About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Rabu, 05 Februari 2025

Fitur Fase Baru Konflik Pasca Badai Al Aqsa

Fitur Fase Baru Konflik Pasca Badai Al Aqsa 

Oleh: Dr. Sa’id Al Haaj

Penulis dan peneliti Palestina


Aljazeera - 04 Februari 2025


Perang atas Gaza terakhir tidak berbeda dari perang-perang sebelumnya, tidak saja dari segi durasi dan kerugian manusia dan material secara langsung, tetapi juga dari sisi hasil keseluruhan, implikasinya secara dalam, dan dampak jangka panjang, yang menempatkan seluruh wilayah  di hadapan fase yang benar-benar berbeda, terutama berkaitan dengan konflik dengan penjajah.


Hasil


Laporan awal menunjukkan bahwa penjajah kehilangan lebih dari 900 perwira dan prajuritnya selama perang ini, ditambah ratusan orang yang mereka kategorikan sebagai warga sipil, yang merupakan jumlah tertinggi sejak perang tahun 1973. Selain kerusakan mendalam pada ekonomi yang membutuhkan beberapa paket bantuan keuangan langsung dan besar dari Amerika Serikat. Belum lagi gelombang migrasi balik, dan hilangnya rasa aman yang dirasakan banyak orang di "Israel", khususnya para pemukim Yahudi di Jalur Gaza dan wilayah utara.


Sebaliknya, perkiraan menunjukkan bahwa jumlah syuhada yang telah gugur di Jalur Gaza telah melampaui 60.000, sekitar 60% di antaranya adalah wanita dan anak-anak, dan sekitar 11.000 syuhada masih berada di bawah reruntuhan hingga saat ini.


Terkait infrastruktur, dapat dikatakan bahwa penjajah telah menghancurkan infrastruktur lebih dari separuh Jalur Gaza, terutama lembaga-lembaga pemerintahan dan sektor kesehatan, selain juga menghancurkan sebagian besar rumah baik secara keseluruhan maupun sebagian.


Terkait gerakan perlawanan, Hamas berkabung atas gugurnya banyak pemimpin politiknya pasca gencatan senjata, terutama kepala biro politiknya, Ismail Haniyeh, wakilnya, Saleh al-Arouri, dan kemudian  (sebelumnya pimpinan Hamas di Gaza) Yahya Sinwar, dan sebagian besar anggota biro politiknya di Gaza, di samping sejumlah pemimpinnya di Tepi Barat dan luar negeri, serta para pemimpin faksi Palestina lainnya.


Di sisi militer, juru bicara Brigade Al Qassam, Abu Ubaida, berduka cita atas syahidnya Kepala Staf, Muhammad al-Deif, wakilnya Marwan Issa, komandan tiga brigade, dan sejumlah kepala staf, selain perkiraan gugurnya sejumlah besar pemimpin menengah dan ratusan/ribuan pejuang di Brigade Qassam dan faksi-faksi perlawanan lainnya. 



Tantangan Besar


Meskipun Gaza mengalami kerugian dan pengorbanan, penjajah menghentikan agresinya tanpa meraih tujuan-tujuan luas yang dideklarasikannya, seperti melenyapkan perlawanan, mencegah bahaya yang ditimbulkannya, dan memulangkan tawanannya dengan operasi militer. Selain hasil-hasil strategis jangka panjang dari perang tersebut dan yang terkait dengan pencegahan, ketegasan, kemampuan, kohesi internal, dan citra "Israel" di hadapan dunia, serta keunggulannya di kawasan, dan hal-hal lain yang saya uraikan secara rinci dalam artikel sebelumnya.


Dengan mempertimbangkan semua hal ini, dan keluarnya gerakan perlawanan Palestina dari perang ini dengan tegak berdiri di atas dua kakinya, kokoh, kohesif dan terkendali, dan rakyat tetap teguh di tanah air mereka dan rencana pemindahan digagalkan meskipun pengorbanan yang tak terlukiskan, ada tantangan besar yang menanti Gaza dan gerakan perlawanan, dan perjuangan Palestina secara umum pada tahap mendatang.


Tantangan yang paling utama adalah kemungkinan penjajah kembali melakukan agresi setelah selesainya kesepakatan pertukaran tahanan, setelah tahap pertama atau setelah semua kesepakatan selesai, yang mana telah berulang kali diutarakan oleh pernyataan “Israel” dan pernyataan lainnya yang dikaitkan dengan presiden Amerika yang baru,  Di sinilah terletak urgensi pesan kekuatan dan persaingan yang dikirim oleh gerakan perlawanan dengan tanpa melebih-lebihkannya.


Pada tataran praktis, tantangan terpenting adalah operasi bantuan dan rekonstruksi, perawatan bagi yang terluka, cedera, dan sakit, dukungan bagi masyarakat, serta masalah kemanusiaan mendesak lainnya, yang mana sudah pasti “Israel” berusaha untuk memperlambat dan membatasinya. Dalam upaya untuk menjadikan lama penderitaan sebagai alat tekanan politik terhadap masyarakat Gaza dan gerakan perlawanannya, pada tahap saat ini dan dalam jangka panjang.


Ini adalah tantangan besar dan berbahaya yang tidak mampu diatasi oleh rakyat Palestina sendirian. Sebaliknya, tangan dunia Arab dan Islam harus bergabung dengan mereka secara praktis dan cepat, di samping melakukan tekanan yang diperlukan agar penjajah memenuhi kewajibannya.


Proyek pemindahan warga Gaza - sebagian maupun seluruhnya - ke luar negeri, yang berhasil digagalkan oleh warga Gaza dan gerakan perlawanan lebih dari satu kali selama perang. Keteguhan mereka khususnya di wilayah utara Gaza yang terkepung, dan kemudian adegan-adegan kepulangan mereka ke Gaza yang rumah-rumahnya telah hancur.


Namun, proyek tersebut belum sepenuhnya selesai, dan penjajah belum meninggalkannya sepenuhnya, sebagaimana yang ditegaskan kembali oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengindikasikan perlunya sejumlah negara, terutama Mesir dan Yordania, menampung warga masyarakat Gaza. Tak perlu dikatakan lagi bahwa upaya menghalangi operasi bantuan, dukungan dan rekonstruksi adalah bagian penting dari upaya menjadikan Jalur Gaza sebagai daerah yang tidak layak huni hingga menjadi salah motor bagi proyek pemindahan ini.


Secara politis, proyek-proyek penjajah yang didukung Barat terkait “hari esok” (pasca perang) Gaza, atau lainnya, belum berakhir. Namun proyek normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab sekitar dan regional khususnya perlu mendapat perhatian khusus. Operasi Badai Al Aqsa telah membekukan sementara proses normalisasi, tetapi pemerintah AS berupaya mengaktifkannya sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif.


Inti dari tujuan-tujuan di atas dan lebih banyak lagi adalah upaya-upaya berkelanjutan untuk melemahkan, mengkriminalisasi, dan meminggirkan perlawanan, menghilangkan kegunaan dan dukungannya di tengah rakyat, dan mencoba untuk membangun narasi yang menjadikannya - bukan penjajah - yang bertanggung jawab atas kerugian, pengorbanan, dan penderitaan rakyat Gaza.


Tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun perjuangan Palestina telah memperoleh banyak kemajuan dalam jangka panjang, namun melanjutkan perlawanan dengan berbagai bentuk dan metode baru yang berbeda, beraneka ragam, dan menggaungkannya di jalan-jalan Gaza pada khususnya, akan menjadi tantangan yang sangat besar.



Fase Baru


Di garis depan implikasi mendalam dari operasi 7 Oktober 2023 dan apa yang terjadi setelahnya, kemudian gencatan senjata dan pertukaran tahanan, adalah bahwa “Israel” telah kehilangan semua pilar strategi keamanannya, mulai dari pencegahan, peringatan dini, pertahanan, ketegasan, dan lain-lain. Akibatnya, mitos-mitos yang dulu dipromosikan bahwa tak seorangpun terbayang untuk menyerangnya  apalagi sampai mengalahkannya kini telah runtuh.


Sebaliknya, perlawanan - dan pengasuhnya dan rakyatnya - sanggup memulihkan kerugian mereka, mencari ganti, dan membangun kembali di kemudian hari. Namun, tidak dapat disangkal bahwa Gaza membutuhkan istirahat jangka panjang untuk menyembuhkan luka-lukanya, mengatasi krisisnya dan membangun kembali dirinya, terutama karena setiap konfrontasi di masa depan mungkin dimulai langsung dari titik di mana konfrontasi saat ini berakhir, seperti yang telah terbiasa penjajah lakukan dan didorong oleh dukungan dan bantuan Barat dan diamnya bangsa Arab dan regional.


Tetapi ini tidak berarti berakhirnya konfrontasi, berakhirnya masalah, dan tidak pula tercapainya tujuan perlawanan, dalam arti yang lebih luas dan umum, secara geografis dan juga strategis.


Perang ini telah menunjukkan wajah buruk sebenarnya dari penjajahan dan apa yang disembunyikannya di kawasan secara keseluruhan, bukan hanya Gaza. Yang paling depan adalah genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang, yang seharusnya cukup bagi berbagai rezim di kawasan  untuk meninjau sikap mereka terhadapnya dan hubungan mereka dengannya saat ini dan di masa mendatang.


Saat ini, “Israel”, meskipun mengalami kegagalan militer, keamanan dan politik di Gaza, kembali berupaya mewujudkan proyek “Israel Raya” dan bahkan mungkin lebih jauh lagi, melalui proyek penjajahan dan pemukiman di Tepi Barat, Lebanon selatan dan Suriah, serta menyerang Iran, Yaman dan Irak, serta proyek pemindahan warga Palestina ke Mesir dan Yordania, yang tampaknya didukung oleh Trump.


Di sisi lain, meskipun rezim belum sepenuhnya merasakan perubahan yang ditimbulkan Badai Al Aqsa, dampaknya terhadap elit dan rakyat tidak dapat diremehkan. Keteguhan Gaza dalam agresi tahun 2008 dan keberanian perlawanannya, bersama dengan sikap resmi Arab terhadapnya, merupakan salah satu motivasi terjadinya revolusi pada tahun 2010-2011. Perang ini tidak sebanding dengan agresi sebelumnya, keteguhan perlawanan, atau pengkhianatan resmi.


Salah satu konsekuensi paling penting dari Badai Al Aqsa adalah masalah kesadaran; Semua orang menyadari realitas "Israel" dan apa yang disembunyikannya kepada seluruh kawasan, bukan hanya terhadap rakyat Palestina kapan pun ia mampu, dan sekarang, khususnya dengan Trump, dia menyangka akan mampu membuat berbagai perubahan radikal.


Pada akhirnya, dan dalam jangka menengah dan panjang, semua pihak akan berbenturan dengan penjajah, baik karena pilihan atau dengan paksaan, mengikuti waktu mereka sendiri atau waktu penjajah. Sesungguhnya fakta, peristiwa dan celah yang terungkap akibat perang berkontribusi untuk membangun kesadaran baru di seluruh wilayah dan di semua tingkatan, sebagaimana rencana yang dikeluarkan oleh "Israel" meramalkan perubahan radikal untuk seluruh wilayah, yang mengharuskan setiap orang untuk mengemban tanggung jawabnya masing-masing.


Penjajah telah melakukan kejahatan genosida dalam makna seutuhnya terhadap Gaza, rakyatnya, batu-batunya, pohon-pohonnya, dan di semua tingkatan, tetapi itu tidak dapat mematahkan tekad rakyat Palestina. Perlawanan menang, idenya mengakar, dan modelnya menjadi mantap. Hal ini dilihat dan dipahami oleh rakyat Palestina, dan juga oleh “orang-orang Israel,” dan semua orang di kawasan ini dan di dunia.


Perang ini penuh dengan banyak pelajaran yang mendalam, beberapa di antaranya telah terungkap dan yang lainnya akan terungkap seiring berjalannya waktu, berkontribusi pada interaksi dengan data dan fakta lain untuk menetapkan dampak jangka panjang Badai Al Aqsa terhadap negara penjajah, isu Palestina, dan seluruh kawasan secara sama.


Kesimpulannya, Israel tidak mampu menggusur rakyat (Gaza) atau melenyapkan perlawanan, dan dengan demikian gagal membumihanguskan masalah Palestina. Ini membawa Israel dan seluruh kawasan ke dalam fase baru dan berbeda dari konflik dengannya, yang ciri-ciri, poros dan dinamikanya akan menjadi semakin jelas seiring berjalannya waktu dan terungkapnya fakta-fakta.


Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini belum tentu mencerminkan sikap editorial Al Jazeera Network.(KHO)


Sumber:

https://www.aljazeera.net/opinions/2025/2/4/%D9%85%D9%84%D8%A7%D9%85%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D8%AD%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D8%AF%D9%8A%D8%AF%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%B1%D8%A7%D8%B9-%D8%A8%D8%B9%D8%AF


Share:

Kamis, 25 April 2024

Mengkaji Ulang Strategi AS di Timur Tengah: Kebangkitan Iran dan Bayang-bayang Ancaman Tiongkok

Oleh Hamid Bahrami

Dalam kompleksitas geopolitik global, serangan rudal baru-baru ini oleh Iran terhadap sasaran Israel menandai perubahan penting dalam paradigma keamanan Timur Tengah. Peristiwa ini, bukannya sebagai tindakan pencegahan, namun justru menandakan adanya keseimbangan keamanan baru di kawasan, yang sangat condong ke arah Iran. Pergeseran ini memerlukan penilaian ulang yang mendalam terhadap kebijakan luar negeri AS, khususnya mengingat tantangan strategis yang lebih luas yang ditimbulkan oleh meningkatnya kekuatan Tiongkok.


Serangan rudal Iran pada tanggal 14 April bukan sekadar serangan episodik di kawasan tersebut. Dia mewakili demonstrasi yang diperhitungkan atas peningkatan kemampuan militer Iran dan kesediaannya untuk secara langsung menghadapi kepentingan Israel. Tindakan ini secara efektif telah membatalkan kelayakan strategis koridor IMEC, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk membangun zona ekonomi dan keamanan yang dapat melawan pengaruh Iran di samping ambisi regional Rusia dan Tiongkok. Dengan kegagalan koridor tersebut, Amerika berada di persimpangan jalan dan memerlukan pendekatan baru terhadap stabilitas regional dan prioritas strategis globalnya.


Teori politik internasional realis John Mearsheimer menawarkan sebuah lensa untuk melihat perkembangan ini. Menurut Mearsheimer, negara-negara pada dasarnya termotivasi oleh upaya mengejar kekuasaan di dunia yang anarkis, di mana negara-negara besar mau tidak mau bersaing untuk menjadi kekuatan yang dominan. AS, dalam pandangan Mearsheimer, harus fokus secara strategis untuk melawan pengaruh Tiongkok, pesaing AS yang paling tangguh di panggung global. Namun, keterlibatan Amerika di Timur Tengah, khususnya dukungan membabi buta terhadap aksi Israel di bawah Perdana Menteri Netanyahu, menunjukkan kesalahan dalam mengalokasikan sumber daya dan fokus strategis secara signifikan.


Veto pemerintahan Biden baru-baru ini terhadap resolusi PBB yang mengakui status kenegaraan Palestina semakin menggambarkan kesalahan langkah ini. Tindakan ini, meskipun dimaksudkan untuk mendukung sekutunya, secara paradoks telah memperkuat posisi Iran di dunia Arab dan mengikis posisi AS di antara sekutu-sekutu tradisional Arabnya. Dengan terlihat memihak Israel tanpa syarat, AS melemahkan kredibilitas dan pengaruhnya di kawasan, dan secara tidak sengaja juga menguntungkan Rusia dan Tiongkok.


Sementara itu, Tiongkok telah memanfaatkan gangguan ini untuk memperkuat posisi ekonomi dan militernya secara global. Investasi strategisnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serta perannya dalam menengahi pembicaraan antara Arab Saudi dan Iran, menunjukkan visi jangka panjang yang bertujuan untuk memposisikan diri sebagai kekuatan penstabil dan alternatif yang layak terhadap hegemoni AS. Saat AS melebarkan tenaganya ke dalam permasalahan di Timur Tengah, Tiongkok secara diam-diam meningkatkan pengaruh globalnya, khususnya di kawasan yang penting bagi kepentingan strategis AS, seperti Laut Cina Selatan dan Indo-Pasifik.


Mengingat realitas baru di lapangan, AS harus mengubah strateginya tidak hanya untuk mengatasi dampak langsung dari meningkatnya kekuatan Iran tetapi juga untuk memfokuskan kembali pada kawasan Indo-Pasifik, di mana tantangan nyata terhadap supremasi AS dari Tiongkok semakin besar. Pembentukan negara Palestina yang merdeka muncul sebagai komponen penting dari strategi ini. Langkah tersebut akan memiliki beberapa fungsi strategis: menenangkan sekutu AS di dunia Arab, melemahkan landasan ideologis kelompok seperti Hamas, dan mengurangi pengaruh Iran terhadap proksi regionalnya.


Selain itu, mengadvokasi kedaulatan Palestina sejalan dengan norma-norma internasional yang lebih luas dan dapat membantu memulihkan kredibilitas AS dalam hal hak asasi manusia dan resolusi konflik. Hal ini juga akan memberikan sinyal kepada sekutu dan musuh bahwa AS mampu mengadaptasi strateginya dalam menanggapi perubahan dinamika geopolitik, sehingga memperkuat posisinya dalam menegosiasikan perjanjian internasional lainnya, khususnya dalam kaitannya untuk membendung ambisi Tiongkok.


Oleh karena itu, AS harus mengkalibrasi ulang kebijakan luar negerinya agar tidak hanya mampu menavigasi kompleksitas di Timur Tengah namun juga mampu mengatasi tantangan sistemik yang ditimbulkan oleh Tiongkok. Hal ini mencakup penarikan diri dari komitmen militer yang berlebihan dan, sebaliknya, memanfaatkan alat diplomatik dan ekonomi untuk menstabilkan wilayah-wilayah yang bergejolak. Pada saat yang sama, AS perlu memperkuat aliansi dan kemitraan di Indo-Pasifik, berinvestasi pada teknologi baru, dan meningkatkan kemampuan militernya untuk secara langsung melawan ekspansionisme Tiongkok.


Mengingat sikap kebijakan luar negeri Iran yang masih ambivalen, Amerika Serikat memiliki peluang penting untuk melibatkan Teheran dengan cara-cara yang berpotensi menyelaraskan kembali afiliasi regional dan aliansi globalnya. Menyadari perbedaan dan potensi fleksibilitas dalam hubungan luar negeri Iran, AS harus menjajaki semua jalur diplomatik untuk membujuk Iran agar menjauh dari pengaruh Tiongkok dan Rusia. Hal ini akan melibatkan pemanfaatan kebutuhan ekonomi Iran, masalah keamanan dan kebanggaan historis Iran terhadap kedaulatan dan pengaruh regionalnya, menghadirkan alternatif-alternatif yang lebih selaras dengan kepentingan strategis jangka panjang Iran dibandingkan yang mungkin ditawarkan oleh kemitraannya saat ini dengan Beijing dan Moskow.


Amerika berada pada momen penting di mana mereka harus memilih antara melanjutkan keterlibatannya yang memakan banyak biaya di medan pertempuran yang sia-sia seperti Timur Tengah dan Ukraina atau mengalihkan fokusnya untuk melawan manuver strategis Tiongkok. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan hasil regional, namun juga kontur dinamika kekuatan global di masa depan. Jalan ke depan memerlukan pengakuan yang jernih terhadap realitas geopolitik baru dan kemauan yang berani untuk mengupayakan stabilitas strategis jangka panjang dibandingkan keuntungan taktis jangka pendek.


Namun demikian, AS tampaknya memilih untuk terus melakukan upaya yang memakan banyak biaya, sebagaimana dibuktikan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap paket bantuan sebesar $95 miliar. Pendanaan ini terutama mendukung Ukraina dan Israel, dibandingkan mengadopsi strategi untuk membendung Tiongkok.


(Diterbitkan Middle East Monitor tanggal 22 April 2024, jam 16:00, referensi:

https://www.middleeastmonitor.com/20240422-reassessing-us-strategy-in-the-middle-east-the-rise-of-iran-and-the-overshadowed-threat-of-china/ , diterjemahkan menggunakan google translator dan di-proofreading oleh #Khalidmu)


Share:

Sabtu, 20 April 2024

Sebab Perbedaan Dalam Menafsirkan Respon Iran

Oleh: Muhammad Yasin Najjar

Masyarakat Arab dan dunia Islam, setelah 14 April 2024, berbeda pandangan dalam menilai respon Iran terhadap serangan ke konsulat Iran di Damaskus oleh Israel pada awal April dan pembunuhan para pemimpin ring satu Garda Revolusi, karena hal ini dianggap sebagai serangan langsung terhadap teritorial Iran sesuai dengan Pasal 51 hukum internasional, menganggapnya sebagai wilayah kekuasaan Iran.


Menyusul berakhirnya operasi yang diumumkan oleh Garda Revolusi Iran - yang memiliki dampak terbatas menurut standar militer dan hanya terjadi ledakan terbatas di Pangkalan Udara Navatem, Iran mengatakan: Pesawat F-35 diluncurkan dari sana - ada analisis yang  berbeda terkait respon ini, yang kemudian mengerucut jadi pertempuran sengit yang tidak dapat dinegosiasikan dalam asumsi masing-masing kelompok: satu kelompok menganggapnya sebagai induk dari semua pertempuran dan kemenangan besar bagi bangsa Arab dan dunia Islam, yang perlu didukung dan diandalkan dengan segenap kekuatan yang ada. Kelompok lain menganggapnya sebagai drama gagal yang berujung dan membuat citra buruk. Sementara hanya sedikit yang mencoba membaca kejadian tersebut secara politis, hati-hati dan obyektif, berikut memahami berbagai dimensi strategisnya terhadap kawasan Timur Tengah. 


Perbedaan ini memiliki beberapa penyebab yang obyektif, yang harus dianalisa secara cermat dan diketahui motif serta latar belakangnya agar kita dan generasi mendatang dapat mengambil manfaat dari peristiwa tersebut, apalagi umat ini masih saja terus mengulangi kesalahannya tanpa mengambil pelajaran dari masa lalu. Jadi apakah penyebab  dan motif yang berada di belakangnya tersebut?


Alasan Perbedaan Analisis


Pertama: Arena internasional yang kompleks yang sedang dialami dunia: 

pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina, ketegangan antara Amerika dan China, dan agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap Gaza membuat proses analisis menjadi rumit, terutama karena kita berada di ambang terbentuknya sebuah tatanan dunia yang baru di mana negara-negara adidaya berusaha mengkonsolidasikan pengaruhnya ke dalamnya untuk menuju abad berikutnya.


Kedua: Kedekatan dan jarak geografis dari Iran: 

Posisi sektarian Iran terhadap beberapa negara tetangga dan kejahatan yang dilakukan oleh milisinya di (Irak - Yaman - Suriah - Lebanon) memainkan peran yang berpengaruh dalam meyakinkan mereka, karena masyarakat di negara-negara tersebut sangat menderita akibat perbuatan milisi itu. dan kekuatan-kekuatan yang terkait dengannya serta hasil buruk yang diciptakannya. Oleh karena itu, meskipun kita melihat analisis-analisis yang datang dari negara-negara bagian barat Arab yang jauh dari apa yang terjadi di timur Arab serta penderitaannya dan tidak memiliki interaksi langsung dengan permasalahan ini, mereka justru membesar-besarkan dampak akan respond Iran itu di kancah dunia Arab dan Islam.


Ketiga: Agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap Gaza: 

Hal ini membuat sebagian orang menganggapnya sebagai respons yang tidak memadai atas kejahatan genosida yang masih terus berlangsung, dan dia tidak berkaitan dengan respon itu. Sementara, pihak lain memandang ini sebagai respon penting yang memiliki landasan dari pengeboman konsulaaat, di tengah-tengah kondisi dunia yang bisu atas genosida yng terjadi, dan lemahnya peran bangsa Arab dalam berbagai peristiwa di Gaza.


Keempat: Tidak menelan korban tokoh-tokoh Israel – atau lokasi penting –

Yang seimbang atau sejajar dengan tokoh-tokoh pimpinan yang dibunuh di Damaskus di dalam dan di luar konsulat.


Kelima: Perbandingan dengan isu-isu serupa dan standar ganda: 

Para analis mencoba menarik sejarah melalui apa yang terjadi di Irak sebelumnya pada masa Presiden Saddam Hussein, dan membandingkannya dengan interaksi mereka saat ini dengan Iran, dimana pada awal abad ke-21, Amerika dan Israel menuding Irak - secara salah dan - terbukti fitnah- memiliki senjata pemusnah massal, sehingga Amerika dan negara-negara yang bersekutu dengannya melakukan penyerangan dan menjajah Irak. Sementara para pengamat memandang bahwa penanganan Amerika terhadap kasus senjata nuklir Iran yang sebenarnya dilakukan dengan diplomasi maksimal, jauh dari ancaman militer, serta pengeboman “Reaktor Tammuz” yang dilakukan Israel pada tahun 1981, di luar hukum internasional, meskipun Perancis dulu yang berjasa membangunnya.


Keenam: Kelemahan Realitas Bangsa Arab: Terus berlanjutnya kelemahan Arab di tingkat regional dan global seiring dengan semakin besarnya peran Iran di tingkat regional telah membuat semua orang, terutama para ideolog, menggunakan kebijakan analisis emosional untuk menjadi alasan pembenaran atas  realitas mereka yang menyakitkan ini.


Ketujuh: Kelemahan Sistem Politik Bangsa Arab: Dunia Arab mengalami ketiadaan dinamisme dalam berpolitik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya partai politik yang efektif dan dapat diandalkan yang dapat memainkan peran utama publik dalam meningkatkan kesadaran, menjelaskan isu-isu ambigu dan membimbing masyarakat untuk melakukan apa yang menjadi kepentingan negara dan bangsanya.


Kedelapan: Minimnya Pusat-pusat Penelitian Arab yang Profesional:

Dimana pusat-pusat penelitian akan mampu menarik para pemikir dan peneliti khusus yang menghasilkan penelitian yang solid dan bereputasi baik.


Kesembilan: Lemahnya Kredibilitas Sebagian Besar Media Arab; 

Ini terjadi karena terkait lemahnya ikatan dengan sistem dan lembaga keamanan, yang membuat khalayak luas beralih ke situs jejaring sosial dan kalangan selebriti untuk memahami peristiwa tersebut.

Kesepuluh: Pernyataan mantan Presiden AS dan kandidat saat ini Donald Trump, 

yang sebelumnya berbicara tentang sandiwara yang dimainkan bersama Iran setelah kasus pembunuhan Qassem Soleimani.


Analisis ilmiah politik terhadap suatu peristiwa memerlukan perangkat ilmiah, yang paling penting adalah memahami hakikat hubungan internasional, pengetahuan sejarah, pentingnya geografi, dan penguasaan informasi yang akurat, jauh dari meremehkan atau melebih-lebihkan dan menggelitik emosi dan perasaan untuk sekedar menghasilkan banyak like atau suka dan jumlah tayang dari viewer. 


Hari-hari telah membuktikan bahwa para penguasa Iran memiliki proyek ekspansionis yang pragmatis, mahir dalam strategi “menyerang dan melarikan diri”, dan menawarkan berbagai konsesi taktis untuk memperoleh keuntungan strategis. Mereka mampu memanfaatkan alat mereka, terutama sektarianisme, sementara kolektif proyek bangsa Arab terus-menerus menderita dan mengalami kemunduran. 


Akankah peristiwa saat ini menjadi titik awal bagi umat ini untuk bangkit melalui bangkitnya para elit dan partai-partai besar nasional agar tidak bergantung pada proyek-proyek eksternal, baik regional maupun internasional, dan juga pandai dalam memasarkan kepentingan mereka dan melakukan pemboikotan bersama yang lain untuk memaksimalkan perannya dalam tatanan dunia di masa depan?


(Diterbitkan dalam bahasa Arab di blog oleh Aljazeera, tgl. 194/2024 Referensi: https://bit.ly/4aGnL8B diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share:

Rabu, 17 April 2024

Siapakah yang Berperang di Sudan?

Berikut adalah beberapa fakta tentang tentara Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang telah saling berperang selama setahun, menghancurkan negara mereka, memicu kembali pembunuhan yang menargetkan etnis di wilayah Darfur, dan membuat jutaan orang mengungsi.


Tentara dan RSF merupakan mitra yang tidak nyaman dalam penggulingan Presiden Omar Hassan Al-Bashir pada tahun 2019 dan penggulingan pemerintahan yang dipimpin sipil pada tahun 2021. Namun, mereka bentrok saat bersaing untuk melindungi kepentingan mereka dalam transisi politik yang direncanakan.


Angkatan bersenjata Sudan dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan. Mereka beruntung di atas kertas pada awal perang karena jumlah pasukan, senjata berat, dan angkatan udara yang lebih banyak.


Sebagai sebuah institusi, angkatan bersenjata telah berada atau dekat dengan pusat kekuasaan di Sudan selama beberapa dekade. Burhan lahir sekitar tahun 1960 di sebuah desa di utara Khartoum dan menghabiskan seluruh karirnya di pusat institusi tersebut.


Namun, angkatan bersenjata sering kali mengalihdayakan pertempuran kepada kelompok-kelompok sekutu di berbagai wilayah di Sudan – termasuk milisi yang berkembang menjadi RSF di Darfur – sambil membangun kepentingan ekonomi yang luas.


Di bawah pemerintahan Bashir, Burhan bertugas di Darfur, tempat pemerintah berjuang untuk memadamkan pemberontakan yang telah menyebabkan sekitar dua juta orang mengungsi dan menyebabkan 300.000 orang tewas pada tahun 2008. Ia juga memperluas hubungan di Teluk, membantu memasok tentara ke koalisi militer pimpinan Arab Saudi. berperang di Yaman sejak 2015.


Pada hari-hari pertama perang, tentara kalah bersaing dengan unit RSF yang lebih mobile di seluruh ibu kota, dan kemudian di Darfur dan negara bagian Al-Gezira di selatan Khartoum. Awal tahun ini, kelompok ini mendapatkan kembali pengaruhnya, khususnya di Omdurman, di seberang Sungai Nil dari Khartoum, didukung oleh drone buatan Iran, menurut sumber. Kelompok ini juga mendapat dukungan dari kekuatan asing, termasuk negara tetangga Mesir, dan sebagian besar menguasai Sudan utara dan timur termasuk Pelabuhan Sudan di Laut Merah.


Warga menuduh tentara membunuh warga sipil melalui penembakan dan serangan udara tanpa pandang bulu di beberapa bagian Khartoum dan wilayah lain yang dikuasai RSF. Tentara sebagian besar membantah tuduhan tersebut.


Milisi RSF dipimpin oleh orang kaya yang pernah menjadi pemimpin milisi, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti. Para analis memperkirakan bahwa RSF berjumlah sekitar 100.000 tentara sebelum perang dimulai, dengan pangkalan dan penempatan di seluruh negeri.


Menurut Muhammad Saad, mantan asistennya, dia pertama kali mengangkat senjata setelah sekelompok pria menyerang konvoi dagangnya, membunuh sekitar 60 orang dari keluarga besarnya dan mencuri ternaknya.


Keterampilan bertarungnya terasah ketika para loyalis dan laskar lainnya bersekutu dengan pemerintah untuk membantu menumpas pemberontakan di Darfur dalam kampanye yang meningkat pada tahun 2003. Pasukan milisi ini kemudian dikenal sebagai Janjaweed, sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang berarti “setan penunggang kuda” yang mencerminkan reputasi mereka yang menakutkan. Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional menuduh pejabat pemerintah dan pemimpin Janjaweed – tanpa menyebut nama Hemedti – melakukan genosida dan kekejaman lainnya.


Seiring waktu, RSF berkembang dan pada tahun 2017 mendapat pengakuan resmi sebagai kekuatan militer, dengan dukungan Bashir. Bersamaan dengan itu, kepentingan bisnis Hemedti telah berkembang di bidang pertambangan emas, infrastruktur, peternakan dan bidang lainnya.


Pasukannya telah terbukti menjadi musuh yang cerdik bagi tentara, merebut beberapa pangkalannya dan menyebar ke daerah pemukiman di mana kendaraan lapis baja berat dan taktik militer konvensional kehilangan keunggulannya.


Warga negara Sudan, kelompok hak asasi manusia dan pakar PBB menuduh RSF dan milisi sekutunya melakukan serangan yang menargetkan etnis di Darfur, tuduhan yang dibantah oleh RSF.


Sekutu terpenting Hemedti adalah UEA, kata sumber, analis, dan diplomat Sudan. UEA membantah laporan bahwa mereka telah melakukan pengiriman senjata ke RSF.


(Ditulis Reuters dan diterbitkan oleh Middle East Monitor tgl 15 April 2024, jam 03:00 pm, sumber: https://www.middleeastmonitor.com/20240415-who-is-fighting-in-sudan/ diterjemahkan menggunakan google translate dan di-proofreading oleh #Khalidmu))



Share:

Selasa, 16 April 2024

Timur Tengah Telah Berubah Total

Oleh: Muhammad ‘Aesh

Serangan Iran terhadap Israel merupakan konfrontasi militer langsung pertama antara Teheran dan Tel Aviv, meskipun faktanya telah terjadi perang dingin antara kedua pihak sejak kemenangan Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979. Oleh karena itu, dimensi strategis dari serangan ini adalah: konfrontasi terbaru ini jauh lebih penting daripada hasil langsung-otomatisnya, karena konfrontasi ini merupakan perkembangan yang sangat penting di kawasan Timur Tengah.


Dimensi strategis dari konfrontasi terbaru ini jauh lebih penting dibandingkan hasil langsung-otomatisnya


Apa yang terjadi saat dini hari Ahad, 14 April, adalah bahwa Iran secara langsung menembakkan lebih dari 300 rudal dari wilayahnya, mulai dari drone hingga rudal yang ditujukan ke Israel. pada tanggal 1 April, sebuah gedung yang terhubung dengan kedutaan Korps Garda Revolusi Iran di Damaskus, gedung yang tampaknya menjadi tempat pertemuan tingkat tinggi, dibom mengakibatkan terbunuhnya seorang komandan senior Failaq Al-Quds yang berafiliasi ke Garda Revolusi, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi, serta tujuh perwira Garda Revolusi Iran lainnya.


Di masa lalu, Iran menanggapi serangan Israel secara tidak langsung, dan kadang-kadang ada pembicaraan tentang serangan elektronik yang mengganggu beberapa layanan di Israel, atau menimbulkan kerugian finansial dan ekonomi bagi penjajah, namun kali ini Teheran mengumumkan bahwa “era kesabaran strategis telah berakhir.” yang berarti bahwa mereka menganggap penargetan kedutaan besarnya di Damaskus merupakan tindakan yang melewati garis merah, dan bahwa respons terhadap serangan ini tidak boleh sesuai dengan aturan yang biasa.


Faktanya, hukum diplomatik internasional menganggap kedutaan besar di seluruh belahan dunia adalah bagian dari wilayah negara yang memiliki kedutaan tersebut, oleh karena itu kedutaan memiliki ketentuan khusus, yang berarti bahwa pemboman Israel terhadap kedutaan Iran di Damaskus bukanlah menargetkan wilayah Suriah, melainkan - menurut prinsip aturan ini berarti menargetkan langsung wilayah Iran. Oleh karena itu Iran memutuskan untuk merespons dengan cara yang sama, dan ini menjelaskan pengumuman mereka bahwa apa yang mereka lakukan konsisten dengan hukum internasional, dan berdasarkan prinsip hak mempertahankan diri yang disetujui oleh hukum dan undang-undang internasional.


Respons Iran terhadap serangan Israel, terlepas dari konsekuensi langsung dan taktisnya, menunjukkan bahwa kawasan ini sedang menyaksikan transformasi strategis yang sangat penting. Berikut ini adalah ciri-ciri paling menonjol dari transformasi ini dan makna dari respons Iran:



Israel mulai sekarang akan menanggung seribu tanggung jawab atas setiap serangan terhadap Iran


Pertama: Ada pesan jelas Iran kepada Israel dan dunia: meningkatkan tingkat respons terhadap setiap serangan yang menargetkan kepentingan Iran. Ini berarti bahwa Israel akan mempertimbangkan segala hal mulai sekarang atas setiap serangan yang menargetkan Iran. Bukti menunjukkan bahwa Israel memahami pesan ini, bahwa dewan perang Israel selama dua hari terus membahas kemungkinan tanggapan terhadap pemboman Iran, dan terjadi perbedaan pendapat yang tajam, sementara keputusan seperti ini memerlukan waktu berjam-jam, dan mungkin beberapa menit, untuk dibuat di Israel, yang berarti bahwa cara berhitung Israel juga mengalami perubahan, setelah Teheran mampu membalas dengan serangan militer langsung.



Arah serangan militer ke Israel berarti Iran mampu melancarkan petualangan militer ke negara mana pun di kawasan


Kedua: Respon dengan cara demikian akan mengalihkan pengaruh Iran di kawasan ke tingkat lain yang berbeda, karena mengarahkan serangan militer langsung terhadap Israel berarti bahwa Iran memiliki kemampuan untuk melancarkan petualangan militer dengan negara manapun di kawasan, yang berarti bahwa hitung-hitungan seluruh kawasan telah berubah, dan bahwa setiap ancaman terhadap kepentingan Iran dari negara mana pun yang bersekutu dengan Israel bisa berarti bahwa negara itu bisa terkena serangan Iran dengan satu atau lain cara.


Ketiga: Konfrontasi antara Iran dan Israel telah memperjelas perpecahan di kawasan ini antara poros yang mendukung Iran dan menolak proyek Amerika, dan poros lain yang mendukung Israel dan selaras dengan proyek Zionis.


Hal ini tampak jelas dalam pernyataan Israel yang menyebutkan bahwa tiga negara Barat dan dua negara Arab ikut serta dalam menghadapi serangan Iran, sementara beberapa drone dan rudal diluncurkan dari Lebanon, Irak, dan Yaman, yang berarti konfrontasi tersebut terjadi antara beberapa kubu dan tidak terbatas pada Iran dan Israel.


Konfrontasi ini sekali lagi menunjukkan kemunduran Amerika di Timur Tengah


Keempat: Konfrontasi ini sekali lagi mengungkap kemunduran Amerika di kawasan Timur Tengah, dan menurunnya peran Washington, yang menegaskan bahwa kawasan saat ini tidak seperti pada akhir abad lalu, ketika Irak harus membayar mahal atas tindakannya membom Israel dengan rudal “jelajah”, dan kemunduran Amerika ini dibaca dengan baik oleh Iran dan dibelakangnya Rusia  dan bergerak berdasarkan basisnya.


Yang menegaskan kemunduran ini adalah bahwa Amerika Serikat menyampaikan kepada Tel Aviv segera setelah serangan itu bahwa pihaknya tidak akan turut serta dalam operasi kontra-militer Israel, dan pada saat yang sama memperingatkan Iran agar tidak menyerang pangkalan dan kepentingan Amerika di Timur Tengah. Pesannya jelas, yaitu bahwa Washington tidak akan berperang atas nama Israel dan tidak akan melakukan pertempuran apa pun demi kepentingan Israel, dan tidak menjadikan Amerika sebagai sasaran Iran berarti menjaga Amerika Serikat tetap netral dalam konflik ini.


Perlu dicatat bahwa tidak diragukan lagi banyak pertanyaan yang muncul di kalangan masyarakat, dan seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang logis, termasuk alasan pemberitahuan waktu serangan sebelum dilakukan. Dan alasan mengapa serangan tersebut tidak menimbulkan korban manusia yang berarti. Jawabannya ada dalam dua hal: yang pertama, Iran telah memberi tahu negara-negara tetangga dan sekutunya terlebih dahulu untuk berkoordinasi, memastikan sikap, dan menjamin bahwa situasi tidak lepas kendali. Kedua Iran sangat ingin – jelas sekali – untuk tidak terlibat dalam perang, dan membatasi operasinya hanya pada respons militer terbatas. Penting juga untuk menunjukkan bahwa alasan utama mengapa Israel tidak menderita kerugian besar adalah karena rudal dan drone dicegat ratusan kilometer sebelum mereka tiba, sehingga sangat sedikit dari mereka yang mencapai target yang dituju.


(Diterbitkan www.arabi21.com, tgl 16 April 2024 05:15 am,  Referensi: https://bit.ly/4aNnUXy diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share: