About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Minggu, 19 Juli 2026

Maafkan Aku Tak Menyapa, Marmara

Mungkin ini kali pertama, tapi bukan yang terakhir,

Kutinggalkan engkau dalam senyap yang mengalir.

Bukan karena aku lupa, bukan pula terlena

Oeh sorak-sorai kesuksesan menyadarkan kepala.

Ketika Global Sumud Flotilla berlayar perkasa,

Menggendong empat jiwa penjaga berita,

Mendobrak dinding sunyi, melipatgandakan suara:

Bahwa diam adalah bentuk keterlibatan yang nyata.

Ingatkah engkau pada bulan-bulan di atas samudra?

Saat seorang profesor rela berganti jubah menjadi juru masak,

Saat kerudung-kerudung suci dijahit dari kain sisa yang koyak,

Dan kaki-kaki telanjang melangkah tanpa kasut,

Di bawah hari-hari hemat air dan lapar yang menyusut.

Perjalanan yang berujung pada dinginnya jeruji besi,

Namun tak secuil pun gentar merayapi nadi.

Sebab di sana, saudara-saudara kami di Gaza,

Sedang memeluk kelaparan dunia yang paling memalukan.

Bayangkan sosok bapak dan remaja yang berlarian,

Mengejar tetesan air dan secuil makanan,

Di bawah bayang-bayang siksa penjara

Yang kepedihannya tak sanggup dieja kata.

Dari Marmara menuju Mavi Marmara,

Dari Sumud Flotilla ke Global Sumud Flotilla,

Aku tidak pernah kehilangan arah dan kompas jiwa.

Namun di tengah deru ombak dan pekik prestasi,

Ketika wanita-wanita garang rela berbulan-bulan pergi,

Meninggalkan hangat keluarga demi panggilan samudra...

Marmara, mendadak lidahku kelu, hari-hariku membeku.

Jauh di ujung Indonesia sana,

Ayahku telah berpulang lebih dulu ke haribaan Yang Maha Kuasa.

Sementara aku di sini, terdampar dalam dilema yang perih:

Haruskah kubiarkan kesedihan ini terus merintih?

Di saat kesadaranku masih saja meronta dan berteriak,

Bahwa diam berarti bersekutu dengan penindas yang tamak!

Aku bukanlah bagian dari penjajahan!

Jika hari ini aku diam dan menangis,

Itu hanya karena aku seonggok wanita, makhluk yang rindu.

Seperti jutaan wanita lain di tanah Gaza yang pilu,

Mereka yang bukan hanya kehilangan figur seorang bapak,

Tetapi juga anak-anak yang direnggut paksa,

Kakek, nenek, cucu, dan bibi yang sirna.

Mereka kehilangan benda-benda, warna-warna, tali-tali kehidupan,

Bahkan kehilangan seluruh semesta.

Namun keajaiban itu ada: mereka tak pernah kehilangan kesabaran.

Mereka tak pernah melepaskan keteguhan.

Maka di atas sajak dan ombak ini, aku bersumpah,

Bersamamu aku akan selalu melangkah.

Di dalam detak Global Sumud Flotilla,

Jiwa kita tak akan pernah menyerah.

---

Anonim,  turut berbelasungkawa atas wafatnya ayah dari seorang srikandi Indonesia. Semoga Allah masukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dan ampunan. Aaamiin

Beylikdüzü, 19 Juli 2026

Share:

Iran Menembak Mati Tentara Amerika, Mengapa Kita Ikut Membayar Harganya?

 

Iran Menembak Mati Tentara Amerika, Mengapa Kita Ikut Membayar Harganya?

Oleh: Cholid

Pemerhati Geopolitik dan Strategi

Laporan resmi Kantor Berita ANTARA mengkonfirmasi terjadinya eskalasi militer besar di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melancarkan gelombang ke-20 Operasi Nasr-2, berupa serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone kamikaze) yang menghantam sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Sasaran serangan meliputi hanggar dan landasan pacu Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania, serta pusat logistik dan komando Amerika di Camp Buehring dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Serangan tersebut dilaporkan merusak sejumlah aset militer sekaligus menimbulkan korban jiwa dan luka di pihak personel Amerika Serikat.

Namun, melihat peristiwa ini hanya sebagai konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia merupakan cara pandang yang terlalu sempit. Dalam dunia yang saling terhubung, sebuah serangan militer tidak lagi berhenti di lokasi ledakan. Dampaknya dapat menjalar ke pasar energi, jalur perdagangan, industri penerbangan, hingga akhirnya mempengaruhi perekonomian negara-negara yang sama sekali tidak terlibat dalam perang, termasuk Indonesia.

Tamparan Politik bagi Washington

Bagi Amerika Serikat, jatuhnya korban di kalangan tentaranya bukan hanya persoalan militer, tetapi juga persoalan politik.

Serangan ini menjadi ujian terhadap kredibilitas strategi deterrence yang selama ini menjadi fondasi kehadiran militer Amerika di Timur Tengah. Pertanyaan pun muncul mengenai efektivitas sistem pertahanan udara yang selama ini menjadi andalan dalam melindungi pangkalan-pangkalan militernya.

Di sisi lain, Washington menghadapi dilema yang tidak mudah. Respons militer yang terlalu keras berisiko memperluas konflik kawasan, sementara respons yang terlalu terbatas dapat dipersepsikan sebagai melemahnya kredibilitas Amerika di mata lawan maupun sekutunya. 

Negara-Negara Teluk Mungkin Mulai Menghitung Ulang

Serangan terhadap pangkalan Amerika juga menjadi sinyal strategis bagi negara-negara Teluk yang selama puluhan tahun menjadikan kehadiran militer Amerika sebagai salah satu pilar keamanan kawasan.

Meskipun masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, eskalasi semacam ini berpotensi mendorong negara-negara Teluk mengevaluasi kembali strategi pertahanan mereka. Dalam jangka menengah, bukan tidak mungkin mereka memperluas kerjasama keamanan dengan lebih banyak mitra sebagai bentuk diversifikasi, sehingga mengurangi ketergantungan kepada satu kekuatan saja 

"Ketika drone Iran terbukti bisa menembus pangkalan AS di Kuwait dan Yordania, peta permainan langsung berubah. Dalam politik dunia, reputasi itu segala-galanya; kelihatan mampu melindungi teman sama pentingnya dengan punya senjata canggih. Begitu rasa aman itu hilang, negara-negara Arab tidak mungkin tinggal diam dan bergerak mencari sekutu baru agar nasib dan keselamatan negaranya tidak lagi bergantung hanya pada komando di Washington." 

Mengapa Kita di Indonesia Ikut Merasakan Dampaknya?

Perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur. Ia juga mengguncang jaringan ekonomi global.

Setiap eskalasi di kawasan Teluk meningkatkan ketidakpastian terhadap pasokan energi dunia. Kawasan ini merupakan salah satu jalur strategis perdagangan minyak global. Ketika risiko meningkat, pasar akan merespons dengan kenaikan premi risiko yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga energi dan biaya transportasi internasional.

Industri penerbangan juga menghadapi tantangan serupa. Meningkatnya risiko keamanan dapat mempengaruhi operasional maskapai, biaya asuransi, maupun perencanaan rute penerbangan. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, biaya operasional berpotensi meningkat dan pada akhirnya dapat tercermin pada tarif penerbangan.

Dampaknya tidak berhenti di sektor transportasi seperti naiknya harga tiket pesawat karena harus mengambil rute alternatif yang lebih jauh. Ketidakpastian geopolitik juga dapat meningkatkan biaya logistik internasional. Apabila kondisi ini berlangsung berkepanjangan, harga berbagai barang impor—mulai dari produk elektronik hingga komponen industri—berpotensi ikut mengalami kenaikan karena biaya distribusi yang lebih tinggi.

Bagi Indonesia yang sangat terhubung dengan perdagangan global, perubahan tersebut pada akhirnya dapat mempengaruhi biaya hidup masyarakat, meskipun konflik terjadi ribuan kilometer dari wilayah kita.

Perang Modern Tidak Lagi Mengenal Batas Wilayah

Serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi menghasilkan dampak yang bersifat lokal. Gelombang kejutnya dapat menjalar melalui jaringan energi, perdagangan, logistik, dan keuangan global.

Karena itu, ledakan rudal di Timur Tengah tidak seharusnya dipandang hanya sebagai berita luar negeri. Ia adalah pengingat bahwa dalam dunia yang saling terhubung, konflik geopolitik dapat menghadirkan konsekuensi ekonomi yang dirasakan hingga ke meja makan masyarakat di negara lain.

Rakyat Iran dan tentara Amerika mungkin yang menjadi sasarannya. Namun, apabila eskalasi terus berlanjut, kita semuanya akan turut serta membayar harganya!


Share: