About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Hanukkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanukkah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Desember 2025

Bahaya yang Mengintai Masjid Al-Aqsa di Hari Raya Hanukkah?

 Jumat, 12 Desember 2025, 09:19 Pusat Informasi Palestina


Kelompok-kelompok pemukim bersiap untuk melakukan serangan besar-besaran ke kompleks Masjid Al-Aqsa pekan depan, bertepatan dengan hari raya Yahudi Hanukkah, meskipun hari pertamanya jatuh pada tanggal 15 Desember.


Pemerintah Provinsi Al-Quds menyatakan dalam siaran pers yang diterima oleh Pusat Informasi Palestina bahwa Masjid Al-Aqsa akan menyaksikan terjadinya agresi yang meningkat Ahad depan pada kesempatan yang disebut Festival Cahaya, Hanukkah, yang menutup musim serangan Yahudi ke Al-Aqsa tahun ini, di tengah peringatan akan berbagai eskalasi dan pelanggaran terhadap situs-situs suci milik umat Islam.


Perayaan hari raya ini berlangsung selama delapan hari, di mana orang Yahudi menyalakan lilin, berdasarkan narasi yang mengklaim kemenangan Hasmonean atas Yunani dan perubahan kekuasaan di Al-Quds pada abad ke-2 SM.


Narasi ini didasarkan pada legenda yang mengatakan bahwa sebuah wadah kecil berisi minyak menyalakan menorah selama delapan hari.


Setiap tahun, kelompok-kelompok ekstremis Al-Ma’bad berusaha menghubungkan hari raya ini dengan kompleks Masjid Al-Aqsa melalui serangan terorganisir dan upaya untuk membawa menorah ke dalam kompleks tersebut. Para penyusup juga secara konsisten menyalakan lilin di dalam masjid pada setiap kesempatan.


Di antara pelanggaran yang tercatat tahun lalu adalah pelaksanaan ritual Taurat dan pemakaian tefillin (sepasang kotak kulit hitam kecil berisi gulungan perkamen bertuliskan ayat-ayat Taurat yang dikenakan pria Yahudi saat doa pagi hari kerja sebagai simbol perjanjian dan pengingat akan perintah Tuhan - pent.) di dalam masjid, selain menyalakan lilin. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir termasuk di antara mereka yang menyerbu kompleks tersebut.


Menurut statistik dari Departemen Wakaf Islam di Al-Quds, 2.556 pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsa selama liburan Hanukkah tahun lalu, dibandingkan dengan 1.332 pada tahun 2023 dan 1.800 pada tahun sebelumnya.


Sebagai persiapan untuk tahun ini, sebuah menorah besar didirikan pada tanggal 7 Desember di Lapangan Al-Buraq yang berdekatan dengan Tembok Barat masjid, untuk dinyalakan setiap hari saat matahari terbenam. Menorah lainnya juga ditempatkan di dekat gerbang masjid, khususnya Gerbang Mughrabi dan Gerbang Al-Asbath.



Memperkuat Eksistensi Yahudi di Al-Aqsa


Peneliti bidang Al-Quds, Fakhri Abu Diab, menyatakan keprihatinan mendalam atas apa yang ia gambarkan sebagai pelanggaran serius yang diperkirakan akan terjadi terhadap Masjid Al-Aqsa dalam beberapa hari mendatang, menjelang hari raya Yahudi yang disebut "Hanukkah", yang dimulai pada tanggal 25 Desember dan berlangsung selama delapan hari.


Dalam pernyataan pers, Abu Diab menjelaskan bahwa periode liburan kemungkinan akan menyaksikan peningkatan serangan oleh sejumlah besar pemukim ekstremis dan anggota kelompok Bukit Bait Suci, yang secara terbuka didukung oleh pemerintah negara Zionis sayap kanan, dalam upaya untuk memperkuat kehadiran Yahudi di dalam masjid dan memaksakan realitas Yahudi yang baru.


Ia menjelaskan bahwa para penyusup akan melakukan ritual Talmud di depan umum dan melakukan tarian provokatif di halaman masjid, dengan beberapa di antaranya kemungkinan mencoba menyalakan lilin Hanukkah di dalam kompleks Al-Aqsa, yang mencerminkan keyakinan mereka bahwa itu adalah "kuil Yahudi" dan bukan masjid Islam.



Fase Paling Berbahaya bagi Al-Aqsa


Abu Diab menjelaskan bahwa para menteri dan anggota Knesset penganut Zionis ekstremis akan secara langsung berpartisipasi dalam memimpin serangan-serangan ini, dalam upaya yang jelas untuk memaksakan apa yang disebut "kedaulatan Yahudi" atas Al-Aqsa, dan mungkin membuka jalan bagi langkah-langkah terkait pembagian wilayahnya, terutama di area timur yang menempel dengan area shalat Bab al-Rahma.


Ia menjelaskan bahwa pasukan penjajah akan memperketat pembatasan masuknya jamaah Palestina dan Muslim, serta melarang mereka yang berjaga di masjid dan mencegah pengunjung dari Tepi Barat dan Al-Dakhil yang dijajah, dengan tujuan mengosongkan masjid dan mempermudah pelaksanaan ritual Talmud tanpa hambatan.


Abu Diab menggambarkan hari-hari mendatang sebagai “salah satu fase paling berbahaya yang pernah dihadapi Masjid Al-Aqsa,” dengan memanfaatkan keadaan geopolitik saat ini yang mendorong penjajah dan kelompok-kelompok Al-Haikal untuk semakin meningkatkan aksi mereka.


Sebagai penutup, peneliti Al-Quds tersebut menyerukan kepada warga Palestina di Al-Quds, Tepi Barat, dan di dalam Garis Hijau untuk berjuang pergi menuju ke Al-Aqsa dan berdiam berjaga-jaga senantiasa selama liburan Idul Fitri, dan untuk meluncurkan kampanye kesadaran yang luas di kalangan msyarakat Palestina, Arab, dan Islam demi menolong Al-Quds dan tempat-tempat sucinya.





Mengapa Ambisius mengaitkan hari-hari raya ini dengan Al-Aqsa?


Dari perspektif politik dan agama, aktivis politik dan Islam Kamal Khatib berpendapat bahwa ambisi kelompok ekstremis untuk menghubungkan Hanukkah dengan Al-Aqsa mencerminkan proyek ideologis yang tidak terkait dengan agama, tetapi lebih merupakan perebutan atas tanah dan tempat. Ia menunjukkan bahwa ini mirip dengan hari raya Sejed kaum Yahudi Ethiopia, di mana kelompok-kelompok ini diserukan untuk menyerbu masjid.


Al-Khatib menjelaskan bahwa para pemukim menerapkan kebijakan selangkah demi selangkah, menguji reaksi setelah setiap serangan baru ke Masjid Al-Aqsa. Ia menjelaskan bahwa respons yang kurang antusias dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong mereka untuk memajukan proyek-proyek mereka, mulai dari menyalakan lilin hingga menuntut masuknya buku-buku dan ritual keagamaan, menurut Al Jazeera Net.


Ia menggambarkan fase saat ini sebagai fase ketidakaktifan bangsa Arab dan Islam dalam menghadapi peningkatan kebijakan negara Zionis terhadap Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds, yang membuka jalan bagi pelanggaran lebih lanjut selama Hanukkah, dan mungkin selama Ramadan, Paskah, dan hari-hari raya selanjutnya..


Sebagai penutup, Al-Khatib menekankan bahwa pertanyaan "Apa yang harus dilakukan?" telah menjadi menyakitkan mengingat tidak adanya peran bangsa Arab dan Islam serta suara-suara yang terbungkam. Ia menegaskan bahwa harapan yang tersisa terletak pada keteguhan hati warga Al-Quds dan Palestina di dalam perbatasan tahun 1948, yang merupakan katup pengaman bagi Al-Aqsa melalui kehadiran dan hubungan mereka yang terus-menerus dengannya, "sampai tiba saatnya Umat ini merebut kembali perannya dan mematahkan belenggu pada Masjid Al-Aqsa yang diberkahi."


Sumber Pusat Informasi Palestina terbit 12/12/2025 “ماذا ينتظر الأقصى في عيد الحانوكاه اليهودي؟” diakses 13 Desember 2025 16:56 https://palinfo.com/news/2025/12/12/985143/


Share: