About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Rabu, 04 Februari 2026

Pasukan Penjajah Negara Zionis Menangkap Satpam Masjid Al-Aqsa

Foto Quds Press
Kota Al-Quds - Quds Press - 4 Februari 2026 11:29 AM


Polisi Penjajah negara Zionis tadi malam menangkap salah satu satpam Masjid Al-Aqsa di Al-Quds yang dijajah.


Pemerintah kota Al-Quds, yang berafiliasi kepada Otoritas Palestina, melaporkan bahwa pasukan Penjajah menangkap Abdul Rahman al-Sharif, seorang warga Palestina yang bekerja sebagai satpam Masjid Al-Aqsa, setelah menggerebek rumahnya di kota Al-Quds yang dijajah.


Polisi Penjajah dan pasukan intelijen tadi malam menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa, mencegah pergerakan di dalam halamannya, menahan satpam masjid, dan menyerbu serta menggeledah Aula Sholat Marwani.


Perlu dicatat bahwa Departemen Wakaf Islam di kota Al-Quds, yang berafiliasi kepada Kementerian Wakaf Yordania, bertanggung jawab untuk mengelola urusan masjid, termasuk menunjuk satpam dan membayar gaji mereka.


Sekitar 250 satpam menjaga Masjid Al-Aqsa dalam tiga shift: pagi, siang, dan malam. Keamanan di Masjid Al-Aqsa dan fasilitasnya dijaga sepanjang waktu, tujuh hari sepekan di sepanjang tahun.


—-

Diterjemahkan dari situs Quds Press “الاحتلال يعتقل أحد حراس المسجد الأقصى” terbit 4 Februari 2026 diakses 4Februari 2026 18:04 WIB https://qudspress.com/247349/



Share:

Prospek Dewan Perdamaian Trump: Antara Logika Kekuasaan dan Kerapuhan Struktural

Dr. Mohsen Saleh

Ahad, 1 Februari 2026, 12:25 


Akankah dewan perdamaian yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump berhasil mencapai tujuannya untuk membangun kembali Jalur Gaza, melucuti senjata perlawanan, dan memastikan penarikan negara Zionis dari daerah-daerah Jalur Gaza yang tersisa Berdasarkan visi rencana Trump, dalam waktu dua tahun yang dialokasikan bagi kerjanya di Gaza? Atau akankah dewan tersebut kehilangan momentumnya, terkikis substansinya, dan menjadi terlalu sibuk mengelola konflik daripada menyelesaikannya, dan memberikan pembenaran bagi berlanjutnya penjajahan daripada pengaturan yang efektif untuk penarikannya?


Akibatnya, dewan tersebut akan menjadi "lembaga yang lemah" kehilangan justifikasi atas keberadaannya, menunggu ledakan situasi yang baru.



Momentum Politik dan Logika Kekuasaan


"Dewan perdamaian" yang diumumkan oleh Trump memperoleh momentum politik dan praktisnya bukan karena menawarkan solusi yang adil, atau karena menetapkan jalan yang disepakati oleh Palestina, negara Zionis, Arab, dan komunitas internasional; tetapi banyak yang melihatnya sebagai langkah minimum untuk menghentikan perang genosida negara Zionis, menghentikan penghancuran sistematis, menghentikan pengusiran warga Gaza, dan membuka jalan untuk memberikan bantuan kepada rakyat Gaza dan untuk rekonstruksi.


Itu bukanlah proyek politik yang komprehensif, atau peta jalan untuk proses penyelesaian; namun, ia memperoleh momentum dari dukungan Amerika Serikat, kepribadian Trump, dan kemampuannya untuk menekan pihak negara Zionis, serta pihak negara-negara Arab, Islam, dan internasional.


Tidak ada yang ingin menghadapi Trump dan kemarahan serta dendamnya. Kekuatan Arab dan internasional bertaruh untuk memanfaatkan dorongan hatinya, kemudian menyerap momentumnya dan mencoba mengarahkan kembali aspek-aspek tertentu dari proses tersebut dari waktu ke waktu dan seiring munculnya detail-detail baru. Mereka berharap pendekatan yang lebih pragmatis dari Trump, yang secara alami lebih menyukai hasil cepat, dapat muncul terkait isu-isu seperti melucuti senjata perlawanan, memberikan bantuan dan rekonstruksi, membuka perbatasan, peran Otoritas Palestina, dan pengaturan penarikan negara Zionis.


Kriteria negara Zionis untuk "menghindari kerugian" dan mencegah kemarahan Amerika merupakan hal mendasar dalam meloloskan rencana tersebut dan mengamankan dukungan internasional melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 pada 17 Oktober 2025. Namun, rencana dengan dimensi jangka menengah atau panjang memiliki sedikit peluang untuk berhasil jika daya tarik intinya didasarkan pada penanganan isu-isu lapangan yang mendesak bukan memberikan solusi berkelanjutan.



Kesenjangan dan Kerentanan Struktural


Dewan Perdamaian tidak berdiri di atas landasan yang kokoh dan rentan terhadap ketidakstabilan dan keruntuhan seiring waktu dan dengan penerapan praktis. Kelemahan yang paling menonjol dapat diringkas sebagai berikut:


Masalah Definisi, Identitas, dan Peran: Dewan Perdamaian awalnya diumumkan sebagai badan administratif transisi internasional dan sebagai bagian dari rencana Amerika untuk mengakhiri perang di Gaza. Mandatnya adalah untuk menetapkan kerangka kerja umum untuk rekonstruksi Gaza, mengkoordinasikan pendanaan internasional, dan mengawasi komite teknokrat dan dewan eksekutif.


Namun, ketika Trump menandatangani piagam dewan tersebut di Davos, ia mendefinisikan ulang dan memperluasnya sebagai organisasi penyelesaian konflik internasional, tanpa secara eksplisit menyebut Gaza sekalipun. Ketentuan-ketentuannya memperkuat keyakinan banyak orang bahwa Trump bermaksud menggunakannya sebagai dewan pengganti bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga-lembaganya.


Perubahan ini telah memicu kekhawatiran dan kecemasan yang cukup besar, dan melemahkan kemungkinan untuk memasukkan mitra internasional yang berpengaruh seperti Rusia, Tiongkok, kekuatan-kekuatan besar Eropa, dan lainnya. Meskipun kekuatan-kekuatan global yang berpengaruh ini mungkin tidak secara aktif menentangnya, mereka akan mencoba untuk melemahkan efektivitasnya dan secara bertahap berupaya untuk menggagalkannya.


Dewan tersebut tidak hanya memberikan kepemimpinan tunggal kepada Amerika Serikat, tetapi juga memberdayakan Trump sendiri dengan otoritas luar biasa, membuat keputusan berdasarkan keinginannya dan menyerupai kediktatoran daripada badan internasional yang terhormat. Trump adalah orang yang mengundang, menarik, dan membatalkan keanggotaan; dialah otoritas tertinggi.


Dewan tersebut tidak memiliki legitimasi internasional. Dewan tersebut tidak berasal dari Perserikatan Bangsa-Bangsa atau lembaga internasional lainnya, maupun dari resolusi internasional yang mengikat.


Dewan tersebut tidak memiliki otoritas hukum dan konstitusi. Dewan tersebut tidak didasarkan pada resolusi internasional atau hukum internasional, dan tidak terikat oleh standar dan norma komunitas internasional, menjadikannya lahan subur bagi kesewenang-wenangan dan logika kekerasan.


Dewan tersebut mengabaikan standar kemanusiaan, etika, dan hukum, beralih dari penyelesaian konflik ke manajemen konflik.


Dewan tersebut tidak memiliki legitimasi Palestina. Dewan tersebut adalah dewan perwalian kolonial yang dipaksakan kepada Palestina. Dewan tersebut tidak mewakili mereka atau mengungkapkan kehendak mereka, dan keputusannya tidak mengikat mereka.


Komite teknokratik ini mengabaikan ratusan resolusi internasional yang menjamin hak rakyat Palestina untuk pemerintahan sendiri dan penentuan nasib sendiri, serta lembaga perwakilan Palestina seperti Organisasi Pembebasan Palestina. Komite teknokratik ini tidak lebih dari sekelompok pegawai administrasi dalam sistem kolonial boneka.


Lebih lanjut, komite ini memisahkan Jalur Gaza dari Tepi Barat, dari sistem politik dan rakyat Palestina, dan dari perwakilan Palestina yang bersatu. Komite ini secara sepihak mengendalikan Jalur Gaza dan pengaturan masa depannya, mengabaikan kehendak rakyat Palestina dan resolusi internasional yang mendukungnya.


Pihak Palestina tidak hadir dalam keanggotaan Dewan, yang berarti mereka tidak memiliki perwakilan atau peran nyata dalam pengambilan keputusan untuk pihak utama yang memperjuangkan masalah ini, pihak yang menjadi inti dari administrasi dan rekonstruksi Gaza.


Dewan (dalam kerangka rencana Trump) mengubah masalah Palestina dari masalah hak, keadilan, dan kebebasan menjadi masalah ekonomi dan keamanan, sehingga semua elemen konflik di masa depan tetap utuh.


Sementara korban dihukum, penjajah diberi penghargaan. Penarikan pasukan dari Jalur Gaza bergantung pada keinginan dan standar negara Zionis, dan tidak ada yang dapat mencegah penjajah untuk melanjutkan agresi, pembunuhan, penghancuran, dan pengepungan.


Sementara itu, entitas negara Zionis adalah anggota dewan perdamaian, menjadikan penjahat perang sebagai mitra dalam "perdamaian" dan dalam membentuk masa depan Gaza. Mereka yang menghancurkan Gaza dan menumpahkan darah rakyatnya menjadi mitra kunci dalam menentukan nasibnya.


Dengan demikian, pelaku kejahatan ditempatkan dalam kerangka solusi, terdakwa duduk di kursi hakim, dan konsep keadilan kehilangan maknanya. Netanyahu diubah citranya dan dibersihkan, sedangkan ia dikejar sebagai penjahat perang di Mahkamah Pidana Internasional.


Di sinilah letak bahaya "melegitimasi" penjajahan, yang melanjutkan penjajah dalam kerangka kesepakatan yang "disepakati" yang bukan memaksanya untuk menarik diri. Hal ini memungkinkan penjajah untuk mengubah yang "sementara" menjadi "permanen," sementara rakyat Palestina dan perlawanan mereka dihukum dan dilucuti senjatanya.


Masalah dalam negeri dan gejolak kebijakan luar negeri Trump tidak menciptakan lingkungan yang kondusif bagi keberhasilan "Dewan Perdamaian"-nya.


Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The New York Times pada 23 Januari 2026, David Brooks menunjuk setidaknya empat “Unravelings” pengrusakan yang berdampak pada Amerika dan dunia, dengan Trump sendiri sebagai pemicu utamanya:


Runtuhnya tatanan internasional.


Runtuhnya stabilitas dalam negeri Amerika.


Disintegrasi sistem demokrasi Amerika.


Runtuhnya akal Presiden Trump, seperti yang dikatakan Brooks.


Sejak menjabat sebagai presiden, Trump tanpa henti telah mengacaukan sistem dalam negeri Amerika dan memicu konflik di arena global, semuanya demi mengejar visi nasionalis populisnya.


Situasi ini menghalangi persyaratan minimum agar "Dewan Perdamaian" dapat beroperasi secara sistematis, stabil, dan efektif. Lebih lanjut, dalam waktu sekitar sembilan bulan, Trump akan menghadapi pemilihan paruh waktu, di mana jajak pendapat menunjukkan kemungkinan besar Partai Republiknya akan kehilangan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini semakin mempersulitnya untuk menegakkan visinya.



Prediksi Masa Depan


Tampaknya tidak akan ada yang menentang pembentukan Dewan Perdamaian oleh Trump. Banyak negara Arab, Islam, dan negara lain akan berpartisipasi, karena berbagai alasan, tetapi pada dasarnya, mereka tidak percaya pada kediktatoran Trump atau haknya untuk memimpin dunia dan membangun tatanan dunia baru.


Namun, pekerjaannya akan berlanjut dalam waktu dekat, karena kepentingan beberapa pihak bertemu. Hal ini memberi entitas negara Zionis penjajahan tanpa kewajiban, Amerika Serikat pengaruh tanpa biaya, dan banyak rezim Arab dan Islam kesempatan untuk meminggirkan perlawanan dan melemahkan "Islam politik." Hal ini juga memungkinkan banyak rezim di seluruh dunia untuk menghindari rasa malu di hadapan rakyat mereka sendiri.


Mungkin beberapa negara Arab dan Islam akan lebih memilih untuk berpartisipasi dalam upaya untuk mempengaruhi dan mengarahkan jalannya peristiwa dari dalam Dewan, dan untuk memanfaatkan ruang lingkup yang tersedia untuk memberi layanan kepada rakyat Palestina.


Di sisi lain, kondisi "penyerbuan" akan terus berlanjut, dengan pihak negara Zionis bertekad untuk mempertahankan hegemoni mereka, dan pihak Palestina bersikeras pada hak-hak politik mereka dan menolak untuk melucuti senjata perlawanan. Oleh karena itu, situasi akan berfluktuasi antara gelombang ketegangan dan terobosan relatif dalam masuknya bantuan dan material rekonstruksi, serta penataan ulang taktis bagi penjajahan.


Dari perspektif Palestina, akan ada penghindaran konfrontasi dengan Dewan Perdamaian dan mekanismenya, penerimaan pragmatis terhadap jasanya, mengizinkan komite teknokrat untuk beroperasi, upaya untuk mengaktifkan aktivisme akar rumput dan kerangka kerja serikat pekerja, menerapkan ritme lokal yang realistis pada struktur aksi, dan berupaya mengatasi konflik faksional.



Skenario Masa Depan untuk Dewan Perdamaian


Skenario Satu: Keberhasilan Formal yang Terbatas: Berdasarkan momentum Amerika dan kerja sama Arab dan Islam untuk mencoba mencapai keberhasilan dalam beberapa aspek, khususnya mengenai bantuan dan rekonstruksi; dan pembentukan lembaga administrasi dan keamanan;; sementara itu, lambatnya dan kemunduran dalam hal rekonstruksi, penarikan diri negara Zionis, dan pelucutan senjata perlawanan terus berlanjut.


Hal ini disertai dengan upaya dari kekuatan global seperti Tiongkok, Rusia, dan negara-negara Eropa yang berpengaruh untuk membatasi kerja Dewan hanya di Jalur Gaza.


Skenario Kedua: Erosi Bertahap: Karena hambatan dan kekurangan yang disebutkan pada poin-poin sebelumnya, meningkatnya krisis dan masalah internal serta eksternal yang dihadapi Trump, dan ketidakmampuannya untuk bergerak maju dengan visinya untuk Gaza dan kawasan tersebut; ditambah dengan upaya kekuatan internasional utama untuk melemahkan Dewan dan mengosongkannya dari isinya.


Hal ini disertai dengan peran yang saling bertentangan di antara para aktor, meningkatnya pemerasan dan penghambatan negara Zionis, pendanaan yang lemah, meningkatnya kemarahan dan frustrasi Palestina, kegagalan untuk melucuti senjata perlawanan, dan penurunan antusiasme Arab serta perhatian media.


Akibatnya, Dewan secara bertahap kehilangan daya tarik dan kepentingannya, akhirnya memudar. Dengan demikian, kemungkinan konfrontasi antara penjajah negara Zionis dan perlawanan meningkat.


Skenario ketiga: Pembagian peran dan kepentingan: Kepentingan Tiongkok dan Rusia selaras dengan kepentingan Trump dalam menghindari tatanan global dan sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, menciptakan lingkungan global yang didasarkan pada "kekuasaan dan kepentingan diri sendiri." Hal ini akan digunakan untuk mencapai kesepakatan, misalnya dengan Tiongkok yang menguasai Taiwan, Rusia mencapai tujuannya di Ukraina, dan Trump mengejar agendanya di Amerika, Greenland, dan Timur Tengah.


Hal ini mungkin disertai dengan taruhan Tiongkok dan Rusia bahwa keuntungan Trump kemungkinan besar bersifat sementara karena ketidakmampuannya untuk mempertahankan kebijakannya dan berbagai tantangan yang dihadapinya, sementara keuntungan Tiongkok dan Rusia akan lebih "kokoh" dan lebih mungkin bertahan lama.


Dalam hal ini, tekanan terhadap Gaza dan kawasan tersebut mungkin meningkat, mendorong mereka menuju proses penyelesaian dan "Kesepakatan Abraham." Namun, hal ini secara bersamaan akan memicu frustrasi dan kemarahan rakyat di kawasan tersebut dalam jangka menengah dan panjang.


Skenario ini, meskipun tidak mungkin, mengingatkan pada kondisi yang berlaku pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebelum Perang Dunia I, ketika sistem yang disebut "Keseimbangan Kekuatan Kolonial" menyebar, mendistribusikan negara-negara yang lebih lemah di antara kekuatan kolonial utama.


Bagaimanapun, Dewan Perdamaian mengandung banyak benih kegagalannya sendiri dan dapat membuka pintu bagi bentrokan kehendak baru, menggeser konflik ke fase baru dengan alat yang berbeda. Akibatnya, ia akan lebih mirip dengan dewan "manajemen krisis". Ia akan rentan terhadap keruntuhan dalam jangka menengah, bukan melalui kejatuhan dramatis, tetapi melalui disintegrasi dan erosi bertahap, kehilangan peran dan alasan keberadaannya.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina “آفاق مجلس ترمب للسلام.. بين منطق القوة والهشاشة البنيوية” terbit 1 Februari 2026 diakses 4 Februari 2026 07:52 https://palinfo.com/news/2026/02/01/991135/


Share:

Selasa, 03 Februari 2026

Siapa yang Keluar, Masuk, dan yang Mengelola? Pertanyaan-pertanyaan di Hari Pertama Pembukaan Kembali Gerbang Perbatasan Rafah

Ghazi Kashmeem

Diterbitkan pada 2/2/2026 - Terakhir diperbarui: 09:34 (Waktu Mekah)


Pergerakan orang melalui gerbang perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir dilanjutkan hari  Senin, di kedua arah, dengan jumlah terbatas dan pembatasan ketat, setelah tentara negara Zionis mengumumkan selesainya koridor untuk memeriksa mereka yang memasuki Jalur Gaza.


Laporan ini menyoroti detail terpenting yang muncul mengenai prosedur yang berlaku di gerbang perbatasan tersebut.



Siapa yang Diizinkan Keluar?


Menurut Lembaga Penyiaran negara Zionis, hanya warga Gaza yang diizinkan masuk dan keluar pada tahap ini, dengan kapasitas awal sekitar 200 orang per hari. Perkiraan menunjukkan bahwa jumlah orang yang meninggalkan Jalur Gaza akan melebihi jumlah orang yang masuk, menurut perusahaan tersebut. negara Zionis akan menyetujui terlebih dahulu daftar orang-orang yang meninggalkan Gaza.


Pihak berwenang menjelaskan bahwa 150 warga Gaza akan meninggalkan Jalur Gaza setiap hari, dan misi Eropa - yang akan mengoperasikan gerbang perbatasan tersebut - akan mengirimkan daftar nama 150 warga Gaza yang ingin meninggalkan Jalur Gaza ke Mesir, termasuk tujuan akhir mereka, dan pihak Mesir berhak untuk menyetujui atau menolak permintaan tersebut.



Siapa yang diizinkan masuk?


Sementara itu, otoritas Mesir akan mengirimkan daftar harian berisi 50 warga Gaza yang ingin memasuki Jalur Gaza. Setelah pemeriksaan keamanan, mereka akan diizinkan masuk pada hari berikutnya.


Mereka yang meninggalkan Gaza selama perang akan dapat kembali setelah berkoordinasi dengan Mesir dan mendapat persetujuan keamanan negara Zionis. Misi Eropa akan melakukan penyaringan awal terhadap mereka yang akan melakukan perjalanan, diikuti oleh prosedur lebih lanjut di perbatasan yang dikendalikan militer.


Prosedur negara Zionis, setelah mendapat persetujuan sebelumnya, termasuk mengangkut yang melakukan perjalanan yang tiba dengan bus ke pos pemeriksaan negara Zionis. Di sana, akan dilakukan pemeriksaan keamanan, termasuk pengenalan wajah dan pemeriksaan fisik, untuk memastikan bahwa tidak ada peralatan atau material yang tidak sah yang dibawa masuk ke Jalur Gaza.


Wartawan asing tidak akan diizinkan masuk ke Gaza pada tahap ini.



Siapa yang akan mengelola penyeberangan tersebut?


Tentara negara Zionis mengumumkan bahwa gerbang perbatasan tersebut akan diberi nama "Regavim" dan akan dikelola oleh pasukan keamanan negara Zionis. Pasukan keamanan akan memeriksa identitas mereka yang datang dengan membandingkannya dengan daftar yang disetujui oleh dinas keamanan negara Zionis. Penyeberangan tersebut akan dioperasikan oleh staf Palestina di bawah pengawasan Eropa.


Komite teknokrat, yang dikenal sebagai Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, diperkirakan akan memasuki Jalur Gaza melalui penyeberangan tersebut dalam beberapa hari mendatang.


Tentara negara Zionis menyatakan bahwa gerbang perbatasan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kontrol keamanan di wilayah tersebut. Sementara itu, sumber-sumber negara Zionis mengatakan bahwa komite teknokrat akan memasuki Jalur Gaza melalui Rafah dalam beberapa hari.



Apa saja kritik utamanya?


Prosedur negara Zionis telah mengubah impian lebih dari 22.000 orang yang sakit dan terluka untuk meninggalkan Jalur Gaza menjadi mimpi buruk birokrasi dan keamanan yang diciptakan oleh penjajah.


Terdapat kesenjangan yang lebar antara kebutuhan medis mendesak para pasien dan korban luka di Gaza dan pembatasan keamanan yang diberlakukan negara Zionis dalam kerangka pembukaan kembali perbatasan.


Perkiraan negara Zionis membatasi pergerakan harian awal individu yang meninggalkan Gaza melalui perbatasan hanya sekitar 150 orang, sementara Ismail al-Thawabta, direktur Kantor Media Pemerintah di Gaza, menyatakan bahwa sekitar 22.000 pasien dan korban luka di Jalur Gaza sangat membutuhkan perawatan di luar negeri dan memiliki rujukan medis lengkap.


Mengingat situasi ini, dibutuhkan waktu 147 hari, atau sekitar lima bulan, bagi semua pasien dan korban luka tersebut untuk meninggalkan Gaza.


Lebih lanjut, pembukaan kembali perbatasan berfokus pada pergerakan individu tanpa mengatasi kebutuhan mendesak warga Jalur Gaza, yang menurut perkiraan, membutuhkan setidaknya 600 truk berisi bantuan setiap hari.


Juru bicara Ham4s, Hazem Qassem, menyatakan bahwa setiap halangan atau prasyarat negara Zionis terkait gerbang perbatasan Rafah akan merupakan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata, dan menyerukan kepada para mediator dan negara-negara penjamin untuk memantau perilaku penjajah negara Zionis di gerbang perbatasan Rafah.


Sumber: Al Jazeera + Kantor-kantor Berita.


Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net “من يغادر ومن يدخل ومن يدير؟ أسئلة اليوم الأول لفتح معبر رفح” terbit 2 Februari 2026 diakses 3 Februari 2026 08:24  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/2/%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%BA%D8%A7%D8%AF%D8%B1-%D9%88%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%AF%D8%AE%D9%84-%D9%88%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%AF%D9%8A%D8%B1-%D8%A3%D8%B3%D8%A6%D9%84%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%A3%D9%88%D9%84



Share:

Senin, 02 Februari 2026

Pembongkaran dan Penggusuran di Silwan: Otoritas Penjajah Mengeluarkan Perintah Pembongkaran terhadap 14 Rumah di Kelurahan Al-Bustan

Foto: Pusat Informasi Palestina

Ahad,1 Februari 2026, 21:06 - Pusat Informasi Palestina - Dalam eskalasi baru, otoritas Penjajah negara Zionis mengeluarkan perintah pembongkaran hari Ahad terhadap 14 rumah di kelurahan Al-Bustan di Silwan, selatan kompleks Masjid Al-Aqsa, dengan dalih tidak memiliki IMB. Ini adalah bagian dari kebijakan sistematis yang menargetkan eksistensi warga Palestina di sekitar Al-Aqsa.


Pemerintahan kota Al-Quds menyatakan dalam siaran pers hari Ahad bahwa rumah-rumah yang akan dibongkar tersebut dihuni oleh keluarga-keluarga kota Al-Quds, dan bahwa penargetan ini adalah bagian dari rencana negara Zionis untuk mengubah lahan di kelurahan Al-Bustan menjadi apa yang disebut oleh otoritas Penjajah sebagai "taman-taman alkitabiah"


Pemerintah daerah memperingatkan bahwa langkah ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hak kepemilikan dan perumahan, mengancam masa depan sekitar 120 warga kota Al-Quds, di tengah kebijakan penguasaan lahan yang terus berlanjut yang menargetkan tanah dan rumah mereka, beberapa di antaranya telah berdiri sejak beberapa dekade.


Pemerintah daerah mencatat bahwa surat perintah ini merupakan bagian dari serangkaian aksi yang terus menegangkan kelurahan tersebut, menjelaskan bahwa pemerintah kota yang dijajah telah memberitahu pada Januari lalu tentang niatnya untuk menyita lahan yang luas di kelurahan Al-Bustan.


Pemerintah daerah mengklarifikasi bahwa perintah penyitaan mencakup sekitar 5,7 dunam pada tanggal 1 Januari, ditambah 1 dunam dan 100 meter pada tanggal 18 Januari, dengan dalih melaksanakan proyek "lanskap dan parkir" di lahan yang diklaim kosong oleh Penjajah.


Dijelaskan bahwa tanah-tanah ini adalah milik rumah-rumah Palestina di kota Al-Quds yang dihancurkan selama tahun 2025, dan menganggap ini sebagai manifestasi nyata dari kebijakan "tanah kosong", yang digunakan sebagai alat hukum palsu untuk melegitimasi penyitaan dan memaksakan realitas kolonial permanen.


Pemerintah Provinsi kota Al-Quds menegaskan bahwa penargetan kelurahan Al-Bustan termasuk dalam rencana negara Zionis yang lebih luas untuk men-Yahudikan kota Al-Quds, berdasarkan perubahan realitas demografis yang menguntungkan para pemukim dan memperketat kendali geografis atas wilayah di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa.


Pemerintah Provinsi kota Al-Quds menekankan bahwa kota Silwan mewakili sabuk pertahanan selatan Al-Aqsa dan penjaga historis tembok-temboknya, dan bahwa setiap pelanggaran terhadapnya merupakan serangan langsung terhadap status quo historis dan hukum di Kota Suci tersebut.


Dijelaskan bahwa sekitar 1.500 warga kota Al-Quds saat ini tinggal di kelurahan Al-Bustan, di sekitar 120 rumah, dan menghadapi serangan sistematis dan beragam dalam bentuk ancaman langsung pembongkaran.


Dijelaskan bahwa sekitar 80% rumah di kelurahan tersebut diklasifikasikan sebagai terancam pembongkaran dan dikenai perintah pembongkaran segera berdasarkan apa yang dikenal sebagai "Hukum Kaminetz," termasuk perpanjangan denda untuk rumah-rumah yang pemiliknya telah membayarnya sebelum tahun 2017.


Kelurahan Al-Bustan telah menyaksikan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak 7 Oktober 2023, yang meliputi pelarangan shalat di tenda-tenda protes yang didirikan oleh warga dan kemudian dibongkar, dilarang adanya liputan media dan kegiatan asosiasi lokal, serta pembongkaran lebih dari 35 rumah sejak tanggal tersebut. Ini merupakan tambahan dari kebijakan tekanan harian sistematis yang mencakup penutupan jalan, pendirian pos pemeriksaan militer, penangkapan sewenang-wenang, pengenaan pajak kota yang sangat tinggi, dan peran semi-resmi para pemukim dalam melecehkan warga melalui fotografi, pengajuan gugatan pembongkaran, dan menciptakan suasana intimidasi yang terus-menerus.


Diterjemahkan dari situs Pusat Informasi Palestina, “هدم وتهجير في سلوان: الاحتلال يُخطر 14 منزلًا بالهدم في حيّ البستان” terbit 1 Februari 2026 diakses 2 Februari 2026  https://palinfo.com/news/2026/02/01/991203/


Share:

Minggu, 01 Februari 2026

Penyeberangan Rafah Dibuka: Apa yang Kita Ketahui Tentang Mekanisme Operasional dan Pemeriksaan Keamanannya?

1 Februari 2026 - Terakhir diperbarui: 10:09 AM (Waktu Mekah)

Media negara Zionis mengumumkan pembukaan penyeberangan Rafah secara terbatas untuk uji coba, dengan kehadiran perwakilan dari Uni Eropa dan Mesir. Lalu lintas penumpang aktif dijadwalkan akan dimulai di perbatasan tersebut besok, Senin.


Channel 12 mengutip sumber keamanan yang mengatakan bahwa beberapa orang mungkin diizinkan untuk menyeberang dari Rafah ke Mesir hari ini – untuk pertama kalinya sejak tentara negara Zionis mengambil alih kendali pada Mei 2024 – tetapi jumlahnya tidak akan melebihi 150 orang.


Sebelumnya, Channel 15 mengutip seorang pejabat keamanan yang mengatakan bahwa "Mesir telah memberikan daftar pelancong pertama kepada pihak negara Zionis untuk menerapkan pemeriksaan keamanan," yang mengkonfirmasi bahwa 150 orang dijadwalkan meninggalkan Jalur Gaza pada hari Senin, sementara 50 orang lainnya akan masuk setiap hari.


Penyeberangan Rafah adalah satu-satunya penyeberangan darat yang menghubungkan Gaza ke dunia luar tanpa melewati negara Zionis. Penyeberangan ini terletak di wilayah yang masih dikuasai negara Zionis sejak Mei 2014, dan sempat dibuka kembali pada awal 2015.


Sumber-sumber di perbatasan mengatakan kepada AFP bahwa hari Ahad akan terutama didedikasikan untuk persiapan dan masalah logistik, khususnya kedatangan delegasi Otoritas Palestina. Mereka menambahkan bahwa, "sebagai uji coba," perlintasan warga Palestina yang terluka juga akan diizinkan, menurut tiga sumber lain di perbatasan tersebut.


Sumber-sumber ini menyatakan bahwa "belum ada kesepakatan yang tercapai mengenai jumlah warga Palestina yang diizinkan masuk dan keluar," menjelaskan bahwa Mesir bermaksud untuk mengizinkan masuknya "semua warga Palestina yang diizinkan negara Zionis untuk keluar."


Sementara itu, Perusahaan Penyiaran negara Zionis (IBC) mengkonfirmasi bahwa negara Zionis akan mengizinkan anggota komite teknokrat untuk memasuki Gaza dalam beberapa hari mendatang melalui gerbang perbatasan Rafah, sebuah langkah yang digambarkan sebagai "isyarat niat baik terhadap Presiden AS Donald Trump."


Pemeriksaan Keamanan


Saat harapan ribuan warga Palestina yang terluka dalam perang genosida untuk bepergian ke luar negeri guna mendapatkan perawatan, dan puluhan ribu orang di luar Gaza yang mendambakan kepulangan, harapan ini pupus oleh pembatasan, komplikasi, dan syarat tambahan yang diberlakukan oleh Perdana Menteri negara Zionis Benjamin Netanyahu.


Menurut Otoritas Kesehatan Gaza, sekitar 20.000 warga Palestina yang sakit saat ini menunggu untuk meninggalkan Jalur Gaza untuk mendapatkan perawatan di Mesir. Di antara mereka terdapat 440 kasus kritis yang nyawanya terancam. Ada juga sekitar 4.000 pasien kanker dan 4.500 anak-anak dalam daftar tunggu darurat.


Netanyahu bersikeras untuk mengubah perlintasan tersebut dari fasilitas kemanusiaan menjadi "platform pemeriksaan keamanan." Siapa pun yang ingin masuk atau keluar dari Jalur Gaza akan diwajibkan untuk mendapatkan izin Mesir, dan Kairo akan mengirimkan nama-nama tersebut ke Badan Keamanan negara Zionis (Shin Bet) untuk pemeriksaan keamanan, menurut Radio Angkatan Darat negara Zionis.


Menurut Radio Angkatan Darat negara Zionis, "Mereka yang meninggalkan Gaza tidak akan dikenai pemeriksaan keamanan negara Zionis, tetapi hanya akan diperiksa oleh anggota misi Uni Eropa dan warga Gaza yang bekerja atas nama Otoritas Palestina."


Laporan tersebut melanjutkan, "negara Zionis mengawasi proses tersebut dari jarak jauh, dengan seorang petugas keamanan di pos pemeriksaan memantau pergerakan mereka yang berangkat ke Mesir menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk memastikan bahwa mereka yang pergi memang memiliki izin."


Ditambahkan, "Dengan menggunakan tombol kendali jarak jauh, gerbang dapat dibuka dan ditutup. Jika terjadi upaya penyelundupan individu yang tidak berwenang, keluarnya mereka akan dicegah."


Masuk ke Gaza akan lebih ketat, tunduk pada mekanisme inspeksi negara Zionis. "Setiap orang yang masuk melalui perbatasan selanjutnya akan menuju pos pemeriksaan tentara negara Zionis," lapor stasiun radio tersebut.


Radio tersebut menjelaskan bahwa pada titik ini, "orang akan menjalani pemeriksaan menyeluruh menggunakan detektor logam dan pengenalan wajah, dan tidak akan diizinkan untuk melewati garis kuning—yaitu, wilayah yang dikendalikan oleh Ham4s—sampai ia melewati titik ini."



Pembatasan Negara Zionis


Pembukaan penyeberangan hanya akan memungkinkan lewatnya individu, meskipun Jalur Gaza masih sangat membutuhkan bantuan, yang menurut organisasi kemanusiaan telah terhambat oleh pembatasan negara Zionis.


Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, mengatakan pada hari Rabu bahwa "PBB ingin penyeberangan dibuka untuk pengiriman bantuan kemanusiaan dan sektor swasta, yang sangat penting untuk pemulihan ekonomi Gaza."


Ramez Alakbarov, Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa para pekerja bantuan menghadapi "penundaan dan penolakan negara Zionis untuk memasukkan truk-truk bantuan ke gerbag perbatasan, dan akses terbatas ke rute-rute untuk mengirimkan pasokan di dalam Gaza."


Sementara itu, Presiden Komite Internasional Palang Merah, Mirjana Spoljarić, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, "Banyak orang di Gaza masih hidup di bawah reruntuhan tanpa layanan dasar, berjuang untuk menghangatkan diri dalam kondisi musim dingin yang keras."


Ia menyerukan pelonggaran pembatasan pada barang-barang "yang berfungsi ganda" seperti pipa air dan generator, "yang sangat penting untuk memulihkan infrastruktur dasar yang diandalkan masyarakat."


Pada pertengahan Januari 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan dimulainya fase kedua perjanjian gencatan senjata Gaza. Fase ini mencakup penarikan lebih lanjut militer penjajah negara Zionis dari Jalur Gaza dan dimulainya upaya rekonstruksi, yang diperkirakan oleh PBB menelan biaya sekitar $70 miliar.


Sejak perjanjian tersebut berlaku, tentara negara Zionis telah melakukan 1.450 pelanggaran, mengakibatkan 524 Palestina syahid dan sekitar 1.360 luka-luka, menurut angka terbaru dari Kantor Media Pemerintah di Gaza.


Perjanjian tersebut mengakhiri perang genosida yang dilancarkan oleh negara Zionis pada 8 Oktober 2023, yang berlangsung selama dua tahun dan menyebabkan lebih dari 71.000 warga Palestina syahid dan 171.000 luka-luka, selain kerusakan luas yang mempengaruhi 90% infrastruktur.


Sumber: Al Jazeera + kantor-kantor berita.


diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net, “معبر رفح يفتح أبوابه.. ماذا نعرف عن آليات تشغيله وإجراءات الفحص الأمني؟” terbit 1 Februari 2026 diakses 1 Februari 2026 14:28  https://www.aljazeera.net/news/2026/2/1/%D9%85%D8%B9%D8%A8%D8%B1-%D8%B1%D9%81%D8%AD-%D9%8A%D9%81%D8%AA%D8%AD-%D8%A3%D8%A8%D9%88%D8%A7%D8%A8%D9%87-%D8%A7%D9%84%D9%8A%D9%88%D9%85-%D9%85%D8%A7%D8%B0%D8%A7-%D9%86%D8%B9%D8%B1%D9%81



Share: