About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Minggu, 14 April 2024

Iran Lancarkan Serangan Balas Dendam Terhadap Israel &

Diprediksi Jadi Peristiwa Terkini Paling Berbahaya & Terjadi Syok Minyak


Dalam serangan langsung pertamanya terhadap Israel, Iran meluncurkan ratusan drone serangan bunuh diri serta rudal jelajah dan balistik ke negara tersebut pada hari Sabtu sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap kompleks diplomatik Iran di Damaskus pada tanggal 1 April.


Ketika perang Israel dengan Hamas tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuahkan hasil, serangan tersebut menandai momen gejolak besar lainnya di Timur Tengah yang mengancam akan membawa kawasan ini ke dalam konflik yang lebih luas. Keputusan Iran untuk melakukan pembalasan terhadap Israel dari wilayahnya sendiri menimbulkan keheranan di kalangan para ahli, meskipun serangan tersebut tampaknya telah dikalibrasi dengan cermat untuk menghindari perang skala penuh.


“Ini sangat signifikan, karena Iran menghindari serangan langsung terhadap Israel, dan biasanya memilih untuk menggunakan kekuatan proksi untuk seolah-olah melindungi mereka dari pembalasan,” kata Michael Mulroy, mantan pejabat pertahanan AS.


Sirene meraung di seluruh Israel pada Ahad dini hari di Negev, Dimona, dan Yerusalem, dan intersepsi meluas hingga ke pinggiran kota Tel Aviv, sementara jet tempur Israel melakukan patroli di Tel Aviv dan kota-kota besar lainnya.


Koalisi yang dibentuk secara tergesa-gesa yang terdiri dari AS, Inggris, dan militer regional lainnya, termasuk Yordania, membantu Israel dalam menumpulkan serangan tersebut dan berhasil menjatuhkan banyak gelombang pertama drone dan rudal Iran sebelum mereka mencapai wilayah udara Israel, kata dua pejabat AS kepada Foreign Policy.


Drone yang dipilih Iran untuk diluncurkan ke Israel termasuk drone yang bergerak lebih lambat dan dirancang untuk penggunaan taktis, kata para pejabat tersebut—indikasi lain bahwa Teheran kemungkinan mengurangi responnya untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.


Hingga Ahad dini hari, satu-satunya korban yang dilaporkan dalam serangan Iran adalah seorang gadis Arab Badui berusia 10 tahun yang terluka akibat jatuhnya pecahan peluru di gurun Negev. Anak itu dirawat di rumah sakit karena luka-lukanya.


Laksamana Muda Pasukan Pertahanan Israel Daniel Hagari mengatakan sistem pertahanan udara jarak jauh Arrow Israel mencegat sebagian besar rudal Iran di luar wilayah udara Israel, meskipun senjata tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur di salah satu pangkalan militer. Iran meluncurkan lebih dari 200 proyektil ke Israel berdasarkan perhitungan Hagari.


Gedung Putih mengutuk serangan itu dan mengatakan dukungan AS terhadap Israel tetap “kuat.” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara melalui telepon dengan Presiden AS Joe Biden pada Sabtu malam waktu Washington untuk memberitahu dia tentang serangan itu. Menteri Pertahanan Inggris Grant Shapps mengumumkan bahwa Inggris akan mengerahkan lebih banyak aset Angkatan Udara Kerajaan ke wilayah tersebut dibawah operasi kontra-ISIS yang ada di Irak dan Suriah dan bahwa jet-jet ini akan “mencegat setiap serangan udara dalam jangkauan misi kami yang ada, sebagaimana diperlukan."


Serangan ini adalah yang terbesar yang dilakukan Iran di kawasan ini sejak serangan pesawat tak berawak terhadap kilang minyak Saudi pada tahun 2019 dan serangan terhadap pangkalan udara Irak yang menampung pasukan AS pada tahun 2020 sebagai tanggapan atas serangan pesawat tak berawak AS yang menewaskan Qassem Suleimani, yang memimpin Pasukan elit Quds Iran.


Namun Iran juga tampaknya telah mengirimkan telegram mengenai serangan terhadap Israel jauh sebelumnya, sehingga memberikan Israel dan sekutunya banyak waktu untuk mempersiapkan pertahanan udara mereka, sebuah langkah yang ditafsirkan oleh beberapa pakar regional dan pejabat AS sebagai upaya yang diperhitungkan untuk mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut. Beberapa jam sebelum serangan, Yordania dan Israel menutup wilayah udara mereka untuk lalu lintas komersial, sementara kapal tanker AS mengisi bahan bakar jet tempur AS yang melintasi langit Irak.

(Artikel ditulis oleh  Jack Detsch and Robbie Gramer Diterbitkan oleh: Foreignpolicy.com, terbit 13 April 2024, jam 18:23, Referensi: https://foreignpolicy.com/2024/04/13/iran-israel-drone-strikes-retaliation-damascus/ diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Prediksi Akan Terjadi Syok Minyak


Komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, mengatakan pada hari Selasa bahwa kehadiran Israel di UEA dipandang sebagai ancaman oleh Teheran dan dapat menutup Selat Hormuz jika dianggap perlu. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari.


Minyak telah melonjak ke harga tertinggi sejak Oktober karena Israel bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Iran, sebuah perkembangan yang akan mengancam gangguan besar di wilayah tersebut. Patokan global Brent melonjak sebanyak 2,7 persen menjadi $92 per barel, tingkat yang terakhir dicapai pada hari-hari awal perang, Bloomberg melaporkan. OPEC telah memperpanjang pemotongan sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari untuk menjaga stabilitas pasar. Para analis memperkirakan bahwa jika serangan Iran mengakibatkan perang yang lebih luas, harga bisa naik di atas $100 per barel.


Eskalasi akan menimbulkan tekanan inflasi pada perekonomian global yang berada dalam mode perlambatan. Karena India mengimpor sekitar 85 persen kebutuhan minyak mentahnya, peningkatan inflasi berarti pembalikan penurunan inflasi.


Reserve Bank of India (RBI) pekan lalu mempertahankan kebijakan suku bunga dan sikap moneternya untuk pertemuan tinjauan ketujuh berturut-turut dengan alasan ketidakpastian harga pangan, sehingga menunda dimulainya siklus pelonggaran suku bunga yang sangat dinantikan.


Reserve Bank of India (RBI) pekan lalu mempertahankan kebijakan suku bunga dan sikap moneternya untuk pertemuan ketujuh berturut-turut dengan alasan pemasaran harga pangan, sehingga mengakhiri dimulainya siklus pelonggaran suku bunga yang sangat dinantikan.


Reserve Bank of India (RBI) pekan lalu mempertahankan kebijakan suku bunga dan sikap moneternya untuk pertemuan peninjauan ketujuh berturut-turut dengan alasan lintasan harga pangan yang tidak menentu, sehingga menunda dimulainya siklus pelonggaran suku bunga yang sangat dinanti-nantikan sambil memperpanjang status quo menjadi setidaknya 16 bulan. Risiko terhadap stabilitas harga belum sepenuhnya hilang, kata Gubernur RBI Shaktikanta Das.


Laporan terkini menunjukkan bahwa inflasi konsumen turun di bawah 5% untuk pertama kalinya dalam lima bulan di bulan Maret, turun menjadi 4,85% dibandingkan dengan 5,09% di bulan sebelumnya. Namun, para ahli mengindikasikan bahwa hal ini tidak akan menghalangi Reserve Bank of India untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, karena bank sentral tersebut memantau musim hujan dan faktor eksternal lainnya. Dengan faktor tambahan yaitu melonjaknya harga minyak dan LNG akibat kemungkinan eskalasi antara Iran dan Israel, penurunan suku bunga dapat lebih ditunda. Harga bahan bakar yang lebih tinggi mendongkrak biaya transportasi sehingga berdampak pada beberapa jenis barang konsumsi. Harga minyak yang lebih tinggi juga berarti tagihan impor yang lebih besar yang akan memperburuk defisit transaksi berjalan.


(Terbit pada 13 April 2024, jam 20:50 https://economictimes.indiatimes.com/news/india/are-israel-and-iran-headed-for-a-war-know-what-can-happen/articleshow/109273932.cms?utm_source=contentofinterest&utm_medium=text&utm_campaign=cppst diterjemahkan oleh #Khalidmu)



Share:

Jumat, 29 Maret 2024

Perubahan Penting Dalam Hubungan Turki-Irak

Oleh: Kemal Ozturk
Penulis dan jurnalis Turki

Selama beberapa bulan terakhir, Turki telah bekerja keras untuk menyelaraskan kembali hubungan dengan Irak, ada dua alasan utama untuk hal ini:

1- Berpindahnya struktur Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak dari pegunungan ke kota, dan mereka semakin meningkat serangannya terhadap Turki.
2- #ProyekTerowonganBawahLaut, yang dianggap sangat penting oleh Turki, yang akan mengubah arah perdagangan maritim global.

Langkah Hati-hati dan Kooperatif

Presiden Erdogan, Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, dan Kepala Badan Intelijen Nasional baru-baru ini secara serius memperingatkan pimpinan Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK) terkait hubungannya dengan PKK di Irak utara.

Kepala Badan Intelijen Nasional, Ibrahim Kalin, mengunjungi Sulaymaniyah untuk menyampaikan kekhawatiran Turki atas kerja sama eratnya dengan PKK. Tak hanya itu, ia mengatakan kepada Presiden Abdul Latif Al-Rashid saat berkunjung ke Baghdad bahwa pengurus Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK) telah membuka ruang bagi PKK untuk bermanuver, sehingga menyebabkan peningkatan serangan dari Irak utara terhadap pangkalan militer Turki.

Akibat operasi militer Turki yang dinamai “Cakar Kunci” beberapa waktu lalu, dan operasi yang dilakukan badan intelijen terhadap pimpinan PKK dengan menggunakan drone, PKK berpindah dari daerah pegunungan ke selatan, menuju Mosul, Kirkuk dan kota-kota lain, dan menambah jumlah  pangkalan militernya.

Untuk mencegah hal ini, Turki, bekerja sama dengan pemerintah Irak, bertujuan untuk memperluas operasi militernya selama beberapa bulan musim panas. Mereka ingin mencegah serangan PKK dengan membuat garis dengan kedalaman 30 kilometer dari perbatasan Turki, dan Presiden Erdogan mengistilahkan itu sebagai “mengunci gembok.”

Tiga Pria Mendarat di Bagdad Membawa Berkas Penting

Menteri Pertahanan Yaşar Guler, Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, dan kepala Badan Intelijen Nasional Ibrahim Kalin melakukan kunjungan yang sangat penting ke Bagdad pada 14 Maret. Kunjungan ini mendapat perhatian besar di kawasan. Ketiga pejabat tersebut memiliki file lengkap yang mereka bawa. Salah satunya adalah keberadaan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak, dan yang lainnya adalah masa depan Proyek Terowongan Bawah Laut. Ternyata, ada isu lain yang tidak disebut dan dibahas secara diam-diam, yaitu pertanyaan apakah pemerintahan Baghdad mulai sekarang tidak akan lagi mengekor Iran.

Proyek Terowongan Bawah Laut Merah merupakan jalur perdagangan baru yang sangat penting yang dikembangkan sebagai alternatif dari Terusan Suez. Itu akan dimulai dari pelabuhan Al-Faw di Basra, melewati Baghdad dan Mosul, masuk melalui gerbang perbatasan Turki Ovaköy dan mencapai Eropa.

Mengapa Iran dan Amerika Serikat Menentang Proyek Terowongan Bawah Laut ini ?

Amerika Serikat sangat mendukung jalur perdagangan baru yang disebut “Koridor India”, yang akan memperkuat tangan Israel. Terlepas dari kontroversi mengenai manfaat dan rendahnya biaya proyek yang merupakan alternatif dari proyek Jalur Sutra dan Jalan Sabuk Tiongkok, Amerika Serikat dan India sangat antusias dengan proyek ini.

Proyek Terowongan Bawah Laut yang disokong Turki, UEA, dan Irak, lebih pendek, lebih murah, dan lebih cepat dibandingkan koridor India. Namun, masalah yang paling serius adalah keamanan jalur kereta api yang akan dibangun di Irak. Selama PKK mengancam rute ini, kemungkinan besar proyek tersebut tidak akan dilaksanakan.

Amerika Serikat tidak menyambut baik proyek ini; karena adanya alternatif Koridor India. Di sisi lain, Iran tidak akan mendukung proyek yang akan memperkuat kemandirian ekonomi Irak dan menjadikan Turki pemain yang sangat penting dalam jalur perdagangan maritim global. Alat yang akan digunakan Amerika Serikat dan Iran untuk menyabotase proyek tersebut adalah Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Dalam konteks ini, tiga pejabat Turki yang berkunjung ke Irak menyampaikan beberapa usulan kepada Baghdad untuk menyelesaikan masalah ini.

Lembaran Baru Hubungan Turki-Irak

Dalam pembahasan dengan Baghdad, diusulkan untuk meninjau hubungan kedua negara di banyak bidang dan membuka lembaran baru bagi Proyek Terowongan Bawah Laut. Berikut beberapa rekomendasinya:

1- Meninjau status dan administrasi Kirkuk, dimana tinggal suku Turkmenistan juga.
2- Mengusir Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dari kota-kota dan wilayah-wilayah Irak.
3- Melakukan operasi militer besar-besaran di Irak utara pada musim panas, untuk membuat wilayah tersebut sepenuhnya aman. Kerjasama dengan Baghdad akan mencapai tujuan itu.
4- Mengamankan jalur kereta api yang diharapkan akan dibangun dari Basra ke perbatasan Turki.

Tidak ada keraguan bahwa pemerintahan Baghdad sangat antusias dengan Proyek Terowongan Bawah Laut ini, namun mereka perlu menyelesaikan dua masalah penting: mereka harus mencapai kesepakatan dengan pemerintah Amerika dan Iran, dimana keduanya memiliki pangkalan-pangkalan militer penting di negara ini, terkait masalah ini; Sebab, meski tidak mendeklarasikannya, dua negara ini menentang Terowongan Bawah Laut dan (masalah kedua) menetralisasi total Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak.

Turki sekarang menunggu langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintahan Baghdad. Namun, Turki bertekad untuk melancarkan operasi militer untuk membangun garis keamanan sedalam 30 kilometer di perbatasan Irak dalam beberapa bulan musim panas mendatang.

(Terbit di Aljazeera tanggal 27/3/2024, Referensi: https://bit.ly/3TEBGVm diterjemahkan oleh #Khalidmu)




Share:

Kamis, 28 Maret 2024

Resolusi yang “Pincang”: Mengapa Baru Sekarang?

Oleh: Hamzah Zawbaa


Ketika bulan suci Ramadhan sudah separuh jalan, dunia yang munafik ini baru ingat bahwa ini adalah bulan suci bagi umat Islam, dan bahwa penderitaan rakyat Palestina telah melampaui batas dan mempermalukan semua orang, mulai dari raja dan pangeran istana hingga rakyat jelata. di desa-desa, dusun-dusun, kota-kota besar, dan pinggiran kota yang menampung kedutaan besar Israel, di mana perwakilan penjajah itu bergerak jauh lebih bebas dibandingkan pergerakan warga negaranya sendiri. Pada tanggal lima belas Ramadhan 1445 H, para pemimpin dunia yang menguasai Dewan Keamanan memutuskan untuk mengizinkan dikeluarkannya #resolusi yang pincang tentang gencatan senjata pada sisa bulan Ramadhan dengan harapan itu akan berubah menjadi gencatan senjata permanen.. Alhamdulillah wahai dunia yang terculik atas usahamu ini!)


Setelah 171 hari perang genosida dan etnic cleansing yang tiada henti-hentinya, hati nurani negara-negara adidaya terhenyak, dan Amerika bersikap ramah, penuh kasih sayang, dan mengalah, serta membiarkan dirinya tetap diam dan tidak menggunakan senjata vetonya terhadap resolusi yang pincang untuk menghentikan perang dan membebaskan para tawanan: Tanpa tuntutan yang jelas untuk menghentikannya secara permanen, atau untuk menarik pasukan tentara Zionis, atau untuk memulangkan para pengungsi dan warga ke rumah-rumah mereka, atau untuk hak atas kompensasi dan rekonstruksi, dan hak untuk apa pun, ya Rabb, selain dari menyelamatkan Israel dari Netanyahu, yang diyakini oleh pemerintahan Biden bahwa Netanyahu telah menyabotase semua rencana Gedung Putih untuk menguasai dan mengendalikan dunia Arab dengan cara yang “tenang”, sedangkan Netanyahu lebih memilih cara yang “panas.”


Setelah hampir enam bulan, resolusi Dewan Keamanan yang “pincang” muncul dan menyingkap kepada dunia sejumlah fakta tentang Perang Dunia Arab Gabungan ini:


1- Negara Penjajah Israel masih belum menang dan belum mencapai tujuan apa pun yang diumumkan Netanyahu sendiri dan menteri pertahanannya, yaitu penghancuran kekuatan Hamas dan pembebasan para tahanan.


Negara Penjajah tidak mampu meyakinkan seluruh dunia tentang narasi haknya untuk membalas dan membela diri. Karena dunia tahu bahwa mereka adalah negara yang melakukan penjajahan, dan sudah mendahului operasi Tofan Al-Aqsa hampir tujuh dekade sebelumnya.


3- Negara Penjajah menghadapi pengucilan besar-besaran, seperti yang diungkapkan oleh majalah The Economist dalam edisi terbarunya, ketika majalah tersebut memasang gambar bendera Israel yang ditanam di gurun tandus dan berangin dan diberi judul “Israel Sendirian.”


4- Gerakan Perlawanan belum mengakui kekalahannya dan belum mengibarkan bendera putih dan menyerah, seperti yang diminta Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken secara terbuka sebagai syarat gencatan senjata, namun keputusan gencatan senjata dikeluarkan tanpa memenuhi permintaan Blinken.


5- Negara besar Amerika tidak mampu menahan kemarahan internasional yang luar biasa yang diwakili oleh negara-negara yang bukan anggota tetap Dewan Keamanan, termasuk negara saudara kita Aljazair, dan dengan demikian dia mendapati dirinya menjadi negara kedua yang semakin terasingkan atau terisolasi dan mulai merasa sesak ruang gerak diplomatiknya di koridor Perserikatan Bangsa-Bangsa, meskipun kita semua tahu bahwa persekutuannya dengan Penjajah Israel tidak dan tak akan pernah putus.


6 - Kemarahan yang terus meningkat di dalam Amerika Serikat karena dua hal: Yang pertama adalah kemarahan para elit tentang bagaimana Amerika, dengan kekuatan dan keperkasaannya, telah berubah menjadi “jongos” Israel yang mengendalikan keputusan-keputusan dan bahkan kemauan politiknya serta mempengaruhi nasib pemerintahannya. Yang kedua adalah kemarahan publik yang disebabkan oleh adegan pembunuhan, pemboman, dan kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Penjajah Israel di depan mata telanjang dan telinga dunia.


7- Perang ini menegaskan apa yang kita perdebatkan sepuluh tahun yang lalu, yaitu bahwa kontra-revolusi dan kudeta yang terjadi setelah Musim Semi Arab diatur oleh aliansi jahat Arab-Zionis, yang para perencananya berpikir bahwa sudah tiba waktunya untuk membungkam rakyat agar tidak mengganggu Israel dan para penguasa yang secara keliru percaya bahwa Israel sebagai agen Amerika, ia mampu melindungi takhta mereka, dan mereka mendapati bahwa Israel tidak mampu melindungi dirinya sendiri dalam menghadapi gerakan perlawanan, yang bahkan bukan tentara reguler.


8- Perang yang tidak berhenti ini juga menegaskan bahwa penguasa negara-negara Arab turut terlibat dalam perang melawan Palestina, seluruh wilayah Palestina. Tepi Barat juga menghadapi seperti yang dihadapi  oleh rakyat Gaza, dan pasukan penjajah berkeliaran di seluruh kota-kota di Tepi Barat dan jalan-jalan serta gang-gangnya di depan mata dan hidung pemerintahan Mahmoud Abbas. Orang-orang diculik dari rumah dan tempat tinggal mereka, dan dari rumah sakit, dan kita tidak mendengar suara apapun dari Abu Mazen (Julukan Mahmud Abbas). Kita juga tidak membaca (di media) kecaman atau penolakan apa pun dari para menteri luar negeri negara Arab, karena Isu Palestina tidak ada dalam agenda mereka kecuali sebagai kartu negosiasi dengan Amerika.


9- Negara-negara yang disebut sebagai negara-negara besar Arab tidak dapat – atau bisa dikatakan, tidak ingin – menghentikan perang atau memberikan bantuan. Sebaliknya, yang mereka cari dan tunggu, dan penantian mereka akan lama, hanyalah momen diumumkannya kekalahan kelompok-kelompok perlawanan dan kemenangan Netanyahu, karenanya gencatan senjata bagi mereka bukan barang yang istimewa.


10- Saya prediksi bahwa keputusan gencatan senjata yang “pincang” ini  tidak menyenangkan sebagian penguasa di Timur Tengah karena hal ini mewakili kemenangan nyata bagi gerakan perlawanan, meskipun aib dan kelemahan dirinya dalam memberikan tingkat terkecil (bantuan) kemanusiaan bagi orang-orang yang dibunuh, di hancur leburkan, terlantar dan kelaparan. 


11- Resolusi yang bersembunyi di balik kesucian bulan Ramadhan, penulisnya lupa bahwa jiwa manusia itu suci di sepanjang tahun, dan pemanggilan perasaan tidak dilakukan pada momen keagamaan, melainkan harus terus tetap menjadi prinsip dalam prinsip peperangan dan pertempuran. Dan bahwa resolusi itu dikeluarkan setelah adanya penghindaran, perundingan, dan hak veto sebanyak tiga kali, tidak ada disebutkan keputusan-keputusan sebelumnya yang berkaitan dengan masalah Palestina atau negara Palestina, yaitu resolusi, seperti yang orang Mesir namakan dalam bahasa Amiyah Mesir, “menghalangi sinar matahari.”


12- Amerika, yang mengesahkan resolusi tersebut, perwakilannya di Dewan Keamanan hampir menangis karena kesedihannya yang luar biasa atas dikeluarkannya resolusi yang pincang ini, dan juru bicara Gedung Putih keluar untuk mengklarifikasi bahwa tidak digunakannya veto tidak berarti perubahan dalam posisi Amerika terhadap Israel, dan Departemen Luar Negeri AS dengan cepat menjelaskan kepada kita bahwa resolusi tersebut tidak mengikat bagi Israel.


Menurut pandangan saya yang sederhana, keputusan tersebut mewakili perubahan baru dalam konflik yang berpindah dari Gaza ke kawasan (Timur Tengah) dan akan berdampak selama bertahun-tahun, seperti yang dikatakan oleh Gallant, Menteri Pertahanan dan anggota Dewan Perang Zionis saat ini, pertempuran ini akan berpindah ke cakrawala yang lebih besar dan lebih luas, dan tidak ada bukti yang lebih jelas tentang hal itu selain keputusan Spanyol, Malta, Slovenia, dan Irlandia yang memutuskan untuk mengambil langkah-langkah untuk mengakui negara Palestina, hal yang dianggap Netanyahu sebagai hadiah untuk Hamas dan bukan untuk rakyat Palestina yang telah berjuang (melawan penjajahan) sejak tujuh dekade.


Selain itu, menurut pendapat saya, bertambahnya kesadaran yang meningkat pasti akan diikuti, mungkin dengan kecepatan yang lebih cepat, dengan cakupan aksi di level Arab dan global, terutama karena sudah jelas bagi semua orang bahwa tentara penjajah tidak lain hanyalah “macan kertas” dan kemampuannya untuk menyelesaikan perang yang berkepanjangan agak diragukan, dan bahwa negara Z10n1s ini tidak akan mampu bertahan tanpa dukungan Amerika Barat dan dukungan Arab Zionis, yang semuanya memandang perlawanan dan rakyat sebagai musuh mereka. Inilah yang akan menjadikan tahun-tahun mendatang lebih panas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.


Penjajah Israel akan memerlukan waktu puluhan tahun untuk memulihkan strukturnya yang rusak, yang kini runtuh di depan mata semua orang, dan reputasinya, yang telah mencapai titik terendah, terutama reputasinya sebagai negara “militer yang kuat” di samudera militer yang sibuk dengan politik dan perdagangan. Apakah waktu akan menyelamatkannya , atau akankah orang-orang yang ingin menyingkirkan kolonialisme dan tirani dalam satu pukulan telak akan akan mendahuluinya ?


(Diterbitkan oleh arabi21.com tanggal 24 Maret 02:04 siang, referensi: https://bit.ly/3IUViiU diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share:

Selasa, 26 Maret 2024

Rafah dan Serangan Terhadap Sistem Distribusi Bantuan Kemanusiaan

Oleh Mahmoud Al-Rantisi


Tidak ada yang menyangka bahwa pada akhir tahun 2023, Rafah akan menerima lebih dari 1.500.000 pengungsi dari kota-kota lain di Jalur Gaza. Akibat pemboman biadab yang dilakukan tentara penjajah Israel terhadap tempat tinggal, rumah sakit, dan infrastruktur di seluruh kota-kota Jalur Gaza.


Pada tahun 2003, saya mengikuti kuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Gaza tentang rekayasa jaringan air di Jalur Gaza. Tugas saya adalah memprediksi jumlah penduduk masa depan kota Rafah pasca 20 tahun, berdasarkan mana jaringan air virtual akan dirancang. Saat itu, populasi Rafah sekitar 150 ribu orang, dan meskipun terdapat perbedaan prediksi di kalangan mahasiswa tentang jumlah populasi di masa depan; Karena ada lebih dari satu metode, sehingga jumlahnya berkisar antara 200.000 dan 300.000. Meskipun perhitungan semacam ini memiliki beberapa catatan terhadap jumlah imigrasi dan pengungsian, selain tingkat pertambahan populasi alami. Skenario kehadiran satu juta 500 ribu warga Palestina di Rafah tidak pernah terfikir dalam benak siapapun.


Pada awal agresi, melalui pembantaian terhadap warga sipil dan mengizinkan hanya sedikit saja bantuan yang bisa lolos ke selatan Jalur Gaza dengan janji-janji palsu tentang adanya tempat-tempat yang aman, penjajah mencoba mendorong warga masyarakat menuju Rafah. Untuk kemudian melaksanakan rencana pengungsian, yang mengalami kegagalan karena berbagai alasan, yang terpenting dikarenakan penolakan rakyat Palestina untuk dicerabut dari akarnya, meskipun telah menyaksikan banyak kematian dan kelaparan. Oleh karena itu, penjajah, yang tampaknya bingung mengenai masa depan Gaza pasca agresi, terpaksa mengambil tindakan dengan menyasar seluruh eksistensi kedaulatan dan elemen-elemen eksistensi pemerintahan lokal di Jalur Gaza, khususnya di tempat yang memiliki jumlah penduduk terbesar, yaitu provinsi Rafah.


Tekanan Demografis


Kota Rafah terletak di ujung selatan Jalur Gaza, berbatasan dengan Mesir, dan berjarak 35 kilometer dari pusat Kota Gaza. Luas Rafah sekitar 63 kilometer persegi, sekitar 20% dari luas Jalur Gaza.  Kepadatan populasi Rafah, sebelum agresi Israel baru-baru ini, dianggap salah satu yang tertinggi di dunia. Dulunya sekitar 5.000 orang per kilometer persegi, dan kini meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah warga Palestina di dalamnya mencapai satu setengah juta, sehingga menjadi 27 ribu orang per kilometer persegi.


Mengingat bahwa ada banyak lokasi yang berdekatan dengan perbatasan timur Rafah yang dikuasai Israel, dan adanya banyak lokasi di mana para pengungsi tidak boleh ada di sana,   maka populasi terkonsentrasi di dalam sekitar 30 kilometer persegi Rafah, dan dengan demikian hal ini meningkatkan kepadatan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 50 ribu orang per kilometer persegi, yang merupakan angka tertinggi di dunia, ditambah persentase yang mendekatinya, seperti persentase pengungsi Rohingya di kamp pengungsian di Bangladesh pada tahun 2017 yang mencapai 40 ribu orang per kilometer persegi, tapi mereka tidak berada dalam kondisi perang dan pengepungan, seperti yang terjadi di Rafah saat ini.


Jalur Gaza dianggap sebagai salah satu wilayah geografis yang paling padat penduduknya di dunia sebelum agresi, dan sekarang kepadatan ini meningkat sepuluh kali lipat, kita berbicara tentang situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang akan melumpuhkan kerja aparat administrasi atau pemerintahan, bahkan jika dalam keadaan tidak terjadi pengeboman dan situasi keamanan serius, disebabkan agresi, pengepungan dan kelaparan.


Berbagai kota di dunia telah menyaksikan kurangnya keamanan dan merebaknya kekerasan, seperti Kinshasa dan Rio de Janeiro. Kota-kota itu gagal menyediakan layanan karena peningkatan populasi, tanpa adanya perang genosida atau pengepungan. Jadi bagaimana jika faktor-faktor itu ditambahkan? Sebagai contoh, kami dapat menunjukkan di sini bahwa jumlah pegawai di kota Rafah hanya 200 orang, yang memberikan layanan kepada satu setengah juta pengungsi.


Namun, kelompok di Rafah juga menunjukkan ketabahan, kesabaran dan daya tahan yang belum pernah terjadi sebelumnya meskipun ada tekanan demografi. Banyak mekanisme juga diusulkan untuk mengendalikan situasi keamanan, kesehatan dan ekonomi, mendistribusikan bantuan kemanusiaan secara adil, dan mengelola pusat-pusat penampungan serta tim emergency dan kebersihan. 


Sejak awal agresi, Pemerintah Kota Rafah telah melaksanakan ribuan tugas untuk menyelamatkan dan mengevakuasi korban luka, menguburkan para syuhada, membuka kembali jalan-jalan, membersihkan puing-puing, dan mengatur pusat-pusat pengungsian. Institusi keamanan dan ekonomi juga telah bekerja mengatur situasi, sebagaimana polisi  telah mengamankan truk-truk bantuan dan menghadapi kekacauan dan kejahatan.


Kekacauan Yang Diciptakan Terhadap Distribusi Bantuan


Telah diketahui bahwa pemerintah Israel telah menggunakan ancaman invasi darat ke Rafah. Untuk memberikan tekanan pada proses perundingan kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif, setidaknya untuk saat ini, dan bahkan dengan mempertimbangkan skenario operasi darat, ada jalur paralel berbahaya yang akan dilakukan oleh Israel yang bergantung pada pembentukan kondisi kacau di Rafah dengan menyasar seluruh elemen stabilitas, ketertiban, dan semua eksistensi berdaulat. 


Awalnya, pemerintah Israel hanya mengizinkan truk makanan dan bahan bantuan dalam jumlah terbatas untuk masuk melalui gerbang perbatasan Rafah. Truk-truk ini bahkan tidak memenuhi kebutuhan minimum banyak orang yang berkumpul di kota Rafah. Menurut Wali Kota Rafah, jumlah bantuan yang masuk hanya mencukupi sekitar 10% warga masyarakat.


Oleh karena itu, melalui jumlah bantuan yang terbatas dan diperhitungkan ini, pemerintah Penjajah ingin menciptakan perpecahan antara masyarakat dan kelompok perlawanan dengan memberikan tekanan pada dukungan rakyat, sehubungan dengan kebutuhan dasar.


Selain itu, pendistribusian bantuan yang terbatas ini tidak akan menjangkau seluruh penduduk, dan penjajah mengandalkan ini untuk menimbulkan ketidakpuasan dan membuka jalan bagi kekacauan dan mengendalikan bantuan dengan kekerasan. Inilah yang terjadi dalam kondisi yang dibatasi, ditangani oleh polisi di Rafah, yang tetap melanjutkan pekerjaan mereka meskipun ada bahaya besar yang mengancamnya, dimana polisi bekerja melindungi barisan perlawanan, menjaga Front Dalam Negeri, menghadapi perselisihan keamanan dan ekonomi, memerangi kejahatan, mengejar tersangka, mengamankan truk bantuan, mengayomi proses distribusi dengan cara yang tepat, dan menetapkan harga jual.


Polisi dan Komite-komite Bantuan Dibidik


Untuk menyukseskan skenario kekacauan, kesemrawutan keamanan, dan gangguan keamanan dalam negeri, Penjajah Israel berupaya membidik polisi sipil di kota Rafah. Puluhan komandan dan anggota polisi pemerintah di Gaza telah gugur sebagai syuhada di kota  Rafah, dengan cara diserang mobil pribadi atau mobil dinasnya, saat sedang menjalankan misi mengamankan bantuan kemanusiaan.


Kehadiran polisi di Rafah merupakan semacam kontrol administratif pemerintahan Gaza, hal yang sangat membuat resah pemerintah Penjajah Israel, dan menunjukkan kegagalan rencananya terkait dengan tujuan perang atau yang disebut dengan “Hari Esok.”


Mengingat pentingnya menjaga situasi keamanan, muncul bentuk baru yang membantu muncul sehubungan dengan polisi yang dibidik secara sistematis, yaitu Komite Perlindungan Rakyat, yaitu komite terorganisir yang hadir di pasar, mengatur antrian panjang di depan toko roti, pertokoan, dan bank, serta mencegah pedagang memanfaatkan situasi dan meninggikan harga. Mungkin tujuan yang paling penting dan komprehensif adalah mencegah tercapainya tujuan Penjajah untuk menyebarkan kekacauan di antara populasi masyarakat yang besar ini.


Jelas sudah bahwa rencana Penjajah menyerang situasi keamanan dan kedaulatan di Gaza akan gagal, apalagi jika kita memperhitungkan bahwa setelah semua kehancuran di wilayah Jalur Gaza utara, situasi keamanan dan kepolisian kembali mengendalikan situasi pasca penarikan diri pasukan Penjajah. Mereka jelas telah sukses mengamankan bantuan di Jalur Gaza bagian utara beberapa hari yang lalu, dan karena alasan ini Penjajah kembali membidik sejumlah kader kepolisian dan keamanan  yang jelas menggambarkan kebijakan yang difollow up oleh Penjajah.


Pembunuhan Faiq Al- #Mabhouh – Direktur Polisi Gaza dan bertanggung jawab untuk berkoordinasi dengan suku-suku dan UNRWA untuk mengamankan bantuan di Gaza – merupakan perpanjangan dari serangkaian langkah Israel untuk membidik elemen kedaulatan Hamas di Jalur Gaza.


Dalam dimensi lain, tindakan ini bertujuan untuk menghancurkan segala manifestasi kendali pemerintahan dan administratif. Selain polisi yang bertanggung jawab atas keamanan, penjajah terus membidik masyarakat dan lembaga-lembaga lokal yang bertanggung jawab mengatur situasi bantuan kemanusiaan dan urusan terkait bantuan. Bahkan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi (UNRWA) juga tidak luput dari serangan, bahkan menjadi incaran utama.  Karena tujuan penjajah melalui penyerangan ini adalah untuk melenyapkan struktur administratif terorganisir yang dapat mengatur situasi di Palestina dengan cara yang tidak sesuai dengan agendanya. Penjajah hingga kini telah menewaskan lebih dari 130 orang yang bekerja di bidang bantuan dan kemanusiaan.


Dalam konteks ini, pada 13 Maret 2024, pasukan penjajah telah menyerang pusat distribusi makanan PBB di kota Rafah, menewaskan 4 orang, termasuk dua pegawai UNRWA dan mereka yang bertanggung jawab atas komite darurat dan melayani masyarakat di kota Rafah.


Front Dalam Negeri


Negara Penjajah menyadari sulitnya melenyapkan aparat militer gerakan Hamas, dan oleh karena itu mereka melakukan balas dendam kepada pengayom rakyat yang mendukung perlawanan. Kemudian tidak cukup hanya membunuh lebih dari 31 ribu warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, namun mereka masih berupaya untuk membongkar segala bentuk kedaulatan, pemerintahan, dan stabilitas, serta struktur administratif apa pun yang berupaya menjaga keamanan dan mengelola kondisi bantuan kemanusiaan. Mereka berasumsi ini akan berhasil dalam membuka jalan bagi visi masa depannya bagi Jalur Gaza, itulah sebabnya mereka akan tetap fokus menyebarkan kekacauan di Rafah. Hal ini memerlukan perhatian penuh terhadap semua rencananya, dan fleksibilitas dalam mengembangkan cara-cara untuk menghadapinya.


Perilaku yang berupaya menghancurkan seluruh komponen pemerintahan dan administrasi di Gaza ini selalu merupakan bagian dari strategi Israel yang didasarkan pada tidak mengakui keberadaan rakyat Palestina, dan tidak mau mengakui keberadaan elemen eksistensi yang ada. 


Oleh karena itu, kecil kemungkinan negara penjajah akan mundur dari kebijakan menghancurkan komponen-komponen entitas Palestina, meskipun sejauh ini belum membuahkan hasil. Namun, pada tingkat yang sama, Palestina akan selalu mampu mengembangkan bentuk-bentuk baru yang dapat menjaga prioritas kebangsaan, dan mempertahankan bentuk administrasi nasional meskipun menghadapi jenis genosida yang paling buruk di zaman ini. 


(Diterbitkan Aljazeera 25 Maret 2024 update jam 08:41 Waktu Mekah, Referensi: https://bit.ly/3vxUbCD diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share:

Senin, 25 Maret 2024

Krisis Laut Merah dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Global

Oleh Malik Muhammad Waleed Shehzad

Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa perkembangan regional dan global, seperti perang di Gaza dan serangan Houthi di Laut Merah, telah mengubah iklim geopolitik di Timur Tengah. Setelah keluarnya AS dan masuknya Tiongkok ke kawasan Timur Tengah, diikuti dengan pemulihan hubungan Saudi-Iran pada Maret 2023, para analis Timur Tengah berharap bahwa kawasan tersebut telah memulai perjalanan menuju perdamaian dengan hasil yang optimistis. perekonomian global. Namun, terlepas dari semua hal tersebut, salah satu isu yang terus-menerus menjadi beban bagi sebagian besar pemimpin regional adalah perjuangan Palestina, yang berdampak pada papan catur regional di Timur Tengah. Salah satu contohnya adalah terganggunya rantai pasokan global melalui Laut Merah.


Menyusul Kesepakatan Abraham pada tahun 2020, mantan Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa normalisasi bersejarah antara Israel dan negara-negara Arab akan mengakhiri “perpecahan dan konflik selama beberapa dekade”. Namun, situasi saat ini di Gaza dan Timur Tengah menunjukkan hal sebaliknya. Anggapan bodoh ini sebagian telah memicu konflik Hamas-Israel, yang diikuti oleh kekejaman tidak manusiawi yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF), yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 30.000 warga Palestina yang tidak bersalah, terutama anak-anak dan perempuan, per 9 Maret 2024. Terlepas dari sejarah dan sifat konfliknya, situasi saat ini mempunyai potensi tantangan dalam kaitannya dengan ekspansi regional. Dalam hal ini, indikator laten mulai terlihat di Lebanon Selatan dan Laut Merah.


Pada tanggal 2 Januari 2024, dugaan serangan pesawat tak berawak yang didukung Israel di Beirut, Lebanon, menewaskan pejabat senior Hamas Saleh Al-Arouri. Demikian pula di Laut Merah, AS mengumumkan koalisi angkatan laut yang terdiri dari 20 negara untuk menjaga perairan laut pada 19 Desember 2023. Pengumuman tersebut muncul sebagai tanggapan atas serangan Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal kargo tujuan Israel dalam upaya untuk menunjukkan Solidaritas terhadap Palestina dan mendorong sekutu Barat Israel menekan Tel Aviv untuk mengakhiri kekejaman terhadap Palestina. Menyusul insiden tersebut, Iran mengirim kapal perang Alborz ke Laut Merah melalui selat strategis Bab El-Mandeb untuk melakukan tugas anti-pembajakan dan keselamatan rute pelayaran di perairan terbuka, yang telah dilakukan kapal-kapal tersebut sejak tahun 2009. Kehadiran angkatan laut Iran di perairan terbuka Laut Merah telah meningkatkan kepercayaan diri Houthi karena mereka tidak mundur dari tindakan mereka. Sebaliknya, mereka telah menetapkan AS dan Inggris sebagai “negara teroris”, sehingga menambah lapisan lain pada situasi regional yang sudah rumit.


Laut Merah menghubungkan Bab El-Mandeb di Teluk Aden dengan Terusan Suez dan mengelola hampir sepertiga kapal kargo kontainer global. Bab El-Mandeb terletak di antara Afrika dan Semenanjung Arab, dimana hampir 13 persen volume perdagangan internasional terjadi dan hampir 30 persen lalu lintas peti kemas dunia melintas. Namun, setelah pecahnya konflik, tingkat lalu lintas laut global dari Laut Merah telah menurun, dengan penurunan perdagangan global sebesar 1,3 persen pada bulan Desember 2023.


Penurunan arus lalu lintas laut yang signifikan ini telah memaksa raksasa kontainer untuk menangguhkan atau mengubah rute pelayaran mereka dan berlayar di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan – rute perdagangan yang relatif lebih panjang, mahal, dan memakan waktu. Tujuh dari sepuluh perusahaan pelayaran terbesar telah menangguhkan rute Laut Merah untuk kegiatan transportasi mereka, termasuk COSCO milik negara Tiongkok – perusahaan pelayaran terbesar keempat yang berkontribusi 11 persen terhadap perdagangan global.


Selain situasi yang berkembang di Laut Merah, waktu terjadinya konflik juga mengkhawatirkan. Saat ini, Terusan Panama – badan air produksi sepanjang 82 kilometer yang menghubungkan Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik – sedang menghadapi kekeringan ekstrim dan, oleh karena itu, membatasi pilihan yang dapat diambil oleh perusahaan dagang. Demikian pula, dengan alasan meningkatnya ancaman serangan terhadap kapal dagang, berbagai perusahaan asuransi kelautan telah memperluas wilayah perairan paling berisiko di Laut Merah, meningkatkan asuransi risiko perang untuk pengiriman sebesar sepuluh kali lipat dari 0,7 persen nilai kapal menjadi 1 persen. Selain itu, tampaknya tidak ada indikasi penurunan eskalasi di wilayah tersebut pada saat ini, sehingga arus lalu lintas laut akan dialihkan dalam jangka waktu yang tidak dapat diperkirakan. Sebelumnya, Maersk, pengangkut barang laut terbesar kedua, khawatir pengalihan dari rute Laut Merah dapat berlanjut hingga paruh kedua tahun 2024.


Sayangnya, situasi ini dapat berkontribusi terhadap inflasi global – terutama di sektor energi – yang memberikan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap konsumen lokal – terutama masyarakat Eropa. Hampir 40 persen perdagangan antara Asia dan Eropa terjadi melalui Laut Merah, dengan hampir 12 persen minyak dan 8 persen gas alam cair (LNG) melewati Terusan Suez. Sejak serangan yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi, harga minyak mentah telah meningkat sebesar 4 persen, diikuti oleh peningkatan tarif pengangkutan kapal kontainer dari $1.500 menjadi $4.000 – khususnya karena adanya tambahan jarak 6.500 kilometer dan tambahan $1 juta untuk biaya bahan bakar. Meskipun tarif peti kemas tidak terlalu dekat dengan tarif pada masa COVID-19, misalnya. $14,000, ancaman dampak konflik regional dapat mewujudkan lonjakan ini. Hal ini dapat meningkatkan harga produk-produk untuk keperluan dalam negeri di Eropa, yang sudah mahal mengingat perang Rusia-Ukraina dan sanksi yang dikenakan terhadap Moskow.


Demikian pula, banyak perusahaan AS dan Eropa yang menghentikan operasinya karena gangguan pada rantai pasokan global. Sebelumnya, Tesla – sebuah perusahaan otomotif multinasional – menghentikan sementara produksi kendaraan Model-Y di Grünheide, Jerman, dari 29 Januari hingga 11 Februari, karena tidak tersedianya suku cadang manufaktur. Namun, produksi dilanjutkan kembali setelah tanggal jatuh tempo karena rantai pasokan menjadi “utuh”.


Selain menghambat kelancaran arus lalu lintas laut dari Laut Merah, situasi tersebut juga membalikkan upaya yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk menangani krisis kemanusiaan yang muncul di Yaman akibat perang saudara yang telah berlangsung selama sepuluh tahun. Pada tanggal 18 Januari 2024, AS mendesain ulang Houthi sebagai “Kelompok Teroris Global yang Ditunjuk Khusus” (SDGT) – hampir tiga tahun setelah mengeluarkan kelompok tersebut dari kategori yang sama untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan di Yaman. Langkah ini dilakukan pada saat Yaman sedang mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk di kawasan, dengan hampir 21,6 juta orang – lebih dari separuh total penduduk – membutuhkan bantuan kemanusiaan. Tampaknya, alih-alih menekan Houthi atas tindakan mereka, tindakan AS tersebut justru akan memperburuk situasi di Yaman karena rancangan tersebut akan menciptakan hambatan bagi masuknya bantuan kemanusiaan ke negara tersebut. Sebelumnya, mengutip situasi yang berkembang, Kementerian Luar Negeri Yaman di Sanaa memperingatkan warga AS dan Inggris yang bekerja di badan bantuan dan kemanusiaan PBB untuk mengungsi dari negara tersebut.


Meski demikian, bagi sektor perkeretaapian Asia dan Eropa, situasi di Laut Merah merupakan peluang untuk menghidupkan kembali jalur kereta api, khususnya Rusia, yang terbengkalai akibat sanksi Barat terhadap Moskow. Sebelumnya, DHL Jerman, sebuah perusahaan logistik dan pelayaran, mengalami peningkatan signifikan dalam permintaan layanan kereta api Rusia sebesar 40 persen. RailGate Europe juga mencatat peningkatan permintaan transportasi sebesar 25 hingga 35 persen, karena hanya dibutuhkan waktu 14 hingga 25 hari untuk mengirimkan kargo dari Tiongkok ke berbagai wilayah di Eropa.


Dinamika geopolitik yang kompleks di Timur Tengah menggarisbawahi rapuhnya stabilitas regional dan dampaknya yang luas terhadap perekonomian global. Pentingnya kerja sama internasional dan upaya diplomasi bersama untuk meredakan ketegangan, memfasilitasi bantuan kemanusiaan, dan meningkatkan stabilitas tidak dapat dilebih-lebihkan dalam kondisi yang bergejolak ini. Hanya melalui dialog berkelanjutan, keterlibatan konstruktif, dan kerja sama multilateral, kawasan ini dapat bergerak menuju masa depan yang lebih damai dan sejahtera yang tidak hanya menguntungkan negara-negara Timur Tengah namun juga komunitas global secara keseluruhan.


Sumber: Middle East Monitor, 23 Maret 2024 jam 3:33 pm, referensi: 

https://www.middleeastmonitor.com/20240323-the-red-sea-crisis-and-its-impact-on-the-global-economy/)
Share: