About
Senin, 10 Februari 2025
Sabtu, 08 Februari 2025
Rasionalitas Sharaa
Rasionalitas Sharaa
Oleh: Tariq Al-Homayed
Jurnalis dan penulis Saudi, serta mantan pemimpin redaksi surat kabar Asharq Al-Awsat
Sejak Bashar al-Assad meninggalkan Suriah dan Ahmad al-Sharaa datang di Damaskus, dan akhirnya dinyatakan sebagai presiden, setiap pidato dan wawancara yang ia sampaikan, baik yang disiarkan di televisi maupun di media cetak, mencerminkan tingkat rasionalitas yang belum pernah dilihat Suriah selama setengah abad.
Presiden Sharaa telah diwawancarai oleh media Barat dan Arab. Semuanya substantif. Tidak seperti si kriminal Assad, yang mampu berbicara selama tiga jam tanpa mengatakan sesuatu yang layak didengar, ia sama sekali menghindari pernyataan berulang-ulang yang tidak berarti.
Sharaa sedang berenang bersama hiu, atau melintasi ranjau darat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ia harus menghadapi tantangan yang datang dari Iran hingga Israel, dari Lebanon hingga Irak, dan dengan negara-negara Arab yang enggan mendukung Suriah.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa keraguan orang-orang Arab berasal dari kekhawatiran atas "Islam politik" Sharaa bersama para sekutunya. Namun, berbagai aktor regional telah bersekutu dengan Ikhwanul Muslimin, Hamas, Hizbullah, dan lainnya, bahkan berusaha mengakomodasi mereka.
Terlepas dari semua risiko ini, Sharaa telah berhasil berkomunikasi dengan baik, dengan rakyat Suriah, serta dengan Arab Saudi, Yordania, dan, tentu saja, Turki. Ia juga meyakinkan Irak melalui rekaman pesan video, berinteraksi dengan para pemimpin Eropa, dan memamerkan keterampilan diplomatik menteri luar negerinya di Davos. Sekarang, Sharaa berupaya membuka babak baru dengan Amerika Serikat.
Pendekatan Sharaa yang masuk akal terbukti dalam cara ia menangani Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan responnya terhadap berbagai kritikan setelah jatuhnya Assad. Misalnya, ia telah menguraikan peta jalan yang jelas bagi pembentukan pemerintahan baru dan penyelenggaraan pemilu. Pernyataan-pernyataannya tentang Israel juga mencerminkan pragmatisme ini, tatkala dia telah mencoba meredakan permusuhan Israel terhadap Suriah yang baru.
Pendekatannya yang membumi juga terbukti di negara-negara yang telah ia pilih untuk dikunjungi. Arab Saudi adalah tujuan kunjungan luar negeri pertamanya, diikuti Turki, yang menunjukkan bahwa ia memahami keseimbangan regional dan tahu cara memainkan permainan dengan cara yang memaksimalkan pengaruh Suriah. Penekanannya untuk tidak mencari bantuan dari Teluk, tetapi lebih memilih pada kemitraan - sebuah keistimewaan yang mendasar - adalah sangat penting.
Apakah ini menyiratkan bahwa ia harus diberi dukungan tanpa syarat? Cek kosong? Saya tidak akan menyembunyikan fakta bahwa saya telah menganjurkan dukungan yang tak tergoyahkan untuk Suriah dan perjuangannya - jatuhnya rezim Assad - sepanjang karier jurnalistik saya. Akan tetapi, ini bukan masalah sentimen atau sikap jurnalistik.
Sikap saya berakar pada prinsip dasar: Suriah harus tetap menjadi negara Arab. Mengembalikan Suriah ke dalam pangkuan Arab akan mengekang ekspansionisme Iran dan melawan proyeknya untuk mengekspor revolusinya. Dukungan harus diberikan kepada individu. Kita harus mendukung proyek politik yang menjamin keamanan, stabilitas, dan kohesi sosial regional, serta meredakan ketegangan sektarian.
Sejauh ini, Sharaa telah menunjukkan pendekatan yang membumi yang belum pernah kita lihat dari Bashar al-Assad, Hamas, Hizbullah, atau bahkan para pesaingnya di Lebanon. Para pemimpin yang memproklamirkan diri sendiri juga tidak menunjukkan pragmatisme yang sama.
Oleh karena itu, tidaklah bijaksana untuk menyia-nyiakan kesempatan bersejarah yang telah muncul di Suriah. Alih-alih bersaing untuk mendapatkan pengaruh, kekuatan regional harus berinvestasi untuk memastikan bahwa Damaskus memainkan peran utama dalam stabilitas daripada konspirasi. Kesalahan perebutan kekuasaan yang kita lihat di Lebanon tidak boleh terulang. Kesalahan itu sendiri merupakan kisah yang panjang dan penuh peringatan.
Beberapa pihak di kawasan kami telah membuang-buang waktu bertahun-tahun dan sumber daya yang besar untuk mencoba membujuk Assad agar mengakhiri kekerasan dan menjauhkan diri dari Iran. Saat ini, Suriah sudah jauh dari orbit Iran. Pengaruh Rusia telah memudar, dan negara itu semakin dekat dengan dunia Arab daripada sebelumnya. Ya, Turki telah mendapatkan pijakan di sana, tetapi tetap menjaga hubungan yang seimbang dengan negara-negara Arab.
Prioritas saat ini adalah mendukung dan berinvestasi dalam pendekatan rasional Sharaa. Hingga kita melihat tanda-tanda sebaliknya, ini adalah kesempatan yang telah kita dan rakyat Suriah tunggu selama hampir lima puluh tahun (KHO).
—-
Sumber:
https://english.aawsat.com/opinion/5108843-sharaa%E2%80%99s-rationality
Rabu, 05 Februari 2025
Fitur Fase Baru Konflik Pasca Badai Al Aqsa
Fitur Fase Baru Konflik Pasca Badai Al Aqsa
Oleh: Dr. Sa’id Al Haaj
Penulis dan peneliti Palestina
Aljazeera - 04 Februari 2025
Perang atas Gaza terakhir tidak berbeda dari perang-perang sebelumnya, tidak saja dari segi durasi dan kerugian manusia dan material secara langsung, tetapi juga dari sisi hasil keseluruhan, implikasinya secara dalam, dan dampak jangka panjang, yang menempatkan seluruh wilayah di hadapan fase yang benar-benar berbeda, terutama berkaitan dengan konflik dengan penjajah.
Hasil
Laporan awal menunjukkan bahwa penjajah kehilangan lebih dari 900 perwira dan prajuritnya selama perang ini, ditambah ratusan orang yang mereka kategorikan sebagai warga sipil, yang merupakan jumlah tertinggi sejak perang tahun 1973. Selain kerusakan mendalam pada ekonomi yang membutuhkan beberapa paket bantuan keuangan langsung dan besar dari Amerika Serikat. Belum lagi gelombang migrasi balik, dan hilangnya rasa aman yang dirasakan banyak orang di "Israel", khususnya para pemukim Yahudi di Jalur Gaza dan wilayah utara.
Sebaliknya, perkiraan menunjukkan bahwa jumlah syuhada yang telah gugur di Jalur Gaza telah melampaui 60.000, sekitar 60% di antaranya adalah wanita dan anak-anak, dan sekitar 11.000 syuhada masih berada di bawah reruntuhan hingga saat ini.
Terkait infrastruktur, dapat dikatakan bahwa penjajah telah menghancurkan infrastruktur lebih dari separuh Jalur Gaza, terutama lembaga-lembaga pemerintahan dan sektor kesehatan, selain juga menghancurkan sebagian besar rumah baik secara keseluruhan maupun sebagian.
Terkait gerakan perlawanan, Hamas berkabung atas gugurnya banyak pemimpin politiknya pasca gencatan senjata, terutama kepala biro politiknya, Ismail Haniyeh, wakilnya, Saleh al-Arouri, dan kemudian (sebelumnya pimpinan Hamas di Gaza) Yahya Sinwar, dan sebagian besar anggota biro politiknya di Gaza, di samping sejumlah pemimpinnya di Tepi Barat dan luar negeri, serta para pemimpin faksi Palestina lainnya.
Di sisi militer, juru bicara Brigade Al Qassam, Abu Ubaida, berduka cita atas syahidnya Kepala Staf, Muhammad al-Deif, wakilnya Marwan Issa, komandan tiga brigade, dan sejumlah kepala staf, selain perkiraan gugurnya sejumlah besar pemimpin menengah dan ratusan/ribuan pejuang di Brigade Qassam dan faksi-faksi perlawanan lainnya.
Tantangan Besar
Meskipun Gaza mengalami kerugian dan pengorbanan, penjajah menghentikan agresinya tanpa meraih tujuan-tujuan luas yang dideklarasikannya, seperti melenyapkan perlawanan, mencegah bahaya yang ditimbulkannya, dan memulangkan tawanannya dengan operasi militer. Selain hasil-hasil strategis jangka panjang dari perang tersebut dan yang terkait dengan pencegahan, ketegasan, kemampuan, kohesi internal, dan citra "Israel" di hadapan dunia, serta keunggulannya di kawasan, dan hal-hal lain yang saya uraikan secara rinci dalam artikel sebelumnya.
Dengan mempertimbangkan semua hal ini, dan keluarnya gerakan perlawanan Palestina dari perang ini dengan tegak berdiri di atas dua kakinya, kokoh, kohesif dan terkendali, dan rakyat tetap teguh di tanah air mereka dan rencana pemindahan digagalkan meskipun pengorbanan yang tak terlukiskan, ada tantangan besar yang menanti Gaza dan gerakan perlawanan, dan perjuangan Palestina secara umum pada tahap mendatang.
Tantangan yang paling utama adalah kemungkinan penjajah kembali melakukan agresi setelah selesainya kesepakatan pertukaran tahanan, setelah tahap pertama atau setelah semua kesepakatan selesai, yang mana telah berulang kali diutarakan oleh pernyataan “Israel” dan pernyataan lainnya yang dikaitkan dengan presiden Amerika yang baru, Di sinilah terletak urgensi pesan kekuatan dan persaingan yang dikirim oleh gerakan perlawanan dengan tanpa melebih-lebihkannya.
Pada tataran praktis, tantangan terpenting adalah operasi bantuan dan rekonstruksi, perawatan bagi yang terluka, cedera, dan sakit, dukungan bagi masyarakat, serta masalah kemanusiaan mendesak lainnya, yang mana sudah pasti “Israel” berusaha untuk memperlambat dan membatasinya. Dalam upaya untuk menjadikan lama penderitaan sebagai alat tekanan politik terhadap masyarakat Gaza dan gerakan perlawanannya, pada tahap saat ini dan dalam jangka panjang.
Ini adalah tantangan besar dan berbahaya yang tidak mampu diatasi oleh rakyat Palestina sendirian. Sebaliknya, tangan dunia Arab dan Islam harus bergabung dengan mereka secara praktis dan cepat, di samping melakukan tekanan yang diperlukan agar penjajah memenuhi kewajibannya.
Proyek pemindahan warga Gaza - sebagian maupun seluruhnya - ke luar negeri, yang berhasil digagalkan oleh warga Gaza dan gerakan perlawanan lebih dari satu kali selama perang. Keteguhan mereka khususnya di wilayah utara Gaza yang terkepung, dan kemudian adegan-adegan kepulangan mereka ke Gaza yang rumah-rumahnya telah hancur.
Namun, proyek tersebut belum sepenuhnya selesai, dan penjajah belum meninggalkannya sepenuhnya, sebagaimana yang ditegaskan kembali oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengindikasikan perlunya sejumlah negara, terutama Mesir dan Yordania, menampung warga masyarakat Gaza. Tak perlu dikatakan lagi bahwa upaya menghalangi operasi bantuan, dukungan dan rekonstruksi adalah bagian penting dari upaya menjadikan Jalur Gaza sebagai daerah yang tidak layak huni hingga menjadi salah motor bagi proyek pemindahan ini.
Secara politis, proyek-proyek penjajah yang didukung Barat terkait “hari esok” (pasca perang) Gaza, atau lainnya, belum berakhir. Namun proyek normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab sekitar dan regional khususnya perlu mendapat perhatian khusus. Operasi Badai Al Aqsa telah membekukan sementara proses normalisasi, tetapi pemerintah AS berupaya mengaktifkannya sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif.
Inti dari tujuan-tujuan di atas dan lebih banyak lagi adalah upaya-upaya berkelanjutan untuk melemahkan, mengkriminalisasi, dan meminggirkan perlawanan, menghilangkan kegunaan dan dukungannya di tengah rakyat, dan mencoba untuk membangun narasi yang menjadikannya - bukan penjajah - yang bertanggung jawab atas kerugian, pengorbanan, dan penderitaan rakyat Gaza.
Tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun perjuangan Palestina telah memperoleh banyak kemajuan dalam jangka panjang, namun melanjutkan perlawanan dengan berbagai bentuk dan metode baru yang berbeda, beraneka ragam, dan menggaungkannya di jalan-jalan Gaza pada khususnya, akan menjadi tantangan yang sangat besar.
Fase Baru
Di garis depan implikasi mendalam dari operasi 7 Oktober 2023 dan apa yang terjadi setelahnya, kemudian gencatan senjata dan pertukaran tahanan, adalah bahwa “Israel” telah kehilangan semua pilar strategi keamanannya, mulai dari pencegahan, peringatan dini, pertahanan, ketegasan, dan lain-lain. Akibatnya, mitos-mitos yang dulu dipromosikan bahwa tak seorangpun terbayang untuk menyerangnya apalagi sampai mengalahkannya kini telah runtuh.
Sebaliknya, perlawanan - dan pengasuhnya dan rakyatnya - sanggup memulihkan kerugian mereka, mencari ganti, dan membangun kembali di kemudian hari. Namun, tidak dapat disangkal bahwa Gaza membutuhkan istirahat jangka panjang untuk menyembuhkan luka-lukanya, mengatasi krisisnya dan membangun kembali dirinya, terutama karena setiap konfrontasi di masa depan mungkin dimulai langsung dari titik di mana konfrontasi saat ini berakhir, seperti yang telah terbiasa penjajah lakukan dan didorong oleh dukungan dan bantuan Barat dan diamnya bangsa Arab dan regional.
Tetapi ini tidak berarti berakhirnya konfrontasi, berakhirnya masalah, dan tidak pula tercapainya tujuan perlawanan, dalam arti yang lebih luas dan umum, secara geografis dan juga strategis.
Perang ini telah menunjukkan wajah buruk sebenarnya dari penjajahan dan apa yang disembunyikannya di kawasan secara keseluruhan, bukan hanya Gaza. Yang paling depan adalah genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang, yang seharusnya cukup bagi berbagai rezim di kawasan untuk meninjau sikap mereka terhadapnya dan hubungan mereka dengannya saat ini dan di masa mendatang.
Saat ini, “Israel”, meskipun mengalami kegagalan militer, keamanan dan politik di Gaza, kembali berupaya mewujudkan proyek “Israel Raya” dan bahkan mungkin lebih jauh lagi, melalui proyek penjajahan dan pemukiman di Tepi Barat, Lebanon selatan dan Suriah, serta menyerang Iran, Yaman dan Irak, serta proyek pemindahan warga Palestina ke Mesir dan Yordania, yang tampaknya didukung oleh Trump.
Di sisi lain, meskipun rezim belum sepenuhnya merasakan perubahan yang ditimbulkan Badai Al Aqsa, dampaknya terhadap elit dan rakyat tidak dapat diremehkan. Keteguhan Gaza dalam agresi tahun 2008 dan keberanian perlawanannya, bersama dengan sikap resmi Arab terhadapnya, merupakan salah satu motivasi terjadinya revolusi pada tahun 2010-2011. Perang ini tidak sebanding dengan agresi sebelumnya, keteguhan perlawanan, atau pengkhianatan resmi.
Salah satu konsekuensi paling penting dari Badai Al Aqsa adalah masalah kesadaran; Semua orang menyadari realitas "Israel" dan apa yang disembunyikannya kepada seluruh kawasan, bukan hanya terhadap rakyat Palestina kapan pun ia mampu, dan sekarang, khususnya dengan Trump, dia menyangka akan mampu membuat berbagai perubahan radikal.
Pada akhirnya, dan dalam jangka menengah dan panjang, semua pihak akan berbenturan dengan penjajah, baik karena pilihan atau dengan paksaan, mengikuti waktu mereka sendiri atau waktu penjajah. Sesungguhnya fakta, peristiwa dan celah yang terungkap akibat perang berkontribusi untuk membangun kesadaran baru di seluruh wilayah dan di semua tingkatan, sebagaimana rencana yang dikeluarkan oleh "Israel" meramalkan perubahan radikal untuk seluruh wilayah, yang mengharuskan setiap orang untuk mengemban tanggung jawabnya masing-masing.
Penjajah telah melakukan kejahatan genosida dalam makna seutuhnya terhadap Gaza, rakyatnya, batu-batunya, pohon-pohonnya, dan di semua tingkatan, tetapi itu tidak dapat mematahkan tekad rakyat Palestina. Perlawanan menang, idenya mengakar, dan modelnya menjadi mantap. Hal ini dilihat dan dipahami oleh rakyat Palestina, dan juga oleh “orang-orang Israel,” dan semua orang di kawasan ini dan di dunia.
Perang ini penuh dengan banyak pelajaran yang mendalam, beberapa di antaranya telah terungkap dan yang lainnya akan terungkap seiring berjalannya waktu, berkontribusi pada interaksi dengan data dan fakta lain untuk menetapkan dampak jangka panjang Badai Al Aqsa terhadap negara penjajah, isu Palestina, dan seluruh kawasan secara sama.
Kesimpulannya, Israel tidak mampu menggusur rakyat (Gaza) atau melenyapkan perlawanan, dan dengan demikian gagal membumihanguskan masalah Palestina. Ini membawa Israel dan seluruh kawasan ke dalam fase baru dan berbeda dari konflik dengannya, yang ciri-ciri, poros dan dinamikanya akan menjadi semakin jelas seiring berjalannya waktu dan terungkapnya fakta-fakta.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini belum tentu mencerminkan sikap editorial Al Jazeera Network.(KHO)
Sumber:
Kamis, 25 April 2024
Mengkaji Ulang Strategi AS di Timur Tengah: Kebangkitan Iran dan Bayang-bayang Ancaman Tiongkok
Oleh Hamid Bahrami
Dalam kompleksitas geopolitik global, serangan rudal baru-baru ini oleh Iran terhadap sasaran Israel menandai perubahan penting dalam paradigma keamanan Timur Tengah. Peristiwa ini, bukannya sebagai tindakan pencegahan, namun justru menandakan adanya keseimbangan keamanan baru di kawasan, yang sangat condong ke arah Iran. Pergeseran ini memerlukan penilaian ulang yang mendalam terhadap kebijakan luar negeri AS, khususnya mengingat tantangan strategis yang lebih luas yang ditimbulkan oleh meningkatnya kekuatan Tiongkok.
Serangan rudal Iran pada tanggal 14 April bukan sekadar serangan episodik di kawasan tersebut. Dia mewakili demonstrasi yang diperhitungkan atas peningkatan kemampuan militer Iran dan kesediaannya untuk secara langsung menghadapi kepentingan Israel. Tindakan ini secara efektif telah membatalkan kelayakan strategis koridor IMEC, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk membangun zona ekonomi dan keamanan yang dapat melawan pengaruh Iran di samping ambisi regional Rusia dan Tiongkok. Dengan kegagalan koridor tersebut, Amerika berada di persimpangan jalan dan memerlukan pendekatan baru terhadap stabilitas regional dan prioritas strategis globalnya.
Teori politik internasional realis John Mearsheimer menawarkan sebuah lensa untuk melihat perkembangan ini. Menurut Mearsheimer, negara-negara pada dasarnya termotivasi oleh upaya mengejar kekuasaan di dunia yang anarkis, di mana negara-negara besar mau tidak mau bersaing untuk menjadi kekuatan yang dominan. AS, dalam pandangan Mearsheimer, harus fokus secara strategis untuk melawan pengaruh Tiongkok, pesaing AS yang paling tangguh di panggung global. Namun, keterlibatan Amerika di Timur Tengah, khususnya dukungan membabi buta terhadap aksi Israel di bawah Perdana Menteri Netanyahu, menunjukkan kesalahan dalam mengalokasikan sumber daya dan fokus strategis secara signifikan.
Veto pemerintahan Biden baru-baru ini terhadap resolusi PBB yang mengakui status kenegaraan Palestina semakin menggambarkan kesalahan langkah ini. Tindakan ini, meskipun dimaksudkan untuk mendukung sekutunya, secara paradoks telah memperkuat posisi Iran di dunia Arab dan mengikis posisi AS di antara sekutu-sekutu tradisional Arabnya. Dengan terlihat memihak Israel tanpa syarat, AS melemahkan kredibilitas dan pengaruhnya di kawasan, dan secara tidak sengaja juga menguntungkan Rusia dan Tiongkok.
Sementara itu, Tiongkok telah memanfaatkan gangguan ini untuk memperkuat posisi ekonomi dan militernya secara global. Investasi strategisnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serta perannya dalam menengahi pembicaraan antara Arab Saudi dan Iran, menunjukkan visi jangka panjang yang bertujuan untuk memposisikan diri sebagai kekuatan penstabil dan alternatif yang layak terhadap hegemoni AS. Saat AS melebarkan tenaganya ke dalam permasalahan di Timur Tengah, Tiongkok secara diam-diam meningkatkan pengaruh globalnya, khususnya di kawasan yang penting bagi kepentingan strategis AS, seperti Laut Cina Selatan dan Indo-Pasifik.
Mengingat realitas baru di lapangan, AS harus mengubah strateginya tidak hanya untuk mengatasi dampak langsung dari meningkatnya kekuatan Iran tetapi juga untuk memfokuskan kembali pada kawasan Indo-Pasifik, di mana tantangan nyata terhadap supremasi AS dari Tiongkok semakin besar. Pembentukan negara Palestina yang merdeka muncul sebagai komponen penting dari strategi ini. Langkah tersebut akan memiliki beberapa fungsi strategis: menenangkan sekutu AS di dunia Arab, melemahkan landasan ideologis kelompok seperti Hamas, dan mengurangi pengaruh Iran terhadap proksi regionalnya.
Selain itu, mengadvokasi kedaulatan Palestina sejalan dengan norma-norma internasional yang lebih luas dan dapat membantu memulihkan kredibilitas AS dalam hal hak asasi manusia dan resolusi konflik. Hal ini juga akan memberikan sinyal kepada sekutu dan musuh bahwa AS mampu mengadaptasi strateginya dalam menanggapi perubahan dinamika geopolitik, sehingga memperkuat posisinya dalam menegosiasikan perjanjian internasional lainnya, khususnya dalam kaitannya untuk membendung ambisi Tiongkok.
Oleh karena itu, AS harus mengkalibrasi ulang kebijakan luar negerinya agar tidak hanya mampu menavigasi kompleksitas di Timur Tengah namun juga mampu mengatasi tantangan sistemik yang ditimbulkan oleh Tiongkok. Hal ini mencakup penarikan diri dari komitmen militer yang berlebihan dan, sebaliknya, memanfaatkan alat diplomatik dan ekonomi untuk menstabilkan wilayah-wilayah yang bergejolak. Pada saat yang sama, AS perlu memperkuat aliansi dan kemitraan di Indo-Pasifik, berinvestasi pada teknologi baru, dan meningkatkan kemampuan militernya untuk secara langsung melawan ekspansionisme Tiongkok.
Mengingat sikap kebijakan luar negeri Iran yang masih ambivalen, Amerika Serikat memiliki peluang penting untuk melibatkan Teheran dengan cara-cara yang berpotensi menyelaraskan kembali afiliasi regional dan aliansi globalnya. Menyadari perbedaan dan potensi fleksibilitas dalam hubungan luar negeri Iran, AS harus menjajaki semua jalur diplomatik untuk membujuk Iran agar menjauh dari pengaruh Tiongkok dan Rusia. Hal ini akan melibatkan pemanfaatan kebutuhan ekonomi Iran, masalah keamanan dan kebanggaan historis Iran terhadap kedaulatan dan pengaruh regionalnya, menghadirkan alternatif-alternatif yang lebih selaras dengan kepentingan strategis jangka panjang Iran dibandingkan yang mungkin ditawarkan oleh kemitraannya saat ini dengan Beijing dan Moskow.
Amerika berada pada momen penting di mana mereka harus memilih antara melanjutkan keterlibatannya yang memakan banyak biaya di medan pertempuran yang sia-sia seperti Timur Tengah dan Ukraina atau mengalihkan fokusnya untuk melawan manuver strategis Tiongkok. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan hasil regional, namun juga kontur dinamika kekuatan global di masa depan. Jalan ke depan memerlukan pengakuan yang jernih terhadap realitas geopolitik baru dan kemauan yang berani untuk mengupayakan stabilitas strategis jangka panjang dibandingkan keuntungan taktis jangka pendek.
Namun demikian, AS tampaknya memilih untuk terus melakukan upaya yang memakan banyak biaya, sebagaimana dibuktikan dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap paket bantuan sebesar $95 miliar. Pendanaan ini terutama mendukung Ukraina dan Israel, dibandingkan mengadopsi strategi untuk membendung Tiongkok.
(Diterbitkan Middle East Monitor tanggal 22 April 2024, jam 16:00, referensi:
https://www.middleeastmonitor.com/20240422-reassessing-us-strategy-in-the-middle-east-the-rise-of-iran-and-the-overshadowed-threat-of-china/ , diterjemahkan menggunakan google translator dan di-proofreading oleh #Khalidmu)
Sabtu, 20 April 2024
Sebab Perbedaan Dalam Menafsirkan Respon Iran
Oleh: Muhammad Yasin Najjar
Masyarakat Arab dan dunia Islam, setelah 14 April 2024, berbeda pandangan dalam menilai respon Iran terhadap serangan ke konsulat Iran di Damaskus oleh Israel pada awal April dan pembunuhan para pemimpin ring satu Garda Revolusi, karena hal ini dianggap sebagai serangan langsung terhadap teritorial Iran sesuai dengan Pasal 51 hukum internasional, menganggapnya sebagai wilayah kekuasaan Iran.
Menyusul berakhirnya operasi yang diumumkan oleh Garda Revolusi Iran - yang memiliki dampak terbatas menurut standar militer dan hanya terjadi ledakan terbatas di Pangkalan Udara Navatem, Iran mengatakan: Pesawat F-35 diluncurkan dari sana - ada analisis yang berbeda terkait respon ini, yang kemudian mengerucut jadi pertempuran sengit yang tidak dapat dinegosiasikan dalam asumsi masing-masing kelompok: satu kelompok menganggapnya sebagai induk dari semua pertempuran dan kemenangan besar bagi bangsa Arab dan dunia Islam, yang perlu didukung dan diandalkan dengan segenap kekuatan yang ada. Kelompok lain menganggapnya sebagai drama gagal yang berujung dan membuat citra buruk. Sementara hanya sedikit yang mencoba membaca kejadian tersebut secara politis, hati-hati dan obyektif, berikut memahami berbagai dimensi strategisnya terhadap kawasan Timur Tengah.
Perbedaan ini memiliki beberapa penyebab yang obyektif, yang harus dianalisa secara cermat dan diketahui motif serta latar belakangnya agar kita dan generasi mendatang dapat mengambil manfaat dari peristiwa tersebut, apalagi umat ini masih saja terus mengulangi kesalahannya tanpa mengambil pelajaran dari masa lalu. Jadi apakah penyebab dan motif yang berada di belakangnya tersebut?
Alasan Perbedaan Analisis
Pertama: Arena internasional yang kompleks yang sedang dialami dunia:
pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina, ketegangan antara Amerika dan China, dan agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap Gaza membuat proses analisis menjadi rumit, terutama karena kita berada di ambang terbentuknya sebuah tatanan dunia yang baru di mana negara-negara adidaya berusaha mengkonsolidasikan pengaruhnya ke dalamnya untuk menuju abad berikutnya.
Kedua: Kedekatan dan jarak geografis dari Iran:
Posisi sektarian Iran terhadap beberapa negara tetangga dan kejahatan yang dilakukan oleh milisinya di (Irak - Yaman - Suriah - Lebanon) memainkan peran yang berpengaruh dalam meyakinkan mereka, karena masyarakat di negara-negara tersebut sangat menderita akibat perbuatan milisi itu. dan kekuatan-kekuatan yang terkait dengannya serta hasil buruk yang diciptakannya. Oleh karena itu, meskipun kita melihat analisis-analisis yang datang dari negara-negara bagian barat Arab yang jauh dari apa yang terjadi di timur Arab serta penderitaannya dan tidak memiliki interaksi langsung dengan permasalahan ini, mereka justru membesar-besarkan dampak akan respond Iran itu di kancah dunia Arab dan Islam.
Ketiga: Agresi Israel yang sedang berlangsung terhadap Gaza:
Hal ini membuat sebagian orang menganggapnya sebagai respons yang tidak memadai atas kejahatan genosida yang masih terus berlangsung, dan dia tidak berkaitan dengan respon itu. Sementara, pihak lain memandang ini sebagai respon penting yang memiliki landasan dari pengeboman konsulaaat, di tengah-tengah kondisi dunia yang bisu atas genosida yng terjadi, dan lemahnya peran bangsa Arab dalam berbagai peristiwa di Gaza.
Keempat: Tidak menelan korban tokoh-tokoh Israel – atau lokasi penting –
Yang seimbang atau sejajar dengan tokoh-tokoh pimpinan yang dibunuh di Damaskus di dalam dan di luar konsulat.
Kelima: Perbandingan dengan isu-isu serupa dan standar ganda:
Para analis mencoba menarik sejarah melalui apa yang terjadi di Irak sebelumnya pada masa Presiden Saddam Hussein, dan membandingkannya dengan interaksi mereka saat ini dengan Iran, dimana pada awal abad ke-21, Amerika dan Israel menuding Irak - secara salah dan - terbukti fitnah- memiliki senjata pemusnah massal, sehingga Amerika dan negara-negara yang bersekutu dengannya melakukan penyerangan dan menjajah Irak. Sementara para pengamat memandang bahwa penanganan Amerika terhadap kasus senjata nuklir Iran yang sebenarnya dilakukan dengan diplomasi maksimal, jauh dari ancaman militer, serta pengeboman “Reaktor Tammuz” yang dilakukan Israel pada tahun 1981, di luar hukum internasional, meskipun Perancis dulu yang berjasa membangunnya.
Keenam: Kelemahan Realitas Bangsa Arab: Terus berlanjutnya kelemahan Arab di tingkat regional dan global seiring dengan semakin besarnya peran Iran di tingkat regional telah membuat semua orang, terutama para ideolog, menggunakan kebijakan analisis emosional untuk menjadi alasan pembenaran atas realitas mereka yang menyakitkan ini.
Ketujuh: Kelemahan Sistem Politik Bangsa Arab: Dunia Arab mengalami ketiadaan dinamisme dalam berpolitik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya partai politik yang efektif dan dapat diandalkan yang dapat memainkan peran utama publik dalam meningkatkan kesadaran, menjelaskan isu-isu ambigu dan membimbing masyarakat untuk melakukan apa yang menjadi kepentingan negara dan bangsanya.
Kedelapan: Minimnya Pusat-pusat Penelitian Arab yang Profesional:
Dimana pusat-pusat penelitian akan mampu menarik para pemikir dan peneliti khusus yang menghasilkan penelitian yang solid dan bereputasi baik.
Kesembilan: Lemahnya Kredibilitas Sebagian Besar Media Arab;
Ini terjadi karena terkait lemahnya ikatan dengan sistem dan lembaga keamanan, yang membuat khalayak luas beralih ke situs jejaring sosial dan kalangan selebriti untuk memahami peristiwa tersebut.
Kesepuluh: Pernyataan mantan Presiden AS dan kandidat saat ini Donald Trump,
yang sebelumnya berbicara tentang sandiwara yang dimainkan bersama Iran setelah kasus pembunuhan Qassem Soleimani.
Analisis ilmiah politik terhadap suatu peristiwa memerlukan perangkat ilmiah, yang paling penting adalah memahami hakikat hubungan internasional, pengetahuan sejarah, pentingnya geografi, dan penguasaan informasi yang akurat, jauh dari meremehkan atau melebih-lebihkan dan menggelitik emosi dan perasaan untuk sekedar menghasilkan banyak like atau suka dan jumlah tayang dari viewer.
Hari-hari telah membuktikan bahwa para penguasa Iran memiliki proyek ekspansionis yang pragmatis, mahir dalam strategi “menyerang dan melarikan diri”, dan menawarkan berbagai konsesi taktis untuk memperoleh keuntungan strategis. Mereka mampu memanfaatkan alat mereka, terutama sektarianisme, sementara kolektif proyek bangsa Arab terus-menerus menderita dan mengalami kemunduran.
Akankah peristiwa saat ini menjadi titik awal bagi umat ini untuk bangkit melalui bangkitnya para elit dan partai-partai besar nasional agar tidak bergantung pada proyek-proyek eksternal, baik regional maupun internasional, dan juga pandai dalam memasarkan kepentingan mereka dan melakukan pemboikotan bersama yang lain untuk memaksimalkan perannya dalam tatanan dunia di masa depan?
(Diterbitkan dalam bahasa Arab di blog oleh Aljazeera, tgl. 194/2024 Referensi: https://bit.ly/4aGnL8B diterjemahkan oleh #Khalidmu)


