About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Selasa, 26 Maret 2024

Rafah dan Serangan Terhadap Sistem Distribusi Bantuan Kemanusiaan

Oleh Mahmoud Al-Rantisi


Tidak ada yang menyangka bahwa pada akhir tahun 2023, Rafah akan menerima lebih dari 1.500.000 pengungsi dari kota-kota lain di Jalur Gaza. Akibat pemboman biadab yang dilakukan tentara penjajah Israel terhadap tempat tinggal, rumah sakit, dan infrastruktur di seluruh kota-kota Jalur Gaza.


Pada tahun 2003, saya mengikuti kuliah di Fakultas Teknik Universitas Islam Gaza tentang rekayasa jaringan air di Jalur Gaza. Tugas saya adalah memprediksi jumlah penduduk masa depan kota Rafah pasca 20 tahun, berdasarkan mana jaringan air virtual akan dirancang. Saat itu, populasi Rafah sekitar 150 ribu orang, dan meskipun terdapat perbedaan prediksi di kalangan mahasiswa tentang jumlah populasi di masa depan; Karena ada lebih dari satu metode, sehingga jumlahnya berkisar antara 200.000 dan 300.000. Meskipun perhitungan semacam ini memiliki beberapa catatan terhadap jumlah imigrasi dan pengungsian, selain tingkat pertambahan populasi alami. Skenario kehadiran satu juta 500 ribu warga Palestina di Rafah tidak pernah terfikir dalam benak siapapun.


Pada awal agresi, melalui pembantaian terhadap warga sipil dan mengizinkan hanya sedikit saja bantuan yang bisa lolos ke selatan Jalur Gaza dengan janji-janji palsu tentang adanya tempat-tempat yang aman, penjajah mencoba mendorong warga masyarakat menuju Rafah. Untuk kemudian melaksanakan rencana pengungsian, yang mengalami kegagalan karena berbagai alasan, yang terpenting dikarenakan penolakan rakyat Palestina untuk dicerabut dari akarnya, meskipun telah menyaksikan banyak kematian dan kelaparan. Oleh karena itu, penjajah, yang tampaknya bingung mengenai masa depan Gaza pasca agresi, terpaksa mengambil tindakan dengan menyasar seluruh eksistensi kedaulatan dan elemen-elemen eksistensi pemerintahan lokal di Jalur Gaza, khususnya di tempat yang memiliki jumlah penduduk terbesar, yaitu provinsi Rafah.


Tekanan Demografis


Kota Rafah terletak di ujung selatan Jalur Gaza, berbatasan dengan Mesir, dan berjarak 35 kilometer dari pusat Kota Gaza. Luas Rafah sekitar 63 kilometer persegi, sekitar 20% dari luas Jalur Gaza.  Kepadatan populasi Rafah, sebelum agresi Israel baru-baru ini, dianggap salah satu yang tertinggi di dunia. Dulunya sekitar 5.000 orang per kilometer persegi, dan kini meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah warga Palestina di dalamnya mencapai satu setengah juta, sehingga menjadi 27 ribu orang per kilometer persegi.


Mengingat bahwa ada banyak lokasi yang berdekatan dengan perbatasan timur Rafah yang dikuasai Israel, dan adanya banyak lokasi di mana para pengungsi tidak boleh ada di sana,   maka populasi terkonsentrasi di dalam sekitar 30 kilometer persegi Rafah, dan dengan demikian hal ini meningkatkan kepadatan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 50 ribu orang per kilometer persegi, yang merupakan angka tertinggi di dunia, ditambah persentase yang mendekatinya, seperti persentase pengungsi Rohingya di kamp pengungsian di Bangladesh pada tahun 2017 yang mencapai 40 ribu orang per kilometer persegi, tapi mereka tidak berada dalam kondisi perang dan pengepungan, seperti yang terjadi di Rafah saat ini.


Jalur Gaza dianggap sebagai salah satu wilayah geografis yang paling padat penduduknya di dunia sebelum agresi, dan sekarang kepadatan ini meningkat sepuluh kali lipat, kita berbicara tentang situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang akan melumpuhkan kerja aparat administrasi atau pemerintahan, bahkan jika dalam keadaan tidak terjadi pengeboman dan situasi keamanan serius, disebabkan agresi, pengepungan dan kelaparan.


Berbagai kota di dunia telah menyaksikan kurangnya keamanan dan merebaknya kekerasan, seperti Kinshasa dan Rio de Janeiro. Kota-kota itu gagal menyediakan layanan karena peningkatan populasi, tanpa adanya perang genosida atau pengepungan. Jadi bagaimana jika faktor-faktor itu ditambahkan? Sebagai contoh, kami dapat menunjukkan di sini bahwa jumlah pegawai di kota Rafah hanya 200 orang, yang memberikan layanan kepada satu setengah juta pengungsi.


Namun, kelompok di Rafah juga menunjukkan ketabahan, kesabaran dan daya tahan yang belum pernah terjadi sebelumnya meskipun ada tekanan demografi. Banyak mekanisme juga diusulkan untuk mengendalikan situasi keamanan, kesehatan dan ekonomi, mendistribusikan bantuan kemanusiaan secara adil, dan mengelola pusat-pusat penampungan serta tim emergency dan kebersihan. 


Sejak awal agresi, Pemerintah Kota Rafah telah melaksanakan ribuan tugas untuk menyelamatkan dan mengevakuasi korban luka, menguburkan para syuhada, membuka kembali jalan-jalan, membersihkan puing-puing, dan mengatur pusat-pusat pengungsian. Institusi keamanan dan ekonomi juga telah bekerja mengatur situasi, sebagaimana polisi  telah mengamankan truk-truk bantuan dan menghadapi kekacauan dan kejahatan.


Kekacauan Yang Diciptakan Terhadap Distribusi Bantuan


Telah diketahui bahwa pemerintah Israel telah menggunakan ancaman invasi darat ke Rafah. Untuk memberikan tekanan pada proses perundingan kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif, setidaknya untuk saat ini, dan bahkan dengan mempertimbangkan skenario operasi darat, ada jalur paralel berbahaya yang akan dilakukan oleh Israel yang bergantung pada pembentukan kondisi kacau di Rafah dengan menyasar seluruh elemen stabilitas, ketertiban, dan semua eksistensi berdaulat. 


Awalnya, pemerintah Israel hanya mengizinkan truk makanan dan bahan bantuan dalam jumlah terbatas untuk masuk melalui gerbang perbatasan Rafah. Truk-truk ini bahkan tidak memenuhi kebutuhan minimum banyak orang yang berkumpul di kota Rafah. Menurut Wali Kota Rafah, jumlah bantuan yang masuk hanya mencukupi sekitar 10% warga masyarakat.


Oleh karena itu, melalui jumlah bantuan yang terbatas dan diperhitungkan ini, pemerintah Penjajah ingin menciptakan perpecahan antara masyarakat dan kelompok perlawanan dengan memberikan tekanan pada dukungan rakyat, sehubungan dengan kebutuhan dasar.


Selain itu, pendistribusian bantuan yang terbatas ini tidak akan menjangkau seluruh penduduk, dan penjajah mengandalkan ini untuk menimbulkan ketidakpuasan dan membuka jalan bagi kekacauan dan mengendalikan bantuan dengan kekerasan. Inilah yang terjadi dalam kondisi yang dibatasi, ditangani oleh polisi di Rafah, yang tetap melanjutkan pekerjaan mereka meskipun ada bahaya besar yang mengancamnya, dimana polisi bekerja melindungi barisan perlawanan, menjaga Front Dalam Negeri, menghadapi perselisihan keamanan dan ekonomi, memerangi kejahatan, mengejar tersangka, mengamankan truk bantuan, mengayomi proses distribusi dengan cara yang tepat, dan menetapkan harga jual.


Polisi dan Komite-komite Bantuan Dibidik


Untuk menyukseskan skenario kekacauan, kesemrawutan keamanan, dan gangguan keamanan dalam negeri, Penjajah Israel berupaya membidik polisi sipil di kota Rafah. Puluhan komandan dan anggota polisi pemerintah di Gaza telah gugur sebagai syuhada di kota  Rafah, dengan cara diserang mobil pribadi atau mobil dinasnya, saat sedang menjalankan misi mengamankan bantuan kemanusiaan.


Kehadiran polisi di Rafah merupakan semacam kontrol administratif pemerintahan Gaza, hal yang sangat membuat resah pemerintah Penjajah Israel, dan menunjukkan kegagalan rencananya terkait dengan tujuan perang atau yang disebut dengan “Hari Esok.”


Mengingat pentingnya menjaga situasi keamanan, muncul bentuk baru yang membantu muncul sehubungan dengan polisi yang dibidik secara sistematis, yaitu Komite Perlindungan Rakyat, yaitu komite terorganisir yang hadir di pasar, mengatur antrian panjang di depan toko roti, pertokoan, dan bank, serta mencegah pedagang memanfaatkan situasi dan meninggikan harga. Mungkin tujuan yang paling penting dan komprehensif adalah mencegah tercapainya tujuan Penjajah untuk menyebarkan kekacauan di antara populasi masyarakat yang besar ini.


Jelas sudah bahwa rencana Penjajah menyerang situasi keamanan dan kedaulatan di Gaza akan gagal, apalagi jika kita memperhitungkan bahwa setelah semua kehancuran di wilayah Jalur Gaza utara, situasi keamanan dan kepolisian kembali mengendalikan situasi pasca penarikan diri pasukan Penjajah. Mereka jelas telah sukses mengamankan bantuan di Jalur Gaza bagian utara beberapa hari yang lalu, dan karena alasan ini Penjajah kembali membidik sejumlah kader kepolisian dan keamanan  yang jelas menggambarkan kebijakan yang difollow up oleh Penjajah.


Pembunuhan Faiq Al- #Mabhouh – Direktur Polisi Gaza dan bertanggung jawab untuk berkoordinasi dengan suku-suku dan UNRWA untuk mengamankan bantuan di Gaza – merupakan perpanjangan dari serangkaian langkah Israel untuk membidik elemen kedaulatan Hamas di Jalur Gaza.


Dalam dimensi lain, tindakan ini bertujuan untuk menghancurkan segala manifestasi kendali pemerintahan dan administratif. Selain polisi yang bertanggung jawab atas keamanan, penjajah terus membidik masyarakat dan lembaga-lembaga lokal yang bertanggung jawab mengatur situasi bantuan kemanusiaan dan urusan terkait bantuan. Bahkan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi (UNRWA) juga tidak luput dari serangan, bahkan menjadi incaran utama.  Karena tujuan penjajah melalui penyerangan ini adalah untuk melenyapkan struktur administratif terorganisir yang dapat mengatur situasi di Palestina dengan cara yang tidak sesuai dengan agendanya. Penjajah hingga kini telah menewaskan lebih dari 130 orang yang bekerja di bidang bantuan dan kemanusiaan.


Dalam konteks ini, pada 13 Maret 2024, pasukan penjajah telah menyerang pusat distribusi makanan PBB di kota Rafah, menewaskan 4 orang, termasuk dua pegawai UNRWA dan mereka yang bertanggung jawab atas komite darurat dan melayani masyarakat di kota Rafah.


Front Dalam Negeri


Negara Penjajah menyadari sulitnya melenyapkan aparat militer gerakan Hamas, dan oleh karena itu mereka melakukan balas dendam kepada pengayom rakyat yang mendukung perlawanan. Kemudian tidak cukup hanya membunuh lebih dari 31 ribu warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, namun mereka masih berupaya untuk membongkar segala bentuk kedaulatan, pemerintahan, dan stabilitas, serta struktur administratif apa pun yang berupaya menjaga keamanan dan mengelola kondisi bantuan kemanusiaan. Mereka berasumsi ini akan berhasil dalam membuka jalan bagi visi masa depannya bagi Jalur Gaza, itulah sebabnya mereka akan tetap fokus menyebarkan kekacauan di Rafah. Hal ini memerlukan perhatian penuh terhadap semua rencananya, dan fleksibilitas dalam mengembangkan cara-cara untuk menghadapinya.


Perilaku yang berupaya menghancurkan seluruh komponen pemerintahan dan administrasi di Gaza ini selalu merupakan bagian dari strategi Israel yang didasarkan pada tidak mengakui keberadaan rakyat Palestina, dan tidak mau mengakui keberadaan elemen eksistensi yang ada. 


Oleh karena itu, kecil kemungkinan negara penjajah akan mundur dari kebijakan menghancurkan komponen-komponen entitas Palestina, meskipun sejauh ini belum membuahkan hasil. Namun, pada tingkat yang sama, Palestina akan selalu mampu mengembangkan bentuk-bentuk baru yang dapat menjaga prioritas kebangsaan, dan mempertahankan bentuk administrasi nasional meskipun menghadapi jenis genosida yang paling buruk di zaman ini. 


(Diterbitkan Aljazeera 25 Maret 2024 update jam 08:41 Waktu Mekah, Referensi: https://bit.ly/3vxUbCD diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share:

Senin, 25 Maret 2024

Krisis Laut Merah dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Global

Oleh Malik Muhammad Waleed Shehzad

Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa perkembangan regional dan global, seperti perang di Gaza dan serangan Houthi di Laut Merah, telah mengubah iklim geopolitik di Timur Tengah. Setelah keluarnya AS dan masuknya Tiongkok ke kawasan Timur Tengah, diikuti dengan pemulihan hubungan Saudi-Iran pada Maret 2023, para analis Timur Tengah berharap bahwa kawasan tersebut telah memulai perjalanan menuju perdamaian dengan hasil yang optimistis. perekonomian global. Namun, terlepas dari semua hal tersebut, salah satu isu yang terus-menerus menjadi beban bagi sebagian besar pemimpin regional adalah perjuangan Palestina, yang berdampak pada papan catur regional di Timur Tengah. Salah satu contohnya adalah terganggunya rantai pasokan global melalui Laut Merah.


Menyusul Kesepakatan Abraham pada tahun 2020, mantan Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa normalisasi bersejarah antara Israel dan negara-negara Arab akan mengakhiri “perpecahan dan konflik selama beberapa dekade”. Namun, situasi saat ini di Gaza dan Timur Tengah menunjukkan hal sebaliknya. Anggapan bodoh ini sebagian telah memicu konflik Hamas-Israel, yang diikuti oleh kekejaman tidak manusiawi yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF), yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 30.000 warga Palestina yang tidak bersalah, terutama anak-anak dan perempuan, per 9 Maret 2024. Terlepas dari sejarah dan sifat konfliknya, situasi saat ini mempunyai potensi tantangan dalam kaitannya dengan ekspansi regional. Dalam hal ini, indikator laten mulai terlihat di Lebanon Selatan dan Laut Merah.


Pada tanggal 2 Januari 2024, dugaan serangan pesawat tak berawak yang didukung Israel di Beirut, Lebanon, menewaskan pejabat senior Hamas Saleh Al-Arouri. Demikian pula di Laut Merah, AS mengumumkan koalisi angkatan laut yang terdiri dari 20 negara untuk menjaga perairan laut pada 19 Desember 2023. Pengumuman tersebut muncul sebagai tanggapan atas serangan Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal kargo tujuan Israel dalam upaya untuk menunjukkan Solidaritas terhadap Palestina dan mendorong sekutu Barat Israel menekan Tel Aviv untuk mengakhiri kekejaman terhadap Palestina. Menyusul insiden tersebut, Iran mengirim kapal perang Alborz ke Laut Merah melalui selat strategis Bab El-Mandeb untuk melakukan tugas anti-pembajakan dan keselamatan rute pelayaran di perairan terbuka, yang telah dilakukan kapal-kapal tersebut sejak tahun 2009. Kehadiran angkatan laut Iran di perairan terbuka Laut Merah telah meningkatkan kepercayaan diri Houthi karena mereka tidak mundur dari tindakan mereka. Sebaliknya, mereka telah menetapkan AS dan Inggris sebagai “negara teroris”, sehingga menambah lapisan lain pada situasi regional yang sudah rumit.


Laut Merah menghubungkan Bab El-Mandeb di Teluk Aden dengan Terusan Suez dan mengelola hampir sepertiga kapal kargo kontainer global. Bab El-Mandeb terletak di antara Afrika dan Semenanjung Arab, dimana hampir 13 persen volume perdagangan internasional terjadi dan hampir 30 persen lalu lintas peti kemas dunia melintas. Namun, setelah pecahnya konflik, tingkat lalu lintas laut global dari Laut Merah telah menurun, dengan penurunan perdagangan global sebesar 1,3 persen pada bulan Desember 2023.


Penurunan arus lalu lintas laut yang signifikan ini telah memaksa raksasa kontainer untuk menangguhkan atau mengubah rute pelayaran mereka dan berlayar di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan – rute perdagangan yang relatif lebih panjang, mahal, dan memakan waktu. Tujuh dari sepuluh perusahaan pelayaran terbesar telah menangguhkan rute Laut Merah untuk kegiatan transportasi mereka, termasuk COSCO milik negara Tiongkok – perusahaan pelayaran terbesar keempat yang berkontribusi 11 persen terhadap perdagangan global.


Selain situasi yang berkembang di Laut Merah, waktu terjadinya konflik juga mengkhawatirkan. Saat ini, Terusan Panama – badan air produksi sepanjang 82 kilometer yang menghubungkan Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik – sedang menghadapi kekeringan ekstrim dan, oleh karena itu, membatasi pilihan yang dapat diambil oleh perusahaan dagang. Demikian pula, dengan alasan meningkatnya ancaman serangan terhadap kapal dagang, berbagai perusahaan asuransi kelautan telah memperluas wilayah perairan paling berisiko di Laut Merah, meningkatkan asuransi risiko perang untuk pengiriman sebesar sepuluh kali lipat dari 0,7 persen nilai kapal menjadi 1 persen. Selain itu, tampaknya tidak ada indikasi penurunan eskalasi di wilayah tersebut pada saat ini, sehingga arus lalu lintas laut akan dialihkan dalam jangka waktu yang tidak dapat diperkirakan. Sebelumnya, Maersk, pengangkut barang laut terbesar kedua, khawatir pengalihan dari rute Laut Merah dapat berlanjut hingga paruh kedua tahun 2024.


Sayangnya, situasi ini dapat berkontribusi terhadap inflasi global – terutama di sektor energi – yang memberikan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap konsumen lokal – terutama masyarakat Eropa. Hampir 40 persen perdagangan antara Asia dan Eropa terjadi melalui Laut Merah, dengan hampir 12 persen minyak dan 8 persen gas alam cair (LNG) melewati Terusan Suez. Sejak serangan yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi, harga minyak mentah telah meningkat sebesar 4 persen, diikuti oleh peningkatan tarif pengangkutan kapal kontainer dari $1.500 menjadi $4.000 – khususnya karena adanya tambahan jarak 6.500 kilometer dan tambahan $1 juta untuk biaya bahan bakar. Meskipun tarif peti kemas tidak terlalu dekat dengan tarif pada masa COVID-19, misalnya. $14,000, ancaman dampak konflik regional dapat mewujudkan lonjakan ini. Hal ini dapat meningkatkan harga produk-produk untuk keperluan dalam negeri di Eropa, yang sudah mahal mengingat perang Rusia-Ukraina dan sanksi yang dikenakan terhadap Moskow.


Demikian pula, banyak perusahaan AS dan Eropa yang menghentikan operasinya karena gangguan pada rantai pasokan global. Sebelumnya, Tesla – sebuah perusahaan otomotif multinasional – menghentikan sementara produksi kendaraan Model-Y di Grünheide, Jerman, dari 29 Januari hingga 11 Februari, karena tidak tersedianya suku cadang manufaktur. Namun, produksi dilanjutkan kembali setelah tanggal jatuh tempo karena rantai pasokan menjadi “utuh”.


Selain menghambat kelancaran arus lalu lintas laut dari Laut Merah, situasi tersebut juga membalikkan upaya yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk menangani krisis kemanusiaan yang muncul di Yaman akibat perang saudara yang telah berlangsung selama sepuluh tahun. Pada tanggal 18 Januari 2024, AS mendesain ulang Houthi sebagai “Kelompok Teroris Global yang Ditunjuk Khusus” (SDGT) – hampir tiga tahun setelah mengeluarkan kelompok tersebut dari kategori yang sama untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan di Yaman. Langkah ini dilakukan pada saat Yaman sedang mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk di kawasan, dengan hampir 21,6 juta orang – lebih dari separuh total penduduk – membutuhkan bantuan kemanusiaan. Tampaknya, alih-alih menekan Houthi atas tindakan mereka, tindakan AS tersebut justru akan memperburuk situasi di Yaman karena rancangan tersebut akan menciptakan hambatan bagi masuknya bantuan kemanusiaan ke negara tersebut. Sebelumnya, mengutip situasi yang berkembang, Kementerian Luar Negeri Yaman di Sanaa memperingatkan warga AS dan Inggris yang bekerja di badan bantuan dan kemanusiaan PBB untuk mengungsi dari negara tersebut.


Meski demikian, bagi sektor perkeretaapian Asia dan Eropa, situasi di Laut Merah merupakan peluang untuk menghidupkan kembali jalur kereta api, khususnya Rusia, yang terbengkalai akibat sanksi Barat terhadap Moskow. Sebelumnya, DHL Jerman, sebuah perusahaan logistik dan pelayaran, mengalami peningkatan signifikan dalam permintaan layanan kereta api Rusia sebesar 40 persen. RailGate Europe juga mencatat peningkatan permintaan transportasi sebesar 25 hingga 35 persen, karena hanya dibutuhkan waktu 14 hingga 25 hari untuk mengirimkan kargo dari Tiongkok ke berbagai wilayah di Eropa.


Dinamika geopolitik yang kompleks di Timur Tengah menggarisbawahi rapuhnya stabilitas regional dan dampaknya yang luas terhadap perekonomian global. Pentingnya kerja sama internasional dan upaya diplomasi bersama untuk meredakan ketegangan, memfasilitasi bantuan kemanusiaan, dan meningkatkan stabilitas tidak dapat dilebih-lebihkan dalam kondisi yang bergejolak ini. Hanya melalui dialog berkelanjutan, keterlibatan konstruktif, dan kerja sama multilateral, kawasan ini dapat bergerak menuju masa depan yang lebih damai dan sejahtera yang tidak hanya menguntungkan negara-negara Timur Tengah namun juga komunitas global secara keseluruhan.


Sumber: Middle East Monitor, 23 Maret 2024 jam 3:33 pm, referensi: 

https://www.middleeastmonitor.com/20240323-the-red-sea-crisis-and-its-impact-on-the-global-economy/)
Share:

Minggu, 24 Maret 2024

“Al-Zumrah”: Novel Sang Kekasih dari dalam Terowongan Gaza

Oleh: Dr. Sulaiman Saleh


Ammar Al-Zaben adalah novelis lain yang terlahir dari penjara Israel dan perjuangan gerakan perlawanan. Diletakkan senjatanya, dan dia memilih berjuang menggunakan penanya. Dari dalam penjara, dia menulis dan membocorkan novel heroiknya yang pahlawannya adalah karakter nyata, di mana dia membawa kita ke dunia mereka, momen kala berada di medan juang dan di dalam terali besi. Termasuk dirinya adalah pahlawan dari dalam novel itu.

Pena Al-Zaben akan membuat anda merasakan peristiwa sebagaimana pemiliknya mengalaminya, dan terbayang diri anda sedang bersama para pahlawan dalam aksi-aksinya. Imajinasi anda akan terbang liar membayangkan tempat-tempat, terbang melintasi jalan-jalan kota Al-Quds, pegunungan Nablus, dan desa-desa Palestina, merenungi solusi bagi dilemanya, dan membangkitkan rasa perjuangan, keteguhan, dan kesabaran.

Yang mengejutkan adalah bahwa Al-Zaben adalah seorang tahanan Qassami yang lebih banyak hidup di dalam penjara daripada di luar. Dia mengenal jeruji besi sejak masih kecil pada tahun 1994. Kala itu dia masih berusia 16 tahun, saat dijatuhi hukuman dua setengah tahun. Pasca keluar dari penjara, dia mendirikan sel “ٍٍSyuhada demi Tahanan”, yang melakukan operasi penangkapan tentara Israel untuk tujuan ditukar dengan tahanan Palestina.

Dengan demikian, dia ditangkap lagi pada tahun 1997, dan pengadilan Israel menjatuhkan terhadapnya hukuman penjara seumur hidup sebanyak 27 kali, atau setara dengan 2.700 tahun, dengan tuduhan bertanggung jawab atas operasi yang menewaskan 27 tentara Israel, dan melukai 323 lainnya. Dia menjadi salah satu orang dengan hukuman terlama di penjara Israel, dan surat kabar Israel menilai penangkapannya merupakan kesuksesan besar bagi dinas keamanan.

“Kami melihat mereka di terowongan sebagai orang-orang yang saling bertukar cerita, dan kami melihat mereka bagai malaikat yang jiwa dan hatinya melekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya, setelah penantian panjang, tibalah saatnya setelah sejumlah besar tentara berkumpul di atas reruntuhan rumah Imad, Alaa berbisik kepada mereka: Bersiaplah dan bertawakallah kepada Allah.”

Adapun dia, menyambut keputusan tersebut dengan senyum sinis, sambil mengangkat Al-Qur'an dan tanda kemenangannya, dan melanjutkan memasuki penjara gelapnya dengan kepala terangkat tinggi.

Dengan demikian, usianya kini telah melampaui 45 tahun, hanya pernah hidup kurang lebih 17 tahun di luar penjara. Dari dalam penjara dia memperoleh ijazah SMA, kemudian gelar sarjana ilmu politik, kemudian gelar master ilmu politik dari Universitas Terbuka Al-Quds, setelah itu melanjutkan program doktor.

Dalam penangkapannya yang kedua, ia mengalami penyiksaan berat yang berlangsung selama 3 bulan selama interogasi di Penjara Al-Maskobiyya. Ia dilarang menerima kunjungan keluarganya selama 8 tahun, sampai ibunya menjadi syahid saat ikut mogok makan sebagai bentuk solidaritas terhadap para tahanan pada bulan Agustus 2004, lalu disusul ayahnya. Baru kemudian istri dan dua putrinya, Bashaer dan Bisan, diizinkan untuk mengunjunginya pada tahun 2005.


Kala Seorang Pejuang Menulis

Ammar Al-Zaben mengatakan: Jenis tulisan sastra yang paling sulit adalah kala menjadi pelaku dalam peristiwa. Anda menuliskan apa yang menjadi bagian dari dirimu, dan inilah yang mendorongnya untuk berulang kali menunda proyek penulisannya selama sekitar dua puluh tahun, tetapi kala dia akhirnya berbicara, memang dia pantas untuk didengarkan.

Pengalaman dan kesengsaraan memberinya kualitas yang oleh para kritikus disebut: “keaslian.” Karya-karya yang dihadirkannya “memanusiakan peristiwa itu.” Sang pejuang bukan lagi seorang individu yang identitas dan perasaannya tidak diketahui, berlalu begitu saja seperti angka-angka di buletin berita, atau kita baca kata-kata terakhirnya yang direkam sebelum dia menemui ajal.. Kita berada di dalam novel ini dan kita hidup bersamanya sepanjang hidupnya, merasakan harapannya, frustrasinya, momen naik turunnya, dan kemenangan atau kesyahidannya.

Al-Zaben telah menulis 6 novel sejauh ini, semuanya berdasarkan peristiwa nyata: yaitu: “Kala Pohon Jeruk Berbunga”, “Di Belakang Garis”, “Revolusi Ebal”, “Angelica”, “Al-Zumroh”, ​​​​dan “Jalan Menuju Yafa.”


Bersama "Al-Zumroh"

Kita berhenti di sini pada novel “Al-Zumroh,” dan mungkin kita akan berhenti pada karya-karya lain di artikel-artikel mendatang. Al-Zaben menulis novel ini di penjara Zionis Ramon setelah ia memperoleh detailnya dari dua pahlawannya yang ditangkap. Peristiwanya terjadi saat agresi Israel ke Gaza pada tahun 2014. Novel ini menggambarkan sisi kemanusiaan para pahlawan ini, dan seperti biasanya Al-Zaben, menuliskan karyanya, dengan segala nama, tanggal, tempat, dan peristiwa, yang asli nyata dari A sampai Z, dan dia menghadiahkan novelnya untuk para elit Al-Qassam di Gaza, “di bawah buminya, di atasnya, dan di kedalaman lautnya.”

Ketika anda membaca novel ini sekarang, anda akan dibawa ke masa Gaza, yang dulunya adalah kota yang berisi rumah-rumah, sebelum kebrutalan Zionis menghancurkannya dalam perang genosida terakhir, yang tidak lagi menyisakan batu tersusun di atas batu lainnya.

Peristiwanya dimulai di Perkampungan Al-Amal di Khan Yunis, dimana tinggal pahlawan pertama Ibrahim. Roket-roket menghujani perkampungan ini bak sambaran petir, menghancurkan kenangan, dan membakar peta tanah air yang tergantung di dinding rumah “Umm Khaled” (ibunya). Ini tidak lain hanyalah kelanjutan dari kisah penderitaan yang dialami sang ibu sejak masa Nakba. Ketika geng Zionis mengusirnya dari Bersyeba, dan dia masih menanti untuk pulang kembali ke rumahnya, yang kuncinya masih saja dia simpan.

Adapun istri Ibrahim, adalah sosok wanita Palestina yang mengharapkan suaminya pergi keluar untuk melawan penjajah dan tidak kembali, namun dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa “Tuhan Yang Maha Kuasa akan menjaga untuknya laki-laki yang baik dan seorang kekasih yang luar biasa ini. Jadi tidak adil jika kisah-kisah indah ini mati di Gaza, dan penjajah tidak ditakdirkan untuk menang.” Karenanya kita harus, dengan keyakinan kita, melawan kepalsuan mereka, sehingga kehidupan ini akan menang dan cinta akan tetap ada... Dan Saya benci  suami saya meninggalkan saya meskipun saya tahu bahwa kebaikan terletak pada mengusir penjajah dari kami dan tanah kami.”

Warga Gaza: Orang Mati Syahid Yang Hidup

Hubungan antara warga Gaza dan listrik terlihat jelas dalam novel ini, karena di sana terdapat “kemewahan yang tidak pantas bagi para pengungsi, pekerja, dan pemimpi... Jika Anda seorang warga Gaza, anda pasti membenci listrik, sehingga anda tidak terbiasa dengan ketersediaannya selama beberapa jam. Setiap dua tahun terjadi perang, korban pertamanya adalah gardu listrik yang sudah tua.”

Pesawat Israel menembakkan rudal, menghancurkan rumah Yasser (pahlawan kedua) di kamp tersebut, membunuh keluarganya, dan hatinya terbakar karena kehilangan ibunya yang gugur sebagai syuhada. Sebagaimana terbakarnya hati warga Gaza setiap hari karena berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai.  Namun ada aturan yang disadari semua orang, yaitu: “Jika anda seorang warga Gaza, anda adalah seorang syahid dengan penangguhan kematian sampai tiba giliranmu dalam salah satu perang yang terjadi berturut-turut, atau pengepungan selama bertahun-tahun. Atau melalui rudal cerdas, dengan tuduhan bahwa anda adalah bom waktu... Oleh karena itu, jangan katakan seorang warga Gaza sebagai orang mati kala dia pergi; Karena di keningnya tertulis kala dia dilahirkan: “Saya dari Gaza, oleh karenanya saya seorang syahid!”

Adapun Alaa (pahlawan ketiga), dia berkata kepada ibunya: Engkau selalu ada di hatiku wahai ibundaku, tapi engkau tahu bahwa aku telah memilih jalan yang ujungnya satu dari dua hal: syahid di medan perang, dan yang kedua adalah menggandeng tangan indahmu dan terbang bersamamu ke kampung kita yang indah di Ludd setelah merdeka dari Zionis. Dan itu bagi Allah bukanlah hal yang lama.


Cinta Palestina, Ibuku, dan Cita-cita!

Adapun pahlawan keempat, Ahmed (julukannya Samara), adalah seorang kekasih yang akan menyusun kata-kata untuk kekasihnya yang ia saring dari lubuk hatinya. Karena cinta di Gaza memiliki cita rasa yang istimewa, namun saat tunangannya (Amal) berkunjung ke rumah mereka, ia menerima surat panggilan, sehingga dia terpaksa meninggalkan tunangannya itu, untuk bergabung dengan Alaa, Ibrahim, dan Muhammad yang sudah menantinya. Imad bergabung dengan mereka, sehingga terbentuklah “Al-Zumroh” (grup)  yang dibebankan kepadanya misi khusus.

Novel ini berhenti pada impian karakter-karakternya. Amal menggambar dalam benaknya lukisan ksatria  impiannya, dan dia berkata: Aku menginginkannya jadi pejuang  yang membawa dalam dirinya cinta kesyahidan dan membela tanah airnya. Orang yang tidak seperti itu, maka aku takut kepadanya atas diriku sendiri dan anak-anakku.

Adapun Ahmed (Samara), dia berkata: Sesungguhnya Palestina, ibuku, Amal, dan senapan, tidak akan pernah meninggalkanku. Aku tidak bisa memisahkan yang satu dari yang lain. Siapa saja yang meninggalkan salah satu dari mereka akan kehilangan yang lain." Dia terus saja berbicara tentang visi cinta: “Agar kita dapat menghuni tanah air kita, dia harus bersih dulu dari kejahatan, dan untuk bisa mencapai hal ini kita harus mempunyai sarana kekuatan, yang terpenting adalah keluarga baik yang dimulai dengan aku dan tunanganku yang setia, yang mendorongku untuk berjuang demi meraihnya, dan demi negeriku ini, agamaku, dan ibuku.”

Istri Ibrahim menyempurnakan lukisannya: “Hanya para pejuang saja yang menjadi para kekasih, dan selain mereka hanyalah orang-orang yang melintasi (sesaat) cinta ; Karena hanya cinta yang dilindungi oleh senjata, bercampur dengan urat revolusi saja, yang berhak meraih keabadian.


Bersama Lima Laki-laki di Dalam Terowongan

Masing-masing pahlawan dalam novel ini memiliki kisah sendiri, namun mereka memiliki kesamaan bahwa mereka adalah “para ahli ibadah di malam hari, yang jadi para pejuang di siang hari” yang berdiri di atas landasan moral yang kokoh dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Novel ini menjelaskan tahapan pendidikan progresif yang dilalui seorang pejuang sebelum ia diterima jadi salah satu “elit Al-Qassam”, dengan aspek keimanan, doktrin, dan budayanya, untuk menjadi seorang pejuang yang berkomitmen pada agamanya, umatnya, dan bangsanya. Dia tidak akan terpilih menjadi anggota Al-Qassam kecuali setelah membuktikan akhlaknya terhadap keluarga dan masyarakatnya, serta kesediaannya untuk berkorban demi tanah airnya yang terpasung.

Kelima orang itu mendapat tugas operasi syahid, maka mereka berkumpul di sebuah terowongan di bawah rumah Imad, yang dihancurkan oleh pesawat Israel. Di sana mereka tinggal dan kami tinggal bersama mereka selama dua pekan di dalam terowongan menunggu detik-detik yang menentukan. Makanan mereka adalah beberapa butir kurma dan segelas air, dan mereka bahkan tidak bisa menikmati udara segar.

Di dalam terowongan, kami melihat mereka sebagai manusia yang saling bertukar cerita, dan kami melihat mereka sebagai malaikat yang jiwa dan hatinya melekat pada Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya, setelah penantian panjang, tibalah saatnya setelah sejumlah besar prajurit berkumpul di  atas reruntuhan rumah Imad, maka Alaa berbisik kepada mereka: Bersiaplah dan bertawakal kepada Allah.


Penghabisan atau Permulaan ?

Al-Zumroh meledakkan perangkat peledak di mulut terowongan, mengakibatkan ledakan yang mengoyak tubuh sejumlah besar tentara Zionis. Sebelum tentara lainnya tersadar, elit Qassam muncul dari terowongan kedua, menyerang tentara itu dari “jarak nol”, yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Aksi mengejutkan itu menjadi sebab keberhasilan mereka dan kebingungan musuh.

Namun pertempuran itu berlangsung selama berjam-jam hingga para pejuang mulai kehabisan amunisi, dan Ahmed (Samara) menjadi syuhada pertama. Ketika darah mengucur dari tubuhnya, dia berkata menyeru kekasihnya (Amal): "Ini darahku... Aku tidak pernah pelit untuk tanah air dimana engkau adalah makhluk tercantik di atasnya. Tempat bersua kita adalah di surga .”

Ahmed gugur syahid dalam keadaan menggendong senapannya, dan banyak peluru menembus tubuhnya, ia menahan rasa sakitnya, dan memilih untuk tetap berdiri tenang bak sebatang pohon, dengan kedua matanya terus berjaga-jaga memandangi tanah airnya.

Alaa menyusul jadi syuhada yang kedua. Darahnya muncrat saat ia bertakbir. Dia telah memenuhi sumpahnya: Mereka tidak akan pernah bisa lewat kecuali melangkahi mayatnya.

Adapun Imad, dia menjadi penguasa medan. Dia berhasil memancing musuh untuk melakukan penyergapan baru, dan dia gunakan granat tangan untuk menciptakan korban maksimal di barisan musuh. Kemudian sebuah peluru menembus wajahnya yang tersenyum, menyirami pohon zaitun dengan darahnya.

Tiga orang telah gugur sebagai syuhada, dan sisanya, Ibrahim dan Muhammad, melawan tentara musuh dari dalam terowongan, sampai amunisi mereka habis. Seorang tentara Israel melemparkan bom asap ke dalam terowongan, sehingga mereka harus keluar. Mereka tertangkap dan menjalani penyelidikan di penjara Ashkelon. “Kataib Al-Qassam” tidak mengetahui bahwa mereka masih hidup sampai mereka tiba di penjara Israel.”

Begitulah gambaran pertarungan heroik yang dikisahkan Ibrahim dan Muhammad kepada penulis Ammar Al-Zaben yang merasakan euforia kemenangan atas belenggu penjara saat ia menyelesaikan baris terakhir novel tersebut.

Selama enam bulan terakhir, dan tahun-tahun sebelumnya, terdapat ribuan kisah dari orang-orang seperti “Al-Zumroh”, tentang generasi muda yang mencintai kehidupan dan negaranya, dan yang hatinya kuat dan mampu menanggung beban cinta, tapi mereka juga mencintai kemuliaan dan kemerdekaan. Mereka siap mengorbankan nyawa demi apa yang mereka cintai...dan kisah semua ini sedang menanti seseorang yang akan menuliskannya. 

(Diterbitkan oleh Palinfo, Jumat, 22 Maret 2024 pukul 19.23, Referensi: https://palinfo.com/news/2024/03/22/882244/ diterjemahkan oleh Khalidmu)
Share:

Sabtu, 23 Maret 2024

Jaringan Intelijen Israel Paling Berbahaya di Lebanon... Terlibat Dalam Pembunuhan Al-Arouri


Sebuah surat kabar Lebanon, Al-Akhbar membongkar detail jaringan intelijen paling berbahaya yang bekerja untuk Israel, disamping keterlibatannya dalam menentukan lokasi pembunuhan Wakil Kepala Biro Politik #Hamas, Saleh Al- #Arouri, dua pekan sebelum pembunuhannya. 


Al-Akhbar melaporkan bahwa jaringan intelijen tersebut terungkap secara kebetulan pada akhir Desember, ketika anggota rombongan pengawal Ketua Parlemen menjadi curiga terhadap sebuah mobil yang berkeliaran di sekitar kantor Ketua Parlemen di Ain al-Tineh, Beirut.


Al-Akhbar menjelaskan bahwa setelah mobil tersebut dihentikan, perangkat elektronik yang sangat canggih ditemukan di ponsel yang berisi lusinan video, menyerupai survei komprehensif di area tersebut.


Dilaporkan bahwa penumpang mobil itu diserahkan ke divisi Informasi Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon, untuk memulai investigasi yang membongkar kecurigaan adanya interaksi dengan Israel, dengan cara teknis yang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana  terdakwa menerima $200,000 untuk menjalankan misi ini, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kasus bekerja untuk kepentingan musuh.



Dua Ahli  Teknik Komputer dan Komunikasi


Dia melanjutkan: “Terdakwa dan satu orang lagi yang bekerja dengannya, keduanya adalah ahli di bidang teknik komputer dan komunikasi, untuk perusahaan Amerika yang palsu, yang kemungkinan besar merupakan kedok intelijen Israel, melakukan survei komprehensif di banyak area, termasuk Beirut dan daerah pinggiran daerah selatan


Surat kabar tersebut mengkonfirmasi bahwa kedua tahanan tersebut memberikan kepada Israel salinan persis dari daerah-daerah tersebut, termasuk jalan, gedung, nama toko, tempat parkir dan mobil, nomor platnya, dan wajah orang yang lewat. Dilaporkan bahwa 56 ribu foto berkualitas tinggi ditemukan di telepon salah satu tahanan.


Dilaporkan bahwa yang paling berbahaya adalah spionase tehnik  yang dilakukan oleh kedua tahanan itu, menggunakan peralatan sangat canggih yang dilengkapi dengan sistem frekuensi radio yang terhubung dengan penyedia layanan Internet dan alamat access points yang ada di rumah-rumah, lembaga, dan tempat umum, yang memfasilitasi menetapkan lokasi geografis si pengguna.



Terlibat Pembunuhan Al-Arouri


Al-Akhbar menjelaskan bahwa kedua tahanan itu mendapatkan nama setiap perangkat Wi-Fi di area yang disurvei, kata sandi, yang memungkinkan mereka menentukan lokasi pengguna telepon seluler setelah teleponnya terhubung ke penyedia layanan Internet.


Al-Akhbar menjelaskan bahwa penjajah, dalam perang yang berlangsung saat ini, menggunakan teknologi ini untuk menemukan lokasi para pejuang gerakanan perlawanan hanya dengan menghubungkan ponsel mereka ke jaringan Wi-Fi.


Ditambahkannya bahwa investigasi menunjukkan bahwa salah satu tahanan melakukan penyisiran di jalan di daerah pinggiran selatan, di seberang apartemen tempat wakil ketua gerakan Hamas, Sheikh Saleh Al-Arouri, dibunuh pada 2 Januari.


Al-Akhbar menulis bahwa survei atau penyisiran tersebut dilakukan sekitar dua pekan sebelum pembunuhan Al-Arouri. Meskipun kedua tahanan tersebut menyangkal di hadapan hakim penyelidik bahwa mereka mengetahui sebelumnya bahwa perusahaan yang menugaskan mereka bekerja adalah perusahaan Israel, mereka mengakui bahwa apa yang diminta dari mereka tidak ada hubungannya dengan kontrak yang dibuat dengan perusahaan untuk mengerjakan proyek pengembangan pariwisata virtual. 

Kedua tahanan tersebut mengakui bahwa data dan informasi yang mereka berikan kepada perusahaan bersifat sensitif, dan salah satu dari mereka mengatakan bahwa pekerjaan yang diminta dari mereka tidak mungkin kecuali untuk kepentingan badan intelijen, dan data yang keduanya berikan kepada perusahaan yang dipersepsikan sebagai perusahaan Amerika mungkin untuk membuat sistem pengawasan keamanan di semua wilayah, dan membuat siapa pun yang memilikinya mampu menemukan lokasi siapa pun yang diinginkan dan kapan saja.


Menurut surat kabar Al-Akhbar, para tahanan dirujuk ke hakim investigasi militer pertama, Fadi Sawan, yang menginterogasi mereka dan mengeluarkan dua surat perintah penangkapan awal terhadap mereka.


Al-Akhbar menjelaskan, perwakilan pemerintah di Pengadilan Militer Lebanon, Hakim Fadi Akiki, membenarkan bahwa para tahanan telah melakukan kejahatan spionase untuk kepentingan negara asing, disamping mendapatkan informasi yang harus dirahasiakan untuk menjamin keamanan. negara, dan merugikan keamanan nasional Lebanon, yang hukumannya setara dengan penjara kerja paksa seumur hidup.


(Diterbitkan di London, Arab 21/ 21 Mar 2024/ 22:06 - Sumber: https://bit.ly/3TvdFjx, diterjemahkan oleh Khalidmu)


Share:

Jumat, 22 Maret 2024

Dermaga Amerika di Gaza dan Kemanusiaan yang Biadab

Oleh Dr. Mohsen Muhammad Saleh, Direktur Pusat Studi dan Konsultasi Al-Zaytouna

Pada tanggal 7 Maret 2024, Presiden AS Biden mengumumkan proyek pembuatan dermaga di #pelabuhanGaza untuk menerima “bantuan kemanusiaan” dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan, terutama di Jalur Gaza bagian utara. Dengan dalih memfasilitasi datangnya bantuan dan mempercepat lajunya. Ide tersebut hadir dalam rangka penguatan usulan koridor laut antara Siprus dan Gaza, yang perencanaannya dibuat oleh Komisi Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Yunani, Italia, Belanda, Siprus, dan UEA. Dermaga ini berada di bawah kendali Israel, yang akan memeriksa barang-barang di Siprus untuk diberikan izin shipping ke Gaza.


Diperkirakan kedatangan tentara Amerika yang akan naik “Kapal Pendukung Logistik LSV1,” yang berangkat dari pangkalan Langley-Eustis di Amerika Serikat, akan memakan waktu 30 hari, diikuti oleh tiga kapal lainnya. Pengerjaan pembangunan dermaga di pelabuhan Gaza akan memakan waktu 60 hari. Menurut pernyataan Amerika, dermaga tersebut akan mampu menyediakan dua juta makanan dan dua juta botol air setiap hari.


Hal yang menarik perhatian adalah sambutan Israel atas pembangunan dermaga tersebut, dimana Menteri Pertahanan Israel Galant menyatakan bahwa “koridor laut akan memperkuat kendali kami dan meningkatkan kemampuan kami untuk terus berperang di Gaza” dan hal ini akan berkontribusi melemahkan cengkraman Hamas. Sementara surat kabar Israel Jerusalem Post mengungkapkan bahwa Biden menerapkan ide yang telah diajukan Netanyahu pada dua pekan pertama saat perang mulai!! Artinya, dermaga tersebut akan menjadi alat menguasai dan kendali Israel-Amerika untuk memaksakan visi “Esok Hari” bagi Jalur Gaza pasca perang.

Tentu saja, Amerika Serikat bukanlah sebuah “lembaga amal.” AS adalah mitra utama dalam agresi terhadap Jalur Gaza, dan merupakan pemasok utama senjata dan bahan peledak kepada Israel yang digunakan untuk menghancurkan Jalur Gaza dan infrastrukturnya. dan membunuh serta melukai puluhan ribu anak-anak, wanita, dan orang tua. Sejak 7 Oktober 2023 hingga Maret 2024, Amerika Serikat mengirimkan lebih dari 300 pesawat kargo dan sekitar 50 kapal serta mengirimkan sekitar 35.000 ton senjata dan perlengkapannya ke “Israel,” menurut surat kabar “Israel Hayom” pada 18 Maret 2024. 

Di antara bom-bom yang dipergunakan penjajah dalam agresinya, adalah bom masing-masing berbobot 2.000 pon (907 kilogram), menimbulkan korban jiwa dalam radius 900 meter di area ledakannya dan menciptakan kawah sedalam 12 meter (sekitar 4 lantai). ), menurut New York Times pada 21/12/2023; dimana Penjajah telah melemparkan ratusan bom tersebut ke warga masyarakat Gaza!!

Amerika Serikat adalah pihak yang berada di belakang berlanjutnya agresi ini, memberikan perlindungan internasional, dan menggunakan hak vetonya di hadapan dunia yang sepakat untuk menghentikannya. AS adalah pihak yang menggunakan semua alat politiknya untuk memaksa miliu Arab dan Islam agar tetap diam terhadap agresi tersebut dan untuk bekerja sama dengan penjajah, serta mengancam pihak mana pun yang berusaha untuk memberi dukungan kepada Jalur Gaza dan gerakan perlawanannya.

Diketahui pula, gagasan koridor laut dari Siprus difasilitasi oleh pihak-pihak yang bersekutu dengan entitas Israel dalam agresinya terhadap Jalur Gaza, seperti Jerman, Inggris, Italia, selain Amerika Serikat. Oleh karena itu, gagasan pemberian “bantuan kemanusiaan” nampaknya dekat dengan gagasan bahwa sipir penjara terpaksa menyediakan makanan dalam jumlah minimum bagi para narapidana dan sandera yang dimilikinya, sampai waktu tujuannya dapat tercapai. Oleh karena itu, dermaga tampaknya menjadi kedok “kemanusiaan” yang menipu dan formalitas bagi perilaku “biadab” yang dilakukan di lapangan.

Jika pemerintah Amerika serius dalam memberikan bantuan kemanusiaan, maka cukup memberikan lampu hijau kepada pemerintah Mesir, dengan sedikit tekanan kepada Israel, untuk membuka penyeberangan Rafah agar ribuan truk yang sudah antri menanti bisa masuk di gerbang perbatasan, yang akan menyediakan berbagai kebutuhan Gaza dengan lebih cepat, lebih banyak, lebih efektif, dan lebih berkelanjutan.

Perilaku kotor dan agresif Israel sengaja menghalangi pihak mana pun yang dipercaya oleh masyarakat Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan dan mengawasi masuknya barang. Dia sendiri adalah penyebab kelaparan, dia sendiri yang telah menghancurkan infrastruktur Gaza, melakukan ratusan kasus pembantaian, menghancurkan rumah-rumah sakit dan sekolah-sekolah. Dia sendiri juga yang membom konvoi-konvoi bantuan dan membunuh orang-orang yang berusaha mengatur pengiriman bantuan kepada masyarakat. Dia bahkan yang sendirinya melakukan pembantaian di dekat Bundaran Nabulsi pada 29 Februari 2024, hingga menewaskan 112 warga Palestina yang datang untuk mengambil bantuan.

Pada dasarnya, di balik proyek ini adalah gagasan bahwa siapa pun yang “mengendalikan pemberian makan kepada warga masyarakat, maka dialah yang mengendalikan mereka”!! Dan masyarakat terpaksa harus menghadapinya, suka atau tidak. Hal ini karena Israel, yang dengan sengaja menjerumuskan Jalur Gaza ke dalam situasi kelaparan yang kejam dan dahsyat, ingin menghapuskan sistem pengelolaan warga masyarakat dan pengawasan kehidupan mereka dari tangan Hamas dan gerakan perlawanan agar berpindah ke tangannya, atau ke agen-agennya, yang dia percaya dan berada dibawah pengawasannya. Hal ini menjadi alasan mendasar bagi penjajah untuk menghubungi para pimpinan suku-suku di Jalur Gaza untuk mengambil alih tugas tersebut, sebagai langkah membentuk manajemen alternatif bagi Jalur Gaza, namun para pimpinan suku-suku itu menolak. Penjajah masih melanjutkan upaya dan tekanannya melalui jalur ini, dimana mereka berkomunikasi dengan petinggi Otoritas Palestina di Ramallah untuk mengambil alih tugas tersebut mengikuti syarat yang diberikannya. Juga bertemu dengan pejabat intelijen Majed Faraj untuk membentuk formasi keamanan sebagai ganti atas Hamas.

Agar tujuan penjajah dapat tercapai, dia mungkin melakukan sendiri tugas mendistribusikan bantuan di Gaza utara, untuk mencoba mewujudkan kondisi normalisasi komunikasi dengan warga masyarakat dan menghubungkan kepentingan mereka dengannya. Penjajah juga mungkin mencoba mendorong pembentukan kelompok bersenjata dengan dalih mengamankan bantuan, yang seiring waktu akan berubah menjadi milisi dan organisasi korup yang memiliki kaitan kepentingan dengannya.

Di sisi lain, Israel akan menggunakan keberadaan dermaga Amerika sebagai alasan untuk menghindari tuntutan pidana atas kelaparan, pengepungan, dan penderitaan rakyat Gaza, dengan mengklaim bahwa dia mengizinkan penyediaan kebutuhan. Pada saat yang sama, kehadiran dermaga akan memberinya lingkungan yang lebih baik untuk mempertahankan penjajahannya, dan juga akan memberinya alasan untuk menutup gerbang perbatasan Rafah (dengan adanya alternatif ini) dan dengan demikian melanjutkan kampanyenya. Untuk melakukan serangan militer di Rafah dan upaya untuk mengontrol gerbang perbatasan, dan poros Salah al-Din (poros Philadelphia) yang memisahkan Jalur Gaza dan Mesir.

Ada juga kekhawatiran bahwa dermaga ini akan digunakan untuk mengusir warga Palestina dari Jalur Gaza, dalam kondisi kelaparan dan kehancuran yang mereka derita, dan dalam suasana penjajah yang dengan sengaja mengubah kehidupan masyarakat menjadi “neraka”, sekaligus memfasilitasi jalur migrasi ke luar negeri. bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat dan lainnya.

Dermaga tersebut juga dapat digunakan untuk melemahkan peran vital Mesir terhadap Gaza, karena Mesir merupakan satu-satunya jalur penyeberangan Gaza ke dunia (kecuali ke Israel). Oleh karena itu, dermaga tersebut dapat menjadi alternatif persaingan yang potensial dan digunakan sebagai alat untuk menekan Mesir.

Tampaknya, semata mengetahui jangka waktu yang dibutuhkan untuk membangun dermaga, yaitu satu bulan perjalanan ke Gaza dan dua bulan untuk membangunnya, yaitu tiga bulan (ini sebelum menyediakan satu minuman pun) merupakan indikator yang berbahaya atas keberlanjutan agresi, dan adanya niat terencana untuk memulihkan posisi dan mempertahankan penjajahan dengan dukungan logistik Amerika. Pembicaraan mengenai penghentian agresi atau perginya penjajah tidak mungkin dilakukan, setidaknya dalam tiga bulan ke depan. Dan kedok Amerika atas agresi ini akan terus berlanjut setidaknya untuk beberapa bulan mendatang.

Mungkin pihak Amerika bercita-cita (jika berjalan sesuai keinginan mereka) agar dermaga tersebut menjadi basis pangkalan militer Amerika yang berkelanjutan di wilayah tersebut, untuk memenuhi sebagian kebutuhan logistik mereka di Mediterania timur.

Pada saat yang sama, Biden akan berusaha menutupi kebiadabannya dengan “cover kemanusiaan” dan meningkatkan citranya di mata pemilih Amerika, terutama dari kalangan luas yang menuntut diakhirinya agresi dan komunitas Arab dan Islam, yang mungkin memainkan peran penting dan elemen yang unggul dalam posibilitas kemenangan atau kekalahannya.

Yang terakhir, jelas bahwa Israel dan sekutu Amerikanya sedang berusaha mengatur situasi untuk masa depan Gaza dengan kekuatan senjata dan dengan mencoba membuktikan fakta di lapangan, termasuk upaya untuk memisahkan Gaza utara dari selatan. Namun, upaya mereka tidak berarti bahwa mereka akan berhasil, dan upaya untuk menciptakan kesan dan ilusi tentang kemampuan mereka untuk melakukan hal tersebut tidak dapat menipu kelompok perlawanan. Kemudian, perlawanan heroik yang telah membuat panas dan melelahkan mereka di “rawa Gaza” dalam beberapa bulan terakhir, insya Allah mampu menggagalkan perencanaan mereka, mengalahkan mereka, dan mengakhiri penjajahan mereka.

(Sumber: https://bit.ly/4a28I8H, diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share: