingga Selatannya. Sirine serangan udara itu mulai berbunyi menyusul serangan yang menarget Tehran dan serangan ke Libanon Selatan. 


Kemendag mendesak warga agar tetap di tempat-tempat yang mereka anggap aman dan bunker perlindungan. Rumah-rumah sakit negara Zionis dalam posisi siaga satu dan dinas terkait pemerintah terus memantau situasi keamanan untuk mengantisipasi serangan balasan Iran.


Serangan yang telah diidam-idamkan negara Zionis sejak lama ini telah secara resmi diumumkan oleh Menteri Pertahanan Yisrael Katz, meskipun terdapat upaya internasional yang mengajak penyelesaian diplomatik antara Teheran dan Amerika Serikat. 


Menurut laporan Walid Al-Omari bahwa bala bantuan udara AS yang signifikan telah tiba ke negara Zionis dalam beberapa hari terakhir. Diantaranya puluhan jet tempur canggih, khususnya F-22, serta pesawat pengisi bahan bakar. Juga kapal induk AS USS Ford, yang diyakini telah berlabuh di lepas pantai Haifa Jumat malam.


Meskipun serangan ini melibatkan kerjasama di titik tertinggi antara negara Zionis dan Amerika, namun menurut Al-Omari mereka sedang menunggu kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin depan.


Penundaan kunjungan Rubio yang sebelumnya dijadwalkan Rabu lalu yang berbarengan dengan pulangnya PM India dari negara Zionis dua hari sebelumya,  sebagai indikasi apa yang nampak sebagai "upaya penyesatan informasi," bahwa negara Zionis tidak akan melancarkan serangan sebelum kedatangan Rubio. 


Namun, hari ini kita menyaksikan serangan negara Zionis telah dimulai, dengan Yisrael Katz mengumumkan bahwa serangan ini merupakan "yang permulaan dari serangan pendahuluan."  (Cho/Al Jazeera).


Share:

Kamis, 25 April 2024

Mengkaji Ulang Strategi AS di Timur Tengah: Kebangkitan Iran dan Bayang-bayang Ancaman Tiongkok

Oleh Hamid Bahrami

Dalam kompleksitas geopolitik global, serangan rudal baru-baru ini oleh Iran terhadap sasaran Israel menandai perubahan penting dalam paradigma keamanan Timur Tengah. Peristiwa ini, bukannya sebagai tindakan pencegahan, namun justru menandakan adanya keseimbangan keamanan baru di kawasan, yang sangat condong ke arah Iran. Pergeseran ini memerlukan penilaian ulang yang mendalam terhadap kebijakan luar negeri AS, khususnya mengingat tantangan strategis yang lebih luas yang ditimbulkan oleh meningkatnya kekuatan Tiongkok.


Serangan rudal Iran pada tanggal 14 April bukan sekadar serangan episodik di kawasan tersebut. Dia mewakili demonstrasi yang diperhitungkan atas peningkatan kemampuan militer Iran dan kesediaannya untuk secara langsung menghadapi kepentingan Israel. Tindakan ini secara efektif telah membatalkan kelayakan strategis koridor IMEC, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk membangun zona ekonomi dan keamanan yang dapat melawan pengaruh Iran di samping ambisi regional Rusia dan Tiongkok. Dengan kegagalan koridor tersebut, Amerika berada di persimpangan jalan dan memerlukan pendekatan baru terhadap stabilitas regional dan prioritas strategis globalnya.


Teori politik internasional realis John Mearsheimer menawarkan sebuah lensa untuk melihat perkembangan ini. Menurut Mearsheimer, negara-negara pada dasarnya termotivasi oleh upaya mengejar kekuasaan di dunia yang anarkis, di mana negara-negara besar mau tidak mau bersaing untuk menjadi kekuatan yang dominan. AS, dalam pandangan Mearsheimer, harus fokus secara strategis untuk melawan pengaruh Tiongkok, pesaing AS yang paling tangguh di panggung global. Namun, keterlibatan Amerika di Timur Tengah, khususnya dukungan membabi buta terhadap aksi Israel di bawah Perdana Menteri Netanyahu, menunjukkan kesalahan dalam mengalokasikan sumber daya dan fokus strategis secara signifikan.


Veto pemerintahan Biden baru-baru ini terhadap resolusi PBB yang mengakui status kenegaraan Palestina semakin menggambarkan kesalahan langkah ini. Tindakan ini, meskipun dimaksudkan untuk mendukung sekutunya, secara paradoks telah memperkuat posisi Iran di dunia Arab dan mengikis posisi AS di antara sekutu-sekutu tradisional Arabnya. Dengan terlihat memihak Israel tanpa syarat, AS melemahkan kredibilitas dan pengaruhnya di kawasan, dan secara tidak sengaja juga menguntungkan Rusia dan Tiongkok.


Sementara itu, Tiongkok telah memanfaatkan gangguan ini untuk memperkuat posisi ekonomi dan militernya secara global. Investasi strategisnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serta perannya dalam menengahi pembicaraan antara Arab Saudi dan Iran, menunjukkan visi jangka panjang yang bertujuan untuk memposisikan diri sebagai kekuatan penstabil dan alternatif yang layak terhadap hegemoni AS. Saat AS melebarkan tenaganya ke dalam permasalahan di Timur Tengah, Tiongkok secara diam-diam meningkatkan pengaruh globalnya, khususnya di kawasan yang penting bagi kepentingan strategis AS, seperti Laut Cina Selatan dan Indo-Pasifik.


Mengingat realitas baru di lapangan, AS harus mengubah strateginya tidak hanya untuk mengatasi dampak langsung dari meningkatnya kekuatan Iran tetapi juga untuk memfokuskan kembali pada kawasan Indo-Pasifik, di mana tantangan nyata terhadap supremasi AS dari Tiongkok semakin besar. Pembentukan negara Palestina yang merdeka muncul sebagai komponen penting dari strategi ini. Langkah tersebut akan memiliki beberapa fungsi strategis: menenangkan sekutu AS di dunia Arab, melemahkan landasan ideologis kelompok seperti Hamas, dan mengurangi pengaruh Iran terhadap proksi regionalnya.


Selain itu, mengadvokasi kedaulatan Palestina sejalan dengan norma-norma internasional yang lebih luas dan dapat membantu memulihkan kredibilitas AS dalam hal hak asasi manusia dan resolusi konflik. Hal ini juga akan memberikan sinyal kepada sekutu dan musuh bahwa AS mampu mengadaptasi strateginya dalam menanggapi perubahan dinamika geopolitik, sehingga memperkuat posisinya dalam menegosiasikan perjanjian internasional lainnya, khususnya dalam kaitannya untuk membendung ambisi Tiongkok.


Oleh karena itu, AS harus mengkalibrasi ulang kebijakan luar negerinya agar tidak hanya mampu menavigasi kompleksitas di Timur Tengah namun juga mampu mengatasi tantangan sistemik yang ditimbulkan oleh Tiongkok. Hal ini mencakup penarikan diri dari komitmen militer yang berlebihan dan, sebaliknya, memanfaatkan alat diplomatik dan ekonomi untuk menstabilkan wilayah-wilayah yang bergejolak. Pada saat yang sama, AS perlu memperkuat aliansi dan kemitraan di Indo-Pasifik, berinvestasi pada teknologi baru, dan meningkatkan kemampuan militernya untuk secara langsung melawan ekspansionisme Tiongkok.


Mengingat sikap kebijakan luar negeri Iran yang masih ambivalen, Amerika Serikat memiliki peluang penting untuk melibatkan Teheran dengan cara-cara yang berpotensi menyelaraskan kembali afiliasi regional dan aliansi globalnya. Menyadari perbedaan dan potensi fleksibilitas dalam hubungan luar negeri Iran, AS harus menjajaki semua jalur diplomatik untuk membujuk Iran agar menjauh dari pengaruh Tiongkok dan Rusia. Hal ini akan melibatkan pemanfaatan kebutuhan ekonomi Iran, masalah keamanan dan kebanggaan historis Iran terhadap kedaulatan dan pengaruh regionalnya, menghadirkan alternatif-alternatif yang lebih selaras dengan kepentingan strategis jangka panjang Iran dibandingkan yang mungkin ditawarkan oleh kemitraannya saat ini dengan Beijing dan Moskow.


Amerika berada pada momen penting di mana mereka harus memilih antara melanjutkan keterlibatannya yang memakan banyak biaya di medan pertempuran yang sia-sia seperti Timur Tengah dan Ukraina atau mengalihkan fokusnya untuk melawan manuver strategis Tiongkok. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan hasil regional, namun juga kontur dinamika kekuatan global di masa depan. Jalan ke depan memerlukan pengakuan yang jernih terhadap realitas geopolitik baru dan kemauan yang berani untuk mengupayakan stabilitas strategis jangka panjang dibandingkan keuntungan taktis jangka pendek.


Namun demikian, AS tampaknya memilih untuk terus melakukan upaya yang memakan banyak biaya, sebagaimana dibuktikan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap paket bantuan sebesar $95 miliar. Pendanaan ini terutama mendukung Ukraina dan Israel, dibandingkan mengadopsi strategi untuk membendung Tiongkok.


(Diterbitkan Middle East Monitor tanggal 22 April 2024, jam 16:00, referensi:

https://www.middleeastmonitor.com/20240422-reassessing-us-strategy-in-the-middle-east-the-rise-of-iran-and-the-overshadowed-threat-of-china/ , diterjemahkan menggunakan google translator dan di-proofreading oleh #Khalidmu)


Share:

Sabtu, 20 April 2024

Sebab Perbedaan Dalam Menafsirkan Respon Iran

Oleh: Muhammad Yasin Najjar

Masyarakat Arab dan dunia Islam, setelah 14 April 2024, berbeda pandangan dalam menilai respon Iran terhadap serangan ke konsulat Iran di Damaskus oleh Israel pada awal April dan pembunuhan para pemimpin ring satu Garda Revolusi, karena hal ini dianggap sebagai serangan langsung terhadap teritorial Iran sesuai dengan Pasal 51 hukum internasional, menganggapnya sebagai wilayah kekuasaan Iran.


Menyusul berakhirnya operasi yang diumumkan oleh Garda Revolusi Iran - yang memiliki dampak terbatas menurut standar militer dan hanya terjadi ledakan terbatas di Pangkalan Udara Navatem, Iran mengatakan: Pesawat F-35 diluncurkan dari sana - ada analisis yang  berbeda terkait respon ini, yang kemudian mengerucut jadi pertempuran sengit yang tidak dapat dinegosiasikan dalam asumsi masing-masing kelompok: satu kelompok menganggapnya sebagai induk dari semua pertempuran dan kemenangan besar bagi bangsa Arab dan dunia Islam, yang perlu didukung dan diandalkan dengan segenap kekuatan yang ada. Kelompok lain menganggapnya sebagai drama gagal yang berujung dan membuat citra buruk. Sementara hanya sedikit yang mencoba membaca kejadian tersebut secara politis, hati-hati dan obyektif, berikut memahami berbagai dimensi strategisnya terhadap kawasan Timur Tengah. 


Perbedaan ini memiliki beberapa penyebab yang obyektif, yang harus dianalisa secara cermat dan diketahui motif serta latar belakangnya agar kita dan generasi mendatang dapat mengambil manfaat dari peristiwa tersebut, apalagi umat ini masih saja terus mengulangi kesalahannya tanpa mengambil pelajaran dari masa lalu. Jadi apakah penyebab  dan motif yang berada di belakangnya tersebut?


Alasan Perbedaan Analisis


Pertama: Arena internasional yang kompleks yang sedang dialami dunia: 

pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina, ketegangan antara Amerika dan China, dan agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap Gaza membuat proses analisis menjadi rumit, terutama karena kita berada di ambang terbentuknya sebuah tatanan dunia yang baru di mana negara-negara adidaya berusaha mengkonsolidasikan pengaruhnya ke dalamnya untuk menuju abad berikutnya.


Kedua: Kedekatan dan jarak geografis dari Iran: 

Posisi sektarian Iran terhadap beberapa negara tetangga dan kejahatan yang dilakukan oleh milisinya di (Irak - Yaman - Suriah - Lebanon) memainkan peran yang berpengaruh dalam meyakinkan mereka, karena masyarakat di negara-negara tersebut sangat menderita akibat perbuatan milisi itu. dan kekuatan-kekuatan yang terkait dengannya serta hasil buruk yang diciptakannya. Oleh karena itu, meskipun kita melihat analisis-analisis yang datang dari negara-negara bagian barat Arab yang jauh dari apa yang terjadi di timur Arab serta penderitaannya dan tidak memiliki interaksi langsung dengan permasalahan ini, mereka justru membesar-besarkan dampak akan respond Iran itu di kancah dunia Arab dan Islam.


Ketiga: Agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap Gaza: 

Hal ini membuat sebagian orang menganggapnya sebagai respons yang tidak memadai atas kejahatan genosida yang masih terus berlangsung, dan dia tidak berkaitan dengan respon itu. Sementara, pihak lain memandang ini sebagai respon penting yang memiliki landasan dari pengeboman konsulaaat, di tengah-tengah kondisi dunia yang bisu atas genosida yng terjadi, dan lemahnya peran bangsa Arab dalam berbagai peristiwa di Gaza.


Keempat: Tidak menelan korban tokoh-tokoh Israel – atau lokasi penting –

Yang seimbang atau sejajar dengan tokoh-tokoh pimpinan yang dibunuh di Damaskus di dalam dan di luar konsulat.


Kelima: Perbandingan dengan isu-isu serupa dan standar ganda: 

Para analis mencoba menarik sejarah melalui apa yang terjadi di Irak sebelumnya pada masa Presiden Saddam Hussein, dan membandingkannya dengan interaksi mereka saat ini dengan Iran, dimana pada awal abad ke-21, Amerika dan Israel menuding Irak - secara salah dan - terbukti fitnah- memiliki senjata pemusnah massal, sehingga Amerika dan negara-negara yang bersekutu dengannya melakukan penyerangan dan menjajah Irak. Sementara para pengamat memandang bahwa penanganan Amerika terhadap kasus senjata nuklir Iran yang sebenarnya dilakukan dengan diplomasi maksimal, jauh dari ancaman militer, serta pengeboman “Reaktor Tammuz” yang dilakukan Israel pada tahun 1981, di luar hukum internasional, meskipun Perancis dulu yang berjasa membangunnya.


Keenam: Kelemahan Realitas Bangsa Arab: Terus berlanjutnya kelemahan Arab di tingkat regional dan global seiring dengan semakin besarnya peran Iran di tingkat regional telah membuat semua orang, terutama para ideolog, menggunakan kebijakan analisis emosional untuk menjadi alasan pembenaran atas  realitas mereka yang menyakitkan ini.


Ketujuh: Kelemahan Sistem Politik Bangsa Arab: Dunia Arab mengalami ketiadaan dinamisme dalam berpolitik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya partai politik yang efektif dan dapat diandalkan yang dapat memainkan peran utama publik dalam meningkatkan kesadaran, menjelaskan isu-isu ambigu dan membimbing masyarakat untuk melakukan apa yang menjadi kepentingan negara dan bangsanya.


Kedelapan: Minimnya Pusat-pusat Penelitian Arab yang Profesional:

Dimana pusat-pusat penelitian akan mampu menarik para pemikir dan peneliti khusus yang menghasilkan penelitian yang solid dan bereputasi baik.


Kesembilan: Lemahnya Kredibilitas Sebagian Besar Media Arab; 

Ini terjadi karena terkait lemahnya ikatan dengan sistem dan lembaga keamanan, yang membuat khalayak luas beralih ke situs jejaring sosial dan kalangan selebriti untuk memahami peristiwa tersebut.

Kesepuluh: Pernyataan mantan Presiden AS dan kandidat saat ini Donald Trump, 

yang sebelumnya berbicara tentang sandiwara yang dimainkan bersama Iran setelah kasus pembunuhan Qassem Soleimani.


Analisis ilmiah politik terhadap suatu peristiwa memerlukan perangkat ilmiah, yang paling penting adalah memahami hakikat hubungan internasional, pengetahuan sejarah, pentingnya geografi, dan penguasaan informasi yang akurat, jauh dari meremehkan atau melebih-lebihkan dan menggelitik emosi dan perasaan untuk sekedar menghasilkan banyak like atau suka dan jumlah tayang dari viewer. 


Hari-hari telah membuktikan bahwa para penguasa Iran memiliki proyek ekspansionis yang pragmatis, mahir dalam strategi “menyerang dan melarikan diri”, dan menawarkan berbagai konsesi taktis untuk memperoleh keuntungan strategis. Mereka mampu memanfaatkan alat mereka, terutama sektarianisme, sementara kolektif proyek bangsa Arab terus-menerus menderita dan mengalami kemunduran. 


Akankah peristiwa saat ini menjadi titik awal bagi umat ini untuk bangkit melalui bangkitnya para elit dan partai-partai besar nasional agar tidak bergantung pada proyek-proyek eksternal, baik regional maupun internasional, dan juga pandai dalam memasarkan kepentingan mereka dan melakukan pemboikotan bersama yang lain untuk memaksimalkan perannya dalam tatanan dunia di masa depan?


(Diterbitkan dalam bahasa Arab di blog oleh Aljazeera, tgl. 194/2024 Referensi: https://bit.ly/4aGnL8B diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share:

Selasa, 16 April 2024

Timur Tengah Telah Berubah Total

Oleh: Muhammad ‘Aesh

Serangan Iran terhadap Israel merupakan konfrontasi militer langsung pertama antara Teheran dan Tel Aviv, meskipun faktanya telah terjadi perang dingin antara kedua pihak sejak kemenangan Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979. Oleh karena itu, dimensi strategis dari serangan ini adalah: konfrontasi terbaru ini jauh lebih penting daripada hasil langsung-otomatisnya, karena konfrontasi ini merupakan perkembangan yang sangat penting di kawasan Timur Tengah.


Dimensi strategis dari konfrontasi terbaru ini jauh lebih penting dibandingkan hasil langsung-otomatisnya


Apa yang terjadi saat dini hari Ahad, 14 April, adalah bahwa Iran secara langsung menembakkan lebih dari 300 rudal dari wilayahnya, mulai dari drone hingga rudal yang ditujukan ke Israel. pada tanggal 1 April, sebuah gedung yang terhubung dengan kedutaan Korps Garda Revolusi Iran di Damaskus, gedung yang tampaknya menjadi tempat pertemuan tingkat tinggi, dibom mengakibatkan terbunuhnya seorang komandan senior Failaq Al-Quds yang berafiliasi ke Garda Revolusi, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi, serta tujuh perwira Garda Revolusi Iran lainnya.


Di masa lalu, Iran menanggapi serangan Israel secara tidak langsung, dan kadang-kadang ada pembicaraan tentang serangan elektronik yang mengganggu beberapa layanan di Israel, atau menimbulkan kerugian finansial dan ekonomi bagi penjajah, namun kali ini Teheran mengumumkan bahwa “era kesabaran strategis telah berakhir.” yang berarti bahwa mereka menganggap penargetan kedutaan besarnya di Damaskus merupakan tindakan yang melewati garis merah, dan bahwa respons terhadap serangan ini tidak boleh sesuai dengan aturan yang biasa.


Faktanya, hukum diplomatik internasional menganggap kedutaan besar di seluruh belahan dunia adalah bagian dari wilayah negara yang memiliki kedutaan tersebut, oleh karena itu kedutaan memiliki ketentuan khusus, yang berarti bahwa pemboman Israel terhadap kedutaan Iran di Damaskus bukanlah menargetkan wilayah Suriah, melainkan - menurut prinsip aturan ini berarti menargetkan langsung wilayah Iran. Oleh karena itu Iran memutuskan untuk merespons dengan cara yang sama, dan ini menjelaskan pengumuman mereka bahwa apa yang mereka lakukan konsisten dengan hukum internasional, dan berdasarkan prinsip hak mempertahankan diri yang disetujui oleh hukum dan undang-undang internasional.


Respons Iran terhadap serangan Israel, terlepas dari konsekuensi langsung dan taktisnya, menunjukkan bahwa kawasan ini sedang menyaksikan transformasi strategis yang sangat penting. Berikut ini adalah ciri-ciri paling menonjol dari transformasi ini dan makna dari respons Iran:



Israel mulai sekarang akan menanggung seribu tanggung jawab atas setiap serangan terhadap Iran


Pertama: Ada pesan jelas Iran kepada Israel dan dunia: meningkatkan tingkat respons terhadap setiap serangan yang menargetkan kepentingan Iran. Ini berarti bahwa Israel akan mempertimbangkan segala hal mulai sekarang atas setiap serangan yang menargetkan Iran. Bukti menunjukkan bahwa Israel memahami pesan ini, bahwa dewan perang Israel selama dua hari terus membahas kemungkinan tanggapan terhadap pemboman Iran, dan terjadi perbedaan pendapat yang tajam, sementara keputusan seperti ini memerlukan waktu berjam-jam, dan mungkin beberapa menit, untuk dibuat di Israel, yang berarti bahwa cara berhitung Israel juga mengalami perubahan, setelah Teheran mampu membalas dengan serangan militer langsung.



Arah serangan militer ke Israel berarti Iran mampu melancarkan petualangan militer ke negara mana pun di kawasan


Kedua: Respon dengan cara demikian akan mengalihkan pengaruh Iran di kawasan ke tingkat lain yang berbeda, karena mengarahkan serangan militer langsung terhadap Israel berarti bahwa Iran memiliki kemampuan untuk melancarkan petualangan militer dengan negara manapun di kawasan, yang berarti bahwa hitung-hitungan seluruh kawasan telah berubah, dan bahwa setiap ancaman terhadap kepentingan Iran dari negara mana pun yang bersekutu dengan Israel bisa berarti bahwa negara itu bisa terkena serangan Iran dengan satu atau lain cara.


Ketiga: Konfrontasi antara Iran dan Israel telah memperjelas perpecahan di kawasan ini antara poros yang mendukung Iran dan menolak proyek Amerika, dan poros lain yang mendukung Israel dan selaras dengan proyek Zionis.


Hal ini tampak jelas dalam pernyataan Israel yang menyebutkan bahwa tiga negara Barat dan dua negara Arab ikut serta dalam menghadapi serangan Iran, sementara beberapa drone dan rudal diluncurkan dari Lebanon, Irak, dan Yaman, yang berarti konfrontasi tersebut terjadi antara beberapa kubu dan tidak terbatas pada Iran dan Israel.


Konfrontasi ini sekali lagi menunjukkan kemunduran Amerika di Timur Tengah


Keempat: Konfrontasi ini sekali lagi mengungkap kemunduran Amerika di kawasan Timur Tengah, dan menurunnya peran Washington, yang menegaskan bahwa kawasan saat ini tidak seperti pada akhir abad lalu, ketika Irak harus membayar mahal atas tindakannya membom Israel dengan rudal “jelajah”, dan kemunduran Amerika ini dibaca dengan baik oleh Iran dan dibelakangnya Rusia  dan bergerak berdasarkan basisnya.


Yang menegaskan kemunduran ini adalah bahwa Amerika Serikat menyampaikan kepada Tel Aviv segera setelah serangan itu bahwa pihaknya tidak akan turut serta dalam operasi kontra-militer Israel, dan pada saat yang sama memperingatkan Iran agar tidak menyerang pangkalan dan kepentingan Amerika di Timur Tengah. Pesannya jelas, yaitu bahwa Washington tidak akan berperang atas nama Israel dan tidak akan melakukan pertempuran apa pun demi kepentingan Israel, dan tidak menjadikan Amerika sebagai sasaran Iran berarti menjaga Amerika Serikat tetap netral dalam konflik ini.


Perlu dicatat bahwa tidak diragukan lagi banyak pertanyaan yang muncul di kalangan masyarakat, dan seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang logis, termasuk alasan pemberitahuan waktu serangan sebelum dilakukan. Dan alasan mengapa serangan tersebut tidak menimbulkan korban manusia yang berarti. Jawabannya ada dalam dua hal: yang pertama, Iran telah memberi tahu negara-negara tetangga dan sekutunya terlebih dahulu untuk berkoordinasi, memastikan sikap, dan menjamin bahwa situasi tidak lepas kendali. Kedua Iran sangat ingin – jelas sekali – untuk tidak terlibat dalam perang, dan membatasi operasinya hanya pada respons militer terbatas. Penting juga untuk menunjukkan bahwa alasan utama mengapa Israel tidak menderita kerugian besar adalah karena rudal dan drone dicegat ratusan kilometer sebelum mereka tiba, sehingga sangat sedikit dari mereka yang mencapai target yang dituju.


(Diterbitkan www.arabi21.com, tgl 16 April 2024 05:15 am,  Referensi: https://bit.ly/4aNnUXy diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share: