About
Senin, 06 Juli 2026
Minggu, 05 Juli 2026
Peta Seorang Pengelana
Oleh: Idham Cholid
Aku pernah mengira
kebenaran tinggal di puncak gunung.
Maka kudaki segala lereng,
kupelajari nama setiap batu,
kuhitung bintang satu demi satu.
Semakin tinggi langkahku,
semakin panjang bayanganku.
***
Lalu kutemui mereka...
Seorang memeluk belalai,
berkata,
"Inilah gajah."
Seorang menggenggam telinga,
tersenyum,
"Tidak... inilah gajah."
Aku hampir ikut memilih.
Sampai kusadari...
kami semua
sedang meraba cahaya.
***
Aku berlari kepada buku.
Buku menunjuk guru.
Guru menunjuk pengalaman.
Pengalaman menunjuk luka.
Luka menunjuk sunyi.
Dan sunyi...
diam-diam
menunjuk langit.
***
Lalu zaman berubah.
Datanglah sebuah cermin
yang mampu menjawab
lebih cepat
daripada aku bertanya.
Orang menamakannya...
AI.
Aku pun takut.
Takut bila pikiranku
bukan lagi milikku.
Tetapi malam berkata,
"Burung tak kehilangan langit
hanya karena angin membantunya terbang."
***
Maka aku belajar lagi.
Bahwa pengetahuan
bukan tumpukan batu.
Ia adalah sungai.
Mengalir.
Bercabang.
Bertemu.
Lalu menjadi laut.
***
Aku mencari guru yang sempurna.
Kutemukan
orang pintar
yang tak bijaksana.
Kutemukan
orang bijaksana
yang tak pandai berkata.
Kutemukan
orang sederhana
yang diamnya
lebih dalam
daripada pidato.
Sejak itu...
aku berhenti mencari
manusia tanpa cela.
***
Sebab rupanya
Tuhan menyembunyikan
sepotong cahaya
pada setiap jiwa.
Tak ada seorang pun
yang membawa matahari.
Semua hanya membawa
setitik fajar.
***
Aku pun menggambar peta.
Kupikir peta itulah dunia.
Lalu dunia tertawa.
Gunung berpindah.
Sungai berubah.
Jalan hilang.
Dan peta di tanganku
menjadi tua.
Barulah kupahami...
yang harus terus diperbarui
bukan dunia.
Melainkan
cara aku melihatnya.
***
Kini...
bila kutemui seorang anak,
aku belajar tentang harapan.
Bila kutemui seorang tua,
aku belajar tentang waktu.
Bila kutemui orang benar,
aku belajar keteguhan.
Bila kutemui orang yang keliru,
aku belajar kerendahan hati.
Tak ada lagi
pertemuan yang sia-sia.
***
Sebab kita semua
adalah pengelana.
Sebagian berjalan
mencari harta.
Sebagian berjalan
mencari nama.
Sebagian berjalan
mencari kuasa.
Dan sebagian kecil...
berjalan
agar matanya
mampu melihat.
***
Kelak...
ketika seluruh jalan
telah selesai dilalui,
tak seorang pun ditanya,
"Berapa jauh engkau berjalan?"
Mungkin yang ditanyakan hanyalah,
"Apakah hatimu menjadi lebih bening
daripada saat engkau berangkat?"
***
Maka hari itu,
aku tak lagi ingin
menjadi orang
yang selalu benar.
Aku hanya ingin
menjadi seorang pengelana...
yang setiap senja
masih sanggup
berlutut
di hadapan Kebenaran.
Ketika Dunia Bersorak, Siapa yang Masih Mendengar Tangis Gaza?
Oleh: Idham Cholid
Ketika dunia bersorak menyambut gol-gol Piala Dunia, di Gaza orang-orang masih harus berlari mengejar truk-truk tangki pembawa air.
Di stadion, puluhan ribu penonton berdiri merayakan kemenangan. Nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo terus bergema di tribun, menjadi simbol kegembiraan yang menyatukan jutaan pasang mata di seluruh dunia. Di Gaza, para ayah, tidak peduli apakah mereka dosen atau tukang bangunan, semua sama harus berlarian mengantri berjam-jam di bawah matahari yang membakar hanya untuk mendapatkan beberapa liter air bagi anak-anak mereka.
Di layar yang satu, manusia sedang berpesta. Di layar yang lain, manusia sedang berusaha bertahan hidup. Mungkin karena itulah sebagian orang memandang euforia Piala Dunia dengan perasaan yang bercampur aduk.
Bukan karena mereka membenci sepak bola. Bukan karena mereka tidak memahami kebutuhan manusia untuk bergembira. Tetapi karena mereka melihat dua kenyataan yang berjalan bersamaan dengan kontras yang begitu menyakitkan.
Saat dunia menikmati pesta olahraga terbesar di muka bumi, menurut berbagai laporan lembaga kemanusiaan internasional, sekitar dua juta penduduk Gaza kini hidup terkepung di wilayah yang tersisa hanya sekitar 32 kilometer persegi.
Di ruang yang sempit itu, kehidupan dipaksa berlangsung dalam bentuk yang nyaris tidak dapat dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Rumah berada di dalam tenda. Sekolah berada di dalam tenda. Klinik dan rumah sakit darurat berada di dalam tenda. Bahkan ruang-ruang yang dahulu menjadi tempat belajar dan membangun masa depan kini telah berubah menjadi hamparan tenda pengungsian.
Bagi sebagian besar keluarga, tenda bukan lagi tempat berlindung sementara.Tenda telah menjadi seluruh dunia mereka.
Bayangkan sebuah tenda berukuran sekitar tiga meter. Di dalam ruang sesempit itu, harus tinggal satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang atau bahkan lebih.
Mereka tidur di sana. Mereka menyimpan barang-barang mereka yang tersisa dari perang di sana. Mereka memasak di sana. Anak-anak bermain di sana. Dan seluruh kehidupan mereka berlangsung di sana.
Pada musim dingin, tenda-tenda itu tidak mampu menahan hujan. Pada musim panas, tenda-tenda itu berubah menjadi ruang panas yang nyaris tidak bisa dihuni.
Ironisnya, mereka tidak dapat bertahan lama di dalam tenda karena suhu yang menyengat, tetapi mereka juga tidak memiliki tempat lain untuk dituju. Ketika keluar, mereka berhadapan dengan terik matahari yang membakar dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Beginilah kehidupan yang terus berlangsung setiap hari, bahkan ketika sebagian besar dunia sedang sibuk merayakan hal-hal lain.
Kontras itu terasa semakin tajam karena turnamen ini berlangsung ketika Timur Tengah belum benar-benar keluar dari pusaran konflik. Gaza masih menjadi luka terbuka yang belum sembuh, sementara kawasan di sekitarnya terus diguncang ketegangan politik dan militer yang silih berganti.
Pada saat layar-layar televisi di berbagai negara dipenuhi pesta sepak bola, sebagian masyarakat Iran masih hidup berduka dalam prosesi pemakaman Ali Khamenei dan ketidakpastian akibat eskalasi konflik yang mengguncang kawasan. Di satu tempat jutaan orang bersorak menyambut gol. Di tempat lain, keluarga-keluarga masih berkumpul dalam suasana ratapan dan kecemasan
Namun di tengah semua itu, pertandingan tetap dimainkan. Trofi tetap diperebutkan. Dan dunia tetap bergerak.
Sejarah memang sering menghadirkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu tempat, orang-orang merayakan kemenangan. Di tempat lain, orang-orang hanya berharap bisa melewati hari berikutnya.
Masalahnya bukan bahwa manusia bergembira. Masalahnya bukan bahwa manusia mencintai sepak bola. Yang patut direnungkan adalah sesuatu yang lebih dalam.
Ketika sebuah tragedi berlangsung terlalu lama, dunia perlahan belajar hidup berdampingan dengannya. Tangisan berubah menjadi angka. Penderitaan berubah menjadi statistik. Dan berita tentang kematian perlahan kehilangan kemampuannya untuk mengguncang hati manusia.
Mungkin karena itulah bendera Palestina terus muncul di tribun stadion, di media sosial, dan di berbagai sudut dunia. Bukan untuk merusak pesta.Bukan untuk mengalahkan sepak bola.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik gemuruh sorak-sorai itu masih ada jutaan manusia yang hidup di bawah tenda-tenda sempit, masih ada anak-anak yang kehausan, masih ada keluarga yang kehilangan rumah, dan masih ada sebuah tragedi yang belum selesai.
Bahaya terbesar bagi Palestina bukanlah ketika dunia sedang bersorak. Bahaya terbesar adalah ketika penderitaan yang berlangsung begitu lama tidak lagi mampu mengganggu kegembiraan dunia.
Sejarah menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan jarang berakhir karena waktu. Ia berakhir ketika nurani manusia memutuskan bahwa penderitaan seseorang tetap penting, sekalipun tidak lagi menjadi berita utama.
Sebab sebuah peradaban tidak diuji ketika ia mampu membangun stadion yang megah, memecahkan rekor penonton, atau menciptakan pesta yang mempersatukan dunia. Ia diuji ketika masih mampu mempertahankan empatinya kepada mereka yang menderita, bahkan ketika sorak kemenangan sedang menggema paling keras.
Rabu, 24 Juni 2026
Semakin Banyak Front, Semakin Jauh dari Kemenangan
Semakin Banyak Front, Semakin Jauh dari Kemenangan
Oleh: Cholid
"Perang yang terus meluas sering kali bukan pertanda bahwa kemenangan semakin dekat. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi bukti bahwa tujuan awal belum berhasil dicapai."
Sejak perang Gaza meletus, Israel menunjukkan kemampuan militer yang sulit ditandingi di kawasan. Ribuan serangan udara dilancarkan, operasi darat dilakukan secara berkelanjutan, dan perang meluas dari Gaza ke Lebanon, Suriah, Yaman, hingga akhirnya melibatkan konfrontasi langsung dengan Iran.
Sekilas, ekspansi ini tampak sebagai demonstrasi kekuatan.
Namun, dalam ilmu strategi, perluasan medan perang justru dapat dibaca secara berbeda. Semakin banyak front yang harus dibuka, semakin besar kemungkinan bahwa tujuan politik yang hendak dicapai belum berhasil diwujudkan.
Di sinilah letak paradoks perang modern.
Clausewitz pernah menegaskan bahwa perang bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan politik. Artinya, keberhasilan perang tidak diukur dari berapa banyak bom dijatuhkan, berapa banyak wilayah diduduki, atau berapa banyak komandan musuh yang dieliminasi. Ukurannya adalah apakah operasi militer tersebut berhasil menghasilkan tatanan politik yang diinginkan.
Pertanyaan itulah yang layak diajukan hari ini.
Setelah berbulan-bulan perang, apakah Israel berhasil menghilangkan Hamas dari lanskap politik Palestina?
Tidak.
Apakah Hizbullah berhasil dikeluarkan dari perhitungan strategis Israel di perbatasan utara?
Tidak.
Apakah Iran kehilangan pengaruhnya di kawasan?
Juga tidak.
Apakah normalisasi hubungan Israel dengan dunia Arab semakin menguat?
Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak negara Arab memilih lebih berhati-hati, sementara isu Palestina kembali menjadi pusat perhatian diplomasi internasional.
Artinya, perang terus berjalan, tetapi tujuan politiknya belum benar-benar tercapai.
Inilah yang dalam kajian strategi dikenal sebagai strategic overstretch—ketika sebuah negara harus memperluas operasi militernya ke semakin banyak medan karena sasaran awal belum menghasilkan efek yang diharapkan. Setiap front baru memang memberi ruang untuk menunjukkan kemampuan militer, tetapi pada saat yang sama juga membuka titik-titik tekanan baru: biaya perang meningkat, sumber daya tersebar, tekanan diplomatik bertambah, dan lawan memperoleh lebih banyak ruang untuk beradaptasi.
Ironisnya, setiap front baru juga menciptakan lawan baru.
Serangan ke Lebanon mengaktifkan dinamika Hizbullah. Operasi terhadap Houthi membuat Laut Merah menjadi arena konflik baru. Konfrontasi dengan Iran mengubah konflik yang semula bersifat lokal menjadi persoalan keamanan regional. Alih-alih menyempit, perang justru melebar ke berbagai arah.
Dalam perspektif strategi, kondisi semacam ini bukan selalu menunjukkan dominasi, melainkan dapat mencerminkan frustrasi strategis—situasi ketika instrumen militer terus digunakan karena tujuan politik belum juga tercapai.
Tentu saja, tidak berarti Israel telah kalah. Demikian pula, tidak berarti lawan-lawannya telah menang. Tetapi semakin panjang daftar front yang dibuka, semakin jelas bahwa tidak ada satu pun aktor yang mampu memaksakan kehendaknya secara mutlak kepada kawasan.
Timur Tengah hari ini tidak sedang bergerak menuju hegemoni tunggal. Sebaliknya, kawasan ini memasuki fase keseimbangan baru yang jauh lebih rumit, di mana setiap tindakan militer justru memunculkan reaksi baru, setiap kemenangan taktis melahirkan tantangan strategis berikutnya, dan setiap eskalasi membuka ruang konflik yang lebih luas.
Di sinilah pelajaran terbesar yang sering luput dari perhatian.
Kekuatan militer memang mampu memenangkan pertempuran. Namun sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa perang tidak dimenangkan di medan tempur semata. Perang dimenangkan ketika tujuan politik berhasil dicapai.
Selama perang terus meluas, lawan terus bermunculan, dan tatanan politik yang diinginkan belum juga terwujud, maka yang sedang kita saksikan bukanlah kemenangan yang semakin dekat.
Yang kita saksikan justru sebuah paradoks: semakin luas medan perang, semakin jauh kemenangan strategis itu berada.
Kamis, 18 Juni 2026
Dari Gaza Menuju Tata Dunia Baru: Pelajaran Timur Tengah bagi Diplomasi Indonesia dan Dunia Islam (Bagian 3)
Kunjungi versi ebook
Oleh: Idham Cholid
Pemerhati Isu Palestina dan Timur Tengah
Timur Tengah dan Perubahan Tatanan Global
Krisis yang berlangsung dari Lebanon hingga Gaza sesungguhnya memperlihatkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar konflik antar aktor regional. Ia menunjukkan bahwa Timur Tengah sedang berada dalam fase transisi geopolitik, ketika struktur kekuasaan lama mengalami tekanan dan berbagai kekuatan baru berusaha menentukan arah masa depan kawasan.
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat menjadi aktor eksternal paling dominan dalam membentuk arsitektur keamanan Timur Tengah. Kehadiran militer Amerika, jaringan aliansi dengan Israel dan negara-negara Teluk, serta pengaruh diplomatik Washington menjadi salah satu fondasi utama keseimbangan kawasan.
Namun perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pola tersebut mulai mengalami perubahan. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya aktor yang mampu menentukan seluruh dinamika Timur Tengah. Munculnya Tiongkok sebagai mitra ekonomi strategis, meningkatnya diplomasi mandiri negara-negara Teluk, serta berkembangnya hubungan multipolar menunjukkan bahwa kawasan ini sedang bergerak menuju konfigurasi yang lebih kompleks.
Bagi negara-negara Timur Tengah, perubahan tersebut membuka peluang sekaligus menghadirkan tantangan. Mereka memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan politik luar negeri yang fleksibel, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi risiko persaingan kekuatan besar yang semakin meningkat.
Dalam konteks ini, konflik Lebanon dan Gaza menjadi lebih dari sekadar konflik lokal. Keduanya menjadi indikator mengenai bagaimana dunia baru sedang terbentuk dan bagaimana aktor-aktor regional berusaha menentukan posisi mereka dalam perubahan tersebut.
Dari Stabilitas Semu Menuju Perdamaian yang Berkelanjutan
Salah satu pelajaran terbesar dari Timur Tengah adalah bahwa stabilitas dan perdamaian bukanlah konsep yang sama.
Stabilitas dapat tercipta melalui keseimbangan kekuatan, kontrol keamanan, atau pencegahan militer. Namun perdamaian membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: legitimasi politik, keadilan, dan penyelesaian terhadap persoalan yang menjadi sumber konflik.
Pengalaman Lebanon menunjukkan bahwa sebuah wilayah dapat memiliki mekanisme keamanan internasional selama puluhan tahun, tetapi tetap menyimpan persoalan mendasar yang sewaktu-waktu dapat kembali meledak. Kehadiran UNIFIL berhasil menciptakan ruang antara perang dan perdamaian, tetapi tidak mampu menjawab pertanyaan politik mengenai masa depan Lebanon Selatan.
Gaza menghadirkan persoalan yang lebih kompleks. Setelah kehancuran besar, dunia kembali menghadapi pertanyaan yang sama: apakah komunitas internasional akan kembali menggunakan pendekatan lama, yaitu membangun kembali setelah perang, atau berani membangun mekanisme politik yang mencegah perang berulang?
Rekonstruksi tanpa penyelesaian politik berisiko menjadikan Gaza hanya sebagai siklus berulang antara kehancuran dan pembangunan kembali. Masyarakat internasional tidak dapat terus memperlakukan penderitaan manusia sebagai konsekuensi yang harus dikelola setelah konflik terjadi.
Indonesia dan Diplomasi Perdamaian Abad ke-21
Dalam perubahan geopolitik tersebut, Indonesia memiliki posisi yang unik. Indonesia bukan kekuatan militer utama di Timur Tengah dan tidak memiliki kepentingan langsung dalam perebutan pengaruh kawasan. Namun justru karena posisi tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai aktor yang dipercaya oleh berbagai pihak.
Tradisi politik luar negeri Indonesia yang menekankan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan memberikan modal diplomasi yang penting. Pengalaman panjang Pasukan Garuda dalam berbagai misi perdamaian PBB, termasuk UNIFIL di Lebanon, memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki rekam jejak nyata dalam diplomasi keamanan internasional.
Namun tantangan masa depan membutuhkan pendekatan yang lebih maju. Diplomasi Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pernyataan politik atau posisi moral. Indonesia perlu membangun kapasitas sebagai middle power yang mampu menghasilkan gagasan, mempertemukan kepentingan, dan menawarkan perspektif alternatif dalam penyelesaian konflik.
Dalam isu Palestina, Indonesia memiliki legitimasi moral yang kuat. Tetapi legitimasi moral harus diperkuat dengan pemahaman strategis mengenai bagaimana Timur Tengah bekerja: bagaimana Iran menghitung kepentingannya, bagaimana Israel memahami keamanannya, bagaimana negara Teluk menentukan arah kebijakan, dan bagaimana Amerika Serikat mempertahankan pengaruhnya.
Diplomasi yang efektif bukan berarti meninggalkan prinsip, tetapi memahami realitas agar prinsip tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengaruh nyata.
Peran Organisasi Islam Indonesia: Dari Solidaritas Menuju Kapasitas Strategis
Bagi organisasi masyarakat Islam Indonesia, perkembangan Timur Tengah juga menghadirkan tantangan baru.
Solidaritas terhadap Palestina merupakan bagian dari kepedulian kemanusiaan dan nilai keagamaan yang telah lama hidup di masyarakat Indonesia. Namun dalam konteks geopolitik modern, solidaritas membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar respons emosional terhadap setiap perkembangan konflik.
Organisasi Islam Indonesia memiliki kekuatan yang besar melalui jaringan pendidikan, lembaga kemanusiaan, pusat kajian, dan hubungan sosial yang luas. Kekuatan tersebut dapat diarahkan untuk membangun pemahaman publik yang lebih matang mengenai Timur Tengah, termasuk memahami bahwa konflik kawasan tersebut melibatkan sejarah panjang, kepentingan negara, dan persaingan kekuatan internasional.
Dunia Islam membutuhkan bukan hanya suara yang kuat, tetapi juga pengetahuan yang kuat.
Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu pusat kajian Islam dan geopolitik Timur Tengah yang mampu mempertemukan dimensi moral dengan analisis strategis. Dengan demikian, dukungan terhadap Palestina tidak berhenti pada simpati, tetapi berkembang menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian.
Penutup: Ketika Dunia Tidak Cukup Hanya Menghentikan Perang
Dari Lebanon hingga Gaza, sejarah Timur Tengah mengajarkan bahwa perang tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari akumulasi persoalan yang tidak diselesaikan: ketidakamanan, ketidakadilan politik, perebutan pengaruh, dan kegagalan komunitas internasional menemukan formula perdamaian yang memiliki legitimasi.
UNIFIL telah menunjukkan nilai penting kehadiran internasional dalam menjaga agar konflik tidak berkembang menjadi kehancuran yang lebih besar. Namun pengalaman Lebanon juga menunjukkan batas pendekatan yang hanya berfokus pada pengelolaan keamanan.
Dunia tidak dapat terus-menerus datang setelah tragedi terjadi untuk membangun kembali apa yang telah dihancurkan. Perdamaian yang sejati membutuhkan keberanian untuk melihat akar masalah, bahkan ketika akar tersebut berkaitan dengan kepentingan politik yang sulit diselesaikan.
Gaza hari ini bukan hanya persoalan satu wilayah. Ia menjadi ujian terhadap kredibilitas sistem internasional: apakah dunia mampu melihat penderitaan manusia sebagai persoalan politik yang harus diselesaikan, bukan sekadar krisis kemanusiaan yang harus dikelola.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Lebanon dan Gaza sangat jelas. Peran sebuah bangsa dalam menjaga perdamaian tidak hanya diukur dari seberapa keras ia menyuarakan keprihatinan, tetapi dari seberapa besar kemampuannya menghadirkan solusi.
Pada akhirnya, perdamaian Timur Tengah tidak akan lahir hanya karena senjata berhenti berbicara. Ia akan lahir ketika manusia yang selama puluhan tahun hidup dalam ketakutan memperoleh sesuatu yang lebih mendasar: hak untuk hidup aman, memiliki masa depan, dan percaya bahwa sejarah mereka tidak akan selamanya ditulis oleh perang.




