About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Senin, 23 Maret 2026

Selat Hormuz: Guncangan Ekonomi Global dan Batasan Kekuatan Militer

Membuka kembali Selat Hormuz mungkin secara militer dimungkinkan, tetapi kemungkinan besar akan mahal dan memakan waktu bagi Amerika Serikat. Bahkan upaya untuk melakukannya dapat memicu guncangan ekonomi global. Ancaman terus-menerus terhadap pelayaran dapat memakan waktu berpekan-pekan atau berbulan-bulan untuk diredam, sehingga kontrol jangka panjang menjadi tidak praktis.

Oleh: Arash Marzbanmehr

Analis Senior di Meshkat Think Tank dan ahli dalam analisis pertahanan dan studi keamanan regional.


17 Maret 2026


Pada 28 Februari 2026, setelah serangan skala besar oleh Amerika Serikat dan negara Zionis, Angkatan Bersenjata Iran mengeluarkan peringatan radio yang melarang semua navigasi melalui Selat Hormuz. Pembatasan ini tetap berlaku, khususnya menargetkan kapal tanker non-Iran. Meskipun signifikansi strategis Selat Hormuz sebagai titik transit energi global yang penting sudah dikenal luas, jalur air tunggal ini berpotensi berdampak pada ekonomi global jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Dan itu adalah pengungkit pengaruh yang sepenuhnya dipahami Teheran—Selat Hormuz adalah kupu-kupu yang mampu memicu tornado sejauh Texas. Makalah ini bertujuan untuk secara singkat meneliti pentingnya Selat Hormuz secara global, menilai potensi tindakan AS, dan mengevaluasi kemungkinan respons Iran.



Gambaran Singkat: Peran Selat Hormuz dalam Pasar Energi Global dan Ekonomi Makro:


Sejak sebelum konflik dimulai, Teheran telah memperingatkan bahwa petualangan militer apa pun di kawasan itu dapat memiliki konsekuensi yang tidak dapat diubah bagi ekonomi global, menempatkan tanggung jawab langsung pada Amerika Serikat. Untuk memahami hal ini sepenuhnya, sangat penting untuk memahami peran persis jalur air ini dalam siklus ekonomi global.


Pentingnya ekonomi Selat Hormuz berasal dari perannya sebagai jalur ekspor utama—dan dalam banyak kasus satu-satunya—untuk ladang minyak dan gas terbesar di dunia. Negara-negara seperti Irak, Kuwait, dan Qatar bergantung pada selat ini untuk mengirimkan hidrokarbon ke pasar internasional, begitu pula sebagian besar ekspor minyak dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pada tahun 2025, sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari dan 5 juta barel produk minyak bumi olahan per hari diekspor melalui jalur ini.


Perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 80 hingga 89 persen minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz dikirim ke kilang-kilang di Asia. China dan India saja menerima lebih dari 40 persen dari volume ini. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan juga menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada energi Teluk, masing-masing memasok sekitar 95 dan 75 persen kebutuhan minyak mentah mereka dari wilayah tersebut. Bahkan Amerika Serikat, meskipun terjadi peningkatan signifikan dalam produksi domestik selama beberapa tahun terakhir, terus bergantung pada Selat Hormuz untuk sekitar 7 persen konsumsi minyaknya.


Namun, pentingnya strategis selat ini tidak terbatas pada minyak. Selat ini juga merupakan salah satu jalur utama terpenting untuk perdagangan gas alam cair (LNG). Pada tahun 2025, lebih dari 112 miliar meter kubik LNG—setara dengan sekitar 20 persen perdagangan LNG global—diangkut melalui jalur ini. Qatar, eksportir LNG terbesar kedua di dunia, sepenuhnya bergantung pada jalur ini untuk semua pengiriman maritimnya. Oleh karena itu, setiap gangguan dalam aliran LNG dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih parah daripada yang mempengaruhi minyak, karena infrastruktur alternatif skala besar untuk transportasi gas alam jauh lebih terbatas.


Di luar pasar energi, dan dampak tidak langsung dari kenaikan harga bahan bakar terhadap barang dan jasa—terutama di Eropa Barat dan Amerika Utara—Selat Hormuz memainkan peran penting dalam siklus ekonomi makro global. Pasar logam industri tertentu terpengaruh secara langsung atau tidak langsung. Misalnya, produksi aluminium di negara-negara Teluk mencapai sekitar 6,3 juta ton pada tahun 2024, yang menyumbang 8 hingga 9 persen dari produksi global dan hampir 23 persen dari pasokan global di luar China. Dengan pasar aluminium yang menghadapi defisit struktural sekitar 600.000 ton, gangguan apa pun dapat memicu lonjakan harga yang tajam. Di London Metal Exchange (LME), harga aluminium dengan cepat melampaui $3.400 per ton, dengan potensi lonjakan hingga $3.600–4.000.


Sulfur—kadang-kadang disebut sebagai “komoditas tak terlihat dalam ekonomi global”—memberikan contoh lain dari ketergantungan strategis. Karena operasi pemurnian gas alam dan penyulingan minyak mentah asam yang ekstensif, wilayah Teluk menghasilkan sekitar 44 persen sulfur global. Gangguan apa pun dapat mendorong harga Free on Board (FOB) Timur Tengah di atas $600 per ton, yang dengan cepat berdampak pada pasar asam sulfat.


Konsumen sulfur terbesar di dunia adalah industri pupuk kimia, yang menyumbang 60–70 persen dari permintaan global. Jika gangguan pasokan berlanjut selama lebih dari dua bulan, produksi tanaman strategis seperti jagung, kedelai, dan gandum akan langsung terpengaruh.


Pada tingkat yang lebih dalam, hubungan antara belerang di Timur Tengah dan produksi logam penting sangat signifikan, karena proses ekstraksi modern untuk logam seperti nikel, kobalt, dan tembaga sangat bergantung pada asam belerang (sulfat). Produksi nikel di Indonesia dan tembaga di Afrika Tengah, misalnya, bergantung pada bahan ini.


Dampak berantai tersebut bahkan meluas hingga ke industri teknologi tinggi. Sektor semikonduktor dan elektronik global membutuhkan sejumlah besar asam sulfat murni untuk produksi microchip dan pemrosesan wafer silikon. Kekurangan apa pun akan meningkatkan biaya produksi di pusat-pusat teknologi utama Asia Timur—termasuk Taiwan, Korea Selatan, dan Tiongkok. Lebih lanjut, banyak produsen semikonduktor bergantung pada LNG Qatar untuk pasokan listrik yang stabil. Taiwan, misalnya, memperoleh sekitar 30 persen LNG-nya melalui Selat Hormuz. Dalam skenario seperti itu, bahkan gangguan terbatas pun dapat mempengaruhi perusahaan seperti TSMC, yang memproduksi hampir 90 persen chip tercanggih di dunia dan mengonsumsi sekitar 9 persen listrik Taiwan.


Kini jelas bahwa gangguan di Selat Hormuz mewakili gambaran praktis dari teori kekacauan—dan kekacauan tidak dapat dilawan dengan kekacauan. Seperti yang dikatakan Gandhi, “Jika mata dibalas mata maka akan membutakan seluruh dunia.”



Respons Pasar Energi


Segera setelah deklarasi Iran tentang status perang dan pemberlakuan pembatasan navigasi, pasar energi bereaksi dengan cepat. Harga minyak mentah Brent melonjak signifikan, sempat mendekati $100 per barel. Meskipun harga terus berfluktuasi, perkiraan menunjukkan bahwa tanpa solusi manajemen krisis jangka menengah, harga dapat mencapai $120 per barel, dan dalam jangka panjang, berpotensi mendekati $200.


Bersamaan dengan itu, ketika lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut turun hingga 90 persen selama pekan pertama Maret 2026, Badan Energi Internasional (IEA) meluncurkan pelepasan cadangan darurat terbesar dalam sejarahnya. Pada tanggal 11 Maret, semua 32 negara anggota dengan suara bulat setuju untuk melepaskan 400 juta barel minyak ke pasar global—lebih dari dua kali lipat rekor sebelumnya yang ditetapkan pada tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Volume ini, setara dengan sekitar 26 hari aliran minyak normal melalui Selat Hormuz, dimaksudkan sebagai "jembatan waktu" untuk mencegah keruntuhan total rantai pasokan energi global.


Secara paralel, Departemen Energi AS mengumumkan bahwa Presiden Donald Trump telah mengizinkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis AS sebagai bagian dari upaya multilateral untuk menstabilkan pasar energi global. Menurut pernyataan tersebut, distribusi minyak ini akan dimulai minggu berikutnya, dengan integrasi pasar penuh diperkirakan memakan waktu sekitar 120 hari. Selain itu, Departemen Keuangan AS mengeluarkan lisensi 30 hari yang memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak dan produk minyak bumi Rusia yang saat ini berada di laut, dengan tujuan menstabilkan pasar energi global.


Terlepas dari perkembangan di pasar minyak, guncangan utama terjadi di pasar gas alam. Penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz, ditambah dengan kerusakan pada fasilitas QatarEnergy yang menghentikan produksi, menyebabkan indeks gas Title Transfer Facility (TTF) Eropa naik lebih dari 60 persen hanya dalam 10 hari. Pada akhir Februari, harga TTF berkisar antara €30 dan €32 per megawatt-jam, tetapi seiring dengan meningkatnya konflik dan risiko gangguan pasokan, harga naik menjadi lebih dari €50–55 pada awal Maret.


Rendahnya tingkat penyimpanan di Eropa, ditambah dengan upaya negara-negara Asia—khususnya Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan India—untuk mengamankan pengiriman alternatif dari sumber-sumber Atlantik, menambah tekanan lebih lanjut pada pasar, menempatkan negara-negara Eropa dalam posisi yang genting. Kenaikan biaya energi, terutama untuk gas alam, membawa implikasi ekonomi yang luas bagi Eropa dan Amerika Serikat. Di negara-negara dengan ketergantungan tinggi, seperti Italia, Inggris, dan Jerman, harga listrik telah meningkat lebih dari 13 persen.



Dalam kondisi ini, industri yang padat energi—termasuk kimia, baja, semen, pupuk, dan kaca—terpaksa menanggung biaya produksi yang lebih tinggi, yang kemudian mendorong kenaikan harga barang jadi di sepanjang rantai pasokan. Di luar sektor-sektor ini, industri jasa—termasuk transportasi, logistik, dan ritel—juga terpengaruh oleh kenaikan biaya bahan bakar dan listrik, yang berkontribusi pada tekanan inflasi yang lebih luas di negara-negara industri maju.



Militer AS dan Pembukaan Kembali Selat Hormuz


Perkembangan ini telah menempatkan Amerika Serikat dalam posisi yang genting. Di satu sisi, Washington harus menegaskan kendali relatif atas selat tersebut untuk menggambarkan dirinya sebagai pemenang dalam konflik; di sisi lain, tindakan militer yang gegabah hanya akan meningkatkan ketegangan atau menghasilkan konsekuensi yang tidak dapat diubah.


Penting untuk dicatat bahwa Selat Hormuz belum sepenuhnya tertutup. Istilah "penutupan" saat ini digunakan secara metaforis. Saat ini, berbagai kapal dilarang melintasi selat tersebut karena peringatan yang dikeluarkan oleh Iran, dan lalu lintas maritim dipantau langsung oleh Angkatan Bersenjata Iran. Kapal tanpa hubungan langsung dengan Amerika Serikat atau negara Zionis hanya menjadi sasaran jika mereka mencoba melintasi selat tersebut. Sementara itu, beberapa laporan menunjukkan bahwa kapal yang menuju Tiongkok telah berhasil melintasinya.


Dalam situasi konflik bersenjata di laut, hukum perang laut mengizinkan negara yang berperang untuk mengambil tindakan terhadap kapal musuh dan kategori kapal dagang tertentu yang secara efektif mendukung operasi militer musuh. Berdasarkan Aturan 38–46 dan Aturan 60 dari Manual San Remo tentang Hukum Internasional yang Berlaku untuk Konflik Bersenjata di Laut, kapal dagang yang mengangkut bahan bakar atau persediaan lain yang berkontribusi pada upaya perang musuh dapat kehilangan perlindungan sipil mereka dan menjadi sasaran militer yang sah, dengan syarat bahwa setiap tindakan yang diambil sesuai dengan prinsip-prinsip kebutuhan militer, pembedaan, dan proporsionalitas. Dalam keadaan di mana Amerika Serikat dan negara Zionis telah memulai penggunaan kekuatan yang melanggar hukum terhadap Iran dan telah melakukan operasi militer dari pangkalan angkatan laut dan regional di dan sekitar Teluk, mereka tidak dapat secara wajar mengharapkan untuk terus menikmati perlindungan dan keuntungan penuh dari rezim hukum maritim masa damai sambil secara bersamaan terlibat dalam permusuhan yang diatur oleh hukum konflik bersenjata. Sebaliknya, kerangka hukum yang berlaku untuk perilaku mereka dan untuk setiap tindakan responsif adalah hukum konflik bersenjata di laut.


Ini merupakan bentuk "pengendalian cerdas" atas selat tersebut, yang meminimalkan kerusakan tambahan. Namun, Iran tetap memiliki kemampuan untuk membuat transit sama sekali tidak mungkin bagi kapal mana pun. Dalam skenario seperti itu, navigasi tidak hanya akan diblokir sepenuhnya, tetapi kompensasi untuk kapal yang rusak atau tenggelam akan membebani waktu dan biaya finansial yang signifikan bagi para pemangku kepentingan.


Target rentan lainnya termasuk pembangkit listrik, fasilitas desalinasi, sistem pendingin distrik, dan infrastruktur serupa yang menopang kehidupan di lingkungan buatan kota-kota gurun. Namun Iran telah menahan diri untuk tidak menyerang target-target tersebut. Sikap menahan diri ini disengaja yaitu menyerang target-target tersebut akan mengundang serangan balasan terhadap infrastruktur pentingnya sendiri dan dapat merusak hubungan dengan negara-negara Arab secara permanen.


Sebaliknya, Iran telah menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar pelayaran komersial. Hal ini telah memicu krisis energi global yang parah, tetapi tetap jauh lebih baik daripada kehancuran bersama infrastruktur penting. Unsur kebijaksanaan strategis dan pengekangan yang terhitung jelas berperan di sini. Sementara itu, negara-negara Arab sebagian besar telah memilih—dengan bijak—untuk tetap berada di luar konflik.


Bagaimana Amerika Serikat bermaksud untuk menavigasi keseimbangan yang rumit ini masih belum jelas, tetapi Selat Hormuz tidak diragukan lagi merupakan salah satu topik yang paling banyak dibahas di markas Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Pertanyaan utamanya adalah apakah, mengingat sumber daya dan kemampuan yang dimiliki CENTCOM, menjalankan operasi militer untuk membuka kembali selat tersebut akan layak secara strategis dan ekonomis.


Jawabannya adalah bahwa operasi semacam itu akan mengikuti kerangka kerja umum: pemboman intensif dan terarah terhadap daerah pesisir, penekanan maksimal terhadap peluncur rudal bergerak menggunakan kemampuan yang ada, dan, pada akhirnya, pengawalan kapal oleh angkatan laut menuju koridor yang aman.


Menurut pembaruan terbaru yang dirilis oleh CENTCOM tentang Operasi “Epic Fury”, sekitar 6.000 target di seluruh Iran telah dihantam sejak operasi dimulai pada 28 Februari 2026, dan serangan tersebut kemungkinan akan terus berlanjut. Meskipun demikian, seperti yang diamati dalam beberapa hari terakhir, Iran terus meluncurkan rudal balistik dan rudal jelajah. Selain itu, drone bunuh diri tetap menjadi tantangan yang signifikan.


Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa prioritas Amerika Serikat adalah netralisasi total rudal balistik Iran, rudal jelajah anti-kapal, dan kemampuan drone bunuh diri. Menekan peluncuran dan penggunaan drone bunuh diri diperkirakan akan lebih sulit daripada menanggulangi rudal jelajah dan rudal balistik. Secara umum, mengidentifikasi peluncur bergerak adalah salah satu tugas intelijen yang paling menantang di medan perang.


Untuk menemukan target tersebut, Amerika Serikat menggunakan jaringan aset intelijen dan pengintaian yang luas. Inti dari jaringan ini adalah satelit pengintaian Angkatan Luar Angkasa AS, termasuk platform radar, optik, dan inframerah. Melengkapi ini adalah satelit dan pesawat intelijen elektronik dan sinyal (ELINT/SIGINT), serta drone pengintaian yang dioperasikan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, yang semuanya memainkan peran penting dalam identifikasi target.


Selain sistem berbasis ruang angkasa, aset intelijen elektronik (ELINT) berbasis darat juga memainkan peran penting. Selama Perang Dingin, Uni Soviet sangat khawatir tentang kemampuan Badan Keamanan Nasional untuk melacak dan mengidentifikasi peluncur rudalnya. Badan tersebut dapat mencegat sinyal elektronik yang dipancarkan oleh peluncur Soviet, sehingga memberikan nilai intelijen yang berharga.


Langkah pertama dalam operasi apa pun akan melibatkan serangan terarah terhadap instalasi pesisir yang diketahui. Salah satu aset utama yang tersedia bagi CENTCOM adalah armada pembom Angkatan Udara AS. Saat ini, beberapa pembom strategis B-52H dan B-1B dikerahkan di Eropa dan secara aktif berpartisipasi dalam serangan terhadap Iran. Ada juga alasan untuk percaya bahwa sejumlah pembom strategis siluman B-2A telah terlibat, beroperasi dari wilayah AS atau dari Diego Garcia di Samudra Hindia. Namun, pembom-pembom ini tidak dapat mengidentifikasi target sendiri; dukungan intelijen berkelanjutan sangat penting. Selain itu, mengingat waktu penyelesaian operasional antar sorti (gelombang), langkah-langkah pelengkap diperlukan untuk mempertahankan tekanan yang berkelanjutan..


Dalam skenario seperti itu, jika Amerika Serikat memutuskan untuk membuka kembali Selat Hormuz, kemungkinan besar kita akan melihat pengerahan sistem roket peluncuran ganda (MLRS) Angkatan Darat AS untuk menembakkan rudal balistik jarak pendek dari pangkalan di Bahrain dan mungkin Uni Emirat Arab terhadap target pesisir di Iran. Target ini juga dapat mencakup posisi di pulau-pulau Iran di Teluk.


Bersamaan dengan penggunaan rudal berpemandu presisi, peningkatan aktivitas drone bersenjata di sepanjang pantai diperkirakan akan terjadi. Penerbangan taktis AS juga akan memainkan peran penting. Untuk memaksimalkan daya tahan operasional, pesawat tempur AS mungkin perlu dipindahkan dari pangkalan yang lebih jauh di negara-negara seperti Yordania dan negara Zionis ke titik transit yang lebih dekat, misalnya di UEA. Namun, reposisi ini akan membuat mereka rentan terhadap sistem rudal jarak pendek Iran. Oleh karena itu, penguatan signifikan sistem pertahanan rudal di UEA kemungkinan akan mendahului upaya serius apa pun untuk memulihkan navigasi melalui selat tersebut, terutama karena empat baterai Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Arab Saudi, UEA, dan Yordania telah menjadi sasaran serangan presisi Iran.


Dalam skenario ini, pesawat tempur AS akan memiliki dua peran utama: ofensif dan defensif. Dalam peran ofensif, F-15, F-16, dan F-35 akan beroperasi di area yang telah ditentukan untuk mengganggu peluncuran rudal jelajah dan balistik, serangan anti-kapal, dan serangan drone bunuh diri. Mereka juga dapat melakukan operasi terhadap kapal-kapal Iran untuk mencegah pemasangan penambangan atau serangan terhadap pelayaran komersial. Dalam peran defensif, pesawat tempur ini akan bertindak sebagai perisai udara terhadap drone bunuh diri, sehingga mengurangi tekanan pada sistem pertahanan udara berbasis kapal Angkatan Laut AS.


Angkatan Laut akan memegang peran paling penting dalam operasi semacam itu. Upaya apa pun untuk membuka kembali Selat Hormuz kemungkinan akan membutuhkan kehadiran setidaknya dua, jika bukan tiga, kelompok serang kapal induk untuk mengawal kapal komersial dan kapal tanker dengan aman melalui jalur air tersebut. Operasi semacam itu pasti akan sangat kompleks. Setiap kelompok serang kapal induk biasanya terdiri dari kapal induk bertenaga nuklir, beberapa kapal perusak rudal berpemandu, dan sayap udara lengkap.


Tulang punggung pertahanan udara untuk setiap kelompok serang kapal induk selama operasi pengawalan kapal komersial di selat tersebut adalah kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke. Kapal-kapal ini umumnya memiliki antara 90 dan 96 sel peluncur rudal, dengan sekitar dua pertiga dari amunisi tersebut diasumsikan didedikasikan untuk pertahanan udara. Amunisi ini akan digunakan secara aktif untuk melindungi kapal-kapal yang dikawal dari ancaman yang masih residual selama operasi.



Geografi vs. Kekuatan Militer


Pada titik tersempitnya, Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 39 kilometer, namun jalur navigasi untuk kapal tanker minyak mentah ultra-besar (VLCC) jauh lebih sempit. Selat ini terdiri dari dua jalur selebar 3,7 kilometer untuk lalu lintas masuk dan keluar, dipisahkan oleh zona penyangga. Secara keseluruhan, koridor sepanjang 11 kilometer ini menopang ekonomi energi global dan terletak dekat dengan garis pantai Iran, memungkinkan militer Iran untuk memantau semua pergerakan kapal dengan tepat.


Kontrol Iran atas selat tersebut bukan hanya fungsi dari perangkat keras militer; keunggulan geografis memainkan peran penting. Dengan garis pantai terpanjang di sepanjang sisi utara selat dan kendali strategis atas pulau-pulau termasuk Greater Tunb, Lesser Tunb, Abu Musa, Lark, Qeshm, dan Hormuz, Iran dapat menegaskan kekuatan dan pengawasan atas lalu lintas maritim. Keunggulan geografis ini, dikombinasikan dengan doktrin militer asimetris, memberi Teheran alat strategis yang ampuh. Pulau-pulau ini menampung sistem pertahanan dan serangan, termasuk peluncur rudal jelajah anti-kapal dan drone bunuh diri.


Kehendak utama Iran adalah untuk mencegah kapal-kapal melintas, karena hampir semua proyektil peledak dapat menghancurkan kapal tanker minyak atau kapal pengangkut LNG. Sebaliknya, Amerika Serikat perlu melakukan operasi ekstensif untuk menekan aset militer pesisir Iran sebelum menjamin jalur aman permanen bagi kapal-kapal.


Angkatan laut Iran juga berfokus pada peperangan asimetris, menggunakan ranjau laut, rudal anti-kapal, kapal serang cepat (speedboat), dan kapal selam kecil. Perlu dicatat bahwa, sebelum pecahnya permusuhan, Iran secara eksplisit memperingatkan pihak-pihak terkait bahwa setiap serangan akan memicu eskalasi vertikal dan horizontal. Salah satu contohnya adalah surat dari Misi Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa tertanggal 19 Februari 2026. Dinamika ini juga dianalisis dalam analisis sebelumnya yang diterbitkan oleh Al Jazeera Centre for Studies, berjudul “Mengapa Trump Ragu untuk Berperang dengan Iran”.


Persenjataan rudal jelajah Iran mencakup sistem jarak pendek seperti Nasr dengan jangkauan 35 kilometer dan Nasir dengan jangkauan 90 kilometer. Selanjutnya adalah rudal kelas Noor, yang berbasis pada C-802 buatan China, dengan jangkauan 120, 200, dan 300 kilometer. Terakhir, rudal jelajah Soumar dan Paveh dapat menyerang target hingga jarak 1.000 kilometer. Yang perlu diperhatikan, rudal jelajah dan balistik anti-kapal ini dapat ditembakkan dari pedalaman yang jauh, lebih dari 1.000 kilometer dari selat, yang secara signifikan meningkatkan kemampuan bertahan peluncurnya. Drone bunuh diri beroperasi dengan cara yang serupa.


Drone serang satu arah, yang terbukti sangat efektif dalam konflik ini, semakin memperparah ancaman. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGCN) dan Angkatan Laut Republik Islam Iran (IRIN) juga mengerahkan kapal serang cepat yang dipersenjatai dengan rudal jelajah anti-kapal, peluncur roket, dan bahkan rudal anti-tank berpemandu. Senjata-senjata ini dapat diluncurkan dalam jumlah besar untuk membanjiri dan melumpuhkan pertahanan konvoi. Banyak kapal semacam itu berbasis di fasilitas pesisir bawah tanah. Untuk melawan ancaman udara, beberapa di antaranya dilengkapi dengan rudal permukaan-ke-udara, sementara awaknya membawa sistem pertahanan udara portabel.


Kapal selam pesisir merupakan bahaya signifikan lainnya. Karakteristik akustik Teluk Persia membuatnya sangat cocok untuk operasi kapal selam, sehingga menimbulkan ancaman bagi pelayaran komersial dan pasukan angkatan laut yang mengawalnya.


Secara keseluruhan, kawasan ini merupakan lingkungan yang sangat kaya akan target. Mempertahankan setiap infrastruktur terkait energi adalah hal yang mustahil, dan bahkan sejumlah kecil "penyerang"—rudal atau drone serang satu arah yang menembus pertahanan—dapat menimbulkan kerusakan dahsyat.


Jika Amerika Serikat memasuki Selat Hormuz, kekuatan militernya akan langsung berhadapan dengan keunggulan geografis Iran. Bahkan kampanye udara yang ekstensif di sepanjang garis pantai pun tidak akan mencegah peluncuran rudal jelajah dan drone bunuh diri dari pedalaman.


Faktor-faktor ini dapat mendorong Amerika Serikat untuk mengambil keputusan berisiko tinggi. Operasi amfibi di sepanjang pantai dan perebutan pulau-pulau Iran tertentu termasuk dalam perhitungan ini. Seperti yang dilaporkan, dengan persetujuan Pentagon, perintah telah dikeluarkan untuk mengerahkan 2.500 Marinir AS ke Timur Tengah bersama dengan kelompok siap amfibi Tripoli. Kelompok angkatan laut ini terdiri dari USS Tripoli, USS San Diego, dan USS New Orleans. Kelompok ini juga mencakup 20 jet tempur F-35B. Kelompok angkatan laut saat ini berada di Samudra Pasifik bagian timur dan akan tiba dalam waktu sekitar dua pekan.


Pertanyaan penting yang masih belum terjawab adalah: seberapa pentingkah nyawa anggota militer AS bagi para komandan? Bahkan jika pulau-pulau kecil berhasil diduduki, pasukan AS yang ditempatkan di sana akan tetap rentan terhadap tembakan Iran yang terus-menerus, dengan perlindungan minimal. Untuk mengurangi risiko tersebut, Amerika Serikat harus mengcover area operasional yang sangat luas.


Konsep konvoi angkatan laut juga membawa risiko yang signifikan. Bagian Selat Hormuz yang dapat dilayari sangat sempit, dengan perairan sekitarnya yang dangkal. Ini berarti bahwa jika ada kapal—terutama kapal utama—yang rusak parah atau tenggelam, hal itu dapat membuat sisa konvoi menjadi tidak berdaya. Kecepatan pengawalan juga merupakan tantangan lain: kapal komersial biasanya bergerak dengan kecepatan 18 knot (33 km/jam), sedangkan kapal perusak kelas Arleigh Burke dapat berlayar dengan kecepatan 30 knot (50 km/jam). Kecepatan yang lebih rendah membatasi kemampuan manuver, meningkatkan kerentanan. Pertimbangan penting lainnya adalah berapa banyak operasi pengawalan yang dibutuhkan untuk memindahkan sekitar 200 kapal tanker yang tidak dikenai sanksi yang saat ini berada di area tersebut, dan apakah kembali ke tingkat pengiriman sebelum krisis dan ekspor berkelanjutan akan mungkin dilakukan. Ini adalah pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh Amerika Serikat.


Kemampuan bawah laut Iran menghadirkan tantangan tambahan. Bahkan dengan beberapa kapal selam Iran yang dihancurkan pada awal konflik, ranjau laut, torpedo, dan kendaraan bawah air tak berawak dapat dengan mudah menargetkan kapal. Dalam kampanye tekanan tinggi, Iran dapat mengerahkan ranjau di seluruh selat.


Tindakan balasan yang mungkin dilakukan Amerika Serikat dapat berupa blokade laut bersyarat, serupa dengan operasi yang dilakukan di Venezuela. Dalam praktiknya, ini akan melibatkan pencegatan kapal-kapal Iran—kapal tanker atau kapal kargo—setelah mereka memasuki Laut Arab, dan hanya melepaskan mereka jika lalu lintas maritim di Selat Hormuz tetap terjaga.


In summary, reopening the Strait of Hormuz may be militarily possible, but the primary challenge for the United States is that such an operation would likely incur extremely high costs and require a prolonged timeframe. Furthermore, even initiating such a conflict could trigger a global economic crisis. The combined set of threats to vessels attempting to transit the strait represents a credible and persistent danger. Neutralising this threat could take weeks or even months, and maintaining permanent control over the long term is impractical.


Meskipun skenario seperti itu bukan tidak mungkin, hal itu dapat memicu respons keras Iran terhadap negara-negara Arab sekutu AS. Negara-negara seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, dan UEA sangat bergantung pada impor maritim untuk kebutuhan sehari-hari, daripada jalur pasokan darat melalui Arab Saudi.


Singkatnya, membuka kembali Selat Hormuz mungkin secara militer dimungkinkan, tetapi tantangan utama bagi Amerika Serikat adalah bahwa operasi semacam itu kemungkinan akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi dan membutuhkan jangka waktu yang lama. Lebih jauh lagi, bahkan memulai konflik semacam itu dapat memicu krisis ekonomi global. Gabungan ancaman terhadap kapal yang mencoba melintasi selat tersebut merupakan bahaya yang nyata dan berkelanjutan. Menetralisir ancaman ini dapat memakan waktu berpekan-pekan atau bahkan berbulan-bulan, dan mempertahankan kendali permanen dalam jangka panjang tidak praktis.


Oleh karena itu, jika Amerika Serikat serius mengejar aksi militer, pendekatan yang mungkin dilakukan adalah kombinasi dari skenario yang telah dibahas sebelumnya: peningkatan serangan di sepanjang pantai, operasi amfibi yang terkendali, dan pencegatan kapal-kapal Iran untuk memberikan tekanan jangka pendek pada Teheran. Pada saat yang sama, waktu tidak berpihak pada Washington; disaat Amerika Serikat mengandalkan skenario operasional klasik, Teheran tetap memegang inisiatif.


Diterjemahkan dari situs riset Al Jazeera The Strait of Hormuz: Global Economic Shock and the Limits of Military Power” “ terbit 17 Maret 2026, diakses 23 Maret 2026 https://studies.aljazeera.net/en/analyses/strait-hormuz-global-economic-shock-and-limits-military-power


Share:

Selasa, 10 Maret 2026

Kerugian AS Pasca 10 Hari Serang Iran

Amerika Serikat bersama negara Zionis, pasca 10 memulai menyerang dan dibalas serang Iran, kini tengah berada di tengah kecamuk “perang angka” dan suara tembakan dan pesawat di langit Timur Tengah.

Meskipun kedua belah pihak masing-masing melebih-lebihkan kerugian musuh dan menyembunyikan kerusakan di pihak sendiri, namun kerugian SDM dan material yang diderita AS dalam Operasi Epic Fury ini mulai terlihat.

Operasi yang dilancarkan sejak Sabtu pagi, 28 Februari, yang mengakibatkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer, dan menyerang pertahanan udara dan lokasi peluncuran rudal Iran.

Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke berbagai wilayah di negara Zionis, selain beberapa sasaran di negara-negara Teluk yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Teheran melalui media resminya mengklaim telah membuat ratusan korban tewas dan luka-luka di barisan militer AS, dan melakukan serangan kepada kapal perang dan kapal induk AS.

Mengutip situs Al Jazeera Net berikut adalah data kerugian yang diderita Amerika sejak memulai serangan gabungan skala besar melawan Iran.


Pertama: Korban Tewas

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dan Komando Pusat (CENTCOM) telah mengkonfirmasi kematian delapan personel militer AS hingga 9 Maret.

Prajurit ini tewas dalam serangan terhadap Pelabuhan Shuaiba di Kuwait sbb:

  • Mayor Jeffrey O'Brien (45 tahun).

  • Kapten Cody Khork (35 tahun).

  • Sersan Noah  Tietjens (42 tahun).

  • Sersan Nicole Amore (39 tahun).

  • Sersan Declan Coady (20 tahun).

  • Perwira Robert Marzan (54 tahun).

  • Satu orang tewas dalam serangan terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi:

  • Sersan Benjamin N. Pennington, 26 tahun, tewas pada 8 Maret akibat luka yang diderita dalam serangan pesawat tak berawak awal bulan ini.

  • Seorang prajurit Garda Nasional (yang identitasnya belum diungkapkan) tewas pada 6 Maret di Kuwait setelah mengalami kondisi darurat medis yang sedang diselidiki.


Kedua: Korban Luka-luka

Meskipun awalnya enggan, angka korban luka-luka di kalangan pasukan AS mulai muncul, ditegaskan oleh laporan media— mengutip dari pejabat militer— yang membenarkan meningkatnya angka korban luka. CNN mengutip seorang pejabat AS yang mengkonfirmasi bahwa sembilan tentara terluka parah oleh serangan Iran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam sebuah wawancara dengan program "60 Minutes," mengkonfirmasi bahwa "akan ada lebih banyak lagi korban berjatuhan," mengomentari laporan tentang tentara Amerika yang tewas.

Hegseth mengatakan, "Presiden benar ketika dia mengatakan ini akan memakan korban.. Hal semacam ini tidak terjadi tanpa menelan korban, dan akan ada lebih banyak korban jiwa. Tidak ada yang tahu—seperti generasi kita—bagaimana rasanya melihat orang Amerika pulang dalam peti mati... Tetapi ini sama sekali tidak melemahkan kita; ini memperkuat tekad dan determinasi kita untuk mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan pertempuran ini."


Ketiga: Kerugian Pesawat Tempur dan Drone

Kerugian peralatan udara adalah yang paling signifikan dalam operasi militer ini. Pejabat AS mengakui kepada CBS News bahwa 11 drone MQ-9 Reaper telah hilang sejak awal perang, dengan total biaya melebihi $330 juta.

Para analis mengaitkan tingginya angka kerugian ini dengan fakta bahwa drone-drone ini tidak dirancang untuk melawan sistem pertahanan udara Iran.

Dalam insiden terpisah, tiga jet tempur F-15E Strike Eagle jatuh dari langit Kuwait pada tanggal 1 Maret karena apa yang digambarkan sebagai "tembakan salah sasaran" dari pertahanan udara Kuwait selama pertempuran udara yang kompleks. Namun, keenam pilot tersebut selamat dan dalam kondisi stabil, menurut laporan media AS.


Keempat: Narasi Teheran

Di sisi lain, Iran melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda tentang kerugian di pihak Amerika. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa pasukan AS menderita lebih dari 650 korban tewas dan luka-luka selama dua hari pertama dari apa yang disebut Iran sebagai Operasi "Janji Sejati 4".

Naeini mengklaim bahwa serangan rudal dan drone menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain, mengakibatkan kematian dan cedera 160 pelaut dalam satu serangan, selain menyebabkan kerusakan signifikan Kapal Pendukung Tempur MST (Maritime Strike Tomahawk Support Vessel)

Garda Revolusi juga mengklaim telah meluncurkan empat rudal jelajah ke kapal induk USS Abraham Lincoln di lepas pantai Chabahar, memaksa kapal tersebut untuk "melarikan diri" ke Samudra Hindia.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS dengan cepat membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa rudal-rudal tersebut tidak mendekati kapal-kapal AS dan bahwa kapal induk tersebut masih melanjutkan operasinya di kawasan,

Angka-angka yang diumumkan sejauh ini hanyalah sebagian dari gambaran yang lebih besar tentang perang yang masih berkecamuk. Dengan semakin luas operasi militer dan perubahan kepemimpinan di Iran pasca dinobatkannya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru, Timur Tengah tampaknya memasuki fase yang lebih tidak pasti, yang dapat menyaksikan lebih lanjut semakin bertambahnya kerugian dan juga operasi militer dalam beberapa pekan mendatang. (Sumber: Al Jazeera + Pers AS)

Diterjemahkan oleh Kholid dari situs Al Jazeera Net “بعد 10 أيام من الحرب.. هذا ما نعرفه عن خسائر الجيش الأمريكي" diterbitkan pada 3/9/2026 - Terakhir diperbarui: 3/10/2026 00:08 (Waktu Mekah), diakses 10 Maret 2026 05:30 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/3/9/%D8%A8%D8%B9%D8%AF-10-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B1%D8%A8-%D9%87%D8%B0%D8%A7-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B9%D8%B1%D9%81%D9%87-%D8%B9%D9%86-%D8%AE%D8%B3%D8%A7%D8%A6%D8%B1?UTM_Source=pnsOS&UTM_Medium=push&UTM_Campaign=standard


Share:

Senin, 09 Maret 2026

BPS Palestina: Perang Tingkatkan Jumlah Janda, Pengangguran Kaum Perempuan, dan Ancam Sektor Kesehatan Gaza

Ahad, 8 Maret 2026 - Pusat Informasi Palestina

Badan Pusat Statistik (BPS) Palestina mengumumkan persentase kaum perempuan sekitar 49% dari total populasi di Palestina pada akhir tahun 2025, dengan jumlah keseluruhan  kaum perempuan 2,74 juta.


Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Ahad, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Badan tersebut menjelaskan bahwa jumlah perempuan sekitar 1,69 juta di Tepi Barat dan 1,06 juta di Jalur Gaza, menekankan bahwa kehadiran demografis ini mencerminkan peran penting perempuan dalam masyarakat Palestina.


Data tersebut mengungkapkan bahwa 22.057 perempuan di Jalur Gaza telah kehilangan suami mereka dan menjadi janda sejak pecahnya perang, yang menyebabkan peningkatan persentase rumah tangga yang dikepalai perempuan dari 12% sebelum perang menjadi sekitar 18% selama periode agresi.


Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja Gaza tetap berada di angka 17% pada tahun 2025, sementara partisipasi laki-laki menurun dari 63% menjadi 31%. Tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 92%, dibandingkan dengan 81% di kalangan laki-laki.


Di Tepi Barat, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sekitar 19%, dibandingkan dengan 72% untuk laki-laki, sementara tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 27%, dibandingkan dengan 28% di kalangan laki-laki.


Laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan tingkat pengangguran di kalangan anak muda berusia 19 hingga 29 tahun dengan ijazah diploma atau lebih tinggi, mencapai 79%, dengan 86% untuk perempuan dan 70% untuk laki-laki, yang mencerminkan semakin lebarnya kesenjangan ekonomi antara kedua jenis kelamin.


Di sektor kesehatan, data menunjukkan bahwa sekitar 94% fasilitas kesehatan di Jalur Gaza rusak atau hancur, sementara hampir 37.000 wanita hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi akut antara Oktober 2025 dan Oktober 2026.


Indikator kesehatan juga mencatat peningkatan tajam dalam angka kematian ibu, mencapai 145 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2024, dibandingkan dengan 17,4 kematian pada tahun 2022, menjadi indikator yang mengkhawatirkan betapa buruknya layanan kesehatan.


Data juga menunjukkan bahwa kanker payudara mencapai angkat sekitar 30% dari semua kasus kanker di kalangan wanita di Gaza, dengan angka 29 kasus per 100.000 wanita, di tengah penangguhan layanan deteksi dini dan pengobatan selama lebih dari dua tahun.

Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, “الإحصاء الفلسطيني: الحرب ترفع عدد الأرامل وتفاقم بطالة النساء وانهيار صحي يهدد أمهات غزة” terbit 8 Maret 2026 diakses 9 Maret 2026 10:59 WIB https://palinfo.com/news/2026/03/08/1102651/


Share:

Kamis, 05 Maret 2026

Negara Zionis Manfaatkan Agresi Terhadap Iran untuk Menutup Masjid Al-Aqsa



Sudah lima hari berturut-turut, Otoritas penjajah Zionis menutup Masjid Al-Aqsa. Negara Zionis menggunakan dalih keamanan untuk memberlakukan kontrol lebih lanjut dan mengelola situs-situs suci Islam secara sepihak, khususnya selama bulan Ramadhan. Langkah ini dianggap sebagai eskalasi berbahaya sebagai upaya untuk membentuk kembali realitas yang ada di masjid Al-Aqsa.

Penjajah Zionis telah menutup Masjid Al-Aqsa sejak Sabtu pagi, memaksa jamaah untuk pergi dan mencegah pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih. Penutupan Masjid Al-Aqsa ini juga bersamaan dengan penutupan Masjid Ibrahimi dan Tepi Barat, beberapa jam setelah serangan skala besar yang dilancarkan oleh negara Zionis dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Pemerintah Provinsi Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan penjajah melarang jamaah memasuki masjid, dengan alasan keadaan darurat, di tengah pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar masjid dan di gerbang Kota Tua, serta mencegah warga memasuki halaman masjid.

Otoritas pendudukan mencegah warga Palestina untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih selama Ramadhan. Mereka telah memperkuat kehadiran militer mereka di sekitar masjid dan gerbang Kota Tua, mengerahkan sejumlah besar Polisi Perbatasan dan pasukan khusus, mengubah lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer tertutup. Mereka telah mencegah para jamaah mencapai gerbang masjid dan menyerang sejumlah orang-orang yang sedang berada di masjid.


Proyek Likuidasi Komprehensif

Kelompok-kelompok keagamaan meyakini ini sebagai kelanjutan dan perluasan perang mencerminkan pendekatan negara Zionis yang melancarkan perang pemusnahan komprehensif yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak Arab dan Islam di Palestina dan memaksakan hegemoni absolut. Langkah ini  dipimpin oleh kelompok Zionisme Religius dengan wacana mesianik, didukung oleh visi Zionis Kristen, yang berupaya menyelesaikan konflik atas Al-Quds dengan cara memaksakan realitas keagamaan dan kedaulatan baru.

Mereka menggarisbawahi bahwa penargetan Masjid Al-Aqsa sejak awal perang, meningkatnya frekuensi serangan selama Ramadhan, perluasan pembagian temporal, dan upaya untuk memaksakan kendali atas administrasinya dan mengubah status quo historisnya, semuanya merupakan indikator bahwa Al-Aqsa dipandang sebagai titik fokus dan simbol sentral dari "pertempuran yang menentukan."


Kejahatan Agama dan Kemanusiaan

Sementara itu, Majlis Ulama Palestina menganggap penutupan Masjid Al-Aqsa dan pencegahan jamaah untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih selama Ramadhan sebagai "kejahatan agama dan kemanusiaan yang serius," yang menunjukkan itikad kuat untuk memaksakan realitas Yahudi baru dengan dalih keadaan darurat dan keamanan.

Dalam sebuah pernyataan, Majlis tersebut menyerukan kepada dunia Muslim, para ulamanya, dan lembaga-lembaga pemerintah dan ormas untuk memikul tanggung jawab keagamaan mereka terhadap Masjid Al-Aqsa; bekerja mendukungnya di semua bidang; dan menjaga agar perjuangannya tetap hidup dalam hati nurani Umat, sehingga tidak diabaikan dan dipojokkan oleh penjajah.

Majlis Ulama memuji warga Al-Quds dan kaum perempuan dan laki-laki yang terus berjaga-jaga di Masjid Al-Aqsa, menyerukan kepada warga Palestina di wilayah jajahan sejak 1948 dan Tepi Barat untuk menuju ke Al-Aqsa sana dan menggagalkan penutupannya. 

Majlis itu menyerukan kepada para pemimpin dan pemerintah Islam, khususnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pelanggaran dan melindungi tempat-tempat suci di Al-Quds. pergeseran yang akan sulit untuk dibalikkan di kemudian hari, terutama mengingat perhatian regional dan internasional terhadap perang yang sedang berlangsung.


Perebutan Kedaulatan Bertahap

Abdullah Maruf, seorang peneliti pakar urusan Al-Quds menjelaskan bahwa perluasan pembagian waktu, pembatasan kepada jamaah selama momentum keagamaan, dan penutupan total yang terus berlanjut adalah taktik tekanan yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali "status quo historis" melalui langkah-langkah bertahap yang terakumulasi dari waktu ke waktu hingga menjadi realitas permanen.

Sebaliknya, otoritas penjajah mengakui tindakan ini dengan dalih "situasi keamanan yang genting," tetapi sumber-sumber Al-Quds menegaskan bahwa skala pengerahan militer, pelarangan masuk secara penuh bagi para jamaah, dan serangan terhadap kaum muslimin yang berada di dalam masjid merupakan skala eskalasi yang tidak biasa. (Kho)

Sumber: 

Situs Pusat Informasi Palestina “إغلاق الأقصى.. هكذا تستغل إسرائيل العدوان على إيران لتغيير الوضع القائم” terbit 3 Maret 2026  https://palinfo.com/news/2026/03/03/994774/ 

Situs kantor berita Quds Press “الاحتلال يواصل إغلاق المسجد الأقصى لليوم الخامس على التوالي” terbit tgl 4 Maret 2026, diakses 5 Maret 2026 16:47 https://qudspress.net/253389/ 


Share: