About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Selasa, 10 Februari 2026

Radio Negara Zionis: Persiapan Dimulai Bagi Kedatangan Ribuan Pasukan Indonesia di Gaza

 10/2/2026 Terakhir diperbarui: 03:21 (Waktu Mekah)

Lembaga Penyiaran Negara Zionis melaporkan bahwa persiapan telah dimulai bagi kedatangan ribuan pasukan Indonesia di Jalur Gaza untuk bertugas sebagai bagian dari pasukan stabilisasi internasional yang termasuk dalam rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang negara Zionis di Gaza.


Dalam laporan kemarin, Senin, Lembaga Penyiaran negara Zionis menyatakan bahwa "persiapan telah dimulai di lapangan untuk menampung pasukan Indonesia di Gaza, yang akan diintegrasikan ke dalam pasukan stabilisasi internasional." Disebutkan bahwa belum ada tanggal pasti untuk kedatangan pasukan tersebut, tetapi pasukan asing pertama yang diharapkan tiba di Gaza adalah dari Indonesia.


Lembaga penyiaran itu menjelaskan bahwa sebuah area di Jalur Gaza selatan, antara kota Rafah dan Khan Younis, telah disiapkan untuk menerima pasukan Indonesia.


Lembaga penyiaran itu mengutip sumber anonim yang mengatakan bahwa area yang ditunjuk "sudah siap," tetapi proses persiapan bangunan dan akomodasi di sana "akan memakan waktu beberapa pekan."


Ia menambahkan, "Jumlah pasukan Indonesia diperkirakan mencapai beberapa ribu, dan diskusi sudah berlangsung dengan Jakarta mengenai rencana awal pengerahan pasukan Indonesia dan bagaimana mereka akan dikirim ke Gaza."


Belum ada komentar langsung dari Indonesia atau pasukan penjaga perdamaian PBB mengenai laporan negara Zionis tersebut.


Pasukan penjaga perdamaian PBB bertanggung jawab atas operasi keamanan di Gaza, perlucutan senjata, dan memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi ke Jalur Gaza.


Langkah ini merupakan bagian dari fase kedua rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang di Gaza, yang didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, yang diadopsi pada 17 November 2015.


Pada 16 Januari, Gedung Putih mengumumkan adopsi struktur pemerintahan transisi untuk Gaza, termasuk Dewan Perdamaian, Dewan Eksekutif Gaza, Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, dan Pasukan Stabilisasi Internasional.


Perjanjian gencatan senjata, yang berlaku sejak 10 Oktober 2015, mengakhiri perang genosida selama dua tahun yang mengakibatkan lebih dari 72.000 syahid warga Palestina dan lebih dari 171.000 luka-luka, serta kerusakan luas yang memengaruhi sekitar 90% infrastruktur sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi sekitar $70 miliar.


Sumber: Al Jazeera + Anadolu Agency



Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “الإذاعة الإسرائيلية: بدء الاستعدادات لوصول آلاف الجنود الإندونيسيين لغزة” terbit 10 Februari 2026 diakses 10 Februari 2026 12:07  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/10/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B0%D8%A7%D8%B9%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84%D9%8A%D8%A9-%D8%A8%D8%AF%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%B9%D8%AF%D8%A7%D8%AF%D8%A7%D8%AA


Share:

Negara Zionis Gunakan Senjata yang Menguapkan Ribuan Mayat di Gaza

9 Februari 2026 Terakhir diperbarui: 10 Februari 2026, 00:43 (Waktu Mekah)


Dalam investigasi yang mengejutkan, Acara "Kisah Berlanjut" mengungkapkan kesaksian lapangan dan laporan resmi yang mendokumentasikan penguapan mayat ribuan syuhada di Jalur Gaza. Ini adalah akibat dari penggunaan senjata terlarang secara internasional oleh militer penjajah negara Zionis dengan efek termal dan vakum yang menghancurkan.


Menurut investigasi "Yang Menguap”, yang ditayangkan di Al Jazeera pada Senin malam, laporan dari Pertahanan Sipil di Gaza, bersama dengan kesaksian dari paramedis dan keluarga, mendokumentasikan menguapnya lebih dari 2.842 mayat syuhada. Tidak ada jejak mereka yang ditemukan kecuali percikan darah dan sedikit sisa-sisa tubuh manusia di lokasi yang menjadi target.


Data menunjukkan bahwa serangan-serangan ini dilakukan menggunakan bahan peledak termo-vakum dan bahan peledak yang dikuatkan difusinya, menghasilkan panas yang dapat mencapai 3.500 derajat celcius, dan tekanan yang sangat besar yang menyebabkan penguapan cairan dalam tubuh dan transformasi jaringan menjadi abu.


Laporan investigasi tersebut mencakup kesaksian yang mengerikan, di antaranya kesaksian Rafiq Badran, yang menggambarkan bagaimana jasad keempat anaknya lenyap selama pemboman hebat yang menghancurkan puluhan rumah. Ia menegaskan bahwa ia hanya menemukan "pasir hitam" dan sisa-sisa tubuh yang berserakan.


Yasmin, ibu dari Saad, yang syahid menceritakan bagaimana ia mencari jasad putranya di rumah sakit, kamar mayat, dan masjid setelah pemboman Sekolah Al-Tabi'in di kelurahan Al-Daraj, sebelah timur Kota Gaza, sebelum kemudian memastikan bahwa putranya telah menghilang tanpa jejak.


Dinas Pertahanan Sipil di Gaza, melalui juru bicaranya, Mayor Mahmoud Basal, menegaskan bahwa tim mereka menemukan kasus berulang di mana sejumlah orang dilaporkan berada di dalam rumah-rumah yang menjadi target, sementara jumlah jasad yang ditemukan lebih sedikit daripada jumlah yang tercatat. Hal ini menyebabkan kesimpulan bahwa beberapa jasad telah "lenyap sepenuhnya," sebuah fenomena yang ia gambarkan sebagai hal yang tak terbayangkan dalam operasi lapangan sebelum perang ini.



Penguapan Mayat


Secara teknis, investigasi tersebut menyajikan pendapat para ahli, termasuk Yosri Abu Shadi, mantan kepala inspektur Badan Energi Atom Internasional, yang menjelaskan bahwa senjata yang menggabungkan panas ekstrem dan tekanan tinggi mampu menghancurkan sel-sel manusia dan menyebabkan pemusnahan total.


Menurut Abu Shadi, fenomena "penguapan mayat" bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peperangan modern. Ia menunjukkan bahwa adegan serupa tercatat selama invasi Amerika ke Irak, khususnya dalam pertempuran Fallujah pada tahun 2004 dan 2005, ketika senjata termobarik berdaya ledak tinggi digunakan, yang mengakibatkan hangusnya atau hilangnya mayat korban di lokasi pemboman.


Pakar tersebut menegaskan bahwa apa yang terjadi di Irak kemudian menjadi subjek investigasi internasional, menekankan bahwa pengulangan pola yang sama di Gaza memperkuat hipotesis bahwa penjajah menggunakan senjata yang dilarang secara internasional, yang dapat digunakan secara hukum untuk menuntut mereka yang bertanggung jawab atas tindakan ini sebagai kejahatan perang sepenuhnya.


Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Dr. Munir Al-Barsh, juga menunjukkan bahwa tubuh manusia terdiri dari sekitar 80% air, yang menjadikan paparan panas tinggi, tekanan, dan oksidasi sebagai penyebab langsung penguapan secara total.



Senjata yang Dilarang Secara Internasional


Investigasi tersebut melacak jenis amunisi tertentu yang diduga digunakan, termasuk bom buatan Amerika seperti MK-84, yang dikenal sebagai "Hammer," dan bom penghancur bunker BLU-109, serta bom berpemandu presisi seperti GBU-39 dan rudal Hellfire. Amunisi ini mampu menciptakan ledakan suhu tinggi di dalam ruang tertutup, dengan kerusakan yang relatif terbatas pada struktur yang terlihat, tetapi mengakibatkan hilangnya nyawa secara luas.


Investigasi tersebut juga mengandalkan studi ilmiah yang dipublikasikan—termasuk satu di situs web ScienceDirect—yang mengkonfirmasi bahwa bahan peledak termobarik lebih kuat hingga lima kali daripada bom konvensional dan beroperasi dalam tiga fase mematikan: gelombang panas super, diikuti oleh gelombang tekanan yang intens, dan kemudian bola api yang menyebar di dalam ruang tertutup, membakar semua yang dicapainya.


Dari sudut pandang hukum, investigasi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan jenis senjata ini di daerah padat penduduk menimbulkan pertanyaan serius tentang pelanggaran hukum humaniter internasional, khususnya prinsip pembedaan dan proporsionalitas.


Meskipun negara Zionis secara resmi membantah menggunakan senjata terlarang, organisasi internasional—termasuk Amnesty International—telah mendokumentasikan penggunaan beberapa amunisi tersebut di Gaza dalam laporan-laporan sebelumnya.


Dengan hilangnya jenazah secara berulang-ulang, penyelidikan mempertanyakan, "Jika senjata yang dilarang secara internasional tidak digunakan, apa yang menjelaskan pola hilangnya jenazah yang berulang ini? Dan mengapa mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan yang merampas hak orang untuk dimakamkan dengan layak belum dimintai pertanggungjawaban?"


Awal tahun ini, Brigadir Jenderal Raed al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, menyatakan bahwa 10.000 jenazah warga Palestina masih berada di bawah reruntuhan, menekankan bahwa blokade negara Zionis yang terus berlanjut yang mencegah masuknya alat berat dan peralatan menghambat penarikan keluar jenazah tersebut.


Dalam statistik terbarunya, Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan pada hari Senin bahwa jumlah warga Palestina yang syahid dalam perang genosida negara Zionis telah meningkat menjadi 72.032, selain 171.661 yang terluka, sejak 8 Oktober 2023.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “تحقيق "للقصة بقية": إسرائيل استخدمت أسلحة أدت لتبخر آلاف الجثامين بغزة” terbit 9 Februari 2026 diakses 10 Februari 2026 10:59 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/9/%D8%AA%D8%AD%D9%82%D9%8A%D9%82-%D9%84%D9%84%D9%82%D8%B5%D8%A9-%D8%A8%D9%82%D9%8A%D8%A9-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AE%D8%AF%D9%85%D8%AA



Share: