Sudah lima hari berturut-turut, Otoritas penjajah Zionis menutup Masjid Al-Aqsa. Negara Zionis menggunakan dalih keamanan untuk memberlakukan kontrol lebih lanjut dan mengelola situs-situs suci Islam secara sepihak, khususnya selama bulan Ramadhan. Langkah ini dianggap sebagai eskalasi berbahaya sebagai upaya untuk membentuk kembali realitas yang ada di masjid Al-Aqsa.
Penjajah Zionis telah menutup Masjid Al-Aqsa sejak Sabtu pagi, memaksa jamaah untuk pergi dan mencegah pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih. Penutupan Masjid Al-Aqsa ini juga bersamaan dengan penutupan Masjid Ibrahimi dan Tepi Barat, beberapa jam setelah serangan skala besar yang dilancarkan oleh negara Zionis dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Pemerintah Provinsi Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan penjajah melarang jamaah memasuki masjid, dengan alasan keadaan darurat, di tengah pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar masjid dan di gerbang Kota Tua, serta mencegah warga memasuki halaman masjid.
Otoritas pendudukan mencegah warga Palestina untuk melaksanakan salat Isya dan Tarawih selama Ramadhan. Mereka telah memperkuat kehadiran militer mereka di sekitar masjid dan gerbang Kota Tua, mengerahkan sejumlah besar Polisi Perbatasan dan pasukan khusus, mengubah lorong-lorong Kota Tua menjadi zona militer tertutup. Mereka telah mencegah para jamaah mencapai gerbang masjid dan menyerang sejumlah orang-orang yang sedang berada di masjid.
Proyek Likuidasi Komprehensif
Kelompok-kelompok keagamaan meyakini ini sebagai kelanjutan dan perluasan perang mencerminkan pendekatan negara Zionis yang melancarkan perang pemusnahan komprehensif yang bertujuan untuk menghilangkan hak-hak Arab dan Islam di Palestina dan memaksakan hegemoni absolut. Langkah ini dipimpin oleh kelompok Zionisme Religius dengan wacana mesianik, didukung oleh visi Zionis Kristen, yang berupaya menyelesaikan konflik atas Al-Quds dengan cara memaksakan realitas keagamaan dan kedaulatan baru.
Mereka menggarisbawahi bahwa penargetan Masjid Al-Aqsa sejak awal perang, meningkatnya frekuensi serangan selama Ramadhan, perluasan pembagian temporal, dan upaya untuk memaksakan kendali atas administrasinya dan mengubah status quo historisnya, semuanya merupakan indikator bahwa Al-Aqsa dipandang sebagai titik fokus dan simbol sentral dari "pertempuran yang menentukan."
Kejahatan Agama dan Kemanusiaan
Sementara itu, Majlis Ulama Palestina menganggap penutupan Masjid Al-Aqsa dan pencegahan jamaah untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih selama Ramadhan sebagai "kejahatan agama dan kemanusiaan yang serius," yang menunjukkan itikad kuat untuk memaksakan realitas Yahudi baru dengan dalih keadaan darurat dan keamanan.
Dalam sebuah pernyataan, Majlis tersebut menyerukan kepada dunia Muslim, para ulamanya, dan lembaga-lembaga pemerintah dan ormas untuk memikul tanggung jawab keagamaan mereka terhadap Masjid Al-Aqsa; bekerja mendukungnya di semua bidang; dan menjaga agar perjuangannya tetap hidup dalam hati nurani Umat, sehingga tidak diabaikan dan dipojokkan oleh penjajah.
Majlis Ulama memuji warga Al-Quds dan kaum perempuan dan laki-laki yang terus berjaga-jaga di Masjid Al-Aqsa, menyerukan kepada warga Palestina di wilayah jajahan sejak 1948 dan Tepi Barat untuk menuju ke Al-Aqsa sana dan menggagalkan penutupannya.
Majlis itu menyerukan kepada para pemimpin dan pemerintah Islam, khususnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pelanggaran dan melindungi tempat-tempat suci di Al-Quds. pergeseran yang akan sulit untuk dibalikkan di kemudian hari, terutama mengingat perhatian regional dan internasional terhadap perang yang sedang berlangsung.
Perebutan Kedaulatan Bertahap
Abdullah Maruf, seorang peneliti pakar urusan Al-Quds menjelaskan bahwa perluasan pembagian waktu, pembatasan kepada jamaah selama momentum keagamaan, dan penutupan total yang terus berlanjut adalah taktik tekanan yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali "status quo historis" melalui langkah-langkah bertahap yang terakumulasi dari waktu ke waktu hingga menjadi realitas permanen.
Sebaliknya, otoritas penjajah mengakui tindakan ini dengan dalih "situasi keamanan yang genting," tetapi sumber-sumber Al-Quds menegaskan bahwa skala pengerahan militer, pelarangan masuk secara penuh bagi para jamaah, dan serangan terhadap kaum muslimin yang berada di dalam masjid merupakan skala eskalasi yang tidak biasa. (Kho)
Sumber:
Situs Pusat Informasi Palestina “إغلاق الأقصى.. هكذا تستغل إسرائيل العدوان على إيران لتغيير الوضع القائم” terbit 3 Maret 2026 https://palinfo.com/news/2026/03/03/994774/
Situs kantor berita Quds Press “الاحتلال يواصل إغلاق المسجد الأقصى لليوم الخامس على التوالي” terbit tgl 4 Maret 2026, diakses 5 Maret 2026 16:47 https://qudspress.net/253389/

