About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Selasa, 03 Maret 2026

Babak Baru Perang AS-Negara Zionis Bukan Semata Membidik Program Nuklir tapi Eksistensi Iran

Diterjemahkan dan disusun kembali dari riset Al Jazeera oleh Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id 

—-

AS dan Negara Zionis meluncurkan babak baru perang melawan Iran, membunuh pimpinan tertinggi Ali Khamenei, dan titik-titik penting komando negara dan memprovokasi rakyat Iran agar mau menggulingkan rezim yang berkuasa. 

—-


Belum genap sembilan bulan sejak negara Zionis yang didukung AS menyerang Iran pada Juni tahun lalu, 28 Februari 2026 negara Zionis kembali melancarkan serangannya yang dilaporkan telah membunuh pimpinan tertinggi politik dan militer Ali Khamenei dan pimpinan Garda Revolusi Iran. 


Dalam hitungan jam pasukan AS yang berada di kawasan itu turut bergabung dalam serangan Zionis itu dan melebarkan jangkauan serangannya ke seluruh Iran.


Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal jarak menengah dan mengerahkan drone membidik titik-titik serangannya ke negara Zionis, Yordania, dan situs militer AS di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk. Oman diserang pada hari berikutnya. 


Tidak berhenti di sana, Iran meluaskan serangannya ke nadi perekonomian kawasan dimana sejak malam hari pertama, kapal-kapal komersial dilaporkan menerima peringatan dari Iran untuk tidak melintasi Selat Hormuz.


Iran, memang siap perang jika terpaksa, meskipun telah menyatakan bersiap dalam perundingan putaran ke-4 tingkat ahli dengan AS di Vienna di bawah badan nuklir IAEA. Oman -yang menjadi mediator perundingan- optimis dengan putaran ke-3 dan menggambarkannya sebagai positif dan tercapai kemajuan penting. 


Presiden AS Donald Trump memang telah memberi sinyal untuk menggunakan kekerasan. Pada 24 Februari, di hadapan Kongres menjelaskan bahwa Iran masih melanjutkan elemen program nuklirnya pasca diserang AS tahun lalu dan untuk pertama kalinya, menggambarkan rudal Iran sebagai ancaman. Iran menolak tuntutan Trump yang ingin menuntut rudal balistiknya menjadi materi tambahan negosiasi.


Sehingga Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dengan jalur perundingan meskipun ada embel-embel akan menghindari penggunaan kekerasan. Di hari yang sama pernyataan sikap Trump itu, yaitu tepatnya 27 Februari,  IAEA melaporkan ketidakpastian tentang lokasi lebih dari 9.000 kilogram uranium yang diperkaya di berbagai tingkatan, diantaranya lebih dari 400 kilogram yang sudah dikayakan di atas 60 persen. Dan di saat yang sama AS melakukan mobilisasi pasukannya secara intensif di sekitar Iran.



Keselarasan Retorika Negara Zionis dengan AS


Dalam pidato saat mengumumkan serangan terhadap Iran, Trump memang sebatas memberikan perhatian pada isu nuklir. Sambil mengingat selama lima dekade antara AS-Iran, dia mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak bisa hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini dan mendorong rakyat Iran untuk “memberontak” melawan penguasa mereka. Maksud pencopotan rezim yang sejalan dengan keinginan negara Zionis. 


Target pembunuhan para petinggi Iran mengukuhkan bahwa ini bukan semata masalah nuklir tapi lebih kepada eksistensi, kendali dan masa depan Republik Iran itu sendiri. Karenanya kemungkinan jangka pendek perang ini bertujuan melemahkan Rezim Iran dan menciptakan chaos agar terbuka jalan bagi pemberontakan dan membuat Iran berlutut dalam negosiasi selanjutnya.



Perang Jangka Pendek- Panjang 


Perang jangka pendek akan berfokus untuk melemahkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, infrastruktur drone, pelabuhan, aset angkatan laut, sistem komando dan kendali, serta fasilitas nuklir yang masih tersisa, sambil terus membidik pejabat tinggi yang masih hidup.


Dalam jangka panjang dimana perang bisa berlangsung beberapa pekan atau lebih akan menyerang infrastruktur ekonomi, pusat pemerintahan, dan mungkin lembaga budaya dan media, dengan tujuan menghancurkan pilar struktural rezim dan membuatnya mudah runtuh di tengah kerusuhan yang meluas. Ini amat sesuai dengan pilihan yang diinginkan negara Zionis..


Di sisi lain, Iran  menyadari ketidakseimbangan kekuatannya dengan musuh dan akan bertumpu dengan menaikan biaya perang. Teheran terus melakukan serangan rudal dan drone untuk melumpuhkan ekonomi negara Zionis dan negara-negara Teluk, khususnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi ekonomi global yang parah. Lebih jauh, Iran dapat mendorong aktor-aktor sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman untuk membuka front tambahan, termasuk jalur-jalur strategis maritim.


Cepat atau lambat, Iran diperkirakan akan keluar dari perang ini kehabisan tenaga. Tapi kejatuhannya tidak bisa dilakukan hanya melalui pemboman udara. Karena institusi negara Iran menyebar secara rata, dengan otoritas di berbagai badan pemerintahan dan pasukan keamanan, termasuk tentara reguler, Garda Revolusi, dinas keamanan internal, dan Basij. Sejak 2008, ketidakpuasan sosial telah meningkat, namun rezim mampu mempertahankan basis yang signifikan di berbagai wilayah dan komunitas. 


Karenanya, kerusakan parah lebih mungkin menghasilkan perselisihan dalam negeri daripada kehancuran rezim secara langsung. Tanpa invasi darat dan kontrol eksternal yang berkelanjutan, penggulingan rezim tetap tidak mungkin terjadi.


Program  nuklir dan rudal Iran juga tidak bisa dijamin dapat dihancurkan total. Stok uranium yang sudah dikayakan sudah menyebar dan tidak sepenuhnya tercatat, dan infrastruktur rudal Iran membentang di seluruh wilayah negara yang luas. Fondasi teknologi dari kedua program tersebut dikembangkan di dalam negeri dan tidak dapat dihapus hanya dengan serangan udara.


Namun demikian, konsekuensi perang akan sangat besar. Pengaruh regional Iran mungkin akan menyusut seiring rezim akan semakin menutup diri. Jika Iran mampu bertahan dengan solidaritas, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: menyesuaikan diri dengan Washington yang melibatkan penyesuaian struktural dan regional, atau ketahanan dan rekonstruksi sambil mempertahankan kemerdekaan strategis, yang berpotensi mencakup upaya penangkal program nuklir. Dalam kedua kasus tersebut, target utama perang ini bukan hanya program nuklir Iran, tetapi Republik Iran itu sendiri.


Sumber:

Riset Al Jazeera 2 Maret 2026 “Targeting the Regime: The Second Round of the US–Israeli War on Iran” diakses 3 Maret 2026 08:56 WIB  https://studies.aljazeera.net/en/policy-briefs/targeting-regime-second-round-us%E2%80%93israeli-war-iran


Share:

Sabtu, 28 Februari 2026

Timur Tengah Tegang, Negara Zionis Tipu Start Perangi Iran

Oleh: Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id

Konfrontasi militer telah meningkatkan ketegangan di Timur dengan serangan terlebih dahulu yang dilakukan negara Zionis terhadap Iran. Serangan ini memang sudah diantisipasi kalangan politik dan militer negara Zionis yang telah memprediksi serangan akan dimulai oleh negara Zionis baru diikuti oleh Amerika Serikat.


Operasi militer ini bukan sepihak, tapi merupakan gabungan negara Zionis-Amerika yang memang telah dipersiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Ini didahului oleh gerakan demonstrasi rakyat di Teheran dan kota-kota lainnya pada awal tahun ini.


Serangan militer ini dilakukan secara terpisah dengan negosiasi yang diadakan di Jenewa yang menjadi isyarat bahwa keputusan militer telah dibuat sebelumnya.



Latar Belakang Ketegangan  & Konfrontasi


Pasca serangan Juni lalu, memang babak baru konfrontasi ini  tidak dapat lagi dihindari. Dari sudut pandang negara Zionis, mereka menganggap “belum melaksanakan misi secara benar.”


Dengan dimulainya serangan, negara Zionis mengumumkan Siaga Satu dimana sirine menggema di seluruh negara itu dari Utara hingga Selatannya. Sirine serangan udara itu mulai berbunyi menyusul serangan yang menarget Tehran dan serangan ke Libanon Selatan. 


Kemendag mendesak warga agar tetap di tempat-tempat yang mereka anggap aman dan bunker perlindungan. Rumah-rumah sakit negara Zionis dalam posisi siaga satu dan dinas terkait pemerintah terus memantau situasi keamanan untuk mengantisipasi serangan balasan Iran.


Serangan yang telah diidam-idamkan negara Zionis sejak lama ini telah secara resmi diumumkan oleh Menteri Pertahanan Yisrael Katz, meskipun terdapat upaya internasional yang mengajak penyelesaian diplomatik antara Teheran dan Amerika Serikat. 


Menurut laporan Walid Al-Omari bahwa bala bantuan udara AS yang signifikan telah tiba ke negara Zionis dalam beberapa hari terakhir. Diantaranya puluhan jet tempur canggih, khususnya F-22, serta pesawat pengisi bahan bakar. Juga kapal induk AS USS Ford, yang diyakini telah berlabuh di lepas pantai Haifa Jumat malam.


Meskipun serangan ini melibatkan kerjasama di titik tertinggi antara negara Zionis dan Amerika, namun menurut Al-Omari mereka sedang menunggu kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin depan.


Penundaan kunjungan Rubio yang sebelumnya dijadwalkan Rabu lalu yang berbarengan dengan pulangnya PM India dari negara Zionis dua hari sebelumya,  sebagai indikasi apa yang nampak sebagai "upaya penyesatan informasi," bahwa negara Zionis tidak akan melancarkan serangan sebelum kedatangan Rubio. 


Namun, hari ini kita menyaksikan serangan negara Zionis telah dimulai, dengan Yisrael Katz mengumumkan bahwa serangan ini merupakan "yang permulaan dari serangan pendahuluan."  (Cho/Al Jazeera).


Share:

Jumat, 27 Februari 2026

Syuhada dan Korban Luka-luka Berguguran akibat Serangan Udara Zionis yang Membidik Kamp Pengungsi Al-Bureij dan Kantor Polisi di Khan Younis

Foto Pusat Informasi Palestina

Jumat, 27 Februari 2026, 07:39 - Pusat Informasi Palestina

Serangan udara negara Zionis pada Jumat pagi mengakibatkan gugurnya empat warga Palestina, termasuk petugas polisi, dan melukai beberapa lainnya. Serangan tersebut membidik dua kantor polisi Palestina di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, dan kamp pengungsi al-Bureij di Jalur Gaza tengah, sebagai kelanjutan pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025.


Tiga warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka dalam serangan pesawat tak berawak negara Zionis yang menargetkan kantor polisi Palestina di persimpangan al-Maslakh di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan.


https://x.com/PalinfoAr/status/2027249441854370189?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2027249441854370189%7Ctwgr%5Ee901e84d479e7d8cef58488fb45fef8cca55d059%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F27%2F994275%2F

Para syuhada diidentifikasi sebagai Khaled al-Zayan, Hassan Hamed, dan Ali Basem Abu Shamala. Korban luka dan jenazah dipindahkan ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis untuk perawatan dan prosedur medis yang diperlukan.


Serangan serupa menargetkan kantor polisi Palestina di kamp pengungsi al-Bureij, menewaskan satu petugas dan melukai satu lainnya secara serius.


https://x.com/Sa7atPl/status/2027255033448837229?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2027255033448837229%7Ctwgr%5Ee901e84d479e7d8cef58488fb45fef8cca55d059%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F27%2F994275%2F

Kementerian Dalam Negeri mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur negara Zionis membom pos pemeriksaan polisi di Jalan Salah al-Din di pintu masuk kamp al-Bureij di Jalur Gaza tengah, mengakibatkan syahid  satu petugas dan melukai satu lainnya secara serius.


Pada hari Kamis, tiga warga Palestina syahid dan lainnya terluka, satu di antaranya meninggal karena luka-lukanya, sementara dua lainnya syahid dalam serangan udara negara Zionis yang menargetkan sekelompok warga sipil di dekat Taman al-Mahatta di kelurahan al-Tuffah, timur laut Kota Gaza.


Menurut laporan harian yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza pada hari Kamis, pelanggaran negara Zionis sejak gencatan senjata pada 11 Oktober telah mengakibatkan 618 warga Palestina syahid dan 1.663 menderita luka-luka.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “شهداء وجرحى في قصف إسرائيلي استهدف نقطتي شرطة بخانيونس والبريج” terbit 27/2/2026 diakses 27/2/2026 17:08  https://palinfo.com/news/2026/02/27/994275/


Share:

Negara Zionis Tebar Pasukan dan Pos-pos Pemeriksaan untuk Batasi Shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa


27 Februari 2026 - Terakhir diperbarui: 11:58 (Waktu Mekah)

Tentara negara Zionis mengerahkan sejumlah besar pasukan, termasuk perwira, di pos-pos pemeriksaan Tepi Barat yang menuju Al-Quds pada hari Jumat, sebagai bagian dari tindakan pengetatan untuk menghalangi akses warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa pada Jumat kedua bulan Ramadhan.


Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa ribuan warga Palestina berbondong-bondong ke Masjid Al-Aqsa di Al-Quds, melewati pos pemeriksaan Qalandiya di utara Al-Quds dan pos pemeriksaan Kubah Rachel di Betlehem di selatan, untuk melaksanakan salat Jumat kedua bulan Ramadhan.


Tahun ini, pasukan penjajah memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya jamaah dari Tepi Barat, hanya mengizinkan 10.000 orang dengan izin khusus untuk masuk. Mereka menetapkan bahwa laki-laki harus berusia 55 tahun atau lebih, dan perempuan 50 tahun atau lebih.


Pasukan penjajah juga melakukan pemeriksaan detail terhadap para jamaah saat mereka melewati pos pemeriksaan militer dan mengerahkan bala bantuan keamanan yang besar di sekitar Al-Quds.


Selama Ramadhan dan pada hari Jumat, Masjid Al-Aqsa memiliki kapasitas ratusan ribu jamaah jika seluruh halaman, area shalat tertutup, dan areal berpohon digunakan.


Pada tahun-tahun sebelumnya, puluhan ribu warga Palestina dari Tepi Barat melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan.


Setiap Ramadhan, negara Zionis memberlakukan langkah-langkah keamanan yang ekstensif di dalam dan sekitar Al-Quds Timur yang dijajah, dan mengumumkan pembatasan ketat terhadap warga Palestina yang memasuki Masjid Al-Aqsa.


Pembatasan ini semakin intensif sejak negara Zionis, dengan dukungan AS, melancarkan perang genosida selama dua tahun di Jalur Gaza pada 8 Oktober 2013, yang mengakibatkan syahid lebih dari 72.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan.


Warga Palestina memperingatkan semakin intensifnya tindakan negara Zionis yang bermaksud meyahudisasi Al-Quds Timur jajahan, termasuk Masjid Al-Aqsa, dan menghapus identitas Palestina, Arab, dan Islamnya.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “حواجز وانتشار عسكري.. إسرائيل تقيد صلاة الجمعة بالمسجد الأقصى

“ terbit 27 Februari 2026 diakses 27/2/2026 16:41 https://www.aljazeera.net/news/2026/2/27/%D8%AD%D9%88%D8%A7%D8%AC%D8%B2-%D9%88%D8%A5%D9%86%D8%AA%D8%B4%D8%A7%D8%B1-%D8%B9%D8%B3%D9%83%D8%B1%D9%8A-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%AA%D9%82%D9%8A%D8%AF-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9


Share:

Selasa, 24 Februari 2026

Ben-Gvir Rencana Perketat Pengepungan atas Al-Aqsa Selama Ramadhan

Warga Palestina bersiap untuk shalat Maghrib di Masjid Al-Aqsa meskipun terdapat pembatasan dari negara Zionis (Foto: Al-Jazeera)



Al-Quds jajahan – Dengan datangnya bulan suci Ramadhan, Otoritas Penjajah  negara Zionis telah meningkatkan langkah-langkah keamanan dan hukuman mereka atas kota Al-Quds jajahan. Sebuah kebijakan yang dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang bermaksud memperkuat cengkraman atas Masjid Al-Aqsa dan membatasi pergerakan jamaah di dalamnya, dengan dalih "pencegahan dan ketegasan."

Rencana Ben-Gvir untuk mewujudkan "pencegahan" mencakup pengetatan pembatasan keamanan, perluasan kebijakan pengusiran, peningkatan kehadiran polisi, pencegahan pengiriman makanan buka puasa dan pengaturan kegiatan keagamaan, selain memperpanjang jam masuknya pemukim ke Al-Aqsa, dalam upaya untuk memaksakan realitas keamanan dan keagamaan baru di dalam kompleks Al-Aqsa.


Dalam sebuah langkah yang bertepatan dengan Jumat pertama Ramadhan, Ben-Gvir menyerbu area Gerbang Mughrabi yang menuju ke halaman Al-Aqsa, didampingi oleh Inspektur Jenderal Kepolisian negara Zionis, Danny Levy, Komandan Distrik Yerusalem, Avishai Field, dan para pejabat keamanan. Ia juga melakukan apa yang digambarkannya sebagai "penilaian situasi keamanan" di dalam ruang komando polisi di Kota Tua Al-Quds.



Realitas Baru


Selama pertemuannya dengan puluhan petugas polisi, Ben-Gvir mengatakan, "Kalian memiliki dukungan penuh dari kami. Melalui kontrol dan ketegasan, kita mencapai efek jera, dan inilah cara kita akan capai selama Ramadan." Ia menambahkan, "Ketika ada efek jera, tidak ada yang berani, dan begitulah seharusnya dan akan terus berlanjut."


Ben-Gvir bersumpah akan menggunakan "tangan besi" terhadap mereka yang ia sebut sebagai "pembuat onar" di Masjid Al-Aqsa, menekankan bahwa strategi penjajah  pada fase mendatang akan bergantung pada pengetatan langkah-langkah keamanan untuk memastikan bahwa situasi tidak lepas kendali. Ia menjelaskan bahwa efek jera yang kuat adalah cara untuk mencapai ketenangan yang diinginkan di masa depan.


Berbagai laporan negara Zionis, termasuk yang diterbitkan oleh surat kabar Maariv, menunjukkan bahwa pernyataan Ben-Gvir mencerminkan keinginan sayap kanan ekstrem untuk membentuk kembali status quo di tempat-tempat suci Islam, terutama Masjid Al-Aqsa, dan memaksakan realitas keamanan baru di daerah tersebut.


Sebaliknya, Pemerintah Provinsi Al-Quds, dalam sebuah pernyataan yang diperoleh Al Jazeera Net, menganggap bahwa pernyataan Ben-Gvir muncul sehubungan dengan peningkatan tindakan militer dan pembatasan yang dikenakan kepada para jamaah di Al-Quds jajahan, terutama karena bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan, dan pembatasan masuk ke Al-Aqsa yang menyertainya.


Pemerintah Provinsi Al-Quds melaporkan bahwa otoritas penjajah  negara Zionis terus menerapkan rencana logistik mereka untuk mengendalikan masuknya jamaah ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadan, menerbitkan lebih dari 250 surat perintah pengasingan terhadap warga Palestina sejak awal tahun ini. Pemerintah Provinsi mengutuk tindakan ini, menegaskan bahwa tindakan tersebut jelas bertujuan untuk mengurangi jumlah jamaah dan merampas hak alami warga Palestina untuk beribadah dan mengakses tempat-tempat suci mereka.


Ditambahkan bahwa kebijakan ini juga merupakan serangan langsung terhadap kerja Wakaf Islam di Al-Quds dan menargetkan wewenangnya untuk mengelola urusan masjid, sebagai bagian dari upaya penjajah  untuk memaksakan realitas baru yang mempengaruhi status quo di kota suci tersebut.



Pembatasan dan Provokasi


Tindakan, pembatasan, dan kebijakan ini telah meningkat secara signifikan sejak pengangkatan Komandan Polisi Distrik Al-Quds yang baru, Avshalom Peled, seorang rekan dekat Ben-Gvir, yang telah mulai menerapkan agenda sayap kanan ekstrem yang bertujuan untuk mengubah status quo di tempat-tempat suci Islam, khususnya Masjid Al-Aqsa.


Sejak awal perang di Gaza, polisi negara Zionis telah mengintensifkan tindakan provokatif mereka terhadap warga Palestina di Al-Quds, dengan melakukan penggerebekan dan menutup paksa acara-acara budaya, mengeluarkan perintah pengusiran terhadap ratusan warga Al-Quds dari Masjid Al-Aqsa, di samping mempercepat penghancuran rumah dan melakukan kampanye keamanan ekstensif yang mencakup penangkapan, pos pemeriksaan, dan pelecehan harian terhadap warga Al-Quds.


Sementara itu, polisi negara Zionis mengizinkan para aktivis dari kelompok yang disebut "Kelompok Bukit Bait Suci" untuk melakukan ritual keagamaan di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, termasuk doa, nyanyian, dan sujud. Langkah ini merusak status quo yang ditetapkan pada tahun 1967, yang menetapkan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat ibadah hanya untuk umat Muslim dan tempat melancong bagi non-Muslim—status quo yang sebelumnya ditetapkan oleh negara Zionis sendiri untuk mencegah konflik meningkat menjadi perang agama.


Otoritas penjajah  mendahului Ramadhan dengan serangkaian tindakan pembatasan, terutama mengubah area di sekitar Masjid Al-Aqsa dan lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer dengan mengerahkan ribuan polisi dan penjaga perbatasan. Mereka juga mendirikan penghalang besi di gerbang Kota Tua dan memberlakukan batasan usia dan izin sebelumnya bagi para jamaah dari Tepi Barat, mencegah ribuan keluarga mencapai Al-Quds.


Selain itu, otoritas penjajah  melancarkan kampanye pengusiran besar-besaran yang menargetkan para aktivis, warga Al-Quds, imam, dan dai, dengan tujuan mengurangi jumlah jamaah yang hadir di masjid selama Ramadhan.


Tindakan yang diterapkan oleh polisi penjajah  selama Ramadan menunjukkan tren yang jelas menuju pembentukan kembali lanskap keagamaan dan politik di Al-Quds, dengan memberlakukan pembatasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga Palestina, memperluas serangan pemukim terhadap Al-Aqsa, dan merusak status quo yang telah berlangsung selama beberapa dekade.


Terlepas dari langkah-langkah ketat ini, masyarakat Palestina menunjukkan perlawanan dan ketahanan. Sejumlah besar warga Al-Quds dan kota-kota Palestina di negara Zionis (Palestina tahun 1948) berbondong-bondong ke Masjid Al-Aqsa, bersamaan dengan inisiatif komunitas untuk memperkuat kehadiran Palestina di sana, untuk melawan kebijakan penjajah  yang bertujuan mengurangi kehadiran Palestina dan mengubah status quo.



Dominasi dan Kontrol


Dalam pembacaan analitis pernyataan Ben-Gvir dan dugaan rencananya untuk mencapai "pencegahan," pengacara Khaled Zabarqa, seorang spesialis dalam masalah Al-Quds dan Al-Aqsa, menjelaskan bahwa pernyataan Ben-Gvir merupakan upaya untuk mengeksploitasi peristiwa keagamaan, khususnya bulan Ramadan, untuk menghasut komunitas Arab Palestina dan tempat-tempat suci Islam.


Zabarqa menambahkan kepada Al Jazeera Net bahwa langkah ini bukan sekadar tindakan individu dari menteri tersebut, melainkan mencerminkan kecenderungan gerakan sayap kanan ekstrem di negara Zionis, yang berupaya memaksakan hegemoni Zionis ekstrem pada wacana publik dan mengendalikan hubungan antara Palestina dan pemerintah negara Zionis.


Menurut Zibarqa, Ben-Gvir juga bertujuan untuk menunjukkan kekuasaannya kepada warga Palestina di negara Zionis, dengan keyakinan bahwa hal ini dapat memaksa sebagian orang untuk tunduk pada kebijakan rasis dan provokatifnya. Zibarqa menambahkan bahwa kebijakan yang dimaksudkan untuk memberikan "pencegahan" melalui tekanan dan represi telah gagal mencapai tujuannya dan malah memperkuat pembangkangan dan perlawanan Palestina.


Zibarqa mengatakan kepada Al Jazeera bahwa langkah ini bukan hanya tindakan individu oleh menteri tersebut, tetapi lebih mencerminkan tren gerakan sayap kanan ekstrem di negara Zionis, yang berupaya untuk memaksakan hegemoni Zionis ekstrem pada wacana publik dan mengendalikan hubungan antara warga Palestina dan pemerintah negara Zionis.


Zibarqa lebih lanjut menyatakan bahwa Ben-Gvir bertujuan untuk menunjukkan kekuasaannya kepada warga Palestina di negara Zionis, dengan keyakinan bahwa hal ini dapat memaksa sebagian orang untuk tunduk pada kebijakan rasis dan provokatifnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan yang dimaksudkan untuk memberikan "pencegahan" melalui tekanan dan represi telah gagal mencapai tujuannya dan malah memperkuat pembangkangan dan perlawanan rakyat Palestina.


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net terbit 23/2/2026 “رمضان تحت القبضة الأمنية.. خطة بن غفير لتشديد الحصار على الأقصى”  Mohammed Watad, diakses 24 Februari 2026 16:13 https://www.aljazeera.net/politics/2026/2/23/%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%AA%D8%AD%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%A8%D8%B6%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%85%D9%86%D9%8A%D8%A9-%D8%AE%D8%B7%D8%A9-%D8%A8%D9%86-%D8%BA%D9%81%D9%8A%D8%B1


Share: