About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Selasa, 10 Maret 2026

Kerugian AS Pasca 10 Hari Serang Iran

Amerika Serikat bersama negara Zionis, pasca 10 memulai menyerang dan dibalas serang Iran, kini tengah berada di tengah kecamuk “perang angka” dan suara tembakan dan pesawat di langit Timur Tengah.

Meskipun kedua belah pihak masing-masing melebih-lebihkan kerugian musuh dan menyembunyikan kerusakan di pihak sendiri, namun kerugian SDM dan material yang diderita AS dalam Operasi Epic Fury ini mulai terlihat.

Operasi yang dilancarkan sejak Sabtu pagi, 28 Februari, yang mengakibatkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer, dan menyerang pertahanan udara dan lokasi peluncuran rudal Iran.

Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal ke berbagai wilayah di negara Zionis, selain beberapa sasaran di negara-negara Teluk yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Teheran melalui media resminya mengklaim telah membuat ratusan korban tewas dan luka-luka di barisan militer AS, dan melakukan serangan kepada kapal perang dan kapal induk AS.

Mengutip situs Al Jazeera Net berikut adalah data kerugian yang diderita Amerika sejak memulai serangan gabungan skala besar melawan Iran.


Pertama: Korban Tewas

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dan Komando Pusat (CENTCOM) telah mengkonfirmasi kematian delapan personel militer AS hingga 9 Maret.

Prajurit ini tewas dalam serangan terhadap Pelabuhan Shuaiba di Kuwait sbb:

  • Mayor Jeffrey O'Brien (45 tahun).

  • Kapten Cody Khork (35 tahun).

  • Sersan Noah  Tietjens (42 tahun).

  • Sersan Nicole Amore (39 tahun).

  • Sersan Declan Coady (20 tahun).

  • Perwira Robert Marzan (54 tahun).

  • Satu orang tewas dalam serangan terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi:

  • Sersan Benjamin N. Pennington, 26 tahun, tewas pada 8 Maret akibat luka yang diderita dalam serangan pesawat tak berawak awal bulan ini.

  • Seorang prajurit Garda Nasional (yang identitasnya belum diungkapkan) tewas pada 6 Maret di Kuwait setelah mengalami kondisi darurat medis yang sedang diselidiki.


Kedua: Korban Luka-luka

Meskipun awalnya enggan, angka korban luka-luka di kalangan pasukan AS mulai muncul, ditegaskan oleh laporan media— mengutip dari pejabat militer— yang membenarkan meningkatnya angka korban luka. CNN mengutip seorang pejabat AS yang mengkonfirmasi bahwa sembilan tentara terluka parah oleh serangan Iran.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam sebuah wawancara dengan program "60 Minutes," mengkonfirmasi bahwa "akan ada lebih banyak lagi korban berjatuhan," mengomentari laporan tentang tentara Amerika yang tewas.

Hegseth mengatakan, "Presiden benar ketika dia mengatakan ini akan memakan korban.. Hal semacam ini tidak terjadi tanpa menelan korban, dan akan ada lebih banyak korban jiwa. Tidak ada yang tahu—seperti generasi kita—bagaimana rasanya melihat orang Amerika pulang dalam peti mati... Tetapi ini sama sekali tidak melemahkan kita; ini memperkuat tekad dan determinasi kita untuk mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan pertempuran ini."


Ketiga: Kerugian Pesawat Tempur dan Drone

Kerugian peralatan udara adalah yang paling signifikan dalam operasi militer ini. Pejabat AS mengakui kepada CBS News bahwa 11 drone MQ-9 Reaper telah hilang sejak awal perang, dengan total biaya melebihi $330 juta.

Para analis mengaitkan tingginya angka kerugian ini dengan fakta bahwa drone-drone ini tidak dirancang untuk melawan sistem pertahanan udara Iran.

Dalam insiden terpisah, tiga jet tempur F-15E Strike Eagle jatuh dari langit Kuwait pada tanggal 1 Maret karena apa yang digambarkan sebagai "tembakan salah sasaran" dari pertahanan udara Kuwait selama pertempuran udara yang kompleks. Namun, keenam pilot tersebut selamat dan dalam kondisi stabil, menurut laporan media AS.


Keempat: Narasi Teheran

Di sisi lain, Iran melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda tentang kerugian di pihak Amerika. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa pasukan AS menderita lebih dari 650 korban tewas dan luka-luka selama dua hari pertama dari apa yang disebut Iran sebagai Operasi "Janji Sejati 4".

Naeini mengklaim bahwa serangan rudal dan drone menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain, mengakibatkan kematian dan cedera 160 pelaut dalam satu serangan, selain menyebabkan kerusakan signifikan Kapal Pendukung Tempur MST (Maritime Strike Tomahawk Support Vessel)

Garda Revolusi juga mengklaim telah meluncurkan empat rudal jelajah ke kapal induk USS Abraham Lincoln di lepas pantai Chabahar, memaksa kapal tersebut untuk "melarikan diri" ke Samudra Hindia.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS dengan cepat membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa rudal-rudal tersebut tidak mendekati kapal-kapal AS dan bahwa kapal induk tersebut masih melanjutkan operasinya di kawasan,

Angka-angka yang diumumkan sejauh ini hanyalah sebagian dari gambaran yang lebih besar tentang perang yang masih berkecamuk. Dengan semakin luas operasi militer dan perubahan kepemimpinan di Iran pasca dinobatkannya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru, Timur Tengah tampaknya memasuki fase yang lebih tidak pasti, yang dapat menyaksikan lebih lanjut semakin bertambahnya kerugian dan juga operasi militer dalam beberapa pekan mendatang. (Sumber: Al Jazeera + Pers AS)

Diterjemahkan oleh Kholid dari situs Al Jazeera Net “بعد 10 أيام من الحرب.. هذا ما نعرفه عن خسائر الجيش الأمريكي" diterbitkan pada 3/9/2026 - Terakhir diperbarui: 3/10/2026 00:08 (Waktu Mekah), diakses 10 Maret 2026 05:30 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/3/9/%D8%A8%D8%B9%D8%AF-10-%D8%A3%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B1%D8%A8-%D9%87%D8%B0%D8%A7-%D9%85%D8%A7-%D9%86%D8%B9%D8%B1%D9%81%D9%87-%D8%B9%D9%86-%D8%AE%D8%B3%D8%A7%D8%A6%D8%B1?UTM_Source=pnsOS&UTM_Medium=push&UTM_Campaign=standard


Share:

Senin, 09 Maret 2026

BPS Palestina: Perang Tingkatkan Jumlah Janda, Pengangguran Kaum Perempuan, dan Ancam Sektor Kesehatan Gaza

Ahad, 8 Maret 2026 - Pusat Informasi Palestina

Badan Pusat Statistik (BPS) Palestina mengumumkan persentase kaum perempuan sekitar 49% dari total populasi di Palestina pada akhir tahun 2025, dengan jumlah keseluruhan  kaum perempuan 2,74 juta.


Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Ahad, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Badan tersebut menjelaskan bahwa jumlah perempuan sekitar 1,69 juta di Tepi Barat dan 1,06 juta di Jalur Gaza, menekankan bahwa kehadiran demografis ini mencerminkan peran penting perempuan dalam masyarakat Palestina.


Data tersebut mengungkapkan bahwa 22.057 perempuan di Jalur Gaza telah kehilangan suami mereka dan menjadi janda sejak pecahnya perang, yang menyebabkan peningkatan persentase rumah tangga yang dikepalai perempuan dari 12% sebelum perang menjadi sekitar 18% selama periode agresi.


Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja Gaza tetap berada di angka 17% pada tahun 2025, sementara partisipasi laki-laki menurun dari 63% menjadi 31%. Tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 92%, dibandingkan dengan 81% di kalangan laki-laki.


Di Tepi Barat, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sekitar 19%, dibandingkan dengan 72% untuk laki-laki, sementara tingkat pengangguran di kalangan perempuan mencapai 27%, dibandingkan dengan 28% di kalangan laki-laki.


Laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan tingkat pengangguran di kalangan anak muda berusia 19 hingga 29 tahun dengan ijazah diploma atau lebih tinggi, mencapai 79%, dengan 86% untuk perempuan dan 70% untuk laki-laki, yang mencerminkan semakin lebarnya kesenjangan ekonomi antara kedua jenis kelamin.


Di sektor kesehatan, data menunjukkan bahwa sekitar 94% fasilitas kesehatan di Jalur Gaza rusak atau hancur, sementara hampir 37.000 wanita hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi akut antara Oktober 2025 dan Oktober 2026.


Indikator kesehatan juga mencatat peningkatan tajam dalam angka kematian ibu, mencapai 145 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2024, dibandingkan dengan 17,4 kematian pada tahun 2022, menjadi indikator yang mengkhawatirkan betapa buruknya layanan kesehatan.


Data juga menunjukkan bahwa kanker payudara mencapai angkat sekitar 30% dari semua kasus kanker di kalangan wanita di Gaza, dengan angka 29 kasus per 100.000 wanita, di tengah penangguhan layanan deteksi dini dan pengobatan selama lebih dari dua tahun.

Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, “الإحصاء الفلسطيني: الحرب ترفع عدد الأرامل وتفاقم بطالة النساء وانهيار صحي يهدد أمهات غزة” terbit 8 Maret 2026 diakses 9 Maret 2026 10:59 WIB https://palinfo.com/news/2026/03/08/1102651/


Share:

Kamis, 05 Maret 2026

Negara Zionis Manfaatkan Agresi Terhadap Iran untuk Menutup Masjid Al-Aqsa



Sudah lima hari berturut-turut, Otoritas penjajah Zionis menutup Masjid Al-Aqsa. Negara Zionis menggunakan dalih keamanan untuk memberlakukan kontrol lebih lanjut dan mengelola situs-situs suci Islam secara sepihak, khususnya selama bulan Ramadhan. Langkah ini dianggap sebagai eskalasi berbahaya sebagai upaya untuk membentuk kembali realitas yang ada di masjid Al-Aqsa.

Penjajah Zionis telah menutup Masjid Al-Aqsa sejak Sabtu pagi, memaksa jamaah untuk pergi dan mencegah pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih. Penutupan Masjid Al-Aqsa ini juga bersamaan dengan penutupan Masjid Ibrahimi dan Tepi Barat, beberapa jam setelah serangan skala besar yang dilancarkan oleh negara Zionis dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Pemerintah Provinsi Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan penjajah melarang jamaah memasuki masjid, dengan alasan keadaan darurat, di tengah pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar masjid dan di gerbang Kota Tua, serta mencegah warga memasuki halaman masjid.

Otoritas pendudukan mencegah warga Palestina untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih selama Ramadhan. Mereka telah memperkuat kehadiran militer mereka di sekitar masjid dan gerbang Kota Tua, mengerahkan sejumlah besar Polisi Perbatasan dan pasukan khusus, mengubah lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer tertutup. Mereka telah mencegah para jamaah mencapai gerbang masjid dan menyerang sejumlah orang-orang yang sedang berada di masjid.


Proyek Likuidasi Komprehensif

Kelompok-kelompok keagamaan meyakini ini sebagai kelanjutan dan perluasan perang mencerminkan pendekatan negara Zionis yang melancarkan perang pemusnahan komprehensif yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak Arab dan Islam di Palestina dan memaksakan hegemoni absolut. Langkah ini  dipimpin oleh kelompok Zionisme Religius dengan wacana mesianik, didukung oleh visi Zionis Kristen, yang berupaya menyelesaikan konflik atas Al-Quds dengan cara memaksakan realitas keagamaan dan kedaulatan baru.

Mereka menggarisbawahi bahwa penargetan Masjid Al-Aqsa sejak awal perang, meningkatnya frekuensi serangan selama Ramadhan, perluasan pembagian temporal, dan upaya untuk memaksakan kendali atas administrasinya dan mengubah status quo historisnya, semuanya merupakan indikator bahwa Al-Aqsa dipandang sebagai titik fokus dan simbol sentral dari "pertempuran yang menentukan."


Kejahatan Agama dan Kemanusiaan

Sementara itu, Majlis Ulama Palestina menganggap penutupan Masjid Al-Aqsa dan pencegahan jamaah untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih selama Ramadhan sebagai "kejahatan agama dan kemanusiaan yang serius," yang menunjukkan itikad kuat untuk memaksakan realitas Yahudi baru dengan dalih keadaan darurat dan keamanan.

Dalam sebuah pernyataan, Majlis tersebut menyerukan kepada dunia Muslim, para ulamanya, dan lembaga-lembaga pemerintah dan ormas untuk memikul tanggung jawab keagamaan mereka terhadap Masjid Al-Aqsa; bekerja mendukungnya di semua bidang; dan menjaga agar perjuangannya tetap hidup dalam hati nurani Umat, sehingga tidak diabaikan dan dipojokkan oleh penjajah.

Majlis Ulama memuji warga Al-Quds dan kaum perempuan dan laki-laki yang terus berjaga-jaga di Masjid Al-Aqsa, menyerukan kepada warga Palestina di wilayah jajahan sejak 1948 dan Tepi Barat untuk menuju ke Al-Aqsa sana dan menggagalkan penutupannya. 

Majlis itu menyerukan kepada para pemimpin dan pemerintah Islam, khususnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pelanggaran dan melindungi tempat-tempat suci di Al-Quds. pergeseran yang akan sulit untuk dibalikkan di kemudian hari, terutama mengingat perhatian regional dan internasional terhadap perang yang sedang berlangsung.


Perebutan Kedaulatan Bertahap

Abdullah Maruf, seorang peneliti pakar urusan Al-Quds menjelaskan bahwa perluasan pembagian waktu, pembatasan kepada jamaah selama momentum keagamaan, dan penutupan total yang terus berlanjut adalah taktik tekanan yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali "status quo historis" melalui langkah-langkah bertahap yang terakumulasi dari waktu ke waktu hingga menjadi realitas permanen.

Sebaliknya, otoritas penjajah mengakui tindakan ini dengan dalih "situasi keamanan yang genting," tetapi sumber-sumber Al-Quds menegaskan bahwa skala pengerahan militer, pelarangan masuk secara penuh bagi para jamaah, dan serangan terhadap kaum muslimin yang berada di dalam masjid merupakan skala eskalasi yang tidak biasa. (Kho)

Sumber: 

Situs Pusat Informasi Palestina “إغلاق الأقصى.. هكذا تستغل إسرائيل العدوان على إيران لتغيير الوضع القائم” terbit 3 Maret 2026  https://palinfo.com/news/2026/03/03/994774/ 

Situs kantor berita Quds Press “الاحتلال يواصل إغلاق المسجد الأقصى لليوم الخامس على التوالي” terbit tgl 4 Maret 2026, diakses 5 Maret 2026 16:47 https://qudspress.net/253389/ 


Share:

Selasa, 03 Maret 2026

Babak Baru Perang AS-Negara Zionis Bukan Semata Membidik Program Nuklir tapi Eksistensi Iran

Diterjemahkan dan disusun kembali dari riset Al Jazeera oleh Kholid, kontributor situs analispalestina.my.id 

—-

AS dan Negara Zionis meluncurkan babak baru perang melawan Iran, membunuh pimpinan tertinggi Ali Khamenei, dan titik-titik penting komando negara dan memprovokasi rakyat Iran agar mau menggulingkan rezim yang berkuasa. 

—-


Belum genap sembilan bulan sejak negara Zionis yang didukung AS menyerang Iran pada Juni tahun lalu, 28 Februari 2026 negara Zionis kembali melancarkan serangannya yang dilaporkan telah membunuh pimpinan tertinggi politik dan militer Ali Khamenei dan pimpinan Garda Revolusi Iran. 


Dalam hitungan jam pasukan AS yang berada di kawasan itu turut bergabung dalam serangan Zionis itu dan melebarkan jangkauan serangannya ke seluruh Iran.


Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal jarak menengah dan mengerahkan drone membidik titik-titik serangannya ke negara Zionis, Yordania, dan situs militer AS di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk. Oman diserang pada hari berikutnya. 


Tidak berhenti di sana, Iran meluaskan serangannya ke nadi perekonomian kawasan dimana sejak malam hari pertama, kapal-kapal komersial dilaporkan menerima peringatan dari Iran untuk tidak melintasi Selat Hormuz.


Iran, memang siap perang jika terpaksa, meskipun telah menyatakan bersiap dalam perundingan putaran ke-4 tingkat ahli dengan AS di Vienna di bawah badan nuklir IAEA. Oman -yang menjadi mediator perundingan- optimis dengan putaran ke-3 dan menggambarkannya sebagai positif dan tercapai kemajuan penting. 


Presiden AS Donald Trump memang telah memberi sinyal untuk menggunakan kekerasan. Pada 24 Februari, di hadapan Kongres menjelaskan bahwa Iran masih melanjutkan elemen program nuklirnya pasca diserang AS tahun lalu dan untuk pertama kalinya, menggambarkan rudal Iran sebagai ancaman. Iran menolak tuntutan Trump yang ingin menuntut rudal balistiknya menjadi materi tambahan negosiasi.


Sehingga Trump mengungkapkan ketidakpuasannya dengan jalur perundingan meskipun ada embel-embel akan menghindari penggunaan kekerasan. Di hari yang sama pernyataan sikap Trump itu, yaitu tepatnya 27 Februari,  IAEA melaporkan ketidakpastian tentang lokasi lebih dari 9.000 kilogram uranium yang diperkaya di berbagai tingkatan, diantaranya lebih dari 400 kilogram yang sudah dikayakan di atas 60 persen. Dan di saat yang sama AS melakukan mobilisasi pasukannya secara intensif di sekitar Iran.



Keselarasan Retorika Negara Zionis dengan AS


Dalam pidato saat mengumumkan serangan terhadap Iran, Trump memang sebatas memberikan perhatian pada isu nuklir. Sambil mengingat selama lima dekade antara AS-Iran, dia mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak bisa hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini dan mendorong rakyat Iran untuk “memberontak” melawan penguasa mereka. Maksud pencopotan rezim yang sejalan dengan keinginan negara Zionis. 


Target pembunuhan para petinggi Iran mengukuhkan bahwa ini bukan semata masalah nuklir tapi lebih kepada eksistensi, kendali dan masa depan Republik Iran itu sendiri. Karenanya kemungkinan jangka pendek perang ini bertujuan melemahkan Rezim Iran dan menciptakan chaos agar terbuka jalan bagi pemberontakan dan membuat Iran berlutut dalam negosiasi selanjutnya.



Perang Jangka Pendek- Panjang 


Perang jangka pendek akan berfokus untuk melemahkan pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal, infrastruktur drone, pelabuhan, aset angkatan laut, sistem komando dan kendali, serta fasilitas nuklir yang masih tersisa, sambil terus membidik pejabat tinggi yang masih hidup.


Dalam jangka panjang dimana perang bisa berlangsung beberapa pekan atau lebih akan menyerang infrastruktur ekonomi, pusat pemerintahan, dan mungkin lembaga budaya dan media, dengan tujuan menghancurkan pilar struktural rezim dan membuatnya mudah runtuh di tengah kerusuhan yang meluas. Ini amat sesuai dengan pilihan yang diinginkan negara Zionis..


Di sisi lain, Iran  menyadari ketidakseimbangan kekuatannya dengan musuh dan akan bertumpu dengan menaikan biaya perang. Teheran terus melakukan serangan rudal dan drone untuk melumpuhkan ekonomi negara Zionis dan negara-negara Teluk, khususnya Bahrain dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi ekonomi global yang parah. Lebih jauh, Iran dapat mendorong aktor-aktor sekutu di Lebanon, Irak, dan Yaman untuk membuka front tambahan, termasuk jalur-jalur strategis maritim.


Cepat atau lambat, Iran diperkirakan akan keluar dari perang ini kehabisan tenaga. Tapi kejatuhannya tidak bisa dilakukan hanya melalui pemboman udara. Karena institusi negara Iran menyebar secara rata, dengan otoritas di berbagai badan pemerintahan dan pasukan keamanan, termasuk tentara reguler, Garda Revolusi, dinas keamanan internal, dan Basij. Sejak 2008, ketidakpuasan sosial telah meningkat, namun rezim mampu mempertahankan basis yang signifikan di berbagai wilayah dan komunitas. 


Karenanya, kerusakan parah lebih mungkin menghasilkan perselisihan dalam negeri daripada kehancuran rezim secara langsung. Tanpa invasi darat dan kontrol eksternal yang berkelanjutan, penggulingan rezim tetap tidak mungkin terjadi.


Program  nuklir dan rudal Iran juga tidak bisa dijamin dapat dihancurkan total. Stok uranium yang sudah dikayakan sudah menyebar dan tidak sepenuhnya tercatat, dan infrastruktur rudal Iran membentang di seluruh wilayah negara yang luas. Fondasi teknologi dari kedua program tersebut dikembangkan di dalam negeri dan tidak dapat dihapus hanya dengan serangan udara.


Namun demikian, konsekuensi perang akan sangat besar. Pengaruh regional Iran mungkin akan menyusut seiring rezim akan semakin menutup diri. Jika Iran mampu bertahan dengan solidaritas, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit: menyesuaikan diri dengan Washington yang melibatkan penyesuaian struktural dan regional, atau ketahanan dan rekonstruksi sambil mempertahankan kemerdekaan strategis, yang berpotensi mencakup upaya penangkal program nuklir. Dalam kedua kasus tersebut, target utama perang ini bukan hanya program nuklir Iran, tetapi Republik Iran itu sendiri.


Sumber:

Riset Al Jazeera 2 Maret 2026 “Targeting the Regime: The Second Round of the US–Israeli War on Iran” diakses 3 Maret 2026 08:56 WIB  https://studies.aljazeera.net/en/policy-briefs/targeting-regime-second-round-us%E2%80%93israeli-war-iran


Share: