About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Kamis, 20 Februari 2025

Resensi Buku: Strategi bagi pihak yang Lemah



 Resensi Buku: Strategi bagi pihak yang Lemah

Oleh: Ahmed Qaoud, penerjemah: Idham Cholid


Vision Center for Political Development. Istanbul,, 19 Desember 2016

—-------------------------------------------------------------------------------------------

Judul              : Strategi bagi pihak yang lemah “ إستراتيجية الضعف"

Penulis           : Salahuddin  Talib Jabr Al-Awawdeh

Disajikan oleh: Vision Center for Political Development. Istanbul

Penerbit         : Dar Al Fath untuk Studi dan Penerbitan. 

Tanggal terbit : Edisi pertama 2015

Jmlh halaman: 304 halaman

—-----------------------------------------------------------------------------------------


Sebuah buku yang ditulis oleh Salahuddin Al-Awawdeh saat mendekam lebih dari delapan belas tahun di penjara penjajah. Dia meninggalkan kota Dura pada bulan April 1993 hingga kesepakatan Wafa Al-Ahrar 2011. Ditorehkan kata-katanya tatkala kelemahan menjelma dalam semua makna materi dan fisiknya kecuali kemauan dan tekad. Tidak ada tempat di sana untuk kelemahan dan kerapuhan karena, jika tidak, kehidupan menjadi mustahil dan harapan pun hilang.


Judul buku ini diambil dari rahim kenyataan yang dialaminya sebagaimana seluruh masyarakat Palestina mengalaminya, yang tidak punya alat kekuatan apa pun kecuali sebagai pemilik hak, kemauan baja, dan tekad untuk melawan musuh yang kekuatan material dan teknologinya terus tumbuh dari hari ke hari. Begitulah penulis ini menjelaskan pemilihan tema bukunya dan bagaimana karenanya orang yang lemah dapat melawan, dengan kelemahannya, kekuatan penjajah dan algojonya, hingga penulis menciptakan dari kelemahan tersebut sebuah teori dan falsafah yang dapat meraih kemenangan.


Buku ini terdiri dari delapan bab. Pada bab pertama, membahas fenomena perang sebagai fenomena sosial dengan determinan dan hukumnya sendiri, serta meninjau kembali perbedaan pendapat di antara para peneliti selama bertahun-tahun mengenai fenomena sosial, termasuk perang. Montesquieu, misalnya, percaya bahwa sejarah setiap bangsa tidak lain hanyalah hasil tak terelakkan dari hukum-hukum sosialnya, yang bervariasi dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Sedangkan Kierkegaard percaya bahwa perang tidak lain hanyalah akumulasi kejadian-kejadian yang tidak disengaja yang tidak tunduk pada kajian ilmiah karena kejadian-kejadian tersebut tidak diatur oleh hukum-hukum dalam kemunculan, perkembangan, mekanisme pergerakan, dan penghilangannya, karena hukum-hukum ilmiah hanya berlaku untuk benda-benda mati.


Pandangan lain berpendapat bahwa penerapan ciri-ciri ilmu pengetahuan pada fenomena sosial bersifat relatif karena ilmu-ilmu tersebut diatur oleh kerangka kemauan sadar orang-orang yang berbeda satu dengan yang lain.


Pada bab kedua, penulis membahas perang dan revolusi dari segi konsep, pembagian, tahap, keadaan historis dan internasional. Ia mendefinisikan perang sebagai fenomena penggunaan kekerasan dan paksaan sebagai sarana untuk melindungi kepentingan, memperluas pengaruh, menyelesaikan pertikaian kepentingan, atau menyelesaikan tuntutan yang saling bertentangan antara dua pihak. Sementara itu, ahli teori militer Prusia, Clausewitz, mendefinisikannya sebagai perluasan politik dengan cara lain dan sebagai tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk memaksa lawan agar tunduk pada keinginannya.


Clausewitz juga membagi perang menjadi tiga jenis:

  1. Peperangan konvensional atau klasik, di mana digunakan senjata konvensional yang diketahui memiliki daya rusak yang relatif terbatas.

  2. Perang nonkonvensional adalah penggunaan senjata nonkonvensional yang mempunyai daya rusak yang menyeluruh, seperti senjata nuklir, kimia, kuman atau biologi.

  3. Perang gerilya, atau perang rakyat, lebih ringan daripada perang konvensional, dan biasanya terjadi antara dua pihak yang tidak seimbang, dan kekuatannya tidak teratur pada setidaknya satu pihak, dan didasarkan pada gerakan politik seperti gerakan pembebasan atau kelompok separatis, etnis, atau agama, dan dapat menjadi bagian dari perang konvensional sebagai salah satu taktik perang tersebut.


Penulis memberikan porsi lebih besar dalam tulisannya kepada perang gerilya; Mungkin karena sifat konflik dengan penjajah Israel, rakyat Palestina melakukan apa yang sangat mirip dengan gerilyawan dalam hal perlawanan bersenjata. Gerilya berurusan dengan taktik dan strategi, meninjau berbagai pengalaman sejarah di mana gerilya dipraktikkan dengan berbagai cara.


Adapun gerakan politik yang menganut gaya perjuangan gerilya, penulis menyebut dua macam, yaitu: Mereka adalah:


Gerakan yang berusaha mempengaruhi sistem politik dan sosial internal suatu negara tanpa bercita-cita mengubah pemerintahan, mengubah batas-batas politik, atau membebaskan negara dari penjajahan asing. Sebelum tahun sembilan puluhan abad lalu, gerakan-gerakan kiri dan komunis menjadi terkenal di bidang ini hingga gerakan-gerakan Islam muncul di dunia Arab dan Islam.


Gerakan dengan tujuan etnis, agama, atau separatis yang berupaya memisahkan diri dari negara yang ada dan mendirikan entitas politik baru, mengubah batas-batas politik yang ada, atau memperoleh kemerdekaan atau pemerintahan sendiri di dalam batas-batas negara itu sendiri. Contohnya termasuk gerakan perlawanan Palestina, Lebanon, dan Kashmir, serta beberapa gerakan dan partai Chechnya dan Kurdi.

 

Tahapan gerilya


Pemimpin Tiongkok Mao Zedong membagi perang gerilya menjadi tiga tahap pada tahun 1893:


Tahap pertama: Tahap penarikan diri strategis, yang merupakan akibat dari kelemahan gerilya selama tahap ini, karena mereka tidak bertemu musuh kecuali dalam misi taktis yang berbeda-beda di mana mereka memiliki keunggulan, dan target yang diserang kecil dan lemah, sehingga gerilya dapat mencapai keunggulan dan kemenangan di sana. Selain itu, musuh pada tahap ini sering kali berada di puncak kekuatannya, dan karena itu bukanlah kepentingan gerilya untuk membuka serangan komprehensif.


Tahap kedua: Tahap penentuan arah strategis, yang biasanya tidak berlangsung lama dan di mana konflik berubah menjadi perang konvensional.


Tahap ketiga: Tahap serangan strategis, yang terjadi setelah kekuatan gerilya tumbuh dan setelah ia menguras habis tenaga musuhnya, yang membuatnya merasa lebih percaya diri. Kemudian ia merasa dapat mencapai kemenangan yang menyeluruh dan menentukan. Di sini, ia meningkatkan intensitas serangannya dan ukuran pasukannya, dan ia dapat berubah menjadi pasukan reguler dengan komando pusat dan ruang operasi yang mengelola pertempuran di semua lini seperti pasukan reguler lainnya. Contohnya adalah revolusi komunis di Cina yang dipimpin Mao.


Bagaimana gerilya mencapai tujuannya?


Ada beberapa cara yang dilakukan gerilya untuk mencapai tujuannya.

  • Mencapai tahap serangan strategis dan keputusan/penentu militer, seperti yang terjadi dalam perang gerilya Cina.

  • Kemenangan adalah hasil dari situasi yang tidak ada  jalan keluar, seperti Vietnam dan Lebanon Selatan (2006-pent).

  • Pertempuran skala kecil, seperti Kuba.

  • Gerilya menggigit-gigit dan meremukkan, sehingga kekuatan musuh secara bertahap digigit habis hingga ia terpaksa menyerah setelah akumulasi operasi yang tak sanggup ditanggung musuh, sehingga ia pun terjatuh dan pingsan. Jenis gerilya ini ditemukan dalam tulisan-tulisan revolusi Palestina dan tulisan-tulisan fedayeen Palestina.

  • Gerilya sebagai sebuah kasus, di sini gerilya tidak berharap untuk menang sendiri, tetapi justru berupaya melibatkan pihak lain bersamanya dalam pertempuran, seperti Fatah mengambil jalan ini pada awal perjuangannya.


Perang partisan (peperangan tidak teratur yang dilakukan oleh pasukan gerilya yang menentang kekuatan asing atau pendudukan. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut gerakan perlawanan. -pent.), beginilah cara Soviet melawan penjajahan Nazi selama Perang Dunia II, saat pemerintah Soviet merasa tidak dapat mengalahkan Jerman dalam perang reguler konvensional, jadi mereka memilih perang gerilya dan membuka konfrontasi dengan menyerang konvoi pasokan dan garis belakang Jerman dengan unit-unit kecil yang tersebar.


Perang partisan adalah bagian dari tahap perang tradisional yang terjadi antara dua pasukan reguler. Ini terjadi pada Perang Dunia II di Uni Soviet dan Prancis, dan juga terjadi di Mesir pada perang tahun 1956.



Fondasi Perang Gerilya


Gerilya didasarkan pada prinsip-prinsip yang membuatnya berbeda dari peperangan tradisional, antara lain:


  • Prinsip penarikan diri strategis dan serangan taktis, yang memerlukan:

  • unchecked

    Ada tempat di mana gerilyawan dapat bersembunyi dari musuhnya.

  • unchecked

    Melindungi diri sendiri lebih penting daripada menyerang musuh.

  • unchecked

    Tidak memusatkan kekuatan di satu tempat.

  • unchecked

    Kemampuan untuk bergerak secara efektif.

  • unchecked

    Prinsip atrisi (membuat musuh kelelahan), bukan ketegasan.

  • unchecked

    Kemandirian: Semakin mandiri gerilyawan dalam hal pendanaan dan persenjataan, semakin independen pula mereka dalam pengambilan keputusan, dan ini membantunya mencapai tujuannya sebelum mencapai tujuan pendukungnya.

  • unchecked

    Stamina menahan dan menyerap pukulan.

  • unchecked

    Hubungan yang kuat antara dirinya dengan masyarakat.

  • unchecked

    Tidak membutuhkan/ bergantung pada persenjataan berat.

  • unchecked

    Moralitas menjadi  senjata strategis yang terpenting.

  • unchecked

    Keyakinan dan ideologi.

  • unchecked

    Intelijen yang baik dan kuat dan reportase atau media massa.

 


Beberapa Pengalaman Perang Gerilya


Pengalaman Kuba


Revolusi Kuba dimulai pada 12/2/1956 ketika kelompok revolusioner pertama memulai kerjanya yang dipimpin oleh Fidel Castro, dan berlanjut hingga Jenderal Batista melarikan diri ke Amerika Serikat pada tahun 1958, dua tahun setelah pecahnya revolusi, dan para revolusioner yang dipimpin oleh Castro memasuki ibu kota Kuba, Havana, pada 1/2/1959.


Penyebab terjadinya revolusi tersebut adalah kediktatoran rezim penguasa yang dipimpin oleh Batista, yang didukung oleh Amerika, serta situasi ekonomi yang buruk, yang menimbulkan kebencian rakyat terhadap rezim penguasa. Kondisi ini mendorong pengacara muda Fidel Castro untuk menggalang sekelompok pemuda di sekelilingnya, yang diperkirakan berjumlah seratus lima puluh orang muda, dan revolusi mereka dimulai dengan serangan terhadap depot senjata pada 26/7/1953.


Gerilyawan Kuba adalah model dan aliran pembelajaran yang sama sekali berbeda dari aliran Tiongkok karena perbedaan kondisi lokal dan lingkungan geografis. Di Kuba, petani lebih dipengaruhi oleh operasi gerilya daripada oleh pidato dan agitasi, tidak seperti kasus Tiongkok, di mana kesadaran revolusioner mendahului dimulainya pertempuran. Dalam kasus Tiongkok, sebuah partai politik dan kesadaran revolusioner terbentuk sebelum dimulainya revolusi, sementara di Kuba, partai politik dan kesadaran revolusioner tumbuh dari rahim revolusi itu sendiri, dan para pejuang revolusi kemudian menjadi pemimpin partai.


Hal baru yang dapat diambil dari model Kuba adalah bahwa sekelompok kecil pejuang yang berdedikasi dapat memicu revolusi tanpa adanya kesadaran revolusioner di antara massa, sehingga tiga tahap yang dibicarakan Mao Zedong tidak mengikat bagi orang Kuba.

 


Ernesto Guevara (1928-1967)


Seorang dokter Argentina yang percaya pada gagasan kekerasan revolusioner dan kebutuhannya dalam perjalanan sejarah masyarakat dan individu. Guevara menganggap dirinya mewakili posisi internasional yang menentang imperialisme kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan menyerukan revolusi melawannya di mana-mana. Ia menyampaikan pidatonya di Konferensi Trikontinental Gerakan Pembebasan Nasional di Havana pada tahun 1966, dengan mengatakan, "Kalian harus menyadari bahwa kalian sedang berperang melawan musuh yang sama." Ia percaya bahwa negara-negara Amerika Latin adalah agen imperialisme Amerika dan karena itu revolusi harus melanda negara-negara itu.


Teorinya berbeda dengan kaum komunis yang percaya pada kemungkinan meraih kekuasaan dan menerapkan sosialisme melalui pemilihan umum seperti partai-partai komunis di Eropa. Karena Guevaraisme adalah berarti revolusi kekerasan.


Vietnam


Vietnam berbeda dari China dan Kuba dalam banyak hal; Yang terpenting dari semua ini adalah bahwa gerilyawan Vietnam beroperasi melawan penjajah asing, bukan melawan pemerintah setempat. Para gerilyawan tidak menguasai wilayah tertentu untuk beroperasi, seperti yang terjadi di Cina, dan para pejuang tidak bersembunyi di tengah penduduk, seperti yang dilakukan gerilyawan Kuba.


Sisi bagus dan rangkuman dari perang gerilya  Vietnam adalah bahwa gerilya - sebagai sebuah teori - mampu beradaptasi dengan cara yang sesuai dengan keadaan objektif setiap negara, dan inilah rahasia penyebarannya di banyak bagian dunia sepanjang abad kedua puluh. Setiap kali muncul dalam bentuk baru meskipun tetap mempertahankan prinsip-prinsip umumnya seperti penarikan diri strategis, serangan taktis, dan atrisi (membuat musuh kelelahan), bukan ketegasan.



Perlu dicatat di sini bahwa organisasi-organisasi Zionis mengadopsi metode gerilya untuk mencapai tujuan mereka dalam mengendalikan Palestina sebagai persiapan bagi kepergian penjajah Inggris, dengan asumsi bahwa mereka adalah pihak yang lemah di hadapan orang-orang Arab dan Muslim. Aktivitas gerilya Zionis tercermin dalam penanaman bom waktu di pasar-pasar dan warung-warung kopi Palestina pada tahun tiga puluhan dan empat puluhan abad lalu. Mereka juga mengarahkan operasi mereka terhadap Inggris ketika mereka membunuh menteri Lord Morin, dan membunuh Count Bernadotte karena penentangannya terhadap pencaplokan Negev ke negara Yahudi berdasarkan resolusi pemisahan tahun 1947.


Pengalaman Tiongkok


Pada bab keempat, penulis membahas beberapa pengalaman historis para gerilyawan, terutama pengalaman Tiongkok (1911-1949), yang diprakarsai oleh milisi Richos Harmony Band dengan kampanye pembunuhan yang menargetkan orang asing di sebagian besar wilayah Tiongkok ketika mereka mendeklarasikan perjuangan bersenjata melawan kekuatan asing, termasuk Inggris dan Jepang. Akibatnya, Inggris dan Jepang menyerbu Tiongkok dan menduduki Beijing, dan Rusia menduduki Manchuria. Setelah itu, pemogokan terbuka dideklarasikan dan revolusi Tiongkok pecah, yang berakhir dengan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Ini diikuti oleh penghapusan kekaisaran dan pembentukan republik pada tahun 1911, kemudian pembagian Tiongkok menjadi provinsi dan negara-negara kecil dan pembentukan konstitusi untuk negara tersebut pada tahun 1921.


Pada tahun 1925, Tiongkok terbagi antara sekutu Inggris, yang dipimpin Perdana Menteri Chiang Kai-shek, dan sekutu Uni Soviet, yang menyebabkan perang saudara antara para penguasa negara pada tahun 1927.


Salah satu taktik yang membuatnya terkenal dalam perang adalah metode darat versus waktu; Maksudnya adalah memancing musuh hingga ke kedalaman, yakni ketika musuh maju, anda mundur, ketika ia berkemah, anda mengganggunya, dan ketika ia mundur, anda menyerangnya.


Salah satu kutipannya yang terkenal: Revolusi bukanlah makan malam. Revolusi tidak bisa dilakukan dengan tenang, moderat, murah hati, atau sopan. Revolusi tidak bisa dilakukan dengan diam-diam, romantis, dengan dada lapang dan pengendalian diri, karena revolusi adalah pemberontakan yang tiba-tiba dalam kurun waktu yang sangat terbatas.


Di antara karya-karyanya: (Masalah-masalah Strategis Perang Revolusi di Tiongkok), (Tentang Perang Jangka Panjang), (Masalah-masalah Strategis Perang Partisan Melawan Jepang).


Gaza


Penulis merujuk pada gerilyawan Arab, seperti Revolusi 1820 di Irak dan Revolusi Aljazair ketika Perancis menginvasi Aljazair pada tahun 1830. Serta pengalaman perlawanan di Gaza, yang penulis anggap sebagai pengalaman unik karena keadaan yang tidak mungkin dihadapi oleh gerilyawan yang beroperasi di sana dimana mereka mempertahankan doktrin tempur, moral tinggi para pejuangnya, kesabaran tanpa batas, daya tahan, dan kesadaran keamanan.


Penulis meyakini bahwa perlawanan Palestina di Gaza menganut prinsip penarikan diri strategis dan serangan taktis. Semua kekuatannya bersembunyi dari permukaan bumi ke dalam parit dan terowongan, sehingga musuh yaitu Israel tidak menemukan apa pun untuk dibom kecuali lokasi pelatihan yang sudah ditinggalkan dan target warga sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, dan kru ambulans.

 

Gerilyawan Palestina memanfaatkan medan berpasir di Gaza untuk mencari tempat bersembunyi, dan mengadopsi prinsip "melindungi diri sendiri lebih penting daripada menyerang musuh." Mereka tidak memusatkan pasukannya di satu tempat, dan mempertahankan kemampuannya untuk bergerak secara efektif dan menyerang musuh di banyak lokasi dengan serangan taktis yang membuatnya meraih keunggulan yang jelas meskipun musuh sangat berhati-hati dan berpengalaman dalam perang gerilya. Mereka juga berkomitmen untuk tidak ingin memutuskan pertempuran dengan musuh dan merasa cukup dengan membikin lelah musuh melalui bentrokan yang tersebar.


Para gerilyawan di Gaza mengandalkan diri mereka sendiri;  memproduksi rudal, peluru kendali, dan bom serta tidak lagi bergantung kepada senjata berat. Di sisi intelijen, musuh jelas gagal meskipun beberapa kali berhasil membunuh sejumlah pemimpin politik dan militer. Namun, keberhasilan gerilya di Gaza yang paling menonjol adalah di tingkat keamanan, karena berhasil menangkap tentara penjajah dan menahan mereka dalam waktu lama meskipun situasi keamanan di Gaza sulit.(KHO)


https://vision-pd.org/%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-2-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%AA%D9%8A%D8%AC%D9%8A%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B6%D8%B9%D9%81/



Share:

Rabu, 19 Februari 2025

Perang di Gaza dan Dampaknya Terhadap Israel

Oleh: Syafiq Syakir, penerjemah: Idham Cholid


Pendahuluan


Peristiwa pada 7 Oktober 2023 mengantarkan ketakutan Israel tentang keamanannya dan masa depan eksistensinya di kawasan ke puncaknya. Ketakutan-ketakutan ini, dengan berbagai perkembangan yang terjadi di dalam dan di sekelilingnya selama beberapa tahun terakhir, telah berubah menjadi “ancaman-ancaman eksistensial” yang telah membingkai wacana dan orientasinya serta mempengaruhi kebijakan dan hubungan luar negerinya. 


Di antara kekhawatiran yang paling menonjol yang terungkap dan diperkuat oleh Operasi “Tofan Al Aqsa” adalah kemampuan infrastruktur militer, industri, intelijen, dan operasional yang kini dimiliki oleh perlawanan Palestina, terutama dengan perkembangan hubungannya dengan Iran, yang merupakan aspek lain dari ancaman strategis ini. 


Pada tingkat internal, Israel tengah menyaksikan perpecahan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang diperburuk oleh perang di Gaza, yang telah menjadi lebih dalam dan lebih luas, baik di tingkat politik maupun agama. Sedangkan di bidang militer, tentara penjajah menderita kerugian besar, gagal mencapai sasaran yang dicanangkannya, dan kekuatan pencegah yang telah dibangunnya selama puluhan tahun runtuh. 


Secara eksternal, narasi Israel menjadi diragukan hingga tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari citra sebagai korban mulai berubah menjadi agresor, terutama setelah kasus yang dibawa oleh Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida. Dengan semakin meningkatnya perbedaan antara para pemimpin Israel dan semakin banyak politisi Barat, termasuk di Amerika Serikat, dukungan Barat yang tanpa syarat terhadap Israel dipertanyakan.



Perlawanan Palestina dan ekspansi Iran


Kebijakan Israel, terutama di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, didasarkan pada isolasi Gaza dari Tepi Barat dan memperkuat pemisahan di antara keduanya, sambil berfokus pada Tepi Barat untuk menaklukkannya, mencaplok tanahnya, dan membatalkan solusi dua negara. Kebijakan ini tampaknya lebih sejalan dengan aliran Zionis dan agama sayap kanan, tren yang mendominasi pemerintahan terakhir Netanyahu, yang digambarkan sebagai pemerintahan paling ekstremis dalam sejarah Israel. 


Sejak tahun 2007, Gaza yang terus dikepung telah menyaksikan serangkaian konfrontasi yang berakhir dengan intervensi mediator dan kemudian dengan ketenangan yang berakhir dengan gencatan senjata, sementara Tepi Barat menyaksikan peningkatan penindasan oleh dinas keamanan Israel untuk melenyapkan kelompok perlawanan baru, seperti Batalyon Jenin, ‘Arin-al-usud’ atau Lions’ Den, Batalyon Balata, dan lainnya. Kebijakan ini bertujuan untuk mempertahankan stagnasi situasi di kawasan dan mengganggu segala upaya untuk mencapai perdamaian, dan juga berusaha menjaga situasi Palestina tetap seperti sekarang, terpecah dan lemah.


Setelah mengumumkan apa yang disebut sebagai Kesepakatan Abad Ini, Israel berupaya memperluas jangkauan geografisnya di tanah bersejarah Palestina dengan mengintensifkan pemukiman dan menindas warga Palestina, dan memperluas jangkauan geopolitiknya di kawasan itu dengan menetapkan batas-batas wilayahnya dengan negara-negara tetangga Arabnya, seperti yang terjadi dengan Lebanon terkait batas-batas atau demarkasi laut dan upayanya untuk menetapkan batas-batas wilayah darat juga. Secara paralel, ia berupaya memperluas cakupan normalisasi dengan negara-negara Arab dan memisahkan jalur ini dari proses perdamaian dan masalah Palestina serta hak-haknya.


Pada tataran keamanan regionalnya, Israel menganggap Iran sebagai ancaman utama, karena program nuklirnya yang maju, di samping dukungan militernya terhadap perlawanan Palestina di Gaza. Selain itu, pengaruh Iran telah meluas di kawasan tersebut, mencapai perbatasan utaranya. Pengaruh yang semakin besar ini dilihat oleh Israel sebagai bahaya yang melampaui keamanannya sendiri, dan mengancam keamanan negara-negara tetangga Arabnya, yang memiliki hubungan dengannya untuk menghadapinya melalui “kepentingan bersama.” 


Negara ini telah mengumpulkan wacana keamanan dan politiknya untuk mempromosikan proses normalisasi dalam konteks "Perjanjian Abraham" untuk melayani perspektif ini dan membangunnya dengan mengabaikan Palestina dan segala pengaturan yang terkait dengan masa depan perjuangan Palestina. Namun, Operasi “Tofan Al Aqsa” datang dari luar konteks ini dan bertentangan dengannya, untuk mengembalikan perjuangan Palestina ke posisi sentralnya dan menghidupkan kembali semua berkas yang terkait dengannya, seperti negara, kota Al Quds, pemukiman Yahudi, dan masalah pengungsi.


Oleh karena itu, operasi 7 Oktober, betapapun mengejutkan Israel, dalam beberapa hal merupakan hasil alami dari kebijakan penjajah, terutama mengingat pemerintahan Netanyahu saat ini dan meluasnya sayap kanan dalam masyarakat Israel. Jelas bahwa operasi ini telah menyebabkan kerusakan serius pada strategi pencegahan Israel dan pada kepercayaan warga Israel terhadap lembaga keamanan, militer, dan politik mereka. Kita dapat memahami betapa besarnya kekerasan yang dilakukan Israel dan kegigihannya untuk menimbulkan kerugian dan kehancuran yang sangat besar terhadap warga Palestina dalam perang di Gaza itu adalah sebagai upaya untuk memulihkan kekuatan ini dalam menghadapi “ancaman Palestina” yang semakin meningkat.


Kerusakan yang ditimbulkan oleh kekuatan pencegah Israel di tingkat regional tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh perlawanan Palestina. Kekhawatiran keamanan Israel tentang kemungkinan terulangnya apa yang terjadi dengan perlawanan di Gaza dari perbatasan Lebanon tidak terlintas dalam pikiran. Dari kekosongan, mengingat meningkatnya kemampuan militer yang dimiliki oleh Hizbullah yang didukung Iran. Oleh karena itu, ia berupaya untuk menerapkan Resolusi PBB 1701 secara lebih ketat di Lebanon selatan. Upaya ini dilakukan dalam konteks upaya untuk memulihkan kekuatan pencegahan dalam skala yang lebih luas, sehingga perangnya di Gaza selaras dengan strategi regionalnya dalam menghadapi pengaruh Iran.



Perpecahan Sosial dan Beban Ekonomi yang Tinggi


Masyarakat Israel tengah menyaksikan perpecahan tajam identitas Israel dan definisi tentang dirinya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pernyataan yang dikeluarkan oleh para pemimpin Israel mengenai memburuknya bahaya internal telah meningkat, mencapai titik peringatan akan bahaya “perang saudara” karena kurangnya keharmonisan antara komponen-komponen masyarakat ini di satu sisi, dan meningkatnya pengaruh kelompok kanan keagamaan dan gerakan Zionis ekstremis di bidang politik di sisi lain. Selain itu, terdapat perselisihan yang berkembang mengenai dualitas Yahudi dan sekularisme serta dampaknya terhadap gaya hidup dan hubungan antara komponen-komponen masyarakat.

 

Perpecahan ini tercermin pada penyusunan komposisi kekuatan politik, dan krisis pemerintah Israel mencapai puncaknya pada tahun 2019. Israel menyaksikan lima putaran pemilihan umum dalam waktu singkat, setelah tidak ada satu pun partai atau blok yang bersaing gagal selama empat putaran pertama untuk memperoleh 61 kursi di Knesset yang akan memungkinkan mereka membentuk pemerintahan, bahkan dengan mayoritas tipis. Setelah pemilu April 2019, September 2019, Maret 2020, dan Maret 2021, pemilu terakhir diadakan pada November 2022 yang membawa kenaikan Netanyahu dan pemerintahan sayap kanannya. Pemerintahan ini telah menyebabkan salah satu konfrontasi dalam negeri terbesar dalam sejarah Israel sebelum Tofan Al-Aqsa, yang fokusnya adalah masalah amandemen peradilan yang dirancang untuk "melayani kelompok ekstrem kanan" dan melindungi Netanyahu dari tuntutan atas tuduhan korupsi. Hal ini masih berlangsung hingga kini, dan hal ini tercermin dalam sikap masyarakat Israel terhadap perang di Gaza, serta tujuan dan prioritasnya.


Perang ini juga membayangi perekonomian Israel, yang menderita kesulitan dan tekanan keuangan yang semakin meningkat karena pengeluaran langsung dan tidak langsung yang membebani kas negara dikarenakan aliran pengungsi Israel dari daerah-daerah yang terdampak perang. Wilayah utara di perbatasan Lebanon dan wilayah selatan di perbatasan Gaza dievakuasi ke daerah lain yang lebih aman. Sejumlah kegiatan pertanian dihentikan karena beberapa lahan berada di wilayah ketegangan. Banyak proyek komersial dan infrastruktur terganggu karena penarikan pekerja Palestina, selain pemanggilan puluhan ribu tentara cadangan untuk bergabung ke medan perang dan mengeluarkan mereka dari siklus produksi.


Ironisnya, sumbangan kelompok sayap kanan terhadap ekonomi Israel lebih sedikit dibandingkan kelompok lain. Sedangkan wacana yang mereka miliki didasarkan pada hasutan untuk melanjutkan perang dan meningkatkan biayanya. Aliran ini tidak memberikan perhatian dalam sikap yang diambilnya jika dampak negatif pada ekonomi Israel, bahkan kepada situasi dan hubungannya dengan dunia luar, sehingga menjadikan tempat yang tidak menarik untuk investasi, dan jadi kurang mendorong migrasi Yahudi ke sana. Patut dicatat pula bahwa penganut Haredi (Yahudi ultra-ortodoks) menolak wajib militer dan bersikeras tidak ikut dinas militer meskipun tentara membutuhkan mereka, sebagaimana dikatakan oleh pemimpin oposisi Yair Lapid. Kepala Rabbi Israel, Yitzhak Yosef, mengancam akan menyuruh "semua" dari mereka meninggalkan Israel jika mereka dipaksa mendaftar. Jumlah mereka pada tahun 2023 mencapai sekitar 66 ribu calon prajurit militer.


Hal terpenting yang ditunjukkan oleh perpecahan ini dan biaya politik serta ekonomi yang ditimbulkannya adalah bahwa Israel akan tetap jauh dari stabilitas politik dan pemerintahan pada  periode mendatang. Karena perang di Gaza, apapun hasilnya, dan meskipun digambarkan sebagai perang eksistensial, tidak mampu menyatukan masyarakat Israel, tetapi malah menambah pembenaran baru bagi perpecahan Israel. Semua jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas orang Israel bercita-cita untuk menyingkirkan pemerintahan sayap kanan dan lebih memilih pemerintahan yang lebih moderat. Perlu dicatat bahwa ada ketakutan Barat yang berkembang bahwa masyarakat Israel tengah bergeser ke arah ekstremisme sayap kanan, yang memperdalam perpecahan antara komponen-komponennya dan memperburuk ketidakmampuan Israel dalam meraih keamanannya sendiri untuk melanjutkan jalur normalisasi.


Hubungan Israel dengan Barat dan citranya di mata opini publik Perang di Gaza dan genosida serta kelaparan warga Palestina di tangan pemerintah sayap kanan ekstrim telah menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan hubungan antara Barat dan Israel. Pandangan yang berlaku di Barat, bahwa Israel adalah satu-satunya demokrasi di kawasan tersebut dan negara yang mewakili perpanjangan peradaban Barat dan nilai-nilainya, mulai menjadi sasaran kritik dan peninjauan. Meskipun narasi Israel mendominasi secara luar biasa di koridor kekuasaan, pemikiran, dan pengaruh di Barat, Gaza telah mendapatkan simpati Barat di kalangan generasi muda. Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa menyaksikan demonstrasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mendukung Palestina dan narasi mereka serta menentang perang. Lingkaran protes juga meluas hingga mencakup politisi dan anggota parlemen Barat, dan komunitas seni pun tidak kebal terhadap tren ini. Gugatan hukum yang diajukan Afrika Selatan di hadapan Mahkamah Internasional terhadap Israel atas tuduhan genosida menambah momentum bagi keterlibatan para profesional hukum, aktivis hak asasi manusia, dan banyak profesional media serta influencer media sosial.


Secara politis, jajak pendapat Amerika mencerminkan adanya peningkatan simpati terhadap Gaza, terutama secara politis, di kalangan pemuda. Apa yang membuat pemerintahan Presiden Biden khawatir tentang kemungkinan kalah dalam pemilu November 2024, karena dukungannya yang  tanpa syaratnya terhadap Israel, meskipun kejahatan dan praktik hukum rimba yang dilakukan Israel. Narasi tradisional yang memperlakukan Israel sebagai korban tidak lagi dominan. Narasi Palestina telah mulai menyingkirkannya, mengalahkannya, dan mendorong sejumlah kekuatan Barat untuk meninjau kembali dukungan mereka yang tidak terbatas terhadap Israel.


Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan yang bersifat politis, moral dan strategis di Israel maupun di Barat tentang apakah penjajah Israel telah menjadi beban bagi Barat, terutama setelah perang di Gaza menyingkap kebrutalan yang tak tertandingi dan penginjakan semua nilai dan standar hukum dan kemanusiaan. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan Israel untuk menjaga keamanannya sendiri dan berperang di masa mendatang tanpa bergantung pada Barat. Seolah-olah negara yang digunakan untuk melindungi kepentingan Barat dan mendominasi negara-negara tetangganya, telah menjadi sangat membutuhkan perlindungan permanen, terutama pada saat Washington sedang berusaha mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah dan mengurangi keterlibatan langsungnya dalam perang dan krisis di Timur Tengah. Perlu dicatat bahwa pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump mengandalkan Israel, dan khususnya Netanyahu, untuk menjadi agen utamanya di kawasan tersebut. Dalam konteks itulah muncul Kesepakatan Abad Ini, tetapi Operasi Tofan Al-Aqsa mengungkap rapuhnya kekuatan Israel dan menegaskan bahwa negara Israel tidak dapat terus menjalankan fungsinya tanpa kehadiran dan dukungan langsung dari Washington.



Kesimpulan


Ketakutan "eksistensial" Israel bukan dimulai dengan Operasi Tofan Al-Aqsa, tapi sudah sejak bertahun-tahun sebelumnya dimana yang menjadi salah satu penyebabnya adalah meluasnya pengaruh kaum religius sayap kanan dan Zionis, dengan dua aspeknya, konservatif dan ekstremis, di dalam masyarakat Israel hingga mencapai puncak politiknya dengan pemerintahan Netanyahu saat ini. Hal ini juga menjadi katalisator yang mengobarkan ambisi Israel untuk memperkuat entitas negara dan memperluas cakupannya, baik secara geografis maupun demografis. Hal ini tampak jelas dari meluasnya pemukiman di Tepi Barat dan kota Al Quds, percepatan Yahudisasi Masjid Al-Aqsa dengan membaginya secara spasial dan temporal, serta terhentinya perundingan dengan Palestina untuk mengakhiri proses perdamaian dan solusi dua membuang solusi dua negara dari peredaran.


Sama saja apakah Israel mencapai tujuannya dari perang di Gaza atau gagal, tampaknya negara itu sedang menuju ke arah yang lebih ekstrim, bahkan dengan standar sekutunya Barat sekalipun. Ekstremisme menyusup ke masyarakat Israel dalam semua kategorinya, didorong oleh gerakan keagamaan di satu sisi dan masalah keamanan di sisi lain. Jika normalisasi mendapatkan kembali momentum setelah perang, ia akan menggantikan proses perdamaian. Kesepakatan ini mampu memperkuat Kesepakatan Abad Ini dan secara efektif membendung ambisi ekspansionis Israel. Sementara itu, normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab akan memberikan Israel apa yang dapat ditawarkan oleh proses perdamaian tanpa harus memberikan imbalan apapun kepada Palestina.


Bagaimanapun juga, Operasi Tofan Al-Aqsa akan menimbulkan dampak strategis yang luas terhadap negara Israel, persatuan masyarakatnya, dan proyek Zionis serta masa depannya di Timur Tengah. Pertanyaan tentang “keberadaan” dan penegakannya kembali di atas prinsip-prinsip yang baru akan terus menghantui politisi, militer, dan warga Israel. Kekhawatiran mereka terhadap keamanan terkait berkembangnya kemampuan perlawanan di dalam negeri dan perluasan pengaruh “musuh strategis” mereka di luar negeri tidak akan hilang. Keretakan dalam hubungan Israel dengan Barat membutuhkan waktu untuk disembuhkan. Mengenai kemunduran narasi Israel dan pergeseran opini publik global yang mendukung narasi Palestina, tampaknya ini adalah dinamika yang tidak dapat dibalikkan, setidaknya dalam waktu dekat.(KHO)


Share:

Minggu, 16 Februari 2025

Strategi AS dan Perang Gaza

Strategi AS dan Perang Gaza

Oleh: Alhawas Taqia


Pendahuluan


Perang Israel di Gaza telah menyebabkan guncangan baru dalam sistem internasional, dan mengungkapkan Ketidakmampuan Amerika Serikat untuk memaksakan apa yang diinginkannya dan mencegah apa yang tidak diinginkannya pada tingkat Politik internasional. 


Perang ini mengalihkan perhatian pimpinan Amerika dari perang Rusia di Ukraina, yang pada gilirannya mengalihkan perhatiannya dari tujuan strategis utamanya menahan kebangkitan Cina. Sementara itu, kekacauan ini mendorong beberapa kekuatan internasional atau Kekuatan besar atau kekuatan yang sedang naik daun untuk bersaing dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk merebut orbitnya berkenaan dengan kepemimpinannya dalam sistem internasional dan desakan atas partisipasinya atau menggantikan posisinya.


Kelemahan Amerika terlihat dalam tiga lingkaran yang membentuk strategi utama Amerika.  Ini adalah lingkaran kawasan Timur Tengah, yang menjadi penting dari cadangan energinya dan jalur laut dan daratnya. Lingkaran Eropa, yang menjadi penting dari kedekatannya kekuatan besar yaitu Rusia, yang merupakan ancaman bagi kepemimpinan Amerika. Dan lingkaran Asia Tenggara, yang menjadi penting dari kebangkitan regionalnya dan kehadiran Tiongkok, negara adikuasa yang menantang Amerika Serikat untuk meraih kepemimpinan global.


Kegagalan Permanen Israel


Perang Israel terhadap  Gaza terletak di jantung Timur Tengah. Strategi AS sebelum “Tofan Al-Aqsa” adalah bergerak menuju mitigasi (upaya mengurangi dampak buruk) berbagai permasalahan di kawasan ini dan berfokus pada Samudra Hindia dan Pasifik, untuk membendung meningkatnya kekuatan Cina. Karenanya, dia merumuskan rencana yang menetapkan Israel sebagai wakil untuk menangani keamanan Timur Tengah dalam menghadapi Iran melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab melalui "Perjanjian Abraham". Dalam konteks ini, normalisasi dipasarkan sebagai sebuah kerangka kerja untuk menangkal ancaman Iran dan sebagai mekanisme untuk mendorong Israel memberikan kepada Palestina hak-hak mereka.


Rencana ini telah berjalan jauh sebelum Tofan al Aqsa, dimana Israel telah melancarkan perang menyeluruh dan kebuasan yang melibatkan segala jenis kebrutalan termasuk Genosida yang mana Mahkamah Internasional didirikan untuk menyelidikinya. Di tingkat politik, pemerintahan Netanyahu mengumumkan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina, dan resolusi Knesset menerbitkan undang-undang mengenai masalah ini yang disetujui oleh semua anggotanya. Benjamin Netanyahu membanggakan "prestasi" ini dan bahwa ia telah berhasil selama hampir dua puluh tahun pemerintahannya dalam menggagalkan pembentukan negara Palestina, dan ia berjanji untuk melanjutkan kebijakan ini hingga akhir pemerintahannya. Dengan demikian, hilanglah justifikasi bagi normalisasi, dan negara-negara Arab terjerumus ke dalam rasa malu, dan negara-negara yang menginginkan pembenaran atas normalisasi, sehingga negara-negara yang menginginkan normalisasi tidak lagi memiliki pembenaran untuk menerimanya di masa mendatang.


Sebaliknya, Amerika Serikat berusaha mengarahkan ulang kebijakan Israel dan kembali menerapkan strategi aslinya. Maka didesaklah Tel Aviv untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza guna meringankan dampak bencana kemanusiaan, yang merusak reputasi Israel dan membayangi Washington sebagai mitra dalam perang. Namun pemerintahan Netanyahu menolaknya dan menggunakan senjata kelaparan untuk menekan perlawanan, sambil terus menolak solusi dua negara dengan anggapan itu mengancam keamanan Israel. Di antara seruan Washington dan penolakan Tel Aviv, pemerintah AS tampaknya tidak berdaya untuk memaksakan kehendaknya kepada sekutu dekatnya, Israel.


Penolakan Israel ini menempatkan Washington dalam dilema strategis dan merusak rencananya untuk mendorong proses normalisasi agar melibatkan negara Arab lainnya, agar memperkuat posisi regional Tel Aviv. Entah tetap terlibat aktif dalam urusan kawasan untuk melindungi sekutunya dan mencegah negara-negara yang menentang kebijakannya, seperti Iran, dari melakukan ekspansi pengaruhnya, sehingga melemahkan kemampuannya untuk membendung Tiongkok. Atau memilih untuk beralih ke Asia Tenggara, yang akan meningkatkan kerusuhan di Timur Tengah dan mempengaruhi pasar energi dan lalu lintas pelayaran. Akibatnya, getaran mungkin terjadi di beberapa negara yang rapuh, mendorong beberapa di antaranya runtuh. Dalam kedua kasus tersebut, Amerika Serikat akan kehilangan kredibilitasnya dan kemampuannya untuk terus memimpin sistem internasional sendirian.


Sedangkan bagi negara-negara Arab yang sedang melakukan normalisasi, kepercayaan mereka terhadap kemampuan Israel untuk melindungi mereka dari bahaya eksternal dan internal akan menurun. Israel, yang selalu menggambarkan dirinya sebagai kekuatan luar biasa di Timur Tengah, telah terbukti tidak mampu mencapai kemenangan yang menentukan melawan faksi-faksi bersenjata yang bertempur dalam jumlah kecil dan dengan senjata sederhana, dan bahwa Israel membutuhkan Amerika Serikat untuk melindunginya dan menyediakan untuknya senjata, amunisi, dan informasi. Negara-negara ini mungkin akan mempertimbangkan kembali penilaian mereka terhadap batasan kekuatan Israel dan sejauh mana kemampuannya untuk menjamin perlindungan kepada mereka sebagai pengganti  Amerika Serikat. Sehingga dengan demikian upaya Washington untuk membangun sistem keamanan Timur Tengah yang dipimpin oleh Israel mengalami kegagalan dan berguguranlah negara-negara Arab dari posisi ketergantungan.


Tekanan di front Eropa


Di tingkat Eropa, perang Israel di Gaza berkontribusi dalam mencegah Amerika Serikat mengalahkan Rusia dalam invasinya ke Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengakui bahwa perang Gaza mengalihkan opini publik dunia pada umumnya dan opini publik Barat pada khususnya dari situasi di Ukraina. Momentum emosional yang dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan bagi pertahanan negaranya menurun, dan tingkat minat publik di negara-negara Barat yang berupaya membantunya pun menurun. Sebelumnya, Ukraina menggunakan momentum itu untuk menekan pemerintah Eropa yang enggan membantunya, seperti Hongaria.


Di sisi lain, momentum ini menjadi kendala bagi pemerintah yang bersimpati terhadap ٌRusia, yang sebelumnya merasa malu untuk memberikan dukungan mereka terhadap Putin, yang tampil dengan citra agresor terhadap negara merdeka, dimana isolasi terhadap Rusia mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, setelah perhatian beralih ke perang Israel di Gaza dan dukungan tak terbatas dari Barat yang diterimanya, citra Putin yang menentang perang Gaza, berubah menjadi pembela rakyat tertindas yang dijajah berkepanjangan di bawah dukungan penuh Barat. Perang Gaza juga meningkatkan tekanan pada sumber daya militer dan keuangan Barat, yang sebelumnya tidak mampu memberikan dukungan yang diperlukan kepada pasukan Ukraina. Pada bulan Oktober 2023, misalnya, General Dynamics mengumumkan telah menjadi produsen  20.000 peluru artileri setiap bulannya, dimana sebelumnya hanya memproduksi 14.000 setiap bulan.  Perusahaan raksasa Amerika ini bermaksud meningkatkan produksinya hingga 100.000 peluru per bulan. Tidak diragukan lagi bahwa perang Gaza akan mendorongnya untuk meningkatkan produksinya dengan lebih cepat.


Penurunan signifikan dukungan Barat untuk Ukraina menyebabkan kegagalan “serangan balik”nya terhadap pasukan Rusia, dan membuka jalan bagi Rusia untuk memulihkan keseimbangannya dalam industri militer, memobilisasi pasukan tempur tambahan, dan meluncurkan serangan baru pada akhir tahun 2023, mempenetrasi tiga kota strategis: Bakhmut, Avdiivka, dan Kupyansk.


Hambatan bagi koridor ekonomi antara India, Timur Tengah dan Eropa 


Adapun lingkaran Asia Selatan, di mana Cina berada di pusatnya; Perang Gaza telah memberikan pukulan yang sangat dahsyat terhadap proyek koridor ekonomi India-Timur Tengah-Eropa, yang dikenal sebagai “Koridor.” Amerika Serikat, yang mensponsori proyek ini, berupaya mencapai dua tujuan melalui proyek ini: Pertama: menggagalkan proyek Sabuk dan Jalan Tiongkok, yang digunakan Tiongkok untuk memperluas pengaruhnya ke berbagai arah, dan menghubungkan sejumlah besar negara di dunia dengan ekonominya atas dasar “saling menguntungkan”. Kedua: Mengintegrasikan Israel ke dalam perekonomian kawasan dan mendorong normalisasi agar mencakup lebih banyak negara.


Proyek Koridor diharapkan dimulai di India dan melewati Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Israel, lalu ke pelabuhan Yunani, sebelum berakhir di negara-negara Eropa lainnya. Negara-negara ini akan dihubungkan oleh infrastruktur yang terdiri dari jaringan kereta api, serat optik, dan jaringan pipa hidrogen bersih. Anggaran sebesar $20 miliar telah dialokasikan untuk membangun koridor ini, yang diharapkan dapat memangkas waktu tempuh dari India ke Eropa sekitar 40% dan biayanya sekitar 30%. Tampaknya UEA memberikan kontribusi finansial yang luar biasa bagi keberhasilan proyek ini, karena Presiden Biden mengucapkan terima kasih kepada presidennya, Mohammed bin Zayed, ketika ia menyapanya, dengan mengatakan: “Proyek ini tidak akan terwujud tanpa usaha Anda.”


Jelas dari peta proyek ini bahwa Israel adalah mata rantai utama; Di satu sisi, dia akan terhubung dengan perekonomian negara-negara Teluk, yang telah menantikannya sejak proyek Shimon Peres Timur Tengah Baru. Dengan demikian hal ini akan menjadinya sebagai entitas alami bagi kelangsungan hidupnya di kawasan Arab, dan bahkan menjadi salah satu kawasan terkaya di dalamnya. Di sisi lain, Israel adalah penghubung antara dua lokomotif ekonomi besar: Asia Tenggara dan Eropa. Dengan demikian, ia memberi keuntungan bagi ekonomi-ekonomi Arab yang kaya, ekonomi-ekonomi Asia yang sedang berkembang, dan ekonomi-ekonomi Eropa yang maju. Selain keuntungan-keuntungan ini, Israel akan menjadi bagian dari strategi Amerika untuk menggagalkan strategi Sabuk dan Jalan Tiongkok, yang diandalkan Beijing untuk melepaskan diri dari cengkeraman Amerika Serikat dan menciptakan jaringan negara-negara yang tunduk pada pengaruhnya yang semakin besar.


Perang Gaza mungkin akan menggagalkan semua rencana ini, karena Israel berada di ambang menjadi negara nakal. Negara ini menghadapi tuntutan hukum di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida, serta sejumlah kasus lain atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Mahkamah Kriminal Internasional. Kepemimpinan Israel telah menyatakan penolakannya terhadap solusi dua negara yang disepakati secara internasional, dan telah berjanji untuk menduduki kembali Gaza dan memperluas aktivitas permukiman di Tepi Barat. Jika berhasil melaksanakan apa yang dikatakannya, kemungkinan besar negara dia akan berubah menjadi negara apartheid, mirip dengan Afrika Selatan di bawah kekuasaan minoritas kulit putih.


Kalau keadaannya seperti ini, proyek koridor ekonomi itu akan kolaps, karena negara-negara lain tidak akan berminat bermitra dengan Israel dan menjalin hubungan dengannya lewat proyek ini, dan keterasingannya akan makin bertambah kalau Mahkamah Internasional memutuskan Israel melakukan genosida, dan dengan begitu Amerika akan gagal dua kali. Yang pertama: mendedikasikan Israel sebagai link utama dan kekuatan hegemonik di Timur Tengah, dia akan tetap menjadi entitas yang tersingkirkan. Yang kedua: membentuk alternatif yang menyaingi atau menggagalkan proyek strategis Tiongkok: Sabuk dan Jalan.


Pertalian Negara-negara Ambisius


Perang Gaza tidak hanya melemahkan posisi Amerika Serikat di tiga lingkaran strategis, tetapi mungkin juga telah mendorong kekuatan utama yang menentangnya di lingkaran tersebut untuk bersatu lebih erat. Pada bulan Maret 2024, Tiongkok, Rusia, dan Iran melakukan latihan angkatan laut di Teluk Oman dengan slogan “Sabuk Keamanan Maritim”. Ketiganya mengumumkan bahwa manuver yang berlangsung di kawasan strategis di tengah-tengah apa yang dikenal sebagai segitiga “Selat Emas”: Hormuz, Bab al-Mandab, dan Malaka, bertujuan untuk menciptakan 16 tim keamanan masa depan dari ketiga negara tersebut. Iran sebelumnya telah mengintensifkan dukungan militernya kepada Rusia dengan mensuplai drone dalam perang terhadap Ukraina. Kedua negara tersebut menjalin kerjasama militer yang mencakup persenjataan, pelatihan, dan manufaktur bersama.


Hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Rusia terus bertambah baik, tercermin dalam suara bulat di Dewan Keamanan pada bulan Maret 2024 untuk menolak rancangan resolusi Amerika yang menyerukan gencatan senjata sementara di Gaza, dikarenakan rancangan tersebut tidak secara eksplisit menyerukan gencatan senjata permanen. Itu merupakan kedok diplomatik bagi kelanjutan perang Israel di Jalur Gaza. 


Di sisi lain, perang di Gaza telah menyoroti kutub yang memberontak terhadap AS, dipimpin oleh Afrika Selatan, yang menggugat Israel di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida. Presiden Brazil Lula da Silva melancarkan serangan keras terhadap Israel, dan Nikaragua mulai menggugat Jerman di hadapan Mahkamah Internasional atas dukungannya terhadap kejahatan Israel. Kekuatan-kekuatan ini bersatu untuk menentang hegemoni Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan bersaing untuk mewakili apa yang disebut “Global Selatan.” Dan menemukan di Gaza, kasus yang tepat untuk mengutuk Barat dan menghasutnya dan melawannya kebijakannya, dan membongkar standar gandanya.


Kesimpulan


Amerika Serikat akan keluar dari perang Gaza menderita kegagalan  di lebih dari satu tingkatan. Tujuan-tujuannya secara bertahap mengalami kegagalan di Timur Tengah.  Perang Ukraina telah mengalihkan perhatiannya dari upaya membendung China, lalu perang Gaza pecah dan mengalihkan perhatiannya dari perang Ukraina. Tidak jelas bagaimana ia dapat mengendalikan dua gempa  “kecil” ini untuk kembali ke pertempuran utama dengan Tiongkok. Kemungkinan besar, ia akan tetap sibuk dengan dua lingkaran strategis: Eropa dan Timur Tengah, untuk waktu yang lama. Sementara itu, Tiongkok akan terus bangkit, menjalin jaringan pengaruhnya, dan bersaing dengan Amerika Serikat untuk memimpin sistem internasional. Tiongkok juga akan diikuti oleh semakin banyak negara yang menentang hegemoni Barat dan menjadi bagian dari “Global Selatan”.(KHO)
Share: