About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Minggu, 05 Juli 2026

Peta Seorang Pengelana

 


Oleh: Idham Cholid

Aku pernah mengira
kebenaran tinggal di puncak gunung.

Maka kudaki segala lereng,
kupelajari nama setiap batu,
kuhitung bintang satu demi satu.

Semakin tinggi langkahku,
semakin panjang bayanganku.

***

Lalu kutemui mereka...

Seorang memeluk belalai,
berkata,

"Inilah gajah."

Seorang menggenggam telinga,
tersenyum,

"Tidak... inilah gajah."

Aku hampir ikut memilih.

Sampai kusadari...

kami semua

sedang meraba cahaya.

***

Aku berlari kepada buku.

Buku menunjuk guru.

Guru menunjuk pengalaman.

Pengalaman menunjuk luka.

Luka menunjuk sunyi.

Dan sunyi...

diam-diam

menunjuk langit.

***

Lalu zaman berubah.

Datanglah sebuah cermin

yang mampu menjawab

lebih cepat

daripada aku bertanya.

Orang menamakannya...

AI.

Aku pun takut.

Takut bila pikiranku

bukan lagi milikku.

Tetapi malam berkata,

"Burung tak kehilangan langit
hanya karena angin membantunya terbang."

***

Maka aku belajar lagi.

Bahwa pengetahuan

bukan tumpukan batu.

Ia adalah sungai.

Mengalir.

Bercabang.

Bertemu.

Lalu menjadi laut.

***

Aku mencari guru yang sempurna.

Kutemukan

orang pintar

yang tak bijaksana.

Kutemukan

orang bijaksana

yang tak pandai berkata.

Kutemukan

orang sederhana

yang diamnya

lebih dalam

daripada pidato.

Sejak itu...

aku berhenti mencari

manusia tanpa cela.

***

Sebab rupanya

Tuhan menyembunyikan

sepotong cahaya

pada setiap jiwa.

Tak ada seorang pun

yang membawa matahari.

Semua hanya membawa

setitik fajar.

***

Aku pun menggambar peta.

Kupikir peta itulah dunia.

Lalu dunia tertawa.

Gunung berpindah.

Sungai berubah.

Jalan hilang.

Dan peta di tanganku

menjadi tua.

Barulah kupahami...

yang harus terus diperbarui

bukan dunia.

Melainkan

cara aku melihatnya.

***

Kini...

bila kutemui seorang anak,

aku belajar tentang harapan.

Bila kutemui seorang tua,

aku belajar tentang waktu.

Bila kutemui orang benar,

aku belajar keteguhan.

Bila kutemui orang yang keliru,

aku belajar kerendahan hati.

Tak ada lagi

pertemuan yang sia-sia.

***

Sebab kita semua

adalah pengelana.

Sebagian berjalan

mencari harta.

Sebagian berjalan

mencari nama.

Sebagian berjalan

mencari kuasa.

Dan sebagian kecil...

berjalan

agar matanya

mampu melihat.

***

Kelak...

ketika seluruh jalan

telah selesai dilalui,

tak seorang pun ditanya,

"Berapa jauh engkau berjalan?"

Mungkin yang ditanyakan hanyalah,

"Apakah hatimu menjadi lebih bening
daripada saat engkau berangkat?"

***

Maka hari itu,

aku tak lagi ingin

menjadi orang

yang selalu benar.

Aku hanya ingin

menjadi seorang pengelana...

yang setiap senja

masih sanggup

berlutut

di hadapan Kebenaran.


Share:

Ketika Dunia Bersorak, Siapa yang Masih Mendengar Tangis Gaza?

 Oleh: Idham Cholid




Ketika dunia bersorak menyambut gol-gol Piala Dunia, di Gaza orang-orang masih harus berlari mengejar truk-truk tangki pembawa air.


Di stadion, puluhan ribu penonton berdiri merayakan kemenangan. Nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo terus bergema di tribun, menjadi simbol kegembiraan yang menyatukan jutaan pasang mata di seluruh dunia. Di Gaza, para ayah, tidak peduli apakah mereka dosen atau tukang bangunan, semua sama harus berlarian mengantri berjam-jam di bawah matahari yang membakar hanya untuk mendapatkan beberapa liter air bagi anak-anak mereka. 


Di layar yang satu, manusia sedang berpesta. Di layar yang lain, manusia sedang berusaha bertahan hidup. Mungkin karena itulah sebagian orang memandang euforia Piala Dunia dengan perasaan yang bercampur aduk. 


Bukan karena mereka membenci sepak bola. Bukan karena mereka tidak memahami kebutuhan manusia untuk bergembira. Tetapi karena mereka melihat dua kenyataan yang berjalan bersamaan dengan kontras yang begitu menyakitkan.


Saat dunia menikmati pesta olahraga terbesar di muka bumi, menurut berbagai laporan lembaga kemanusiaan internasional, sekitar dua juta penduduk Gaza kini hidup terkepung di wilayah yang tersisa hanya sekitar 32 kilometer persegi. 


Di ruang yang sempit itu, kehidupan dipaksa berlangsung dalam bentuk yang nyaris tidak dapat dibayangkan oleh kebanyakan orang.


Rumah berada di dalam tenda. Sekolah berada di dalam tenda. Klinik dan rumah sakit darurat berada di dalam tenda. Bahkan ruang-ruang yang dahulu menjadi tempat belajar dan membangun masa depan kini telah berubah menjadi hamparan tenda pengungsian.


Bagi sebagian besar keluarga, tenda bukan lagi tempat berlindung sementara.Tenda telah menjadi seluruh dunia mereka.


Bayangkan sebuah tenda berukuran sekitar tiga meter. Di dalam ruang sesempit itu, harus tinggal satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang atau bahkan lebih.


Mereka tidur di sana. Mereka menyimpan barang-barang mereka yang tersisa dari perang di sana. Mereka memasak di sana. Anak-anak bermain di sana. Dan seluruh kehidupan mereka berlangsung di sana.


Pada musim dingin, tenda-tenda itu tidak mampu menahan hujan. Pada musim panas, tenda-tenda itu berubah menjadi ruang panas yang nyaris tidak bisa dihuni.


Ironisnya, mereka tidak dapat bertahan lama di dalam tenda karena suhu yang menyengat, tetapi mereka juga tidak memiliki tempat lain untuk dituju. Ketika keluar, mereka berhadapan dengan terik matahari yang membakar dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.


Beginilah kehidupan yang terus berlangsung setiap hari, bahkan ketika sebagian besar dunia sedang sibuk merayakan hal-hal lain. 


Kontras itu terasa semakin tajam karena turnamen ini berlangsung ketika Timur Tengah belum benar-benar keluar dari pusaran konflik. Gaza masih menjadi luka terbuka yang belum sembuh, sementara kawasan di sekitarnya terus diguncang ketegangan politik dan militer yang silih berganti. 


Pada saat layar-layar televisi di berbagai negara dipenuhi pesta sepak bola, sebagian masyarakat Iran masih hidup berduka dalam prosesi pemakaman Ali Khamenei  dan ketidakpastian akibat eskalasi konflik yang mengguncang kawasan.   Di satu tempat jutaan orang bersorak menyambut gol. Di tempat lain, keluarga-keluarga masih berkumpul dalam suasana ratapan dan kecemasan 


Namun di tengah semua itu, pertandingan tetap dimainkan. Trofi tetap diperebutkan. Dan dunia tetap bergerak.


Sejarah memang sering menghadirkan dua wajah yang saling bertolak belakang. Di satu tempat, orang-orang merayakan kemenangan. Di tempat lain, orang-orang hanya berharap bisa melewati hari berikutnya.


Masalahnya bukan bahwa manusia bergembira. Masalahnya bukan bahwa manusia mencintai sepak bola. Yang patut direnungkan adalah sesuatu yang lebih dalam.  


Ketika sebuah tragedi berlangsung terlalu lama, dunia perlahan belajar hidup berdampingan dengannya. Tangisan berubah menjadi angka. Penderitaan berubah menjadi statistik.  Dan berita tentang kematian perlahan kehilangan kemampuannya untuk mengguncang hati manusia.


Mungkin karena itulah bendera Palestina terus muncul di tribun stadion, di media sosial, dan di berbagai sudut dunia. Bukan untuk merusak pesta.Bukan untuk mengalahkan sepak bola.


Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik gemuruh sorak-sorai itu masih ada jutaan manusia yang hidup di bawah tenda-tenda sempit, masih ada anak-anak yang kehausan, masih ada keluarga yang kehilangan rumah, dan masih ada sebuah tragedi yang belum selesai.


Bahaya terbesar bagi Palestina bukanlah ketika dunia sedang bersorak. Bahaya terbesar adalah ketika penderitaan yang berlangsung begitu lama tidak lagi mampu mengganggu kegembiraan dunia.


Sejarah menunjukkan bahwa tragedi kemanusiaan jarang berakhir karena waktu. Ia berakhir ketika nurani manusia memutuskan bahwa penderitaan seseorang tetap penting, sekalipun tidak lagi menjadi berita utama. 


Sebab sebuah peradaban tidak diuji ketika ia mampu membangun stadion yang megah, memecahkan rekor penonton, atau menciptakan pesta yang mempersatukan dunia. Ia diuji ketika masih mampu mempertahankan empatinya kepada mereka yang menderita, bahkan ketika sorak kemenangan sedang menggema paling keras. 


Share: