Sabtu, 10 Januari 2026, 15:25 - Pusat Informasi Palestina
Sebuah program penelitian dokumenter baru membuka kembali arsip sejarah Al-Quds dari perspektif yang berbeda, dengan bersandarkan kepada dokumen gereja, arsip Turki Usmani, dan berbagai sumber sejarah. Program ini berupaya membongkar narasi Alkitab yang eksklusif yang selama beberapa dekade telah mencoba mereduksi sejarah kota ini menjadi satu dimensi tunggal, menghapus eksistensi Arab, Islam, dan Kristen yang berakar kuat di sana.
Program ini, bagian dari upaya dokumenter ensiklopedis, memanfaatkan arsip gereja langka yang mengungkapkan detail rumit tentang kehidupan keagamaan dan sosial di Al-Quds selama berabad-abad. Program ini menyoroti contoh-contoh koeksistensi dan toleransi di antara penganut agama yang berbeda, melampaui narasi konflik yang telah dipaksakan pada sejarah kota ini.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Al Jazeera Net, dokumen-dokumen tersebut mengungkapkan bahwa gereja dan lembaga keagamaan Kristen merupakan bagian integral dari kehidupan Arab di Al-Quds, dan bahwa administrasi serta urusan sehari-hari mereka berlangsung dalam konteks sosial dan ekonomi Arab yang komprehensif. Konteks ini diatur oleh sistem hukum dan administrasi yang berlaku selama era Turki Utsmani, termasuk pengadilan Syariah yang mendokumentasikan kepemilikan properti, wakaf, perselisihan, dan kontrak di antara warga dari semua afiliasi keagamaan.
Pentingnya dokumen-dokumen ini melampaui dimensi keagamaannya, karena berfungsi sebagai materi sejarah yang menunjukkan kesinambungan eksistensi Arab di Al-Quds. Dokumen-dokumen ini membantah klaim yang mencoba menggambarkan kota tersebut sebagai kekosongan sejarah yang kemudian diisi, atau sebagai kota dengan identitas tunggal yang terpisah dari lingkungan Palestina di sekitarnya.
Program ini mengungkapkan bahwa catatan gereja, bersama dengan catatan pengadilan Turki Utsmani, memberikan gambaran rinci tentang kehidupan sehari-hari di Al-Quds, termasuk hubungan antara Muslim dan Kristen, pengaturan antar desa-desa, pengelolaan properti, dan masalah pendidikan serta kesejahteraan sosial. Hal ini mencerminkan struktur sosial yang stabil dan saling terhubung, jauh dari logika konflik abadi yang dipropagandakan oleh narasi kolonial.
Dokumen-dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa gereja-gereja itu sendiri merupakan bagian dari sistem wakaf dan perlindungan hukum yang diberikan oleh otoritas pada masa itu, dan bahwa hubungan antara berbagai lembaga keagamaan sebagian besar didasarkan pada koeksistensi dan integrasi, bukan pengucilan atau dominasi.
Mereka yang berada di balik program ini menekankan bahwa pengumpulan dan analisis dokumen-dokumen ini bertujuan tidak hanya untuk menyajikan narasi tandingan tetapi juga untuk memulihkan metodologi sejarah yang berbasis dokumentasi, dalam menghadapi manipulasi ideologis sejarah, dan untuk menyediakan sumber daya ilmiah dan visual yang memungkinkan para peneliti dan mereka yang tertarik untuk mengakses sejarah kota Al-Quds sebagaimana adanya, bukan sebagaimana telah ditulis ulang untuk melayani tujuan politik.
Upaya ini berada dalam konteks yang lebih luas dari upaya untuk mendokumentasikan memori Palestina dan melestarikan catatan sejarah kota tersebut, mengingat upaya untuk menghapus dan mengubah landmark dan identitasnya melalui kebijakan fait accompli dan penulisan ulang sejarah.
Kesimpulannya, dokumen-dokumen gereja, sebagaimana yang disajikan dalam program ini, mengungkapkan bahwa kota Al-Quds tidak pernah menjadi kota tertutup atau wilayah eksklusif kelompok tertentu, melainkan ruang manusia yang terbuka yang identitasnya terbentuk selama berabad-abad melalui interaksi antara agama dan budaya, dalam konteks Arab Palestina yang mapan, menjadikan dokumen-dokumen ini sebagai kesaksian sejarah yang diam namun sangat signifikan dalam perebutan narasi tentang kota tersebut.
Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “وثائق كنسية تعيد سرد تاريخ القدس وتفكك الرواية التوراتية الإقصائية” terbit 10 Januari 2026 diakses 11 Januari 2026 07:16 https://palinfo.com/news/2026/01/10/988648/