About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Minggu, 24 Maret 2024

“Al-Zumrah”: Novel Sang Kekasih dari dalam Terowongan Gaza

Oleh: Dr. Sulaiman Saleh


Ammar Al-Zaben adalah novelis lain yang terlahir dari penjara Israel dan perjuangan gerakan perlawanan. Diletakkan senjatanya, dan dia memilih berjuang menggunakan penanya. Dari dalam penjara, dia menulis dan membocorkan novel heroiknya yang pahlawannya adalah karakter nyata, di mana dia membawa kita ke dunia mereka, momen kala berada di medan juang dan di dalam terali besi. Termasuk dirinya adalah pahlawan dari dalam novel itu.

Pena Al-Zaben akan membuat anda merasakan peristiwa sebagaimana pemiliknya mengalaminya, dan terbayang diri anda sedang bersama para pahlawan dalam aksi-aksinya. Imajinasi anda akan terbang liar membayangkan tempat-tempat, terbang melintasi jalan-jalan kota Al-Quds, pegunungan Nablus, dan desa-desa Palestina, merenungi solusi bagi dilemanya, dan membangkitkan rasa perjuangan, keteguhan, dan kesabaran.

Yang mengejutkan adalah bahwa Al-Zaben adalah seorang tahanan Qassami yang lebih banyak hidup di dalam penjara daripada di luar. Dia mengenal jeruji besi sejak masih kecil pada tahun 1994. Kala itu dia masih berusia 16 tahun, saat dijatuhi hukuman dua setengah tahun. Pasca keluar dari penjara, dia mendirikan sel “ٍٍSyuhada demi Tahanan”, yang melakukan operasi penangkapan tentara Israel untuk tujuan ditukar dengan tahanan Palestina.

Dengan demikian, dia ditangkap lagi pada tahun 1997, dan pengadilan Israel menjatuhkan terhadapnya hukuman penjara seumur hidup sebanyak 27 kali, atau setara dengan 2.700 tahun, dengan tuduhan bertanggung jawab atas operasi yang menewaskan 27 tentara Israel, dan melukai 323 lainnya. Dia menjadi salah satu orang dengan hukuman terlama di penjara Israel, dan surat kabar Israel menilai penangkapannya merupakan kesuksesan besar bagi dinas keamanan.

“Kami melihat mereka di terowongan sebagai orang-orang yang saling bertukar cerita, dan kami melihat mereka bagai malaikat yang jiwa dan hatinya melekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya, setelah penantian panjang, tibalah saatnya setelah sejumlah besar tentara berkumpul di atas reruntuhan rumah Imad, Alaa berbisik kepada mereka: Bersiaplah dan bertawakallah kepada Allah.”

Adapun dia, menyambut keputusan tersebut dengan senyum sinis, sambil mengangkat Al-Qur'an dan tanda kemenangannya, dan melanjutkan memasuki penjara gelapnya dengan kepala terangkat tinggi.

Dengan demikian, usianya kini telah melampaui 45 tahun, hanya pernah hidup kurang lebih 17 tahun di luar penjara. Dari dalam penjara dia memperoleh ijazah SMA, kemudian gelar sarjana ilmu politik, kemudian gelar master ilmu politik dari Universitas Terbuka Al-Quds, setelah itu melanjutkan program doktor.

Dalam penangkapannya yang kedua, ia mengalami penyiksaan berat yang berlangsung selama 3 bulan selama interogasi di Penjara Al-Maskobiyya. Ia dilarang menerima kunjungan keluarganya selama 8 tahun, sampai ibunya menjadi syahid saat ikut mogok makan sebagai bentuk solidaritas terhadap para tahanan pada bulan Agustus 2004, lalu disusul ayahnya. Baru kemudian istri dan dua putrinya, Bashaer dan Bisan, diizinkan untuk mengunjunginya pada tahun 2005.


Kala Seorang Pejuang Menulis

Ammar Al-Zaben mengatakan: Jenis tulisan sastra yang paling sulit adalah kala menjadi pelaku dalam peristiwa. Anda menuliskan apa yang menjadi bagian dari dirimu, dan inilah yang mendorongnya untuk berulang kali menunda proyek penulisannya selama sekitar dua puluh tahun, tetapi kala dia akhirnya berbicara, memang dia pantas untuk didengarkan.

Pengalaman dan kesengsaraan memberinya kualitas yang oleh para kritikus disebut: “keaslian.” Karya-karya yang dihadirkannya “memanusiakan peristiwa itu.” Sang pejuang bukan lagi seorang individu yang identitas dan perasaannya tidak diketahui, berlalu begitu saja seperti angka-angka di buletin berita, atau kita baca kata-kata terakhirnya yang direkam sebelum dia menemui ajal.. Kita berada di dalam novel ini dan kita hidup bersamanya sepanjang hidupnya, merasakan harapannya, frustrasinya, momen naik turunnya, dan kemenangan atau kesyahidannya.

Al-Zaben telah menulis 6 novel sejauh ini, semuanya berdasarkan peristiwa nyata: yaitu: “Kala Pohon Jeruk Berbunga”, “Di Belakang Garis”, “Revolusi Ebal”, “Angelica”, “Al-Zumroh”, ​​​​dan “Jalan Menuju Yafa.”


Bersama "Al-Zumroh"

Kita berhenti di sini pada novel “Al-Zumroh,” dan mungkin kita akan berhenti pada karya-karya lain di artikel-artikel mendatang. Al-Zaben menulis novel ini di penjara Zionis Ramon setelah ia memperoleh detailnya dari dua pahlawannya yang ditangkap. Peristiwanya terjadi saat agresi Israel ke Gaza pada tahun 2014. Novel ini menggambarkan sisi kemanusiaan para pahlawan ini, dan seperti biasanya Al-Zaben, menuliskan karyanya, dengan segala nama, tanggal, tempat, dan peristiwa, yang asli nyata dari A sampai Z, dan dia menghadiahkan novelnya untuk para elit Al-Qassam di Gaza, “di bawah buminya, di atasnya, dan di kedalaman lautnya.”

Ketika anda membaca novel ini sekarang, anda akan dibawa ke masa Gaza, yang dulunya adalah kota yang berisi rumah-rumah, sebelum kebrutalan Zionis menghancurkannya dalam perang genosida terakhir, yang tidak lagi menyisakan batu tersusun di atas batu lainnya.

Peristiwanya dimulai di Perkampungan Al-Amal di Khan Yunis, dimana tinggal pahlawan pertama Ibrahim. Roket-roket menghujani perkampungan ini bak sambaran petir, menghancurkan kenangan, dan membakar peta tanah air yang tergantung di dinding rumah “Umm Khaled” (ibunya). Ini tidak lain hanyalah kelanjutan dari kisah penderitaan yang dialami sang ibu sejak masa Nakba. Ketika geng Zionis mengusirnya dari Bersyeba, dan dia masih menanti untuk pulang kembali ke rumahnya, yang kuncinya masih saja dia simpan.

Adapun istri Ibrahim, adalah sosok wanita Palestina yang mengharapkan suaminya pergi keluar untuk melawan penjajah dan tidak kembali, namun dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa “Tuhan Yang Maha Kuasa akan menjaga untuknya laki-laki yang baik dan seorang kekasih yang luar biasa ini. Jadi tidak adil jika kisah-kisah indah ini mati di Gaza, dan penjajah tidak ditakdirkan untuk menang.” Karenanya kita harus, dengan keyakinan kita, melawan kepalsuan mereka, sehingga kehidupan ini akan menang dan cinta akan tetap ada... Dan Saya benci  suami saya meninggalkan saya meskipun saya tahu bahwa kebaikan terletak pada mengusir penjajah dari kami dan tanah kami.”

Warga Gaza: Orang Mati Syahid Yang Hidup

Hubungan antara warga Gaza dan listrik terlihat jelas dalam novel ini, karena di sana terdapat “kemewahan yang tidak pantas bagi para pengungsi, pekerja, dan pemimpi... Jika Anda seorang warga Gaza, anda pasti membenci listrik, sehingga anda tidak terbiasa dengan ketersediaannya selama beberapa jam. Setiap dua tahun terjadi perang, korban pertamanya adalah gardu listrik yang sudah tua.”

Pesawat Israel menembakkan rudal, menghancurkan rumah Yasser (pahlawan kedua) di kamp tersebut, membunuh keluarganya, dan hatinya terbakar karena kehilangan ibunya yang gugur sebagai syuhada. Sebagaimana terbakarnya hati warga Gaza setiap hari karena berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai.  Namun ada aturan yang disadari semua orang, yaitu: “Jika anda seorang warga Gaza, anda adalah seorang syahid dengan penangguhan kematian sampai tiba giliranmu dalam salah satu perang yang terjadi berturut-turut, atau pengepungan selama bertahun-tahun. Atau melalui rudal cerdas, dengan tuduhan bahwa anda adalah bom waktu... Oleh karena itu, jangan katakan seorang warga Gaza sebagai orang mati kala dia pergi; Karena di keningnya tertulis kala dia dilahirkan: “Saya dari Gaza, oleh karenanya saya seorang syahid!”

Adapun Alaa (pahlawan ketiga), dia berkata kepada ibunya: Engkau selalu ada di hatiku wahai ibundaku, tapi engkau tahu bahwa aku telah memilih jalan yang ujungnya satu dari dua hal: syahid di medan perang, dan yang kedua adalah menggandeng tangan indahmu dan terbang bersamamu ke kampung kita yang indah di Ludd setelah merdeka dari Zionis. Dan itu bagi Allah bukanlah hal yang lama.


Cinta Palestina, Ibuku, dan Cita-cita!

Adapun pahlawan keempat, Ahmed (julukannya Samara), adalah seorang kekasih yang akan menyusun kata-kata untuk kekasihnya yang ia saring dari lubuk hatinya. Karena cinta di Gaza memiliki cita rasa yang istimewa, namun saat tunangannya (Amal) berkunjung ke rumah mereka, ia menerima surat panggilan, sehingga dia terpaksa meninggalkan tunangannya itu, untuk bergabung dengan Alaa, Ibrahim, dan Muhammad yang sudah menantinya. Imad bergabung dengan mereka, sehingga terbentuklah “Al-Zumroh” (grup)  yang dibebankan kepadanya misi khusus.

Novel ini berhenti pada impian karakter-karakternya. Amal menggambar dalam benaknya lukisan ksatria  impiannya, dan dia berkata: Aku menginginkannya jadi pejuang  yang membawa dalam dirinya cinta kesyahidan dan membela tanah airnya. Orang yang tidak seperti itu, maka aku takut kepadanya atas diriku sendiri dan anak-anakku.

Adapun Ahmed (Samara), dia berkata: Sesungguhnya Palestina, ibuku, Amal, dan senapan, tidak akan pernah meninggalkanku. Aku tidak bisa memisahkan yang satu dari yang lain. Siapa saja yang meninggalkan salah satu dari mereka akan kehilangan yang lain." Dia terus saja berbicara tentang visi cinta: “Agar kita dapat menghuni tanah air kita, dia harus bersih dulu dari kejahatan, dan untuk bisa mencapai hal ini kita harus mempunyai sarana kekuatan, yang terpenting adalah keluarga baik yang dimulai dengan aku dan tunanganku yang setia, yang mendorongku untuk berjuang demi meraihnya, dan demi negeriku ini, agamaku, dan ibuku.”

Istri Ibrahim menyempurnakan lukisannya: “Hanya para pejuang saja yang menjadi para kekasih, dan selain mereka hanyalah orang-orang yang melintasi (sesaat) cinta ; Karena hanya cinta yang dilindungi oleh senjata, bercampur dengan urat revolusi saja, yang berhak meraih keabadian.


Bersama Lima Laki-laki di Dalam Terowongan

Masing-masing pahlawan dalam novel ini memiliki kisah sendiri, namun mereka memiliki kesamaan bahwa mereka adalah “para ahli ibadah di malam hari, yang jadi para pejuang di siang hari” yang berdiri di atas landasan moral yang kokoh dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Novel ini menjelaskan tahapan pendidikan progresif yang dilalui seorang pejuang sebelum ia diterima jadi salah satu “elit Al-Qassam”, dengan aspek keimanan, doktrin, dan budayanya, untuk menjadi seorang pejuang yang berkomitmen pada agamanya, umatnya, dan bangsanya. Dia tidak akan terpilih menjadi anggota Al-Qassam kecuali setelah membuktikan akhlaknya terhadap keluarga dan masyarakatnya, serta kesediaannya untuk berkorban demi tanah airnya yang terpasung.

Kelima orang itu mendapat tugas operasi syahid, maka mereka berkumpul di sebuah terowongan di bawah rumah Imad, yang dihancurkan oleh pesawat Israel. Di sana mereka tinggal dan kami tinggal bersama mereka selama dua pekan di dalam terowongan menunggu detik-detik yang menentukan. Makanan mereka adalah beberapa butir kurma dan segelas air, dan mereka bahkan tidak bisa menikmati udara segar.

Di dalam terowongan, kami melihat mereka sebagai manusia yang saling bertukar cerita, dan kami melihat mereka sebagai malaikat yang jiwa dan hatinya melekat pada Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya, setelah penantian panjang, tibalah saatnya setelah sejumlah besar prajurit berkumpul di  atas reruntuhan rumah Imad, maka Alaa berbisik kepada mereka: Bersiaplah dan bertawakal kepada Allah.


Penghabisan atau Permulaan ?

Al-Zumroh meledakkan perangkat peledak di mulut terowongan, mengakibatkan ledakan yang mengoyak tubuh sejumlah besar tentara Zionis. Sebelum tentara lainnya tersadar, elit Qassam muncul dari terowongan kedua, menyerang tentara itu dari “jarak nol”, yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Aksi mengejutkan itu menjadi sebab keberhasilan mereka dan kebingungan musuh.

Namun pertempuran itu berlangsung selama berjam-jam hingga para pejuang mulai kehabisan amunisi, dan Ahmed (Samara) menjadi syuhada pertama. Ketika darah mengucur dari tubuhnya, dia berkata menyeru kekasihnya (Amal): "Ini darahku... Aku tidak pernah pelit untuk tanah air dimana engkau adalah makhluk tercantik di atasnya. Tempat bersua kita adalah di surga .”

Ahmed gugur syahid dalam keadaan menggendong senapannya, dan banyak peluru menembus tubuhnya, ia menahan rasa sakitnya, dan memilih untuk tetap berdiri tenang bak sebatang pohon, dengan kedua matanya terus berjaga-jaga memandangi tanah airnya.

Alaa menyusul jadi syuhada yang kedua. Darahnya muncrat saat ia bertakbir. Dia telah memenuhi sumpahnya: Mereka tidak akan pernah bisa lewat kecuali melangkahi mayatnya.

Adapun Imad, dia menjadi penguasa medan. Dia berhasil memancing musuh untuk melakukan penyergapan baru, dan dia gunakan granat tangan untuk menciptakan korban maksimal di barisan musuh. Kemudian sebuah peluru menembus wajahnya yang tersenyum, menyirami pohon zaitun dengan darahnya.

Tiga orang telah gugur sebagai syuhada, dan sisanya, Ibrahim dan Muhammad, melawan tentara musuh dari dalam terowongan, sampai amunisi mereka habis. Seorang tentara Israel melemparkan bom asap ke dalam terowongan, sehingga mereka harus keluar. Mereka tertangkap dan menjalani penyelidikan di penjara Ashkelon. “Kataib Al-Qassam” tidak mengetahui bahwa mereka masih hidup sampai mereka tiba di penjara Israel.”

Begitulah gambaran pertarungan heroik yang dikisahkan Ibrahim dan Muhammad kepada penulis Ammar Al-Zaben yang merasakan euforia kemenangan atas belenggu penjara saat ia menyelesaikan baris terakhir novel tersebut.

Selama enam bulan terakhir, dan tahun-tahun sebelumnya, terdapat ribuan kisah dari orang-orang seperti “Al-Zumroh”, tentang generasi muda yang mencintai kehidupan dan negaranya, dan yang hatinya kuat dan mampu menanggung beban cinta, tapi mereka juga mencintai kemuliaan dan kemerdekaan. Mereka siap mengorbankan nyawa demi apa yang mereka cintai...dan kisah semua ini sedang menanti seseorang yang akan menuliskannya. 

(Diterbitkan oleh Palinfo, Jumat, 22 Maret 2024 pukul 19.23, Referensi: https://palinfo.com/news/2024/03/22/882244/ diterjemahkan oleh Khalidmu)
Share:

Sabtu, 23 Maret 2024

Jaringan Intelijen Israel Paling Berbahaya di Lebanon... Terlibat Dalam Pembunuhan Al-Arouri


Sebuah surat kabar Lebanon, Al-Akhbar membongkar detail jaringan intelijen paling berbahaya yang bekerja untuk Israel, disamping keterlibatannya dalam menentukan lokasi pembunuhan Wakil Kepala Biro Politik #Hamas, Saleh Al- #Arouri, dua pekan sebelum pembunuhannya. 


Al-Akhbar melaporkan bahwa jaringan intelijen tersebut terungkap secara kebetulan pada akhir Desember, ketika anggota rombongan pengawal Ketua Parlemen menjadi curiga terhadap sebuah mobil yang berkeliaran di sekitar kantor Ketua Parlemen di Ain al-Tineh, Beirut.


Al-Akhbar menjelaskan bahwa setelah mobil tersebut dihentikan, perangkat elektronik yang sangat canggih ditemukan di ponsel yang berisi lusinan video, menyerupai survei komprehensif di area tersebut.


Dilaporkan bahwa penumpang mobil itu diserahkan ke divisi Informasi Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon, untuk memulai investigasi yang membongkar kecurigaan adanya interaksi dengan Israel, dengan cara teknis yang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana  terdakwa menerima $200,000 untuk menjalankan misi ini, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kasus bekerja untuk kepentingan musuh.



Dua Ahli  Teknik Komputer dan Komunikasi


Dia melanjutkan: “Terdakwa dan satu orang lagi yang bekerja dengannya, keduanya adalah ahli di bidang teknik komputer dan komunikasi, untuk perusahaan Amerika yang palsu, yang kemungkinan besar merupakan kedok intelijen Israel, melakukan survei komprehensif di banyak area, termasuk Beirut dan daerah pinggiran daerah selatan


Surat kabar tersebut mengkonfirmasi bahwa kedua tahanan tersebut memberikan kepada Israel salinan persis dari daerah-daerah tersebut, termasuk jalan, gedung, nama toko, tempat parkir dan mobil, nomor platnya, dan wajah orang yang lewat. Dilaporkan bahwa 56 ribu foto berkualitas tinggi ditemukan di telepon salah satu tahanan.


Dilaporkan bahwa yang paling berbahaya adalah spionase tehnik  yang dilakukan oleh kedua tahanan itu, menggunakan peralatan sangat canggih yang dilengkapi dengan sistem frekuensi radio yang terhubung dengan penyedia layanan Internet dan alamat access points yang ada di rumah-rumah, lembaga, dan tempat umum, yang memfasilitasi menetapkan lokasi geografis si pengguna.



Terlibat Pembunuhan Al-Arouri


Al-Akhbar menjelaskan bahwa kedua tahanan itu mendapatkan nama setiap perangkat Wi-Fi di area yang disurvei, kata sandi, yang memungkinkan mereka menentukan lokasi pengguna telepon seluler setelah teleponnya terhubung ke penyedia layanan Internet.


Al-Akhbar menjelaskan bahwa penjajah, dalam perang yang berlangsung saat ini, menggunakan teknologi ini untuk menemukan lokasi para pejuang gerakanan perlawanan hanya dengan menghubungkan ponsel mereka ke jaringan Wi-Fi.


Ditambahkannya bahwa investigasi menunjukkan bahwa salah satu tahanan melakukan penyisiran di jalan di daerah pinggiran selatan, di seberang apartemen tempat wakil ketua gerakan Hamas, Sheikh Saleh Al-Arouri, dibunuh pada 2 Januari.


Al-Akhbar menulis bahwa survei atau penyisiran tersebut dilakukan sekitar dua pekan sebelum pembunuhan Al-Arouri. Meskipun kedua tahanan tersebut menyangkal di hadapan hakim penyelidik bahwa mereka mengetahui sebelumnya bahwa perusahaan yang menugaskan mereka bekerja adalah perusahaan Israel, mereka mengakui bahwa apa yang diminta dari mereka tidak ada hubungannya dengan kontrak yang dibuat dengan perusahaan untuk mengerjakan proyek pengembangan pariwisata virtual. 

Kedua tahanan tersebut mengakui bahwa data dan informasi yang mereka berikan kepada perusahaan bersifat sensitif, dan salah satu dari mereka mengatakan bahwa pekerjaan yang diminta dari mereka tidak mungkin kecuali untuk kepentingan badan intelijen, dan data yang keduanya berikan kepada perusahaan yang dipersepsikan sebagai perusahaan Amerika mungkin untuk membuat sistem pengawasan keamanan di semua wilayah, dan membuat siapa pun yang memilikinya mampu menemukan lokasi siapa pun yang diinginkan dan kapan saja.


Menurut surat kabar Al-Akhbar, para tahanan dirujuk ke hakim investigasi militer pertama, Fadi Sawan, yang menginterogasi mereka dan mengeluarkan dua surat perintah penangkapan awal terhadap mereka.


Al-Akhbar menjelaskan, perwakilan pemerintah di Pengadilan Militer Lebanon, Hakim Fadi Akiki, membenarkan bahwa para tahanan telah melakukan kejahatan spionase untuk kepentingan negara asing, disamping mendapatkan informasi yang harus dirahasiakan untuk menjamin keamanan. negara, dan merugikan keamanan nasional Lebanon, yang hukumannya setara dengan penjara kerja paksa seumur hidup.


(Diterbitkan di London, Arab 21/ 21 Mar 2024/ 22:06 - Sumber: https://bit.ly/3TvdFjx, diterjemahkan oleh Khalidmu)


Share:

Jumat, 22 Maret 2024

Dermaga Amerika di Gaza dan Kemanusiaan yang Biadab

Oleh Dr. Mohsen Muhammad Saleh, Direktur Pusat Studi dan Konsultasi Al-Zaytouna

Pada tanggal 7 Maret 2024, Presiden AS Biden mengumumkan proyek pembuatan dermaga di #pelabuhanGaza untuk menerima “bantuan kemanusiaan” dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan, terutama di Jalur Gaza bagian utara. Dengan dalih memfasilitasi datangnya bantuan dan mempercepat lajunya. Ide tersebut hadir dalam rangka penguatan usulan koridor laut antara Siprus dan Gaza, yang perencanaannya dibuat oleh Komisi Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Yunani, Italia, Belanda, Siprus, dan UEA. Dermaga ini berada di bawah kendali Israel, yang akan memeriksa barang-barang di Siprus untuk diberikan izin shipping ke Gaza.


Diperkirakan kedatangan tentara Amerika yang akan naik “Kapal Pendukung Logistik LSV1,” yang berangkat dari pangkalan Langley-Eustis di Amerika Serikat, akan memakan waktu 30 hari, diikuti oleh tiga kapal lainnya. Pengerjaan pembangunan dermaga di pelabuhan Gaza akan memakan waktu 60 hari. Menurut pernyataan Amerika, dermaga tersebut akan mampu menyediakan dua juta makanan dan dua juta botol air setiap hari.


Hal yang menarik perhatian adalah sambutan Israel atas pembangunan dermaga tersebut, dimana Menteri Pertahanan Israel Galant menyatakan bahwa “koridor laut akan memperkuat kendali kami dan meningkatkan kemampuan kami untuk terus berperang di Gaza” dan hal ini akan berkontribusi melemahkan cengkraman Hamas. Sementara surat kabar Israel Jerusalem Post mengungkapkan bahwa Biden menerapkan ide yang telah diajukan Netanyahu pada dua pekan pertama saat perang mulai!! Artinya, dermaga tersebut akan menjadi alat menguasai dan kendali Israel-Amerika untuk memaksakan visi “Esok Hari” bagi Jalur Gaza pasca perang.

Tentu saja, Amerika Serikat bukanlah sebuah “lembaga amal.” AS adalah mitra utama dalam agresi terhadap Jalur Gaza, dan merupakan pemasok utama senjata dan bahan peledak kepada Israel yang digunakan untuk menghancurkan Jalur Gaza dan infrastrukturnya. dan membunuh serta melukai puluhan ribu anak-anak, wanita, dan orang tua. Sejak 7 Oktober 2023 hingga Maret 2024, Amerika Serikat mengirimkan lebih dari 300 pesawat kargo dan sekitar 50 kapal serta mengirimkan sekitar 35.000 ton senjata dan perlengkapannya ke “Israel,” menurut surat kabar “Israel Hayom” pada 18 Maret 2024. 

Di antara bom-bom yang dipergunakan penjajah dalam agresinya, adalah bom masing-masing berbobot 2.000 pon (907 kilogram), menimbulkan korban jiwa dalam radius 900 meter di area ledakannya dan menciptakan kawah sedalam 12 meter (sekitar 4 lantai). ), menurut New York Times pada 21/12/2023; dimana Penjajah telah melemparkan ratusan bom tersebut ke warga masyarakat Gaza!!

Amerika Serikat adalah pihak yang berada di belakang berlanjutnya agresi ini, memberikan perlindungan internasional, dan menggunakan hak vetonya di hadapan dunia yang sepakat untuk menghentikannya. AS adalah pihak yang menggunakan semua alat politiknya untuk memaksa miliu Arab dan Islam agar tetap diam terhadap agresi tersebut dan untuk bekerja sama dengan penjajah, serta mengancam pihak mana pun yang berusaha untuk memberi dukungan kepada Jalur Gaza dan gerakan perlawanannya.

Diketahui pula, gagasan koridor laut dari Siprus difasilitasi oleh pihak-pihak yang bersekutu dengan entitas Israel dalam agresinya terhadap Jalur Gaza, seperti Jerman, Inggris, Italia, selain Amerika Serikat. Oleh karena itu, gagasan pemberian “bantuan kemanusiaan” nampaknya dekat dengan gagasan bahwa sipir penjara terpaksa menyediakan makanan dalam jumlah minimum bagi para narapidana dan sandera yang dimilikinya, sampai waktu tujuannya dapat tercapai. Oleh karena itu, dermaga tampaknya menjadi kedok “kemanusiaan” yang menipu dan formalitas bagi perilaku “biadab” yang dilakukan di lapangan.

Jika pemerintah Amerika serius dalam memberikan bantuan kemanusiaan, maka cukup memberikan lampu hijau kepada pemerintah Mesir, dengan sedikit tekanan kepada Israel, untuk membuka penyeberangan Rafah agar ribuan truk yang sudah antri menanti bisa masuk di gerbang perbatasan, yang akan menyediakan berbagai kebutuhan Gaza dengan lebih cepat, lebih banyak, lebih efektif, dan lebih berkelanjutan.

Perilaku kotor dan agresif Israel sengaja menghalangi pihak mana pun yang dipercaya oleh masyarakat Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan dan mengawasi masuknya barang. Dia sendiri adalah penyebab kelaparan, dia sendiri yang telah menghancurkan infrastruktur Gaza, melakukan ratusan kasus pembantaian, menghancurkan rumah-rumah sakit dan sekolah-sekolah. Dia sendiri juga yang membom konvoi-konvoi bantuan dan membunuh orang-orang yang berusaha mengatur pengiriman bantuan kepada masyarakat. Dia bahkan yang sendirinya melakukan pembantaian di dekat Bundaran Nabulsi pada 29 Februari 2024, hingga menewaskan 112 warga Palestina yang datang untuk mengambil bantuan.

Pada dasarnya, di balik proyek ini adalah gagasan bahwa siapa pun yang “mengendalikan pemberian makan kepada warga masyarakat, maka dialah yang mengendalikan mereka”!! Dan masyarakat terpaksa harus menghadapinya, suka atau tidak. Hal ini karena Israel, yang dengan sengaja menjerumuskan Jalur Gaza ke dalam situasi kelaparan yang kejam dan dahsyat, ingin menghapuskan sistem pengelolaan warga masyarakat dan pengawasan kehidupan mereka dari tangan Hamas dan gerakan perlawanan agar berpindah ke tangannya, atau ke agen-agennya, yang dia percaya dan berada dibawah pengawasannya. Hal ini menjadi alasan mendasar bagi penjajah untuk menghubungi para pimpinan suku-suku di Jalur Gaza untuk mengambil alih tugas tersebut, sebagai langkah membentuk manajemen alternatif bagi Jalur Gaza, namun para pimpinan suku-suku itu menolak. Penjajah masih melanjutkan upaya dan tekanannya melalui jalur ini, dimana mereka berkomunikasi dengan petinggi Otoritas Palestina di Ramallah untuk mengambil alih tugas tersebut mengikuti syarat yang diberikannya. Juga bertemu dengan pejabat intelijen Majed Faraj untuk membentuk formasi keamanan sebagai ganti atas Hamas.

Agar tujuan penjajah dapat tercapai, dia mungkin melakukan sendiri tugas mendistribusikan bantuan di Gaza utara, untuk mencoba mewujudkan kondisi normalisasi komunikasi dengan warga masyarakat dan menghubungkan kepentingan mereka dengannya. Penjajah juga mungkin mencoba mendorong pembentukan kelompok bersenjata dengan dalih mengamankan bantuan, yang seiring waktu akan berubah menjadi milisi dan organisasi korup yang memiliki kaitan kepentingan dengannya.

Di sisi lain, Israel akan menggunakan keberadaan dermaga Amerika sebagai alasan untuk menghindari tuntutan pidana atas kelaparan, pengepungan, dan penderitaan rakyat Gaza, dengan mengklaim bahwa dia mengizinkan penyediaan kebutuhan. Pada saat yang sama, kehadiran dermaga akan memberinya lingkungan yang lebih baik untuk mempertahankan penjajahannya, dan juga akan memberinya alasan untuk menutup gerbang perbatasan Rafah (dengan adanya alternatif ini) dan dengan demikian melanjutkan kampanyenya. Untuk melakukan serangan militer di Rafah dan upaya untuk mengontrol gerbang perbatasan, dan poros Salah al-Din (poros Philadelphia) yang memisahkan Jalur Gaza dan Mesir.

Ada juga kekhawatiran bahwa dermaga ini akan digunakan untuk mengusir warga Palestina dari Jalur Gaza, dalam kondisi kelaparan dan kehancuran yang mereka derita, dan dalam suasana penjajah yang dengan sengaja mengubah kehidupan masyarakat menjadi “neraka”, sekaligus memfasilitasi jalur migrasi ke luar negeri. bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat dan lainnya.

Dermaga tersebut juga dapat digunakan untuk melemahkan peran vital Mesir terhadap Gaza, karena Mesir merupakan satu-satunya jalur penyeberangan Gaza ke dunia (kecuali ke Israel). Oleh karena itu, dermaga tersebut dapat menjadi alternatif persaingan yang potensial dan digunakan sebagai alat untuk menekan Mesir.

Tampaknya, semata mengetahui jangka waktu yang dibutuhkan untuk membangun dermaga, yaitu satu bulan perjalanan ke Gaza dan dua bulan untuk membangunnya, yaitu tiga bulan (ini sebelum menyediakan satu minuman pun) merupakan indikator yang berbahaya atas keberlanjutan agresi, dan adanya niat terencana untuk memulihkan posisi dan mempertahankan penjajahan dengan dukungan logistik Amerika. Pembicaraan mengenai penghentian agresi atau perginya penjajah tidak mungkin dilakukan, setidaknya dalam tiga bulan ke depan. Dan kedok Amerika atas agresi ini akan terus berlanjut setidaknya untuk beberapa bulan mendatang.

Mungkin pihak Amerika bercita-cita (jika berjalan sesuai keinginan mereka) agar dermaga tersebut menjadi basis pangkalan militer Amerika yang berkelanjutan di wilayah tersebut, untuk memenuhi sebagian kebutuhan logistik mereka di Mediterania timur.

Pada saat yang sama, Biden akan berusaha menutupi kebiadabannya dengan “cover kemanusiaan” dan meningkatkan citranya di mata pemilih Amerika, terutama dari kalangan luas yang menuntut diakhirinya agresi dan komunitas Arab dan Islam, yang mungkin memainkan peran penting dan elemen yang unggul dalam posibilitas kemenangan atau kekalahannya.

Yang terakhir, jelas bahwa Israel dan sekutu Amerikanya sedang berusaha mengatur situasi untuk masa depan Gaza dengan kekuatan senjata dan dengan mencoba membuktikan fakta di lapangan, termasuk upaya untuk memisahkan Gaza utara dari selatan. Namun, upaya mereka tidak berarti bahwa mereka akan berhasil, dan upaya untuk menciptakan kesan dan ilusi tentang kemampuan mereka untuk melakukan hal tersebut tidak dapat menipu kelompok perlawanan. Kemudian, perlawanan heroik yang telah membuat panas dan melelahkan mereka di “rawa Gaza” dalam beberapa bulan terakhir, insya Allah mampu menggagalkan perencanaan mereka, mengalahkan mereka, dan mengakhiri penjajahan mereka.

(Sumber: https://bit.ly/4a28I8H, diterjemahkan oleh #Khalidmu)


Share:

Jumat, 01 Maret 2024

Hanya Demi Pembantaian, Perang Netanyahu Di Rafah Bukan Untuk Kemenangan

Oleh Ramzy Baroud*

Kota #Rafah di Palestina tidak hanya lebih tua dari negara Penjajah-Z, namun juga setua peradaban itu sendiri. Rafah telah ada selama ribuan tahun. Orang Kanaan menyebutnya sebagai Rafia, dan Rafia hampir selalu ada di sana, menjaga perbatasan selatan Palestina, baik di zaman kuno maupun modern.

Sebagai pintu gerbang antara dua benua dan dua dunia, Rafah telah berada di garis depan dalam banyak perang dan invasi asing, mulai dari Mesir kuno hingga Romawi, hingga Napoleon dan pasukannya yang akhirnya dikalahkan. Kini giliran Benyamin Netanyahu.

Perdana Menteri Penjajah-Z telah menjadikan Rafah sebagai permata mahkota aibnya, pertempuran yang akan menentukan nasib perang genosida di Gaza; sebenarnya, adalah masa depan negaranya. “Mereka yang ingin mencegah kami melakukan operasi di Rafah pada dasarnya mengatakan kepada kami: ‘Kalah perang’,” katanya pada konferensi pers pada 17 Februari.

Saat ini terdapat 1,3 hingga 1,5 juta warga Palestina di Rafah, sebuah wilayah yang berpenduduk 200.000 orang sebelum perang dimulai. Meski begitu, tempat itu dianggap ramai. Kita hanya bisa membayangkan bagaimana situasinya saat ini, dengan ratusan ribu orang tersebar di kamp-kamp pengungsi yang berlumpur, bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang tidak mampu menahan cuaca musim dingin yang keras. Walikota Rafah mengatakan bahwa hanya 10 persen dari kebutuhan makanan dan air yang sampai ke masyarakat di kamp-kamp, dimana mereka menderita kelaparan ekstrem, jika bukan kelaparan total.

Mereka telah kehilangan orang-orang tercinta dan rumah, serta tidak mempunyai akses terhadap perawatan medis. Mereka terjebak di antara tembok tinggi, laut, dan tentara pembunuh.

Invasi Penjajah-Z ke Rafah tidak akan mengubah medan perang demi kepentingan tentara penjajah, namun itu akan berdampak buruk bagi pengungsi Palestina. Pembantaian ini akan melampaui apa pun dan segalanya yang telah kita lihat sejauh ini di mana pun di Gaza.

Kemana 1,5 juta orang akan pergi ketika tank Penjajah-Z datang ? Daerah terdekat yang dianggap aman adalah Al-Mawasi, yang sudah penuh sesak. Pengungsi yang mengungsi di sana juga menderita kelaparan akibat pemblokiran bantuan oleh Penjajah-Z dan pemboman terus-menerus terhadap konvoi kemanusiaan.

Lalu ada Gaza utara yang sebagian besar berbentuk puing reruntuhan. Negara ini tidak mempunyai makanan sehingga, di beberapa daerah, bahkan pakan ternak, yang sekarang jadi makanan manusia di sana, tidak lagi dapat diperoleh.

Jika komunitas internasional pada akhirnya tidak mempunyai keinginan untuk menghentikan Penjajah-Z, kejahatan mengerikan ini akan terbukti jauh lebih buruk daripada semua kejahatan yang telah dilakukan oleh pasukan penjajah. Diperkirakan lebih dari 100.000 warga Palestina yang akan terbunuh atau terluka hanya di Rafah saja.

Namun, invasi ke Rafah tidak menjanjikan kemenangan militer maupun kemenangan strategis bagi Penjajah-Z, melainkan hanya pembantaian. Netanyahu hanya ingin memuaskan  dahaga haus darahnya di seluruh negara jajahan. Meskipun angkatan bersenjata mereka telah membunuh 30.000 warga Palestina sejauh ini, dan melukai 70.000 lainnya, Penjajah-Z  masih menginginkan balas dendam yang lebih besar. “Saya pribadi bangga dengan puing reruntuhan Gaza,” kata Menteri Kesetaraan Sosial Penjajah-Z May Golan dalam sidang Knesset pada 21 Februari.

Pada awal perang, Penjajah-Z mengklaim bahwa Hamas sebagian besar terkonsentrasi di utara Gaza. Bagian utara telah dihancurkan, namun Perlawanan terus berlanjut. Kemudian Penajajah-Z mengklaim bahwa markas Perlawanan berada di bawah Rumah Sakit Syifa, yang dibom, digerebek dan dihancurkan. Kemudian mereka mengklaim bahwa Bureij, Maghazi dan Gaza tengah adalah hadiah utama perang tersebut. Kemudian, Khan Younis dinyatakan sebagai “ibu kota Hamas”. Dan hal ini terus berlanjut… Perlawanan masih belum terkalahkan, dan apa yang disebut sebagai “ibukota Hamas” telah berpindah dengan mudah dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya.

Kini, klaim konyol dan tuduhan tidak berdasar yang sama juga dilontarkan mengenai Rafah, tempat sebagian besar warga  Gaza diperintahkan untuk mereka datangi oleh Penjajah-Z, dalam keputusasaan total, jika mereka ingin selamat dari serangan gencar tersebut. Penjajah-Z berharap warga Palestina akan segera meninggalkan Gaza yang jumlahnya ratusan ribu  dan pergi ke Gurun Sinai. Mereka tidak melakukannya. Kemudian para pemimpin Penjajah-Z, seperti Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich, menyebut “migrasi sukarela” sebagai “solusi kemanusiaan yang tepat”. Meski begitu, warga Palestina tetap bertahan. Kini,  Penjajah-Z telah menyetujui invasi ke Rafah; ini hanya masalah waktu, sebagai upaya terakhir untuk mengatur kembali Nakba Palestina.

Tapi Nakba lain lagi tidak akan terjadi. Rakyat Palestina tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Pada akhirnya, kegilaan politik Netanyahu dan Penjajah-Z  harus diakhiri. Terlebih lagi, dunia tidak bisa terus menerus bersikap pengecut. Kehidupan jutaan warga Palestina bergantung pada dorongan kolektif kita untuk segera menghentikan genosida ini.

* Ramzy Baroud adalah seorang jurnalis dan Editor Palestine Chronicle. Dia adalah penulis lima buku. Karya terbarunya adalah ‘Rantai Ini Akan Diputus: Kisah Perjuangan dan Pembangkangan Orang Palestina di Penjara Penjajah-Z’. Baroud adalah Peneliti Senior non-residen di Center for Islam and Global Affairs (CIGA) dan juga di Afro-Middle East Center (AMEC).

(Diterjemahkan oleh Khalidmu - https://englisc-trans.blogspot.com/2024/03/hanya-demi-pembantaian-perang-netanyahu.html - Sumber: www.english.palinfo.com, terbit: Selasa 27-Februari-2024)


Share:

Kamis, 29 Februari 2024

Masa Depan Ikhwanul Muslimin di Mesir Pasca Pertemuan-TT Sisi-Erdogan

Oleh Mahmoud Hassan 

Pasti sulit bagi anggota Ikhwanul Muslimin menyaksikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu musuh bebuyutan gerakan tersebut, Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi, pada pertemuan puncak bilateral di Kairo dua pekan lalu. KTT ini merupakan langkah penting menuju rekonsiliasi Turki-Mesir. Hal ini terjadi setelah satu dekade keterasingan sejak kudeta Juli 2013 yang dipimpin oleh Sisi, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Mesir. Dia menggulingkan Almarhum Presiden Mohamed Morsi dan melancarkan penindasan paling brutal terhadap anggota Ikhwanul Muslimin sejak didirikan pada tahun 1928.

Meskipun Erdoğan memberikan dukungan yang besar kepada gerakan tersebut – dengan menawarkan perlindungan kepada para pemimpinnya di tanah Turki, memberikan ratusan anggotanya kewarganegaraan Turki, dan menjadi tuan rumah bagi saluran media mereka – upaya baru-baru ini untuk memulihkan hubungan antara Ankara dan Kairo tidak begitu disambut baik.

Menarik kesimpulan dari apa yang terjadi menyingkap variabel-variabel yang tentunya tidak berpihak pada Ikhwanul Muslimin. Saat ini dia mengalami perpecahan internal dan mendapatkan pukulan yang menyakitkan dengan ditangkapnya pemimpin mereka, Mohamed Badie, dan dua wakilnya, Khairat Al-Shater dan Mahmoud Ezzat, bersama dengan ribuan kadernya, wakil parlemen dan tokoh-tokoh terkemuka di seluruh Mesir.

Dengan berakhirnya perpecahan politik antara Turki dan Mesir, dan meluasnya perpecahan antara Doha dan Kairo pada tahun 2021, gerakan ini menghadapi pelemahan regional. Hal ini meningkatkan tekanan terhadapnya, memperburuk keadaannya, dan menimbulkan ancaman nyata, karena gerakan ini terpojok dengan pilihan dan teman yang sedikit.

Pergeseran kebijakan Turki terhadap Mesir menciptakan krisis bagi Ikhwanul Muslimin, karena mereka mengangkat isu kewarganegaraan yang diberikan kepada beberapa pemimpinnya, dengan pembicaraan mengenai pelanggaran, serta peninjauan kembali oleh pihak berwenang Turki. Para pengamat percaya bahwa akan ada pengurangan kehadiran Ikhwanul Muslimin di Turki, atau mungkin tekanan untuk memindahkan beberapa pemimpin mereka, yang dicari oleh pemerintah Mesir, ke ibu kota Eropa. Langkah-langkah yang dapat diambil juga mencakup pembatasan aktivitas anggota, dan penolakan untuk memperbarui izin tinggal sebagian dari mereka, serta melarang media atau aktivitas politik apa pun yang memusuhi Kairo.

Segalanya mungkin akan meningkat sampai pada pencabutan kewarganegaraan Turki bagi beberapa pemimpin Ikhwanul Muslimin karena adanya dugaan pelanggaran hukum dalam prosedur pemberian kewarganegaraan Turki kepada mereka. Ini adalah masalah sensitif yang diawasi oleh Menteri Dalam Negeri baru Ali Yerli Kaya, yang berjanji setelah menjabat pada Juni lalu untuk memerangi imigrasi ilegal, mendeportasi imigran ilegal, dan mengontrol data pengungsi dan penduduk asing di wilayah Turki.

Sejak Juli tahun lalu, kampanye meluas, khususnya di Istanbul, telah membidik semua imigran yang memasuki negara tersebut secara ilegal atau melalui jaringan penyelundupan. Namun, menurut Kaya, hal itu tidak menyasar kelompok atau kebangsaan tertentu.

Menurut salah satu pejabat senior Ikhwanul Muslimin yang berbicara kepada Middle East Monitor dengan syarat anonimitas, isu pencabutan kewarganegaraan pemimpin gerakan tersebut, Mahmoud Hussein – yang tinggal di Istanbul – telah diangkat sebelum kunjungan Erdogan ke Mesir. Namun, media yang berafiliasi dengan UEA dan Arab Saudi mengangkat masalah ini pada saat yang sensitif, dalam upaya untuk menghubungkan kunjungan tersebut dengan langkah-langkah baru yang sedang diterapkan. Dia menunjukkan bahwa urusan imigrasi secara umum merupakan agenda utama pemerintah Turki dan tidak ditujukan hanya untuk pejabat Ikhwanul Muslimin.

“Memang benar ada yang kehilangan kewarganegaraannya, tapi bukan karena tergabung dalam Ikhwanul Muslimin,” jelas sumber tersebut. “Itu karena ada celah hukum dalam kasus mereka dan dokumen yang tidak lengkap. Tidak ada seorang pun yang dideportasi dari Turki kecuali kasus Muhammad Abdel Hafeez, pemuda yang dijatuhi hukuman mati dan dideportasi ke Mesir pada Februari 2019. Insiden tersebut diinvestigasi oleh Turki.”

Seorang anggota Dewan Syura Ikhwanul Muslimin, Medhat Al-Haddad, membantah bahwa Hussein telah dicabut kewarganegaraan Turkinya setelah Erdogan kembali dari Mesir. Ia mengaku ada kesalahan teknis terkait informasi dan detail yang seharusnya diberikan.

Skenario yang lebih mungkin terjadi adalah permintaan untuk memindahkan beberapa pejabat senior gerakan itu ke wilayah lain di Eropa tanpa menyerahkan satupun dari mereka ke Mesir. Pihak lain mungkin mempunyai status hukum, dan ruang politik dan media yang diberikan kepada Ikhwanul Muslimin mungkin akan dikurangi, sehingga membatasi aktivitasnya, dan pada saat yang sama memberikan prioritas untuk mengurangi masalah dengan Mesir.

Dua saluran media yang mewakili oposisi Mesir, Al-Sharq dan Watan, mengudara dari Turki, sedangkan saluran Mekamelin terpaksa menutup kantornya di sana. Pihak berwenang Turki telah meminta tokoh media Moataz Matar dan Mohamed Nasser untuk tidak menyerang Al-Sisi dan keluarganya, yang mendorong mereka untuk memindahkan program mereka keluar dari Turki, menurut sumber di ketiga saluran tersebut.

Kami yakin bahwa cara Turki menangani masalah Ikhwanul Muslimin akan membawa kemajuan yang dicapai dalam hubungan antara Ankara dan Kairo, dan tidak akan membiarkan adanya perluasan gerakan yang menentang rezim Sisi dan telah dicap oleh Mesir sebagai kelompok “teroris” sejak Desember 2013.

Hasil dari kunjungan Erdogan ke Kairo, jadwal kunjungan Al-Sisi ke Ankara pada bulan April dan pertemuan Dewan Kerjasama Strategis tingkat tinggi Turki-Mesir akan memberikan tekanan pada Ikhwanul Muslimin, yang mungkin akan menyebabkan isolasi lebih lanjut dan kemunduran politik. Namun, hal ini mungkin mendorong Turki untuk menjadi lebih fleksibel dan mengadopsi pendekatan pragmatis serta mengekspresikn pemahaman baru yang memungkinkan Turki menyelesaikan masalahnya dengan Mesir, terutama karena Turki tidak lagi memberikan tekanan apa pun turun (berdemo) di jalan-jalan Mesir. Gerakan ini juga mengalami perpecahan internal dan keruntuhan proyek politiknya di Mesir dan negara-negara tetangga.

Peneliti politik Mesir, Mohamed Shehab, memaparkan pandangannya bagi masa depan yang dapat dibangun untuk menyelesaikan krisis ini. Hal ini mencakup penarikan dirigerakan ini dari pentas politik; tidak mencalonkan diri dalam pemilihan presiden atau parlemen untuk jangka waktu tertentu; menempatkan aset dan sumber dayanya di bawah pengawasan instansi terkait; dan menyetujui legitimasi lembaga-lembaga negara Mesir.

Sebagai imbalannya, Shehab menyarankan, rezim Mesir dapat membebaskan ribuan tahanan, membatalkan hukuman mati dan hukuman seumur hidup, dan mengadili kembali para pemimpin kelompok tersebut di pengadilan sipil yang memenuhi standar internasional, sehingga membuka jalan bagi penerapan rekonsiliasi nasional yang komprehensif. Semua ini dilakukan dengan syarat diimplementasikannya rekomendasi Dewan Nasional Hak Asasi Manusia yang dikeluarkan pada bulan Maret 2014.

Dalam laporannya mengenai pembubaran aksi protes Rabaa dan Nahda yang dilakukan oleh pendukung Morsi dan Ikhwanul Muslimin pada tanggal 14 Agustus 2013, Dewan menyerukan dilakukannya penyelidikan yudisial yang independen, dan kompensasi bagi semua korban bentrokan bersenjata yang terlibat dalam aksi tersebut yang tidak terbukti melakukan tindakan kekerasan. Resolusi ini juga menyerukan semua kekuatan politik dan pemerintah untuk menghentikan dan menolak tindakan kekerasan dan kontra-kekerasan, serta menghormati hak asasi manusia dan supremasi hukum.

Masuk akal bagi sebagian orang untuk meragukan kemungkinan skenario ini menjadi kenyataan, namun kepentingan mungkin saja lebih unggul. Hal ini dapat dilakukan jika Turki berhasil meyakinkan Mesir untuk mengadopsi kebijakan yang tidak menimbulkan masalah, atau jika Turki berhasil mendorong Ikhwanul Muslimin untuk menunjukkan fleksibilitas politik yang lebih besar dengan mempertimbangkan kenyataan yang ada, terutama ketika kelompok tersebut kehilangan pengaruh politik dan jaringan pengaruhnya secara internal dan eksternal.

Seorang aktivis Hak Asasi Manusia Mesir percaya bahwa apa yang terjadi sejauh ini adalah pemulihan hubungan dan pengutamaan kepentingan di atas perbedaan sehingga tercapai tujuan keregaraan Mesir dan Turki. Dia mengesampingkan penyerahan para pemimpin kelompok tersebut ke Mesir atau pencabutan kewarganegaraan mereka. “Sekarang keputusan berada di tangan Ikhwanul Muslimin jika mereka ingin mendapatkan kembali pengaruhnya dalam politik,” tambahnya, menyerukan gerakan tersebut untuk mengatasi masalah perpecahan internal dan mengakhirinya, memulihkan keseimbangan politik, dan memperbarui wacana media.

Negara Mesir bukan hanya Al-Sisi, dan kini sedang  terkepung dan melemah, serta rakyat dan mata uangnya menderita. Jadi, akankah Ikhwanul Muslimin setuju untuk mengambil alih kekuasaan dalam kondisi negara yang  lemah, kehabisan tenaga, dan bergantung?

Secara realistis, kehadiran Ikhwanul Muslimin, baik di dalam maupun luar negeri, tidak lagi menjadi ancaman bagi rezim Mesir, dibandingkan dengan beberapa tahun pertama setelah kudeta militer. Realistis juga bahwa Mesir, mengingat masa jabatan presiden ketiga Al-Sisi yang akan menjadikannya presiden hingga tahun 2030, dan krisis ekonomi yang memburuk, lebih perlu untuk mengatasi permasalahan baik di dalam maupun luar negeri. (Diterjemahkan oleh khalidmu, https://englisc-trans.blogspot.com/2024/02/masa-depan-ikhwanul-muslimin-di-mesir.html - Sumber: Middle East Monitor, tgl 27/02/2024, https://bit.ly/49yOJ16)


Share: