About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Rabu, 11 Februari 2026

Usulan Baru dari Washington Tentang Senjata Ham4s

10/2/2026 Terakhir diperbarui: 23:44 (Waktu Mekah)

The New York Times mengutip pernyataan para pejabat yang mengatakan bahwa rancangan usulan sedang disiapkan di mana Washington akan menuntut Ham4s untuk menyerahkan senjata yang mampu menyerang negara Zionis.


Surat kabar itu juga mengutip pernyataan para pejabat yang mengatakan bahwa tim Amerika, termasuk Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump, dan utusannya, Steve Wikoff, bermaksud untuk menyampaikan dokumen tersebut kepada Ham4s dalam beberapa pekan mendatang.


Menurut The New York Times, rancangan usulan tersebut akan memungkinkan Ham4s untuk tetap memiliki senjata ringan pada tahap awal.


Para pejabat mengindikasikan bahwa rancangan ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menekan faksi-faksi bersenjata di Gaza tanpa secara langsung meningkatkan konflik.


Sumber: Al Jazeera + Pers Amerika


diterjemhakan dari situs Al Jazeera Net “مقترح جديد من واشنطن بشأن سلاح حماس” terbit 10 Februari 2026 diakses 11 Februari 2026 07:43 https://www.aljazeera.net/news/2026/2/10/%D8%B9%D8%A7%D8%AC%D9%84-%D9%86%D9%8A%D9%88%D9%8A%D9%88%D8%B1%D9%83-%D8%AA%D8%A7%D9%8A%D9%85%D8%B2-%D8%B9%D9%86-%D9%85%D8%B3%D8%A4%D9%88%D9%84%D9%8A%D9%86-%D9%85%D8%B3%D9%88%D8%AF%D8%A9


Share:

Selasa, 10 Februari 2026

Radio Negara Zionis: Persiapan Dimulai Bagi Kedatangan Ribuan Pasukan Indonesia di Gaza

 10/2/2026 Terakhir diperbarui: 03:21 (Waktu Mekah)

Lembaga Penyiaran Negara Zionis melaporkan bahwa persiapan telah dimulai bagi kedatangan ribuan pasukan Indonesia di Jalur Gaza untuk bertugas sebagai bagian dari pasukan stabilisasi internasional yang termasuk dalam rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang negara Zionis di Gaza.


Dalam laporan kemarin, Senin, Lembaga Penyiaran negara Zionis menyatakan bahwa "persiapan telah dimulai di lapangan untuk menampung pasukan Indonesia di Gaza, yang akan diintegrasikan ke dalam pasukan stabilisasi internasional." Disebutkan bahwa belum ada tanggal pasti untuk kedatangan pasukan tersebut, tetapi pasukan asing pertama yang diharapkan tiba di Gaza adalah dari Indonesia.


Lembaga penyiaran itu menjelaskan bahwa sebuah area di Jalur Gaza selatan, antara kota Rafah dan Khan Younis, telah disiapkan untuk menerima pasukan Indonesia.


Lembaga penyiaran itu mengutip sumber anonim yang mengatakan bahwa area yang ditunjuk "sudah siap," tetapi proses persiapan bangunan dan akomodasi di sana "akan memakan waktu beberapa pekan."


Ia menambahkan, "Jumlah pasukan Indonesia diperkirakan mencapai beberapa ribu, dan diskusi sudah berlangsung dengan Jakarta mengenai rencana awal pengerahan pasukan Indonesia dan bagaimana mereka akan dikirim ke Gaza."


Belum ada komentar langsung dari Indonesia atau pasukan penjaga perdamaian PBB mengenai laporan negara Zionis tersebut.


Pasukan penjaga perdamaian PBB bertanggung jawab atas operasi keamanan di Gaza, perlucutan senjata, dan memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi ke Jalur Gaza.


Langkah ini merupakan bagian dari fase kedua rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang di Gaza, yang didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, yang diadopsi pada 17 November 2015.


Pada 16 Januari, Gedung Putih mengumumkan adopsi struktur pemerintahan transisi untuk Gaza, termasuk Dewan Perdamaian, Dewan Eksekutif Gaza, Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, dan Pasukan Stabilisasi Internasional.


Perjanjian gencatan senjata, yang berlaku sejak 10 Oktober 2015, mengakhiri perang genosida selama dua tahun yang mengakibatkan lebih dari 72.000 syahid warga Palestina dan lebih dari 171.000 luka-luka, serta kerusakan luas yang memengaruhi sekitar 90% infrastruktur sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi sekitar $70 miliar.


Sumber: Al Jazeera + Anadolu Agency



Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “الإذاعة الإسرائيلية: بدء الاستعدادات لوصول آلاف الجنود الإندونيسيين لغزة” terbit 10 Februari 2026 diakses 10 Februari 2026 12:07  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/10/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B0%D8%A7%D8%B9%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84%D9%8A%D8%A9-%D8%A8%D8%AF%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%B9%D8%AF%D8%A7%D8%AF%D8%A7%D8%AA


Share:

Negara Zionis Gunakan Senjata yang Menguapkan Ribuan Mayat di Gaza

9 Februari 2026 Terakhir diperbarui: 10 Februari 2026, 00:43 (Waktu Mekah)


Dalam investigasi yang mengejutkan, Acara "Kisah Berlanjut" mengungkapkan kesaksian lapangan dan laporan resmi yang mendokumentasikan penguapan mayat ribuan syuhada di Jalur Gaza. Ini adalah akibat dari penggunaan senjata terlarang secara internasional oleh militer penjajah negara Zionis dengan efek termal dan vakum yang menghancurkan.


Menurut investigasi "Yang Menguap”, yang ditayangkan di Al Jazeera pada Senin malam, laporan dari Pertahanan Sipil di Gaza, bersama dengan kesaksian dari paramedis dan keluarga, mendokumentasikan menguapnya lebih dari 2.842 mayat syuhada. Tidak ada jejak mereka yang ditemukan kecuali percikan darah dan sedikit sisa-sisa tubuh manusia di lokasi yang menjadi target.


Data menunjukkan bahwa serangan-serangan ini dilakukan menggunakan bahan peledak termo-vakum dan bahan peledak yang dikuatkan difusinya, menghasilkan panas yang dapat mencapai 3.500 derajat celcius, dan tekanan yang sangat besar yang menyebabkan penguapan cairan dalam tubuh dan transformasi jaringan menjadi abu.


Laporan investigasi tersebut mencakup kesaksian yang mengerikan, di antaranya kesaksian Rafiq Badran, yang menggambarkan bagaimana jasad keempat anaknya lenyap selama pemboman hebat yang menghancurkan puluhan rumah. Ia menegaskan bahwa ia hanya menemukan "pasir hitam" dan sisa-sisa tubuh yang berserakan.


Yasmin, ibu dari Saad, yang syahid menceritakan bagaimana ia mencari jasad putranya di rumah sakit, kamar mayat, dan masjid setelah pemboman Sekolah Al-Tabi'in di kelurahan Al-Daraj, sebelah timur Kota Gaza, sebelum kemudian memastikan bahwa putranya telah menghilang tanpa jejak.


Dinas Pertahanan Sipil di Gaza, melalui juru bicaranya, Mayor Mahmoud Basal, menegaskan bahwa tim mereka menemukan kasus berulang di mana sejumlah orang dilaporkan berada di dalam rumah-rumah yang menjadi target, sementara jumlah jasad yang ditemukan lebih sedikit daripada jumlah yang tercatat. Hal ini menyebabkan kesimpulan bahwa beberapa jasad telah "lenyap sepenuhnya," sebuah fenomena yang ia gambarkan sebagai hal yang tak terbayangkan dalam operasi lapangan sebelum perang ini.



Penguapan Mayat


Secara teknis, investigasi tersebut menyajikan pendapat para ahli, termasuk Yosri Abu Shadi, mantan kepala inspektur Badan Energi Atom Internasional, yang menjelaskan bahwa senjata yang menggabungkan panas ekstrem dan tekanan tinggi mampu menghancurkan sel-sel manusia dan menyebabkan pemusnahan total.


Menurut Abu Shadi, fenomena "penguapan mayat" bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peperangan modern. Ia menunjukkan bahwa adegan serupa tercatat selama invasi Amerika ke Irak, khususnya dalam pertempuran Fallujah pada tahun 2004 dan 2005, ketika senjata termobarik berdaya ledak tinggi digunakan, yang mengakibatkan hangusnya atau hilangnya mayat korban di lokasi pemboman.


Pakar tersebut menegaskan bahwa apa yang terjadi di Irak kemudian menjadi subjek investigasi internasional, menekankan bahwa pengulangan pola yang sama di Gaza memperkuat hipotesis bahwa penjajah menggunakan senjata yang dilarang secara internasional, yang dapat digunakan secara hukum untuk menuntut mereka yang bertanggung jawab atas tindakan ini sebagai kejahatan perang sepenuhnya.


Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Dr. Munir Al-Barsh, juga menunjukkan bahwa tubuh manusia terdiri dari sekitar 80% air, yang menjadikan paparan panas tinggi, tekanan, dan oksidasi sebagai penyebab langsung penguapan secara total.



Senjata yang Dilarang Secara Internasional


Investigasi tersebut melacak jenis amunisi tertentu yang diduga digunakan, termasuk bom buatan Amerika seperti MK-84, yang dikenal sebagai "Hammer," dan bom penghancur bunker BLU-109, serta bom berpemandu presisi seperti GBU-39 dan rudal Hellfire. Amunisi ini mampu menciptakan ledakan suhu tinggi di dalam ruang tertutup, dengan kerusakan yang relatif terbatas pada struktur yang terlihat, tetapi mengakibatkan hilangnya nyawa secara luas.


Investigasi tersebut juga mengandalkan studi ilmiah yang dipublikasikan—termasuk satu di situs web ScienceDirect—yang mengkonfirmasi bahwa bahan peledak termobarik lebih kuat hingga lima kali daripada bom konvensional dan beroperasi dalam tiga fase mematikan: gelombang panas super, diikuti oleh gelombang tekanan yang intens, dan kemudian bola api yang menyebar di dalam ruang tertutup, membakar semua yang dicapainya.


Dari sudut pandang hukum, investigasi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan jenis senjata ini di daerah padat penduduk menimbulkan pertanyaan serius tentang pelanggaran hukum humaniter internasional, khususnya prinsip pembedaan dan proporsionalitas.


Meskipun negara Zionis secara resmi membantah menggunakan senjata terlarang, organisasi internasional—termasuk Amnesty International—telah mendokumentasikan penggunaan beberapa amunisi tersebut di Gaza dalam laporan-laporan sebelumnya.


Dengan hilangnya jenazah secara berulang-ulang, penyelidikan mempertanyakan, "Jika senjata yang dilarang secara internasional tidak digunakan, apa yang menjelaskan pola hilangnya jenazah yang berulang ini? Dan mengapa mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan yang merampas hak orang untuk dimakamkan dengan layak belum dimintai pertanggungjawaban?"


Awal tahun ini, Brigadir Jenderal Raed al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, menyatakan bahwa 10.000 jenazah warga Palestina masih berada di bawah reruntuhan, menekankan bahwa blokade negara Zionis yang terus berlanjut yang mencegah masuknya alat berat dan peralatan menghambat penarikan keluar jenazah tersebut.


Dalam statistik terbarunya, Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan pada hari Senin bahwa jumlah warga Palestina yang syahid dalam perang genosida negara Zionis telah meningkat menjadi 72.032, selain 171.661 yang terluka, sejak 8 Oktober 2023.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “تحقيق "للقصة بقية": إسرائيل استخدمت أسلحة أدت لتبخر آلاف الجثامين بغزة” terbit 9 Februari 2026 diakses 10 Februari 2026 10:59 WIB  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/9/%D8%AA%D8%AD%D9%82%D9%8A%D9%82-%D9%84%D9%84%D9%82%D8%B5%D8%A9-%D8%A8%D9%82%D9%8A%D8%A9-%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84-%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AE%D8%AF%D9%85%D8%AA



Share:

Senin, 09 Februari 2026

Channel-13 TV Negara Zionis: Dinas Penjara Mulai Persiapan Eksekusi Tahanan Palestina

2/9/2026  - Terakhir diperbarui: 04:10 (Waktu Mekah)


Channel-13 TV negara Zionis mengungkapkan pada hari Ahad bahwa Dinas Penjara telah memulai persiapan khusus dalam beberapa hari terakhir untuk menerapkan undang-undang hukuman mati terhadap tahanan Palestina yang dituduh oleh negara Zionis melakukan atau merencanakan serangan. Undang-undang tersebut telah melewati pembacaan pertama di parlemen negara Zionis (Knesset).


Menurut channel tersebut, rencana itu mencakup pendirian fasilitas khusus untuk melakukan eksekusi, pengembangan prosedur yang diperlukan, pelatihan personel, dan mengambil pengalaman dari negara-negara yang menerapkan hukuman serupa.


Rencana tersebut, yang sedang diselesaikan di dalam Dinas Penjara, melibatkan pendirian fasilitas terpisah yang disebut dalam sistem sebagai "Koridor Hijau negara Zionis."


Menurut laporan tersebut, eksekusi akan dilakukan dengan cara digantung, dengan tiga penjaga penjara menekan tombol pemicu secara bersamaan. Telah diputuskan juga bahwa tim akan dibentuk sepenuhnya secara sukarela, dan bahwa para penjaga akan menjalani pelatihan khusus.


Channel tersebut mengutip sumber-sumber negara Zionis yang mengatakan bahwa hukuman mati akan dilaksanakan terhadap para tahanan dalam waktu 90 hari setelah putusan akhir.


Sumber-sumber tersebut menjelaskan bahwa hukum tersebut pertama-tama akan diterapkan kepada anggota elit Ham4s yang berpartisipasi dalam serangan 7 Oktober 2013, dan kemudian akan diperluas ke tahanan yang dihukum karena serangan serius di Tepi Barat.


Sebagai bagian dari persiapan ini, channel tersebut mengungkapkan bahwa delegasi dari Dinas Penjara negara Zionis diharapkan segera melakukan perjalanan ke sebuah negara di Asia Timur untuk mempelajari aspek hukum dan peraturan dalam penerapan hukuman tersebut.


Beberapa hari sebelumnya, 12 pakar PBB mendesak negara Zionis untuk menarik rancangan undang-undang yang memberlakukan hukuman mati untuk "tindakan teroris," dengan menegaskan bahwa hukum militer negara Zionis di wilayah jajahan melanggar hukum internasional.


Mereka menyatakan bahwa rancangan undang-undang tersebut memberlakukan hukuman mati di Tepi Barat bagi perbuatan yang mengakibatkan kematian, bahkan secara tanpa disengaja, dan mencatat bahwa hal itu "merupakan pelanggaran hak untuk hidup dan mendiskriminasi warga Palestina."


Rancangan undang-undang tersebut menetapkan bahwa "setiap orang yang secara sengaja atau tidak sengaja menyebabkan kematian warga negara negara Zionis karena alasan yang berkaitan dengan rasisme atau permusuhan terhadap kelompok tertentu, dengan tujuan untuk merugikan negara Zionis dan orang-orang Yahudi di tanah mereka, akan dikenakan hukuman mati."


Berdasarkan ketentuan ini, negara Zionis dapat menerapkan hukuman mati kepada setiap warga Palestina yang membunuh warga negara Zionis, tetapi dalam keadaan apapun, hukuman mati tidak dapat diterapkan kepada warga negara Zionis yang membunuh warga Palestina.


Sumber: Al Jazeera


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net, “القناة 13 الإسرائيلية: مصلحة السجون بدأت الاستعدادات لإعدام أسرى فلسطينيين” terbit 9 Februari 2026 diakses 9 Februari 2026 09:00 https://www.aljazeera.net/news/2026/2/9/%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%86%D8%A7%D8%A9-13-%D9%85%D8%B5%D9%84%D8%AD%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D8%AC%D9%88%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B3%D8%B1%D8%A7%D8%A6%D9%8A%D9%84%D9%8A%D8%A9-%D8%A8%D8%AF%D8%A3%D8%AA



Share:

Sabtu, 07 Februari 2026

Terowongan: Dilema Strategis Negara Zionis yang Sulit Diselesaikan Secara Militer dalam Jangka Pendek

Foto Pusat Informasi Palestina

Kamis, 5 Februari 2026, 15:33 - Pusat Informasi Palestina

Para pejabat militer negara Zionis mengakui bahwa pasukan mereka sejauh ini hanya berhasil menangani sekitar setengah dari jaringan terowongan perlawanan yang membentang di bawah Jalur Gaza. Mereka memperkirakan operasi ini akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, mengingat apa yang digambarkan oleh militer sebagai kompleksitas "masalah bawah tanah" dan kesulitan untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat.


Para pejabat militer negara Zionis menyatakan bahwa sejak dimulainya perang di Gaza hampir dua setengah tahun yang lalu, pasukan mereka telah memompa lebih dari 250.000 meter kubik campuran tanah dan air ke dalam jaringan terowongan perlawanan, yang membentang lebih dari 150 kilometer, dalam upaya untuk menghancurkan infrastruktur bawah tanahnya.


Situs web Channel 12 berbahasa Ibrani mengutip seorang pejabat militer pada hari Kamis yang mengatakan bahwa tentara sejauh ini baru menangani sekitar setengah dari jaringan terowongan, sebelum melanjutkan untuk menerapkan fase kedua dari perjanjian gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025.


https://x.com/TRTArabi/status/1816941562330275963?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1816941562330275963%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F

Ia berkata, “Kami sedang melancarkan pertempuran tanpa henti melawan infrastruktur bawah tanah Ham4s,” dan kami memperkirakan bahwa membersihkan semua terowongan dapat memakan waktu tambahan dua tahun.



Jaringan Kompleks untuk Berbagai Tujuan


Sejak pecahnya perang, masalah terowongan telah menjadi salah satu tantangan paling kompleks yang dihadapi tentara negara Zionis. Menurut laporan berbahasa Ibrani, negara Zionis percaya bahwa Ham4s telah menggunakan jaringan ini untuk berbagai tujuan, termasuk menyembunyikan para pemimpinnya, yang memungkinkan mereka untuk menghindari upaya pembunuhan dari udara dalam jangka waktu yang lama, serta menyembunyikan mereka dari pasukan darat dan menahan tahanan negara Zionis di dalam terowongan.


Menurut laporan yang sama, tentara negara Zionis terpaksa menghadapi apa yang digambarkan sebagai tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mendorongnya untuk mengembangkan kemampuan khusus untuk mendeteksi dan menghancurkan terowongan, yang membentang ratusan kilometer di Jalur Gaza, dengan mengandalkan sistem intelijen canggih dan teknologi pemantauan.


https://x.com/YZaatreh/status/1943633628325441684?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1943633628325441684%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Pejabat militer tersebut menjelaskan bahwa tentara telah melakukan kegiatan pengawasan intensif selama sekitar satu tahun sebagai bagian dari perang melawan apa yang disebutnya sebagai "infrastruktur bawah tanah," dan mengklaim telah mencapai "kesuksesan signifikan" di bidang ini.


Ia menambahkan, "Kami mengisi terowongan dengan campuran tanah dan air, mendorongnya dalam jumlah besar. Kami telah memompa lebih dari 250.000 meter kubik ke dalam lebih dari 150 kilometer terowongan," dan mencatat bahwa metode ini "menyebabkan kerusakan yang cukup besar, meskipun tidak menyebabkan kehancuran total."


Dengan dimulainya fase kedua perjanjian gencatan senjata, tentara negara Zionis mengklaim bahwa Ham4s bertindak sangat hati-hati terkait kegiatan rehabilitasi terowongan dan saat ini tidak menggali terowongan baru, menyadari apa yang digambarkannya sebagai "situasi yang rapuh" dan khawatir akan penundaan dalam menerapkan ketentuan perjanjian tersebut.


https://x.com/Meemmag/status/2016363101323722927?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E2016363101323722927%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Sebaliknya, otoritas penjajah mengklaim bahwa Ham4s melakukan perbaikan terbatas pada infrastruktur bawah tanahnya di beberapa daerah, berupaya menyelamatkan apa yang tersisa dari fasilitas dan peralatannya. Dalam beberapa pekan terakhir, tentara penjajah telah mulai melakukan operasi "penggalian eksplorasi" di lokasi yang diduga mengandung terowongan yang belum ditemukan, dengan tujuan memperluas cakupan operasi pendeteksian dan penghancurannya.



Senjata Strategis


Pejabat militer tersebut memperkirakan bahwa penghapusan apa yang disebutnya sebagai "ancaman strategis" yang ditimbulkan oleh terowongan akan memakan waktu setidaknya dua tahun lagi, dengan mengatakan, "Kita memiliki waktu yang cukup lama untuk menangani infrastruktur yang kompleks ini."


Ia menambahkan, "Kita berbicara tentang ratusan kilometer terowongan, dan keyakinan bahwa masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat adalah keliru."


https://x.com/AJArabic/status/1746653418767229420?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1746653418767229420%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Sementara itu, sumber militer mengindikasikan bahwa tentara negara Zionis sengaja menghindari penanganan terowongan tertentu dalam beberapa kasus, setelah mengklasifikasikannya sebagai tidak signifikan dan tidak menimbulkan ancaman nyata, menurut penilaian mereka.


Baru-baru ini, media negara Zionis melaporkan bahwa perdebatan profesional telah meningkat di dalam tentara negara Zionis mengenai apakah terowongan yang ditemukan oleh tentara tersebut benar-benar telah dihancurkan. Sumber-sumber profesional di dalam Korps Zeni mengklaim bahwa tidak semua metode yang digunakan oleh tentara untuk menghancurkan terowongan tersebut benar-benar membuatnya tidak dapat digunakan dan mencegah penggalian ulang.


Yedioth Ahronoth melaporkan pada 15 Januari 2026, bahwa tentara negara Zionis menggunakan bahan peledak yang berbeda untuk terowongan yang berbeda, dan di beberapa tempat hanya menutupnya, sementara di tempat lain mereka menghancurkan persimpangan utama di bagian percabangan terowongan.


https://x.com/osSWSso/status/1878951615660748941?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1878951615660748941%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Mengenai Ham4s, surat kabar tersebut mengatakan bahwa mereka telah menginvestasikan sumber daya yang cukup besar untuk belajar dan mengambil pelajaran guna mengatasi kerusakan yang ditimbulkan pada terowongan, membangun kembali, dan menghapus jejak jauh di bawah tanah. Beberapa bulan terakhir telah menunjukkan bahwa dimanapun tentara negara Zionis mempertahankan kehadiran konstan di lapangan, akan sulit bagi Ham4s untuk memulihkan jaringan teroris bawah tanahnya.


Sejak operasi di mana Ham4s menangkap tentara negara Zionis Gilad Shalit pada tahun 2006, tentara penjajah telah berjuang untuk menghancurkan jaringan terowongan di bawah Jalur Gaza. Mereka telah mengerahkan semua kemampuan intelijennya untuk menghancurkan "senjata strategis" ini yang pertama kali digunakan Ham4s pada tahun 2001 ketika mereka meledakkan alat peledak di pos militer negara Zionis Termed di Rafah, Gaza selatan, menewaskan lima tentara dan melukai puluhan lainnya. Alat peledak tersebut dibuat melalui terowongan yang panjangnya tidak lebih dari 150 meter, yang digunakan untuk menanam bahan peledak di bawah pos tersebut.


Terowongan perlawanan telah mempertahankan peran penting dan esensialnya dalam semua pertempuran, dan bahkan telah mengembangkan kemampuan militernya. Setelah Pertempuran Saif Al-Quds pada tahun 2021, pemimpin Ham4s Yahya Sinwar mengatakan bahwa Ham4s dan faksi-faksi Palestina di Gaza telah menyiapkan terowongan yang membentang lebih dari 500 kilometer di bawah wilayah Jalur Gaza, yang luasnya hanya 360 kilometer persegi.


https://x.com/AlarabyTV/status/1747619997717795197?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1747619997717795197%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Sementara itu, kepala biro politik Ham4s, Ismail Haniyeh, menegaskan bahwa Gaza telah "membangun terowongan perlawanan dua kali lebih banyak daripada Vietnam," merujuk pada sekitar 270 kilometer terowongan yang digunakan oleh komunis Vietnam dalam perang mereka melawan Amerika Serikat antara tahun 1955 dan 1975.


Sebuah laporan yang diterbitkan pada awal November oleh majalah Amerika Foreign Policy mengkonfirmasi bahwa "jaringan terowongan yang dibangun oleh faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza memiliki kesamaan strategis dan taktis dengan terowongan di Vietnam." Laporan tersebut menunjukkan bahwa "ketakutan terbesar tentara negara Zionis terletak pada terowongan tempur tersembunyi, di mana unsur kejutan akan memainkan peran penting dalam menggeser keseimbangan kekuatan yang menguntungkan faksi-faksi Palestina di Gaza."


Menurut sebuah studi oleh peneliti Rami Abu Zubaida, yang diterbitkan oleh Institut Studi Mesir pada tahun 2020, terowongan-terowongan ini dibagi menjadi terowongan strategis, defensif, tempur, taktis, pasokan, komunikasi, dan komando dan kendali.


https://x.com/mohaemmd93/status/1793589950681580005?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1793589950681580005%7Ctwgr%5E0e47c7a356e2f774869c80416aab9ab68bd6b686%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fpalinfo.com%2Fnews%2F2026%2F02%2F05%2F991682%2F


Kegagalan Pagar Bawah Tanah 


Mengingat kompleksitas ekstrem jaringan terowongan yang meliputi Jalur Gaza, negara Zionis mengembangkan pagar besi pintar setinggi enam meter di sepanjang perbatasan sepanjang 65 kilometer dengan Gaza pada tahun 2017. Dilengkapi dengan radar, kamera, sistem pengawasan maritim, dan senjata kendali jarak jauh canggih, pagar tersebut mencakup penghalang bawah tanah sedalam beberapa meter, yang dilengkapi dengan sensor presisi untuk mendeteksi potensi penggalian terowongan.


Tentara negara Zionis menggunakan sekitar 126.000 ton baja dalam pembangunannya. Setelah selesai pada tahun 2021, negara Zionis menggambarkannya sebagai "satu-satunya di dunia, proyek teknologi inovatif kelas satu yang Ham4s dari salah satu kemampuan yang telah mereka coba kembangkan."


Menurut analis dan pakar militer negara Zionis, pagar besi tersebut, yang menelan biaya sekitar $1,1 miliar bagi negara Zionis, telah sepenuhnya gagal memberikan perlindungan bagi warga negara Zionis di sepanjang perbatasan. Menurut pengakuan militer negara Zionis, Ham4s mampu dengan mudah menembus tembok di 29 titik pada pagi hari Sabtu, 7 Oktober 2023.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, “الأنفاق.. عقدة إسرائيلية استراتيجية يصعب حسمها عسكرياً في المدى القريب” terbit 5 Februari 2026 diakses 7 Februari 2026 14:57  https://palinfo.com/news/2026/02/05/991682/



Share: