About

Selamat datang di Blog Analis Palestina yang mengkhususkan diri pada opini, penerjemahan informasi dan analisa terkini terkait perkembangan yang terjadi di Palestina dan sekitarnya. Email: sccholid@gmail.com

Kamis, 22 Januari 2026

Jebakan "Garis Kuning": Bagaimana Penjajah Merebut Kembali Wilayah Gaza yang Tersisa

22 Januari 2026 - Terakhir diperbarui: 04:34 (Waktu Mekah)

Pakar militer Brigadir Jenderal Elias Hanna mengungkapkan perluasan signifikan wilayah yang dijajah oleh pasukan Penjajah negara Zionis, memperkuat hipotesis tentang upaya untuk memaksakan "realitas strategis" dalam jangka panjang.


Dalam analisis militernya untuk Al Jazeera, Brigadir Jenderal Hanna memperingatkan bahaya "pergeseran" Garis Kuning, dimana warga Palestina mendapati diri mereka menjadi sasaran sah penjajah segera setelah koordinat garis ini berubah secara tiba-tiba dan tanpa alasan.


Brigadir Jenderal Hanna berfokus pada perubahan berbahaya dalam koordinat "Garis Kuning" (garis demarkasi), menunjukkan bahwa yang terjadi adalah "perebutan" lebih lanjut atas wilayah pemukiman.


Hanna menggambarkan realitas militer di Gaza sebagai berikut: "Seorang warga Palestina tidur di suatu tempat dan bangun keesokan harinya mendapati garis kuning telah digeser lebih jauh ke Jalur Gaza." Ia menganggap dirinya berada di wilayah yang dikendalikan oleh Gerakan Perlawanan Islam (Ham4s), sementara peta baru menunjuknya sebagai "target yang sah" bagi tentara negara Zionis akibat pergeseran garis tersebut.


Menurut peta tersebut, kemajuan darat ini telah mengakibatkan pemindahan 205 blok perumahan dari zona penyangga ke zona yang dikendalikan IDF, dengan tambahan 920 meter penetrasi ke Jalur Gaza. Hal ini telah meningkatkan kendali Penjajah negara Zionis dari 53% menjadi 61% di Gaza, khususnya di Jabalia, desa Al-Tuffah, dan Beit Lahia.


Hanna juga menyoroti dampak dari tidak adanya "blok kuning" di daerah Rafah, yang memperumit situasi lapangan dan kemanusiaan di sana dan menyebabkan korban sipil karena keberadaan mereka di Zona Kuning.


Hal ini telah mengakibatkan gugur syahid 483 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sebagai akibat dari upaya untuk mendekati atau menerobos garis perbatasan yang terus berubah ini.


IDF tidak hanya puas dengan menguasai wilayah tersebut; mereka juga "meratakan" bangunan (hingga 95% di beberapa daerah) untuk menciptakan titik pengamatan terbuka dan mengamankan pos-pos militer beton mereka, yang secara efektif mengubah bagian utara dan timur Jalur Gaza menjadi zona yang dibatasi secara geografis.


Penghancuran Sistematis


Menurut laporan internasional yang diterbitkan oleh The New York Times, IDF telah menghancurkan lebih dari 2.500 bangunan dan struktur di "zona kuning," khususnya di Beit Lahia, Beit Hanoun, Shuja'iyya, Khuza'a, dan Khan Younis.


Meskipun ditemukannya 13 situs IDF baru yang terdiri dari struktur beton di Jalur Gaza, seperti yang dilaporkan oleh Haaretz, seorang ahli militer menolak anggapan bahwa kehadiran militer ini menimbulkan ancaman di daerah di mana kehadiran negara Zionis dianggap sementara.


Hanna menganggap apa yang terjadi sebagai "serangan pendahuluan terhadap solusi politik," karena Penjajah berusaha memaksakan realitas baru di lapangan sebelum pembentukan komite nasional atau internasional apa pun untuk menjaga stabilitas.


Sumber-sumber di rumah sakit Gaza melaporkan bahwa 11 orang syahid pada hari Rabu akibat eskalasi baru negara Zionis yang mencakup penggunaan amunisi tajam, peluru artileri, dan drone.


Serangan itu mengakibatkan syahidnya tiga jurnalis yang sedang bertugas mendokumentasikan "peresmian" kamp baru untuk pengungsi di dalam kendaraan milik Komite Bantuan Mesir di daerah Netzarim (al-Zahra), selatan Kota Gaza.


Sebuah sumber di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa mengatakan bahwa tiga warga Palestina, salah satunya anak-anak, syahid akibat penembakan artileri di sebelah timur Deir al-Balah.


Tiga warga Palestina dari keluarga yang sama juga syahid dalam serangan artileri di sebelah timur kamp pengungsi al-Bureij.


Sumber: Al Jazeera


—-

Diterjemahkan dari situs Al Jazeera Net, “مصيدة "الخط الأصفر".. كيف يقضم الاحتلال المساحات الباقية من غزة؟” terbit 22 Januari 2026, diakses 22 Januari 2026 12:24 https://www.aljazeera.net/news/2026/1/22/%D9%85%D8%B5%D9%8A%D8%AF%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B7-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%B5%D9%81%D8%B1-%D9%83%D9%8A%D9%81-%D9%8A%D9%82%D8%B6%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%AD%D8%AA%D9%84%D8%A7%D9%84 


Share: