21 Desember 2025 - Terakhir diperbarui: 23:36 (Waktu Mekah)
Data yang ditinjau oleh Al Jazeera menunjukkan bahwa negara Zionis telah mencapai rekor penjualan senjata pada tahun 2024, menghasilkan pendapatan sebesar $15 miliar.
Senjata-senjata tersebut dipasarkan sebagai senjata yang telah diujicobakan di medan perang, setelah digunakan dalam perang genosida yang dilancarkan negara Zionis di Jalur Gaza, yang dimulai pada 8 Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun. Hal ini mengakibatkan gugur syahid lebih dari 71.000 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Sebagian besar ekspor terdiri dari rudal, roket, dan sistem pertahanan udara, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah negara Zionis Juni lalu.
Lebih dari separuh pengiriman tersebut ditujukan kepada militer Eropa, sementara yang lainnya ditujukan untuk negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, terutama India.
Negara Zionis adalah salah satu dari 10 pengekspor senjata terbesar di dunia.
Menjual Impunitas
Lonjakan pendapatan tahun lalu terjadi pada saat negara Zionis menghadapi tuduhan genosida.
Memang, Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang.
Mengenai eksploitasi genosida untuk memasarkan senjata, Anthony Lowenstein, penulis "Laboratorium Palestina: Bagaimana negara Zionis Mengekspor Teknologi Penjajahan kepada Dunia," berbicara kepada Al Jazeera. Lowenstein mengatakan bahwa negara Zionis menjual gagasan impunitas, menambahkan, "Ada daya tarik yang besar untuk hal ini bagi banyak negara lain."
Sementara itu, pakar perdagangan senjata negara Zionis, Shir Hever, mengatakan bahwa negara-negara pengimpor senjata negara Zionis menyadari bahwa tindakan mereka "ilegal."
Ia menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa pengimpor senjata dari negara Zionis mengetahui bahwa genosida sedang terjadi di Gaza, dan bahwa tidak diperbolehkan untuk melakukan bisnis dengan negara-negara yang melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Teknologi Pengawasan
Ekspor senjata negara Zionis juga mencakup kecerdasan buatan dan alat pengawasan seperti teknologi pengenalan wajah, yang telah dipasang di ratusan lokasi di Tepi Barat yang dijajah dan juga banyak digunakan di Gaza.
Mengenai teknologi ini, Al Jazeera berbicara dengan Ahmed Labad, mantan tahanan Palestina yang menemukan luasnya pengawasan negara Zionis pada Desember 2023 ketika ia ditangkap.
Ia mengatakan tentara Zionis mengetahui nomor telepon istrinya, alamat baru dan lamanya, nama-nama tetangganya, dan semua orang yang bekerja dengannya.
"Setelah apa yang saya alami selama interogasi, saya yakin kami terus-menerus diawasi. Kami benar-benar terekspos," tambahnya.
Kementerian Pertahanan negara Zionis mengatakan Juni lalu bahwa permintaan dari Eropa mengalami pertumbuhan luar biasa pada tahun 2024, dengan ekspor meningkat 54% dibandingkan 36% pada tahun 2023.
Kawasan Asia-Pasifik berada di urutan kedua dengan 23%, dan Amerika Serikat dengan 9%.
Meskipun permintaan dari Eropa meningkat, beberapa negara, seperti Spanyol, telah memberlakukan pembatasan impor senjata dari negara Zionis.
Sumber: Al Jazeera
Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “ "مجربة ميدانيا".. إسرائيل استغلت إبادة غزة لتسويق أسلحتها وحققت مبيعات قياسية” 21/12/2025 diakses 22 Desember 2025 https://www.aljazeera.net/news/2025/12/21/%D9%85%D8%AC%D8%B1%D8%A8%D8%A9-%D9%85%D9%8A%D8%AF%D8%A7%D9%86%D9%8A%D8%A7-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%BA%D9%84%D8%AA-%D8%A5%D8%A8%D8%A7%D8%AF%D8%A9
0 komentar:
Posting Komentar