About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Jumat, 06 Februari 2026

Kepulangan Warga Palestina ke Gaza terus berlanjut dan Negara Zionis Bangun Pangkalan Militer di Sana

 6 Februari 2026 - Terakhir diperbarui: 04:27 (Waktu Mekah)

Gelombang keempat musafir yang pulang telah tiba di Jalur Gaza melalui gerbang perbatasan Rafah, sementara citra satelit mengungkap berdirinya situs militer negara Zionis dan pangkalan baru di Khan Younis dan Gaza utara.


Dua puluh satu warga Palestina yang terdampar di Mesir menyeberang ke Jalur Gaza melalui gerbang perbatasan darat Rafah. Perjalanan mereka dari kota El Arish di Mesir ke Gaza memakan waktu berjam-jam karena pembatasan dan hambatan negara Zionis di pgerbang perbatasan Rafah.


Pihak berwenang negara Zionis memutuskan untuk membuka kembali gerbang perbatasan Rafah pada awal bulan ini untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun untuk memungkinkan puluhan warga Palestina melakukan perjalanan ke kedua arah.



Lokasi Militer Baru


Meskipun fase kedua perjanjian gencatan senjata Gaza telah diterapkan, citra satelit telah mengungkap berdirinya lokasi-lokasi militer negara Zionis yang baru di bagian selatan dan utara Jalur Gaza.


Citra satelit yang diperoleh Al Jazeera sebelum 2 Desember tahun lalu menunjukkan lahan terbuka di Khan Younis dekat Garis Hijau, tanpa instalasi militer, benteng tanah tanah, atau kendaraan militer yang ditempatkan di sana.


Namun, citra satelit yang diambil setelah 1 Februari tahun ini menunjukkan lokasi yang sama dengan pangkalan militer negara Zionis yang telah didirikan, lengkap dengan kendaraan militer dan fasilitas lapangan untuk tentara.


Tentara negara Zionis telah mengelilingi pangkalan tersebut dengan tanggul tanah yang jelas menunjukkan kehadiran militer permanen.


Citra satelit terbaru juga mengungkapkan dimulainya pembangunan pangkalan militer lain yang sangat dekat dengan pangkalan pertama, dalam jangkauan dekat garis kuning, yang menunjukkan kehadiran militer di daerah tersebut.


Di Gaza utara, citra menunjukkan pos militer, dan jika dibandingkan dengan citra terbaru yang diambil pada 2 Februari, pergerakan kendaraan dan peralatan logistik di lokasi tersebut terlihat jelas.



Tekanan AS Terkait Gerbang Perbatasan Rafah


Sementara itu, surat kabar negara Zionis Haaretz mengutip sumber yang berpengetahuan luas yang mengatakan bahwa Amerika Serikat menekan negara Zionis untuk memperluas operasi gerbang perbatasan tersebut agar mencakup masuknya barang dan bantuan.


Sumber tersebut menambahkan kepada surat kabar it bahwa perlintasan barang-barang dan bantuan hanya melintasi Kerem Shalom saja menghambat proses rekonstruksi di Jalur Gaza.


Sumber tersebut menjelaskan bahwa perluasan operasi penyeberangan Rafah untuk perlintasan barang dan bantuan akan sangat penting, dan tidak diketahui berapa lama Perdana Menteri negara Zionis Benjamin Netanyahu akan mampu menolak hal ini.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net, “الفلسطينيون يواصلون العودة للقطاع وإسرائيل تبني قواعد عسكرية فيه” terbit 6 Februari 2026 diakses 6 Februari 2026 11”18 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/6/%D8%A7%D9%84%D9%81%D9%84%D8%B3%D8%B7%D9%8A%D9%86%D9%8A%D9%88%D9%86-%D9%8A%D9%88%D8%A7%D8%B5%D9%84%D9%88%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%88%D8%AF%D8%A9-%D8%A5%D9%84%D9%89-%D8%BA%D8%B2%D8%A9


Share:

Kamis, 05 Februari 2026

23 Warga Palestina Syahid di Gaza; Ham4s Tuduh Netanyahu Rusak Perjanjian Gencatan Senjata



4 Februari 2026 Terakhir diperbarui: 20:50 (Waktu Mekah).

Dua puluh tiga warga Palestina tewas dan puluhan lainnya terluka pada hari Rabu akibat serangan udara dan penembakan artileri negara Zionis yang menargetkan tenda-tenda pengungsi dan rumah-rumah warga di berbagai bagian Jalur Gaza. Penjajah negara Zionis membenarkan serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap tembakan yang menargetkan pasukannya.


Sebagai tanggapan, Gerakan Perlawanan Islam (Ham4s) menuduh Perdana Menteri negara Zionis Benjamin Netanyahu sengaja melakukan eskalasi situasi untuk menghalangi implementasi fase kedua perjanjian gencatan senjata. Ham4s menggambarkan narasi negara Zionis sebagai "dalih yang lemah" untuk membenarkan pembunuhan yang terus berlanjut dan dimulainya kembali perang genosida.



Menargetkan Tenda-Tenda Pengungsi


Di lapangan, sumber-sumber di rumah sakit Gaza melaporkan bahwa 23 orang syahid akibat tembakan pasukan negara Zionis di luar area sebaran mereka, termasuk 14 orang di Kota Gaza hari ini.


Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya melaporkan bahwa jumlah korban awal dari serangan terbaru adalah 21 orang syahid dan 38 orang terluka.


Kementerian tersebut mengklarifikasi bahwa jumlah total warga Palestina yang syahid sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober telah mencapai 556 orang, dengan 1.500 orang terluka, dan 717 jenazah ditemukan.


Lebih detailnya, sebuah sumber medis di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada korban jiwa dalam serangan udara negara Zionis yang menargetkan tenda-tenda pengungsi di Deir al-Balah, di mana dua warga Palestina, salah satunya anak-anak, syahid di sebelah timur kota tersebut.


Di Khan Younis, tiga warga Palestina syahid dalam serangan yang menargetkan sebuah tenda di daerah Mawasi. Sebuah helikopter negara Zionis pertama kali menargetkan tenda tersebut, dan kemudian sebuah drone mengebom kru ambulans saat mereka mengangkut korban luka.


Rumah Sakit Nasser juga menerima tiga jenazah warga Palestina yang syahid akibat serangan artileri yang menargetkan rumah-rumah di daerah Qizan Rashwan di selatan kota, yang berada di luar kendali negara Zionis.


Di Kota Gaza, empat warga Palestina dari keluarga Haboush syahid dalam serangan artileri yang menargetkan rumah-rumah di jalan Yafa, Sikka, dan Hajar di kelurahan Tuffah di timur kota, daerah-daerah di luar kendali tentara negara Zionis.


Dua wanita dan seorang anak juga syahid akibat serangan artileri yang menargetkan sebuah tenda di Taman Al-Mahatta di kelurahan Al-Tuffah.


Rumah Sakit Al-Shifa menerima jenazah tiga syahid akibat serangan artileri di "Jalan 10" di kelurahan Zeitoun, tenggara kota, sebuah daerah yang juga berada di luar kendali penjajah.


Sementara itu, tentara penjajah mengklaim bahwa seorang perwira terluka parah akibat tembakan di Jalur Gaza utara, menunjukkan bahwa tank dan pesawat mereka membalas dengan serangan udara dan tembakan artileri.



Menargetkan Komandan Lapangan


Sementara itu, Channel 12 negara Zionis mengutip sumber keamanan yang mengkonfirmasi "pembunuhan komandan Brigade Utara Brigade Al-Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam di Jalur Gaza."


Hal ini terjadi beberapa jam setelah tentara penjajah negara Zionis mengumumkan telah menargetkan seorang pria yang mereka sebut sebagai komandan unit elit di Brigade Izzuddin Al-Qa554m, sayap militer Ham4s, di Jalur Gaza selatan. Dalam pernyataan bersama dengan Shin Bet (Badan Keamanan negara Zionis), militer mengklaim bahwa mereka menargetkan Bilal Abu Assi, yang dituduh sebagai supervisor serangan terhadap pemukiman Zionis Nir Oz pada 7 Oktober 2023.


Ham4s dan Jihad Islam belum mengomentari laporan-laporan ini atau mengkonfirmasi klaim negara Zionis.



Ham4s: Sabotase yang Disengaja


Dalam sebuah pernyataan pers, Ham4s mengatakan bahwa eskalasi oleh penjajah merupakan kelanjutan langsung dari perang genosida dan menegaskan niat Netanyahu yang telah direncanakan untuk menghalangi fase kedua perjanjian tersebut.


Gerakan tersebut menegaskan bahwa "agresi penjajah yang berkelanjutan, meskipun terjadi transisi ke fase kedua dan pembukaan penyeberangan Rafah, merupakan sabotase yang disengaja terhadap upaya untuk memperkuat gencatan senjata dan kelanjutan kebijakan pembunuhan dan pengepungan untuk menghindari kewajiban rencana Trump, yang telah Hamas telah berkomitmen terhadapnya."


Gerakan tersebut menekankan bahwa "para mediator dan negara-negara yang menjamin perjanjian tersebut diharuskan untuk mengambil sikap tegas terhadap perilaku penjahat perang Netanyahu, yang secara sistematis berupaya untuk merusak perjanjian dan melanjutkan genosida, pembunuhan, dan pelaparan di Gaza," menuntut tekanan internasional segera untuk memaksa penjajah menghormati komitmennya.


Dengan dukungan Amerika, negara Zionis memulai perang genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023, yang berlangsung selama dua tahun dan menyebabkan sekitar 72.000 syahid pihak Palestina dan lebih dari 171.000 orang terluka, sebagian besar di antaranya anak-anak dan perempuan.


Sumber: Al Jazeera + Kantor-kantor Berita


—--

Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “23 شهيدا بغزة وحماس تتهم نتنياهو بتخريب اتفاق وقف إطلاق النار

“ terbit 4 Februari 2026 diakses 5 Februari 2026 09:13 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/4/%D8%B4%D9%87%D8%AF%D8%A7%D8%A1-%D9%88%D9%85%D8%B5%D8%A7%D8%A8%D9%88%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D9%82%D8%B5%D9%81-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84%D9%8A-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D9%87%D8%AF%D9%81-8


Share:

Rabu, 04 Februari 2026

Pasukan Penjajah Negara Zionis Menangkap Satpam Masjid Al-Aqsa

Foto Quds Press
Kota Al-Quds - Quds Press - 4 Februari 2026 11:29 AM


Polisi Penjajah negara Zionis tadi malam menangkap salah satu satpam Masjid Al-Aqsa di Al-Quds yang dijajah.


Pemerintah kota Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan Penjajah menangkap Abdul Rahman al-Sharif, seorang warga Palestina yang bekerja sebagai satpam Masjid Al-Aqsa, setelah menggerebek rumahnya di kota Al-Quds yang dijajah.


Polisi Penjajah dan pasukan intelijen tadi malam menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa, mencegah pergerakan di dalam halamannya, menahan satpam masjid, dan menyerbu serta menggeledah Aula Sholat Marwani.


Perlu dicatat bahwa Departemen Wakaf Islam di kota Al-Quds, yang berafiliasi kepada Kementerian Wakaf Yordania, bertanggung jawab untuk mengelola urusan masjid, termasuk menunjuk satpam dan membayar gaji mereka.


Sekitar 250 satpam menjaga Masjid Al-Aqsa dalam tiga shift: pagi, siang, dan malam. Keamanan di Masjid Al-Aqsa dan fasilitasnya dijaga sepanjang waktu, tujuh hari sepekan di sepanjang tahun.


—-

Diterjemahkan dari situs Quds Press “الاحتلال يعتقل أحد حراس المسجد الأقصى” terbit 4 Februari 2026 diakses 4Februari 2026 18:04 WIB https://qudspress.com/247349/



Share:

Prospek Dewan Perdamaian Trump: Antara Logika Kekuasaan dan Kerapuhan Struktural

Dr. Mohsen Saleh

Ahad, 1 Februari 2026, 12:25 


Akankah dewan perdamaian yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump berhasil mencapai tujuannya untuk membangun kembali Jalur Gaza, melucuti senjata perlawanan, dan memastikan penarikan negara Zionis dari daerah-daerah Jalur Gaza yang tersisa Berdasarkan visi rencana Trump, dalam waktu dua tahun yang dialokasikan bagi kerjanya di Gaza? Atau akankah dewan tersebut kehilangan momentumnya, terkikis substansinya, dan menjadi terlalu sibuk mengelola konflik daripada menyelesaikannya, dan memberikan pembenaran bagi berlanjutnya penjajahan daripada pengaturan yang efektif untuk penarikannya?


Akibatnya, dewan tersebut akan menjadi "lembaga yang lemah" kehilangan justifikasi atas keberadaannya, menunggu ledakan situasi yang baru.



Momentum Politik dan Logika Kekuasaan


"Dewan perdamaian" yang diumumkan oleh Trump memperoleh momentum politik dan praktisnya bukan karena menawarkan solusi yang adil, atau karena menetapkan jalan yang disepakati oleh Palestina, negara Zionis, Arab, dan komunitas internasional; tetapi banyak yang melihatnya sebagai langkah minimum untuk menghentikan perang genosida negara Zionis, menghentikan penghancuran sistematis, menghentikan pengusiran warga Gaza, dan membuka jalan untuk memberikan bantuan kepada rakyat Gaza dan untuk rekonstruksi.


Itu bukanlah proyek politik yang komprehensif, atau peta jalan untuk proses penyelesaian; namun, ia memperoleh momentum dari dukungan Amerika Serikat, kepribadian Trump, dan kemampuannya untuk menekan pihak negara Zionis, serta pihak negara-negara Arab, Islam, dan internasional.


Tidak ada yang ingin menghadapi Trump dan kemarahan serta dendamnya. Kekuatan Arab dan internasional bertaruh untuk memanfaatkan dorongan hatinya, kemudian menyerap momentumnya dan mencoba mengarahkan kembali aspek-aspek tertentu dari proses tersebut dari waktu ke waktu dan seiring munculnya detail-detail baru. Mereka berharap pendekatan yang lebih pragmatis dari Trump, yang secara alami lebih menyukai hasil cepat, dapat muncul terkait isu-isu seperti melucuti senjata perlawanan, memberikan bantuan dan rekonstruksi, membuka perbatasan, peran Otoritas Palestina, dan pengaturan penarikan negara Zionis.


Kriteria negara Zionis untuk "menghindari kerugian" dan mencegah kemarahan Amerika merupakan hal mendasar dalam meloloskan rencana tersebut dan mengamankan dukungan internasional melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 pada 17 Oktober 2025. Namun, rencana dengan dimensi jangka menengah atau panjang memiliki sedikit peluang untuk berhasil jika daya tarik intinya didasarkan pada penanganan isu-isu lapangan yang mendesak bukan memberikan solusi berkelanjutan.



Kesenjangan dan Kerentanan Struktural


Dewan Perdamaian tidak berdiri di atas landasan yang kokoh dan rentan terhadap ketidakstabilan dan keruntuhan seiring waktu dan dengan penerapan praktis. Kelemahan yang paling menonjol dapat diringkas sebagai berikut:


Masalah Definisi, Identitas, dan Peran: Dewan Perdamaian awalnya diumumkan sebagai badan administratif transisi internasional dan sebagai bagian dari rencana Amerika untuk mengakhiri perang di Gaza. Mandatnya adalah untuk menetapkan kerangka kerja umum untuk rekonstruksi Gaza, mengkoordinasikan pendanaan internasional, dan mengawasi komite teknokrat dan dewan eksekutif.


Namun, ketika Trump menandatangani piagam dewan tersebut di Davos, ia mendefinisikan ulang dan memperluasnya sebagai organisasi penyelesaian konflik internasional, tanpa secara eksplisit menyebut Gaza sekalipun. Ketentuan-ketentuannya memperkuat keyakinan banyak orang bahwa Trump bermaksud menggunakannya sebagai dewan pengganti bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga-lembaganya.


Perubahan ini telah memicu kekhawatiran dan kecemasan yang cukup besar, dan melemahkan kemungkinan untuk memasukkan mitra internasional yang berpengaruh seperti Rusia, Tiongkok, kekuatan-kekuatan besar Eropa, dan lainnya. Meskipun kekuatan-kekuatan global yang berpengaruh ini mungkin tidak secara aktif menentangnya, mereka akan mencoba untuk melemahkan efektivitasnya dan secara bertahap berupaya untuk menggagalkannya.


Dewan tersebut tidak hanya memberikan kepemimpinan tunggal kepada Amerika Serikat, tetapi juga memberdayakan Trump sendiri dengan otoritas luar biasa, membuat keputusan berdasarkan keinginannya dan menyerupai kediktatoran daripada badan internasional yang terhormat. Trump adalah orang yang mengundang, menarik, dan membatalkan keanggotaan; dialah otoritas tertinggi.


Dewan tersebut tidak memiliki legitimasi internasional. Dewan tersebut tidak berasal dari Perserikatan Bangsa-Bangsa atau lembaga internasional lainnya, maupun dari resolusi internasional yang mengikat.


Dewan tersebut tidak memiliki otoritas hukum dan konstitusi. Dewan tersebut tidak didasarkan pada resolusi internasional atau hukum internasional, dan tidak terikat oleh standar dan norma komunitas internasional, menjadikannya lahan subur bagi kesewenang-wenangan dan logika kekerasan.


Dewan tersebut mengabaikan standar kemanusiaan, etika, dan hukum, beralih dari penyelesaian konflik ke manajemen konflik.


Dewan tersebut tidak memiliki legitimasi Palestina. Dewan tersebut adalah dewan perwalian kolonial yang dipaksakan kepada Palestina. Dewan tersebut tidak mewakili mereka atau mengungkapkan kehendak mereka, dan keputusannya tidak mengikat mereka.


Komite teknokratik ini mengabaikan ratusan resolusi internasional yang menjamin hak rakyat Palestina untuk pemerintahan sendiri dan penentuan nasib sendiri, serta lembaga perwakilan Palestina seperti Organisasi Pembebasan Palestina. Komite teknokratik ini tidak lebih dari sekelompok pegawai administrasi dalam sistem kolonial boneka.


Lebih lanjut, komite ini memisahkan Jalur Gaza dari Tepi Barat, dari sistem politik dan rakyat Palestina, dan dari perwakilan Palestina yang bersatu. Komite ini secara sepihak mengendalikan Jalur Gaza dan pengaturan masa depannya, mengabaikan kehendak rakyat Palestina dan resolusi internasional yang mendukungnya.


Pihak Palestina tidak hadir dalam keanggotaan Dewan, yang berarti mereka tidak memiliki perwakilan atau peran nyata dalam pengambilan keputusan untuk pihak utama yang memperjuangkan masalah ini, pihak yang menjadi inti dari administrasi dan rekonstruksi Gaza.


Dewan (dalam kerangka rencana Trump) mengubah masalah Palestina dari masalah hak, keadilan, dan kebebasan menjadi masalah ekonomi dan keamanan, sehingga semua elemen konflik di masa depan tetap utuh.


Sementara korban dihukum, penjajah diberi penghargaan. Penarikan pasukan dari Jalur Gaza bergantung pada keinginan dan standar negara Zionis, dan tidak ada yang dapat mencegah penjajah untuk melanjutkan agresi, pembunuhan, penghancuran, dan pengepungan.


Sementara itu, entitas negara Zionis adalah anggota dewan perdamaian, menjadikan penjahat perang sebagai mitra dalam "perdamaian" dan dalam membentuk masa depan Gaza. Mereka yang menghancurkan Gaza dan menumpahkan darah rakyatnya menjadi mitra kunci dalam menentukan nasibnya.


Dengan demikian, pelaku kejahatan ditempatkan dalam kerangka solusi, terdakwa duduk di kursi hakim, dan konsep keadilan kehilangan maknanya. Netanyahu diubah citranya dan dibersihkan, sedangkan ia dikejar sebagai penjahat perang di Mahkamah Pidana Internasional.


Di sinilah letak bahaya "melegitimasi" penjajahan, yang melanjutkan penjajah dalam kerangka kesepakatan yang "disepakati" yang bukan memaksanya untuk menarik diri. Hal ini memungkinkan penjajah untuk mengubah yang "sementara" menjadi "permanen," sementara rakyat Palestina dan perlawanan mereka dihukum dan dilucuti senjatanya.


Masalah dalam negeri dan gejolak kebijakan luar negeri Trump tidak menciptakan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan "Dewan Perdamaian"-nya.


Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The New York Times pada 23 Januari 2026, David Brooks menunjuk setidaknya empat “Unravelings” pengrusakan yang berdampak pada Amerika dan dunia, dengan Trump sendiri sebagai pemicu utamanya:


Runtuhnya tatanan internasional.


Runtuhnya stabilitas dalam negeri Amerika.


Disintegrasi sistem demokrasi Amerika.


Runtuhnya akal Presiden Trump, seperti yang dikatakan Brooks.


Sejak menjabat sebagai presiden, Trump tanpa henti telah mengacaukan sistem dalam negeri Amerika dan memicu konflik di arena global, semuanya demi mengejar visi nasionalis populisnya.


Situasi ini menghalangi persyaratan minimum agar "Dewan Perdamaian" dapat beroperasi secara sistematis, stabil, dan efektif. Lebih lanjut, dalam waktu sekitar sembilan bulan, Trump akan menghadapi pemilihan paruh waktu, di mana jajak pendapat menunjukkan kemungkinan besar Partai Republiknya akan kehilangan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini semakin mempersulitnya untuk menegakkan visinya.



Prediksi Masa Depan


Tampaknya tidak akan ada yang menentang pembentukan Dewan Perdamaian oleh Trump. Banyak negara Arab, Islam, dan negara lain akan berpartisipasi, karena berbagai alasan, tetapi pada dasarnya, mereka tidak percaya pada kediktatoran Trump atau haknya untuk memimpin dunia dan membangun tatanan dunia baru.


Namun, pekerjaannya akan berlanjut dalam waktu dekat, karena kepentingan beberapa pihak bertemu. Hal ini memberi entitas negara Zionis penjajahan tanpa kewajiban, Amerika Serikat pengaruh tanpa biaya, dan banyak rezim Arab dan Islam kesempatan untuk meminggirkan perlawanan dan melemahkan "Islam politik." Hal ini juga memungkinkan banyak rezim di seluruh dunia untuk menghindari rasa malu di hadapan rakyat mereka sendiri.


Mungkin beberapa negara Arab dan Islam akan lebih memilih untuk berpartisipasi dalam upaya untuk mempengaruhi dan mengarahkan jalannya peristiwa dari dalam Dewan, dan untuk memanfaatkan ruang lingkup yang tersedia untuk memberi layanan kepada rakyat Palestina.


Di sisi lain, kondisi "penyerbuan" akan terus berlanjut, dengan pihak negara Zionis bertekad untuk mempertahankan hegemoni mereka, dan pihak Palestina bersikeras pada hak-hak politik mereka dan menolak untuk melucuti senjata perlawanan. Oleh karena itu, situasi akan berfluktuasi antara gelombang ketegangan dan terobosan relatif dalam masuknya bantuan dan material rekonstruksi, serta penataan ulang taktis bagi penjajahan.


Dari perspektif Palestina, akan ada penghindaran konfrontasi dengan Dewan Perdamaian dan mekanismenya, penerimaan pragmatis terhadap jasanya, mengizinkan komite teknokrat untuk beroperasi, upaya untuk mengaktifkan aktivisme akar rumput dan kerangka kerja serikat pekerja, menerapkan ritme lokal yang realistis pada struktur aksi, dan berupaya mengatasi konflik faksional.



Skenario Masa Depan untuk Dewan Perdamaian


Skenario Satu: Keberhasilan Formal yang Terbatas: Berdasarkan momentum Amerika dan kerja sama Arab dan Islam untuk mencoba mencapai keberhasilan dalam beberapa aspek, khususnya mengenai bantuan dan rekonstruksi; dan pembentukan lembaga administrasi dan keamanan;; sementara itu, lambatnya dan kemunduran dalam hal rekonstruksi, penarikan diri negara Zionis, dan pelucutan senjata perlawanan terus berlanjut.


Hal ini disertai dengan upaya dari kekuatan global seperti Tiongkok, Rusia, dan negara-negara Eropa yang berpengaruh untuk membatasi kerja Dewan hanya di Jalur Gaza.


Skenario Kedua: Erosi Bertahap: Karena hambatan dan kekurangan yang disebutkan pada poin-poin sebelumnya, meningkatnya krisis dan masalah internal serta eksternal yang dihadapi Trump, dan ketidakmampuannya untuk bergerak maju dengan visinya untuk Gaza dan kawasan tersebut; ditambah dengan upaya kekuatan internasional utama untuk melemahkan Dewan dan mengosongkannya dari isinya.


Hal ini disertai dengan peran yang saling bertentangan di antara para aktor, meningkatnya pemerasan dan penghambatan negara Zionis, pendanaan yang lemah, meningkatnya kemarahan dan frustrasi Palestina, kegagalan untuk melucuti senjata perlawanan, dan penurunan antusiasme Arab serta perhatian media.


Akibatnya, Dewan secara bertahap kehilangan daya tarik dan kepentingannya, akhirnya memudar. Dengan demikian, kemungkinan konfrontasi antara penjajah negara Zionis dan perlawanan meningkat.


Skenario ketiga: Pembagian peran dan kepentingan: Kepentingan Tiongkok dan Rusia selaras dengan kepentingan Trump dalam menghindari tatanan global dan sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, menciptakan lingkungan global yang didasarkan pada "kekuasaan dan kepentingan diri sendiri." Hal ini akan digunakan untuk mencapai kesepakatan, misalnya dengan Tiongkok yang menguasai Taiwan, Rusia mencapai tujuannya di Ukraina, dan Trump mengejar agendanya di Amerika, Greenland, dan Timur Tengah.


Hal ini mungkin disertai dengan taruhan Tiongkok dan Rusia bahwa keuntungan Trump kemungkinan besar bersifat sementara karena ketidakmampuannya untuk mempertahankan kebijakannya dan berbagai tantangan yang dihadapinya, sementara keuntungan Tiongkok dan Rusia akan lebih "kokoh" dan lebih mungkin bertahan lama.


Dalam hal ini, tekanan terhadap Gaza dan kawasan tersebut mungkin meningkat, mendorong mereka menuju proses penyelesaian dan "Kesepakatan Abraham." Namun, hal ini secara bersamaan akan memicu frustrasi dan kemarahan rakyat di kawasan tersebut dalam jangka menengah dan panjang.


Skenario ini, meskipun tidak mungkin, mengingatkan pada kondisi yang berlaku pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebelum Perang Dunia I, ketika sistem yang disebut "Keseimbangan Kekuatan Kolonial" menyebar, mendistribusikan negara-negara yang lebih lemah di antara kekuatan kolonial utama.


Bagaimanapun, Dewan Perdamaian mengandung banyak benih kegagalannya sendiri dan dapat membuka pintu bagi bentrokan kehendak baru, menggeser konflik ke fase baru dengan alat yang berbeda. Akibatnya, ia akan lebih mirip dengan dewan "manajemen krisis". Ia akan rentan terhadap keruntuhan dalam jangka menengah, bukan melalui kejatuhan dramatis, tetapi melalui disintegrasi dan erosi bertahap, kehilangan peran dan alasan keberadaannya.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “آفاق مجلس ترمب للسلام.. بين منطق القوة والهشاشة البنيوية” terbit 1 Februari 2026 diakses 4 Februari 2026 07:52 https://palinfo.com/news/2026/02/01/991135/


Share:

Selasa, 03 Februari 2026

Siapa yang Keluar, Masuk, dan yang Mengelola? Pertanyaan-pertanyaan di Hari Pertama Pembukaan Kembali Gerbang Perbatasan Rafah

Ghazi Kashmeem

Diterbitkan pada 2/2/2026 - Terakhir diperbarui: 09:34 (Waktu Mekah)


Pergerakan orang melalui gerbang perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir dilanjutkan hari  Senin, di kedua arah, dengan jumlah terbatas dan pembatasan ketat, setelah tentara negara Zionis mengumumkan selesainya koridor untuk memeriksa mereka yang memasuki Jalur Gaza.


Laporan ini menyoroti detail terpenting yang muncul mengenai prosedur yang berlaku di gerbang perbatasan tersebut.



Siapa yang Diizinkan Keluar?


Menurut Lembaga Penyiaran negara Zionis, hanya warga Gaza yang diizinkan masuk dan keluar pada tahap ini, dengan kapasitas awal sekitar 200 orang per hari. Perkiraan menunjukkan bahwa jumlah orang yang meninggalkan Jalur Gaza akan melebihi jumlah orang yang masuk, menurut perusahaan tersebut. negara Zionis akan menyetujui terlebih dahulu daftar orang-orang yang meninggalkan Gaza.


Pihak berwenang menjelaskan bahwa 150 warga Gaza akan meninggalkan Jalur Gaza setiap hari, dan misi Eropa - yang akan mengoperasikan gerbang perbatasan tersebut - akan mengirimkan daftar nama 150 warga Gaza yang ingin meninggalkan Jalur Gaza ke Mesir, termasuk tujuan akhir mereka, dan pihak Mesir berhak untuk menyetujui atau menolak permintaan tersebut.



Siapa yang diizinkan masuk?


Sementara itu, otoritas Mesir akan mengirimkan daftar harian berisi 50 warga Gaza yang ingin memasuki Jalur Gaza. Setelah pemeriksaan keamanan, mereka akan diizinkan masuk pada hari berikutnya.


Mereka yang meninggalkan Gaza selama perang akan dapat kembali setelah berkoordinasi dengan Mesir dan mendapat persetujuan keamanan negara Zionis. Misi Eropa akan melakukan penyaringan awal terhadap mereka yang akan melakukan perjalanan, diikuti oleh prosedur lebih lanjut di perbatasan yang dikendalikan militer.


Prosedur negara Zionis, setelah mendapat persetujuan sebelumnya, termasuk mengangkut yang melakukan perjalanan yang tiba dengan bus ke pos pemeriksaan negara Zionis. Di sana, akan dilakukan pemeriksaan keamanan, termasuk pengenalan wajah dan pemeriksaan fisik, untuk memastikan bahwa tidak ada peralatan atau material yang tidak sah yang dibawa masuk ke Jalur Gaza.


Wartawan asing tidak akan diizinkan masuk ke Gaza pada tahap ini.



Siapa yang akan mengelola penyeberangan tersebut?


Tentara negara Zionis mengumumkan bahwa gerbang perbatasan tersebut akan diberi nama "Regavim" dan akan dikelola oleh pasukan keamanan negara Zionis. Pasukan keamanan akan memeriksa identitas mereka yang datang dengan membandingkannya dengan daftar yang disetujui oleh dinas keamanan negara Zionis. Penyeberangan tersebut akan dioperasikan oleh staf Palestina di bawah pengawasan Eropa.


Komite teknokrat, yang dikenal sebagai Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, diperkirakan akan memasuki Jalur Gaza melalui penyeberangan tersebut dalam beberapa hari mendatang.


Tentara negara Zionis menyatakan bahwa gerbang perbatasan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kontrol keamanan di wilayah tersebut. Sementara itu, sumber-sumber negara Zionis mengatakan bahwa komite teknokrat akan memasuki Jalur Gaza melalui Rafah dalam beberapa hari.



Apa saja kritik utamanya?


Prosedur negara Zionis telah mengubah impian lebih dari 22.000 orang yang sakit dan terluka untuk meninggalkan Jalur Gaza menjadi mimpi buruk birokrasi dan keamanan yang diciptakan oleh penjajah.


Terdapat kesenjangan yang lebar antara kebutuhan medis mendesak para pasien dan korban luka di Gaza dan pembatasan keamanan yang diberlakukan negara Zionis dalam kerangka pembukaan kembali perbatasan.


Perkiraan negara Zionis membatasi pergerakan harian awal individu yang meninggalkan Gaza melalui perbatasan hanya sekitar 150 orang, sementara Ismail al-Thawabta, direktur Kantor Media Pemerintah di Gaza, menyatakan bahwa sekitar 22.000 pasien dan korban luka di Jalur Gaza sangat membutuhkan perawatan di luar negeri dan memiliki rujukan medis lengkap.


Mengingat situasi ini, dibutuhkan waktu 147 hari, atau sekitar lima bulan, bagi semua pasien dan korban luka tersebut untuk meninggalkan Gaza.


Lebih lanjut, pembukaan kembali perbatasan berfokus pada pergerakan individu tanpa mengatasi kebutuhan mendesak warga Jalur Gaza, yang menurut perkiraan, membutuhkan setidaknya 600 truk berisi bantuan setiap hari.


Juru bicara Ham4s, Hazem Qassem, menyatakan bahwa setiap halangan atau prasyarat negara Zionis terkait gerbang perbatasan Rafah akan merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata, dan menyerukan kepada para mediator dan negara-negara penjamin untuk memantau perilaku penjajah negara Zionis di gerbang perbatasan Rafah.


Sumber: Al Jazeera + Kantor-kantor Berita.


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “من يغادر ومن يدخل ومن يدير؟ أسئلة اليوم الأول لفتح معبر رفح” terbit 2 Februari 2026 diakses 3 Februari 2026 08:24  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/2/%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%BA%D8%A7%D8%AF%D8%B1-%D9%88%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%AF%D8%AE%D9%84-%D9%88%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%AF%D9%8A%D8%B1-%D8%A3%D8%B3%D8%A6%D9%84%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%88%D9%84



Share: